| PEMBUNUHAN
Suatu pagi di Polsek Kebon Kunyit; Lelaki berkemeja rapi menengok ke kanan dan ke kiri sesekali menoleh ke belakang. Lalu melangkah pelan-pelan memasuki gerbang Polsek kemudian menengok lagi ke kanan dan kekiri. Jalannya jadi aneh dan mencurigakan. Tapi tidak usah terlalu curiga, lagipula sekakap-kakapnya maling eh ya masa mau menggasak kantor polisi. Namun kedatangan lelaki itu cukup membuat polisi yang piket di meja depan itu mengangkat alis. Cara jalannya masih mindik-mindik, seperti takut ada yang mengikuti. Petugas itu tidak lagi mengangkat alisnya, namun sekarang sudah berdiri dengan heran. Lalu tanpa terasa sudah merayap keluar meja meninggalkan mesin tik dengan kertas yang sudah separo diisi. "Maaf Pak Polisi....". Kata lelaki itu sambil masih celingukan kanan kiri. "Ada apa, Mas perlu apa ?...". Tanya petugas polisi sambil berkacak pinggang biar tambah gagah. "Eh anu Pak...;saya....anu......eh.....anu saya......". "Hah! Kenapa anu kamu ?". "Oh, bukan Pak, anu saya tidak apa-apa,....anu.....Bapak...". "Lho kok malah anu saya, kamu jangan kurang ajar ya". "Oh, nggak Pak, sumpah, mana berani saya kurang ajar sama Bapak". "Trus mau apa? Ngomongnya yang jelas dong, yang tenang". "Anu, saya mau ketemu sama Kapolri Pak". Kata lelaki itu setengah berbisik. "Om Kapolrinya ada gak Pak?". Lanjutnya lagi. "Lho kamu keponakannya Kapolri ?". Petugas itu sudah tidak berkacak pinggang lagi. "Oh, bukan Pak, sumpah, saya tidak ada hubungannya sama Kapolri, saya cuma mau ketemu aja". Ucapnya polos. "Kamu jangan becanda, kamu jangan main-main”. Petugas polisi itu setengah membentak. "Enggak kok, bener saya mau ketemu, saya ini mau laporan". Katanya tak mau kalah. Petugas itu mendekatkan mukanya ke wajah lelaki tadi. "Oh jadi kamu mau laporan ?". Petugas itu setengah berbisik, lalu menoleh ke kanan dan ke kiri, seperti takut ada yang mendengar. "Iya pak, saya mau lapor". Kata laki-laki itu pelan. Lelaki itu jadi ikut-ikutan waspada sambil tengok kanan kiri. "Sini...sini....". Petugas polisi menggandeng tangan lelaki itu, menuntunnya duduk di kursi di depan mejanya, sementara ia duduk di belakang meja. Kertas yang masih menempel di mesin tik direnggutnya lalu dibuang. Diambilnya blangko laporan dimasukkan ke dudukan mesin tik. Sementara tepat di depannya sudah ada wajah lelaki yang berpakaian rapi. Mukanya kurus, kulitnya hitam, rambutnya keriting kecil-kecil, mulutnya tebal. "Jadi Kapolrinya ada nggak Pak ?". **** Setelah mengetik beberapa nomor dan perihal, ..... "Sekarang apa yang mau kamu laporkan ?". Jari-jari nya masih bersiap-siap di atas tuts mesin tik. "Sebenarnya saya tadi mau lapor sama Kapolri, soalnya ini masalah sudah gawat ini Pak, tapi kalau memang tidak ada ya ....gak apa-apa, saya sama Bapak aja. Tapi kira-kira Kapolri kapan adanya ya Pak ?". "Kan tadi sudah saya jelaskan, Bapak Kapolri itu tidak di sini, dia kantornya di pusatnya kota bagian pusat sana. Itu juga sulit kalau mau ketemu, mesti janjian dulu, mesti telepon, itu pun dianya belum tentu mau. Apalagi sekarang lagi rawan. Sekarang kamu laporan dulu sama saya, sama saja kok, nanti bakal kita proses". Jelas petugas polisi. "Iya.....iya. Tadi kan sudah saya bilang, saya tetap mau lapor ke Bapak". "Jadi apa yang mau dilaporkan ? Kamu bilang tadi gawat, apa ada ancaman teror ? Ancaman bom ?". Jari-jarinya kembali menggantung di atas mesin tik menunggu jawaban. "Bukan Pak, tidak ada ancaman teror, apalagi ancaman bom, daerah saya aman kok Pak, jarang ada gedung, jadi apa juga yang mau di bom. Tempat yang rame paling-paling warungnya Pak Paulus yang di depannya jadi pool angkot merah sama biru. Dulu ada juga yang ijo, tapi sekarang sudah mati, penumpangnya sedikit, jalurnya nggak strategis sih Pak, nggak lewat pasar atau sekolahan. Itu Pak Pur dulu bawa yang ijo sekarang nyupir yang merah juga, tapi cuma sampai sore, malamnya dia ngojek....". Jari-jari pak polisi gemetaran menggantung di atas mesin tik. Blangko masih kosong. **** "Baik Pak, saya tidak ngelantur lagi.....sebenarnya yang mau saya laporkan itu anu Pak...." "Tuh, kamu jangan mulai anu-anuan lagi...yang bener !". Tegas petugas polisi. Sekarang ia menyeruput kopi dari cangkir di sebelah kanan mesin tiknya. "Habis bagaimana lagi Pak, sudah begitu&....". "Apanya ?". "Ya kejadian yang ingin saya laporkan Pak". "Iya gimana ?" "Bener Pak, sumpah, saya taunya sudah begitu..." "Apa yang begitu ?". 'Sungguh Pak, saya nggak tau, saya taunya juga nggak sengaja...". "Kok bisa begitu ?". "Ya habisnya sudah begitu, eh....saya boleh minta kopi juga Pak ?". **** Blangko laporan itu masih kosong. Petugas itu masih bingung harus mulai dari mana. Keterangan lelaki itu sungguh membingungkan, mblunet. Yang ada mereka berdua sekarang asik menyeruput kopi masing-masing dengan selingan asap rokok. Lelaki itu sukses juga meminta sebatang Samsu dari kantong pak petugas. "Oh jadi Bapak ini belum menikah ceritanya?.ha....ha....ha....". Kata pak polisi sembari menyembur asap rokok dari mulut yang tertawa. "Sama Pak, saya juga masih bujangan. Habis susah mau ambil istri. Polisi itu tugasnya kadang nggak terduga. Saya kasihan sama istri saya nantinya.....Eh lalu Bapak sekarang kerja apa ?". Bapak yang berpakaian rapi itu mengeluarkan rokok dari jepitan bibirnya, lalu menjentikkan abu rokok ke dalam asbak. Kemudian berpikir sebentar, sambil mengambil nafas panjang, seolah ingin menceritakan sesuatu yang serius. "Saya cuma pegawai negeri Pak, tingkat rendahan. Tapi sebelum itu saya sempat juga dagang Pak. Iya, saya dulu punya toko kecil di pojok pasar sana. Dan sebelum itu lagi saya juga dulunya pernah mau daftar Secaba Pak. Dulu saya disuruh jadi polisi. Tapi gak lolos seleksi Pak, katanya gigi saya jelek. Jelek sekali malahan kata dokternya. Habis gimana lagi, dulu saya dari kampung, yang namanya ngerawat gigi ya nggak biasa. Sikat gigi aja nggak tiap hari, dua hari sekali sudah untung, itu juga tanpa odol....". Pak polisi serius mendengarkan,kadang-kadang agak terharu,kadang mau tertawa. Tak terasa rokok di tangannya sudah tinggal seruas jari. Ia matikan rokok itu di asbak, tapi perhatiannya tetap pada omongan lelaki di depannya. "Dari semua pekerjaan yang saya jalani, saya paling suka waktu saya jadi penganggur. Apalagi saya belum nikah, wah, tambah nikmat profesi saya yang satu itu Pak". "Lho kok bisa begitu ?". Pak polisi yang tadinya bersandar di kursi menarik badannya ke depan. Duduk rapi seperti anak SD dengan dua tangan di atas meja. "Lho ya bisa Pak. Jadi penganggur itu bebas Pak, gak usah bagaimana-bagaimana. Mau nonton tipi semaleman gak perlu takut kesiangan, mau tidur seharian gak ada yang ngelarang. Mau keluyuran kemana aja juga gak ada yang berhak bilang tidak boleh". "Lalu kamu mau makan apa kalo nganggur ?". Pak polisi protes. "Lho...itu sih gak usah dipikirin Pak. Selama kita mau berbuat baik pasti bakal ada ganjarannya, termasuk rezeki Pak. Jadi biar kita nganggur, kalo kita tidak jahat pasti ada aja jalan buat makan. Buktinya dulu itu saya selalu makan paling tidak dua kali sehari. Pasti ada yang kasih makan. Kita bantu-bantu di pasar angkut sampah dapat sarapan, kita bertamu ke tetangga dapat makan siang, malamnya sambil nongkrong sama temen di tipi kelurahan,pasti ada cemilan. Gak masalah itu Pak ?". "Ooh....". Pak polisi benar-benar terkesan. "Dan yang paling mengesalkan dari semua pekerjaan saya adalah jadi pegawai". "Lho kok bisa begitu....". "Iya Pak....jadi pegawai itu gak enak, pegawai negeri kek, pegawai swasta kek, pokoknya karyawan. Apalagi yang rendahan. Waaa ... makan ati. Termasuk....eh..maaf ya Pak...termasuk jadi polisi. Maaf lho ini Pak. Tapi ini menurut saya lho .... Bapak merasa begitu juga ?". "Eh..mm..iya kadang-kadang....". Pak polisi sekarang menopang dagu. "Tuh benar kan. Memang iya Pak. Kalau saya, sebelum jadi pegawai negeri sudah punya pedoman kalau jadi pegawai itu nggak enak Pak. Bangun harus pagi, tiap hari lagi. Trus kita dibatasi sama rutinitas yang gitu-gitu aja. Tiap hari itu Pak. Padahal di kantor kita cuma disuruh-suruh. Kalo salah dibentak, kalo benar ya gak dapat apa-apa. Harus nunduk-nunduk sama atasan. Pake upacara segala lagi, waa.... Mari Pak kopinya". Pak polisi ngangguk-ngangguk. Lelaki itu meraih cangkir kopinya, lalu menyeruput sedikit, menjilat bibirnya kemudian omongannya berlanjut lagi. ...."ditambah lagi mesti pake seragam, lah itu saya paling nggak suka itu. Masa tiap orang dipaksa pakai pakaian yang sama, padahal selera orang kan beda-beda, iya kan Pak ". Pak polisi manggut-manggut, sambil berpikir; Selama ia jadi polisi juga sebenarnya ia tak suka dengan seragam-seragam dan segala peraturannya. Ia sendiri jadi polisi juga karena keluarga yang menuntut demikian. Hati nuraninya sebenarnya menolak. Lelaki di depannya mengingatkan dia pada seseorang di masa lalunya yang punya prinsip sama. Orang itu adalah dirinya sendiri. Sekarang ia masih tekun terpana dengan omongan bibir tebal lelaki itu. Tenggelam dalam pikiran-pikirannya di masa lalu. **** Hari hampir siang. Kantor Polsek itu tidak pernah ramai. Daerah Kebon Kunyit memang seperti bukan lagi bagian dari kota metropolitan. Penduduknya tidak terlalu dinamis. Tapi itu hanya sebatas sampai ujung jalan kecil ini, yaitu diperempatan yang berlamu merah itu. Setelah melewati perempatan lalu masuk ke jalan besar kelihatan sekali bedanya. Yang terakhir itu baru namanya kota besar. Mobil-mobil berseliweran dan seperti bagian kota lainnya, selalu macet di pagi dan siang hari. Sementara di perempatan itu jarang adamobil yang belok ke jalan kecil di daerah Kebon Kunyit ini, paling sesekali mobil kijang dan datsun pick up. Jalan ini cuma pas buat dua badan mobil, itu pun saat berpapasan harus turun gas hingga berhenti untuk kemudian merambat hati-hati agar kaca spion tidak berbenturan. Tidak ada trotoar, kecuali sisa jalan yang tidak beraspal dan ditumbuhi rumput. Matahari masih remaja. Di bagian dalam kantor polsek, beberapa petugas mengobrol di sudut, satu dua berjalan menyusuri lorong. Ada yang sedang rapat di sebuah ruangan ber-A.C. Sementara obrolan di meja piket masih berlanjut. Blangko laporan masih tergolek kosong dijepit mesin tik. Pak polisi masih mendengarkan dengan seksama bibir tebal yang bergerak-gerak di depannya. "Pisangnya beli di mana Pak ? Enak juga ya, tepungnya ini lho gurih....ayo Pak dicoba lagi, saya sendiri sudah habis tiga, jadi nggak enak nih". Pisang yang dicomotnya langsung dicaplok habis dua kali gigitan, mulutnya jadi tambah tebal berminyak. "Kok akhirnya kamu jadi pegawai ? Trus kok betah ?" "Lho jangan salah Pak.....". Mulutnya masih berdecak mengunyah sisa-sisa pisang. "Saya ini belum lama jadi pegawai, es-ka-nya saja baru turun awal bulan ini, berarti kan baru dua hari, dan....". Kata-kata lelaki itu terhenti tiba-tiba, seperti ada yang mengingatkannya pada sesuatu. Pak polisi jadi ikut terkejut dari keterpanaannya. "Lho ada apa ? Anda baik-baik saja ?". Tanyanya heran. Si lelaki mematikan rokoknya yang masih setengah, mukanya serius, tegang. "Saya hampir lupa Pak ....". Akhirnya ia menjelaskan. "Lho, apa ?". Pak polisi mengernyitkan dahi. "Saya kan kesini mau laporan Pak. Ini gawat lho Pak". Katanya sambil mencari posisi duduk yang pas. "Lho, jadi tho laporannya". Pak polisi sibuk menyingkirkan cangkir kopi, asbak dan piring bekas tempat pisang goreng, lalu menyiapkan kembali mesin tik dengan blangko yang masih kosong tadi. ";Ya sudah....namamu siapa ?". Tanyanya. "Sumarno !". Akhirnya jari-jari itu menari membunyikan cetak-cetok mesin tik. "Alamat ?". "Kebon kunyit, gang jahe, nomor dua belas ce !". Cetak-cetok-cetak-cetok-cetak-cetok. "Status ?" "We-en-i...asli !" Cetak-cet...... "Lho bukan itu, kamu sudah nikah belum ?". "Oh belum Pak !"Cetak-cetok-cetak-cetok-cetak. "Oke...apa yang ingin dilaporkan sekarang ?" "Anu Pak, saya lapor kalau saya telah melakukan pembunuhan !". "Ha ! Kamu jangan main-main lho, jangan becanda. Ini sudah terlanjur saya ketik lho ini". Pak polisi menghentikan ketikannya "Saya bener-bener Pak, saya tidak main-main kok, sungguh....". Lelaki itu mengangkat telapak tangannya sebatas pundak. Pak polisi mendekatkan mukanya ke wajah lelaki itu, matanya memandang tajam mata lelaki di depannya seakan mencari-cari sesuatu. Kemudian sekali lagi ia bertanya pelan.... "Jadi kamu serius, kamu sudah melakukan pembunuhan ?". ";Bener Pak !". "Tidak main-main ?". "Tidak Pak !". "Tidak becanda kan ?". "Sumpah Pak, tidak !". "Gak usah pakai sumpah-sumpah segala". "Iya Pak, sumpah !" Lalu dengan masih agak tidak percaya Pak polisi kembali menyiapkan jari-jarinya di atas mesin tik. "Kapan kejadiannya ?". Pak polisi mulai lagi. "Tepat dua hari yang lalu Pak !". Suara mesin ketik kembali riuh. "Lho, itu pas kamu mulai jadi pegawai negeri, hari pertamamu kerja jadi pegawai ?". "Bener sekali Pak". "Siapa yang kamu bunuh ? Teman kerjamu ? Majikanmu ?". "Oh bukan Pak, saya belum sempat membunuh mereka....". "Lho...". "Iya Pak, bukan mereka". "Lalu siapa ? Siapa yang kamu bunuh ?". "Diri saya sendiri Pak !". Petugas polisi itu kembali menjauhkan tangannya dari mesin tik, tubuhnya disandarkan ke kursi kayu yang diduduki. Mukanya kecewa. "Kamu mau 'gelucu ya ?". "Lho, ini tidak lucu Pak, ini seharusnya kejam". "Kalo kamu bunuh diri kamu sendiri, itu namanya bunuh diri. Dan kalau benar berarti kamu sudah mati. Dan saya tahu kalau yang ada di depan saya ini bukan hantu. Berati kamu bohong !". "Oh, cara saya bunuh diri saya tidak seperti itu. Ini lebih kejam Pak, lebih menyakitkan". "Seperti apa ? Lantas kenapa kamu bilang kejadiannya pas hari pertama kamu masuk kerja ". "Nah itu, karena saya memang membunuh diri saya tepat ketika saya masuk kerja jadi pegawai". Mesin ketik tidak lagi berbunyi. ";Kok bisa begitu ?". "Bapak kan sudah tahu kalau dulu itu saya paling benci kalau mesti jadi pegawai. Kerjanya bukan kerja yang otonom, semua serba tunggu perintah dan semacam itu. Tapi itulah, orang tua saya di kampung sana makin sering kirim surat nanya-nanya tentang saya. Nanya tentang sudah nikah apa belum, terakhir saya dikejar-kejar pertanyaan tentang kerja. Katanya kalau mau nikah mesti punya kerjaan yang bener, terus mereka menyarankan jadi Korpri saja biar terjamin, katanya. Terakhir malah mereka bilang mau datang ke sini. Waa .... ya saya makin repot. Daripada gak enak akhirnya saya daftar juga jadi PNS. Tapi hati nurani saya tetap nggak bisa nerima. Nah makanya pada hari pertama saya kerja itulah saya merasa bahwa saya telah ingkar sama hati nurani, saya telah membunuh hati nurani, saya telah membunuh diri saya sendiri. Saya memang bukan hantu Pak, tapi sungguh saya telah mati ...". **** Hari sudah sore hampir malam. Kemerahan langit senja sudah nyaris habis ditelan gelap. Tinggal segaris cahaya emas di ufuk barat di balik pucuk-pucuk pepohonan. Lampu-lampu di pinggir jalan besar telah menyala, tadinya merah jadi putih. Mobil-mobil para pekerja yang pulang sore mulai merayap lambat sebelum lampu merah. Beberapa sepeda motor dan satu dua mobil berbelok ke jalan kecil daerah Kebon Kunyit itu, kadang mengurangi kecepatan ketika berpapasan dengan kendaran lain. Lampu-lampu rumah di pinggir jalan sudah menyala putih kuning. Suara adzan sayup-sayup dari ujung langit. Kantor polsek sudah menyalakan lampu tamannya yang bulat berwarana kuning. Sebuah mobil kijang patroli dengan tempat duduk kayu di bagian belakang masuk dan parkir di halaman. Isinya cuma dua polisi, sementara tempat duduk kayu di belakang kosong. Dua orang itu turun lalu masuk ke kantor melewati meja tiket. Di meja piket itu sudah tidak ada lelaki berpakian rapi. Ia sudah pulang sejak tangah hari tadi. Sementara pak polisi masih duduk di kursinya. Mesin tik menjadi dingin di atas meja. Tidak ada orang lagi yang berkeperluan untuk laporan hari ini selain lelaki tadi pagi. Pak polisi itu termenung di kursi sambil memain-mainkan pulpen di jarinya yang tebal. Ia terngiang kata-kata lelaki dengan pakaian rapi. Mulutnya yang tebal berminyak masih bergerak-gerak di bayangannya. Memang tadi dia pergi dengan kecewa karena laporannya tidak diterima. Mana ada Undang-undang atau peraturan mana pun yang mengatur tentang kasus yang dia alami; membunuh hati nurani. Tapi di luar hal itu, ia masih merenungi semua kata-kata lelaki tersebut. Dia telah membunuh hati nuraninya. Ia jadi pegawai karena terpaksa. Dulu,.....dulu sekali sebelum aku jadi polisi -- pikir polisi itu -- aku sebenarnya mengangankan ingin jadi penulis, atau artis pemain band. Aku senang melakukan kedua hal itu. Tak pernah terbayang bakal jadi pegawai kantoran, apalagi polisi. Seperti lelaki tadi, dulu aku juga menganggap pekerjaan itu cuma membentuk robot, membuat orang jadi manggut-manggut dengan perintah, nerima disuruh pakai seragam, kita bakal jadi budak kapital. Lebih bagus berdagang. Tapi mungkin aku bisa merasakan apa yang dialami lelaki berbibir tebal tadi, terjebak dalam realitas. Kenyataan yang menuntut kita untuk menyerahkan segala idealisme, bahwa yang penting sekarang adalah uang. "it's all about the money" katanya. Dan kita harus rela dijadikan bawahan, disuruh, dibentak, diinjak-injak. Tapi sungguh aku dulu tak bisa apa-apa melawan kehendak orang tuaku, persis seperti lelaki berpakaian rapi, aku pun jadi polisi. Ah....tapi aku tak bisa apa-apa lagi sekarang. Aku dan lelaki tadi mungkin sama-sama telah melakukan pembunuhan. Tapi sungguh memang tidak ada aturan yang melarang pembunuhan terhadap hati nurani, tidak ada sanksi terhadap perbuatan perbuatan membunuh diri sendiri. Padahal itu sangat gawat. Gelap sudah sepenuhnya gelap, kecuali lampu-lampu kendaraan, rumah-rumah dan penerangan jalan. Polisi itu bersiap pulang. Hari ini tugasnya sudah selesai, tidak ada sesuatu lagi yang mesti diurus di kantor, tidak ada kasus yang perlu didatangi. Ia mengengkol dalam-dalam motornya kemudian melaju di jalan, lalu membelok di perempatan menyusuri jalan besar. Kepalanya masih penuh dengan kemasygulan. Tak bisa dipungkiri ia masih memikirkan kata-kata lelaki berpakaian rapi tadi pagi. **** Esok paginya, seorang lelaki berpakaian polisi memasuki gerbang kantor polisi militer di pusat kota dengan langkah hati-hati. Sesekali ia menoleh ke kanan dan ke kiri lalu ke belakang seperti takut ada yang mengikuti. "Ada perlu apa Pak?". Kata petugas Polisi Militer yang piket. Lelaki berpakaian polisi itu sejenak menoleh ke belakang lalu berbisik .... "Anu....saya mau ketemu Danpuspom, mau laporan kalau delapan tahun yang lalu saya telah membunuh hati nurani saya, tolong cepat, ini sudah gawat". "Lho mana ada aturan yang mengatur pembunuhan hati nurani!". Polisi militer itu heran. "Iya....ini saya juga bawa ini....". Kata pria berpakaian polisi masih dengan suara pelan. Ia menyodorkan sebuah kertas. "Saya bawa surat pengantar ini untuk ketemu juga sama menteri pembuat Undang-undang, saya mau usul supaya dibuat UU anti pembunuhan hati nurani. Kalau sudah jadi, saya siap jadi terhukum pertama....soalnya ini sudah gawat". Faizal's Literature Properties' (FLiP) |
||