|
Yok Lihat Lebih Dalam J
Tuhan memang selalu mengajarkan kita tentang bagaimana seharusnya kita hidup di dunia ini. Ia tidak hanya menciptakan, tetapi Ia juga membimbing ciptaan-Nya. Tuhan selalu mengajarkan kita dari hal yang terkecil hingga yang terbesar, seperti Ia menjadikan padi semakin berisi semakin merunduk, Ia menggerakkan semut-semut kecil untuk selalu bergotong royong, dan Ia juga memberikan sebuah bencana kepada ciptaan-Nya. Itu semua Ia maksudkan untuk mengajarkan kita bahwa hidup membutuhkan hati dan jiwa yang bersih, bahwa hidup mengharuskan kita untuk selalu menghormati sesama, dan bahwa hidup akan selalu ada tantangan agar kita tahu seberapa tangguhnya kita hidup di dalam dunia yang telah Ia ciptakan khusus untuk kita, manusia. Sebagai seorang manusia pastinya kita tak luput dari kesalahan. Kesalahan yang timbul dari diri kita sendiri, orang lain, ataupun faktor waktu. Sebenarnya melakukan sebuah kesalahan itu wajar, karena kita bukan seorang malaikat, kita adalah manusia. Tetapi melakukan sebuah pekerjaan yang menjauhkan kita dari sebuah kesalahan merupakan hal yang dapat membuat kita menjadi seperti malaikat, malaikat yang tak bersayap. Menjadi seseorang yang berhati malaikat tidaklah mudah, apalagi manusia memiliki bermacam-macam variasi sifat. Dari yang pemalu hingga ke pemberani, dari yang perhatian hingga acuh tak acuh, dan masih banyak lagi. Belum lagi ditambah satu faktor yang berasal dari diri manusia sendiri, nafsu. Walaupun begitu, pernahkah kita memperhatikan daun. Ia ada sebagai salah satu anggota tumbuhan yang penting. Ia tumbuh untuk mempercantik tubuh tumbuhan itu sendiri. Ia termasuk ke dalam salah satu anggota tumbuhan yang sangat bersahabat, dengan manusia, hewan, ataupun angin. Tetapi daun mengerti, ketika ia harus bermanfaat bagi yang lain, ketika ia harus berganti periode dengan daun-daun yang baru, dan ketika ia harus gugur meninggalkan anggota tumbuhan yang lain. Daun yang jatuh tidak pernah membenci angin. Daun selalu ikhlas menerima itu. Walaupun semasa ia segar, ia membuat angin terasa lebih tampak, terasa lebih sejuk. Membuat harmoni untuk teman-temannya yang lain. Dan ketika daun menua, angin yang membuatnya gugur, jatuh ke tanah, berserakan tak terurus lagi, tak dihiraukan bahkan diinjak. Padahal ketika ia segar, ia menjadi anggota tumbuhan yang paling penting, dan bermanfaat. Jika tidak ada daun tumbuhan akan kesusahan membuat makanan, untuk kelangsungan hidupnya. Jika tidak ada daun angin tidak tampak keberadaannya. Itulah daun, daun yang tak pernah mengeluh. Dari kisah kehidupan daun tersebut, Tuhan memberi tahu kita bahwa teladan keikhlasan ada pada daun. Ia tak pernah menentang keputusan Tuhan, walaupun semasa segarnya ia selalu berbuat baik, selalu mematuhi perintah Tuhannya. Jadi ayo kita berusaha menjadi seperti daun, yang walaupun telah gugur, tetapi ia sama sekali tidak pernah membenci angin. J
Terinspirasi dari novel Tere Liye, ‘Daun yang jatuh tidak pernah membenci angin’
|
|
|
|