|
|
|
| ::back |
:: cerita kita :: |
|
|
|
| SMS Iseng by : One | |
|
Masih saja Vina menggenggam HPnya erat-erat. Matanya menyipit menekuri kalimat-kalimat yang berjajar rapi di layar HPnya. Ada berbagai macam perasaan yang berkecamuk dalam hatinya. Mungkin sudah delapan atau sepuluh kali, SMS iseng itu nyantol di HPnya. Vina sendiri nggak tau siapa yang mengirim SMS gila itu. Tapi yang jelas, kata-kata yang nongol selalu bikin kesel hatinya. Bayangkan saja, mulai dari pertama dia nerima sms, kata-katanya sudah kayak sepuluh tahun bersama bahkan sudah seperti pacar Vina sendiri. I miss you lah, aku sayang kamu lah, kamu cantik lah.... Pokoknya macem-macem deh. Kalo ditulis mungkin bisa ngabisin lima lembar halaman folio (hehehe..) Gila !! Bener-bener gila !! Nih orang pasti penjual voucher, jadinya enak aja buang pulsa buat ngerayu cewek, bathin Vina kesal. Heh!!
Di
sekolah Vina memperlihatkan sms itu kepada temen-temennya, dengan harapan
ada yang tau siapa pengirim sms itu. Beramai-ramai temen Vina merubung HP
Vina buat ngebaca sms heboh tadi.
“Ini
kerjaan orang gila, Vin!!” komentar Asti sehabis baca sms.
“Dari
fans kamu kali, Vin!” timpal Ayu.
“Fans
apaan, emang aku selebritis?” sungut Vina.
“Elo
kan cantik, Vin. Tanggung deh banyak yang naksir ama kamu. Pasti ini
kiriman salah satu cowok yang naksir ama kamu, but dia takut mo ngungkapin
langsung”, tambah Rudi.
“Kalian
nih pada ngaco semua!” gerutu Vina menampakkan kekesalan dihatinya.
“Jadi kalian nggak ada yang tau, nih nomer siapa?”
“Nggak
tau, Vin!” jawab Moko mewakili temen-temennya. “Ato jangan-jangan...”
“Jangan-jangan
apa Mo...?” sergah Ayu tak
sabar.
“Jangan-jangan
itu sms dari Pak Wisnu? Dia kan naksir ama Vina...”
“Hahahahaha...”
koor temen-temen Vina mendengar joke Moko.
Vina
semakin kesal mendengar komentar temen-temennya. Bawa-bawa Pak Wisnu lagi.
Mereka menganggap Pak Wisnu, yang guru matematika itu naksir ama
Vina. Emang sih, perhatian Pak Wisnu yang guru matematika itu kelewat
berlebihan daripada ke yang lain. Tapi menurut perasan Vina itu tak lebih,
karena memang kemampuan matematika Vina diatas rata-rata temen-temennya.
Dugaan temen-temen pasti karena ada unsur-unsur yang memang mendukungnya.
Satu, Pak Wisnu masih bujang. Kedua, Pak Wisnu ganteng. Ketiga, Pak Wisnu
sangat perhatian pada Vina. Dengan masih memendam kejengkelan pada temen-temennya, Vina bangkit lalu meninggalkan ruang kelas itu. Entah, mo menuju kemana. Tapi biasanya, kalo lagi kesel, Vina pasti ngambeknya diruang perpus, sambil baca karyanya Kahlil Gibran. “Hey Vin, mo kemana? Gitu aja kok marah sih?” teriak Asti. “Pasti mo nemui Pak Wisnu nih!” Moko menimpali. Vina semakin jengkel aja mendengar ejekan Moko. Dia memang jagonya melucu dan ngolok-olok orang. Banyak yang nyaranin masuk Srimulat, eh dia malah bilang kalo hutangnya belum lunas. Hehehe... nggak nyambung ya...!?
Di ruang perpus, hanya ada beberapa anak yang asyik membaca. Vina melangkah menuju pojok ruangan, setelah sebelumnya, mengambil bukunya Kahlil Gibran cetakan terakhir. Wajahnya masih menyiratkan kekesalan pada temen-temennya. Tit tit tit tit tit !! Baru saja dia meletakkan pantatnya di kursi, HPnya bunyi, tanda ada sms yang masuk. Vina jadi tambah cemberut. Pasti ini sms iseng itu lagi, batin Vina.
Dengan
berat hati, Vina menarik HP dari sakunya.
Setelah pencet-pencet beberapa kali, terpampanglah beberapa baris
kalimat di layar HPnya. Don’t worry, pembaca akan dapat bocorannya.
Gini tulisannya : HAI VINA SAYANG! SORRY YA KALO AKU BUAT KMU PENASARAN. BKN
MAKSUDKU GITU, TAPI INI BELUM SAATNYA TAU SIAPA AKU, MESKI KMU DAH KENAL
AKU. SABAR YA, SAY! AKU SAYANG KAMU...
Begitulah bunyi sms itu. Pengirimnya 08156568899. Kata-kata itu semakin membuat Vina penasaran setengah mati. Biarpun begitu, Vina tak pernah mau membalasnya. Dia nggak mau dianggap cewek gampangan. Masak, Vina si jenius, bisa dirayu hanya dengan kata-kata di sms? Nggak lucu kan? Emang gue cewek apaan, batin Vina. “Hai Vin!?” suara Asti mengagetkan lamunan Vina. “Masih marah ma kita-kita nih?” Vina menatap Asti, berusaha menyembunyikan keterkejutannya “Bukannya marah, As. Aku cuman kesel aja. Abisnya kalian nggak bantu malah ngejek aku.” “Ya deh aku minta maaf atas kelakuanku tadi” Asti tersenyum berusaha menghilangkan kekesalan Vina. Ia kemudian duduk di sebelah Vina. “Nih, gue dapet sms lagi!” Vina menyodorkan HPnya ke tangan Asti. Asti membacanya dengan mimik yang serius,” Gila nih, Vin! Nih orang makin nekat aja. Eh, dia bilang kalo kamu udah mengenalnya?! Kira-kira siapa ya?” “Aku juga penasaran sekali, As. Tapi kalo aku pikirkan terus, malah tambah pusing!” “Gimana ya caranya menemukan siapa pemilik nomer ini?” Asti tampak berpikir serius, meski otaknya sendiri kadang sulit diajak kompromi. “Ato gini aja Vin...” “Kamu ada ide, As?” “Kita pasang pengumuman aja di mading sekolah. Kita tulis nomer Hp itu gede-gede. Dan yang bisa menginformasikan kita beri hadiah. Gimana, Vin?!” jelas Asti dengan penuh semangat 45. “Kamu gila ya As. Masak aku nggunain cara yang sangat kontroversial gitu. Itu bisa merusak reputasiku!” “Kalo namamu nggak ditulis, kan nggak ada yang tau...” Asti memberi alasan. “Pokoknya aku nggak setuju dengan caramu, As!” “Trus gimana dong? Aku kan cuman mo bantu kamu aja.” “Sudahlah! Lupain aja! Kalo bosen dia pasti berhenti sendiri.” Vina akhirnya menyerah dengan keputusan akhir yang menyedihkan. “Kalo mau kamu gitu, ya terserah...” pada akhirnya Asti pun menyerah, dan membuang semua idenya tadi ke tempat sampah. Plung!! Dua orang sahabat itu terus ngobrol hingga bel berbunyi tanda jam istirahat telah habis. Keduanya melangkah gontai menuju kelasnya yang masih riuh, seperti adat kebiasaan kelasnya Vina sebelum ada guru yang masuk kelas.
Vina melangkah gontai dari ruang kelasnya. Wajahnya keliatan lesu tak bergairah. Mungkin pelajaran dari pagi hingga siang ini menguras konsentrasinya, ditambah sms iseng yang terus mengganggu pikirannya. “Vin...!” sebuah suara memanggil dari belakang. Suara yang sudah sangat dikenalnya. Vina menoleh. “Eh Pak Wisnu” Vina berusaha tersenyum meski terasa susah. “Ada apa Pak?” “Kok kamu tidak seperti biasanya? Kamu tampak lesu gitu? Ada masalah?” “Eng...gak kok Pak?” jawab Vina gugup. “Trus...?” “Nggak papa kok, lagi suntuk aja.” “Ya udah, kamu pulang trus istirahat! Nih Bapak ada buku baru Latihan Soal Matematika. Kamu coba kerjakan, besok Bapak mau melihatnya!” Pak Wisnu menyodorkan sebuah buku kepada Vina. “Ehm... makasih Pak!” “Kamu cepet pulang, Bapak juga mau pulang. Atau mau ikut Bapak sekalian?” “Eh nggak...nggak usah Pak! Vina udah biasa naik bis kok!” jawab Vina gugup. “Okelah kalau gitu. Bapak pulang dulu ya!” “Silakan Pak! Sekali lagi Vina ngucapin makasih!” Pak Wisnu tersenyum penuh arti sambil menepuk pundak Vina. Dia kemudian melangkah pergi meninggalkan Vina sendirian. Vina tertegun menatap buku pemberian Pak Wisnu di tangannya. Dia jadi teringat kata-kata Moko di kelas tadi. Apa mungkin sih Pak Wisnu naksir ma aku, batin Vina. Tapi dia memang baik dan perhatian ma aku... Eh, ngapain sih aku malah mikir macem-macem! Pak Wisnu kan emang seorang guru yang baik. Sial!! Kenapa aku malah punya pikiran macem-macem? Ah, aku nggak boleh punya pikiran seperti itu! Vina mendesah. Akhirnya Vina melangkah meninggalkan koridor kelas yang sudah mulai sepi.
“Vina...!” suara ibu memanggil Vina. “Ada telpon nih...!” Vina bergegas bangkit dari tempat tidur, melangkah keluar mendekati gagang telpon. “ Dari siapa Bu?” “Nggak tau tuh! Katanya sih dari temen sekolahmu.” Vina mengangkat gagang telepon dan mendekatkan ke telinganya. “Halo...” “Halo Vina....” terdengar suara cowok di seberang. “Pa kabar?” “Siapa nih?” tanya Vina penasaran. Cowok itu sok akrab, padahal Vina merasa belum mengenalnya. “Masak lupa ma aku,Vin?” cowok diseberang sana makin buat Vina penasaran. “Siapa sih, jangan main-main ya! Aku tutup lho kalo nggak mo ngaku” ancam Vina. “Eh, tunggu...tunggu! Aku Gala, masak sih lupa ma aku” ngaku juga akhirnya. Gala! Vina mengernyitkan kening. Dia tak akan lupa kejailan Gala yang sering menggodanya di sekolah. Kakak kelasnya itu emang jailnya minta ampun. Kata Asti sih, Gala suka sama Vina. Ada apa dia nelpon? Sebelumnya nggak pernah dia nelpon. “Ah nggak mungkin As!” sangkal Vina suatu ketika, saat Asti mengutarakan prediksinya tentang Gala. “Kepada semua cewek, Gala kan emang gitu. Ramah!” “Iya, aku juga tau! Tapi ma kamu lain, Vin!” “Apanya yang lain?” Memang sih, Gala itu cakep. Vina pun mengakui itu. Jago Basket, ketua OSIS lagi, ramah de es be. Dan itu yang membuat dia terkenal diseantero sekolah. Banyak cewek-cewek di sekolah Vina yang pengin pedekate sama Gala. Tapi akhirnya kecele juga. Mana mungkin sih, Gala suka ma aku, bathin Vina. Kan masih banyak cewek yang lebih cantik daripada aku. Makanya Vina nggak mau banyak berharap dari perhatian Gala ke dia. Entar kalau nggak kesampaian malah jadi sakit di belakangnya. Apalagi sekarang ada sms gila yang sedikit banyak mengganggu konsentrasinya. Atau jangan-jangan sms itu dari... Ah nggak mungkin... “Heh, kok malah bengong!” suara Gala membuyarkan lamunan Vina. “Eh...oh...ma...maaf!” Vina gelagapan. “Ya Gala, ada apa? Kok tumben ada waktu buat nelpon aku?” “Nggak boleh aku nelpon kamu? Ya udah aku tutup aja, mungkin kamu nggak suka aku nelpon kamu!” “Gitu aja ngambek! Tak kusangka Gala mudah ngambek. Aku kan cuman becanda...” Siapa yang nggak suka kamu nelpon, bisik hati Vina. “Yee...siapa yang ngambek? Aku kan cuman ngetes kamu. Hehehe...” “Ada apa nih?” “Nggak ada papa. Kangen aja ma kamu. Abis dah beberapa hari aku nggak ngegodain kamu nih!” terdengar cowok di seberang tertawa renyah. Huh! bikin gemas hati Vina. “Emang kamu kemana beberapa hari ini?” “Kangen juga nih rupanya? Hehehe...” “Yee... siapa yang kangen ma kamu?! Jangan ge-er ya!” Biarpun Vina ngomong gitu, tapi jauh dilubuk hatinya ada rasa kangen juga sih. Tuh, ketahuan ya sekarang.... “Eh Vin, udahan dulu ya, aku masih ada perlu nih. Kapan-kapan disambung lagi. Ato mungkin besok aku bisa ngegodain kamu lagi. Yang penting sekarang kangenku dah terobati...” “Oke deh!” “Bye... see you later!” “Bye...” Klek! Telepon terputus. Vina meletakkan gagang telpon ke tempatnya. Dia kembali ke kamarnya. Tit tit tit tit tit! Baru saja Vina meletakkan pantatnya di kursi, HPnya berbunyi, memberitahukan kalau ada sms yang masuk. Vina menatap jengkel ke HPnya yang tergeletak diatas meja. Ini pasti sms gila itu lagi, pikir Vina. Dengan malas dia membuka pesan yang masuk. Hai Vin! Pa kabar? Aku yakin kmu makin penasaran ma aku. But, jangan khawatir, suatu saat kmu pasti tau siapa aku. Daa Vina sayang! Vina mendesah jengkel. Dalam hatinya cuma ada satu keinginan, pengin tau siapa pengirim sms itu.
“Vin... dicari pangeranmu tuh!” suara Asti mengagetkan konsentrasi Vina pada buku Kahlil Gibran ditangannya. Vina mendongak. “Pangeran apaan? Ada ada aja...!” “Tuh si Gala nyariin kamu!” Asti mencubit pipi Vina dengan gemas. Gala! Uh, sudah dari tadi Vina berharap ketemu dia. Dan sekarang datang juga. “Kok bengong?” “Eh ya.. ya...” Vina tergagap. “Ada apa dia nyari aku?” “Tau tuh! Kangen kali!” Asti tersenyum menggoda. “Udah, temui sana!” Vina melangkah keluar dari perpus. Didepan pintu Gala menunggu tak sabar. “Ada apa Gala?” “Kemaren kan aku dah ngomong, aku kangen pengin ngegodain kamu.” Gala tersenyum. Manis sekali. Deg! Degup jantung Vina tak karuan. “Heh malah bengong!” Gala mencubit lengan Vina, membuat Vina tersadar. “Eh iya..!” “Tapi kalo bengong gitu kamu tambah cantik Vin!” Ih, Gala mulai menggoda nih. “Jangan mencoba ngerayu aku ya! Aku nggak mudah terkena rayuan gombal kayak gitu...” Vina melotot. Gala cuma tersenyum. Deg! “Yuk ke kantin aja!” Gala menarik tangan Vina. Dan Vina tak mampu menolak ajakan cowok cakep didepannya itu. Vina tersenyum dalam hati...
“Vin... Vin...!!” Asti berlari tergopoh-gopoh ke arah meja Vina. “Ada apa sih As? Kayak dikejar setan aja.” “Ada berita heboh. Sangat heboh! Kalo ditulis dikoran bisa jadi headline.” Asti duduk disebelah Vina. “Berita apaan sih! Ngomong yang jelas donk!” kata Vina tanpa mengalihkan perhatiannya dari buku didepannya. “Tentang sms itu!” Vina terhenyak. Segera dia menggeser duduknya dan mengalihkan perhatiannya ke arah Asti. “Maksudmu... kamu dah tau pemilik no HP itu?” tanya Vina tak sabar. “Iya! Dan itu yang bikin heboh!” “Maksudmu...?!” Vina makin penasaran. “Ih, sabar dong Vin!” ujar Asti melihat ketidaksabaran Vina. “Cepetan dong!” “Iya... iya! Aku kan tadi ke ruang TU. Tanpa sengaja aku membuka-buka buku alamat para guru dan karyawan. Dan aku terkejut ketika mendapati ada no HP salah seorang guru sama persis dengan pengirim sms itu. Ternyata itu no HP-nya....” Asti menatap Vina yang semakin tak sabar. “Punya siapa As...?!” “Punya Pak Wisnu...!” “Hah!!” Vina melongo mendengar nama Pak Wisnu yang keluar dari mulut Asti. Vina benar-benar tak menyangka pengirim sms itu adalah Pak Wisnu. Mana mungkin?! Kalau begitu benar sekali dugaan Moko waktu itu, desis hati Vina. “Jangan-jangan kamu salah liat, As?!” Vina masih belum percaya. “Nggak mungkin! Sebelumnya aku juga nggak percaya. Aku sampe mengulangi membaca beberapa kali. Dan masih juga tak berubah...!” “Ahh...!” Vina mendesah berat. Dia betul-betul tak percaya dengan kenyataan itu. Pak Wisnu.... Ah, Vina “Sekarang apa rencanamu?” “Aku pengin konfirmasi langsung dengan Pak Wisnu!” “Kamu gila Vin?” Asti melongo. “Nggak! Aku punya cara sendiri untuk itu. Kamu ikut denganku menemui Pak Wisnu!” “Sekarang?!” “Sekarang dong! Emang mo kapan lagi?!” Asti terbengong menatap Vina tak percaya. “Yuk, ntar keburu abis waktu istirahatnya!” Vina melangkah keluar. Asti akhirnya terpaksa mengikuti dibelakang sahabatnya. Tak berapa lama keduanya sudah berada didepan ruang guru. Mereka masuk dan menuju ke meja Pak Wisnu. Disana tampak Pak Wisnu sedang konsentrasi pada kertas-kertas didepannya, sehingga tak menyadari kedatangan Vina dan Asti. “Selamat siang Pak Wisnu!” sapa Vina. Pak Wisnu terkejut. Konsentrasinya buyar lalu menatap Vina. “Eh Vina, Asti. Silakan duduk!” “Maaf Pak, mengganggu!” kata Vina setelah duduk di kursi depan Pak Wisnu. “Oh nggak papa. Kebetulan sekali. Aku barusan mau menemuimu...” Menemuiku?! Ah, Pak Wisnu sudah mulai beraksi rupanya, batin Vina. Mungkin dalam pikiran Asti juga demikian. “Eh, kalian jangan dulu berpikir macem-macem ya?!” Pak Wisnu tersenyum. “Aku cuma mau ngasih ini.” Pak Wisnu meletakkan dua buah undangan dihadapan Asti dan Vina. “Apa ini Pak?” tanya Vina tak mengerti. “Sebentar lagi Bapak mau mengakhir masa lajang. Artinya mau menikah. Dan aku mengundang kalian untuk hadir dipernikahan Bapak. Kalian harus datang jika merasa menjadi muridku.” Vina dan Asti saling bertatapan tak percaya. Dalam batin Vina, merasa betapa jahatnya Pak Wisnu. Sudah punya calon istri masih saja menggoda muridnya. “Kenapa?” tanya Pak Wisnu melihat raut muka dua muridnya yang tiba-tiba berubah. “Kalian nggak mau datang?” “Eh nggak Pak! Saya cuma nggak percaya, dengan tiba-tiba Pak Wisnu mau menikah,” Vina berbohong. “Selamat Pak Wisnu!” Vina mengulurkan tangannya, menyalami Pak Wisnu. Begitu juga dengan Asti. “Terima kasih!” Pak Wisnu tersenyum. “Oh ya, sampe lupa nih. Tapi kalian kesini ada keperluan apa?” “Ehm... gini Pak...” Vina menoleh ke arah Asti. Asti malah melotot melihat tingkah Vina yang kikuk di depan Pak Wisnu. “Kenapa sih kalian ini? Kok jadi pada pelotot-pelototan?” “Enggak kok Pak... Saya cuma pengin minta no HP-nya Pak Wisnu,” kata Vina akhirnya dengan agak ragu. “Soalnya kalo saya pas bingung belajar di rumah, saya kan pengin langsung dapat jawaban. Kalo ada no HP-nya Pak Wisnu kan saya bisa sms.” “Ooo... Cuma gitu aja. Kok harus malu-malu!” Pak Wisnu tersenyum. “Tidak apa-apa kan Pak?” Asti meminta persetujuan. Pak Wisnu mengangguk,”Boleh saja. Dan aku acungi jempol atas semangat kalian belajar...” Vina dan Asti tersenyum malu. Entah apa artinya senyum itu. Hanya mereka berdua yang tahu. “Nih no HP ku. Catat ya...” Pak Wisnu mengeja, sementara Vina mencatatnya. “0-8-1-5-6-5-0-3-1-2-7” Vina melongo, “Bener ini nomernya Pak?” “Bener dong! Emang kenapa?” Pak Wisnu heran. “Tapi di kantor Tata Usaha...?!” Vina jadi bingung. “Ooo... itu. Itu nomer HP Bapak yang lama. Sekarang udah ganti...” “Trus yang lama??!” Vina tak sabar. “Dipakai sama Gala,” jelas Pak Wisnu tanpa curiga. “Gala kan adik Bapak...” “Hah...!!” Vina dan Asti terkejut setengah mati mendengar penjelasan Pak Wisnu barusan. Gala!! Vina dan Asti saling bertatapan takjub. Jadi yang kirim sms ke Vina selama ini.....?? “Ada apa dengan kalian, kok tampak kaget mendengarnya...?” “Eh...anu Pak, ehm... saya kira nomer yang dulu udah dibuang,” Vina terpaksa berbohong pada Pak Wisnu. Ah, Vina jadi pengin balik, mendamprat Gala. Mendamprat Gala?? Bukankah seharusnya dia melonjak gembira? Gala..... “Kalo gitu saya dan Asti pamit dulu Pak. Terima kasih atas bantuan Pak Wisnu,” Vina dan Asti akhirnya pamit dan berlalu meninggalkan ruang guru. Di kepala mereka penuh dengan beribu-ribu denyut yang membingungkan. “Vin, aku bener-bener nggak menyangka akhirnya seperti ini...!” Asti menepuk pundak Vina, ketika mereka sudah keluar raung guru. Vina juga keliatan tak percaya dengan kenyataan itu, “Aku juga nggak percaya As..” “Jadi yang kirim sms selama ini Gala...” Asti menatap Vina. “Bener dugaanku selama ini...” “Dugaan yang mana?” Vina melotot. “Gala emang suka ma kamu. Hehehe...” Asti terkekeh. Vina mendengus. “Cowok kayak Gala, pantesnya dijitak aja. Biar tau rasa...!” “Ih jangan gitu ya. Sekarang benci besok bisa cinta setengah mati lho...” Asti mencubit lalu berlari meninggalkan Vina. “Ih kamu jahat...!!” Vina mengejar Asti yang sudah duluan berlari. Mereka berkejar-kejaran menuju ruang kelasnya.
Vina melemparkan tasnya ke meja belajar. Dia kemudian membanting tubuhnya ke tempat tidur. Dia mengambil HP-nya di tas dan ditatapnya dalam-dalam. Gala! Ah, nama itu kembali mengusik pikiran Vina. Kenapa dia harus pakai cara seperti ini kalau dia emang suka aku, desah Vina. Apakah dia kira aku akan menolaknya kalau ngungkapin secara langsung? Kamu jahat, La!! Jahat!! Dibukanya menu “write message” kemudian mengetik beberapa pesan di layar HPnya. Kalo kmu jantan, datang kerumahku nanti sore. Siapa tau klo dah liat wajahmu aku bisa jatuh cinta. Aku pengin tau siapa kmu. Klo gak datang, jgn harap bisa ketemu lagi. Aku tunggu... Kemudian ditekannya send dengan mengetik angka 08156568899. Pesan telah terkirim. Vina menunggu jawabannya dengan termangu. Selang lima menit kemudian HPnya berbunyi tanda ada sms masuk. Dengan segera dibacanya pesan yang masuk. “Kok tumben mau ngebalas. Kangen ya. Aku pengin datang tapi aku takut kmu marah stlh tau siapa aku. Klo kmu janji gak marah, aku mo datang. Klo gak bisa aku jg ga mo datang.” Macem-macem aja tuh cowok, batin Vina. Siapa yang mau marah sama cowok setampan kau, Gala!! Tapi Vina pengin ngebalas tingkah Gala selama ini. Dia pun mengetik beberapa kalimat... “Enak aja! Siapa yg kangen ma kmu. Mo marah ato gak itu urusanku. Mo datang ato gak itu urusanmu. Terserah kmu deh. Sori, aku gak banyak waktu.” Kemudian dikirimnya lagi ke nomernya Gala. Vina tersenyum sendiri. Tapi setelah ingat tulisannya tadi, dia jadi khawatir kalau Gala bener-bener nggak datang. Nggak usah khawatir Vin, dia pasti datang. Dia kan suka ma kamu, bisik hati Vina meyakinkan. Tak lama sms Vina dibalas kembali oleh Gala. “Oke, klo itu maumu. Ntar sore aku datang jam empat. Tunggu aku...” Vina tersenyum sendiri. Dia merebahkan tubuhnya ditempat tidur sambil menatap langit-langit, membayangkan Gala akan datang nanti sore. Pokoknya akan ada surprise buat Gala lalu... “Vin...Vina!” suara ibu memanggil dari luar membuyarkan lamunan Vina. “Ada apa Bu?!” “Pulang sekolah langsung ngeram di kamar. Ayo makan dulu!” “Ya Bu, sebentar...” Ah Ibu, ganggu orang ngelamun aja, desis Vina.
Sore harinya Vina sudah siap-siap mental dan strategi menghadapi kedatangan Gala. Pokoknya aku harus bisa ngerjain Gala, tekad Vina dengan semangat empat lima. Vina mondar-mandir menunggu jam empat sore. Tingkah Vina yang agak lain ini tentunya menarik perhatian ibunya. “Ngapain sih Vin, dari tadi Ibu liat kamu mondar-mandir aja kayak setrika?” “Nggak ngapa-ngapain. Kemaren guru olahraga Vina ngasih tau kalau jalan-jalan itu bisa buat badan sehat,” Vina tertawa dalam hati dengan jawabannya sendiri. Nanti aja Bu, liat sendiri, batin Vina. “Ada-ada saja!” Dengan berdebar-debar Vina terus menunggu kedatangan Gala. Dan benar saja, tepat jam empat kurang tiga setengah menit, suara motor meraung memasuki halaman rumahnya. Akhirnya kamu datang juga Gala... Vina berusaha bersikap biasa ketika suara salam Gala menggema diikuti ketukan pintu. Vina melangkah ke pintu dan membukanya. Gala tegak berdiri dimuka pintu dengan memasang senyum yang paling manis. Jangan tergoda senyumnya Vin, kata hati Vina. “Eh Gala, tumben ada waktu datang ke rumahku? Ada apa?” Vina bersikap seolah-olah tidak tahu apa-apa. Sebaliknya Gala tampak kelagapan mendengar ucapan Vina barusan. “Eh...anu...ee... bukankah tadi aku dah bilang mo kemari.” Gala menatap Vina tak mengerti. Vina tersenyum dalam hati melihat sikap Gala yang salah tingkah. “Kamu udah bilang ma aku? Kapan?” Vina mengernyitkan keningnya. “Jangan-jangan kamu salah alamat?” “Aku tadi kan udah...” Gala terdiam. Dia tak tahu apa yang harus dikatakan. “Masuk dulu yuk! Ngomongnya didalam aja!” “Tapi...!!” Gala ragu-ragu. Hati Vina bersorak gembira. Gala seperti kehilangan semangatnya. Padahal biasanya dia paling getol ngegodain Vina. “Kenapa sih? Yuk masuk!” Akhirnya Gala melangkah masuk, lalu duduk di sofa masih dengan agak ragu. “Sekarang kamu ngomong! Ada masalah apa, kok kamu jadi gelisah gitu?” “Aku tadi kan udah ngasih tau kamu lewat sms, kalo aku mau kemari!” dengan berat akhirnya keluar juga ucapan itu dari mulut Gala. “Es em es..!!” Vina berusaha menampakkan raut tak mengerti. “Es em es apaan, La? Pake nomer yang mana? Nomerku sekarang dah lama ganti lho!” “Jadi...???” Gala terbengong-bengong mendengar perkataan Vina. “Emang kamu ngirim sms ke aku??” “I...iya!” Gala ngaku juga akhirnya. Wajahnya menampakkan kekecewaan. “Aku banyak ngirim sms ke kamu. Aku kira nomer kamu belum ganti...” “Emang kamu nulis apa La?” “Aku... aku...” Gala tak mampu meneruskan. Tenggorokannya seperti tercekat. “Akhir-akhir ini aku juga banyak nerima sms iseng. Dari orang gila kali!” Dengan ekor matanya dia melirik Gala yang tertunduk. Rasain, batin Vina. “Nulisnya aneh-aneh lagi. Sayang lah, suka lah! Macem-macem deh pokoknya...!” Tiba-tiba Gala menatap Vina, “Itu sms dari aku Vin. Maaf kalo nggak berkenan dihati kamu...!” “Akhirnya ngaku juga sekarang...” Vina tersenyum penuh kemenangan. “Jadi sebelumnya kamu udah tau kalo itu sms dari aku?” “Emang kenapa?” tanya Vina diketus-ketuskan. “Maaf ya Vin!” “Maksud kamu apa dengan kata-kata rayuan seperti itu! Kenapa nggak ngomong langsung saja ke orangnya?” “Maaf Vin, aku takut kalo kamu nanti menolaknya...” Gala tersenyum kecut. “Nggak jantan itu namanya...” “Oke deh Vin, sekarang aku ngomong langsung ke kamu. Aku suka kamu. Aku cinta ma kamu. Mau kan kamu jadi pacarku?” Gala menatap Vina penuh harap. Vina membuang muka. Sebenarnya dia cuma tak ingin bertatapan dengan Gala. Denyut jantungnya bisa berhenti mendadak. “Nggak...!” “Nggak mau Vin?” Gala tertunduk pasrah. “Nggak..!” “Kenapa nggak mau jadi pacarku Vin?” “Siapa yang bilang begitu?!” “Kamu kan barusan ngomong gitu...!” Sekali lagi Gala menatap Vina. Vina mengalihkan pandangannya ke arah makhluk tampan didepannya. “Maksudnya nggak nolak, La!” “Hah...!!” Gala ternganga mendengar kata Vina barusan. “Kenapa lagi...?” “Jadi kamu mau jadi pacarku??” Vina hanya bisa tersenyum manis. Tapi itu sudah cukup bagi Gala sebagai jawaban atas pertanyaannya. Yesss!!! Teriak Gala dalam hati. Vina pun bersorak girang. Besok dia mesti menceritakan kejadian langka ini kepada Asti. Dan seisi kelas pasti akan gempar jika mendengar si ketua OSIS berpacaran dengan Vina, terutama para cewek yang berusaha mendapatkan hati Gala.
|
|
|
supported by :: frontpage :: flash mx :: mai-pc :: kalma :: xx inspirations :: kes4an :: our dreams :: bluesky ::. |
|
© mimpi kita creative design :: [email protected] |