DONGENG NYAMUK

Semuanya diawali dengan suara tepuk tangan yang riuh seperti dalam mimpi. Suaranya mengambang di udara, bergema di kepala.

*****

Cahaya tiba-tiba menyala menerangi ruangan yang dipenuhi orang-orang yang masih bertepuk tangan dengan antusias. Mata mereka menatap ke arah juru cerita dengan perhatian yang tidak terbandingkan. Anak-anak kecil, anak-anak remaja atau mahasiswa serta orang-orang dewasa dan orang tua, semuanya terhanyut. Mereka memperhatikan kata-kata juru cerita, ikut menebak-nebak jalan cerita, menjawab ketika diajukan pertanyaan singkat, tertawa ketika cerita menjadi lucu, dan pada beberapa kesempatan mereka bertepuk tangan. Tepuk tangan yang riuh seperti dalam mimpi. Suaranya mengambang di udara, bergema di kepala.

Sang juru cerita, seorang perempuan yang saat itu menjadi pusat perhatian.ia sedang trance dalam ceritanya. Entah karena cerita itu sendiri atau karena perhatian pendengarnya yang luar biasa. Tangannya yang memegang seutas tali bergerak-gerak di udara, wajahnya berubah-ubah mimik, sementara mulutnya menyuarakan cerita tentang nyamuk, dongeng tentang seorang nenek yang diganggu seekor nyamuk ketika ia menjahit di malam hari. Tali yang dipegangnya meliuk-liuk menjelma berbagai bentuk. Saat si nenek baru akan menjahit, maka tali itu menjadi benang dan dua kelingking juru cerita seolah jarumnya.

�Dan ternyata,��. Demikian kata juru cerita.
��ketika nenek membuka jendela, dilihatnya ada seekor nyamuk yang besaar. Nging�Nging�.�. Dan seutas tali tadi menjelma sebentuk nyamuk. Wajah-wajah pendengarnya tampak terpesona, lalu mereka bertepuk tangan.
�Nah!...�. Kata juru cerita lagi.
��melihat ada nyamuk besar itu nenek bersiap-siap. Seperti halnya kita, kalau ada nyamuk, nyamuknya di��. Suara juru cerita menunggu jawaban.
�Diteplok!�. Jawaban terdengar serempak. Seketika itu juga kedua telapak tangan juru cerita yang terbuka ditepukkan satu sama lain, membuat tali berbentuk nyamuk tadi terjepit di antaranya.
�PLOKK!�. Dan tepat saat itu juga juru cerita terbangun dari mimpi indahnya yang menyisakan riuh suara tepuk tangan.

Di sekelilingnya berserakan alat-alat bantu untuk mendongeng: tali, topeng kertas, gendang kecil, bola-bola berwarna, tongkat peri, boneka-boneka dan sebagainya. Masih dengan sisa-sisa senyum mengingat mimpi indahnya, ia meraih barang-barang itu �
�Ugh, aku harus latihan, besok aku akan mendongeng�.

*****

Kesempatan pertama, sang juru cerita mendongeng di depan penonton yang semuanya terdiri atas anak-anak umur 5 sampai 8 tahun. Perhatian mereka sungguh luar biasa, seperti dalam mimpi yang dialaminya. Mimik muka mereka menunjukkan keingintahuan yang besar ketika cerita seolah-oleh penuh tanda tanya: �apa yang akan terjadi selanjutnya?�. Lalu berubah gembira ketika apa yang mereka kira bakal terjadi benar-benar terjadi. Atau kaget saat sesuatu yang tidak di duga bakal terjadi ternyata terjadi begitu saja. Mereka terpana melihat bentuk-bentuk yang dibuat dengan seutas tali di tangan juru cerita. Seperti dalam mimpinya, sang juru cerita memberi dongeng tentang nyamuk.

�Lalu nyamuk itu akhirnya di�.�. Ia menunggu jawaban.
�Diteplok!�. Suara anak-anak berbarengan.
�PLOK!�. Anak-anak bersorak sambil bertepuk tangan,mereka sungguh gembira, benar-benar seperti dalam mimpi.

*****

Pada kali kedua, juru cerita mendongengkan cerita yang sama di depan penonton yang berbeda. Saat ini mereka terdiri atas anak-anak muda atau mahasiswa. Perhatian mereka memang tertuju pada cerita, tapi rasanya ada sesuatu yang berbeda. Juru cerita bisa merasakan hal itu. Mereka bergembira tapi dengan cara yang lain. Banyak sekali pertanyaan-pertanyaan ketika ada yang dirasa kurang jelas, bahkan muncul bantahan-bantahan ketika sesuatu dianggap tidak mungkin terjadi. Sungguh sulit meyakinkan mereka dan adalah sesuatu yang sangat melelahkan bagi sang juru cerita untuk selalu menjelaskan segalanya. (berdasarkan ingatan pada cerita pangeran kecil)..

�Lalu nyamuk itu akhirnya di��. Juru cerita kembali menunggu jawaban.
�Disemprot!�. Sahut beberapa suara.
�Disetrum pakai raket nyamuk!�. Seru yang lain.
�Lho, dipasang obat nyamuk bakar �kan lebih efektif�. Kata yang lain lagi.
Juru cerita hanya terpana mendengarkan pendapat-pendapat itu. Sementara tangannya masih menggantung di udara dengan seutas tali yang berbentuk nyamuk menunggu untuk ditepuk.

*****

Pada saat lain, di hadapan juru cerita duduk para pendengar yang adalah orang-orang dewasa atau orang-orang tua: bapak-bapak dan ibu-ibu. Ceritanya masih tentang nyamuk, juga masih dengan alat bantu seutas tali yang membelit-belit di jari juru cerita. Juru cerita sudah mempersiapkan diri dengan segala kemungkinan termasuk jika bakal muncul pertanyaan-pertanyaan kritis dan bantahan serta jawaban yang tidak terduga seperti ketika ia menghadapi anak-anak muda dan mahasiswa. Tapi tidak ada hal serupa itu. Yang terjadi kembali berbeda dengan yang sudah-sudah. Muncul pertanyaan-pertanyaan tapi bukan pertanyaan kritis dan bantahan, melainkan pertanyaan teknis. Saat tali di tangan juru cerita membentuk nyamuk, bapak-bapak dan terutama ibu-ibu menghentikan cerita dengan pertanyaan-pertanyaan �

�Lho, kok bisa begitu bentuknya?�. Kata seorang bapak.
�Iya, bagaimana itu �Mba?�. Tanya suara seorang ibu.
�Iya, tolong pelan-pelan dong, biar kita mengerti caranya�. Suara lain berseru.
�Kalau bisa, diulang dari awal lagi �Mba�. Kata yang lain.
Dan tali berbentuk nyamuk mengambang di antara telapak tangan juru cerita.

*****

�Ugh, mendongeng ternyata tak selalu sesuai impian�. Begitu mungkin pikir juru cerita ketika ia punya kesempatan untuk merenung sendiri sambil membelit-belitkan seutas tali di jarinya, seutas tali yang dipakai saat mendongeng.

Ia membayangkan kembali ketika ia mendongeng di depan tiga generasi yang berbeda. Terkembang senyum ketika terlintas bagaimana anak-anak kecil dengan muka bergairah bersorak dan bertepuk tangan, meneriakkan kata �diteplok!� dengan serentak. Tapi senyum itu berganti wajah murung ketika teringat olehnya saat anak-anak muda atau mahasiswa yang menjadi pendengarnya. Tidak pernah ada kata �diteplok!� yang diteriakkan secara serentak, mereka malah berdebat.

�Cukup melelahkan saat itu�. Pikir juru cerita. Sementara tali di tangannya masih dibelit-belitkan membuat bentuk-bentuk tertentu. Wajah juru cerita tidak banyak berubah ketika lantas ia mengenangkan pendengarnya yang terdiri atas orang-orang dewasa: bapak-bapak dan ibu-ibu. Terbayang lagi pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan mereka. Saat itu pentas kecil dongengnya berubah menjadi semacam acara penyuluhan.

�Hh, benar-benar tidak seperti yang pernah aku impikan�. Gumam juru cerita pelan. Tapi wajahnya sudah tidak terlalu murung. Ia seperti mencoba meyakinkan dirinya bahwa itulah tantangan yang harus dihadapi. Impian tidak selalu bisa menjadi kenyataan secara utuh. Yang ia tahu pasti bahwa ia tetap harus mendongeng.

Di akhir perenungannya, seutas tali yang terbelit di jari-jari tangan juru cerita telah kembali membentuk sosok nyamuk seperti yang sudah-sudah. Dan seperti saat ia mendongeng, kedua tapak tangannya lalu ditepuk satu sama lain sehingga menjepit nyamuk dari tali yang ada di antaranya.
�PLOK!�.
Lalu pelan-pelan ia membuka kedua tapak tangannya yang baru saja tertangkup itu. Dan tampaklah seekor nyamuk yang benar-benar hidup sedang menggetarkan sayap-sayapnya, terbang mengambang di atas kedua telapak tangan juru cerita yang telah terbuka dengan sempurna.

*****

Suara tepuk tangan kembali terdengar riuh seperti dalam mimpi.




15 November 2003
Ide : Fitria 'Titrit', Dhanan, Oki.
Hosted by www.Geocities.ws

1