|
Suasana
di rumah itu sunyi senyap. Yang terdengar hanyalah suara nyanyian jangkrik
di kebun dan suara orang bercakap-cakap. Sinar bulan yang bersinar lembut
menerangi teras rumah keluarga Hermawan. Tampak dua orang insan sedang
bercakap-cakap dengan suara penuh ketegangan.
"Apa..apa maksudmu,Theo?" tanya Vina dengan nada penuh dengan
ketidakpercayaan. Rasa takut mulai merambatinya, rasa takut kehilangan
yang mulai menyebar ke seluruh tubuhnya.
"Aku ingin kita putus..aku merasa di antara kita sudah tidak ada lagi
kecocokan." Jawab Theo lirih. Bermacam-macam emosi memenuhi pikiran
Vina.
"Tidak cocok...lelucon apa ini Theo? selama 2 tahun kita bersama,
kita bisa mengatasi masalah dengan baik. Tanpa banyak cekcok, tapi
sekarang..tanpa alasan jelas kamu ingin kita putus?" suaranya tampak
bergetar sekarang "..dan aku masih sayang kamu Theo.."
Tidak tahan melihat, Theo mengalihkan pandangannya dari mata yang
berkilauan bagai permata itu. "Maafkan aku Vin, tapi kita tidak bisa
bersama lagi."
Setelah mengucapkan kalimat itu Theo mulai beranjak dari tempat duduknya
menuju tempat kendaraannya diparkir.
"Theo, jangan pergi, tolong katakan apa salahku, aku..aku akan
berusaha memperbaikinya, tapi kumohon...jangan pergi...a..aku sayang kamu."
Seru Vina. Air mata mulai mengalir di kedua pipinya yang halus."
Akupun masih menyayangimu Vin, tapi maaf...kita tidak bisa bersama lagi.
Maafkan aku Vin, maaf.." sahut Theo lembut dan beranjak meninggalkan
Vina menangis di keheningan malam.
***
Kenangan akan malam itu masih terbayang-bayang dalam ingatan Vina,
meskipun kejadian itu sudah berlalu sebulan yang lalu. Di kamarnya Vina
tampak melamun, pandangan matanya tampak menerawang.
"Vina."
Teguran Mia sahabatnya cukup ampuh untuk menariknya dari dunia khayalnya.
"Hoi, ngelamun aja. Mikirin 'dia',ya? Ngapain sih masih kamu pikirin?
orangnya aja nggak ada." cerocos Mia begitu masuk kamar Vina.
"Ah, nggak kok, siapa yang mikirin? orang lagi mikir." sahut
Vina.
Binar-binar jail di mata Mia kini berubah serius "Kamu nggak usah
bohong sama aku Vin, aku tahu kamu masih mikirin Theo. Aku tahu hatimu
sakit gara-gara Theo, tapi itu bukan salah Theo. Dia Cuma mau jaga
perasaan kamu, dia cuma mau kamu nggak sedih dan hancur. Jangan salahin
Theo"
Pandangan mata Vina mulai berubah, "Kenapa kamu bicara seolah-olah
kamu tahu penyebab putusnya kami? Apa kamu memang tahu kenapa Theo mutusin
aku?"
Mimik wajah Mia tampak berubah, rasa bersalah tampak di wajahnya.
"e..enggak, aku nggak tahu kok"
Pandangan curiga memancar dari mata Vina.
"Jangan bohong Mia, kalo kamu tahu tolong kasih tahu aku. Aku ini
sobatmu, aku cuma ingin tahu tentang Theo. Setelah putus denganku dia
menghilang Mia. Tolong..kalau kamu tahu, kasih tahu aku."
Tampak sekali Mia sedang mengalami pergolakan batin.Setelah beberapa saat
dia berfikir.
"Oke,kalau gitu aku ingin kamu ikut aku ke suatu tempat. Dan aku
ingin kamu tabah, kuatkan juga hatimu."
Selesai bicara begitu Mia bangkit berdiri, "Ayo"
Mengikuti Mia dengan pikiran bingung Vina bertanya, "Kita mau kemana?
apa kita mau ke tempatnya Theo?"
Tapi Mia mengemudi dalam diam.
***
Panther yang dikendarai Mia dan Vina memasuki parkiran sebuah rumah sakit
swasta. Dengan bingung Vina memandang sekelilingnya
"Mau apa kita disini?" tanyanya setelah mereka turun dari mobil.
Mia memandangnya dengan tatapan prihatin.
"Theo sebenarnya bingung Vin, dia sudah memikirkan masak-masak ketika
hendak memutuskanmu.."
"Tapi,apa hubungannya dengan tempat ini?" potong Vina
"Dia sering curhat denganku mengenai masalah ini,“ lanjut Mia tanpa
memperdulikan omongan Vina. “Semakin lama tubuhnya semakin lemah
sehingga ia memutuskan untuk membebaskanmu, agar kau dapat memilih orang
yang lebih layak darinya."
Mata Mia tampak tajam menatap wajah bingung Vina.
"Apa..apa maksudmu? aku nggak ngerti?"
Perlahan Mia berkata, "Theo..Theo kena kanker,Vin."
Pikiran Vina mendadak macet. Kanker..kanker.. kata itu terngiang-ngiang
terus di telinganya.
"Ayo,kita masuk," ajak Mia suram.
Dengan kaki gemetar Vina memaksakan diri untuk berjalan mengikuti Mia.
Theo sedang berbaring di salah satu kamar di rumah sakit itu. Dia tampak
sangat kurus dan pucat, sampai Vina merasa ia salah mengenali orang.
"Vina.." suara Theo yang serak membuyarkan lamunan Vina. "Vina..maafkan
aku, maaf kalau aku sudah begitu melukai hatimu.."
Mendekati ranjang Theo, Vina dengan lembut berkata, "Nggak apa-apa,
aku senang sudah bertemu kamu lagi. Aku sayang kamu Theo."
Air mata mengalir keluar, membasahi kedua pipinya.
"Jangan..jangan menangis, aku tidak tahan melihat kau menangis."
"Nggak..aku nggak nangis kok." ujar Vina seraya menghapus air
matanya.
"Aku akan mati Vin, kumohon pergilah...aku tidak mau melihatku mati."
"Nggak, aku nggak mau pergi, aku akan selalu di sampingmu Theo..ingat
itu selalu di sampingmu.."
Tapi Theo sudah tidak mendengar lagi, matanya menutup, wajahnya tampak
damai.
"Theo..Theo buka matamu! Ya, Tuhan! Suster! Mia! Theo..!!"
tangisan ketakutan mengguncang seluruh tubuhnya yang mungil.
Tapi semua sudah terlambat, Theo sudah pergi, meninggalkan Vina yang
menangis histeris.
|