Dongeng dan Sebagainya

Banyak yang bisa dituliskan tiap orang tentang dongeng. Tapi setelah kupikir: apa yang tidak?
Kenapa harus �dongeng�? Kenapa bukan �cerita�? Mungkin perlu dicari makna dari dongeng itu sendiri di kamus-kamus? Atau tidak? Terserahlah! Aku sendiri tidak mau, itu bisa nanti.

Yang kutahu tentang dongeng; ia punya kekuatan seperti juga karya sastra lain; puisi, cerpen, novel, cerita detektif sampai komik. Siapa yang bisa melupakan dongeng-dongeng yang pernah diceritakan saat kita kecil, kalau memang kita pernah diceritakan dongeng saat kecil. Kekuatan itu mungkin tidak sekejam seperti yang diceritakan dalam kisah petualangan Don Quixote de la Mancha bersama Sancho Panza sahabatnya , tapi setidaknya lebih kepada taraf kognitif, paling banter mempengaruhi cara kita merangkai kenyataan, atau adakah yang lebih parah dari itu? Kalau ada, beritahu aku secepatnya, aku pasti percaya.

Dongeng bisa lekat dengan dunia anak-anak karena ternyata anak-anak � tidak seperti orang dewasa � punya sisi-sisi kejernihan tertentu dalam menanggapi anekdot-anekdot yang padahal menggelembung dengan makna filosofis (?).

Kejernihan yang dimaksud kadang menjelma keluguan, kadang mengkristal dalam pertanyaan-pertanyaan yang sepintas menyebalkan karena sepertinya tidak berbobot dan lebih terasa mengusik ketika pertanyaan itu keluar secara intens dan bertubi-tubi.
Orang dewasa mana yang bisa tahan dengan tingkah anak kecil dengan jutaan pertanyaan seperti itu, kecuali mungkin kepala sekolah Tomoe yang termasyhur itu, dan beberapa orang lain. Siapakah beberapa orang lain itu? Yang jelas mereka inilah yang sangat peka terhadap perkembangan kejiwaan anak-anak dan paham bagaimana anak-anak memandang dunianya. Kalau anda kira mereka ini adalah melulu para sarjana pendidikan, para ahli psikologi anak-anak, pakar kesehatan anak,�anda tidak sepenuhnya salah, tapi saya kira salah satu yang paling mengena adalah mereka para pengarang cerita anak-anak. Hal ini masih bisa diperdebatkan tentu. Tapi nanti saja.

Untuk mengarang cerita anak-anak bagi beberapa orang � yang bahkan pengarang cerpen pun � bakal menjadi sebuah tantangan tersendiri. Bagaimana nanti anak-anak bisa paham akan cerita kita dan membuat mereka terpancing untuk tertawa dan memperdebatkan sesuatu, paling tidak membuat mereka terpana seperti ketika mereka melihat sesuatu yang bagi mereka aneh karena belum pernah mereka lihat sebelumnya atau sedikit janggal karena belum pernah mereka dengar,�dan kembali memaksa mereka untuk bertanya tentang �apa itu?� (menanyakan eksistensi sesuatu), �kenapa bisa begitu?� (pertanyaan historis tentang asal usul sesuatu), �apa memang harus begitu?� (sudah mulai mempermasalahkan kehendak bebas), �bagaimana kalau tidak demikian?� (keingintahuan akan kemungkinan-kemungkinan lain) dan sebagainya.
Dongeng karenanya aku percaya termasuk dalam cerita anak-anak yang disebut sebagai �anekdot filsafat� (penjelasan menyusul). Dan aku juga yakin bahwa anak-anak punya kemampuan yang setara dengan para ahli filsafat dalam memaknai dongeng, jauh di atas orang-orang dewasa kebanyakan.

Contoh yang paling terngiang di kepalaku adalah tentang sebuah cerita yang kubaca dari buku Anak-anak Pun Berfilsafat (B. Matthews). Aku kutipkan saja sebagai berikut: (ugh, bukunya tidak aku bawa,�tidak jadi aku kutipkan�aku tulis saja seingatku)
Jadi ada seekor rusa nih, dia bertemu dengan seekor sapi yang tentunya bukan rusa. Tapi rusa yang satu ini menganggap sapi ini juga adalah seekor rusa. Jelas saja si sapi protes.
�lho aku bukan rusa, aku ini sapi�. Katanya.
�ah, kakimu juga empat, kamu punya ekor dan juga memakan rumput seperti aku, kamu pasti rusa�. Si rusa tetap keukeuh.
�tapi aku bunyiku�HMOO��.protes sapi lagi.
�ah itu hanya kebetulan, �tapi memng sebagai seekor rusa bentukmu agak aneh��. Gumam rusa.
Yah semacam itulah�dan tidak berhenti di situ saja. Suatu ketika mereka lalu bertemu seekor kuda yang menyapa mereka, kira kira begini:
�Ah, ini dia kawan-kawan kudaku�.�
Apa yang istimewa dari cerita itu selain kesan keluguan yang lucu dan mengusik. Hm, justru di sinilah aku rasa yang membuatnya disebut �anekdot fisafat�. Termasuk anekdot karena sedikit-sedikit bisa mengusik dan menggelitik.

Lalu dimana kesan filosofisnya? Untuk sekelumit cerita di atas si penyusun buku mengetengahkan persoalan tentang pembedaan antara hal-hal yang esensial dan insidental yang masuk dalam ranah metafisika. Ia juga bisa ditarik dalam studi taksonomi tentang klasifikasi. Bahkan cerita itu juga bisa membawa kita ke dunia epistemologi ketika muncul pertanyan-pertanyaan: apakah ada cara yang paling tepat untuk mengelompokkan sesuatu? Jika hanya ada satu cara yang benar, bagaimana kita tahu bahwa itu benar? Dan sebagainya. Percayalah bahwa penulis mengutipkan pertanyaan-pertanyaan serupa itu dari mulut seorang anak kecil berusia tidak lebih dari sepuluh tahun

Sekarang rasanya kita perlu mulai membatasi pengertian antara dongeng dan anekdot filsafat tadi. Karena Matthews dalam bukunya pun sempat menyebutkan beberapa variabel: fantasi, dogeng, anekdot filsafat dan kisah petualangan intelektual. Saya kutipkan saja kalimatnya sebagai berikut:

�Cerita-cerita yang sebelumnya telah dibahas dalam bab 5 tergolong karya fantasi, meskipun cerita-cerita itu tidak termasuk dongeng. Saya menyebut gaya tulisan mereka sebagai �anekdot filsafat�. Mungkin dapat pula saya katakan cerita-cerita itu adalah kisah petualangan intelektual.�
Pengertian apa yang bisa kita dapat dari sekelumit kalimat itu? Pertama, bahwa karya fantasi lebih umum dari apa yang disebut dongeng. Karenanya dongeng merupakan bagian dari karya-karya fantasi. Kedua, bahwa cerita-cerita di Bab 5 adalah karya fantasi tapi bukan dalam golongan dongeng. Berarti ada hal-hal dalam cerita itu yang membuatnya tidak bisa digolongkan sebagai dongeng. Ketiga, bahwa cerita-cerita yang disebut itu dikatakan sebagai �anekdot filsafat� atau �kisah petualangan intelektual�, yang dalam kalimat selanjutnya Matthews memberi penjelasan sebagai berikut:

���cerita-cerita tersebut mengajak kita untuk memikirkan situasi yang berbeda dengan pengalaman keseharian kita, bahkan membayangkan dunia yang sama sekali berbeda dengan dunia kita � yaitu untuk melakukan apa yang dinamakan oleh para filosof sebagai �eksperimentasi pikiran� (Gedankenexperimente). Eksperimen-tasi pikiran seringkali merupakan cara yang paling baik untuk menelusuri jalinan konseptual dan merenungkan teka-teki filsafat. Itulah yang sesungguhnya ingin disampaikan cerita-cerita ini kepada para pembacanya�.
Matthews sepertinya mencoba memisahkan cerita-cerita itu dari dongeng dengan pertimbangan ada tidaknya unsur-unsur yang bisa memancing terjadinya apa yang disebut sebagai eksperimentasi pikiran.

Lantas, apakah ini berarti bahwa dongeng bukan termasuk di dalamnya? Pada titik inilah aku mulai mencari-cari pedoman sendiri. Ini terkait dengan keyakinan bahwa dalam tiap cerita pasti ada sesuatu yang bisa direnungkan, paling tidak semacam pesan-pesan yang terselip di dalamnya pun jika sang juru cerita tidak pernah sekalipun bermaksud memberi pesan dalam ceritanya.
Eksperimentasi pikiran karenanya harus diartikan secara lebih luas dan luwes, bukan hanya terbatas pada teka-teki filsafat, tapi juga menyangkut teka-teki dalam bidang lain, pun bahkan teka-teki silang! Yakinlah! Sehingga inilah yang menyebabkan saya sedari awal mengaburkan pengertian antara dongeng, dengan apa yang disebut sebagai �anekdot filsafat�. Saya rasa cukup.
Dongeng dalam Sastra Populer

Walaupun aku sempat mengaburkan pengertian dongeng dengan bentuk cerita lain, tapi toh pada banyak kesempatan kita masih selalu bisa menginderai bentuk dongeng jika dilihat dalam pemilihan kata dan cara bertuturnya.

Karakteristik dongeng disadari atau tidak banyak diadopsi dalam karya-karya sastra yang lebih populer. Seno Gumira (lagi) dalam banyak kesempatan mengambil bentuk dongeng dalam menuturkan cerpen-cerpen atau novelnya. Ambil contoh cerita-ceritanya dalam kumpulan cerpen �Iblis Tidak Pernah Mati�. Sungguh ia telah mengemas kebanyakan cerita itu dalam bentuk dongeng. Ambil contoh cerpen berjudul �Patung�, yang diawali dengan kalimat ��
�Dua ratus tahun kemudian, seorang nenek berkata kepada cucunya, sambil menunjuk diriku�.
Kalimat itu menggambarkan bahwa cerita yang sesungguhnya terjadi dua ratus tahun yang lalu. Lalu apa bedanya bentuk ini dengan kalimat : �Pada suatu hari��, �Pada zaman dahulu kala��, �Pada suatu masa��, yang lazim ditulis mengawali sebuah dongeng. Cara ini juga terlihat pada judul cerpen lain: �Pada Suatu Hari Minggu�.
Tokoh �nenek� dan �cucu� sebagai pengantar cerita �Patung�, bukankah itu melarikan kita pada bayangan paling ideal tentang dongeng.

Hal lainnya adalah hadirnya tempat-tempat yang sepadan dengan lokasi yang biasa disebut �antah berantah� sebagai latar cerita. Ini juga terkait dengan keabsurdan tokoh dan kejadian-kejadian dalam cerita tersebut. Pada judul �Patung� dan �Sembilan Semar�, absurditas terjadi dalam kejadian-kejadian.
�Patung� menceritakan tentang seorang pria yang duduk di ujung desa menunggu kedatangan kekasih yang pergi untuk membunuh iblis. Sang pria akhirnya menjadi patung setelah menunggu selama dua ratus tahun.

Dalam judul �Sembilan Semar� dituliskan munculnya sembilan bentuk Semar di sembilan titik di Jakarta. Tempatnya mungkin jelas: �Jakarta�, tapi menjadi absurd karena mungkinkah ada sembilan Semar yang bisa muncul di Jakarta? Benarkah ia bicara tentang Jakarta yang adalah ibukota Indonesia? Seno pasti bicara tentang Jakarta yang lain, maka antah-berantahlah ia. Pun jika maksud Seno adalah mencari kiasan-kiasan sebagai sarana kritik, ia tetap absurd.
Dalam novel terbarunya �Negeri Senja�, Seno secara terang-terangan mengangkat latar belakang �negeri senja� sebagai sebuah tempat antah-berantah: �Tiada yang pernah tahu dimana letaknya, tidak pernah tertulis di peta manapun, tapi ada��, dengan cerita fantasi yang keterlaluan.
Pada judul �Dongeng Sebelum Tidur�, Seno ingin mengungkapkan bagaimana kaburnya makna dongeng dan kisah nyata. Bagaimana seorang ibu membacakan sebuah berita surat kabar tentang penggusuran sebagai pengantar tidur anak perempuannya, walau akhirnya anak itu malah sulit untuk memejamkan mata. Inilah yang membuatku sedari awal tidak mau mengartikan dongeng. Apakah itu dongeng, kalau ternyata berita di sebuah hrian bisa dibacakan sebagai sebuah dongeng pengantar tidur (yang gagal)?

Tanggal 3 Mei 2002, �Legenda Wong Asu�, (masih) milik Seno dimuat di KOMPAS. Kata-kata awalnya: �Suatu ketika kelak,��. Tanggal 25 Agustus 2002 diharian yang sama, Martin Aleida menulis cerita dengan judul �Jakarta 3030�. Sementara pada edisi 4 November 2001, yanusa Nugroho menulis cerita �Si Tua Aneh Bertongkat Aneh�. Tanggal 25 November 2001, ada judul �Batu Menangis� karya Ismet Fanany. Yang terakhir disebut ini semacam prodi dari dongeng tentang Batu Menangis (Malin Kundangkah?) yang sering kita dengar. Parodinya muncul ketika Israfil � anak yang mendengar cerita itu dari ibunya � mempertanyakan sesutu tentang cerita itu, yang baginya agak janggal: kenapa si ibu tega mengutuk anaknya menjadi batu? Bukankah ia seharusnya sayang kepada anaknya? �Ibu itu pasti jahat� Pikir Israfil.
�Apa ibu yakin yang menjadi batu itu bukan ibunya?� Demikian tanya Israfil diakhir cerita.
�Ibu tidak yakin Is. Ini cerita orang�. Ibunya tidak bisa menjelaskan lebih jauh. Ha! Satu lagi �anekdot filasafat�.

Trend mengadopsi bentuk-bentuk dongeng dalam karya-karya sastra berupa cerita pendek,cerita panjang atau novel bisa jadi merupakan usaha untuk tenggelam dalam dunia yang penuh kejernihan, mudah dipahami sekaligus juga kaya akan teka-teki filosofis dengan ekspresi dan fantasi yang bebas dan liar.

Atau mungkin itu adalah semacam romantisme para pengarang untuk mencari kiasan-kiasan dalam ceritanya. Bukan berarti apa yang ada dalam sifat kekinian sudah habis atau tidak menarik lagi. Tapi apa yang disediakan oleh cara bertutur dongeng mungkin lebih luwes, jernih dan karenanya juga menarik.
Hosted by www.Geocities.ws

1