anak perempuanku abra

ABRA KADYARINA

Abra Kadyarina, yang bercahaya seperti siang hari, adalah anak keduaku. 
Lahir pada hari Rabu Manis tanggal 3 September 1997 di Rumah Sakit Bethesda Lempuyangwangi Yogyakarta di siang hari.  Dengan kelahiran ia, maka lengkaplah sudah anak-anakku laki dan perempuan: Iwang dan Abra. 

Seperti janji kami, anak-anak akan diberi nama dengan tema cahaya, maka kami namai ia dengan Abra. Abra itu berasal dari Bahasa Jawa Kuna yang konon berarti gemerlap (kata ini semula berarti terang yang diakibatkan oleh kilat, namun kemudian bergeser menjadi: gemerlap, dan sering dipakai Dalang dalam pewayangan untuk menggambarkan gemerlapnya busana Sang Raja ketika muncul di Balai Penghadapan). Kadya, berarti "seperti" atau "menyerupai", dan Rina berarti "sianghari". Kedua kata terakhir ini masih digunakan dalam Bahasa Jawa sehari-hari.

Ia tumbuh dengan sehat, makan macem-macem, kecuali nasi yang harus pakai dibujuk-bujuk. Minum teteknya sering sekali. Dan, dia lebih suka netek daripada makan nasi! Yang jelas ia jarang sakit, mirip Ibunya.
Secara fisik ia cepat bertumbuh dan agak mandiri: 'mbrangkang' dan duduk serta berjalan ingin ia kerjakan sendiri tanpa dibantu. Sekarang ia senang menyibukkan diri dengan "pasaran" sambil berdendang lagu yang nggak jelas bagi orang lain. Ketika tulisan ini dibuat [2003], ia sudah berumur 20 bulan. Ia banyak meniru tingkah laku kakaknya: jahil, usil, suka memanggil- manggil orang yang lewat depan rumah....

Kakaknya mengumpamakan adik perempuannya ini sebagai si "rembulan" atau kadang : si "jari kelingking".
 

Foto di atas: Abra Kadyarina, anak-perempuanku, ketika umur delapan tahun. Dipotret ketika aku ajak main ke Biara Budha di Mendut, ke  tempat bapak-ibuke tempat mas iwang

 
Hosted by www.Geocities.ws

1