|

Tak banyak hal lain dalam kebudayaan kita yang mampu menandingi
kemampuan TV yang luar biasa untuk menyentuh anak-anak dan
mempengaruhi cara berpikir serta perilaku mereka.
Kutipan di atas adalah ungkapan
keprihatinan Peggy Chairen, pendiri organisasi Action for
Children Television. Sudah lama sebenarnya ada tudingan
terhadap dampak tayangan negatif televisi pada anak-anak.
Begitu kuatnya pengaruh ini sampai ada yang menyebut TV sebagai
'Kotak Idiot'. Hal ini bisa dimengerti karena anak-anak berada
pada fase meniru. Menurut Prof. Dr. Fawzia Aswin Hadis dari
fakultas Psikolgi UI, anak adalah imitator ulung. Anak-anak
akan meniru adegan yang ditonton di TV.
Persoalannya adegan apa yang
ditonton anak-anak di TV? Penelitian isi yang dilakukan ilmu
komunikasi biasanya membedakan tayangan kekerasan menjadi
dua: adegan anti sosial (berkata kasar, kotor, mengejek, memaki,
memukul, membunuh dan lain-lain) dan adegan pro sosial (kehangatan,
empati, kesopanan, nasihat, persahabatan, kerukunan dan lain-lain).
Tahun 1997, Sri Andayani meneliti film kartun Jepang seperti
Sailor Moon, Dragon Ball dan Magic Knight Ray Earth
mendapati adegan-adegan anti sosial ketimbang adegan pro
sosial (58,4% : 41,6%). Temuan diperkuat oleh studi YKAI yang
mendapati adegan anti sosial lebih dominan (63,51 %) dalam
film kartun bertemakan kepahlawanan.
Sebuah survai yang dilakukan
lembagai Kristen, Christian Science Monitor (1996)
terhadap 1209 orang tua tentang seberapa kuat kekerasan TV
mempengaruhi anak, 56% responden menjawab amat mempengaruhi.
Sisanya, 26% menjawab mempengaruhi, 5% cukup mempengaruhi
dan 11% tidak mempengaruhi. Kuatnya pengaruh acara TV juga
ditentukan besarnya waktu untuk menonton TV. Penelitian oleh
Lembaga Pembinaan dan Perlindungan Konsumen (LP2K) menemukan
anak-anak di Semarang menonton TV selama 4 jam/hari. Sedangkan
Pudji Lestari (1996) mencatat anak Bogor menonton 3,13 hingga
4,65 jam/hari. Padahal menurut Murphy dan Karen Tucker (produser
acara anak-anak) sebaiknya kurang 2 jam/hari.
Berikut ini tips-tips praktis
bagi orang tua untuk mengurangi pengaruh televisi bagi anak:
1. Berikan teladan.
Sikap orang tua akan ditiru anak. Sebaiknya orang tua lebih
dulu menentukan batasan bagi dirinya sendiri dulu sebelum
membuat batasan bagi anaknya. Misalnya, orang tua hanya menonton
TV pada saat merasa lelah atau bosan pada kegiatan lain. Dengan
begitu, Anda tidak menjadikan menonton TV sebagai menu utama
setiap hari. Jangan hidupkan TV sepanjang waktu. Matikan TV
ketika sedang makan, waktu shalat, bercengkerama, atau belajar.
2. Hindari memanfaatkan
TV sebagai baby sitter. Di tengah kesibukan kerja, para
orang tua lebih merasa aman dan tenangjika anak duduk manis
di depan pesawat TV ketimbang main di luar. Tingginya angka
kejahatan dan semrawutnya lalu lintas sudah membuat orang
tua mengkhawatirkan keselamatan putra-putrinya. Alih-alih
menonton TV, berikanlah aktivitas positif bagi anak seperti
ikut kursus, olah raga, berkebun, mewarnai, memancing, membantu
memasak, dan sebagainya.
3. Ajak anak bersama-sama
membuat jadwal kegiatan anak pulang sekolah. Yang penting
beri porsi tidak lebih dua jam untuk menonton TV.
4. Letakkan pesawat TV di
tempat terbuka. Dengan begitu Anda bisa memantau acara
apa yang sedang ditonton anak. Namun begitu, usahakan juga
letak pesawat TV tidak menjadikannya sebagai pusat aktivitas
keluarga. Jangan menempatkan TV di kamar anak (kalau radio
boleh).
5. Pakailah TV untuk mendidik.
Ada beberapa acara TV yang bagus ditonton bersama seperti
program dokumentasi, edutainment (tayangan edukatif
yang menghibur), kuis, olah raga, konser musik klasik, talk
show.
6. Diskusikan adegan anti
sosial di TV. Ajaklah anak membahas: Apakah kata-kata
kasar yang diucapkan patut ditiru? Apakah perilaku kekerasan
itu layak dicontoh? Apakah setiap masalah harus diselesaikan
dengan berkelahi? Diskusikan dan bandingkan nilai-nilai yang
ada dalam TV dengan nilai agama dan moral.
7. Terangkan antara fakta
dan fiksi. Anak masih kesulitan membedakan antara fiksi
dan fakta. Tokoh drakula yang Anda anggap biasa saja, bisa
membuat anak ketakutan dan susah tidur. Terangkan proses pembuatan
film/sinetron laga dan misteri, termasuk trik-trik pembuatannya.
Apakah darah yang muncrat itu sungguhan? Mengapa jagoannya
bisa terbang? Jelaskan bahwa untuk adegan yang berbahaya dilakukan
pemeran pengganti yang terlatih. Ada teknik kromaki untuk
memuat pemainnya bisa mengecil, menghilang dan menembus tembok.
Jelaskan juga tali (sling) yang dipakai untuk membuat pemainnya
bisa melayang.
8. Diskusikan tayangan iklan.
Mengapa ada iklan di TV? Apa tujuan iklan? Mengapa iklan selalu
tampak menarik? Apakah iklan pernah menunjukkan kekurangan
barang yang diiklankan. Apakah iklan yang bagus berarti barang
yang diiklankan pasti bagus? Tunjukkan barang-barang yang
paling sering diiklankan di TV. Ajak anak membandingkan: lebih
bagus mana penampilan sebenarnya dengan yang di TV?
9. Rumuskan bersama aturan
menonton TV. Aturan ini berlaku untuk semua anggota keluarga,
juga pembantu, baby-sitter, famili, teman, tamu atau tetangga
yang nebeng menonton.
10. Tolaklah semua media
yang mengandung kekerasan. Bukan hanya TV, Play Station
pun mengandung banyak adegan kekerasan. Buatlah kesepakatan
bahwa tidak ada tempat dalam keluarga bagi media yang mengandung
kekerasan. Entah itu berupa TV, VCD/CD, Play Station, Video
Games, Radio, kaset atau bacaan. (sumber: Lookout, Keluarga.Org,
National PTA)
Purnawan K, dikutip dari Bahana-magazine
Edisi :XII - Mei 2001
|