| MESIN ATM Aku berdiri di deretan ke empat dari antrian yang paling panjang ini. Di sebelah ada antrian yang lebih pendek, tapi memang kebutuhan akan pecahan uang yang lebih kecil justru lebih banyak. Kalau anda punya uang sepuluh ribu-an sebanyak lima lembar, alasan apa yang paling mungkin anda dapat sehingga anda merasa perlu menukarnya dengan satu lembar uang lima puluh ribuan. Jumlah alasan yang anda dapat pasti tidak sebanyak atau sekuat alasan jika hal itu terjadi sebaliknya. Selalu aku tercenung ketika harus berada di antrian, antrian apapun. Seperti saat itu: adakah fungsi mesin ATM adalah untuk menyusun raut muka seseorang dengan komposisi yang beragam? Mulai ketika orang-orang ini ada di antrian; raut muka menunggu, raut muka harap-harap cemas, kadang resah, tercenung, mengeluh kepanasan. Kesal ketika antrian berjalan lama, kesal ketika satu orang menghabiskan waktu bermenit-menit di dalam boks dan antrian bertambah sekian orang, tambah sebal ketika beberapa orang masuk sekaligus sambil cekikikan seperti masuk boks untuk foto-foto, menghabiskan waktu lama karena tiap orang ternyata tidak membawa satu kartu. Harusnya ada batasan waktu bagi tiap orang di dalam boks ATM. Apa yang membuat mereka lama di dalam sana? Apa waktu berjalan menjadi lambat di dalam boks? Sehingga dari luar apa yang dilakukan di dalam terlihat seperti dalam gerak lambat, sehingga kita tak bisa menahan diri untuk tidak melongok jam tangan kita dan bersungut-sungut. Cukuplah tentang hal yang satu ini, siapa memang yang bisa tahan dalam sebuah antrian di luar ruangan? Sekarang perhatikan ketika satu-persatu orang-orang itu sudah keluar dari boks, ada yang berubah sumringah, ada yang biasa-biasa saja, ada yang dibuat biasa saja padahal kecewa, ada yang tidak bisa menyembunyikan kekecewaannya dengan wajah yang berlipat, pandangan yang kosong, tak tahu lagi harus menunggu sampai kapan. Penghuni kota tua ini memang banyak terdiri atas mahasiswa-mahasiswa luar daerah � seperti juga aku � yang masih berharap dari uang kiriman. Anda dapat mendapati sebagian besar pelanggan ATM saat awal bulan adalah mereka itu. Dan sebagian besar dari yang sebagian itu sering memasang wajah lesu sekeluarnya dari boks ATM. Adakah fungsi mesin ATM juga untuk menggubah suasana hati? Tiga orang di depanku sudah beranjak satu-persatu dengan keadaan yang beragam. Aku tak bisa memastikan seperti apa, dan tak sempat memikirkannya. Karena sekarang giliranku dan aku sadar sangat penting bagi setiap orang untuk cepat-cepat menyelesaikan urusannya di dalam. Kartu kumasukkan dalam lubangnya. Hh, akan seperti apa wajahku ketika keluar dari sini? Nomor PIN aku ketik, dan tiba-tiba pilihan itu muncul tanpa aku duga-duga : Pilih Raut Wajah yang Anda Inginkan : - Kecewa. - Biasa Saja. - Biasa Saja Tapi Dibuat-buat. - Senang. BANGKU BATU Bangku batu itu warna kelabu berbentuk melingkar, dititik pusatnya tumbuh pohon anjang sana yang belum terlalu rimbun. Ada cekungan di tempat untuk duduknya. Tiap cekungan pas untuk satu pantat. Dulu bangku-bangku batu yang berjajar-jajar itu sebenarnya merupakan pot-pot besar yang ditanami bunga warna-warni. Namun saat pot itu selesai dibuat, penguasa kota tak henti-hentinya mendapat kritikan karena mengorbankan ruang publik dengan pot-pot raksasa yang membuat semrawut suasana trotoar. Akhirnya pot itu dipugar menjadi bangku-bangku batu yang melingkar dengan cekungan-cekungannya. Bagaimana penguasa kota bisa memperkirakan ukuran pantat warganya agar bisa pas duduk di sana? Pastinya mereka memutuskan untuk memilih ukuran all size. Jadi tiap satu lingkaran bangku batu bisa memuat tepat duabelas pantat all size. Dimana kita memilih cekungan untuk menempatkan pantat kita, akan menentukan pemandangan yang akan kita saksikan. Kalau bangku lingkaran itu dibagi menjadi empat sisi pandang, maka satu sisi menghadapkan kita ke jalan raya satu arah � yang ini banyak dipilih, satu sisi lain yang membelakangi sisi yang pertama, akan memaksa kita memandang sisa trotoar dan bangunan benteng tua berwarna putih dengan taman bunga seadanya, sementara dua sisi lain secara frontal menghadapkan kita dengan bangku batu serupa yang memang berjajar-jajar sepanjang trotoar. Aku duduk di lingkaran batu yang paling sepi, di sisi yang menghadap jalan. Motor, mobil, angkutan umum sampai becak dan gerobak lewat di atas jalan satu arah di depan seperti tak ada habisnya. Di seberang jalan ada gedung agung, bangunan putih seperti istana negara dengan halaman luas, yang memang diperuntukkan sebagai istana kenegaraan di kota ini. Konon, baru-baru ini, di depan gedung itu dibuat monumen perunggu yang berhias cap telapak tangan dari beberapa tokoh yang dianggap berjasa bagi kota ini. Seingatku baru tiga telapak tangan yang menghiasi monumen itu. Mereka adalah petinggi-petinggi kota yang telah turut memperkirakan ukuran pantat warga-warganya. Cukup banyak orang duduk-duduk di bangku batu itu. Ada yang seperti aku, duduk sendirian tercenung atau juga membaca buku atau malah memotong kuku, tapi lebih banyak yang berpasang-pasangan. Dan sebagian besar lebih memilih duduk di sisi yang menghadap jalan. Mungkin beberapa puluh tahun mendatang bangku ini akan miring ke sisi yang pertama. Atau kalau itu tidak diinginkan aku yakin para pengukur pantat itu bisa mengusahakan agar warga mau duduk di sisi lain bangku batu � mungkin perlu promosi. Burung-burung merpati mencari makan di atas trotoar, berjalan dengan cara yang aneh, lalu terbang seketika saat langkah-langkah kaki orang lewat mengagetkan mereka. Mereka sebenarnya terbiasa dengan keberadaan orang-orang, mereka hanya kaget. Seekor merpati mematuki remah-remah roti dari telapak tangan lelaki yang duduk di bangku batu. Pasangan perempuannya tertawa kagum melihat hal itu. Setelah roti mereka habis, burung itu terbang. Pasangan itu sama-sama tertawa, saling memandang lalu berpelukan. Di latar belakangnya seorang pedagang kain mengangkat kain besar berwarna biru dengan matahari warna senja, sungguh sempurna. KUPU-KUPU BIRU TUA. Dari salah satu jendela bus umum yang lewat di depan bangku batu itu sebuah suara memanggil namaku. Aku tergagap dari lamunan berusaha menelusuri isi bus. Ah! Aji! Dia melambai lewat jendela, dengan wajah tersenyum lebar, tak mengira bakal melihatku, seperti juga aku tak mengira bakal melihatnya. Tahu-tahu dia sudah tidak ada di jendela, berusaha untuk turun dari bus. Untungnya bus itu berjalan dekat dengan trotoar dan lajunya pun agak lambat karena di depan adalah perempatan besar berlampu merah. Aji meloncat ke trotoar seperti pendekar dan langsung menghampiriku yang sudah menyambut. Sering kali aku tak pernah mengharapkan kehadiran orang lain, tapi kali ini sungguh aku tak keberatan, malah anehnya aku justru senang sekali, seolah ada beban-beban yang lepas dari pikiranku. Kita berjabat tangan erat sambil terguncang-guncang. Tas di pungungnya bergerak-gerak mengikuti goyangan badan. Kita berdua duduk di wadah pantat, seolah aku tuan rumah yang sedang menerima tamu. �Tadi ada kupu-kupu biru tua di dalam bus�. Kata Aji. �Hh, dalam bus yang sepenuh itu?�. �Nah! Biru tua pula!� Sambut Aji. Aku tak tahu maksud penekanannya pada warna biru tua. Apa karena dia suka warna biru tua? Kenapa lantas warna menjadi begitu penting? �Saat kupu-kupu itu terbang keluar lewat jendela yang terbuka di sampingku, saat itulah aku melihat kamu�. Aji berkata-kata dengan riang. Lalu dia mengambil nafas panjang dan menghembusnya perlahan. Pandangannya lurus ke arah gedung agung. �Hh, hidup ini sebenarnya indah kalau kita selalu bisa membaca tanda-tanda�. Aji tahu aku paham tentang apa yang dia bicarakan. Kita punya referensi yang sama tentang hal ini. Dan aku tidak bisa tidak mengangkat bahu sambil memiringkan kepalaku ke samping dengan mimik yang seolah mengatakan �Yah, begitulah�. Lalu kita diam sekian lama. Aji menatap gedung agung dengan perenungannya yang entah apa, sementara aku memperhatikan kendaraan yang masih ramai lewat di depan kita, sambil sesekali agak mendongak mencari sosok kupu-kupu berwarna biru tua. **** Menjadi pentingkah pertemuanku dengan Aji? Kita tak pernah tahu. Ketika dia memutuskan untuk meloncat dari bus, saat itu dia pasti telah mendapat isyarat bahwa bakal ada sesuatu yang penting dengan pertemuan kita. Mungkin hal ini pula yang terjadi padaku ketika kedatangan Aji kurasakan bukan sebagai gangguan tapi justru seolah membuat beban-beban lepas dari pikiranku. Pasti ada sesuatu! �Baru keliling kota �Ji?� �Yup, biasa! Aku selalu penasaran kalau satu hari aku tidak keliling kota ini. Kalau ada perubahan entah di mana, aku ingin melihatnya pada kali pertama�. �Prinsipnya aku juga sama, tapi kebetulan kali ini aku cukupkan diri kontemplasi di tengah kotanya sekalian, jadi kalau kamu meluas, aku mendalam�� Lalu kita tertawa-tawa lepas mengetahui pikiran-pikiran kita yang konyol, padahal kita sama-sama yakin kalau hal itu sungguh serius. �Kirimanku belum datang, aku baru dari ATM�. Aku tunjuk gedung tua di sudut perempatan yang kini digunakan sebagai kantor bank. �Ha,�berarti kamu bukan kontemplasi, kamu kecewa�ha�ha�� Mukaku agak merah dengan tanggapan Aji, tapi toh aku jadi ikut tertawa geli. �Tenang kawan��. Lanjut Aji menghentikan tawa kita. �Terus terang aku juga baru dari bank, kirimanku juga belum datang�� Lalu kita tertawa lagi lebih keras sampai badan kita berguncang-guncang dan bulir-bulir keringat keluar dari dahi. Di tengah itu semua, tawa kita berhenti sejenak, saat sudut mata kita sama-sama menangkap sosok kupu-kupu biru tua melintas di atas kepala lalu terbang entah kemana. Kemudian kita makin deras tertawa, seakan baru melihat sebuah cara bercanda yang paling canggih dari alam semesta. MAKAN MALAM (TENTANG PNS) �Ha, kok ayam lagi ya �Mba?� Keluhku ketika membuka tutup catering. �Sudah bagus dapat ayam�� �Bukan gitu, �kan aku sudah pesan, kalau aku cukup telur saja, entah didadar, direbus, dimata sapi, mata kerbau, pokoknya telur! Aku punya hitung-hitungan gizi sendiri�. �Mungkin lupa�� �Ugh,�� �Mba, aku nanti ingin jadi PNS saja deh,��. Aku membuka pembicaraan sambil menggigit kulit ayam yang garing. Eh, nikmat juga. �Lho kok? Katanya mau jadi wartawan?� �Ya itu juga masih, tapi jadi PNS kan enak tho Mba? Gaji terjamin,�Eh, berapa gajinya kalau punya gelar sarjana?� �Mmh,..ya gaji pokonya saja sekitar sembilan ratus ribu sebulan� �Tuh kan, sudah banyak kan Mba?� �Ya, tergantung. Bagi sebagian orang ya banyak, tapi bagi sebagian lain yang lebih besar, jumlah itu cuma bisa untuk hidup kere�. �Lho,masa ada yang merasa kere dengan gaji sebesar itu?� �Lho jelas ada. Kamu pikir kalau kamu punya keluarga, terus punya anak, biaya hidupnya tidak besar?� �Lho��. �Lho apa?� �Lho kan ada tunjangan anak dan istri?� �Lho seberapa? Kamu kira besar tunjangan itu kalau dibanding dengan uang sekolah anak-anakmu nanti. Belum kalau anakmu mau kuliah. Belum kalau anakmu maunya kuliah di luar daerah. Kamu sendiri coba berapa uang kuliahmu? Berapa uang bulananmu dari orang tua? Dua ratus lima puluh? Tiga ratus? Tiga ratus lima puluh ribu? Satu anak tiga ratus limapuluh ribu sebulan. Bagaimana kalau tiga anak? Lah kan habis gajimu yang kamu bilang banyak itu. Nah tiga ratus lima puluh itu standarnya sekarang, bukankah makin ke depan apa-apa makin mahal? Belum bayar listrik, bayar PAM, beli gas, beli perabot, biaya pengobatan, ongkos angkutan, ...kecuali kalau kamu tega korupsi!� �Lho tapi kan�� �Apa? Kamu sudah siap jadi kere?� �Ah, aku pasti bisa. Siapa sih yang pernah bilang kalau uang bisa membeli segalanya? Bahkan agamapun tidak Mba. Aku tidak akan pernah kere. Mungkin aku kere kalau ukurannya uang, tapi apa selalu begitu? Apa sih yang kita cari di sini?� Aku biarkan katering tergeletak sementara, aku harus menjelaskan apa yang kurasa penting bagiku. Aku merasa harus menggugat sesuatu. Ada yang keliru, aku tahu ada yang keliru dalam pikiran banyak orang. aku tetap ingin jadi PNS. Akan aku buktikan nanti, aku akan jadi PNS, aku tidak akan korupsi, aku akan kerja keras dan aku tidak akan kere hanya karena tidak punya uang. MAKAN MALAM (TENTANG INDAHNYA HIDUP) �Mba� tadi sore aku jumpa Aji� �Aji siapa?� �Aji temannya Mala� �Mala, yang tukang foto itu?� �Loh bukan, Mala teman kuliahku� �Lah iya, dia kan suka foto-foto kan� �Iya, tapi bukan tukang foto� �Jadi yang tukang foto itu siapa ya?� �Itu Gembor!� �Oh,�� ��jadi gimana? Tadi sore kamu ketemu Gembor?� �AJI!� �Oh iya, terus kenapa?� �Terus ada kupu-kupu warna biru tua� �Loh, ya terus kenapa?� �Nah itu dia, memang sepertinya tidak ada hubungannya� �Berarti ada hubungannya?� �Siapa bilang?� �Kamu tadi,�� �Maksudku kita tak akan pernah tahu apa yang bakal terjadi pada kita kecuali kita bisa membaca tanda-tanda. Dan segala sesuatu pasti berhubungan, entah apa maknanya. Kalau kita selalu tau, woo�hidup ini bakalan indah selalu, makanya untuk dapat me�� �Bla�bla�bla, bosan aku kalau kamu mulai omong-omong itu lagi� �Lho kenapa?� Ini fakta Mba� �Fakta itu kalau bisa dilihat dengan mata!� �Loh Mba, aku lihat sendiri kupu-kupu warna biru tua itu� �Kok omong kupu-kupu lagi, apa kamu mau koleksi kupu-kupu?� �Lah ini bukan sekedar kupu-kupu, ini kupu-kupu biru tua� �Mau kupu-kupu biru tua, mau kupu-kupu biru muda, mau kupu-kupu burik�� �Bukan masalah warna Mba, ini masalah makna hidup, membuat hidup menjadi indah� �Dengan memelihara kupu-kupu?� �Lho�� �Lho apa?� �Lho ya,�terserah lah!� �He,�kok jadi sewot begitu. Iya lah, kalau masalah bikin hidup jadi indah setuju deh, siapa sih yang tidak mau kalau hidup itu indah� �Nah iya kan!...eh Mba�Mm, kasih aku hutangan lagi ya� �Lho yang dua ratus ribu?� �Itu nanti, masih ingat kok� �Lah, hutang itu dibayar bukan diingat� �Ya kan, kalau ingat terus dibayar, kalau tidak ingat bagaimana bisa bayar. Ya�ya�ya�sedikit saja� �Hh, gimana mau indah hidup ini� SALES (BACA: SELES � SEPERTI DALAM MONICA SALES) �Jadi waktu luang anda banyak kan?� Temannya kawanku itu bertanya. Sial, aku sudah dijebak! Sebelumnya aku jelaskan bahwa aku sudah tidak mengambil mata kuliah lagi, hanya tinggal mengerjakan tugas akhir. Pertanyaan itu berarti tidak bisa tidak mengharuskan jawaban �iya�, kecuali� �Ya, belum tentu!� Aku juga tak yakin kenapa bisa �belum tentu�. �Lho!...� Nah! Dia pasti akan menanyakan perihal �belum tentu� itu, aku belum tahu. Dalam seminggu paling tidak hanya tiga hari aku bimbingan dengan dosen, sisanya ya�waktu luang. Tiba-tiba� �Iya, tugas akhirku itu bagaimanapun tak bisa dipinggirkan�. Kataku tergagap. �Banyak yang membuatku bingung dan kebingungan itulah yang memenuhi waktu-waktu luang saya�. Apakah itu bisa diterima? Kedengarannya malah terlalu puitis. Kenapa aku lantas bersikap defensif dalam percakapan ini? Karena ini bukan sekedar percakapan antara aku dengan temannya kawanku, tapi lebih kepada percakapan antara sales dengan calon klien yang sama sekali tidak tertarik secara prinsip maupun praktis. �Ya sudah? Katanya. �Apa yang sudah?� Aku tidak menyangka bakal secepat itu pertemuan ini. �Sudah mengenai masalah waktu luang, sekarang kita bicara bisnis�. Wah, kurasa ini bakal berlangsung lebih lama lagi. �Anda mesti ingin kaya?� Tanyanya. Wuhh, sungguh tidak! Aku tidak menyangka bakal ada orang yang bertanya sekasar itu. Belum sempat aku jawab� �Ah tentu saja, siapa sih yang tidak ingin kaya?� Katanya sambil tertawa. �Hanya orang gila yang tidak ingin kaya, ha..ha..ha�benar kan?� Badannya bergoyang-goyang. �Ehm, iya�iya� Maka dalam sekejap aku telah masuk dalam daftar orang gila. Lalu ia menggambarkan sesuatu dengan pulpen yang dia rogoh dari tas kerjanya. �Ini, coba lihat�� Dia gambar sebuah garis yang saling menyilang seperti sebuah tanda tambah besar, yang membagi kertas menjadi empat bagian. Aku jadi ingat pelajaran matematika tentang kuadran beserta titik-titik koordinatnya. �Nah, kamu lihat garis horisontal ini?� Dia menatapku, aku lalu mengangguk. Aku mulai tertarik kalau ternyata dia bakal mengingatkanku tentang pelajaran matematika itu. �Garis ini membagi ruang menjadi atas dan bawah, dimana�yang atas inilah mereka yang sukses dan yang di bawah adalah mereka yang gagal dalam hal mencari uang� Ugh, dia tidak sedang bicara tentang matematika. Aku kecewa. �Dan garis vertikal ini membagi lagi bidang kertas menjadi kanan dan kiri� Ujung penanya menunjuk-nunjuk gambar di kertas. �Bidang kanan dan kiri ini menggambarkan jenis usaha apa yang dilakukan baik oleh orang-orang yang gagal maupun yang sukses� Katanya. Bagaimana ia bisa merumuskan itu? �Mereka yang gagal adalah para pegawai dan pekerja informal termasuk, PNS dan buruh. Sementara yang sukses adalah para pembuat lapangan kerja yang tidak perlu kerja keras untuk uang, tapi uanglah yang akan bekerja untuk mereka�. Ah, kepalaku mulai pusing. Aku ingat kalau aku belum makan sejak siang, sekarang sudah hampir jam delapan malam. Apa acara tivi malam ini ya? **** Pertemuanku dengan temannya kawanku tanpa kuduga berlangsung hingga jam sebelas malam. Hampir saja penyakit lambungku kumat. Temannya kawanku itu bukan hanya menggambarkan garis vertikal-horisontal, tapi juga sebuah segitiga, piramida, lingkaran (agak elips), kotak persegi panjang dan dengan susah payah juga menggambar kubus dengan kerucut di atasnya. Bakat geometrinya benar-benar luar biasa menurutku, sayangnya beliau ini tidak sedang bicara tentang geometri. Ia bicara tentang determinan-determinan yang membagi dunia menjadi waras dan gila, miskin dan kaya, sukses dan gagal dan sebagainya. Dan malam itu aku merasa seperti seorang miskin yang gagal dan menjadi gila sekaligus. Sungguh ia telah menghina banyak orang termasuk aku dan terutama dirinya sendiri. Semakin ia menjelaskan tentang produknya, semakin aku tidak tertarik. Dalam dua tahun katanya, kita bakal bisa duduk di atas BMW sendiri. Mungkin dan memang sudah terbukti benar, tapi entah kenapa aku tidak tertarik. Jauh-jauh hari sudah kuputuskan � sudah bulat tekadku malah � untuk jadi PNS. Salahkah itu? Menurut temannya kawanku, itu salah. Jadi PNS tidak bisa membuat kaya, malah akan semakin miskin ketika sudah tua. Lho, dana pensiun? Sanggahku saat itu. Tidak seberapa katanya, malah itu lebih kecil dari gaji kita saat belum pensiun, bukankah itu berarti anda menjadi lebih miskin. Ugh, apakah semua selalu tentang kaya dan miskin? Malam itu aku tak menjawab apa-apa, kecuali jawaban standar gaya diplomasi ketika harus menolak� �Ya, nanti saya pikir-pikir dulu� �Lho, kenapa mesti pikir-pikir lagi?� Temannya kawanku ini memang benar-benar gigih sampai darah penghabisan. MAKAN MALAM (TENTANG JODOH) �Masih mau jadi PNS?� �Lho, kenapa tidak?� Mulutku lahap memamah hidangan katering. Nafsu makanku muncul ketika tahu lauk pauknya telur dadar, mungkin hanya karena aku tidak kecewa. Karena dengan lauk ayam goreng pun sebenarnya aku juga suka. �Istrimu? Anak-anakmu?� �Ehm, mereka harus setuju. Aku ingin istriku bisa merasakan hidup sederhana seperti sebagian besar masyarakat kita. Aku ingin anak-anakku juga mengerti arti kerja keras. Mencari uang dengan cara yang jelas. Aku ingin memulai semuanya dari bawah dan tujuanku bukan untuk mengumpulkan uang�. Paparku susah payah sambil mengunyah nasi. �Apa ada perempuan yang mau kamu ajak hidup seperti itu?� �Lah, justru�� �Loh justru apa?� �Ya, justru sangat jarang� �Loh� �Lah iya, dan itu justrunya� �Loh mana?� �Karena sangat jarang berarti �kan aku telah menetapkan standar seleksi yang jelas tentang jodohku. Kalau ternyata ketemu, bukankah itu berarti jodoh yang sejodoh-jodohnya�. Nasi di wadah kateringku nyaris habis. �Aku ingin jodoh yang memiliki pikiran yang sejalan tentang hidup. Paling tidak punya orientasi untuk hidup sederhana�� �Ah, kamu nanti mau kawin pakai apa, butuh biaya!� �Loh, lah, loh, ya itu. Sebagai kasus awal tentang hidup sederhana aku inginnya menikah juga tanpa pesta, tanpa resepsi, habis itu pulang. Besoknya kita keliling cari rumah kontrakan. Seminggu mungkin belum ketemu, tak apalah tinggal bersama mertua dulu. Terus ya�jalani saja begitu.� �Ugh, tak mau aku kalau mesti jadi istrimu.� �Eh lah, apa aku mau kawin sama Mba-nya, uh� �Lah, apa ada perempuan yang mau sama kamu dengan prinsip seperti itu?� �Loh, eh, lah ya justru itu taddi� PERJALANAN DALAM KOTA Awal bulan ini tanda-tanda musim hujan sudah mulai terlihat. Dua hari di awal bulan sempat turun hujan. Kalau tidak hujan paling tidak mendung, atau setidaknya tidak ada panas matahari. Entah bagi orang lain, tapi bagiku cuaca seperti itulah yang membuat hidup lebih hidup. Pun jika sampai turun hujan. Hujan bisa menghanyutkan aku dalam kerinduan. Sementara ketika hari mendung, aku bisa bebas keluar rumah mengelilingi kota tanpa harus takut kepanasan hingga rambut bau matahari dan muka berminyak. Maka seringkali, bahkan selalu, aku paksakan untuk keluar rumah walau aku tidak perlu untuk keluar. Dan untuk menjamin nyamannya cuaca kota, selalu aku pilih sore hari. Dan tujuannya adalah tanpa tujuan kecuali tempat-tempat yang menawarkan sebuah kenyamanan di mata untuk bisa mengalir ke hati. Tempat-tempat yang bisa membangkitkan kenangan-kenangan seperti musim hujan. Dan hanya ada satu tujuan seperti itu � begitu kesimpulanku suatu saat � yaitu �sebuah perjalanan�, tanpa ada tempat khusus untuk dituju, �perjalanan� itulah tujuannya. Hal-hal itu yang coba aku runutkan saat aku sedang ada di dalam bus kota ini, ketika aku sendiri mempertanyakan keberadaanku. Iya benar, aku butuh sebuah �perjalanan� untuk menikmati hari yang indah ini. Dan bus yang aku pilih adalah bus yang punya �perjalanan� yang paling panjang dan bisa mengantarku ke ujung dunia, paling tidak ada pemandangan-pemandangan yang bisa membuatku melayang. Ya, pemandangan itu bakal lewat sesaat lagi, ketika bus sampai pada pintu kereta yang kebetulan sedang tertutup. Ini salah satu yang kutunggu-tunggu, kereta bakal lewat di balik palang pintu itu, entah dari kanan atau kiri. Sesaat kemudian kereta lewat dari kiri, dari arah kota. Lalu busku mulai merayap bergoyang-goyang melintasi rel. Tepat saat di atas rel aku toleh ke kiri jauh menyusuri panjangnya rel, mencoba mencari bangunan stasiun terdekat berwarna biru, tapi yang tertangkap mataku adalah sebuah jalan yang melayang di atas rel beberapa kilo dari tempat ini. Seandainya aku ada di trotoar di pinggir jalan yang melayang itu berarti aku bisa melihat mobil-mobil yang melintas di atas rel ini yang di kanan-kirinya terdapat hijau dan kuning hamparan sawah dan kolam-kolam dan kuburan dan rumah-rumah yang jarang-jarang dan tentu saja aku juga bisa melihat stasiun terdekat bercat biru. Busku masih berguncang karena aspal sekitar rel ternyata rusak. Kanan-kiri jalan masih menghadirkan warna hijau persawahan. Pemandangan di jendela kanan lebih khusus lagi menampilkan matahari nyaris senja yang tertutup awan, tapi kadang hilang terhalang pepohonan atau rumah-rumah mewah bertingkat. Rumah-rumah itu mencolok sekali bentuknya di tengah persawahan ini. Jumlahnya jarang-jarang, di kanan kirinya juga masih berupa areal persawahan. Tapi sampai kapan? Orang-orang kota yang butuh daerah sepi dan para pensiunan sudah makin banyak yang tahu tentang daerah ini. Apa suatu saat nanti ketika tanda-tanda musim hujan tiba dan aku perlu sebuah perjalanan, aku tidak akan bisa melihat lagi hijaunya persawahan yang telah dipenuhi rumah-rumah mewah bertingkat yang bahkan menghalangiku untuk dapat melihat matahari sore. Atau,�.siapa sangka aku ternyata bakal ikut membangun rumah mewah bertingkat di areal persawahan itu. Toh dengan begitu aku bisa makin jelas melihat matahari bukan hanya saat dia tenggelam tapi juga ketika ia terbit dan ketika ia sedang panas-panasnya. Hm,� **** Bus yang kunaiki sudah memasuki pusat kota, dimana ada perempatan besar dengan lampu merah, di satu sudut ada gedung tua yang dipakai sebagai kantor bank, di sudut lain gedung serupa bercat putih dan oranye sebagai kantor pos, sementara di sudut seberangnya di atas trotoar ada bangku-bangku batu berbentuk lingkaran dengan cekungan-cekungan di tempat duduknya. Aku tidak turun di perempatan besar itu, tapi sengaja mengikuti arah bus ini ke alun-alun bagian utara. Dari alun-alun aku berjalan kembali kearah perempatan besar. Aku ingin benar-benar menikmati perjalananku. Seperti ketika kita menggigit es krim, aku ingin tiap gigitan dilakukan dalam gerak lambat senikmat-nikamtnya sampai bisa di dengar suara kruwes-kruwes dan dinginnya terasa di gigi lantas lumer di lidah. Semua dilakukan sambil memejamkan mata, mencari kenikmatan dalam gelap. Argh,�. RENUNGAN MALAM Sudah lewat tengah malam. Aku selalu berusha untuk bisa tidur sebelum tengah malam, setidaknya pukul satu. Karena tepat jam satu, siaran radio yang berisi lagu-lagu akan habis. Dan jika lewat waktu itu aku belum tidur berarti aku harus mencari gelombang radio lain yang masih ada, yang isinya lebih banyak obrolan lewat telepon. Siapa sih orang-orang yang dini hari masih bekeperluan kirim-kirim salam? Makanya aku selalu mengusahakan harus sudah tidur pukul satu malam. Aku mulai tidak biasa dengan kesunyian malam. Bukan hal yang prinsipil kurasa, hanya masalah kebiasaan. Dan malam ini sudah lewat tengah malam, tapi sepertinya aku belum akan bisa tidur hingga beberapa jam ke depan. Percuma sore tadi aku menghabiskan tenaga untuk keliling kota. Apakah aku tidak bisa tidur sehingga pikiran-pikiran yang datang menggangguku atau karena aku belum bisa tidur sehingga pikiran-pikiran ini punya kesempatan menyerbuku. Skripsiku, bab pertama sudah lolos. Sempat ada gelombang kegembiraan saat tahu tentang itu, tapi tiba-tiba terhenti setelah sadar bahwa perjuangan belum selesai; dari satu kebingungan menuju ke kebingungan yang lain. Demikian berulang paling tidak sampai lima kali. Jadi aku belum sepenuhnya lega tentang hal ini. Hutangku, aku tak punya hutang-hutang kecil, aku hanya punya satu hutang besar � bagiku ini besar � sebanyak dua ratus ribu rupiah. Hh, kapan bisa aku lunasi? Setelah aku hitung di atas kertas putih � yang sedianya kugunakan untuk membuat cerita � paling tidak selama tujuh bulan sisa kuliahku, aku harus menyisihkan seribu rupiah setiap harinya untuk bisa melunasi hutang tadi. Kedengarannya tidak banyak, tapi kalau aku hitung lagi, hal itu berarti dalam sebulan aku harus sedia tiga puluh ribu rupiah. Hh, padahal aku sudah harus menyisihkan enam puluh ribu rupiah tiap bulannya untuk biaya katering malam hari, belum makan siang, makan pagi, beli susu, ongkos angkutan umum, beli buku, rental komputer, rental warnet, belanja bulanan, telepon dan apalagi? Ah iya�bulan ini aku juga harus membayar permak celana. Sudah tiga hari aku belum menebus empat potong celana yang kupermak, menghabiskan tiga puluh ribu rupiah. Kertas putih di depanku sudah penuh dengan angka-angka yang jumlah akhirnya menunjukkan angka minus. Kesimpulannya: keadaan keuangan belum aman terkendali. Harus ada strategi khusus mengatasi ini. Aku harus bisa menutupi angka minus tadi. Tapi apa? Melamar kerja? Kerja apa? Iklan-iklan kecil di koran makin tidak bermutu menampilkan lowongan kerja, makin banyak Multi Level Marketting yang diiklankan. Profesi salesman? Ah, itu juga mesti punya kemampuan membujuk orang dengan berbagai cara, segaris mirip MLM. Banyak juga yang mensyaratkan pengalaman, lah aku tidak punya apa-apa. Syarat punya kendaraan sendiri atau punya SIM? Ah apalagi, tidak bakal masuk kualifikasi. Apa harus kujual sesuatu? Sudah separah itukah? Tumpukan kasetku, beberapa potong pakaian yang sudah jarang kupakai, kurasa bakal menghasilkan beberapa puluh ribu. Haruskah? Apa tidak ada cara lain? Aku terlalu sayang kalau mesti menjual barang-barang itu. Tapi kalau memang bisa menghasilkan, misalnya tiga puluh ribu saja, toh bisa membayar biaya permak sehingga tidak membebani uang kiriman beberapa hari lagi. Ah, tidak. Aku masih belum rela! PASAR LOAK Pasar tempat jual beli barang bekas, mulai dari pakaian sampai layar komputer, mulai dari HP sampai lampu senter, mulai dari tangga sampai sepatu kuda. Itulah pengertianku tentang pasar loak dari yang aku amati di pasar-pasar loak yang tersebar di sudut-sudut kota ini. Hari itu aku pergi ke pusat pasar loak di pusat kota bagian pusat. Pedagang-pedagang loak dikumpulkan di sebuah gedung tingkat tiga dengan los-los seadanya. Lantai pertama bukan menjual barang bekas atau barang loak, melainkan bumbu dan sayur-sayuran. Jelas tidak ada sayuran loak. Lantai kedua diisi pedagang-pedagang pakaian bekas, sementara di atasnya lagi mereka yang menjual dan membeli alat-alat elektronika, mulai dari mesin tik, radio kompo, jam dinding, vcd player, remot kontrol segala merk, pokoknya segala macam yang tentunya barang second hand atau malah third hand. Aku tak pernah tahu apakah barang-barang itu ada yang merupakan barang curian, tapi aku tahu kalau dari beberapa barang ada yang dibeli dari mahasiswa-mahasiswa yang sedang butuh uang. Aku tahu perasaan mereka itu, karena hari ini aku ada di lantai dua bangunan ini pun karena alasan yang sama. Terlalu sore, aku datang ketika pintu-pintu di ujung tangga hampir ditutup seluruhnya, sehingga aku harus susah payah mencari tangga yang masih terbuka pintunya untuk sampai ke lantai dua. Tas merah di punggungku naik turun berguncang-guncang ketika aku naiki tangga dengan agak berlari. Pasar ini lebih kumuh dari terakhir aku kesini. Sampah basah di sudut tangga yang menyengat. Kardus bergelimpangan di sampingnya. Ah, sudah tidak ada penjual pakaian di lantai dua. Sudah tutup. �Jual apa �de? Pakaian bekas ya?� Ibu tua dengan kebaya lusuh sedang mengumpulkan potongan-potongan papan bekas peti buah, apa ia akan menjualnya? Apa ada yang mau membeli papan-papan tipis itu? Kalau ada, berapa rupiah yang bakal didapat ibu tua ini? Kemana suaminya? Berapa anak-anaknya? Pasti rumahnya jauh di pelosok sana. Bagaimana ia bisa sampai ke sini? Naik bus kah? Naik sepeda onthel? Atau berjalan kaki? Inikah penghasilan utamanya? Kemana para petinggi kota pembuat wadah pantat itu saat ibu tua dengan kebaya lusuh ini mesti memeriksa sudut-sudut pasar dari pagi sampai sore mengumpulkan papan-papan bekas? Saat mereka menanamkan cap tangannya di monumen perunggu dengan upacara yang menghabiskan biaya beberapa belas juta itu, aku yakin ibu ini sedang menggendong papan-papan dan kardus dalam karung plastik untuk diantar entah kemana demi beberapa ribu rupiah, melakukan kerja yang sebenar-benarnya kerja tanpa harus mengeluh tentang hidup yang makin susah, tentang orang kaya yang semakin kaya, tentang monumen perunggu berwarna kotoran anjing yang bercap telapak tangan orang-orang yang dianggap berjasa padahal mereka tak pernah sedikitpun memikirkan nasib orang-orang tua yang masih harus bekerja lebih berat dari seekor kuda seperti ibu tua ini yang tak pernah tahu tentang dimana monumen itu ditempatkan dan tak perlu tahu kecuali mungkin monumen perunggu yang berat itu bisa ia bawa untuk ditimbang beratnya di tukang besi dan menghasilkan beberapa rupiah tanpa peduli bahwa di sana terpampang cap tangan seseorang yang paling berjasa bagi kotanya karena bagi ibu itu telapak tangan tiap orang tidak berbeda dan ia tak tahu kalau orang pemilik cap tangan di monumen perunggu itu pernah berjasa kepada kotanya karena ia tak pernah duduk di bangku batu dengan tempat pantatnya di pusat kota dimana ia sering lewat sana tanpa sempat untuk duduk-duduk di atasnya karena hari hampir malam dan papan dan kardus yang ia kumpulkan belum ada separuh karung plastik sehingga kalau ia jual yang belum separuh itu uangnya pasti tidak akan cukup untuk makan anak-anaknya di rumah sedangkan kalau ia harus mencari lagi ia pasti kemalaman di jalan dan ia tak bisa membiarkan keluarganya menunggu sehingga kenapa perunggu itu lantas hanya dijadikan batu monumen yang teronggok dengan cap tangan beberapa orang pengukur pantat padahal ia bisa menjadi sangat berharga bagi ribuan ibu-ibu tua yang keluarganya menggantungkan hidup dari papan-papan tipis dan kardus-kardus bekas, botol plastik dan koran-koran lawas� �De! Ade mau jual apa? Pakaian ya?� Aku mengangguk. �Itu masih ada yang buka di sebelah barat� Ibu itu lalu menuruni anak tangga satu per satu dengan menyeret karung plastik warna putih yang terisi setengah. Dan korupsi, dan perjalanan ke luar negeri dan belanja ke Singapura dan pelesir ke Bali, dan kapal pesiar, dan musik jazz dan monumen-monumen bangsat ! **** �Loh Mas�e, ini kan masih bagus bagus ini�� Mbah Noto menyingkap pakaian itu satu per satu. �Iya, tapi sudah tidak pernah saya pakai, sudah bawa saja� Kataku memaksa. Aku tak mengharap ia memakai celana jins atau kaus polo,tapi aku tahu pembantu ibu kost ini punya banyak cucu yang sudah agak besar. �Loh, bener ini Den, tidak menyesal?� Aku menggeleng mantap. �Eh lah, ya kebetulan�he�terima kasih ya Den!� Mbah Noto terpaksa agak teriak ketika mengucap terima kasih, karena aku sudah terlanjur pergi. **** Tas merah yang sudah kosong kulempar ke sudut kamar di bawah rak buku. Di pasar loak tadi aku tak pernah menemui pedagang pakaian bekas yang ditunjuk oleh ibu tua pengumpul papan. Aku sudah tidak minat melakukan tawar menawar dengan siapapun penghuni pasar loak itu. Kirimanku memang belum datang, aku memang tidak punya uang sama sekali entah untuk berapa hari lagi, tapi aku tidak yakin kalau aku adalah orang yang paling menderita di pasar loak itu. Kalau aku dengan keras hati melakukan tawar menawar di pasar itu, apa bukan berarti aku telah terjebak untuk menginjak-injak nasib orang lain demi untuk biaya makanku beberapa hari, padahal orang yang nasibnya aku injak pun belum tentu tidak punya kekhawatiran tentang biaya hidupnya. Ugh, di negeri ini orang yang menderita pun harus saling menginjak. Dengan beberapa teguk air aku rebahkan tubuhku di alas tidur yang sudah sangat tipis. Aku perlu tidur malam ini. Tanpa mimpi! MIMPI Aku sudah di atas tempat tidur, tapi sungguh mataku tak bisa terpejam. Sesaat seperti akan tertutup tapi tiba-tiba terusik oleh suara entah apa dan aku terjaga lagi. Aku keluar kamar duduk di satu-satunya kursi di depan kamar di bawah jendela ketika tiba-tiba suara ayam berkokok, langit seketika jadi terang. Ah, tidak mungkin sudah siang, tapi beberapa saat kemudian ia gelap kembali. Lho cahaya apa tadi kalau bukan siang, atau gelap ini adalah gerhana matahari. Aku coba bangkit tapi tak bisa, pantatku terjepit atau malah dijepit. Iya aku dijepit oleh bangku batu berwarna kelabu di atas trotoar di tengah kota. Pinggangku serasa remuk. Langit kembali terang tapi tiba-tiba hujan turun, bukan berupa air, hujan turun dalam lelehan perunggu yang panas, menetes deras membuat seluruh kota bolong-bolong karena hawa panas tiap tetesnya. Aku mencoba menghindari tetesan perunggu itu tapi percuma, bangku batu itu semakin mencengkeram pantatku. Sementara ibu tua yang menyeret karung plastik putih berisi papan dan kardus berlari-lari di atas trotoar mencari perlindungan dari hujan laknat itu. Tapi terlambat, ia bersama ibu-ibu tua lain, tukang becak, pemulung, penjual sayur, anak-anak jalanan secara mengenaskan meleleh tubuhnya terkena tetesan perunggu panas. Lelehan tubuh-tubuh itu lalu mengalir ke seluruh penjuru kota. Mengalir di atas jalan-jalan raya, di selokan-selokan, sebagian mengisi gelas-gelas tinggi dan menjelma sirup merah yang manis untuk kemudian diminum oleh para pejabat kota yang sedang keliling kota di bawah payung anti perunggu panas, lalu telapak tangan mereka menggelembung setelah meminum sirup tadi, menggelembung besar sekali, lebih besar dari kepala mereka sendiri, lebih besar dari daun pintu, lebih besar dari bus kota, terus menggelembung, lalu meremas tubuh mereka sendiri sampai berkeping-keping, setelah tubuh itu hancur, telapak-telapak tangan itu masih keliling kota menggenggam apa saja yang bisa digenggam lalu meremukkannya sekali tekan, gedung-gedung, mobil-mobil, tiang listrik, bangku-bangku batu, lalu aku pun di genggamnya, ditimang-timang sebentar, lalu dilempar kearah gedung tiga tingkat yang penuh dengan pakaian kotor yang bau. Aku lari menghindar, mencari tangga-tangga yang masih terbuka pintunya, tapi tak ada lagi, aku terjebak di dalam. Aku tuju satu pintu batu yang terbuka, buntu! Didalamnya hanya ada ribuan mesin ATM, aku tekan-tekan tombolnya, telapak tangan itu makin dekat ke arahku, aku tak tahu harus bagaimana kecuali menekan-nekan tombol, di mesin ATM pertama keluar ratusan kupu-kupu berbagai warna, biru tua, merah, hijau, loreng-loreng, burik. Di mesin kedua muncul wajah temannya kawanku dengan rumus-rumus matematika yang rumit. Atap bangunan runtuh sedikit demi sedikit, lantai berguncang-guncang, telapak tangan raksasa itu sudah ada di mulut pintu batu, aku terpaku. Kepalaku dijepit oleh dua buah jari, telunjuk dan ibu jari, lalu ditekan � �Hah!� Aku terbangun dengan keringat yang merembes ke alas tidur, radio masih menyisakan obrolan tengah malam tentang monumen perunggu. MAKAN MALAM (TENTANG MIMPI) �Mba aku mimpi� Aku biarkan wadah kateringku tergeletak dan belum terbuka. �Terus kenapa?� �Lho. Harusnya pertanyaannya bukan terus kenapa, tapi mimpi apa� Aku protes. �Lah, terserah dong aku mau tanya apa� �Iya tapi kan,�� �Soalnya, mimpi apapun kamu terus kenapa? Apa perlunya?� �Lho�� �Lha �lho � lha �lho �� �Lho ya pasti ada maknanya Mba, memang ada yang bilang kalau mimpi itu cuma bunga tidur, tapi banyak juga yang percaya kok kalau mimpi itu punya arti�� �Ah dari mana pasalnya?� �Loh, ini riset Mba, diteliti dan terbukti. Dibuku-buku itu ditulis kok� �Hm, buku-bukumu yang seabrek itu kan cuma tulisan, tinta yang dicetak di atas kertas. Apa kamu kira dunia itu sesempit rak bukumu?� �Lho, tapi mimpiku itu nyata Mba, menegangkan, seperti asli, ada tokoh-tokohnya�seru pokoknya� �Nah kan, malah lebih konyol. Lah itu mimpi apa film aksi?� �Loh,�Mba tau kan tentang ramalan mimpi Nabi Yusuf?� �Ehm, mau jadi Nabi kamu?� �Lho, tidak Mba, sungguh tidak! Aku cuma mimpi ko� �Nah itu bener: �cuma� mimpi, terus kenapa?� �Lho,�� SALDO Saat aku ada di dalam boks ATM tempo hari, aku sungguh telah mendapat pilihan seperti yang aku ceritakan. Aku tahu kirimanku belum datang bukan dari jumlah saldo secara nominal. Saat itu dari dialog di layar mesin, yaitu: Pilih raut wajah yang anda inginkan : - kecewa - biasa saja - biasa saja tapi dibuat-buat - senang Jelas, walaupun aku tak pernah menduga akan keluar pilihan itu, aku pilih poin �senang�. Dan coba tebak apa yang tampil di layar ketika kutekan poin itu. Muncul komentar berikut: �Maaf, saldo anda tidak cukup untuk membuat anda �senang��. Apa itu bukan berarti kirimanku belum datang? Sehingga tanpa perlu memilih poin �kecewa� pun, aku keluar dengan muka �kecewa� membawa kartu ATM dan slip transaksi yang menyantumkan kata-kata �saldo anda hanya cukup untuk membuat anda kecewa�. Saat itu aku putuskan untuk menyeberangi perempatan besar dan duduk di atas bangku batu berwarna kelabu dengan cekungan-cekungan pantat. Saat ketika tak lama lagi bakal melintas kupu-kupu berwarna biru tua. AJI OH AJI Namaku Aji. Aku mahasiswa tingkat akhir da salah satu universitas di kota tua ini. Sudah lima tahun lebih aku tinggal di sini. Sewaktu SMA dulu, aku tak pernah membayangkan bakal menjalani kuliah sampai lebih dari empat tahun. Sekarang sudah lima setengah tahun dan belum ada tanda-tanda skripsiku bakal bisa selesai untuk setahun ke depan. Bagiku hal ini sebenarnya bukan menjadi masalah kalau saja aku bisa lepas dari bayang-bayang keluarga dan lingkungan tempat kelahiranku. Teman-teman satu angkatan masih banyak kutemui berkeliaran di kampus. Sudah agak banyak memang temen yang sudah lulus dan jumlahnya terus bertambah. Tapi masih lebih banyak lagi yang belum lulus walau jumlahnya makin surut. Hal ini sedikit banyak membuat bebanku bisa agak ditahan. Dalam situasi seperti ini aku memang butuh pembenaran apapun. Sudah nyaris setahun aku tidak pulang. Terakhir tepat pada seminggu sebelum dan setelah lebaran kemarin aku menghabiskan waktu di rumah. Dan sekarang seminggu lagi sudah mulai masuk bukan puasa. Kalau boleh, aku memilih untuk tidak pulang pada lebaran nanti. Bebanku makin besar di lingkungan rumah. Bukan hanya keluarga. Tekanan dari keluarga kepadaku pun kurasakan sebagai imbas dari tekanan lingkungan sekitar. Kata-kata seperti �Aji ko lama ya Bu kuliahnya?� dari seorang tetangga, tentu membuat orang tuaku kehabisan jawaban yang menenangkan mereka. Alhasil pertanyaan-pertanyaan seperti itu diakumulasikan untuk dibebankan kepadaku. Tidak secara langsung memang. Tapi sungguh jawaban tersirat itulah yang membuatku makin tertekan. Ada satu pertanyaan yang sempat sampai di telingaku dan sungguh mengusik: �Aji lama kuliah, memang sambil kerja ya Bu?� Ugh,�apa sih urusan mereka sampai begitu ingin tahu.apa mereka benar-benar peduli lebih dari hanya sekedar ingin mencari bahan gunjingan? Tidak! Aku tidak bekerja. Aku masih bergantung pada uang kiriman orang tua yang banting tulang buat aku kuliah. Sementara kau kuliah sangat lama seperti sangat menikmati tanpa kerja apapun kecuali menghabiskan uang kiriman dan menghamburkan waktu luang untuk bermalas-malasan. Lalu apa peduli kalian? Tapi apa mereka pikir aku tidak punya orientasi untuk masa depan? Sungguh dengan beban yang demikian itu aku sering mengangankan akan seperti apa aku nanti setelah kuliah, bagaimana caranya agar aku bisa hidup di kota tua ini tanpa harus bergantung pada uang kiriman dari orang tua, bagaimana caranya agar aku bisa membelikan sesuatu untuk orang tua dan adik-adikku. Aku tak tahu! **** Pikiran-pikiran itu selalu kembali maracau di kepalaku tiap aku dapati saldo uang di ATM belum bertambah padahal sudah seharusnya dikirim. Apa orang tuaku lupa. Apa orang tuaku memutuskan untuk tidak memberiku uang kiriman: �Aji, kamu sudah terlalu lama kuliah, biayai kuliahmu sendiri mulai saat ini!� Ugh, prasangka. Selalu prasangka dan beban-beban itu yang muncul ketika angka di layar ATM belum menunjukkan perubahan. Seperti beberapa saat lalu sebelum aku akhirnya meninggalkan boks ATM dan naik bus kota menuju entah kemana. Ditempatku duduk di dalam bus, pikiran-pikiran itu makin membuatku suram. Di perjalanan beberapa kali bus berhenti menaikkan penumpang dan sedikit sekali penumpang yang turun di pemberhentian-pemberhentian itu. Yang ada saat ini, bus bertambah penuh sesak membuatku semakin sumpek, sumpek di badan, sumpek di hati. Bus memasuki salah satu jalan terpadat di pusat kota. Di kanan, pandanganku terhalang oleh tubuh-tubuh penumpang lain yang berdiri berdesakan. Sementara di jendela tepat di sebelah kiriku aku melihat keramaian di trotoar, orang berjalan, motor-motor diparkir penuh berjejer, gerobak-gerobak, kios kaki lima, toko-toko, mal, hotel, papan reklame, berupa papan nama, atau dengan gambar seperti yang terlihat oleh mataku pertama kali adalah papan iklan berukuran besar dengan gambar kupu-kupu yang hinggap di atas peralatan elektronik, entah apa hubungannya. Tapi gambar kupu-kupu itu melekat terus di kepala sampai saat di tengah-tengah penumpang yang berdiri terbang seekor kupu-kupu biru tua yang membuat beberapa orang merunduk, takut kalau itu adalah serangga berbahaya seperti lebah atau semacamnya. Namun ia bukan lebah, tapi kupu-kupu biru tua, kupu-kupu seperti yang ada di papan iklan tadi. Aku tersenyum tapi tipis sekali, tersenyum entah karena melihat tingkah penumpang yang mencoba menghindar sambil berteriak-teriak kecil atau entahlah, ada sesuatu yang membuatku merasa sedikit terhibur, melepaskan setitik beban-beban pikiran. Aku ikuti terus arah terbang kupu-kupu itu yang perlahan mendekatiku lalu keluar lewat jendela yang terbuka tepat di kiriku. Saat itulah aku lihat seoarng teman duduk di atas bangku batu berbentuk lingkaran tepat sebelum busku tiba di perempatan besar berlampu merah. Aku panggil dia, dan tanpa pikir panjang langsung aku merebak kerumunan penumpang menuju pintu keluar, lalu meloncat ke trotoar. Aku yakin pasti ada sesuatu. **** �Hh, hidup itu sebenarnya indah kalau kita selalu bisa membaca tanda-tanda�. Kataku menutup ceritaku tentang kupu-kupu biru tua. Temanku mengiyakan. Pandanganku menatap gedung putih di seberang jalan. Beban itu mungkin masih ada, tapi pertemuanku dengan temanku ini menghadirkan sebuah keceriaan, entah apa. Bukankah ini juga sebuah harapan? Keceriaan seperti yang aku rasakan saat pandanganku mengikuti arah terbang kupu-kupu biru tua di dalam bus tadi. Ada sebuah keajaiban dalam tanda-tanda alam semacam itu dan aku selalu dirasuki semacam gairah jika kebetulan di hadapkan dan sadar akan situasi semacam itu.pasti ada sesuatu, paling tidak sebuah pertemuan, sebuah harapan di dalamnya. MAKAN MALAM (KATERING) �Nilam, sekolah dimana tho Mba?� �Hm,.?� �Nilam� �Siapa?� �Anaknya Mba katering� �Oh Nilam?� �Iya sekolah dimana tho?� �Si Nilam?� �Iya, Nilam anaknya Mba� katering� �Kenapa Nilam?� �Ugh,�!� **** �SD Yayasan sana itu lho, mm�kelas berapa ya�lupa� �Oh, ko bukan sekolah negeri ya, apa tidak lebih mahal?� �Memang kamu kira Mba katering itu tidak punya uang?� �Yaa, berapa sih Mba untungnya buka warung nasi dan katering begitu? Apalagi dia tuh kalau kasih harga tidak wajar. Apa-apa kok serba dua ribu dan seribu lima ratus rupiah.apa tidak rugi ya Mba?� �Lho, justru karena buka warung begitu dia bilang paling tidak untungnya seratus persen� �Ah?� �Ah iya!� tapi ya memang di luar itu hidup Mba katering yang satu ini memang kayanya ringan saja� �Tuh kan?� �Apa?� �Ya itu. Kayanya kok hidup tidak ada beban gitu lho. Padahal ya cuma begitu aja� �Justru karena begitu aja itu yang bikin hidup ringan, tidak merasa perlu apa-apa. Itulah orang kaya yang sebenarnya� �Setuju kalau ini!� MAKAN MALAM (PEREMPUAN-PEREMPUAN) �Pinjam uang ya Mba� �Kamu tuh mesti. Memang belum makan?� �Kalau masalah makan sih gampang itu� �Lho, kamu sudah makan belum?� �Belum� �Berarti kamu pinjam uang untuk makan?� �Bukan, bukan buat makan, itu bisa nanti� �Kalau tidak buat makan berarti kamu mau pinjam banyak ya? Lha terus nanti yang dua ratus ribu itu bagaimana?� �Ah, yang dua ratus itu aku masih ingat kok Mba�� �Ah�� �Iya, tapi yang ini tidak besar kok Mba. Aku cuma mau telepon ke wartel. Lokal!� �Mmm, pasti Asti ya?� �Ha! Kok tahu?� �Lha, ya kamu mau telepon lokal sampai harus memaksa pinjam uang ya siapa lagi kalau bukan mau telepon perempuan� �Kok bisa tahu kalau Asti?� �Loh, seminggu ini kalau kamu omong perempuan pasti kan Asti� �Ah, apa iya?� �Hm, terus sebelum itu, seminggu penuh kamu ngoceh tentang Agustin, ingat gak? Gimana kabarnya Agustin?� �Eh, baik. Agustin baik-baik saja� �Baik saja gimana?� �Ya baik-baik saja dengan pacarnya� �Oh, sudah punya pacar tho� �Sudah !� �he..he�terus Mala?� �Ah kalau dia lain Mba, dia itu bukan perempuan biasa� �Malah kaya sinetron. Nah, Yusri, katanya mau kuliah lagi di sini� �Tidak jadi� �Kamu itu banyak pendekatan, tapi tak pernah punya pacar yang pasti� �Lho justru!� �Ah, jangan justru-justru lagi. Akui saja, kamu tuh tidak punya pacar tapi sering jatuh cinta. Hati-hati lho, orang yang sering jatuh cinta, pasti sering juga patah hatinya� �Ah, aku tidak begitu kok� �Ya, hati-hati saja� �Mana Mba?� �Apa?� �Lho uang buat telepon!� �Oh, jadi tho?� �Ugh, �� �Hati-hati lho� �Hhh,!� BINTANG DI ATAS PASIR �Harusnya kita tadi bawa tikar sendiri ya Yu�?� Kataku sembari terlentang di atas tikar menatap langit hitam yang penuh bintik-bintik putih berkilau. Tikar alas tidur kita di atas pantai ini harganya sepuluh ribu rupiah sampai jam lima pagi nanti. Mahal? Ya untuk ukuran bahwa aku tinggal di kota ini sudah hampir lima tahun dan bahwa aku ke pantai ini malam ini bersama Ayu dengan uang yang pas-pasan dan bahwa jam lima pagi nanti tikar ini sudah diambil pemiliknya, agak berat juga keluar sepuluh ribu rupiah. �Kalau bawa tikar sendiri ya malah repot dong, katanya mau jalan santai. Sepuluh ribu untuk membayar ke�santai�an tidak terlalu mahal ah. Sekalian bagi-bagi rezeki lah� Kata Ayu tanpa memalingkan pandangannya dari langit hitam yang sama. �Nah terus rezeki kita kemana Yu�?� �Kamu, ngetes aku ya? Kamu pasti lebih tahu kalau rezeki kita tidak kemana-mana, pun kalau kita tidak punya uang sepeser pun karena menyumbangkannya ke orang lain. Rezeki tinggal dijemput, kalau sudah dapat ya didistribusikan� �Kamu kok setelah buka jilbab malah makin dapat pencerahan gitu Yu�?� Tanyaku sambil menahan senyum. �Lho, kamu kok yang dulu bilang gitu� �Ah��. Aku mencari kesungguhan dalam wajah Ayu �Iya, dulu waktu pertama aku ke kota ini, terus aku lihat ada anak kecil mondar mandir sambil bawa-bawa bukunya Franz Kafka. Bingung aku kok bisa ya anak ini baca karyanya Kafka�. �Enak aja anak kecil, mahasiswa �je. Kalau itunya aku ingat, tapi aku lupa tentang kata-kata tadi. Waktu itu kita malah saling tukar judul-judul buku yang kita punya masing-masing, terus kita berdebat tentang pelafalan I-Tsing� �I-Ching!� �Lho, I-Tsing! Tulisannya begitu kok� �Uh.� Aku tak peduli. Lalu kita tertawa kecil, lama-lama makin terbahak. Sampai saat aku melihat salah satu bintik putih di langit hitam itu melesat� �Ei, ada bintang jatuh!� Teriakku sambil menunjuk-nunjuk. �Make a wish�make a wish!� Kata Ayu bersemangat. �I wish�� Aku memulai. �Huss, jangan disebut! Nanti tidak terkabul� Potong Ayu. �Oh��Lalu aku diam sambil komat-kamit, Ayu juga begitu. �Apa do�amu?� Tanya Ayu. �Katanya jangan disebut� �Ah iya�kasih petunjuk sedikit deh� �Boleh nih?� Ayu mengangguk. �Pokoknya ada tentang kamu dikit-dikit� Kataku. �Eh, masa? Soalnya do�aku juga ada kamunya sedikit� Kata Ayu malu-malu. Suasana agak tegang sesaat. �Eh, ada lagi�ada lagi!� Kali ini Ayu yang menunjuk langit. Serentak kita diam sambil komat-kamit lagi. **** Semalaman kita terlentang di atas tikar sepuluh ribuan menatap langit dan bintang. Butiran pasir entah bagaimana berserak di atas tikar, walau tidak terlalu banyak. Tapi kita tidak peduli. Yang kita tahu saat itu adalah langit benar-benar cerah, dan ketidakmunculan bulan membuat bintang-bintang itu makin terang saja terlihat. Bahkan �the milky way� pun tampak terang, jalur susu yang terlihat seperti kabut di langit yang padahal merupakan kumpulan beribu bintang yang saling berdekatan dan sangat jauh jaraknya dari bumi. Rasi-rasi bintang terlihat di berbagai sudut langit menciptakan percakapan. Kita tak pernah bisa tahu secara pasti nama-namanya, jadi aku dan Ayu hanya mereka-reka saja. Dalam satu malam itu kita juga melihat lebih dari sepuluh kali bintang jatuh. Setiap kali melihatnya kita menunjuk-nunjuk sambil teriak dengan gairah, lalu kita berdo�a. Kadang belum selesai berdo�a kita teriak lagi menunjuk langit. Kadang hanya aku yang melihatnya, dan ketika tanganku menunjukkan arahnya pada Ayu, binatang itu sudah hilang, kadang sebaliknya. Tapi kita tidak kecewa, karena kita masih tetap bisa berdo�a. Ada juga bintang berjalan. Tidak seperti bintang jatuh, bintang berjalan atau bintang berpindah bergerak pelan sehingga bisa diikuti dengan seksama dan dijamin tidak akan terlewat. Ada kepuasan tersendiri ketika kita mengikuti jejak bintang ini sampai ia berhenti atau menghilang. Suatu kali ada satu pemandangan yang menakjubkan yaitu ketika sebuah bintang bergerak pelan kearah bintang yang lain, lalu sesaat sebelum ia benar-benar sampai menyentuh bintang yang dituju, ia mengitari bintang yang kedua itu dalam bentuk lingkaran sempurna lalu ia pergi lagi sampai menghilang di kelam langit entah kemana. Apa mereka juga saling menyapa? Apa bintang-bintang juga bertegur sapa? Saling bicara dan jatuh cinta? **** Menjelang pagi, dilangit timur akhirnya perlahan terbit bintang itu. Bintang yang paling terang terlihat saat bintang-bintang lain justru segera tenggelam. Saat tikar sudah di angkat dan kita melangkah di atas pasir, bintang itu naik dari kaki langit timur dengan sinar putih cemerlang. Matahari masih segaris cahayanya. Kita mendongak di atas pasir sampai saat penghabisan, ketika tiba-tiba untuk terakhir kalinya, melintas lagi sebuah bintang jatuh. Dan kita sama-sama berdo�a. **** Uang sisa menelepon kugunakan untuk membuka e-mail. Asti tidak ada, aku hanya menghabiskan tiga ratus rupiah untuk meneleponnya. Tidak ada surat baru yang masuk selain junk mail. Aku buka surat-surat lama. Hm, aku klik subject �selingkuh�, surat dari Ayu. Tanggalnya sudah agak lama, beberapa bulan yang lalu. Aku bosan, tapi aku belum bisa ke kotamu lagi. Padahal aku kangen saat-saat menatap bintang seperti beberapa minggu yang lalu. Di sini tak ada pantai. Aku juga kangen debat-debat kita itu. Hh,�selingkuh yuk! Tapi jangan salah, aku setia sama lelakiku dan aku juga tidak mau merusak hubungan-hubunganmu. Maksudku kita selingkuh pemikiran. Saat aku atau kamu butuh berontak, butuh pengkhianatan atau sekedar bosan dengan lingkungan kita, muak dengan keseharian, saat itu kita selingkuh. What d u say? �Jangan pernah berhenti berharap� Demikian Ayu selalu mengakhiri surat-suratnya. Aku tak pernah mereply surat itu. Bukan tidak setuju dengan usulnya, justru aku sangat setuju. Ada hal-hal yang sungguh berpola sama dalam pikiran-pikiran kita berdua dan kita selalu menanggapinya dengan bersemangat. Sehingga setiap dia datang ke kota ini selalu memenuhiku dengan sebuah baluran kegembiraan. Memberontak terhadap keseharian memang pas jika dilimpahkan dalam pertemuan kita berdua. Pikiran-pikirannya tidak terduga dan meloncat-loncat tak bisa diam, dinamis tapi unik. Aku tinggalkan internet menuju warung makan untuk menghabiskan uang yang pas untuk satu kali makan. Surat Ayu tidak aku reply. Aku semangat ketika harus bertemu Ayu dan pikiran-pikirannya, tapi bukan ketika mereply surat, untungnya dia mengerti itu. Hh, tapi sungguh aku butuh selingkuh. MESIN ATM DAN MASJID SATELIT Sudah berapa kali aku punya masalah dengan satelit. Siapa sangka aku bisa punya urusan dengan satelit? Mungkin bukan aku saja. Siapapun yang hidup saat ini, saat dimana televisi menggunakan satelit, telepon memakai satelit, juga peralatan perang, mata-mata, penerbangan, radar, penelitian dan tidak ketinggalan transfer uang via ATM. Dan yang terakhir itulah yang selalu bermasalah denganku. Habis apa lagi? Aku bukan ahli perang, aku bukan peneliti, aku bukan anggota spionase dan telepon seluler pun aku tidak punya. Jadi paling tidak aku masih bisa berurusan dengan satelit gara-gara persoalan ATM itu tadi. Hari ini uangku dikirim. Ini pasti! Tidak bisa ditawar lagi. Malam tadi ibuku menelepon memberikan jaminan. Dan coba tebak! Siang ini aku sudah beberapa kali ikut mengantri dan saldoku belum cukup untuk melakukan penarikan. Apalagi kalau bukan ulah satelit. Dalam beberapa kali usahaku itu,layar ATM selalu menampilkan hasil �kecewa�. Sesekali aku mencoba ingin tahu apa alasannya, lalu aku pijit tombol alasan. Layar ATM berbunyi: �Kiriman anda belum ada, mungkin terselip di satelit. Harap maklum dan harap sabar�. Ugh, ada apa dengan makhluk satelit ini? Dan ATM menyuruhku untuk bersabar? Sudah seminggu aku bersabar! Tapi tak bisa lain kusabar-sabarkan diri juga. Tak apalah menunggu barang beberapa puluh menit, toh aku sudah berhasil bertahan selama satu minggu, apalah arti hitungan menit? Maka di sinilah aku duduk di anak tangga di depan boks ATM untuk membuang waktu. Ketika aku rasa sudah cukup lama waktu untuk satelit melakukan fungsinya, kembali aku masuk dalam boks ATM. Tetap belum ada sampai sekian kali mencoba. Belum berubah setelah sekian lama menunggu. Para pengantri satu persatu berlalu entah dengan membawa uang atau tidak. Yang membawa uang jelas bermuka cerah, atau ada juga yang biasa saja, mungkin karena sudah tahu uangnya ada, dia hanya mengambil sedikit untuk suatu keperluan. Sementara yang tidak membawa uang ada yang kecewa tapi ada juga yang biasa saja.yang kecewa tentu jelas alasannya, sementara yang biasa saja mungkin tahu kalau saldonya belum bertambah, tapi siapa tahu� Mereka datang dan berlalu. Antrian kadang pendek kadang panjang, tapi selalu habis. Ada juga saat-saat dimana antrian benar-benar surut tanpa siapapun. Pada saat-saat seperti inilah dengan agak malas aku beranjak dari anak tangga masuk ke dalam boks ATM siap menghadapi kemungkinan terburuk. Ketika tampilan saldo belum ada perubahan dan belum ada antrian, aku pijit lagi tombol cek saldo, demikian berulang hingga datang pengantri pertama berdiri di luar yang memaksaku untuk segera menyelesaikan transaksi walau kiriman belum juga datang. Lalu aku kembali duduk di anak tangga. MASJID DAN PERENUNGAN Ada alasan kenapa aku bersikeras menunggu di dekat mesin ATM ketimbang mesti pulang terlebih dahulu ke tempat kost; karena uang yang aku bawa tadi hanya cukup untuk membayar ongkos bus berangkat dari kost, tanpa persiapan ongkos untuk pulang. Dengan segenap keyakinanku, uang yang aku ambil dari ATM toh bisa untuk ongkos pulang. Tapi ternyata uang itu belum ada. Dan aku mesti menunggu. Tapi sampai kapan? Aku sudah tidak duduk di atas anak tangga. Tengah hari tadi adzan dzuhur mengagetkan kegalauanku. Ah, pikirku, tak ada salahnya aku shalat dzhuhur, waktu luangku saat ini cukup banyak. Selepas shalat aku masih duduk di dalam masjid. Selain karena aku butuh suasana yang menyejukkan, juga karena ternyata di dalam sini lebih nyaman dibanding mesti duduk di anak tangga tempat lalu lalang orang. Hm, tak bisa tidak, walau sudah di dalam masjid pikiranku masih berharap-harap cemas tentang uang kiriman. Bagaimana kalau ternyata uangku belum dikirim hari ini, berarti aku mesti pulang berjalan kaki dan harus menunggu sampai esok atau esoknya lagi atau entah kapan. Kalau memang tidak dikirim hari ini kira-kira kenapa? Besok sudah masuk bulan puasa. Mungkin itu. Orang di rumah terlalu sibuk mempersiapkan diri menyambut bulan puasa. Toko mungkin sedang ramai-ramainya. Sehingga waktu dari pagi hingga siang, bahkan sampai waktunya kantor bank tutup, tidak ada kesempatan untuk meninggalkan toko yang penuh pembeli. Bisa jadi! Masih banyak kemungkinan lain. Dan seperti kemungkinan yang aku sebut, kalau memang begitu keadaannya memang tidak ada alasan untukku agar tidak bersabar. Apalagi kalau semata masalah satelit. Aku ingat kata-kata Ayu, yang katanya adalah kata-kataku � aku masih yakin itu asli kata-kata Ayu, bahwa rezeki tidak kemana. Aku masih bisa bertahan hidup tanpa uang sepeser pun selama berminggu-minggu. Sehingga nanti kalau sudah ada sejumlah uang di tanganku, apalah keperluanku akan uang itu, padahal tanpa uang pun aku bisa bertahan. Aku harus mulai bisa membuat perhitungan. Kebutuhan akan banyak justru ketika kita punya banyak uang. Kenapa aku tidak mengkondisikan diriku selalu tidak dengan banyak kebutuhan pun ketika aku punya uang. Kalau perlu aku distribusikan lagi uang yang aku punya untuk membunuh segala kebutuhan. Kebutuhan katanya adalah awal penderitaan. Hm, siapa dulu yang pernah bilang bahwa uang bisa membeli segalanya, sekarang aku bisa merumuskan pemberontakanku. Kesinilah kalian wahai pemuja uang, wahai pemburu juta dan miliar, duduklah bersamaku di dalam masjid ini saat ini, kita merenung bersama, selami pikiranku, pahami pemberontakanku. Sudah benarkah apa yang selama ini sudah kita anggap benar sebagai tujuan yang kita cari? Apakah kita sudah bahagia dengan apa yang kita punya? Apa kita sudah bahagia dengan apa yang tidak kita punya? Mesin ATM seakan menyembul-nyembul terlihat dari jendela masjid. Ah! Siapa butuh kamu, aku akan cek saldoku nanti, aku tidak terburu-buru. Kalaupun belum bertambah, tidak ada yang bisa mencegahku untuk berjalan sampai kost. Sesekali aku melirik ke jendela, mesin ATM itu masih di sana, sekarang tidak menyembul-nyembul, hanya diam saja di sana. KEMBALI KE TUHAN Suara hujan, angin semilir, langit mendung, orang-orang berteduh di pinggir jalan, di bawah atap toko, di halte-halte, menggulung celana mereka sampai ke lutut. Pengendara motor menepi, berteduh atau memakai jas hujan, kodok-kodok berlompatan dari selokan, beberapa terlindas kendaraan. Air tidak sampai meluap, hanya menggenang di lubang-lubang aspal, di tanah-tanah. Suara hujan, angin semilir, aku tertidur di beranda masjid. **** Aku terbangun tepat saat hujan hilang menyisakan tetes-tetes air dari ujung daun, dari ujung tali jemuran, dari sela-sela pagar. Terbangun saat mimpiku dirasuki gema suara yang datar menghanyutkan. Aku terbangun dan suara adzan ashar sudah pertengahan. Selepas shalat aku masuk boks ATM, lalu naik angkutan umum menuju pulang. Dan apa yang tidak diakhiri dengan pulang� Yogyakarta, Oktober-Desember 2003 |
||