LEGENDA MANUSIA


�Pada suatu siang, di bawah langit kota yang terang-benderang, di perempatan jalan besar yang sedang ramai-ramainya, di atas trotoar yang selalu kebagian jatah debu dan asap dari jalanan, tepat di bawah bayangan atap sebuah bangunan, mereka bergerombol di sana. Anak-anak jalanan belasan tahun, beberapa diantaranya juga ada bapak-bapak atau ibu-ibu dengan gendongan kain, entah berisi bayi atau hanya gombalan.
Penampilan mereka yang lusuh menghiasi emperan toko. Kulit mereka hitam berbalut daki, debu dan asap kendaraan, yang mungkin tidak hanya sekedar hitam yang menempel tapi sudah meresap ke bawah kulit menjadi bagian dari diri mereka. Masing-masing hanyut dalam kegiatannya. Beberapa anak yang paling kecil berlarian sambil tertawa-tawa sepanjang trotoar mengejar hari yang belum dimengerti beserta segala resiko masa depannya menerobos para pejalan kaki untuk kembali ketempat semula. Seorang anak lelaki mendekatkan gitar kecil bertali tiga ke telinga sambil memutar-mutar tangkai senarnya, wajahnya mengesankan seakan ia sedang menyusun nada-nada paling merdu yang pernah tercipta di alam semesta. Seorang lagi tampak baru turun dari bus kota yang penuh sesak membawa sepotong kayu dengan tutup-tutup botol yang bergemerincing, pandangannya bersinar mengamati tiga keping uang logam di genggaman yang baru ia dapat seolah itu adalah emas batangan atau benda lain yang paling berharga di dunia yang harus ia lindungi dari segala sesuatu karena sangat berarti untuk menyambung nafasnya satu hari itu, ia tak pernah tahu kalau di belahan lain negerinya ada anak yang bisa menghabiskan satu milyar rupiah untuk merayakan ulang tahun. Yang lain tenggelam dalam riuh macet kendaraan yang mengantri di lampu merah mencoba mengais-ngais apa saja yang bisa dikais-kais sembari menghadang derasnya sinar matahari. Mereka juga bercanda, mereka bercengkerama, berteriak-teriak, tertawa, menikmati nyanyian keramaian sebuah sudut kota yang adalah rumah mereka.
Di bagian trotoar yang agak jauh ada sekisah percakapan dari dua orang di antara mereka, seorang anak dengan lelaki setengah baya. Keduanya juga lusuh dan kusam, hanya matanya yang bercahaya.
�Boss, Kecir sudah mati ya?� Tanya si anak. Akhir-akhir ini pertanyaan tentang kematian sudah menjadi ringan terlontar dari mulut mereka.
�Mungkin, tak ada lagi kabar dari rumah sakit, mungkin sudah mati. Apalagi lukanya memang parah, kamu �kan lihat sendiri kemarin, kepalanya pecah terbanting aspal setelah tertabrak mobil sialan itu!� Suara si Boss meninggi di akhir kalimat.
Mereka berdua terdiam. Barangkali teringat akan sahabatnya, Kecir, yang kemungkinan sudah mati. Deru kendaraan menjaga suasana tetap riuh.
�Ah sudahlah �Li, yang penting sekarang jaga diri, kamu harus hati-hati, jangan sampai mati dengan cara yang tidak enak. Kecir masih belum seberapa, kamu ingat Gendon yang mati di gang dekat pasar sana?�
�Ingat Boss, katanya ada lubang-lubang di badannya ya?� Gali memang tidak ikut melihat mayat Gendon secara langsung, hanya mendengar kabar.
�Iya, ditusuk-tusuk pisau �Li, preman-preman pasar itu kalau mabuk ya rusuh. Hati-hati saja kalau mereka sudah bebas dari penjara, terus mabuk lagi, rusuh lagi, main tusuk lagi�.
Keduanya kembali diam. Hidup itu kejam memang, tapi � bahkan � Gali tak pernah membayangkan dunianya bakal seperti ini. Tak ada tempat untuk berlindung dari hujan, debu dan panas, pun dari ancaman yang paling kejam sekalipun. Hidup tak lebih dari sekedar bagaimana mempertahankan hidup itu sendiri. Makan dan minum menjadi urusan sekunder, yang utama adalah berusaha untuk tidak tertusuk pisau preman-preman yang rusuh dan menghindar dari serempetan mobil yang melaju saat lampu mendadak berwarna hijau. Selebihnya baru urusan mulut dan perut. Caranya? Apapun jadi. Modal suara yang asal jeplak atau malah bisik-bisik diiringi tepukan tangan sudah dianggap mengamen. Karena memang tak ada yang benar-benar butuh nyanyian mereka. Atau dengan menjulurkan tangan dan muka menunggu, mengemislah mereka. Dengan mengeksplorasi kegunaan tubuh, melacurlah para perempuan belasan tahunnya.
Dan bagi Gali serta anak-anak lain di trotoar itu menjadi semakin nyata; Hidup harus dinikmati kekejamannya, tidak bisa tidak!�
�Kalau tidak?� Tanya salah satu anak yang serius mendengarkan.
�Ya berarti tidak ada lagi alasan bagi mereka untuk hidup�. Jelas si pendongeng.
�Wah sebegitu parahkah nasib anak-anak jalanan itu?� Tanya anak yang lain.
�Lalu siapa pengendara mobil yang menabrak Kecir?� Tanya anak lain lagi.
�Kalian mau tahu? Masih mau mendengar ceritanya?�
�Mau, teruskan ceritanya!� Jawab semua anak dengan antusias.
�Baik,�...� Si pendongeng mengambil nafas.

*****

�� Anton datang ke pesta itu ketika malam sudah setengah baya. Mobilnya yang masuk gerbang dengan suara mendecit diparkir di tempat yang masih lowong di pojok halaman rumah yang luasnya tak kurang mampu menampung belasan mobil. Dengan langkah nyaris berlari Anton langsung menyusuri halaman yang berlapis konblok menuju pintu utama setelah melewati naungan dua pilar beton tinggi yang dihiasi ukiran-ukiran etnis, pilar-pilar kokoh seperti yang ada di beranda istana negara. Dari luar sudah terdengar suasana pesta yang riuh dan liar dengan dentuman musik yang menghentak dada. Anton membuka pintu utama dan tumpahlah keramaian dari dalam membanjiri udara malam di luar, membaluri halaman, mengalir deras di jalan-jalan sampai memenuhi seluruh kompleks perumahan. Pintu kembali ditutup, suara menjadi sayup-sayup, jalanan sepi, udara malam kembali senyap.
Belasan remaja tanggung laki-laki dan perempuan larut dalam suasana. Berseliweran kesana-kemari, menenggak minuman keras langsung dari botol, bergetar mencoba menyesuaikan irama musik yang berdegum. Asap menggantung di udara ruangan. Mereka berbicara, berteriak dan tertawa. Suaranya tenggelam dalam hentakan sound system. Ada yang ajojing di tengah ruangan, ada yang duduk-duduk saja sambil menggoyangkan kepala, ada yang sudah tergeletak di berbagai penjuru ruangan. Sisa-sisa makanan dan tumpahan minuman bertebaran di meja, di sofa, di lantai. Semuanya berantakan, semuanya mabuk.
Anton menepis kerumunan, menyapa beberapa teman seperlunya, lalu menaiki tangga, agak tergesa menuju lantai dua.
�Andre! Kemana sih lu?� Anton membuka beberapa pintu kamar.menutupnya kembali ketika yang dicari tidak ada di dalam.
�Andre!...� Suara Anton gemetar. Baru terlihat kalau wajahnya pucat. Butir-butir keringat membasahi dahinya. Bibirnya gelap bergetar seperti kedinginan.
��Ndre!� Ia kelihatan limbung, lalu jatuh lemas tepat di depan pintu kamar mandi. Tangannya memegangi perut seperti menahan kesakitan yang teramat sangat. Pintu kamar mandi terbuka, Andre keluar dari dalamnya.
�Lho �Ton, lu kenapa?� Ia langsung mendekati tubuh Anton yang meringkuk di pojok.
�Andre, tolong, gwe lagi butuh nih�� Suara Anton terdengar merintih.
�Bajingan! Lu sakaw?� Tanya Andre. Anton tak menjawab, hanya merintih tambah perih.
�Sebentar�� Andre lalu masuk ke salah satu kamar. Dari dalam ia masih bicara�
�Gila juga lu �Ton, paket segitu banyak yang gwe kasih kemarin dulu berarti habis lu lahap segitu cepat, hati-hati �Ton, tahu-tahu buntu baru rasa lu��Andre keluar menenteng seperangkat alat suntik yang sudah terisi. Anton langsung menyambarnya dan dihujamkan ke lengan kiri.
�Nggak gratis lho �Ton, tapi �gak apa-apa, gwe percaya sama lu�. Andre mengambil jarum suntik yang sudah kosong dari tangan Anton yang terkulai. Muka Anton sekarang kosong masih pucat dan tampak seperti sedang menanti sesuatu.
�Makasih �Ndre.� Katanya singkat, matanya kuyu merah berair. Wajahnya terlihat lebih santai, tapi Anton masih terkapar tak sanggup berdiri.
�Ya udah,lu santai aja di situ, gwe ke bawah dulu ya, there�s a party �goin on, oke.� Andre melempar jarum suntik ke dalam kamar, lalu menuruni tangga menyelami keramaian pesta yang makin gila.
Dari luar, suara musik masih terdengar sayup-sayup mengambang di udara malam yang basah, melayang pelan sampai ke awan terus ke atas menuju ujung semesta, menyentuh pintu langit��

*****

�Pemuda-pemuda itu, Anton dan teman-temannya, apa mereka tidak sekolah atau kuliah?� Tanya satu anak.
�Anton baru lulus dari SMA, dan tidak ada yang menuntutnya untuk kuliah. Anton telah mendapatkan segala fasilitas yang dia butuhkan. Dan kalau memang masuk kuliah adalah untuk mencari titel lalu kerja dan mendapat jabatan, terus kepentingannya untuk mengumpulkan harta, maka Anton memang sungguh tidak butuh masuk kuliah�.
�Orang tua mereka tidak marah?�
�Orang tua mereka teralu sibuk untuk sekedar memarahi mereka.� Jelas si pendongeng singkat.
�Lalu apa yang terjadi?� Tanya satu anak tidak sabar. Semua anak menatap si pendongeng lekat-lekat. Setelah melihat satu per satu raut wajah menunggu dari pendengarnya, ia kembali melanjutkan cerita...

*****

��Segaris sinar matahari menerobos sela-sela jendela di lantai dua yang tidak tertutup tirai, mengaliri udara lalu jatuh menerpa kening Anton. Anton mengerjap-ngerjapkan matanya, mencoba mengumpulkan nyawa, mengembalikan ingatan-ingatannya.
�Dimana gwe?� Anton mengangkat dirinya dari lantai berusaha untuk duduk bersandar di tembok. Tangannya memegangi kepala yang terasa berdenyut keras, badannya lemas. Perlahan ia ingat tentang pesta semalam, ia ingat kesakitannya semalam.
Anton merayapi tembok mencoba untuk berdiri. Ia hampir terjatuh pada langkah pertama menuju tangga, setelah itu ia mulai bisa mengendalikan tubuhnya yang limbung. Matanya perih, rambutnya lusuh, pakaiannya berantakan.
Dengan langkah pelan ia berhasil membuka pintu depan. Cahaya matahari yang sudah tinggi berebutan masuk ke dalam ruang utama rumah yang berantakan sisa pesta semalam. Beberapa pemuda masih terlihat bergeletakan di berbagai penjuru ruangan. Dua diantaranya bergerak-gerak ketika pintu dibuka, menggerutu dengan suara tidak jelas, merasa terganggu dengan sinar matahari yang menyentuh kelopak mata mereka. Anton tidak peduli, tanpa menutup pintu kembali, ia tetap melangkah dengan lunglai kearah mobilnya di ujung halaman.
Tak lama kemudian, Anton sudah berada di belakang kemudi kendaraannya. Untuk sesaat ia terdiam, seakan menikmati nyamannya istirahat di atas kursi mobil. Badannya memang terasa diserang lelah yang hebat. Seluruh persendian di tubuhnya seperti ditusuk-tusuk, tulangnya nyeri, perutnya sedikit mual dan pusing di kepalanya belum juga bisa hilang. Distarternya mobil dengan lemah, lalu setelah membayangkan nyamannya istirahat panjang yang bisa ia dapat di rumah, ditekannya pedal gas agak dalam. Sesaat kemudian Anton sudah melesat di jalan besar.
Rumah bagi Anton sekarang hanya tempat untuk singgah tidur dan beristirahat. Tidak ada lagi bagian hidupnya yang bisa ia dapat di rumah, termasuk keluarga. Bagi Anton, teman-temannya di jalan adalah keluarganya. Sekelam apapun hidup yang ia jalani bersama mereka, Anton merasa hanya merekalah yang bisa dijadikan tempat berbagi yang tak ia dapat di rumahnya yang selalu sepi. Bapaknya selalu di luar kota, tendernya banyak, perusahaannya di mana-mana, proyeknya di tiap daerah, jarang ada kesempatan untuk pulang ke rumah sendiri. Ibunya juga termasuk wanita yang ikut pengaruh trend �wanita karir�, maka tak ada lagi perhatian yang di dapat Anton dari orang tuanya.
Mobil Anton terhenti di perempatan jalan besar yang sedang ramai-ramainya, perempatan jalan yang selalu ramai. Lampu lalu-lintas menyala merah, Anton terpaksa ikut mengantri agak di belakang setelah sebelumnya tidak berhasil menyelip ke tempat yang lebih di depan. Jari Anton mengetuk-ngetuk setir mobil, tak sabar menunggu untuk cepat sampai ke rumah, membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur.
Saat lampu berubah hijau, Anton tak mau lagi menunggu jalannya antrian, di banting setirnya ke kiri, masuk ke jalur paling kiri yang kosong lalu melesat maju, Pedal gas ia injak dalam-dalam, khawatir lampu bakal berubah merah lagi. Tiba-tiba sesaat sebelum melewati lampu merah, mata Anton sekilas menangkap sesosok bocah keluar dari antrian mobil di kanan lalu melintas di depan mobilnya. Anton tak sempat berpikir apa-apa ketika ia merasa mobilnya membentur sesuatu. Bocah tadi tiba-tiba tak terlihat lagi oleh Anton.
�Shitt!!� Anton memukul-mukul setir mobilnya yang masih melaju deras. Sesekali ia menoleh ke belakang melihat perempatan jalan yang kini penuh dengan kerumunan orang, beberapa diantara mereka berteriak-teriak sambil menunjuk-nunjuk ke arah mobilnya.
�Shitt! Sialan! Kenapa pake nabrak segala sih, bodohnya!� Entah apa yang disesali Anton, kecerobohan si bocah yang tahu-tahu menyeberang begitu saja atau malah dirinya sendiri yang tidak sempat menghindari tabrakan. Sementara mobilnya terus melaju, teruus melaju���
Anak-anak terpana mengamati bibir pendongeng yang bergerak-gerak lambat di akhir kalimat. Ketika cerita berhenti, mereka masih belum berkomentar apa-apa, terhanyut dalam keengerian cerita. Si pendongeng memandang berkeliling mengamati muka-muka pendengarnya seperti seorang pematung menikmati hasil karyanya.

*****

�Keesokan harinya�� Lanjut si pendongeng.
��di bawah langit kota yang terang benderang, di perempatan jalan besar yang sedang ramai-ramainya, di atas trotoar, di bawah bayangan atap bangunan, mereka berbicara seru tentang temannya yang kemarin tertabrak mobil dan kepalanya deras terbentur aspal jalan. Berita tentang tabrak lari itu juga muncul di beberapa lembaran koran sebagai pengisi kolom-kolom bagian pojok, sementara di halaman-halaman lain ada data tentang peningkatan angka kematian anak, berita pencabulan terhadap anak dibawah umur, analisis tentang peningkatan perilaku kekerasan terhadap anak, penjualan anak, eksploitasi anak, �...�
�Wah, mengerikan nasib anak-anak mereka.� Gumam salah satu pendengar.
�Benar, itu yang menyebabkan mereka akhirnya punah. Saat itu tak pernah ada manusia yang pernah membayangkan bahwa kenyataan munculnya �generasi yang hilang� berlangsung begitu parah sampai-sampai manusia musnah dari peradaban.�
�Lalu bagaimana nasib Anton?� Tanya pendengar yang lain.
�Tidak ada lagi catatan sejarah yang menceritakan tentang nasib Anton. Transkrip-transkrip yang kita temukan sangat terbatas untuk bisa menjelaskan tentang kehidupan manusia secara keseluruhan. Semuanya ikut musnah bersama mereka.� Demikian cerita diakhiri oleh si pendongeng.
Anak-anak kelinci dengan mata mereka yang bulat bercahaya itu pun membubarkan diri berlari kesana-kemari sambil tertawa-tawa, berguling-guling di padang rumput di sebelah kebun wortel yang hijau. Sementara bapak kelinci pendongeng mengamati mereka sambil tersenyum nyaman, mengangkat telinganya yang panjang tanda kepuasan.



Yogyakarta, 2003
Hosted by www.Geocities.ws

1