|
|
|
|
|
Koleksi Puisi by : One |
|
|
|
|
Kepadamu... Ketika waktu membimbingku berjalan menuju teras rumahmu yang dipenuhi rembulan ¾ aku bercampur dengan angin ¾ menghampiri langit yang diam didepanku. Saat itulah ada tawa ¾ ada geletar hati menampar kesenyapan hingga membangunkan pijar yang terpendam. Dari situlah aku mulai mendaki ¾ setapak jalan ¾ terjal bebatuan ¾ tangis dan airmata ¾ tawa dan canda ¾ juga sejuta bahasa yang ditulis malam dan siang buatku.
Kepadamu…
Aku
merasa bernafas, Sayang. Aku
merasa senyum dan tawa itu menumbuhkan bunga-bunga yang bermekaran ¾
menebar aroma wangi sorga ¾
menggantikan kelam yang sering menggores diri.
Terus terulang ¾
terus berganti. Cerita
mengalir bagai sungai di lekuk perbukitan ¾
menyejukkan. Betapa ini
seperti prasasti yang ditulis sejarah untuk diabadikan ¾
diingat ¾
dikenang ¾
dan di telusuri setiap saat kita ingin menjadi bintang-bintang di gelap
malam.
Kepadamu…
Entah
apa yang terukir dihatimu ¾
seperti hatiku kah? Lebih dalam atau lebih dangkal atau tak ada warna sama
sekali ¾
sepucat hatiku saat kehilangan keseimbangan diri? Aku tak bisa menjawab
tanya itu. Aku hanya
menggantungkannya disaat-saat aku menatap matamu ¾
mencoba mencari jawab disana.
Kepadamu…
Aku
ingin menikmatinya ¾
menikmati kisah ini sampai aku terlelap dalam tidurku saat malam tiba ¾
sampai aku terbangun kembali disapa matahari.
Aku juga punya puisi ¾
punya cerita ¾
yang aku tulis di lembar-lembar hatiku.
Entah saat ku senang ¾
saat sedih ¾
saat berduka ¾
saat kecewa ¾
atau saat-saat aku harus jauh darimu.
Kepadamu…
Hati
ini resah, Sayang. Saat kau
tiba-tiba hilang ¾
saat aku tak bisa cerita kepadamu ¾
saat aku harus memapah letih hati ini sendiri.
Kemanakah engkau berjalan ¾
sudahkah kau bosan melangkah bersama kakiku yang terseok-seok ini? Aku tak mengerti ¾
jika mungkin kau sudah menemukan jalan lain yang
lebih lebar ¾
yang sanggup menggoyah kekokohan hatimu ¾
yang telah memberi cahaya harapan baru kepadamu.
Jika itu benar (?) aku rasa tak mengapa ¾
asal ada perkataan yang bisa meyakinkanku ¾
yang sanggup memberiku pengertian untuk melepaskanmu. Aku cuma tak mau di lemparkan pada kerendahan harga diri.
Aku ingin tetap hidup pada kehidupanku sendiri meski tak bisa hidup
bersamamu.
Kepadamu…
Ada
yang hilang saat kau jauh ¾
ada yang sirna saat kau menepi. Ada
rindu yang terkatung-katung mencari persinggahan.
Aku kehilangan aksara untuk menuliskan kata hati.
Hanya ada gambar-gambar mati yang di lukis sepi.
Tapi aku tak ingin kehilangan air mata untuk menangisimu ¾
jika kau memang tlah hilang dan pergi.
Hatiku memang tlah retak ¾
kekecewaan sudah sering menyiksaku ¾
hingga aku sebisa mungkin menegarkan diri untuk setiap rasa kehilangan. Aku juga tak ingin dilanda kesedihan meski perasaan ini
tersayat-sayat ¾
meski langit mendung itu merintih pula ¾
meski malam mengeluh ketika bintang-bintang tak hadir menemani.
Kepadamu…
Kita
memang belum lama saling mengenal ¾
kita juga belum lama bertatap-tatap lalu saling menelusuri hati ¾
meyakinkan diri. Bagimu aku
mungkin hanya sebuah titik kecil yang ingin kau lompati untuk mendapatkan
daratan disebrang sana. Bagimu,
aku tak berarti. Bagimu aku
hanya beban yang memberati langkahmu.
Iya sih, aku memang hanya seperti itu.
Tak ada yang bisa mengerti aku, kecuali aku sendiri.
Dan karena itu, aku harus selalu siap untuk bertapa dalam
kesendirian yang menyakitkan.
Kepadamu…
Jika
kau memang telah mendapatkan yang terbaik ¾
so, it’s the best for me too. Aku
pikir, kehilangan itu hal yang wajar ¾
karena kita memang tak akan bisa memiliki sesuatu dengan seratus persen
utuh ¾
berapa persen dari milik kita adalah milik orang lain.
Begitupun aku ¾
aku hanya manusia biasa yang penuh keterbatasan dan kekurangan.
Sudah banyak yang tak bisa menerima kekurangan itu dan kurasa
kaupun begitu. Perasaan manusia memang bukan seperti malaikat ¾
setiap detik berganti, perasaan bisa berubah seketika.
Kepadamu…
Sudahlah…
tak perlu ada sedih apalagi tangis ¾
tak perlu menyesali keadaan. Biarkan
saja yang terjadi. Mungkin ini memang sudah keputusan yang diatas.
Aku coba menghilangkan prasangka burukku terhadapmu dan berusaha
untuk percaya dengan kata-katamu. So,
don’t be afraid to do your wish. I’m
still be alive without you ¾
aku masih bisa bernafas tanpa kamu ¾
aku masih bisa…
Kepadamu…
Kini
lupakan aku dan kenangan-kenangan itu!!
29 Agustus 2003
|
|
|
supported by :: frontpage :: flash mx :: mai-pc :: kalma :: xx inspirations :: kes4an :: our dreams :: bluesky ::. |
|
© mimpi kita creative design :: [email protected] |