�TAPI, BAGAIMANA BENTUKNYA SEKARANG?�
Suatu hari, di tahun 1908, Samuel muda menerima gajinya yang pertama. Sesudah lulus dari Koningin Wilhelmina School (KWS), semacam sekolah teknik di Jawa, ia bekerja di sebuah perusahaan kereta api. Ada suatu hal yang benar-benar mengganjal perasaannya: ia dan teman-teman pribuminya mendapatkan gaji, penginapan yang jauh lebih rendahan dibandingkan orang-orang nonpribumi. Lahirlah suatu rasa kebangsaan dalam diri Samuel: suatu kombinasi antara rasa sepenindasan dan keinginan untuk meronta, menuntut suatu kehidupan lebih baik.
�Baiklah, aku akan menuntut ilmu setinggi-tingginya, supaya aku dapat meninggikan derajat bangsaku,� demikian batinnya kala itu. Sam Ratulangi mengalami apa yang disebut dengan chosen trauma: suatu perasaan terhimpit yang mempersatukannya dengan teman sepenanggungannya. Dengan bersatu, mereka dapat berjuang untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik. Demikian juga yang terjadi dengan diri Soekarno, Sultan Agung, Pattimura, dan ribuan orang lainnya di nusantara, yang kala itu belum bernama Indonesia. Rasa kebangsaan dapat timbul oleh karena chosen trauma.
Israel, dalam perjalanan sejarahnya meyakini bahwa mereka adalah bangsa pilihan Tuhan. Musa, Daud, dan Salomo adalah sosok yang besar di mata mereka. Walaupun telah terpecah-pecah di seluruh dunia dan ditindas oleh NAZI, mereka tetap memegang identitas mereka sebagai suatu keturunan Yakub, bangsa pilihan Tuhan. (Dan itulah yang melatarbelakangi gerakan Zionisme abad ini). Israel disatukan oleh chosen glory: suatu perasaan superior yang membuat mereka bangga dan menjaga identitas mereka. Rasa kebangsaan juga dapat timbul oleh chosen glory.
Chosen trauma telah menjadi cara kita untuk menjaga nilai-nilai kebangsaan selama puluhan tahun di masa orde baru. Sebut saja Pendidikan Pancasila, Pendidikan Sejarah Perjuangan Bangsa (PSPB), Penataran P4, dan sebagainya; semuanya mengajarkan doktrin yang sama, bahwa �semua kita pernah dijajah, dan oleh karena itu, kita merupakan satu bangsa. Penting bagi kita untuk menjaga persatuan, supaya tidak dijajah musuh.� Seperti yang kita ketahui, cara ini tidak seterusnya berhasil. Tahun 1998, entah disadari sang pembuat doktrin atau tidak, rakyat Indonesia telah berhasil mengidentifikasi satu musuh yang lebih besar dan mengerikan: penjajah dari bangsa sendiri.
Runtuhnya kepercayaan, runtuhnya kebangsaan
Rupanya, chosen trauma bangsa Indonesia yang lahir tahun 1908 tidak mampu bertahan terus. Malah, telah terbentuk kelompok-kelompok baru yang memiliki chosen trauma-nya masing-masing. Hal yang dirasakan oleh Samuel muda tahun 1908, kini juga dirasakan oleh mereka, yang disebut sebagai gerakan separatis. Dan sebagaimana Sam Ratulangi kala itu tak dapat disalahkan, demikianlah pula mereka! Ini merupakan sesuatu yang normal dalam alam pikiran manusia. Tidak sepatutnya penguasa melarang mereka untuk menuntut hidup yang lebih baik. Sebaliknya, haruslah dicari jalan tengah agar, tanpa perlu memecah negara Indonesia, kebutuhan dan keinginan semua lapisan masyarakat dapat terakomodasi.
Kabar baiknya, kita telah berhasil mengakomodasinya lewat otonomi daerah, meskipun agak terlambat (seharusnya kita mendengarkan ucapan Sam Ratulangi sejak dulu!) Kabar buruknya, sekalipun otonomi telah diberikan, banyak pihak yang tidak kunjung puas. Proses keruntuhan kebangsaan terus berlangsung bagaikan reaksi nuklir yang berantai, menimbulkan kerusakan yang amat besar. Sadarkah kita? Berbagai reaksi perpecahan yang bernama �pemekaran� kini sedang merambat di Indonesia, bahkan sampai di tingkat kolom. Rasa tidak puas terhadap otoritas setingkat di atasnya menimbulkan chosen trauma yang patologis (abnormal), sehingga di tiap kesempatan, manusia berusaha untuk membentuk kelompok sendiri dengan dirinya sebagai pemimpin.
Keinginan untuk berkuasa
Memang, seperti rencana Tuhan, manusia diciptakan untuk menguasai alam. Tapi dosa betul-betul telah merusak segalanya. Akibatnya, manusia bukan makin serupa dengan Penciptanya, tapi malah makin serupa dengan binatang hutan. Menurut hemat saya, tidaklah berlebihan bila politik kita disebut sebagai alat setan untuk membuat manusia semakin mirip binatang. Kita terlanjur menjadi dewasa dalam sistem politik yang menginjak, bukannya mengayomi rakyat. Sehingga, dalam benak setiap anak manusia, terbesit keinginan untuk berkuasa, sama seperti �mereka�. Dan bila aku sudah berkuasa nanti, aku akan membalas dendam! Siklus ini berlangsung terus: trauma�kesempatan berkuasa�berkuasa�membalas. Terciptalah suatu lingkaran setan yang sukar untuk diputuskan.
Pemulihan dimulai dari keluarga
Untuk memutuskan lingkaran ini, harus diberikan kesempatan bagi tiap manusia untuk memimpin dan berkarya. Keluarga merupakan tempat di mana ayah belajar memimpin, ibu belajar mengayomi, dan anak-anak belajar mencontohi orang tua mereka. Si tou timou tumou tou yang sebenarnya harus dimulai dari keluarga, bukan dari institusi pendidikan (toh, institusi pendidikan kita pun telah tercemar lingkaran setan tadi).
Bagaimana agar sang ayah dapat memimpin keluarganya?
Berikan ia pekerjaan. Bagaimana agar sang ibu dapat mengayomi keluarganya? Berikan ia suami yang memiliki pekerjaan! Bagaimana agar sang anak dapat menjadi orang yang baik? Berikan ia ayah, ibu yang baik serta pendidikan yang layak.
Dengan jumlah penduduk kita yang lebih dari 220 juta jiwa, perlu dipikirkan suatu cara agar semua orang usia produktif dapat bekerja. Maksudnya di sini adalah, pekerjaan yang betul-betul dapat mencukupi kebutuhan hidup sekeluarga (pangan, sandang, papan, pendidikan, informasi, kesehatan, lux); bukan sekedar menarik ojek sambil berharap warisan orang tua. Dan sambil orang usia produktif bekerja, generasi muda dipersiapkan untuk menjadi sama atau lebih baik daripada generasi sebelumnya.
Diferensiasi pekerjaan dan pendidikan merupakan salah satu cara untuk mengakomodasi kebutuhan masyarakat terhadap lapangan pekerjaan. Perlunya dibuka sekolah-sekolah kejuruan atau lembaga pendidikan keterampilan praktis telah diserukan oleh Sam Ratulangi hampir seabad lalu, karena beliau melihat jumlah pengangguran yang begitu banyak. Dengan demikian, dalam suatu masyarakat akan muncul orang-orang yang ahli di sektornya masing-masing, cashflow yang lancar antarsektor, dan dengan demikian, akan menyehatkan ekonomi nasional.
Marilah kita melupakan sistem politik kita yang melelahkan dan mulai memutuskan lingkaran setan tadi.
Jika kita optimis dan tabah menjalani proses ini, dalam waktu kurang dari satu generasi akan muncul tunas-tunas bangsa yang berpikiran jernih, jujur, tajam, objektif, dan cemerlang. Bangsa kita akan mulai berprestasi di segala bidang (akibat diferensiasi pendidikan dan pekerjaan tadi!) Dan, akhirnya, rasa kebangsaan kita akan muncul, bukan oleh karena chosen trauma, tapi oleh karena chosen glory. Coba bayangkan bagaimana rasanya kalau PSSI kita menjadi juara dunia. Begitulah kira-kira chosen glory itu! Betapa layaknya kita bangga menjadi bangsa Indonesia! Tapi kapan? ***
Alva Supit, Jl. Toar No 1 Tondano 95616, [email protected], HP 0819 441 35329, Tel.(0431) 321578
yang diselenggarakan di Manado Agustus 2007
Uploaded 27 January 2008 by M. Sugandi � Ratulangi