Rasa Syukur Itu Selalu
Ada
Oleh: Euis Komariah Surtiati
Pertemuan itu tinggal satu bulan lagi,
tetapi belum ada kepastian dalam
diri Tia untuk pergi atau
tidak. Lebih-lebih ketika dia utarakan acara itu kepada suaminya,
orang yang menjadi panutan hidupnya itu hanya berujar,
Paling-paling acaranya hanya
hura-hura.
Namun, semangat yang diletupkan
sahabat-sahabatnya membuatnya
bimbang. Tenang, nanti aku
yang akan merayu suamimu biar diizinkan,
kata Dewi. Kami akan datang ke rumahmu
di hari lebaran
kedua, tambah Ati via telepon. Memang, merekalah yang selama ini rutin berkomunikasi
dengannya. Dan mereka
berdua pula yang mendorong Tia untuk hadir
dalam acara reuni SMA sekaligus halal bi halal itu. Menurut mereka,
inilah kesempatan untuk bertemu dengan
teman lainnya.
Hampir seperempat abad masa
SMA mereka berlalu, kehadiran undangan reuni memunculkan banyak hal yang menggelayuti pikiran Tia. Sambil berkaca,
dia berucap, Seperti apa
ya teman-teman sekarang? Tia berputar-putar mengamati
penampilannya sekarang ini. Dengan gaya
bersenam wajah, dia berkaca seolah-olah
ingin mengembalikan tekstur kulit remajanya.
Di pegangnya pula tumpukan lemak di bawah
ketiaknya. Ah, aku gemuk sekarang,
ujarnya.
Selain penampilan, dia gusar pula akan
keadaan hidupnya yang terbilang sedang-sedang saja. SMAnya yang terkenal sebagai sekolah favorit di masa itu,
memang berisi anak-anak orang berduit. Gambaran di masa itu
meyakinkan Tia bahwa keadaan teman-temannya
sekarang tidak akan jauh
berbeda dengan orang tuanya.
Kegusaran itu cukup terobati ketika kedua sahabatnya itu datang pada
hari lebaran kedua. Non, kamu agak kurusan
dibandingkan waktu kita bertemu setengah
tahun lalu, ujar Dewi. Itu kata-kata
pertama yang menghiburnya.
Kehadiran kedua orang terdekatnya itu dengan cerita lama mereka, sedikit banyak mebangkitkan semangat Tia untuk hadir
dalam acara itu. Lebih-lebih melihat mereka
yang PD (percaya diri) habis. Padahal, kedua orang
yang paling mengerti pribadinya
itu hanya sebagai ibu rumah
tangga sejati. Berbeda dengan Tia, wanita
pekerja. Tambahan
pula, suaminya akhirnya mengizinkannya pergi setelah
sahabat-sahabatnya itu meyakinkannya.
Hari H pun tiba.
Pagi sekali Tia sudah
bangun mempersiapkan diri. Suaminya hanya memandangnya sambil tersenyum, Sudah cantik!
Bingung ya
mau ketemu
pacar lama, guraunya.
Bawa sekalian
anak-anakmu biar jadi satpamku, candanya lagi. Tia hanya merengut manja.
Hatinya berdetak
agak kencang ketika Dewi menjemputnya
dengan mobil pinjaman dari adiknya.
Setelah itu, mereka berdua
menjemput Ati sekalian. Sepanjang perjalanan tidak
banyak yang mereka ceritakan. Agaknya mereka sibuk dengan pikirannya masing-masing.
Setibanya di
lokasi ternyata sudah banyak yang hadir. Panggilan dan teriakan dari teman-temannya seolah membuyarkan kegusarannya selama ini. Tia seakan baru tersadar setelah salah seorang panitia
memberikan sambutan.
Dipandanginya sekeliling. Ternyata, banyak
di antara teman wanitanya yang berbadan tambun lebih dari kegemukannya.
Bahkan, boleh dibilang tiga sahabat itulah
yang berpenampilan tidak jauh bedanya dengan
di masa SMA dan masih terlihat
lebih muda dibanding yang lainnya.
Pandangannya
berhenti pada sosok di sudut
ruangan, orang yang pernah menjadi cinta monyetnya, Tio,
memandangnya tersenyum.
Non, untung kamu gak jadi sama
Tio. Dia penuh uban dan
kelihatan tua.
Mana ompong lagi. Padahal, dia dulu
ganteng banget ya, bisik
Ati di sebelahnya.
Tia hanya berucap,Hus
kamu bisa saja.
Banyak cerita yang membuatnya semakin bersyukur dengan keadaannya sekarang karena
tidak sedikit di antara teman-temannya
itu yang gagal dalam kehidupan rumah tangganya. Selain itu, bayangannya tentang kehidupan mereka yang glamour ternyata tidak semuanya benar, ada pula yang bernasib jauh di
bawah kehidupan Tia.
Dengan penuh rasa syukur dia kembali
ke rumah. Setibanya di rumah, suami
dan anak-anaknya sedang menunggunya. Senang deh
ketemu
teman lama, ujar salah seorang anaknya
seakan menyindir .Ibu lebih
senang lagi memiliki kalian bertiga, jawab Tia
sambil mencium mereka satu demi
satu.
oooOOOooo
Mengenal
Taman Sringanis
Oleh: Euis Komariah Surtiati
Kembali ke alam.
Itulah slogan yang sering kita dengar akhir-akhir
ini, termasuk dalam cara
pengobatan penyakit. Alternatif menggunakan obat-obatan ramuan tradisional kembali menjadi pilihan masyarakat. Oleh karena itu, apotek
hidup kembali digalakkan.
Bermula kebiasaan yang sering
merasa kembung, aku mencoba mencari
informasi tanaman obat untuk penyakit
itu. Dan berbekal informasi
seorang teman, akhirnya sampailah aku di Taman
Sringanis.
Taman Sringanis ini dikelola oleh satu
lembaga nirlaba yang bergerak di bidang
kesehatan alternatif.Yayasan
Taman Sringanis, namanya. Di lokasi ini disediakan
bibit berbagai macam tanaman obat,
bahan-bahan obat-obatan
yang sudah dikeringkan sampai
yang sudah diracik menjadi
jamu. Selain itu,
tempat ini juga menyelenggarakan pelatihan dan pemanfaatan
tanaman berkhasiat obat.
Selain masalah
obat, Taman Sringanis juga menyediakan pelayanan konsultasi kesehatan dan pengobatan akupunktur, akupresur serta prana. Pengunjung tinggal memilih pelayanan apa yang mereka
inginkan. Ada tempat khusus untuk praktik pelayanan
ini.
Lokasi ini mudah dijangkau,
tepatnya di Cimanengah No. 29, Cipaku-Bogor Selatan, Telp. 0251-370692. Taman
ini tidak jauh dari Istana
Batutulis Bogor.
Dari akhir Jalan Tol Jagorawi Jakarta-Bogor, taman ini
dapat kita jangkau dengan berbelok ke kiri menuju daerah
Sukasari , kemudian ke arah Batutulis.
Sebelum sampai Istana Batutulis,
ada jalan menurun menuju daerah Cipaku. Lokasi taman
ini sekitar dua kilometer setelah jalan menurun itu.
Memasuki lokasi ini, terasa sejuk. Tidak jauh dari pintu
masuk disediakan buku tamu. Menurut petugas, yang datang ke tempat ini
bukan hanya orang awam, tetapi
juga para ahli kesehatan. Mereka datang perorangan atau pun rombongan. Untuk menambah kenyamanan,
ada ruangan khusus untuk konsultasi
berbentuk rumah panggung.
Di sekitar
lokasi penuh tanaman, tanaman obat tentunya. Pengunjung dapat membeli langsung
di tempat. Apotek hidup yang cukup luas, itulah gambaran
tempat ini.
Tak ada salahnya, kita mampir ke tempat
ini apabila mengunjungi Kota Hujan Bogor. Selain berdarmawisata, kita
sekaligus menuai ilmu tentang pengobatan
tradisional. Untuk memandu kita dalam
penanggulangan kesehatan sedini mungkin sebelum memerlukan bantuan pengobat profesional, ada buku kecil tentang
Sehat Mandiri dengan Potensi Diri dan Potensi
Alam yang dapat kita beli di
sana.