|
oleh Harto Sujono, S.E., S.Psi.
Apakah media itu? Media bisa
diartikan perantara antara kita dengan obyek sesungguhnya
yang akan menjadi sasaran panca indera kita. Ratusan bahkan
ribuan kali kita mengindera media, sebelum melihat obyek sesungguhnya.
Saat ini harus disadari seolah-olah pada jaman ini, kita tidak
bisa hidup tanpa media ini.
Media adalah segala sesuatu
yang dapat kita lihat, dengar, tertulis dan hingga dunia maya.
Berarti yang terlibat dengan media, adalah orang-orang yang
setiap hari bergumul dengan koran, radio, televisi, telepon
hingga komputer. Sejauh apakah kita dipengaruhi oleh media?
Apakah Anda tipe orang yang cemas, ketika melihat Gunung Merapi
masuk angin? Yang kemudian berpikir, mungkinkah wedus gembel
akan jalan-jalan di kota Yogya? Apakah ini pengaruh dari setiap
hari Anda membaca koran dan melihat televisi? Mengikuti perkembangan
yang intens tetapi justru mencemaskan.
Ini hanya baru masalah bencana
alam. Tetapi bagaimana dengan yang lain? Film kekerasan yang
sering ditonton anak-anak kita. Mungkin suatu saat, mereka
berteriak di depan kita: "Up youl hand (Angkat tanganmu)!
Dlop Youl gun (Letakkan senjatamu)! I am police (saya polisi)!"
sambil menodongkan senjata api mainan. Mungkin, anak kita
yang berumur lima tahun hanya bermain-main. Masalah yang kemudian
timbul, yang ditodong itu adalah ayahnya. Semoga ayahnya,
hanya geleng-geleng kepala saja dan bertobat tidak membelikan
pistol mainan lagi.
Definisi dan Dampak Media
Media mempunyai definisi sebagai suatu tempat yang kosong.
Kekacauan dalam mengatur isinya menyebabkan tempat itu menjadi
suatu hal yang tidak menarik. Dampaknya pada lingkungan yang
menjadi kacau, kotor dan menjijikkan. Media yang dinikmati
oleh masyarakat tanpa adanya penyaringan menyebabkan dampak
terjadinya keburukan-keburukan.
Ketika Presiden Habibie pada
tahun 1999, mencanangkan era reformasi bebas. Media massa
membludak hingga berjumlah ratusan. Tanpa memperdulikan kondisi
krisis moneter dan naiknya harga kertas, tidak menyurutkan
orang membuat bisnis koran. Persaingan menjadi sedemikian
ketat, mengakibatkan bisnis koran hanya mencari sensasi. Media
massa yang berfungsi dari yang bersifat hiburan, promosi,
formal dan informal; menjadi hiburan eksploitasi. Lihat saja
koran yang mengekploitasi tubuh wanita, dipajang sedemikian
full colour.
Akibat yang lain, adalah media
menjadi efek amplify atau "memperbesar". Efek memperbesar
terjadi ketika perilaku yang menyimpang di masyarakat di tayangkan.
Media justru menjadi sumber ide, analisis dan pembentukan
opini. Sumber-sumber ini mempunyai arti yang bersifat dukungan
atau penolakan terhadap fenomena tertentu. Dengan kata lain,
media massa memiliki otoritas untuk menggalang dan membentuk
opini publik.
Ingatan, Bahasa dan Perilaku
George Orwell menyatakan bahwa bahasa bukanlah sekadar alat
komunikasi. Ia merupakan suatu kegiatan sosial yang terstruktur
dan terikat pada keadaan sosial tertentu. Bahasa merupakan
kumpulan ingatan-ingatan individual yang terjalin dalam masa
lalu. Ingatan yang menjadi masa lalu seseorang akan menjadi
bagian dari masa lampau yang terus hidup dalam diri seseorang.
Hal ini akan menjadi sifat yang tunduk pada representasi dan
sudut pandang dewasa ini.
Ketika timbul pernyataan bahwa
seseorang telah melihat, berarti orang ini telah belajar sesuatu,
mendapat sesuatu dan diingat. Tetapi ingatan yang akan diungkapkan
dalam bahasa yang dipahami oleh semua, mempunyai arti akan
memasuki tahap ingatan kolektif. Dimana, setiap orang akan
memahami yang pernah dialami oleh orang tersebut. Ambisi ingatan
yang sudah diterjemahkan dalam bahasa dapat disajikan pada
dua hal. Dua hal kebenaran itu adalah kesaksian dan tulisan
yang mengandung masa lalu. Melalui kesaksian, orang tetap
tinggal dengan ingatan dan tulisan, orang masuk dalam lembaran
sejarah.
Orang-orang yang telah mengalami
masa lalu akan menampilkannya dalam bentuk perilaku kehidupannya
sekarang. Tidak hanya perilakunya saja tetapi juga bahasanya.
Harus diakui, kemampuan otak manusia yang menyimpan pengalaman
masa lalu dan mentransformasikan dalam bentuk bahasa dan perilaku
pada masa kini.
Akibatnya, orang-orang yang
dibentuk pada masa lalunya dengan konsep-konsep yang salah
akan mengalami penyimpangan pada masa depannya. Bagaimana
konsep-konsep penyimpangan bisa terjadi? Harus diakui pada
abad 20, kemajuan teknologi sudah sedemikian maju. Generasi
saat ini, selalu berpikir tidak bisa hidup tanpa media massa.
Bagaimana rasanya, Anda jangan membaca koran, melihat tv,
mendengar radio selama 3 hari saja. Rasanya pada hari ke empat,
mungkin seperti Tarzan masuk kota.
Perkembangan Manusia dan Media
Massa
Anak mengalami ketertarikan, mencerna dan belajar mencerna
penayangan televisi sejak umur 2 tahun. Selanjutnya, penampilan
televisi dianggap kebenaran yang senyatanya, mereka masih
bias untuk membedakan mana yang nyata dan mana yang khayalan.
Ketidakjelasan ini terjadi pada usia 2-6 tahun. Sedangkan
pada umur 6-12 tahun, anak mulai meniru adegan-adegan yang
disaksikan di televisi. Dengan pembiasaan melihat televisi,
anak yang belum mampu menyaring apa yang dilihatnya menerima
apa yang ditayangkan adalah sebagai norma sosial dan mempraktekkan
dalam pola perilaku ketika berhubungan dengan orang lain.
Pemahaman dan penyerapan anak
tidak hanya lewat televisi saja. Apalagi televisi yang hanya
menayangkan program-program anak yang relatif terbatas. Banyak
sekali, alat-alat permainan yang menganggap tv hanya sebagai
media lanjutan. Contoh konkretnya adalah play station. Permainan
yang diwujudkan dalam dua dimensi ini mampu mewujudkan anak
sebagai pribadi jagoan atau satria. Banyak orang melihat permainan
ini, sebagai penguji ketangkasan yang dapat melatih potensi
rohani untuk menyelesaikan masalah yang rumit. Namun di sisi
lain justru melemahkan kemauan anak untuk belajar. Khayalan
anak melalui permainan ini memacunya menjadi semacam jagoan
dengan kekuatan ajaib untuk menghancurkan lawan-lawannya.
Penghancuran lawan-lawannya adalah dalam rangka tugas yang
disebut dengan misi kemanusiaan. Sisi yang lain, permainan
ilusi ini merupakan penaruhan kekerasan sebagai cara menghancurkan
kekerasan. Permainan ini sering disebut dengan Role Playing
Game.
Adanya penelitian secara jangka
panjang dari Leonard Eron dan Rowell Huesman, meneliti tentang
anak-anak yang tumbuh dari 8-22 tahun. Tontonan yang dinikmati
pada 8 tahun akan mendorong kriminal pada usia 30 tahun. Sedangkan
pernyataan dari Journal of Youth and Adolescence, memuat bahwa
bentuk kegeraman, tema-tema antagonis, dan sosok keperkasaan
para lelaki yang menginspirasikan musik heavy metal, ternyata
sangat digandrungi remaja lelaki yang berprestasi rendah dan
tidak mampu belajar dengan baik di sekolah. Mereka atau para
remaja ini tidak merasa ganjil dicekoki oleh tindak tanduk
yang sesat dari budaya popnya. Mereka lebih senang menjadi
warga kelas imitasi dari apa yang dilihatnya. Remaja ini mengalami
keengganan untuk mencari dan menemukan kebenaran jati dirinya
sendiri serta menerima takdirnya sebagai suatu karunia ilahi.
Harus diakui pengaruh potensi
psikologik pada remaja dengan konsep pikiran yang kurang berprestasi.
Menimbulkan mempunyai perasaan keadaan terpojok sering membuat
orang bereaksi nekat. Apalagi yang menyisakan gejolak jiwa
remaja. Masa perkembangan jiwa pada remaja ditandai labilitas
emosi yang tinggi. Kondisi jiwanya sangat rentan terhadap
perangsangan baik dari kehidupan internal dan dari kehidupan
lingkungan sosialnya dimana remaja hidup. Motif agresi pada
masa remaja memang dalam kondisi yang sangat intens, karena
kecuali remaja merasa kurang nyaman dengan kondisi psikisnya
oleh masa transisi yang ia hadapi. Tidak aneh bila remaja
sering mengalami banyak konflik dengan lingkungan keluarganya,
dan merasa kurang nyaman dalam interaksi dengan anggota keluarganya.
Labilitas emosi pada masa remaja
menjadikan remaja memiliki tingkat kerentanan yang intens
terhadap pengaruh perilaku lingkungan sosialnya. Remaja jika
tidak melakukan tindakan yang dapat membanggakan keluarga,
akan mencari kompensasi agar dapat diterima di kelompoknya.
Kompensasi inilah yang menyebabkan, ia mudah dirasuki oleh
ideologi-ideologi yang sesat.
Pertentangan Antar Penelitian
Beberapa penelitian mengungkapkan bahwa ada hubungan antara
pengaruh kekerasan yang ditayangkan di televisi dengan kekerasan
yang benar-benar terjadi. Salah satu penelitian ini dilakukan
oleh Barbara Hattemer (The World and I, July 1994) yang mengumpulkan
hampir semua riset tentang hubungan kekerasan di layar kaca
dan dunia nyata. Perilaku yang ditayangkan baik dalam musik
dan film yang dlakukan oleh bintangya, mempunyai ciri-ciri
bentuk, model dan pola ekspresi yang membentuk masyarakat
yang menggemarinya.
Sedangkan sanggahan tentang
tayangan media yang mengandung unsur kekerasan dan seks mempunyai
pengaruh relatif kecil. Menurut Rekless dengan containment
theory-nya (1972), pemirsa tidak secara otomatis meniru perilaku
kekerasan dalam film, karena ia memiliki inner (dorongan dari
dalam diri) yang mencegah timbulnya peniruan. Makin kuat inner
seseorang, makin kecil keterpengaruhannya meniru adegan-adegan
negatif dalam film.
Penelitian lain, mungkin pada
media kekerasan relatif kecil. Tayangan untuk seks pengaruhnya
lebih besar dan berbahaya. Penelitian Mosher dan Katz (1971),
menyebutkan keinginan melakukan tindakan seksual setelah menonton
film erotis dapat merusak kesadaran dan rasa bersalah. Dengan
membiarkan agresi yang diekspresikan terhadap wanita. Banyak
kasus kejahatan seks, yang dilakukan remaja Amerika, terjadi
setelah menonton film porno di tv.
Sedangkan laporan dari Psychology
of Woman Quartelly, menyatakan adanya bukti-bukti yang mengisyaratkan
orang yang menonton video klip pelbagai musik rock diperciri
dengan gejala yang sama seperti mereka yang menonton film
cabul. Para lelakinya meniru penampilan pelaku-pelaku video
clip dan film cabul sebagai pria jagoan karena kekerasannya.
Survei yang dilakukan Cause and Violent Effect, Media and
Our Youth, Barbara Hettemer, 1998. Membuktikan bahwa 65% anak
lelaki dan 47% anak perempuan percaya, pada dasarnya perempuan
secara diam-diam menginginkan tidur bersama lelaki yang dipacarinya
setelah kencan atau pacaran selama 6 bulan.
Park Dietz, menunjukkan penayangan
film ke anak-anak lelaki yang mempertunjukkan bagaimana tubuh
wanita dipotong-potong akan merangsang satu generasi penganut
seks
sadis.
source : http://www.sangkakala.f2s.com/psikologi
|