| MENCICIPI MATI
Randu,�ia masih sembunyi di kebun yang penuh tumbuhan liar itu sejak sore tadi. Setelah sebelumnya pontang-panting dikejar warga kampung termasuk ibu dan adik-adiknya sendiri. Mencuri? Bukan,�bukan itu yang dilakukannya. Ini tentang soal yang lebih prinsip dari itu, setidaknya begitu menurut Randu. Sekarang ia menggigil antara ketakutan dan kedinginan akibat udara malam yang mencekat menerobos sela-sela kulit sampai menembus ke tulang. Didekatkan tubuhnya pada nyala api yang ia buat dengan membakar ranting-ranting dan sampah. Sementara gelap makin menelan malam. ***** Awalnya ketika kenyataan telah menjebaknya dalam situasi yang penuh pertanyaan-pertanyaan yang bahkan malaikat pun belum tentu punya jawaban. Pertanyaan-pertanyaan yang pada mulanya tidak pernah menjadi perhatian sampai mengusik dan merubah jalan hidupnya hingga sore itu. Pertanyaan-pertanyaan yang dulu pernah memaksa tokoh-tokoh ilmuwan berteori hingga gila atau malah berperilaku gila tanpa sempat berteori. Pertanyaan-pertanyaan tentang hakekat manusia, hakekat hidup dan sekaligus � terutama � tentang hakekat mati. Ya,��mati!�. Randu sering tenggelam dalam kontemplasinya tentang kematian. Keadaan yang baginya tampak janggal dan penuh misteri. Ketika seseorang mati, tubuhnya menjadi pucat dan kaku. Selain itu, tubuh tersebut tidak berbeda dengan ketika ia dikatakan masih hidup. Bola matanya masih ada, giginya utuh, telinga dan hidungnya tetap lengkap. Namun ketika ia mati, ia lantas hanya berwujud tubuh lengkap yang teronggok begitu saja tanpa ada daya untuk bergerak, melihat dan mendengar. Masing-masing organ tubuh telah kehilangan fungsinya. Sehingga bagi Randu sangatlah tipis garis yang memisahkan antara hidup dan mati. Dan di dalamnya masih banyak terpendam misteri yang sangat mengusik Randu akhir-akhir ini. Kenapa lantas kehidupan bisa sedemikian mudah lunas dengan menyisakan seonggok tubuh yang kaku dan dingin? Sebelum datang pikiran-pikiran itu, Randu selalu menyaksikan kematian hanya sebagai suatu prosesi yang rutin. Kematian anggota warga kampung dihadiri oleh tetangga dan kerabat dekat, mereka lalu berdo�a, diantaranya banyak yang menangis, kemudian akhirnya tubuh yang mati dipendam dalam tanah sedalam dua meter, lalu selesai. Demikian berulang ketika ada lagi warga yang mati. Semua sudah ringan dan terbiasa mengurus kematian. Kematian seolah tidak punya makna apa-apa, ia adalah kewajaran, ia menjadi glasir . Sehingga kalau ada prosesi kematian, berdo�alah, menangislah, saksikan tubuh yang mati dikubur, lalu setelah itu pulanglah ke rumah, dan bekerja seperti biasa, makan pagi, bercinta, bertemu teman lama, bercengkerama dengan keluarga, lalu makan malam, berdo�a sebentar, kemudian tidur. Tunggu kalau ada lagi orang yang mati. Dulu Randu sering menghadiri upacara pemakaman. Ia ikut bantu-bantu membuat bendera putih , ia juga yang memotong kayu-kayu untuk keperluan penguburan bersama pemuda kampung lain. Randu juga tidak ketinggalan menghadiri acara peringatan tujuh hari, empat puluh hari, seratus hari, seribu hari dan seterusnya. Selain karena banyak makanan juga karena Randu memang ingin mendo�akan orang yang sudah meninggal seperti yang dilakukan tetangga-tetangganya. Sampai ketika beberapa tahun yang lalu kematian mengetuk rumah keluarga Randu sendiri. Bapaknya meninggal karena sakit. Sejak saat itulah sikap Randu mulai berubah. Kepalanya dipenuhi oleh berbagai pertanyaan tentang wujud kematian beserta segala misteri yang dibawa di dalamnya. Kematian bapak Randu baginya menyisakan pertanyaan tersendiri. Kemana dia sekarang? Ibunya sering mengatakan ia sekarang ada di atas sana di tempat yang lebih tinggi. Sehingga seringkali dalam setiap perenungannya, Randu mendongakkan pandangan ke langit, mencoba mencari celah yang mungkin terselip di balik awan. Atau terkadang berusaha membuat awan-awan yang berarak itu seakan-akan membentuk wajah bapaknya. Tapi setelah beberapa lama ia kecewa karena tak pernah ada celah di langit yang ditemuinya, seperti juga tidak ada awan yang membentuk wajah bapaknya. Jawaban ibunya kini terasa hanya untuk menenangkan dirinya dan dianggap oleh Randu sebagai ketidakberdayaan ibunya dalam menghadapi kematian bapak. Tapi Randu tak mau menyerah. Kematian dan segala yang ada di baliknya telah menggugah rasa ingin tahu Randu. Bagi dia, bapaknya tidak mungkin hilang begitu saja. Akan sulit menerima kenyataan semacam itu setelah hampir delapan belas tahun ia hidup serumah dan mengalami banyak hal dengannya. Ia makin banyak melakukan perenungan-perenungan. Hari-harinya habis untuk itu. Bagi ibunya hal itu sungguh menjengkelkan, menyia-nyiakan waktu hingga melalaikan kuliah hanya untuk melamun. Kuliah yang dalam seminggu seharusnya penuh enam hari, banyak yang dilewatkan. Randu tak peduli, ibunya tidak mengerti bahwa lamunan-lamunan itu justru lebih bernilai dibanding sikap menyerah ibunya. Belakangan Randu juga rajin membeli buku-buku tentang kematian, yang mengantarnya pada teori-teori tentang kematian, keabadian jiwa sampai kemungkinan reinkarnasi. Kadang diselipi pengalaman dari mereka yang mengaku pernah mengalami �mati suri�. Kebanyakan diantaranya menggambarkan keadaan yang tenang saat mengalami mati suri, lalu ada seberkas cahaya terang yang menarik mereka. Tapi tetap belum menjawab apapun. Sebagai pengantar dan pelengkap, Randu juga merasa perlu melahap buku-buku bertema filsafat dan sejarah serta pemikiran dari tokoh-tokoh sufi. Kebiasaan membeli buku ini lama-lama meresahkan ibunya karena dianggap boros. Apalagi buku yang dibeli sama sekali tidak berhubungan dengan pelajaran diperkuliahan. Ini kadang memicu ibunya memojokkan Randu sebagai anak paling tua yang seharusnya meringankan beban keluarga. Selama ini pemasukan di keluarga ini hanya berasal dari jerih payah si ibu menjual pakaian di pasar sebelah. Hasilnya selain untuk biaya hidup juga untuk ongkos kuliah Randu dan dua adiknya yang masih sekolah. Jika dihitung memang tidak seimbang; pemasukan keluarga ini jauh dari mencukupi untuk kebutuhan-kebutuhan itu. Sehingga tidak jarang dengan agak segan, Ibu Randu terpaksa meminjam uang dari beberapa tetangganya. Entah sudah berapa rupiah hutang di tetangga kanan-kiri. Tapi Randu tetap kukuh. Baginya saat ini tidak ada yang lebih penting dari perenungan-perenungan yang digelutinya. Dari referensi buku-bukunya banyak hal yang ia anggap telah memberikan beberapa pengertian, tapi lebih banyak lagi yang justru menimbulkan pertanyaan baru. Ia mendapatkan bahwa jiwa kita sebenarnya adalah abadi, kematian bukan akhir segala-galanya, malah bagi sebagian justru merupakan awal dari sebuah kehidupan yang lebih hakiki. Randu makin mantap bahwa bapaknya tidak menghilang begitu saja. Apalagi ketika Randu membaca tentang reinkarnasi, maka molekul-molekul dari ruh bapaknya bisa terikat pada jasad baru sedemikian rupa sehingga ada istilah �dilahirkan kembali�. Tapi untuk yang terakhir ini memunculkan pertanyaan bagi randu, seperti: jika begitu, lantas dimana konsep surga-neraka dan sebagainya? Maka dibeli lagi buku-buku. Yang paling mutakhir ditemukan Randu adalah bahwa ketika kesadaran akan keabadian jiwa telah muncul, maka akan mengantar kita untuk menjalani hidup saat ini dengan penuh keyakinan dan pencerahan diri, termasuk di dalamnya usaha untuk mencari ketenangan jiwa. Dan kaset-kaset panduan meditasi tiba-tiba sudah bertumpuk menghiasi rak yang bagian bawahnya sudah penuh dengan buku. Kaset-kaset itu selalu diputarnya saat larut malam menjelang tidur. Terakhir bukan hanya panduan meditasi tapi berupa lagu-lagu dan musik yang dia istilahkan sebagai �musik pencerahan� yang bagi Randu � entah bagaimana � bisa memberi semacam ketenangan. Keluhan tetangga mulai muncul; musik-musik itu menggangu waktu istirahat mereka. Tapi Randu tak peduli, terlebih karena keluhan tetangga banyak diungkapkan bukan pada Randu tapi pada ibunya. Sementara saat giliran Randu yang diingatkan oleh ibunya sudah dianggap angin lalu saja. Sekarang Randu semakin menggila. Buku-bukunya sudah tak tertampung di rak dan berserakan di lantai kamar. Kaset-kaset makin banyak bertumpuk di rak dan meja di pojok ruangan. Ditambah lagi kliping-kliping puisi dan artikel tentang �kematian� yang menempel memenuhi dinding kamarnya. Ada nama Edgard Alan Poe, Kahlil Gibran, Jalaluddin Rumi, sampai Kurt Cobain tercecer di beberapa tulisan. Sementara musik-musik makin keras terdengar di larut malam. Dan satu kebiasaan Randu yang coba dihilangkan sekarang muncul lagi: merokok. Sehari ia bisa menghabiskan dua bungkus rokok untuk menemani lamunan-lamunan rutinnya di kamar itu. Sisa-sisa asap rokok selalu menggantung di udara kamarnya yang remang-remang dan berantakan. Seiring dengan itu, kejengkelan masyarakat sekitar telah sampai pada puncaknya. Randu dianggap kian mengganggu ketentraman. Sehingga suatu hari mereka berkumpul di balai kampung khusus membicarakan masalah ini. Di sana hadir juga ibu dan adik-adiknya Randu yang tampaknya juga sudah tidak tahan dengan tingkah Randu yang menyusahkan keluarga dengan pengeluaran-pengeluaran serta sikapnya yang semakin bebal. Terakhir ibunya sempat mendapat teguran sekolah karena adik-adik Randu sudah menunggak iuran masing-masing sampai tiga bulan dan terancam dikeluarkan. Semua diungkapkan di rapat kampung itu dan diteruskan dengan keluhan-keluhan warga lain. Mulai dari suara musik yang mengganggu hingga kekhawatiran mereka bahwa pikiran dan tingkah laku Randu bisa berakibat buruk bagi anak muda lain di kampung. Rapat akhirnya memutuskan menangkap Randu untuk dikarantina. Semua menyetujui, termasuk ibu dan adik-adik Randu. Di kamarnya yang sumpek karena asap, lamunan Randu tersentak ketika suara riuh penduduk yang marah mendatangi rumahnya. Ia melongok ke luar jendela,�benar! Mereka menyerbu rumahnya. Ibu dan adik-adiknya ada di barisan paling depan di antara orang-orang yang memasang muka berang itu. Randu pucat,�jantungnya memacu darah kian cepat, perutnya tiba-tiba terasa nyeri. Dengan gemetar ia lari lewat pintu belakang dan sempat terjatuh beberapa kali karena gugup ketakutan. ***** Dan malam ini di tengah dingin yang menembus tulang, Randu masih sembunyi di lebatnya tetumbuhan liar. Sambil membolak-balik singkong di perapian yang dibuatnya, ia termenung. Rasanya ia telah salah tentang banyak hal selama ini. Kegilaannya telah membuatnya tercerabut dari keluarga dan tidak peduli dengan lingkungannya. Dia telah buta oleh hal yang mengada-ada, pencarian yang tidak ada gunanya. Padahal selama ini ia sempat mengerti, seperti pernah diajarkan guru mengajinya dulu, bahwa dalam Al-Qur�an, apa yang tidak ada penjelasannya? Semua ada, termasuk tentang kematian dan alam lain yang ada setelah itu. Bahwa kematian adalah hal yang pasti terjadi bagi segala hal yang mengalami hidup. Tentang kapan itu terjadi adalah rahasia-Nya tersendiri. Dan bahwa kematian adalah sebuah kiamat kecil yang mengantarkan manusia ke alam barzah untuk menunggu kiamat yang sebenarnya. Randu memukul-mukul kepalanya sendiri, menyesal atas apa yang telah dia lakukan. Kenapa ia bisa begitu gelap mata, tak bisa melihat kebenaran yang padahal sudah ada di depannya selama ini. Ia sekarang memikirkan ibunya yang harus membiayai sekolah adik-adiknya dengan jerih payah sendiri sepeninggal bapaknya. Pikiran Randu terus melayang berseliweran dalam kepalanya yang masih pusing karena ketakutan. Sementara mulutnya agak gemetar ketika melahap beberapa potong singkong bakar yang sudah masak. Tiga potongan besar telah masuk dalam perutnya. Dan seakan memperoleh solusi dan semangat baru, ia bertekad untuk minta maaf pada keluarga dan masyarakat sekitar. Mereka pasti bakal memberi kesempatan, pikir Randu dengan yakin. �Besok aku harus pulang!� Katanya lantang. Ia lalu tertidur di kebun yang penuh dengan tanaman liar, di tengah malam yang terus menggilas hari dengan dingin dan kelam. ***** Keesokan paginya Randu ditemukan mati keracunan singkong. Yogyakarta, 2003 |
||