|
|
|
|
|
Koleksi Puisi by : One |
|
|
|
|
VIRTUAL ADVENTURE
:sebuah episode perjalanan...
Semilir merdu desir sang bayu
menyeruak dalam kekelaman bathinku, membelaiku dalam keletihan dan penat
yang membusung, merengkuh, memeluk di nuansa heningku yang diam -- disaat
ku terpejam, merangkai warna-warni mimpi yang tlah pudar.
Di gurunku yang tandus, gersang, kering -- kujejakkan langkah,
limbung, jatuh lalu bangkit lagi, terseok meniti matahari yang mulai
merapat menuruni siluet jingga di ufuk cakrawala barat.
Oh, ada oase di sela-sela
langkahku -- gemericik air -- meneduhkan lembayung hatiku yang pucat.
Ku buka mata, kusunggingkan senyum, kurajam gejolak, kubasuh
seluruh tubuhku, rasakan siraman air zamzam itu mengguyur kulitku yang
keriput -- meresapi pori-pori jiwa yang kaku -- meluluhkan debu dibilik
jantungku yang keruh. Aku ingin sepuas-puasnya disini, menikmati oase
ditengah gurunku yang senyap. Oase itu. Kamu!
Aku ingin maknakan kamu, aku
abadikan, aku pahat disepanjang dinding hati yang mulai mengerak. Aku
tunaskan ranting-ranting perdu berbunga yang mulai layu di taman ruhku.
Kubingkai dalam kemesraan, diramaikan oleh kidung-kidung cinta,
desah asmara, gejolak jiwa -- semua memberi makna diatas gemuruh langit.
Senjakala yang membias perlahan turun...
Di senja ini ku beringsut,
mencari pencerahan pelita di antara celah bintang dan pendar rembulan yang
mulai redup tertutup mendung. Kubawamu
dalam perjalanan baruku -- kubingkaimu dalam pigura hatiku -- kutemukanmu
dalam pencarianku yang tlah renta.
Jingga kemerahan tlah hilang,
Sayang. Malam datang. Kupelukmu dalam selongsong hatiku, berharap
kehampaan ini akan penuh diisi gemerlap di sekujur jiwamu -- menawarkan
kerinduan yang menumpuk di pojok tikungan hatiku -- meski aku hanyalah
sebuah batu nisan tua, ditengah kuburan yang tak pernah ditengok cinta. Malam ini memang gelap, tapi semoga tak begitu dengan hati
kita, karna aku yakin dengan kemewahan kasih yang kau bawa.
Kemudian kita terus melaju dalam gelap. Pekat. Aku masih ingin menemukan jalan di ujung nafasku yang tinggal satu-satu. Langit memang bisu. Angin pun tlah lelah menemaniku mengembara dari benua ke benua. Tinggal kamu yang kupertaruhkan untuk membawaku pada terang esok hari.
Lihatlah!! Aku ingin selalu
tersenyum untukmu -- ingin sealu merayumu dalam cumbu mesra -- ingin
selalu mengajakmu tertawa meski ada perih terselip di celah-celah hatimu.
Kerinduan ini milikmu sekarang -- hati
terluka ini milikmu sekarang -- untuk kamu obati dengan pengorbanan jika
kamu mampu. Kuresapkan kata demi kata dalam doa -- kurangkai dalam
perjalanan rembulan melintasi tata surya -- menembus sap demi sap langit,
menuju pada sebuah cahaya di tempat yang tak kasat mata.
Aku tak punya satu kata untuk
menggendongmu di pelukku -- selain mataku yang sayu, lelah mengacak arah
-- sebelum kamu datang di padang pasir luasku -- memporakporandakan
kebengalanku. Tapi aku punya sebait puisi tak tertulis di palung terdalam
jiwaku -- yang tak kan tampak sebelum kamu mampu menembus dan menawarkan
ruang hatiku yang pengap dan usang.
Dan kita terus melaju di
perjalanan ini -- melaju -- melaju -- sampai kita pada tepi sebuah jurang
yang dalam membentang. Tak
tampak lembah dibawah, hanya ada kabut menggelayut di ujung-ujung batu
yang meruncing. Uh, dadaku pengap, mataku berkunang-kunang -- kudekapmu
erat. "Jangan lihat ke bawah, Sayang.” Aku tak ingin ada
ngeri dihatimu -- aku tak ingin ada tangis di matamu -- aku tak ingin ada
air mata mengalir membasah di kalbumu yang banyak tergores kelam.
Biar hatiku ini sedikit menciut diterkam menganganya -- biar peluh
ini tak ada henti menetes dari jidatku yang menghitam -- biar langit
mengutuk dengan hujan berkepanjangan -- jangan kamu resah hati --
kegetiran ini hanyalah salah satu episode dari sekian banyak episode yang
kan kita lalui. Aku memang
dirundung sedih, kekhawatiran bahkab mungkin ada sedikit keraguan.
Tapi, aku tetap ingin disisimu -- mengusung letih ini bersama-sama
-- tak apalah kita menangis, tak apalah kita berduka, tak apalah kita
terajam garis-garis nasib yang keras –- disana masih ada angin yang
mengibur dengan tetembangan, ada para pujangga yang setia merangkai kata
di atas permadani cinta, ada
kerinduan -- rindu yang tak berujung batas -- yang selalu merekatkan
keyakinan.
Jurang itu selalu menganga,
Sayang. Membangkitkan ngeri di ulu hati. Tapi aku ingin membawamu terbang
melintasinya, hingga kita merapat di seberang. Lalu berlari jauh ke
hamparan rumput hijau di ujung sana. Kita duduk di pelataran senja, di
atas batu-batu cadas, bercengkerama sampai malam tiba. Lihat dia membawa
bintang dan rembulan, juga mega putih berarak membasuh langit.
Oh, rembulan yang indah, dengan sinar keperakan yang membias di
sekujur tubuh kita hingga terang benderang. Kita bertatapan, kita
tersenyum, lalu kita bercerita tentang indahnya cinta. Bulan ikut
tersenyum, Sayang. Malam ini aku ingin seutuhnya di dekatmu -- memelukmu
dalam hangatku -- menemani bulan sepanjang malam dalam cerita-cerita indah
yang dia kidungkan.
Ah, sekonyong-konyong bulan
meredup -- awan hitam datang menutup segala warna -- kita terpekik dalam
diam. Jangan kamu menangis,
Sayang! Biarkan bulan itu pergi dibawa awan hitam -- relakan saja --
meskipun kita tak tahu -- entah berapa lama lagi kita kita bisa mengulang
saat seperti ini -- menatap rembulan purnama di pelataran alam --
bercengkerama -- mengagumi keindahannya-- berbagi rasa... Ah, kenapa
mataku jadi berkaca-kaca?? Aku sedih bukan karena purnama meninggalkan
kita, tapi karena kamu ikut meluapkan air mata.
Sudah... kita sabar saja menunggu rembulan kembali. Dia pasti
datang dengan senyum yang lebih indah, meski entah berapa lama lagi dia
kembali.
Sayang... aku lupa satu hal yang
ingin kuceritakan. Tentangku. Tentangku yang usang di sudut bumi --
tentangku yang berani mengajakmu melarikan diri dari luasnya gurun yang
terik -- tentangku yang hanya mampu membanggakan nestapa -- tentangku yang
legam diantara pijar-pijar kemewahan -- tentangku pula yang tak punya
keberanian mendobrak dinding di belakang hatimu.
Tapi aku bangga -- aku masih punya cinta. Apa kamu percaya dengan cinta, Sayang?? Aku sendiri belum
begitu yakin -- apakah cinta ini mampu menghidupiku ditengah kejamnya
waktu. Aku kadang tertawa sendiri – menertawakan nasibku -- namun, meski
ditertawakan nasib itu akan tetap menangis dan menangis hingga lautan
berubah menjadi kubangan air mata. Tapi itu tak perlu disesali bukan?? Aku
hanya mampu berusaha, meski pada akhirnya Tuhanlah yang mengaturnya.
Atau kamu yang telah menyesal karena telah mengenal aku? Karena aku
memang tak sehebat yang kamu kira. Bukan
aku tak mensyukuri -- tapi aku memang tak patut membanggakan diri dan
memang tak ada yang bisa aku banggakan. Aku hanya ingin menjadi bumi,
tegar tapi tak angkuh -- kelam tapi berpendar mimpi. Aku telah lelah
terpuruk dalam tangis yang panjang -- kuharap kamu tak semakin membuatku terpuruk, terajam, lara
dan pedih yang menghabiskan sisa-sisa darah di jantungku. Aku ingin
sebebas udara -- terbang terapung -- berdiam dimana saja --
mengekspresikan diri, wujudkan inspirasi -- seperti aku ingin memberimu
sesuatu yang lebih jika aku mampu memberikannya.
Kemarin, sekarang ataupun besok
adalah rangkaian waktu yang musti kita lalui. Kemarin adalah sebuah
kenangan -- yang pahit dan yang manis -- maka jangan terjebak oleh
kepahitan silam yang mengiris jiwamu atau terlena oleh keindahan masa lalu
yang belum tentu akan kita dapatkan hari ini dan esok. Hari ini adalah
kenyataan -- kenyataan yang mau tak mau musti kita rasakan -- apa yang
kita perbuat hari ini, maka itulah yang terjadi, dan hari ini akan menjadi
kenangan pada esok hari. Setelah
hari ini masih ada esok menanti -- esok adalah perjuangan -- esok harus
lebih baik dari hari ini, meski tak semua orang bisa melakukannya.
Sungguh, aku tak ingin kamu layu dalam kekelamanku. Aku ingin bangkit bersamamu -- menghapus kesedihan dan air matamu -- menepiskan duka yang membayang dipelupuk matamu. Harapan akhir dari cerita ini adalah kebahagiaan, kedamaian, ketentraman dan segala keindahan seperti bias pelangi di bawah gerimis rintik-rintik itu.
Ya Gusti Allah -- kugantungkan
s’gala hasrat dan harap ini hanya Pada-Mu....
20 Mei 2003 – Once Upon A Time...
|
|
|
supported by :: frontpage :: flash mx :: mai-pc :: kalma :: xx inspirations :: kes4an :: our dreams :: bluesky ::. |
|
© mimpi kita creative design :: [email protected] |