Keluarga tempat kos saya memiliki anak tunggal perempuan yang sudah menikah dan tinggal di rumah orang tuanya. Mbak Sus, demikian kami anak-anak kos memanggil, berumur sekitar 35 tahun. Tidak begitu cantik tetapi memiliki tubuh bagus dan bersih. Menurut ibu kos, anaknya itu pernah melahirkan tetapi kemudian bayinya meninggal dunia. Jadi tak mengherankan kalau bentuk badannya masih menggiurkan. Kami berlima anak-anak kos yang tinggal di rumah bagian samping sering iseng-iseng memperbincangkan Mbak Sus. Perempuan yang kalau di rumah tak pernah memakai beha itu menjadi sasaran ngobrol miring.
Setelah minum Rohypnol yang diberikan Mbak Sus, saya tidak bisa tidur. Saya maunya kencing terus. Sebuah botol kecap telah disiapkan untuk menampung air urine saya. Otomatis, penis saya harus dimasukkan ke botol itu. Oleh Mbak Sus, saya tidak diperbolehkan untuk turun dari tempat tidur.�
Jadi sambil tiduran, saya tinggal memasukkan penis ke dalam botol yang sudah ada di samping ranjang. Rupanya ada seseorang begitu telaten menjaga dan merawat saya malam itu. Seharusnya ia tidak boleh memperhatikan saya membuang urine di botol. Tetapi tatkala saya membuka piyama dan celana dalam saya, dan mengarahkan penis ke mulut botol, eh tukang kebon yang belakangan kuketahui bernama Giman malah membantu memegang penis saya. Dengan pelan dan lembut tangan kirinya memegang penis kecil saya yang masih kecil, sedangkan tangan kanannya ikut memegang botol itu. Setelah urine saya keluar, ia membersihkan penis saya dengan tissue. Sambil terus membersihkannya, ia memperhatikanku dengan senyuman aneh.
Hari itu tepatnya hari Jumat malam, waktu itu turun hujan gerimis, jadi aku malas keluar rumah, aku di kamar lagi main internet, melihat gambar-gambar
Lenin dan Che Guevara dari situs internet, terus tanpa sadar kukeluarkan kemaluanku yang sudah tegang sambil melihat gambar
politikus bugil. Kemudian kuelus-elus batang kemaluanku sampai tegang sekali sekitar 15 cm, habis aku sudah terangsang banget sih. Tanpa kusadari tahu-tahu kakeknya Mbak Sus, yang bernama Mbah Surip masuk menyelonong saja tanpa mengetuk pintu, saking kagetnya aku nggak sempat menutup batang kemaluanku yang sedang tegang itu. Mbah Surip sempat terbelalak melihat batang kemaluanku yang sedang tegang, langsung saja dia bertanya sambil tersenyum manis.
"Kamu tahu nggak, kenapa Mbak Sus sampai sekarang nggak hamil-hamil?" tanya Mbah Surip yang pernah kuliah di
Belanda.
"Aku tahu. Suaminya letoi. Nggak bisa ngacung" jawab Giman, tukang kebon dengan tangkas.
"Apanya yang nggak bisa ngacung?" tanya saya pura-pura tidak tahu.
"Bego! Ya tangannya dong", kata Mbah Surip
"Kok tahu kalau dia susah ngacung?" saya mengejar lagi.
"Lihat saja. Gayanya klemar-klemer kaya perempuan. Tahu nggak? Mbak Sus sering membentak-bentak suaminya?" tutur Giman.
"Kalian saja yang nggak tanggap. Dia sebenarnya kan mengundang salah satu, dua, atau tiga di antara kita, mungkin malah semua, untuk membantu", kata Paijo.
"Membantu? Apa maksudmu?" tanyaku tak paham ucapannya.
Paijo tertawa sebelum berkata, "Ya membantu dia agar segera hamil. Dia mengundang secara tidak langsung. Lihat saja, dia sering memamerkan payudaranya kepada kita dengan mengenakan kaus ketat. Kemudian setiap usai mandi dengan hanya melilitkan handuk di badannya lalu-lalang di depan kita"
"Ah kamu saja yang GR. Mungkin Mbak Sus nggak bermaksud begitu", sergah Wakijan yang sejak tadi diam.
"Nggak percaya ya? Ayo siapa yang berani masuk kamarnya saat suaminya dinas malam, aku jamin dia tak akan menolak. Pasti"
[malam semakin larut - langit semakin pekat]
"Saya sebenarnya sangat mengagumi Mbah Surip lo", kataku.
"Kamu ini ada-ada saja. Memangnya aku ini bintang sinetron atau model."
"Sungguh kok. Tahu nggak apa yang kukagumi pada Mbah?"
"Coba apa..."
"Itu..."
"Mana?"
Tanpa ragu-ragu lagi aku menyentuhkan telunjukku ke selangkangannya yang seperti biasa hanya dibungkus sarung.
"Ah... kamu ini."
Kemudian aku membuka sarung dan celana dalamnya. Terlihat kemaluannya tegak seolah menantangku. kugigit kemaluannya, dan kumainkan lidahku. Mbah Surip menjerit kesakitan. Ia memegangi kepalaku dan ingin mengulum kemaluanku yang tak kalah menantang, namun aku tak mau melepaskan kulumanku. Mbah Surip memegang kedua pipiku, dan wajah kami sangat dekat saling berhadapan. Kami berciuman nikmat sekali, kemudian ia mencium leher dan dadaku, sambil mengelus ketiak dan punggungku. Lalu ia mengulum kemaluanku yang berbulu. Aku memejamkan mata, aku tidak tahan lagi, kuraih kemaluannya dan sesaat kemudian kami dalam posisi 69. Kugigit dan kutekan kuat-kuat buah zakarnya. Kulepaskan sesaat kulumanku pada kemaluannya.�
[aku dan dia mencapai kenikmatan luar biasa - pleasure in pain]
Dengan tubuh bersimbah keringat Mbah Surip bercerita, bahwa dia pernah mengajar Filsafat. Tiap kali mengajar dia memakai sarung yang kumal. Kalau dia mengajar semua mata pasti tertuju ke selangkangannya dan bulu kakinya.
[hari berganti dan waktu bergulir]
Malamnya, pukul 20:00 WIB bel pintu rumah kontrakanku berdering, ketika itu aku di dapur sedang membuat mie rebus kesukaanku. Dengan berlari kecil menuju pintu depan, lalu aku membuka pintu, ternyata yang datang ke rumahku adalah Mbah Surip berserta temannya, aku belum kenal siapa dia.
"Ada apa, Mbah Surip?" tanyaku.
Ia menggeleng perlahan sambil memandangi wajahku.
"Lalu kenapa?" tanyaku.
"Nggak, nggak ada apa-apa", jawabnya sambil menunduk.
"Saya tahu Mbah Surip bohong, sekarang cerita kenapa? Kalo Mbah menyesal, saya minta maaf, kejadian kemaren bener-bener sebuah kecelakaan."
"Ini semua nggak adil. Kamu juga harus dikentot!" Suara Mbah Surip terdengar
bergetar. Mbah Surip pun melucuti kaus, celana pendek, dan terakhir celana dalamku. Penisku yang tegak penuh segera diremas-remasnya.
"Apa Mbah mau saya oral lagi?" tanyaku.
Mbah Surip hanya terdiam. Aku menunduk ke selangkangannya mencari-cari batang kenikmatan miliknya. Tanpa ampun lagi mulut dan lidahku menyerang
batang kenikmatan itu dengan liar. Mbah Surip mulai mengeluarkan jeritan-jeritan tertahan menahan nikmat. Kelihatan dia menemukan pengalaman baru yang membius gairahnya. Hampir lima menit kami menikmati permainan itu. Selanjutnya aku
menyorongkan penisku ke mulutnya.
[dan kenikmatan itu bernama dosa]
Tiga menit setelah mengulum penisku Mbah Surip memejamkan kedua matanya .Tampaknya dia akan orgasme.
Kubiarkan dia menikmati orgasmenya beberapa saat. Kuciumi pipi, dahi, dan seluruh wajahnya yang berkeriput.
"Enak Mbah?" tanyaku.
"Emmhh..."
"Puas Mbah?"
"Ahh..." desahnya.
"Sekarang Mbah berbalik. Menungging."
Aku mengatur badannya dan Mbah Surip menurut. Dia kini bertumpu pada siku dan kakinya.
"Gaya apa lagi ini?" tanyanya.
"Ini gaya anjing. Senggama lewat belakang. Pasti Mbah belum pernah."
[dan kenikmatan itu terulang kembali]
"Mbah kalau pengin bilang aja ya."
"Kamu juga. Kalau ingin ya langsung masuk ke kamar Mbah."
"Mbah mau nggak main ramai-ramai?"
"Maksudmu gimana?"
"Ya misalnya aku mengajak Giman dan kita main bertiga. Dua lawan satu. Soalnya Mbah tak cukup kalau cuma dilayani satu orang."
"Ah kamu ini ada-ada saja.�
"Tapi mau mencoba kan?"
Mbah Surip tidak menjawab.�
Terdiam dan membisu
TAMAT
