Transkrip Apologia Yang Tetap Terlarang
(Legenda Adam Dan Hawa II)

.........
Izinkan aku memulai semuanya dengan kata maaf.
Karena ada hal-hal yang belum sempat aku ungkapkan pada transkrip yang lalu.
Bukan karena aku tak mau, justru sangat aku tahan-tahan keinginanku untuk memberi tahu.
Semua semata hanya karena aku butuh menangkap momen. Dan sungguh maafku yang terbesar untuk yang terakhir itu.
........

     Dan tiba-tiba aku sudah sendirian di bawah tangga langit itu dengan kepala yang masih pusing dan lemah. Sangat sendirian, tanpa siapapun; tanpa nyamuk dan capung. Ditelantarkan oleh bumi di bagian yang paling sunyi. Ditinggalkan oleh surga dan matahari. Hanya keriuhan senyap yang makin menjauh serta lampu sorot yang temaram makin hitam, dan aku hilang dicekam kematian. (transkrip I).

     Ternyata aku belum mati, tapi sungguh ketika aku menyebut tentang Habil dan Qabil aku benar-benar membohongi kalian. Perselisihan mereka berdua mempunyai arti yang sangat menyentuh bagiku. Tidak seperti kalimat yang aku tulis yang seolah menyepelekan keduanya. Saat itu aku hanya tidak ingin membagi kesedihanku, toh kalian sudah punya skenario sendiri tentang mereka. Tapi sekarang aku tidak bisa lagi menahannya, kalian harus tahu walaupun tidak harus yakin. Karena siapa - bahkan - yang bisa menjamin kita ini dilahirkan dari ibu kita. Sehingga siapa yang bisa menjamin kalau semua bukan sekedar legenda termasuk juga keberadaan kita. Jadi bagaimanapun aku akan tetap bercerita.
     Sebelum aku memutuskan mengembara ke segala zaman hingga penghabisan, aku menyempatkan diri mencari-cari dan mengamati wajah Hawa. Mencoba merekam setiap lekuk wajahnya hingga suatu saat nanti aku bisa menggambarnya dalam bentuk siluet. Atau kalau mungkin mengingat tiap garis dan kerut serta kekontrasan cahaya sehingga aku malah bisa membuat sketsanya. Untuk itu, dengan segala kekuatan yang aku punya - yang berasal dari tumbuhnya kesadaranku tentang alam dan dunia - maka aku memutuskan untuk merubah diriku agar tidak mudah dikenali oleh Hawa ke dalam bentuk yang sekaligus juga bisa dengan mudah menyelinap bebas sebagai mesin pengawas. Dari dua kecenderungan pilihanku aku memilih berubah menjadi burung gagak. Pilihanku yang lain adalah nyamuk, tapi tidak aku pilih karena dengan ukuran sekecil itu aku bisa mencelakai diriku sendiri. Maka dalam sekejap aku telah menjadi burung gagak lengkap dengan bulu hitam dan koakannya yang nyaring.
     Sejak saat itu aku mengamati Hawa dengan perasaan yang sungguh amat tidak jelas. Tapi semua aku pendam demi satu kesimpulan bahwa aku hanya ingin melihatnya untuk terakhir kali sebelum aku pergi. Tapi mungkin tidak seperti yang kalian bayangkan bahwa hal ini hanya berlangsung sekejap saja, malah bahkan bukan hanya satu dua hari aku mengamati, ini semua berlangsung selama berbulan-bulan. Dan bahkan itupun aku rasa belum cukup menampung semua cahaya dari Hawa yang bermuara kharisma, belum bisa merangkum semua kata-kata yang mengalir bagai puisi, nyanyiannya yang adalah nada itu sendiri.
     Aku nyaris hafal semua rutinitas Hawa bersama Adam. Mereka berdo'a di pagi hari, kemudian bercocok tanam hingga siang, sorenya mereka menikmati sisa hari dengan duduk-duduk di ujung bumi yang masih sepi, menjamah matahari, memandang langit dan bintang. Lalu mereka berdo’a lagi sebelum merangkak menggapai tidur.
     Tentang kegiatan bercocok tanam itu, yang mereka tanam bukan padi atau umbi-umbi, bukan tebu atau pohon sagu, melainkan buah berwarna ungu, yang bagi sebagian memang mirip apel, tapi kurasa bukan, ia lebih mirip kedondong atau malah salak pondoh. Yang jelas buah itu adalah makanan pokok mereka. Mereka cukup memakan satu buah setiap harinya untuk memungkinkan mereka bisa bekerja, bercocok tanam, berdo'a, tidur dan bercinta.
     Aku biasa hinggap di sebuah dahan pohon yang hanya tinggal kayu tanpa dedaunan. Kalupun ada daunnya, ia sudah coklat kering menunggu giliran untuk jatuh ditiup angin. Ada memang pohon-pohon lain di sekitarnya, tapi kurasa pohon yang kuhinggapi benar-benar sempurna, ia tidak yang paling tinggi, tapi sungguh bisa menjangkau tiap penjuru tempat Hawa dan Adam, bahkan dalam beberapa kesempatan bisa terdengar suara mereka.
     " Biar aku bawakan bekal-bekal itu" Suara lirih Hawa di suatu pagi.
     " Tanganmu sudah terlalu penuh dengan perkakas"Lanjutnya.
     " Jangan! Aku tak bisa membiarkan kau membebani dirimu dengan apa yang masih bisa aku bawa, apalagi kau sudah membawa sesuatu yang sedemikian berat karena berartinya"Jawab Adam.
     " Sesuatu yang berarti? Apa itu?. Kau lihat kedua tanganku hanya menggapai-gapai angin" Hawa benar-benar buntu.
     " Kecuali kalau kau biarkan aku membawakan bekal-bekal itu, pasti akan berarti, karena aku merasa berguna dan kau merasa lebih ringan. Tolong jelaskan kalau kau memang masih bersikukuh menolaknya, apa yang lebih berarti dari itu?"
     " Sungguh aku memaafkanmu karena lupa tentang sesuatu yang paling berarti dari cinta kita selama ini" Adam berkata sambil mengelus-elus perut Hawa.
     " Yang aku maksud ada di dalam sini, kandunganmu yang sudah makin membesar seiring tiga bulan waktu yang telah kau lewati sejak kau katakan bahwa kita akan punya keturunan"
     Wajah Hawa agak memerah.
     " Wahai surga! Semoga pintumu tak kan pernah lagi terbuka untukku karena kealfaanku melupakan benih cinta yang sedang aku kandung" Demikian Hawa dengan nada bersalahnya.
     " Sudahlah..." Adam menenangkan.
     " Surga masih di tempatnya, dan pintunya tidak akan tertutup hanya karena kelalaian yang tidak kita sengaja. Yang menjadi jelas adalah bahwa aku sendiri yang akan mengangkat semua perkakas dan bekal-bekal ini ke ladang, sedang engkau beristirahatlah, aku tak mau menyakitimu dan kandunganmu dengan kelelahan"
     Hawa tak bisa lagi berkata-kata. Ia mengerti bahwa Adam sangat berharap dari calon bayinya, dan karena itu ia sangat menjaganya dengan seksama.
Adam pun pergi diiringi restu Hawa.
     " Demi langit yang masih hampa dan bumi yang masih sunyi, aku tak tahu harus kemana kubawa rasa bersalahku. Kalau saja aku tak diturunkan ke bumi, maka mungkin aku masih hidup bersama Adam tanpa ada rasa bersalah seperti ini. Kalau saja aku masih di surga aku tak harus memilih apa-apa - kecuali mungkin buah khuldi laknat itu - kalau saja aku masih di surga tak kan pernah aku bertemu siapa-siapa selain Adam, termasuk dengan orang ketiga yang baru saja pergi beberapa bulan yang lalu. Kalau saja semua ini tidak terjadi, aku tak pelu memendam sebuah rahasia yang benar-benar menyiksaku. Lebih menyiksa lagi karena ini menjadi rahasia bukan hanya untuk Adam tapi harus kututupi juga dari pengetahuan sejarah di masa depan. Tak ada yang boleh tahu kalau bayi yang aku kandung bukan  milik Adam tapi milik orang ketiga yang baru saja pergi....Oh langit, bumi dan surga juga demi buah khuldi...aku tak tahu lagi mesti bagaimana..." Hawa beranjak menuju pembaringan untuk beristirahat dan berharap lari dari semuanya.
     Sementara aku si burung gagak tertegun beberapa saat di atas dahan kering ini. Kata-kata terakhir dari mulut Hawa benar-benar bagai petir yang menyambar ubun-ubun kepala untuk kemudian menjalar sampai jemari kai. Aku masih terpaku....cengkeramanku di dahan agak melemah, hingga hampir saja aku jatuh kalau aku tidak buru-buru tersadar. Ini semua nyata. Aku juga tak tahu harus bagaimana, aku sudah terlanjur pamit pergi jauh, bahkan bagi Hawa aku mugkin telah mati. Kalaupun aku bisa kembali tidak akan ada yang setuju, tidak Hawa, Tuhan dan masa depan. Kenapa Hawa tidak memberitahuku sedari awal? Tapi kurasa itupun tak ada gunanya....Hawa tidak salah, aku memang tidak seharusnya ikut campur kalau semua sudah tentang Adam dan Hawa, tidak ada yang boleh. Kepalaku makin dipenuhi kekalutan yang sangat tidak jelas.

*****

     Bulan bulan berikutnya aku lewati seperti hari-hari lalu. Bertengger di atas dahan kering, mengamati sebuah keluarga yang sedang dipenuhi penantian. Bedanya ; aku tak lagi hanya sekedar mengamati karena ternyata aku sudah terlibat dalam emosi penantian mereka. Hey! Jangan menyalahkanku;itu benihku yang kutanam!
Akhirnya enam bulan telah berlalu dan berarti sudah sembilan bulan Hawa mengandung bayinya -- bayiku. Di sana Hawa terbaring dengan Adam di sisinya yang berharap-harap cemas, seperti juga aku yang agak jauh di dahan pohon ini. ini adalah saat yang paling ditunggu-tunggu, kelahiran satu lagi nyawa manusia di muka bumi, manusia bayi yang akan berkembang besar dan dewasa untuk menjadi tua dan mati dengan meninggalkan ukiran-ukiran dan pengaruh dalam ekosistem dan peradaban. Menjadi icon sejarah yang terpatri memfosil untuk dikenang oleh masa depan. Bahkan terbangnya setitik debu di halaman rumah kita konon punya kaitan dengan topan tornado yang tejadi di California beberapa minggu setelahnya. Satu buah atom saling bertumbukan di daerah pantai Gading yang kemudian menumbuk atom yang lain, dan demikian seterusnya sampai ia terasa getarannya di daerah pelosok Fak-Fak atau di lantai 15 gedung pencakar langit di Tokyo. Dan ini adalah suatu peristiwa kelahiran seorang manusia, manusia yang terdiri dari 70 milyar sel, yang entah satu sel tersusun dari berapa molekul atom. Dan ia adalah benihku;ingat itu, bayi yang akan lahir adalah 70 milyar sel yang aku buat. Ini juga mungkin yang dirasakan Adam di bawah sana. Hingga saat; suara tangis terdengar lebat dengan tiba-tiba, tangis khas bayi yang melengking. Nyawa itu akhirnya lahir, dan meledaklah semuanya; tangis haru Adam yang membahana sambil mengelus istri dan bayinya, aku sendiri spontan mengoak-ngoak sambil terbang kesana kemari, kutahan-tahan hasrat untuk menyerbu ke arah keluarga itu untuk menyatakan kebahagiaanku. Meledak pula keharuan alam dengan mengumbar hujannya yang seketika deras bersahabat, lembut menyentuh bulu-buluku. Tak ada lagi yang bisa menggambarkan suasana gembira saat itu. Penantianku yang terakumulasi sedemikian lama meledak dalam satu hari itu juga.

*****

     Bayi laki-laki itu diberi nama Habil.

*****

     Habil adalah anak semesta, semua menyayanginya, terlebih tiga manusia yang sudah ada sebelum dia, tiga orang manusia yang adalah orang tuanya. Termasuk (terutama) aku. Kulindungi dia dari marabahaya, dari binatang buas dan tanaman berbisa, panas matahari yang menggigit, sentuhan dingin angin yang mencekat, ancaman alam liar yang tak bersahabat. Pengawasanku bahkan melebihi saat aku mengawasi Hawa sebelumnya. Bahkan  Hawa sekarang sering luput dari penglihatanku. Ia masih berdo'a, ia tetap menemani Adam bercocok tanam, mereka masih mengagumi alam dan bercinta di malam hari. Tapi ada saat dimana satu sore Hawa menhilang entah kemana, bahkan tidak terlihat dari pohon yang aku diami yang padahal bisa melihat segalanya kupikir. Tapi itu tidak menggangguku, karena saat ini tampaknya fokusku sudah berpaling pada Habil, sebagai buah karya yang lahir dari cinta sejati yang sangat lepas membebaskan. Tak perlu dilanjutkan, karena yang ada sekarang hanya Habil; aliran darah dan hidupku.

*****

     Disebuah tiupan lembut angin, seekor gagak berwarna hitam terbang rendah menuju sebuah pohon yang agak rindang seperti hendak istirahat melemaskan sayap-sayapnya dan berteduh dari sinar matahari yang menusuk-nusuk kulit. Pandangannya menatap kediaman Adam dan Hawa yang ternyata memang cukup terlihat jelas dari sudut pandangnya di pohon itu. Atau malah justru dia sengaja memilih tempat itu agar bisa jelas mengamati kediaman Hawa. Sesekali ia berkoak nyaring, tapi lebih sering ia diam seperti berkonsentasi pada sesuatu.
     " Keluarga kecil yang bahagia..." Gumamnya menatap Adam, Hawa dan Habil sedang bercengkerama.
     "Semoga tidak ada topan badai yang tega dihadirkan alam sehingga keindahan ini sirna"
     " akan sangat tidak kreatif kalau Tuhan mengahncurkan apa yang sungguh nyaman di mata. Bahkan kalau aku diizinkan untuk kembali ke surga, untuk tidak tercipta sedari awal, akan lebih menyenagkan. Keberadaanku selama ini hanya merusak kebahagiaan mereka. Maafkan aku wahai segala yang maha berkuasa. Walau memang bukan salahku bahwa aku cinta Hawa, tapi aku tak bisa apa-apa;aku tetap harus pergi. Aku mungkin sudah pergi entah kemana saat ini, kalau saja aku tidak mendengar dari gumaman mulut Hawa sendiri bahwa ia sedang mengandung anakku. Aku juga sempat kalut tak tahu mesti bagaimana. Kandungan yang sudah hampir matang itu adalah milikku, calon adik dari Habil adalah anakku. Jadi aku belum kemana-mana karenanya, aku masih di pohon ini menunggu lahirnya darah dagingku. Seperti juga Adam dan Hawa yang diliputi penantian anak mereka yang kedua"
     Tiupan angin masih lembut, gagak hitam masih bertengger di dahan dengan sesekali mengoak tapi lebih sering diam. Hingga detik ditelan masa, hingga berhari-hari, hingga tiupan angin silih beranti memutri bumi, membawa kabar dari bagian bumi yang lain atau malah mungkin angin ini adalah angin yang pertama kali menerpa saat burung gagak hitam itu terbang rendah menuju pohon yang rindang. Yang jelas bulan-bulan berlalu dan saat ini adalah saat dimana Habil akan dikaruniai adik, dimana satu nyawa akan hadir lagi mencoba mewarnai dunia, mengukir peradaban dan budaya, calon sejarah.
     Penantian Hawa, Adam dan terutama gagak hitam sampai pada akhirnya…raung tangis bayi memecah semuanya, merambat sampai ke surga, hingga langit menghujan lembut membasahi bulu hitam gagak yang penuh haru bahagia. Dengan riang ia berkoak-koak, terbang ke sana kemari menembus hujan yang menghujam bumi. Menggetarkan kedua sayapnya tanpa lelah, kelelahan telah habis ditelan bahagia. "Anakku telah lahir!!" Teriaknya dalam suara koak-koak. Agak lama ia menari di udara, tiba-tiba ia tertegun, ada sesosok bayangan hitam berkelebat di kejauhan menuju ke arahnya....

*****

     Hampir setahun aku menghabiskan waktu bersama Habil. Hawa mengandung untuk kedua kalinya. Perutnya sudah besar. Mungkin sesaat lagi Habil bakal punya saudara kandung. Hari itu angin bertiup pelan menerpa bulu-bulu dan sayapku, masih di dahan kering yang pohonnya tidak berdaun. Hawa terbaring tampak akan melahirkan lagi sebuah jiwa. Adam di sampingnya erat menggenggam tangan Hawa, Habil mendampingi mereka berdua. Semua tampak hanyut dalam suasana penuh penantian. Tapi bagiku tidak ada lagi penantian yang lebih berarti di banding penantianku setahun yang lalu saat Habil akan lahir.
     Seperti setahun yang lalu, keheningan pecah oleh suara tangis bayi yang menghantam dinding langit. Semua meledak tenggelam dalam keharuan dan rasa syukur mendalam. Hujan turun perlahan lembut membasahi tanah, pohon dan daun.
Saat itulah ada sesuatu yang mengejutkanku.....dikejauhan dari kerindangan pepohonan di depanku melayang kesana kemari sosok berwarna hitam sambil berkoak-koak seperti burung gagak;seperti aku. Beberapa saat kuamati, itu memang seekor burung gagak yang terbang dengan gerakan yang terkesan riang. Aku kira hanya aku satu-satunya burung gagak di awal kejadian bumi ini, ternyata......
     Dengan segala keberanian yang bersumbe dari genapnya rasa ingin tahuku, aku datangi gagak hitam itu. Koak-koaknya terus berbunyi dengan latar tangisan bayi.....kalau aku tidak salah ia berteriak "Anakku telah lahir! Anakku telah lahir!"
     Aku beranjak dari dahan, terbang pelan menuju ke arah gagak hitam yang masih menari. Tariannya makin pelan ketika sadar akan kedatanganku. Hingga akhirmya ia berhenti sama sekali. Ia tertegun atau malah ketakutan.....

*****

Adam, Hawa dan Habil punya anggota baru keluarga manusia;ia diberi nama Qabil.

*****

     Dan di sanalah kita;dua ekor burung gagak yang sama-sama tertegun, kaget dan mungkin juga ketakutan. Habis beberapa tapakan masa hanya untuk berpandang pandang takjub. Aku sendiri sebenarnya punya banyak pertanyaan yang berseliweran riuh di kepala, tapi tak tahu mana ujungnya, apa yang mesti ditanyakan terlebih dahulu, lalu apa setelah itu, seperti anyeng-anyengan. Sehingga pertanyaan-pertanyaan makin mblunet memenuhi kepala hingga nyaris meledak. Kepala gagak di depanku pun tampak menggelembung dengan keheranan dan pertanyaan. Dan dari kedalaman matanya bisa kupahami ia juga bingung, kutarik lagi agak keluar, aku bisa melihat bayangan diriku di matanya yang juga penuh kebingungan. Aku memandang dirinya dan aku mendapati diriku sendiri.
     Dan tiba-tiba percakapan sudah sampai pada hal-hal yang remeh.....
     "...dan kau tinggal di pohon rindang itu?" Tanyaku.
     "benar, sudah hampir setahun ini. aku mungkin sudah tidak di sini kalau saja aku tak tahu tentang Qabil. Sekarang aku harus memutuskan untuk pergi, tapi tak tahu kapan&" Papar gagak hitam itu.
     "kenapa aku tak penah melihat mu dalam setahun ini?" Tanyaku heran.
     "aku juga tak penah tahu tentangmu&...."
     Burung gagak hitam itu adalah orang ketiga yang lain. Ia hadir setelah aku, setelah Habil lahir. Aku tak tahu apa yang merasuki Hawa. Mungkin jalannya memang selalu penuh dengan buah-buah khuldi yang tak bisa tidak, pasti dia petik dengan segala resikonya. Resiko itu untuk saat ini menjelma Habil dan Qabil.
     Aku tak rela merasa sakit hanya karena kejadian itu. Air mataku sudah kering ditelan hari-hari lampau sehingga kenyataan bahwa ada pria lain selain Adam dan aku adalah remah kecil yang cukup membuat klilip sekejap di mata untuk kemudian hilang sama sekali. Terlebih karena sekarang aku punya pegangan hidup dan hiburanku yang lebih pasti, aku punya Habil yang sekarang sudah beranjak remaja. Saat ini adiknya bukan hanya Qabil, tapi sudah ada lagi dua anak perempuan tepat di bawah Qabil. Aku tak tahu cerita tentang dua anak yang terakhir ini. apakah mereka anak Adam atau justru ada orang-orang ketiga lainnya yang membuat kalian ternyata bukan anak cucu Adam.
     Sigagak hitam salin aku tampaknya juga tak terlalu tersentuh dengan keberadaanku. Mungkin sudah takdir bagi orang-orang seperti kita - orang-orang ketiga - untuk tidak merasakan percikan-percikan kecemburuan dan sikap posesif. Kita adalah manusia-manusia kuat di awal kejadian bumi yang nyaris adalah malaikat, atau kita ini memang malaikat yang sengaja diciptakan tanpa ada kesadaran tentang kemalaikatan kita.
     Sekarang kita berdua masyuk dengan buah hati kita masing-masing. Sepanjang pengamatanku, tampaknya sigagak hitam berkepedulian dengan gerak-gerik Qabil seperti aku yang terikat ooleh Habil. Kita berdua masing-masing punya ikatan emosi dengan  jiwa-jiwa yang membawa darah kita. Dan ternyata kita masih belum malaikat.

*****

     Tentang empat bersaudara itu, ternyata duri tidak mengenal darah. Perselisihan terjadi antara Habil dan Qabil seperti sering kalian baca di buku-buku sejarah. Dan seperti dikatakan dalam buku-buku itu, perselisihan muncul karena perempuan. Qabil iri karena dari keputusan yang diambil keluarga, Qabil harus menikah dengan adik perempuan yang paling bungsu sedang Habil mendapat adik perempuan yang pertama. Qabil iri karena perempuan yang bungsu tidak lebih cantik dari cantik dari kakaknya.      Dan maaf kalau aku agak terburu-buru menceritakan akhir kisahku (ada kekuatan dahsyat yang mengharuskan aku segera menyelesaikan tulisan ini; aku hampir kehilangan momen) perselisihan keduanya memanas dan berbuntut perkelahian. Dan yang paling menyedihkan bagiku dari tulisan ini adalah bahwa Habil terbunuh dalam perkelahian itu. Dan ada lagi satu rahasia yang harus aku akui : saat melihat perkelahian Habil dan qabil, aku benar-benar terbawa, mataku tak bisa lagi melihat dunia selain bahwa Habil adalah anakku, darah dagingku, 70 milyar sel milikki yang harus kubela. Sehingga ketika Habil terbunuh, penglihatanku ikut mati bersamanya. Aku membabi buta, aku terbang tak berarah menyalahkan alam. Dalam kekalutanku aku menerjang ke arah gagak hitam yang sedang melonjak-lonjak kegirangan melihat Qabil - anaknya - memenangkan perkelahian. Ia sempat tertegun beberapa saat ketika melihatku terbang cepat ke arahnya. Belum sempat ia berpikir apa-apa, cakar-cakarku sudah terlanjur menembus dadanya, merobek-robek perutnya hingga hancur. Ia keras berkoak-koak. Koakan terakhir yang mencekam dan melengking. Langit ternodai bercak-bercak darah yang berhamburan, untuk lantas turun ke bumi membasahi semuanya dengan warna merah. Aku kelelahan, aku terkulai lemas terjatuh di samping bangkai gagak hitam. Aku menangis, meraung. Menangisi Habil, menangisi kelakuanku. Ternyata aku sama sekali bukan malaikat, bahakan mungkin aku adalah iblis yang dulu mendorong Hawa memetik buah khuldi. Hari menggelap, sore menghujan, mencekam.
     Setelah semuanya mereda, aku ambil segenggam tanah, kuhayati kehangatannya. Ada kekuatan di sana, dan dia berbicara! Sungguh segenggam tanah itu bersuara.....
     "Debu menjadi debu, tanah kembali ke tanah....Debu menjadi debu, tanah kembali ke tanah....Debu menjadi debu...." Demikian ia menggema berulang-ulang. Hingga akhirnya aku gali sepetak tanah, aku kubur bangkai si burung gagak hitam.
     Ketika kalian membaca tentang Qabil yang kebingungan ketika Habil mati, harus diapakan mayatnya, kalian juga akan mendapati juga cerita tentang perkelahian dua gagak. Qabil akhirnya mengubur Habil setelah melihat bahwa gagak yang kalah berkelahi dan mati dikubur oleh gagak yang lain. Hey! Sungguh suatu kebetulan...
     Masalahnya;kita orang-orang ketiga ini adalah agen-agen rahasia sejarah, kita harus ditutup-tutupi dari pengetahuan masa depan. Jadi kalau anda membaca tulisan ini, maka anda sebenarnya beruntung sekaligus sial, karena anda lantas bertanggung jawab untuk merahasiakannya dari siapapun bahkan alam dan masa depan, kitab suci dan Tuhan.

.......
Demikian cerita yang sempat terselip dari transkrip yang lalu.
Dan izinkan aku malu untuk apa yang telah kuceritakan. Kesedihan telah membuatku tak melihat dunia, padahal jalanku masih panjang. Setelah itu semua aku putuskan untuk benar-benar pergi seperti yang aku tulis di transkrip pertama. Dan dari kesemuanya semoga tetap masih ada permata.
.......



Faizal's Literature Properties' (FLiP)
Hosted by www.Geocities.ws

1