| SORE YANG RAWAN
Sore itu aku tahu apa yang dimaksud dengan kecemasan pada suasana senja. Aku di atas trotoar kota. Hari itu sudah senja kira-kira setengah enam sore. Adzhan Maghrib seolah menyembul-nyembul dari ujung langit. Dan kebetulan musim hujan sudah tiba tanda-tandanya. Langit berawan, matahari di depanku tidak terlalu merah seperti yangs sering digambarkan tentang langit senja, agak ungu kalau tidak biru agak gelap. Langit berawan nyaris hujan. Rawan. Aku kesepian. Aku ingat masa kecilku atau entah kenangan-kenangan yang lain juga. Saat dulu musim hujan, saat aku di balik jendela memandang keluar. Bapak belum pulang, di toko membereskan dagangan agar tidak terkena tampyas, melancarkan saluran air di depan toko dengan tongkat kayu agar air tidak meluap, kepalanya ditutupi plastik kresek hitam. Aku di balik jendela memandang lapangan di depan rumah yang tergenang air, memandang menara besi yang menjulang di ujung sana yang lama-lama kabur terhalang air hujan atau kabut, memandang langit yang abu-abu tak ada apa-apa. Ibuku di dapur dengan masakannya, adik-adikku tertidur. Aku ingat masa kecilku ketika saat ini aku di atas trotoar kota menatap matahari yang hampir tenggelam. Di bangku batu di depan ruang kuliah saat semua sudah kosong, hanya aku dan dia dan awal musim hujan. Aku ingat suasana �mendung� saat itu. Aku ingat dia ketika saat ini aku di atas trotoar dalam tanda-tanda musim hujan yang kesekian. Ada perasaan rawan ketika sore datang dalam keadaan seredup ini. Bahkan pun kalau aku tidak sedang di trotoar. Ada perasaan jauh dari rumah (dimana rumah kita sebenarnya?). Ada perasaan rindu akan kenangan-kenangan, perasaan cemas menghadapi �perpisahan�. Apalagi saat itu aku di atas trotoar di sebuah kota yang jauh di ujung langit, jauh dari rumah, jauh dari persemayaman. Akankah aku bisa kembali sebelum hari mulai gelap? Akankah aku sudah pulang sebelum langit benar-benar hujan? Bagaimana dengan mereka para pengembara yang rumahnya adalah pengembaraan itu sendiri katanya, pernahkah mereka merasa cemas menghadapi senja? Padahal matahari hanya tinggal segaris di batas langit dan kita belum sampai di mana-mana. Padahal gerimis sudah mulai turun dan kita bahkan belum memutuskan kemana kita akan pulang. Dan gelap perlahan makin gelap, langit berawan semakin muram. Akankah aku berdiri di atas trotoar ini saat pekat sudah menyekat di antara langit dan tanah, lalu basah kuyup oleh hujan yang tidak lagi gerimis, ditinggalkan oleh matahari di bagian bumi yang paling sunyi, dengan kenangan-kenangan, dengan kerinduan��di depan toko air sudah meluap, tampyas hujan menjadi cucuran air yang deras membasahi dagangan, bapak hanya bisa berdiri termangu masih dengan tongkat di tangan dan plastik kresek hitam di kepala��seorang anak masih memandang hujan lewat jendela rumah menatap lapangan yang sudah sepenuhnya tergenang dan menara besi yang sama sekali hilang��kata-kata cinta yang sendu beberapa tahun yang lalu lebur bersama air hujan menguap menjadi awan untuk terbang kembali menjelma gerimis sore itu dan memercik saat menyentuh trotoar menyapaku dengan kenangan�� Di ujung dunia entah dimana, persemayamanku menunggu dengan resah. Aku masih berjalan di atas trotoar di antara bangunan-bangunan tua yang menjulang bercat putih dengan lubang udara dan jendela yang khas. Matahari masih tersisa beberapa tetes tertutup awan kelabu. Pukul setengah enam. Burung-burung gereja ternyata lebih banyak dari yang pernah aku tuliskan, terbang mengambang di atas kota, terbang menggerombol dari satu atap ke atap lain bangunan tua. Berjejer di lubang-lubang udara seperti sedang menikmati suasana senja, siapa sangka ternyata mereka juga berbincang-bincang sambil minum-minum kopi atau teh hangat untuk kemudian terbang lagi ke lubang udara lain, lalu pulang menghindari malam. Lampu-lampu kota sudah menyala, lampion warna-warni yang suram di depan toko dan perkantoran. Matahari tinggal setitik, saat paling akhir aku bisa menikmati senja hari ini, membawa segumpal kecemasan; menuju pulang aku naik bus yang paling penghabisan. Rawan. Perempatan Kantor Pos Besar Yogyakarta, Awal Oktober 2003 SORE KESEKIAN Awal musim hujan selalu menghadirkan senjanya yang menawan. Selarut apapun aku berusaha selalu menikmatinya, melumat senja sampai ke cahaya merahnya yang tinggal setitik. Walaupun ia berawan, atau justru karena ia berawan maka aku makin terpikat. Ada suasana suram yang temaram�berarak dalam kecemasan. Wahai Engkau�siapapun Engkau, Aku sedang penuh kerinduan. Bawa aku kembali dalam rahim-Mu,� di manapun itu. Ingatkan aku atas semua,� kenyamanan yang dulu dalam segelas coklat hangat, sambil memandang hujan dari balik jendela. Aku tidak minta apa-apa. Aku hanya ingin pulang ! Sore tadi aku di trotoar yang sama, dengan gedung-gedung tua yang sama, burung-burung gereja yang masih bertegur sapa di udara, bercakap-cakap di jendela. Lampion warna-warni yang temaram, kota tua yang suram. |
||