|
|
|
|
|
Koleksi Puisi by : One |
|
|
|
|
PENCIPTA
MIMPI Aku
terlelap diselubung malam gemetar
nafasku mengalir menciptakan
mimpi lalu
mengantarkan ke altar persembahan sebagai
tumbal ruh-ruh sepi Jidatku
memekat isinya
berhamburan ke penjuru langit Ah,
jiwaku hampa sanubari
berlara duka dan
aku tak lagi bisa mencipta
mimpi-mimpi karna
malam tlah terjaga APABILA
JALAN-JALAN ITU BUNTU Apabila
jalan-jalan itu telah buntu Lalu
kemanakah kaki ini melangkah padahal
sama sekali belum tercipta arah Apakah
berlayar ke Samudera Pasifik? Menjadi
nelayan pinggiran Yang
tak pernah risau dengan segala ancaman Ombak
dan badai serta kedinginan Apakah
melancong ke Paris? Mengagumi
menara Eiffel yang menjulang tinggi Hanya
mengagumi Karena
kita tak pernah punya mimpi setinggi itu Apakah
menjelajahi negeri Paman Sam? Merasakan
meriahnya bar-bar genit dengan siraman whisky Menyabung
harta di meja casino yang gemerlap Meskipun
nyatanya, Kita
tak pernah menyabung hati kita sendiri Memilah
gelap dan terangnya Ataukah
kita menjadi diri sendiri Yang
mampu menghargai suara hati Bukan
sekedar mendengarkan lalu dicampakkan Apabila
jalan-jalan itu benar-benar buntu Adakah
jalan lain yang mampu kita tuju? MUSIM Di
sini tak ada banyak musim Musim
semi, musim gugur atau hujan salju Hanya
ada dua musim yang tak tentu Musim
hujan empat bulan Dan
musim kemarau delapan bulan Berkepanjangan Ah,
tapi kini bertambah lagi satu musim Musim
merah yang memang merah Ketika
darah tertumpah dalam resah Karena
hati telah mati tertusuk duri DUA
DUNIA Seandainya
aku bisa ingin
kutahan langkahmu disini, disisiku karena
aku belum siap untuk sendiri sendiri
menantang sepi dan halusinansi Seandainya
aku mampu tak
kan kubiarkan kau terbang tinggi karena
tanpamu aku lemah, hampa
tak berdaya Tapi
kuakui kutak mampu mendekapmu
dalam rengkuhku selamanya saat
Dia menginginkanmu kembali meniti
lintasan yang musti dilalui melepaskan
ruh dari jasadmu Kurelakan
dengan airmataku karena
ada kenang yang tergurat lekat kepergianmu
adalah saksi terakhir hatiku
yang tlah terjerat pesona hatimu TEMBANG
LARA Letih
jiwa ini mengendarai
kebimbangan Melintasi
dimensi asing Hutan,
belukar serta terjalnya lereng-lereng gunung Mendaki
keyakinan yang pucat Menoreh
lara kembali Melukis
wajah sendiri Dalam
semu bayangan tak berbingkai Kau
siksa aku dengan pekat Kau
lelehkan darahku dengan sembilu Sesungging
senyum hambar Diambang
pergimu Dan
aku tak bisa menemukan hatiku lagi Di
bening bola matamu TINGGAL
MENUNGGU WAKTU Lengkaplah
sudah, Suara
kidung menggema di kesenyapan Itu
lagu sumbang dari bibir-bibir khayalan Menengadahkan
kedua tangan Menangkup
samar janji bumi Yang
tlah renta terseok-seok Dari
malam ke malam Cukuplah
sudah, Mata
ini menangis Kata-kata
terkhianati Janji-janji
terpenggal Esok
hanya sebuah mitos Karena
hari ini dia tlah mati hari ini Dengarlah,
nafas tersengal-sengal Tinggal
menunggu ajal
25 Juli 2003 LADANG
PEMBANTAIAN Pernahkah
kau merasakan perih? Seperti
perih hati mereka di ladang pembantaian Menguras
darah, hingga jantung pecah Tenggelam Terkapar Tergeletak
pasrah Saat
ruh dan jasad memisah Apakah
selamanya peperangan adalah pembantaian? Ah,
siapa yang bisa menjawabnya, Tanyakan
saja pada tubuh-tubuh kekar disana Yang
tak merasa punya dosa Ketika
jari telunjuknya menarik picu senapan, dan Setelahnya
terdengar suara melengking perih tertahan Dari
gubuk-gubuk perdamaian
25 Juli 2003 CINTA Cinta... Dia
datang tanpa pernah kau mengundangnya Dia
menjelma tanpa pernah kau memuja Dan
kau katakan... Cinta
itu harapan dan keindahan Cinta
itu kebahagiaan Dia...
cinta... Awal
dari mata, kau melihatnya merasuk
ke hati dan kau rasakan getarnya memenuhi
rongga sanubari menghangatkan
kelam mimpi mendebarkan
jantungmu memekarkan
kuncup-kuncup bahagia sampai
kau pun tak bisa mengungkapkan
dengan jalinan kata-kata Ah,
betapa indahnya kau rasakan cinta memberimu
semangat mencairkan
kebekuan mendamaikan
pertikaian melukis
setiap khayal di pikiran Namun... Ketika
dia pergi menyisakan perih tak terperi Ketika
dia lenyap meninggalkanmu dalam senyap Akan
kau katakan... Cinta
itu kebencian dan kehancuran Cinta
itu keputusasaan Serasa
henti denyutan jantungmu Serasa
terlolosi tulang belulangmu Serasa
gelap setiap kau tebarkan pandangan Sehingga... Airmata
pun mengalir tak kuasa dibendung Memerihkan
luka Membinasakan
tunas-tunas asa Apa
sesungguhnya CINTA itu?? 28 July 2003 TERUS
TERANG Terus
terang, aku
sudah berterus terang bahwa
aku telah berterus terang denganmu tentang
sebuah keterusterangan yang
membuatku harus berterus terang Tapi
sudahkah engkau berterus terang? bahwa
ternyata engkau tak pernah berterus terang ketika
keterusteranganku ini membutuhkan
keterusteranganmu Ah,
ayolah kita berterus terang! PERCERAIAN
HATI Lalu, Kita
menangis dengan kenyataan ini Kenyataan
yang entah dibuat siapa yang
jelas... hati
kita telah retak mimpi
kita telah terhenyak Sebab
kebohongankah karenanya atau
ketidakpercayaan yang menggerogoti hati? Tak
perlu sedu sedan menangisi kenyataan Tak
perlu isak untuk meratapi penyesalan Perpisahan
ini bukanlah akhir segalanya Tidak
menjadi kekasih, bukankah
kita masih bisa menjalin persahabatan? PERSELINGKUHAN Tentu
saja, aku
sungguh ingin mencintaimu bahkan
juga menyayangimu menjadi
kekasih hatimu menemani
bahagiamu menjadi
penyejuk diatas dukamu Tapi
tolong beri aku jawaban, mengapa
masih ada ragu melintasi hatiku setiap
ingin kuyakinkan... bahwa
kaulah kekasih itu bahwa
kaulah dambaan itu Dan
tanya serta ragu itulah... yang
membuatku tak bisa menolak saat
hatiku terjebak dalam perselingkuhan membawa
hatiku berlari menjauhimu melupakan
cintamu dan menghapus kenangan meski
aku juga tahu... bahwa
kau akan menangis setelah itu Ah,
salahkah aku berbuat itu sementara
ragu itu bisa saja membunuhku setiap
waktu.... 28
July 2003 ; stlh kita tergores pekat
ini diam dan terasa beku karena
angin memukul-mukul peluh jidatku lain
dengan mataku yang berkaca-kaca menangisi
kota ini yang dirundung sepi juga
goresan luka yang terus membuka di
wajahnya dan jantungnya Tergambar
jelas sendu
itu membekas di hamparan langitnya tak
seperti pijar lampu di sudut-sudutnya yang
meneriakkan kosakata baru tentang
gemerlapnya kota metropolitan Dipojokan
jalan dekat gedung bertingkat megah anak-anak
jalanan terkekeh-kekeh menertawakan
nasibnya matanya
kosong, menatap mobil-mobil mewah terparkir
rapi di pelataran hotel bintang lima Di
setiap gang jalan yang temaram gadis-gadis
malam bergincu tebal bersandar tertawa
kecil membangkitkan birahi membusungkan
dadanya setiap
kali ada makhluk yang namanya lelaki berjingkat-jingkat
melintas dihadapannya Di
pinggir-pinggir jalan, di pusat keramaian beraneka
orang menyabung hidupnya warung
tenda, nasi kucing atau apalah namanya juga
pengemis-pengemis dekil yang
tak lelah mengais rejeki di trotoar lampu merah Di
tengah-tengah lapangan yang menyemut diterangi
lampu merkuri dari setiap sudut berpasang-pasang
remaja menghabiskan waktu setiap malam juga
para pengangguran yang tak takut jemarinya luka setia
memetik gitar lusuhnya berharap imbalan sekeping receh memenuhi
plastik bekas bungkus permennya Sementara
di gedung-gedung itu dimana
orang-orang berjas dan berdasi mewah tinggal mengalirlah
kata-kata tiada henti merencanakan
pembangunan, meratakan kemakmuran dan
segala tetek bengek rencana tak terencana yang
pastinya tak kan pernah di dengar dan dirasakan oleh
para penghuni lusuh di bawah jembatan itu Ah,
kotaku... haruskah
aku menyanjungmu atau menghinamu dikala
aku tak punya pilihan untuk itu Aku
ingin menutup mataku agar
tak melihat kesenjangan itu Aku
ingin menutup telingaku agar
tak mendengar pergunjingan itu Tapi,
haruskah aku menutup hatiku sementara
hatilah yang paling berkuasa melihat
meski mata tertutup mendengar
meski telinga tuli TENTANG
AKU aku
lelaki yang
hidup karena
setetes air mani bapakku, yang
ditanam dirahim ibuku KECEWA kecewa
ini resah lagu
ini sumbang mimpi
ini ilusi kau, beriku
kecewa hingga
resah ini mengidungkan
lagu sumbang didalam
ilusi mimpiku 28
July 2003 PUTUS
CINTA Sepertinya
sudah duapuluh satu kali Aku
jatuh dan bangun dalam kekecewaan Ketika
aku mencoba Meraih
manisnya cinta Hati
seorang wanita, Sungguh, Penuh
misteri dan lelikuan Yang
sulit kupecahkan! 30
July 2003 AIRMATA
KITA Jika
saja aku mampu membiarkan
wajah sendumu bernaung
di bawah kelopak mataku, akan
kulakukan itu Agar
aku punya teman meruahkan
airmataku seperti
wajah sendumu yang kelam menusuk-nusuk
jantungku Tapi
ternyata, ratapan
kita tak lagi ada yang mendengar dan
merasa, kecuali
kita, kita
sendiri
30 July 2003 KEPADA
ANGIN Bolehkah
kuminta lagi dengusmu
yang merambati pepohonan? seperti
kemarin agar
tak ada yang mengataiku lagi
: kau tlah mati !
LUKISAN
KACA Aku
mengenalmu dari lukisan kaca yang
tergantung di tembok kamarku
: kau sombong
kau angkuh
kau kehilangan
jatidiri Matamu
selalu nanar menatapku setiap
kutolehkan kepala ini melirikmu
: kau pengecut
kau lemah
kau pendosa
kau... Kutatap
sekali lagi wajah di lukisan kaca itu bukankah
itu wajahku?! tak
salah kiranya, lihat
ada lubang menganga dihatinya seperti
hatiku...
30 July 2003 KADO
ULANG TAHUN hari
ini kau ulang tahun lagi entah
yang keberapa yang
pasti ku tak pernah lupa memberimu
sebungkus kado
:sekepal hatiku
30 July 2003 |
KISAH
I kau
pernah kuberitahu sebuah
rahasia jika
aku pernah jadi pembunuh pembunuh
cicak yang menggerogoti otakku dan
cicak itu? kau!! KISAH
II Senjakala
ini tak lagi berarti seperti
dulu saat kita sering habiskan waktu di
bawah rona jingganya yang manis Kau
tlah patahkan hatiku ketika
aku ingin mencintamu
LELAH malam gelisah diujung
penat :aku
tertidur dibawah gubukmu yang pekat
30 July 2003 PANTAI
I pada
pantai ini kulemparkan
sauhku dalam-dalam agar
kau tahu aku
tak berpura-pura ingin
singgah di dermagamu PANTAI
II hutan
bakau ini masih seperti dulu saat
pertama kali kutaklukkan pantaimu merimba
dan asing kini
aku akan mengambilnya kembali
:separuh jiwaku yang
terdampar di karang terjalmu API
DAN AIR Api
sering ditakutkan Air
sering diremehkan akan
kengeriannya Tetapi, apilah
yang harus takluk saat
mereka dipersatukan TAK
ADA LAGI aku
dengar rajukmu, kekasih tapi
masih adakah ruang tersisa di
hati dan harapanku untuk
pengkhianatanmu? KEMATIAN
I Doa
tergenang di batu-batu nisan peti-peti
merapuh tulang-tulang
jadilah saksi gugurnya
kamboja putih di
penghujung cakrawala Lalu
terkirim cerita lewat
desir angin menghembus :mereka
mati muda KEMATIAN
II sudahkah
jiwaku tenang ketika
jasadku terkapar dihimpit
reruntuhan tanah? :dan
sepi tetap sepi di sisiku 30
July 2003 IKHLAS Seandainya
nyawaku ini bisa dibagi biarlah separuh
kuberikan untukmu karena
aku tak ingin kau
tinggalkan aku sendiri menyusuri
sepinya dunia tanpamu MISTERI
HATI kusaksikan
betapa jamaknya saat
engkau menghadiahkan senandung indah di
keheningan hatiku namun
saat kau torehkan luka di
sekujur jiwa cintaku betapa
kejamnya engkau melaraiku
TERIAKKU teriakku hanya
gaung tak berirama terlempar
dari jurang ke jurang menyusuri
hutan mengarungi
lautan tak
tertuju arah
karena suaraku
ternyata tak mampu
merobek dinding hatimu dan
suaraku hilang ditelan
kesenyapan KEPASRAHAN seputih
cintaku ini kini
hanya milik-Mu, Tuhan setelah
betapa lelahnya aku menyabungnya
dari hati ke hati tanpa
ada yang pernah bisa menyamai
cinta-Mu PERJALANAN ketika
sepasang elang terbang tinggi di
atas langitku ingin
kutitipkan kekerdilan jiwaku agar
bisa memandang luasnya ini dunia dengan
sorot matanya yang
bisa meruntuhkan awan ;dan
setelahnya aku tak bisa kembali lagi NASEHAT
ALAM bukankah
telah dibukakan matanya agar
melihat yang kasat mata bukankah
telah dibukakan hatinya agar
melihat apa yang tak nampak DIAM lidah
ingin berucap mata
ingin melihat telinga
ingin mendengar hati
ingin merasa
tapi
telah terkuncilah pintu
dan jendela sampai
pekat dan penat ini mereda REHAT jika
kau resah, berkatalah meski
kata-kata bukan lagi sebuah jimat yang
mampu membersihkan karat, tapi
setidaknya sanggup
memberimu keyakinan bahwa
hidup adalah amanat ;dan
kau perlu rehat dari sesat SILUET
REMBULAN RETAK Rembulan
retak, Sayang seperti
tangismu yang menyesakkan mengukir
malam yang getir lalu
terbanting jadi puing-puing Rembulan
retak, Sayang hentikan
tangismu agar aku tak terisak lihatlah,
dimatamu
masih ada bintang-bintang yang
sanggup menggantikan rembulan meski
hanya untuk malam ini ya,
malam ini saja
30 July 2003 SAJAK
PAGI kukulum
sejuknya pagi kucumbu
embun di ketiak hari kunikmati
geletar pijar mentari ;entah,
kemana hatiku pagi ini SETELAH
HILANGMU kurayumu dalam
dekapku kuciummu dalam
hangatku kurindumu
dalam
gelisahku kemudian
separuh hatiku hilang bersama
pergimu tanpa
mengucap selamat tinggal pada
kesendirianku
;kini sepi yang kucumbu 30
July 2003 KEBIMBANGAN
1 resahku
sebenarnya, adalah
kekalutan hati saat
saksikanmu berserak dengan tangis
hingar bingar perasaan
jadi mencekam
dipenggal getir rasa
bimbang tak bisa disela apakah
ada keyakinan pada
hadirku sedangkan
ada luka menganga disekujur
tubuh dan jiwaku KEBIMBANGAN
2 legam, nurani
mendadak kelam kaku, bercampur
air mata beku tergores
sepi yang diam menelusuri
sayu wajah malam lalu
turun ke bukit-bukit yang
dipenuhi batu nisan KEBIMBANGAN
3 selepasku
tanyakan kebimbangan, ada
yang terjawab meski
hanya separuh kata tak
bisa dimakna
ragumu perih
seperti raguku
hatimu sakit
seperti hatiku tapi
kita tinggal menunggu takdir dijemput
kematian KEBIMBANGAN
4 cinta
pernah berkata, “sudah
aku anugerahkan sesuatu yang indah agar
kalian hidup dalam kehidupan” kini
cinta berkata, “terpaksa
aku alirkan darah karena
kalian tak searah” ;lalu
kita menagis tanpa air mata KEBIMBANGAN
5 dan,
ketika
rindu ini usang aku
tuliskan kata dilipatan hati :ragu!! KEBIMBANGAN
6 waktu
kusadar dari laraku kau
tlah jauh berlari meninggalkanku dalam
sendiri
all:01agust03 TANPA tanpa
tanya kita
tak pernah bisa menjawab tanpa
sebab tak
kan ada akibat tanpa
rasa tak
kan pernah ada cinta RINDU tangis
ini adalah
rindu tawa
ini adalah
nafsu dan
ketika aku dipaksa tertawa membuatku
ingin meluapkan tangis
;rindu sejuk-Mu ISTANA
PASIR 1 dengan
sekeping cinta aku
ingin membangun istana di
atas kegersangan saharamu seperti
kau yang menjadi bintang di
atas gelap malamku ISTANA
PASIR 2 saat
aku menemukanmu di
pinggir karang dikelilingi ombak aku
sedang membuat patung seorang dewi dengan
pasir putih di pantaimu yang
sunyi
01 agust’03 MALAM
MILIKKU larutku
dalam angan berserak mencumbui
bintang teman
malam kuyu angin
datang tersipu membelai
rambutku yang
berkibar ke langit temaram
rembulan bersinar layu mengepung
sekujur kesendirianku menegaskan, bahwa
anasir malam ini adalah
utuh milikku SAHABAT aku
punya keindahan seorang
sahabat yang akrab dengan
malam dan siangku dan
hari ini, ketika
hujan melandai negeriku ia
datang dengan sepelepah daun pisang meneduhkan
kelamku
02 agust’03 PERADABAN
YANG BERLARI jiwaku
hengkang dari peradaban memahat
patung-patung sunyi menengadahkan
doa hampa dalam
diamku yang gelisah mampukah
kuguratkan relief nasib pada
tiap kelopak mata sayu di
sepanjang kanal hatiku sementara, aku
sudah tak bisa lagi melihat
isi duniaku sendiri
9 Agst 03 PERPISAHAN Terakhir, Terucap
lirih dari kelu lidahku Sepatah
kata perpisahan Meski
terasa enggan menahan bathin Tapi, Kepergianmu
tlah jadikanku dewasa Saat
di stasiun ini kumampu menahan tangisku Biarlah
rel-rel tua itu yang menjagamu Sampai
aku menjemputmu kembali Di
peron tua ini
14 Agust 03 JANGAN
LAGI Jangan, Jangan
kau ambil lagi separuh hatiku Kemaren
aku telah kehilangan sebelah Karena
lelugut di matamu Kau
tabur di wajahku SAKIT Darahku
meruah Waktu
kau cabut cintamu Dari
ladang hatiku
DEKAT rasailah
semua rasaku agar
aku mampu menjamah sukmamu dekat
dengan hampaku
14 Agust 03 SENJA
YANG DIAM pasir
terhanyut diseret
riak gelombang di tepi pantai dan
aku sendiri menatap mentari tenggelam dalam
senja yang diam
15 August 2003
|
|
supported by :: frontpage :: flash mx :: mai-pc :: kalma :: xx inspirations :: kes4an :: our dreams :: bluesky ::. |
|
© mimpi kita creative design :: [email protected] |