:: BACK ::

Koleksi Puisi    by : One


PURNAMA 14

: 16 Mei 2003, pencerahan rembulan; sebuah kisah di ujung bumi

 

Mata meluruh lepas, pada bias sinar rembulan yang tergantung diujung langit, menyibak gemintang, menekuri desau angin yang berlari di pucuk-pucuk dedaunan. Purnama menggelepar pasrah, menawarkan keelokannya, ditemani bidadari di setiap gerbang firdausnya. Pekat memudar, satwa malam menyanyikan kidung mesra, tentang hati, tentang cinta, tentang tentang hasrat yang mencuat dari balik dinding-dinding sanubari.  Aku ingin melukisnya di kanvas hatimu, dengan warna warni mega, hijau daun, dan ranting pepohonan yang menari ditiup angin. 

 

Malam ini, rembulan memaksaku tepekur dibawah bias temaramnya, hingga dia membawaku terbang melintasi batas dimensi tak terbatas, melesakkan kerinduan dalam gejolak jiwa.  Kerinduan yang membuatku hidup, tertawa, atau mungkin juga kerinduan yang membuatku resah risau, kaku, lalu menancapkan luka lara.  Ah, aku ingin mengajakmu disini, didekatku, berdiang di sisi api unggun yang menyala didalam hati kita.  Sepuasnya menatap wajah rembulan yang tersenyum dipekat malam ini.  Menggelar rasa, menumpahkan rindu yang setiap saat datang, setiap saat, bahkan aku tak mampu membendungnya meski dengan dinding tanggul berlapis seribu gunung. Aku ingin memelukmu, membelaimu atau apa sajalah, yang penting rindu ini bisa meluruh diterpa sinar rembulan, meski aku juga tahu, setelah pergimu, rindu itu akan dating lagi, datang lagi, dan menumpuk, teronggok di ruang hatiku.

 

“Rembulan, beri aku pencerahan, agar aku bisa mengucapkan kata-kata tentang hasrat yang kupendam, agar aku bisa meyakinkan diri seperti engkau yang selalu setia pada malam, mengalir bersama pekat, tak pernah bosan.”

 

Desau angin membelaiku pada separuh perjalanan rembulan. Di atas sana bintang-bintang berkedip, dan aku hanya bisa mencumbu bayangmu.  Imajinasiku yang bermain, menjelmakan sgala yang maya, agar aku utuh merasakan hadirmu, dimimpiku yang diusung purnama malam ini.  Ada sajak, ada tembang, ada tarian, ada lukisan, ada kenyataan yang bermain kini, menuruni lembah, mendaki pegunungan, mengarungi lautan, mengalir di hulu sungai yang jernih, lalu aku terpaku menyaksikan benderang malam ini.  Rembulan mengajakku tertawa, engkau mengajakku bercanda.

 

Rembulan mendekatiku, Sayang.  Dia berbisik, “Jalan masih sangat sangat panjang, kawan.”  Aku tersadar, lalu aku berlari menubrukmu, merengkuhmu, dan membawamu ke dalam alam keheningan, mengajakmu merenung, tentang sesuatu yang musti kita renungkan. 

 

Cobalah kita rasakan, betapa dentang waktu ini begitu cepat melintas. Tak pernah letih. Meninggalkan masa silam, melewati hari ini yang entah kan kita jadikan apa, lalu menyongsong esok hari yang pasti akan datang, meski kita tak kan pernah tahu, apa yang kan tersaji esok hari.  Sejenak aku seperti ingin menangis, menumpahkan air mata kerinduan mungkin, atau ketika aku ingin menguak hasrat yang terkubur di pusara hati.  Di purnama malam ini tiba-tiba aku rindu pada semua; padamu, pada orang tuaku, pada adikku, pada teman-temanku, pada yang menyukaiku, pada yang membenciku, lalu semua berkumpul lupakan penat, saling tertawa, bercanda, menikmati perjamuan rembulan malam ini.

 

Sayang, aku dan engkau hanyalah segelintir dari sejumlah manusia yang mendiami dunia ini.  Dan kita ada cerita, dan kita menjalani sebuah peran pada suatu pentas opera

 

(bukankah dunia ini hanya panggung sandiwara, kata Nike Ardila). Katanya pula, peran bercinta bikin orang mabuk kepayang; apakah kita juga telah mabuk?  Aku ada cinta, kamu juga (semoga…), lalu kita menelusri padang luas menuju sebuah oase yang entah dimana rimbanya.  Kita juga sebuah perahu yang sedang berlabuh, menuju sebuah pulau, yang juga entah dimana rimbanya. Kita juga sepasang burung yang mencoba berevolusi, mencari peraduan baru, yang juga belum ketemu.  Lalu? Lalu pada akhirnya, akhir dari perjalanan ini, hanya yang kuasa yang punya.

 

Dialah sang sutradara, yang memberi kita rembulan purnama malam ini, yang memberi kita bumi, yang memberi kita langit, dan yang memberi kita cinta kasih.

 

Malam ini, aku seperti diberi kebebasan untuk merenung dan menguras kepenatan dalam bathin.  Bahwa kita sedang menjalani sebuah realita.  Lalu kutatap matamu, mencoba berselancar dengan hatimu. Menikmati yang telah diadakan.

Getar itu masih terasa, saat jemari kita saling menyentuh, bisa kurasakan adanya rindu yang megah yang kau kirim lewat hangatnya aliran darahmu. Ingin aku berlama-lama dalam kehangatanmu, ingin aku habiskan sisa malam ini dalam nada-nadamu, ingin aku peluk sinar rindu yang, terpancar di setiap kedip matamu
ingin ....... semuanya kusimpan di dadaku. Suaramu mengantarkanku ke alam lalu,  senyumanmu membawaku ke mimpi dulu, tatapanmu menghanyutkanku dalam ilusiku sendiri.

Aku tak ingin lagi ada tanya. Tanya yang tak membutuhkan jawaban.  Aku hanya perlu jawaban, meski aku tak pernah memberi pertanyaan.  Apakah cinta itu? Adakah yang bisa menjawabnya, selain cinta itu sendiri? Dan kita hanya bisa memiliki, merasakan, menyatukan, tanpa pernah bisa mengartikan.  Itu tak perlu, yang penting kita bisa memaknakan, memelihara, dan merangkai kelopak dan mahkotanya dalam sebuah vas yang megah.  Aromanya akan menebar ke segala penjuru, menceriakan yang duka, menyegarkan yang layu, menerangkan yang gelap, menjernihkan yang suram. 

Rindu. Ah, mengapa dia selalu saja datang tak terputus.  Purnama malam ini pun telah menyuburkan rindu di hatiku.  Gelayut manjamu, sentuhanmu, senyummu, rajukmu, cemberutmu, kekesalanmu, candamu, tawamu.  Semuanya melebur dalam kerinduan yang tak pernah usang ini.  Seperti katamu, kita tak pernah puas, ya, dan aku ingin kita tak pernah puas. Kusimpan dalam prasasti, rindu ini. Menghitung detik demi detik hingga semua nyata, lepas, lalu tak lama rindu itu akan bertunas, mengucup dan mekar kembali.  Ah, adakah kata yang lebih indah untuk mengungkapkannya, Sayang?

“Purnama 14… aku menari seperti tarian angin, ingin memberi mimpi yang nyata pada kekasihku.  Mampukah kau bersinar dihatinya, agar dia tahu, aku menyayanginya…”

“Rembulan… aku tau esok hari, ketika mentari bersinar, kau akan meninggalkanku sendiri melewati sepi sebelum aku bertemu dengan kekasihku.  Tapi aku juga tau setelah mentari kembali ke peraduannya, kau akan kembali menemaniku melewati malam-malamku.  Tapi mengapa, tak setiap malam engkau purnama?”

Kekasih, biarlah kelembutan malam ingin yang mengantarkanmu tidur, biarkan juga angin mendongengkan untukmu, aku kan menemani disisi hatimu.  Percayalah esok kita kan bertemu.

Pada sebuah malam purnama:16mei03

 



:: back ::

supported by :: frontpage :: flash mx :: mai-pc :: kalma :: xx inspirations :: kes4an :: our dreams :: bluesky  ::.

© mimpi kita creative design :: [email protected]

Hosted by www.Geocities.ws

1