|
|
|
| ::back |
:: cerita kita :: |
|
|
|
| Hancurnya Sebuah Asa by : One | |
|
Awalnya, kabar itu hanya aku anggap sebagai angin lalu yang tak perlu ditanggapi dengan serius. Sebentar lagi juga akan hilang seperti debu-debu di jalanan yang tertiup angin. Pasti semua hanya isu yang dilontarkan oleh orang-orang yang tak suka dengan hubungan kita. Kamu sendiripun tak pernah mengatakan padaku atau menunjukkan gelagat yang aneh-aneh. Aku masih percaya sama kamu. Karena dulu, dulu sebelum aku punya rasa, rasa cinta dan sayang kepadamu, kamu telah sanggup merayuku dengan senyum dan keceriaan dari wajahmu yang manis. Sampai akhirnya, aku mampu menumbuhkan perasaan itu, kemudian kita menjalani hari-hari yang indah dan penuh arti. “Aku sudah nggak sanggup lagi memendam beban perasaan ini terlalu lama, Mas. Aku sudah lama mencobanya, namun aku tetap tak bisa...” katamu suatu ketika, saat kita berada di sebuah pantai, pantai kenangan, dimana kita sering menghabiskan senja disana. Aku tak mengerti maksud kata-katamu. Aku hanya bisa menatapmu penuh tanda tanya. Mungkin kamu tahu arti tatapanku, sehingga kamu melanjutkan perkataanmu tanpa aku minta. “Aku tak mau dikhianati, Mas!” katamu seraya menundukkan kepalamu. Entahlah, tapi sekilas aku melihat bening matamu berkaca-kaca. Aku masih tak mengerti. Lalu aku merengkuhmu. Aku berusaha tetap tersenyum untuk mencairkan suasana. Tapi engkau semakin terisak. Aku terkejut dalam hati. Apa sebenarnya yang terjadi?? “Sebenarnya apa yang terjadi, Nis? Aku masih belum mengerti maksud kata-katamu...” keingintahuanku menyeruak tiba-tiba. Kamu menatapku. Ada pancaran rasa kecewa dimatamu, mengiringi jatuhnya tetes-tetes bening mengalir dipipimu. Tapi aku masih saja belum bisa mengartikannya. “Kalau hanya Mas jarang kerumah, jarang menjengukku, aku masih bisa terima. Aku tahu itu karena kesibukan, Mas!” kamu tertunduk sekali lagi.”Tapi kalau cinta dan kepercayaanku dikhianati, aku nggak sanggup, Mas.” Aku mengkhianati?? Ah, apa maksudnya? Selama ini aku berusaha tetap berada di sisi ketegaran dan keyakinanku untuk tetap menyayangi dan mencintaimu, Anis. Tapi mengapa tiba-tiba kamu memvonis aku seperti itu? “Siapa yang mengkhianatimu, Nis? Selama ini aku berusaha untuk tetap menempatkanmu sebagai wanita terdekat dihatiku, yang bisa memberi inspirasi dan semangat hidupku. Mengapa tiba-tiba kamu menuduhku seperti itu?” “Aku nggak bisa mengatakannya. Koreksilah dirimu sendiri! Dan aku rasa, hubungan kita cukup sampai disini, Mas! Aku nggak bisa tersiksa terus seperti ini... Aku nggak bisa!!” Ucapanmu barusan bagaikan petir disiang bolong. Ombak serasa berhenti berdebur, angin serasa berhenti berhembus. Dan jantungku serasa berhenti berdenyut. Secepat itukah kamu mengakhiri hubungan kita tanpa alasan yang jelas? Aku salah apa, Nis? Apa yang harus aku koreksi, sementara aku sendiri tak merasa telah melakukan kesalahan? Aku ingin tahu apa sebenarnya yang terjadi, tapi meski beribu kali aku meminta kamu menjelaskan, tetap tak ada yang keluar dari mulutmu. Jangan buat aku bingung, Nis! Hari-hari selanjutnya, aku merasa seperti kehilangan tonggak yang menopang hidupku. Aku tidak tahu, apa yang harus aku lakukan untuk mengembalikan semuanya menjadi seperti dulu, karena aku sendiri tak tahu apa yang menyebabkan kamu melepaskan dirimu dari hatiku. Sampai akhirnya aku mendengar cerita dari Neni, sahabat dekatmu. Bahwa aku telah menduakanmu, membagi cintaku untuk orang lain. Konyol sekali! Dari mana datangnya cerita seperti itu? Dan mengapa kamu begitu mempercayainya, padahal tidak melihat sendiri atau paling tidak kamu meminta penjelasanku tentang kebenaran cerita itu? Dengan agak memaksa, dengan alasan untuk menjernihkan keadaan yang terjadi antara aku dan kamu, Neni akhirnya mengatakan kepadaku siapa yang memberitahumu kabar seperti itu. “Sandi!” kata Neni singkat, tapi sanggup membuat mataku mendelik tak percaya. Sandi!! Dia temanku, bahkan dia teman yang paling dekat denganku. Meskipun rumahku dan rumah Sandi agak lumayan jauh, namun aku tetap sering ketemu dia. Ke rumahmu pun kadang aku berdua dengan Sandi. Mengapa dia melakukan itu? Mengapa dia tega menghancurkan temannya sendiri? Mengapa....?? Pertanyaan-pertanyaan itu berkecamuk di benakku. Aku ingin menemuimu, Nis. Menjelaskan bahwa semua yang kau tuduhkan itu bohong. Agar kamu tahu, aku tetap menyayangimu. Aku tak bisa berpisah denganmu tanpa alasan yang tepat. Mengapa kamu lebih percaya orang lain daripada kepadaku, Nis? Apakah berarti, bahwa kasih sayang yang selama ini kamu berikan kepadaku hanya kebohongan? Nis, tolong jangan membuatku banyak prasangka buruk kepadamu. Sebenarnya aku ingin penjelasan sesungguhnya dari Sandi lalu mengajak ke rumahmu, agar kamu bisa mempercayainya. Namun ternyata Sandi tidak berada di rumah, dia telah bekerja di luar kota. Pulangnya pun tak menentu. Apakah kamu masih bisa percaya padaku, Nis? Sabtu sore sekitar jam tujuh, aku pastikan kamu berada di rumah meskipun aku tak menelpon dulu ke rumahmu. Selain itu juga, tentu tidak akan mengganggu belajarmu, bukan?. Kecuali sudah ada yang menggantikan aku apel ke rumahmu. Tapi apa mungkin secepat itu kamu melupakan aku dan kenangan-kenangan kita? Aku larikan motorku dengan kecepatan sedang menuju rumahmu. Di benakku sudah kusiapkan materi yang mesti aku sampaikan kepadamu. Lima belas menit berlalu, akhirnya sampai juga. Cahaya terang lampu neon menerangi pintu gerbang rumahmu. Motor aku aku matikan dan ku tuntun ke halaman, lalu aku parkir di sebelah motor GL Pro yang sudah parkir disana. Saat itu aku tak punya pikiran apapun tentang kamu, kecuali aku harus bertemu kamu secepatnya. Aku ketuk pintu dan aku ucapkan salam. Tak berapa lama pintu terbuka seiring dengan kemunculan kamu. Melihat aku yang berdiri di depan pintu, seolah kamu tak percaya. Mulutmu ternganga takjub. Beberapa jenak kita hanya berdiam. Aku menunggu kamu persilakan masuk. Dan aku ingin segera bercerita banyak kepadamu. Aku menatap ke dalam rumahmu. Seketika itu aku tercekat. Jantungku seperti berhenti berdenyut. Dan harapanku untuk bisa masuk rumah hancur sudah. Di dalam rumah, Sandi sedang duduk di sofa. Dia tak melihat kearahku, tapi berpura-pura sedang membaca majalah. Dan aku telah tahu apa arti semua ini biarpun tak dijelaskan dengan kata-kata. Tanpa menunggu kata-katamu lagi, segera kubalikkan badan melangkah ke motorku, lalu tancap gas meninggalkan rumahmu yang tiba-tiba terasa panas menyengat. Benakku kembali kosong. Semua yang telah kucatat disana, seakan luruh bersama lari motorku yang mungkin melebihi kecepatan pesawat supersonic. Esok paginya, tanpa banyak perhitungan, kukemasi barang-barangku. Meski tanpa tujuan aku ingin ke Jakarta. Orangtuaku sendiri tak bisa mencegahnya. Aku hanya ingin melupakanmu, melupakan kenangan-kenangan kita, melupakan segalanya yang pernah terukir manis dihati kita. Kalau memang itu yang membuat kamu bisa berbahagia, aku akan merelakannya. Mungkin dengan adanya jarak dan waktu yang memisahkan, aku bisa menghapus bayanganmu dan menyembuhkan luka-lukaku. Tetapi rasa cinta dihatiku ini tak akan bisa dihapus sampai kapanpun. Semoga kamu bahagia, Nis!
|
|
|
supported by :: frontpage :: flash mx :: mai-pc :: kalma :: xx inspirations :: kes4an :: our dreams :: bluesky ::. |
|
© mimpi kita creative design :: [email protected] |