:: BACK ::

Koleksi Puisi    by : One


 

LETIHKU

Letih terapung di bilik sang rembulan

teronggok ditebing-tebing suram

hingga kau mencerca dengan kata-kata

peluh bahasa dari ujung bumi yang hitam

dan aku tak bisa memaknainya

meski setitik tercurah

 

Lengking suaramu mendirikan bulu kuduk

memenggal kesunyian yang hendak menabur benih

rindu terasing di kubur batu

memeluk nisan tua berlumut hijau

sesuram langit malam

terpanggang api dari seringai mulut-mulut bisu

 

aku menangis

tepekur di pucuk senja yang sepi

mendaki lereng-lereng waktu

melukismu di kanvas usang

berharap suatu waktu nanti

kau datang dengan mata bersinar

mencurah asa

untukku...

 

TERPISAH

lalu, warna putih itu 

tiba-tiba berubah menjadi warna pelangi yang indah

tersembul dari balik awan yang keperak-perakan

 

Sungguh takjub kupandang dari cakrawala hening ini

meski aku tahu tak kan bisa menyentuhnya

karna aku sendiri tak tahu dimana tempatnya

 

Tapi cukuplah aku menatapnya

agar dia bisa menemaniku disini setiap waktu

merajut benang-benang harapan masa depan

 

 

BESI TUA

Bukankah aku sudah menggelarnya

di separuh malam, di ujung gelisah nafasku

di tepi wajah angin, di sisi kilatan pisau-pisau tua

hingga sesuatu yang nyata terkapar

melelehkan air mata

 

 

Sekujur besi tua itu hanya bisa meratap

Diguyuri hujan tiap malam menjelang

Aku telah mengenalnya lama

lama sekali

dan sampai saat inipun

dia masih teronggok dan tercampak

sebagai rongsok besi tua

yang tak pernah ada guna

 

 

 

SAHABAT

Andai di mulutmu masih ada lidah

maka bicaralah

agar misteri kehadiranmu ini nyata

dan aku sanggup mengenalmu

seperti aku mengenal sahabat-sahabatku

 

Andai kau masih bisa tertawa

maka tertawalah

agar kekosongan di matamu itu sirna

dan aku tak mencegah kedatanganmu

untuk menemani langkahku

 

 

KEMATIAN KOSONG

Telah ditakdirkan manusia itu harus mati

harus meninggalkan ini dunia

meski hati berat melepaskannya

 

Seperti juga dirimu

sekonyong-konyong meninggalkan impian

impian kita.  Yang dulu kita tulis di prasasti

Dan kini kepergianmu meneteskan airmataku

meloloskan benih bahagia yang mulai tumbuh

 

Tapi itulah takdir

dan aku harus patuh padanya

meski entah sampai kapanpun

aku tak kan pernah bisa menganggapmu

telah mengalami kematian

 

 

 

 

 

 

 

 

SEMU

Sekedar basa basi

cintamu merayuku

menghibur di kesedihanku

membuang letih dan penatku

 

Karena,

saat aku mulai mencintaimu

dan menerima kekuranganmu

engkau kabur

meninggalkanku sendiri

penuh luka dan darah

 

BILA ENGKAU BOSAN

Bila engkau bosan menungguku kembali

maka tinggalkanlah aku sesuka hatimu

sebelum engkau menyesal

karena pesonaku yang menguasaimu

 

Bila engkau bosan merasai cintaku

maka jangan pernah memandang luasnya samudra

karena hatimu tak kan sanggup menampung cintaku

kecuali luasnya samudra itu

 

RATAPAN MALAM

Mimpiku dirajam tandusnya jiwa

dipagut angin berkali-kali

hingga bibirku kering meratap ratap

memanggil nama Tuhan

yang semakin renta di kalbuku

 

Negeri ini asing.  Menyeretku ke tepi jurang

hatiku tersayat.  Mata-mata sayu menatapku

dan aku tak punya alibi lagi

untuk kabur dari vonis alam yang kejam

 

Duh, langit yang biru

mataharimu tak seterang kemarin

saat gelap hati mendera

 

Cabut saja nyawaku, Tuhan !!

agar keterpurukanku ini

tak menjadi virus yang mewabah

di muka bumi

 

 

 

 

DISINI

Disini

Kamu tahu aku sendiri

Tapi tak ada niat sedikitpun di hatimu

untuk menemaniku

menyusuri tepi-tepi hari

 

Kembali aku menapakkan langkah

Pada batu dan tanah

Pada jantung dan darah

 

Seperti dulu...

aku ingin menikmatinya

saat-saat yang indah

 

Tapi kini telah ada yang berubah

Warna langit, gerimis yang tumpah

Menghujam tak terjamah

 

Aku tak ingin menghitung

Lamanya tetes-tetes ini mencari ujung

 

Begitulah... setiap yang kulalui, ingin kuciptakan keindahan. Ingin sekali.  Agar tak ada ujung yang bisa melukainya.  Seperti angin yang setiap waktu tak lelah berhembus.

 

 

Ada yang ingin kuceritakan

Sebenarnya....

Tentang kalut hati di ambang senjakala

Mencumbu pekat

Jemari ingin menggapai

Entah apa?

Tapi Kerinduan mengatakan kenyataan

Kesendirian yang jalang

Mengobrak-abrik keheningan

 

Aku disisi yang mana?

Rencana hanya keletihan

Menggusur nadi di sungai darah

Kapan lukisan ini selesai

Sampai aku tak gagu lagi

mengucap sajak sunyi yang memudar



:: back ::

supported by :: frontpage :: flash mx :: mai-pc :: kalma :: xx inspirations :: kes4an :: our dreams :: bluesky  ::.

© mimpi kita creative design :: [email protected]

Hosted by www.Geocities.ws

1