|
AKU
memang punya kebiasaan yang ganjil. Bila cowok lain menjadikan Sabtu malam
sebagai waktu keramat untuk mengunjungi cewek tersayang, waktu keramatku
justru Selasa malam.
Nggak tahu kenapa. Mungkin hanya sekadar sok antikemapanan. Aku sering
bertanya pada diriku sendiri, memangnya ada apa dengan Sabtu malam? Apakah
pada saat itu malaikat Cupid beterbangan sambil membawa lebih banyak anak
panah dari hari-hari biasa, sehingga siapa pun yang berduaan pada malam
itu akan memiliki peluang 30% lebih besar untuk jadian?
Intan bilang aku nggak romantis dan selalu nyari-nyari alasan biar bisa
beda sama orang lain. Mungkin itu betul juga. Yang jelas aku memang sama
sekali nggak percaya pada Sabtu malam. Tuhan menciptakan tujuh hari dalam
seminggu. Kalau hanya untuk spent time berdua sama seseorang, hari
mana pun sama saja. Nggak ada bedanya sedikit pun.
So here I am again, at Selasa malam di rumah Intan. Aku membelokkan
skuterku melintasi pagar pekarangan dan berhenti di depan beranda. Orang
lain biasanya memarkir kendaraan di pinggir jalan di luar sana. Aku beda.
Aku sudah punya hak untuk masuk tanpa kulonuwun hingga ke dalam
jauh sejak aku masih jadi teman dulu. Dan sejak jadian dengannya, aku bisa
masuk rumah bahkan tanpa bilang “kulonuwun” atau ketuk pintu dulu.
Malam ini juga. Tapi aku agak kagok karena Pak Seno ternyata lagi
nongkrong baca koran di sofa panjang tempat Intan dan aku biasa duduk. Ia
menoleh menatapku seperti memang sengaja menunggu kemunculanku.
“Lagi disuruh ibunya beli telur di supermarket depan situ,” ujarnya
tanpa ditanya sambil memberesi korannya. “Duduk saja dulu.” Aku
mengangguk, “Ya, Pak.”
Pak Seno ini orangnya ramah dan gampang akrab dengan anak muda. Sayang
kami jarang bisa ngobrol lama karena dia sibuk terus dengan tugas-tugasnya
sebagai dosen di Undip. Whatever-lah, yang penting dia nampak
oke-oke saja anak gadisnya kupacari.
“Bagaimana kuliahmu?” Lalu dia berinisiatif memulai perbincangan. “Lancar?”
“Lumayan, Pak. Masih banyak C-nya, tapi mending daripada kena D atau
E!”
Pak Seno tertawa pelan, “Sebenarnya kalau kamu sudah pacaran dengan
Intan sejak dulu, aku bisa pesankan satu tempat buatmu di Undip pas ujian
masuk, jadi kamu nggak perlu kuliah di swasta seperti sekarang.”
“Jangan ah, Pak. Kan KKN.”
“Betul, tapi kan hemat di ongkos. Sisa uangnya bisa dipakai untuk beli
motor baru atau komputer.”
Aku tertegun. Wah, betul juga!
“Tahun ini saya masih bisa ikut lagi, Pak.” Aku langsung bersemangat.
“Yang penting kamu tetap bisa jaga hubunganmu dengan Intan. Kalau pas
ujian nanti kamu sudah nggak ada apa-apa lagi sama dia, ya percuma.”
“Percaya deh sama saya, Pak. Biar pun nggak karena itu, saya tetap
sayang setengah mati sama dia. Janji!”
Pak Seno terdiam. Mendadak wajahnya jadi serius. Dahinya berkerut tajam.
Lalu ia mengangguk-angguk.
“Bagus,” katanya kemudian. “Karena itu yang ingin kubicarakan
denganmu sekarang.”
Aku juga ikut serius, “Maksud Bapak?”
Pak Seno nggak langsung menjawab. Ia menarik napas panjang, lantas
menatapku lekat penuh perhatian.
“Seberapa besar kamu ingin serius dengan anakku si Intan?”
Aku terhenyak sesaat, “Sa… saya kira saya sangat serius padanya. Dalam
arti, perasaan saya…”
“Dengar, ya? Mungkin ini kelihatan agak terburu-buru.” Pak Seno
memotong kalimatku. “Tapi aku berharap, kami berharap, agar hubungan
kalian segera diresmikan.”
Aku tergagap menelan ludah, “Apa, Pak? Diresmikan?”
“Keluarga besar kami memang masih agak kolot. Terus terang kami nggak
pernah bisa lihat dua orang berpacaran terlalu lama. Itu bisa menjurus ke
arah yang nggak-nggak. Nah, daripada ambil risiko, lebih baik langsung
saja menikah secepat mungkin selagi masih ada kesempatan.”
Aku seperti disambar geledek. Wajahku saat itu pasti pucat bukan main!
“Tapi, Pak…?”
“Bukankah semua hubungan cinta bermuara ke pernikahan? Bukankah apa yang
sedang kamu kerjakan dengan Intan suatu saat juga akan diarahkan ke sana!?”
“Ya, tapi nggak sekarang. Nggak secepat ini! Kami baru tiga bulan jalan
bareng. Saya masih semester dua kuliah. Intan baru kelas dua SMU. Kami
bisa apa!?”
“Kenapa takut? Cinta akan mengalahkan segalanya.”
“Itu omongan penyair. Saya bukan penyair!”
“Itu sebabnya tadi aku tanya apakah kamu serius apa nggak dengan Intan.
Sebab jika kamu serius, ya beginilah konsekuensinya. Kamu ingin diterima
di keluarga kami, maka kamu juga harus mau mengikuti aturan main di sini.
Dan aturan mainnya adalah… kami mau kalian berdua secepat mungkin
meresmikan hubungan kalian!”
Aku meneguk ludah lagi, “Tapi, Pak… saya… kami…”
“Pokoknya begini. Kalau kamu betul-betul serius sama dia, benar-benar
sayang sama dia, inilah yang akan kita bersama lakukan. Bilang pada orang
tuamu untuk datang kemari melamar Intan buatmu. Bulan depan aku mau kalian
sudah bertunangan. Dan dalam tiga atau empat bulan mendatang, kalian resmi
menikah. Soal biaya jangan khawatir. Kita bisa selenggarakan dengan
sederhana. Yang penting intinya.”
Sebuah sensasi yang amat kasar menggerayangi mukaku. Sementara sekujur
badanku lemas dengan tengkuk merinding hebat. Dan untuk pertama kalinya
setelah hidup belasan tahun sebagai cowok, aku pengin nangis karena
ketakutan!
“Tapi, Pak… saya sungguh belum siap untuk itu,” sahutku lemas.
“Sumpah Demi Tuhan, saya belum siap. Umur saya baru 19 tahun…!”
Pak Seno bangkit berdiri, “Memangnya apa yang kamu takutkan? Wong aku
jamin lamaran orang tuamu pasti kuterima dengan senang hati!”
Suaraku makin memelas, “Bukan itu…”
“Aku nggak mau tahu! Pokoknya begitu aturannya di sini. Kalau kamu
ragu-ragu atau nggak mau, lupakan kamu pernah kenal dengan Intan!”
Begitu habis kalimatnya, Pak Seno langsung berlalu dengan wajah mendongak
tinggi-tinggi ke ruang dalam.
Dan aku hanya bisa duduk terpaku dengan telapak tangan dingin berkeringat
dan aliran napas terasa sesak di dada.
Mimpi apa aku semalam? Menikah? Secepat ini? Apa dunia sudah gila!?
Rasanya aku sudah hampir semaput ketika melihat bayangan Pak Seno muncul
kembali dari dalam sambil menyulut rokok kretek. Ia duduk kembali
menghadapiku, lalu melempar sesuatu ke atas meja. Kulihat itu sebuah pita
kaset handycam.
“Ambil! Itu buatmu!” katanya, atau serunya, tetap dengan nada nggak
ramah.
Aku termangu heran, “Apa ini, Pak?”
“Ini tanggal berapa?” Pak Seno mengepulkan asap rokoknya.
“1 April. Memangnya kenapa, Pak?”
“Itu rekaman wajah panikmu barusan. Kamu punya satu kopi, kami juga
punya satu. Lumayan diputar kalau kamu dan Intan sudah tua nanti. Pasti
akan mengingatkanmu bahwa suatu saat dulu kamu pernah begitu histeris pada
kata ‘pernikahan’.” Tiba-tiba lelaki itu nyengir jelek. “Pernah
dengar istilah April Mop, kan? Hehe…”
Aku terpana. Lalu melotot. Lalu pengin menjerit, lalu pengin mengumpat…
[Cerita ini pernah dimuat dalam Antologi Cerpen “April Mop”].
|