BBM*

    Lonceng sekolah berdentang tanda pulang. Dari gerbang berhmburan anak-anak berseragam putih merah, kadang tanpa kaus kai kadang malah tanpa sepatu. Sangat riuh kalu tidak bisa dibilang berisik. Beban harus tertib selama satu hari terlepas saat itu juga. Mereka tertawa, saling mendorong, berkejaran, sementara tas-tas di punggung naik turun karena goncangan. Pagar gerbang sekolah seakan tak habis-habisnya mengeluarkan gelombang putih merah itu.
    Diantara kerumunan itu ada seorang anak tanpa nama. Setelah lepas dari riuh canda teman-temannya ia berjalan sendiri. Masih ada segaris senyum sisa kegembiraannya bersama teman-teman tadi. Namun ia sekarang berjalan sendiri seperti biasanya menyusuri pinggiran jalan beraspal yang sepi kendaraan. Matahari sedang panas-panasnya membentuk bayangan yang sangat pendek dari si anak. Angin sesekali bertiup tidak menyejukkan, malah mengantar hawa panas dan sesekali debu. Hingga suatu ketika sebuah lembaran koran yang sudah tidak utuh terbang ke arah kakinya. Koran itu menempel di sana seakan menunggu untuk diberi jalan kembali. Si anak memungutnya, membuka halaman yang paling depan, halaman yng masih ada gambarnya. Mulutnya komat-kamit hampir bersuara membaca judul yang paling tebal : "Kenaikan BBM Membebani Masyarakat". Setelah itu pandngannya melompat ke gambar di bawah judul itu; Foto mahasiswa yang sedang berdemonstrasi. Seperti yang sempat ia lihat hari lubur kemarin di halaman sebuah gedung di dekat pasar sana. Terbayang kembali di kepalanya tentang demo itu; kain-kain besar dengan tulisan-tulisan, teriakan-teriakan, pengeras suara, polisi, yaa�ia ingat ada banyak polisi.
    Anak tanpa nama masih berjalan manuju rumah. Koran tadi masih dipegang, dijunjung di atas kepala menghalangi matahari yang masih benderang. Dia sekarang berbelok memasuki jalan yang tidak beraspal, hanya tanah dan bebatuan yang tidak rata. Langkahnya tidak senyaman saat ia di jalan aspal tadi. Tubuhnya berguncang-guncang karena bebatuan. Hingga saat ia lihat sebuah gerobak sapi berjalan pelan di depannya, ia lipat koran di tangannya lalu berlari kecil mengejar gerobak itu. Dan dengan sebuah upaya yang keras ia sudah duduk dengan tenang di bagian belakang gerobak. Bapak tua pengendara gerobak sekilas menoleh ke belakang saat merasakn ada guncangan di sana, tapi kembali memperhatikan jalan ketika ia mendapati seorang bocah di gerobaknya. Baginya tak ada masalah dengan itu.
    Anak tanpa nama kini bergoncang-goncang di bagian belakang gerobak memperhatikan jalan berbatu yang dilalui. Sekilas ia menoleh ke arah foto di koran yang masih ada di sampingnya. Lalu ia ambil sebuah sobekan kertas dan pinsil kayu dari tasnya. Setelah sesaat termangu-mangu ia putuskan untuk menulis sesuatu�"Bangsaku! Budayakan Menderita". Begitu bunyinya ketika ia telah menuliskan dengan susah payah. Kembali ada segaris senyum ketika ia menatap kembali tulisan itu. Ada kepuasan di sana. Lalu pandangannya menerawang ke langit yang panas, badannya masih bergoncang-goncang. Hingga saat ia seakan tersentak ketika melewati Kantor Desa. Ia raih tasnya dan dengan sigap loncat dari bagian belakang gerobaknya lalu menoleh ke arah banak kecil dengan seragam putih merah. Dengan rasa ingin tahu, tatapannya mengikuti anak kecil tadi yang terus berlari menuju Kantor Desa. Di bagian tembok kantor yang agak kosong ia berhenti dan mengeluarkan pensilnya yang tadi dan mulai menulis dengan huruf yang besar-besar dan tebal :
"BANGSAKU ! BUDAYAKAN MENDERITA".
    Bapak tua sais gerobak tersenyum sambil menyeka keringat di dahinya.


Februari 2003
Faizal's Literature Properties' (FLiP) Collection
*skenario awal film indie : "B B M", peserta FFII SCTV Tahun 2003. Ide cerita oleh Gofar.
Hosted by www.Geocities.ws

1