IBU, PERNAHKAH KAU MENANGIS ?

�Ibu belum memaafkan aku ?� Tanya Randu. Yang ditanya tidak menjawab.
�Bagaimana anakmu harus bersikap kalau Ibu tidak menjawabnya ?� Mata Randu penuh dengan pengharapan. Namun sesaat kemudian sinar itu berubah lebih santai, wajahnya mengendur, randu seperti tidak lagi menunggu jawaban. Ia mengubah cara duduknya yang semula bersimpuh menjadi lebih nyaman dengan bersandar pada sebuah batu. Pandangannya menerawang ke langit yang cerah, sesekali ia tersenyum seperti teringat akan kenangan-kenangan lama.

*****

Sinar matahari menelusup rindang dedaunan, beberapa berhasil menyentuh tanah, menghangati kerikil-kerikil dan rerumputan. Angin berkejar-kejaran pelan, kadang berputar-putar mengusik dedaunan kering, membuatnya bergemerisik. Sesekali ia membawa aroma kayu pohon dan bambu yang terbakar, menghanyutkan Randu pada suasana pedesaan, dimana rumah-rumah terbuat dari gedek, pekarangan tanah di depannya ditumbuhi pohon-pohon pisang, melinjo dan segerombolan bambu, sebuah lubang di tanah tempat membakar sampah. Jalan setapak di depannya juga masih berupa tanah dengan batu-batu kecil dan tumpahan pasir atau juga gamping. Bentuk jalan selalu sama, tiap kelokan tak dapat dibedakan.

�Ibu ingat, ketika kita pertama kali ke tempat nenek ?� Mata Randu menerawang menembus langit. Tanpa menunggu jawaban, Randu lantas bercerita seperti mencoba mengingatkan ibunya.
�Aku sendiri tak akan lupa. Sebenarnya malu juga kalau diingat, tapi untuk dilupakan terlalu sayang. Umurku 10 tahun kalau Ibu lupa. Waktu itu aku pinjam sepeda milik Kecir � sepupuku, lalu diam-diam aku kayuh menyusuri jalan kecil menuju pantai. Sebelumnya aku pernah dibonceng Kecir dengan sepeda yang sama menuju pantai. Tapi hari itu aku tak mau merepotkan orang-orang hanya untuk menemaniku jalan-jalan, lagipula aku sedang ingin jalan sendiri. Dan akhirnya aku tiba di pantai�.� Mata Randu terpejam sambil menghisap nafas agak dalam seakan menyesap sebuah kenyamanan.

��.Mmh, masih bisa kurasakan hawa basah udara pantai saat itu. Aku senang sekali, bermain sendiri di atas pasir yang membeku karena ombak, membuat jejak-jejak kaki yang sesaat kemudian hilang kembali dihapus air laut. Aku kejar ombak yang tertarik ke tengah laut � seperti ada yang menghisapnya dari perut bumi. Sesaat kemudian giliran ombak itu yang mengejarku, aku berlari menjauh sambil tertawa-tawa, seperti takut jika tertangkap aku akan habis dibuatnya geli. Aku terjatuh dan ombak itu berhasil membuatku basah, aku tertawa sambil menyemburkan air dari bibirku yang asin, ombak itu kembali menjauh sambil tersenyum puas. �Awas kau nanti !� Pikirku saat itu�.
Sehelai daun kering jatuh melayang menerpa tanah, Randu masih bercerita,�.

�Tak terasa hampir senja, �.matahari sudah merah. Aku menyambar sepeda yang tadi aku rebahkan begitu saja di atas pasir, bergegas pulang menyusuri jalan-jalan kecil. Saat itu aku mulai tidak yakin, �jalan-jalan di pelosok desa ini semuanya sama. Aku sepertinya telah melalui jalan yang benar, tapi sungguh kalau memang benar demikian, aku semestinya sudah sampai di rumah nenek saat itu. Benar-benar aku mulai khawatir ketika itu �Bu. Langit sudah mulai gelap, matahari tinggal segaris cahayanya, itu pun tertutupi rimbunnya pohon-pohon di kanan-kiri jalan di pekarangan rumah-rumah gedek. Aku tak tahu lagi mana jalan yang benar, aku sudah benar-benar tersesat, bahkan alamat rumah nenekpun aku tak tahu. Aku mulai menangis di atas sepeda, dan jatuh di pinggir jalan ketika kakiku menjadi lemas. Adzhan Maghrib mulai meliuk-liuk mengaliri udara membuat suasana sunyi merayapi dadaku, membuatku tambah merana. Dan ketika terdengar suara Ibu memanggil namaku, seperti ada udara hangat yang membaluri tubuhku. Aku menoleh ke arah suara Ibu; Di sana aku lihat Ibu bersama Pakde sengaja mencariku dengan sepeda. Aku menyurukkan mukaku di perut Ibu, menahan sisa-sisa isakan tangis. Di rumah nenek aku jadi bahan tertawaan, Ibu juga tertawa. Tapi aku tahu kalau sebelumnya Ibu sempat menangis karena khawatir, nenek yang bilang. Benar �kan �Bu ?� Randu menghela nafas. Ia masih bersandar di batu dengan pandangan yang jauh berisi hawa basah angin pantai dan suara tawa ombak�.

*****

�Benarkah saat itu Ibu menangis ? Aku tak pernah melihat Ibu menangis. Beberapa tahun setelah aku jadi bahan tertawaan di rumah nenek, kita kembali lagi ke tempat itu tapi untuk maksud lain. Ibu tentu tak lupa, saat itu nenek meninggal. Ibu juga tidak menangis ketika itu. Umurku sudah belasan tahun, aku tahu perasaan sedih ketika harus ditinggalkan seseorang yang berarti, dan menangis adalah seperti hujan setelah datangnya awan hitam. Selama pemakaman aku memperhatikan wajah Ibu, aku mencoba mencari butiran-butiran air di sudut-sudut mata Ibu, tapi tak ada. Ibu sama sekali tidak menangis. Kenapa Ibu tidak ingin aku melihatmu menangis ? Aku tak tahu ketika ayah meninggal apakah Ibu menangis ? Aku masih terlalu kecil untuk memperhatikannya�.

Randu menyelonjorkan satu kai, merogoh-rogoh sesuatu dari kantong belakang celana panjangnya, sebuah dompet kulit kumal berwarna coklat. Sebuah foto dikeluarkan ketika dompet itu dibuka.

�Ini �Bu. Cuma ini foto ayah yang kupunya. Ibu yang menyimpankannya untukku. Hhh, �tidakkah Ibu merindukan ayah ?� Ibunya tidak menjawab. Dompet itu kembali dibuka untuk meyimpan foto tadi. Di dalamnya penuh dengan kertas-kertas yang terlipat kecil, ada kartu nama, KTP dan sebuah Kartu Mahasiswa. Yang terkhir mengingatkan Randu akan sesuatu, �.

�Besok aku mesti kuliah lagi �Bu, masa liburku sudah habis.� Ibunya diam saja.
�Ibu masih kecewa aku tidak masuk kedokteran ? Aku mengerti kalau Ibu masih merasa begitu, aku tahu kekecewaan Ibu ketika ayah akhirnya dikalahkan oleh kanker. Tapi tolong �Bu, mengertilah posisi anakmu ini, aku sendiri punya keinginan, aku tak bisa menjalani masa depanku dalam bayangan masa lalu keluarga kita.� Randu berhenti sejenak, mukanya kembali mengharap suatu pengertian dari yang diajak bicara.
�Ampuni aku kalau ternyata aku salah �Bu, bagaimanapun aku tak bisa hidup tanpa restumu, �.� Ibunya tetap diam, hanya angin yang berhembus sendu terkesan bersahabat. Mata Randu tertunduk dalam-dalam seperti tenggelam dalam rasa bersalahnya.
�Memang Ibu pantas kecewa. Hanya aku anakmu satu-satunya, tapi ternyata aku tak bisa diharapkan. Tanpa siapapun, Ibu telah membesarkanku, menyekolahkanku dan bukannya membalas semua itu, justru akhirnya membuat kecewa; Aku malah lebih memilih menjadi wartawan daripada menuruti nasehat Ibu untuk menjadi dokter. Aku seperti melupakan kerja keras Ibu selama ini. Hhh,�warung kita itu, sudah bertahun-tahun kita menggantungkan hidup padanya. Tapi yang aku bisa dari dulu hanya membebani. Aku ingat pernah menangis deras sekali saat minta dibelikan mobil-mobilan. Padahal saat itu sedang ramai pembeli, dan Ibu hanya seorang diri menjaga warung. Tapi seingatku Ibu bisa menghadapi semuanya, entah apa yang Ibu katakan padaku saat itu yang membuatku tenang. Beberapa hari kemudian, sebangun dari tidur aku mendapati mainan itu sudah ada di sampingku.�

Randu terus tenggelam dalam kenangan-kenangannya. Sementara matahari sudah agak condong ke arah barat, sinarnya yang menua masih berusaha menerobos sela-sela dedaunan, menerpa tanah dan bebatuan. Di dalam benak Randu saat ini ada seorang anak kecil berlari-lari riang menarik mobil-mobilan; Gemerincing tawanya mengambang di udara.

*****

�Apakah kau menangis �Bu, saat tahu aku tidak ingin menjadi dokter? Kau mungkin kecewa, tapi apakah kau menangis? Kalau iya, kapan Ibu menangis? Apakah saat aku tertidur pulas? Apakah Ibu dengan sengaja mengambil-ngambil kesempatan di tengah malam untuk bangun, berdo�a lalu menangis? Menangisi ayah, menangisi nenek, menangisi kedurhakanku, menangisi hidup? Aku tak pernah tahu. Padahal  banyak sebenarnya yang bisa kau tangisi. Sehingga kalau hanya tengah malam saja waktu yang kau gunakan untuk menangis, aku tidak yakin kalau itu cukup. Dan selain tengah malam, Ibu habiskan waktu dari pagi hingga malam untuk menjaga dagangan di warung, tak ada kesempatan untuk melakukan apa-apa lagi, lebih-lebih untuk menangis.

Baiklah, mungkin saja Ibu memang tidak pernah menangis. Tapi bagaimana caranya? Bagaimana Ibu bisa begitu kuat? Manusia harus menangis sekali-sekali, atau Ibu ternyata adalah malaikat? Atau hidup ini sudah sedemikian menyenangkan untuk Ibu? Atau malah justru sangat menyedihkan sehingga tidak ada guna lagi membasahi tanah dengan air mata? Apa Ibu sudah tidak punya air mata? Apa air mata Ibu sudah habis menguap oleh matahari? Atau dari semuanya, apakah Ibu hanya tidak ingin membuatku sedih?�
��
��
Seekor capung terbang merendah, lalu hinggap di ujung alang-alang. Ia diam untuk sesaat, ia diam untuk selamanya, bergetar pelan ditiup angin senja. Segaris merah sinar matahari menembus sayapnya, lalu merayapi kening Randu, menyentuh wajahnya tanpa menyilaukan, tapi cukup untuk membuatnya bangun dari kegalauan yang dalam.

�Sekali lagi, ampunilah anakmu ini �Bu. Maafkan kalau kau sudah mengingkarimu, tapi aku tak bisa apa-apa, ini sudah jalanku. Saat ini dengan segala kerendahan hati, aku hanya bisa mengharapkan restumu �Bu, tanpa itu apalah artinya diriku saat ini. Aku harap Ibu bisa mengerti. Seperti juga aku mengharap Ibu tidak kecewa ketika saat itu aku tak bisa menahan diriku untuk tidak menangis saat harus melepaskan kepergianmu menuju surga, �.�

Randu mengusap batu nisan ibunya, lalu pergi. Sehelai bunga kamboja yang paling putih, jatuh perlahan, melenggok ke kanan kemudian ke kiri, lalu berputar di tiup angin, untuk akhirnya pasrah pada gravitasi mendarat tenang di atas pekuburan.

April 2003
Hosted by www.Geocities.ws

1