|
Film kartun produksi Jepang,
yang biasa disebut anime, gencar meramaikan pertelevisian
dan pervideoan kita. Seiring dengan itu, keluhan dan protes
pun bermunculan. Kesimpulan yang paling mengkhawatirkan: kartun
Jepang tidak ditujukan untuk anak-anak, melainkan orang dewasa.
Wah, gawat!
Anime sebenarnya telah berkembang
sejak lama. Yang paling mudah diingat barangkali Doraemon
yang ditayangkan RCTI.
Anime memang sebuah objek yang
perlu mendapat perhatian banyak kalangan. Karena ia sebuah
kasus yang cukup unik, tidak seperti kasus komik superhero
yang beberapa waktu lalu menjadi trend tersendiri di kalangan
anak muda. Anime bisa menimbulkan banyak argumen, karena wujud,
dampak, dan segala yang berhubungan dengannya.
Beberapa tahun lalu sebuah
film kartun Jepang berjudul Saint Seiya ditayangkan di RCTI.
Namun dihentikan di tengah jalan karena berbagai spekulasi.
Ada yang mengatakan stasiun TV itu tidak mampu membeli hak
siarnya lagi. Tapi ada spekulasi yang cukup mendapat perhatian,
yaitu karena adanya surat protes dari para orang tua mengenai
penayangan Saint Seiya. Anime yang cukup populer itu dikesankan
terlalu sadis, tidak cocok untuk anak-anak, dan berbagai penilaian
lain. Kritik itu memang tidak salah. Saint Seiya penuh adegan
pertarungan yang sering mengumbar darah. Sang tokoh utama
kena pukulan lawannya, ia terpental ke tembok, lalu menyemburkan
darah, dan seterusnya.
Kasus lain terjadi di Jepang.
Antara tahun 1995 - 1996, ada murid menusuk gurunya. Perbuatan
itu diduga sebagai efek dari film kartun Neon Genesis Evangelion
yang tengah naik daun saat itu. Di dalamnya memang ada adegan
salah satu mesin Eva menusuk lawan dengan senjata serupa pisau
cutter. Akibat kasus itu, penayangan anime di Jepang dibatasi.
Sulit dipahami anak-anak
Apa kesimpulan dari kedua kasus
di atas? Sederhana saja: anime tidak dibuat untuk anak-anak,
tapi untuk orang dewasa. Kenapa? Coba lihat film-film itu,
baik yang muncul di TV maupun dalam VCD. Tema-temanya sering
sulit atau bahkan tidak bisa ditangkap oleh anak-anak.
Mari dibanding-bandingkan.
Ada sebuah tema tentang betapa berbahayanya sifat serakah
pada diri manusia. Jika sifat itu dibiarkan, dipelihara, bahkan
dipuaskan, maka akan menyusahkan banyak orang dan akhirnya
menyusahkan diri sendiri. Tema ini dipaparkan dengan gamblang
pada kartun produksi Walt Disney berjudul The Lion King (1994).
Di sana tergambar tokoh Scar yang ambisius, sehingga ia membunuh
kakaknya sendiri, Mufasa, sang raja. Akhirnya, Scar terbunuh
oleh keponakannya sendiri yaitu Simba, sang tokoh utama, yang
sebenarnya pewaris tahta.
Semua itu terpapar dalam cerita
yang mudah diikuti dan dimengerti, animasi yang penuh warna-warni
dan ceria, serta soundtrack lagu-lagu yang indah. Ditambah
dengan penokohan yang menggunakan karakter hewan, sehingga
anak-anak langsung paham, semua itu hanya simbol. Mereka pun
bisa memahami pesan yang terkandung di dalamnya.
Tapi bandingkan dengan anime
berjudul Gundam Wing. Dengan tema yang sama, Gundam Wing memiliki
tokoh yang berwujud manusia. Belum lagi ceritanya yang kompleks,
pesan yang sulit ditangkap karena rumit, masih ditambah perang
dan pembunuhan di sana-sini.
Apakah tokoh Heero Yuy yang
hendak membunuh Raleena Darlian hanya karena Raleena memergoki
Heero melakukan tugasnya untuk berperang adalah tokoh idola
yang pantas bagi anak-anak? Apakah tokoh Treize Khushrenada
yang licik dan pandai mengadu domba lawan-lawannya demi mencapai
tujuan pantas diidolakan anak-anak? Demikian pula dengan tokoh
Chang Wu Fei yang mendendam pada Treize, layakkah ia diidamkan
anak-anak?
Lebih buruk lagi, semua pilot
Gundam itu adalah anak-anak berumur 15 tahun. Tentunya, pemirsa
muda akan berpikir: para pilot Gundam adalah anak-anak sebaya
mereka. Tentunya apa yang dilakukan para pilot tersebut boleh
juga mereka lakukan. Akibatnya, anak-anak penonton Gundam
Wing tidak akan segan-segan menghantam teman mainnya dengan
tongkat, sehingga terluka, seperti kasus Evangelion di atas.
Contoh nyata lain, anime Wei�
Kreuz yang belakangan beredar dalam bentuk VCD Original. Wei�
Kreuz bukan tontonan untuk anak-anak. Siapa pun yang menontonnya
pasti setuju. Dalam anime itu digambarkan, betapa aksi kelompok
yang tidak mengenal ampun tidak bisa dijadikan teladan anak-anak.
Orang dewasa bisa paham, hal itu hanyalah hiburan. Tapi bagaimana
anak-anak yang cenderung mengikuti apa yang mereka anggap
menarik? Apakah adegan berciuman (seperti yang terdapat dalam
episode pertama Wei� Kreuz), walaupun belum terjadi,
layak untuk anak-anak?
Jangan semua ditonton
Kembali ke film kartun Neon
Genesis Evangelion, secara umum anime yang konon menjadi yang
terbaik di Jepang tahun 1995 itu memang memiliki kualitas
yang perlu diperhatikan. Soundtrack yang menjadi hit (di antaranya
lagu Fly Me to the Moon yang dulu dinyanyikan Frank Sinatra),
kisah seru, kualitas animasi tingkat tinggi, tingkat kompleksitas
cerita yang tinggi, karakter yang secara psikologis beragam,
hingga akhir cerita yang tak terduga yang konon sempat diprotes
para penonton. Tapi, apa yang bisa dicontohkan kepada anak-anak?
Apakah kita hendak mengajarkan pada anak-anak bahwa melarikan
diri dari kenyataan seperti dilakukan oleh sang tokoh utama,
Shinji Ikari, adalah salah? Apakah tingkat pemikiran anak-anak
sudah sampai ke sana?
Sekadar untuk diketahui, di
dalam Neon Genesis Evangelion ada banyak adegan yang tidak
layak ditonton anak-anak. Misalnya, adegan saat Eva-01 menikam
Angel ke-3 dengan robekan taring sang Angel itu sendiri. Juga
adegan pilot Eva-02, Asuka, telanjang di kamar mandi saat
ia hendak mandi. Belum lagi ending cerita yang membingungkan.
Menurut pengamatan, setiap orang yang menonton memiliki pendapat
yang berbeda-beda. Itu kalau orang dewasa yang menonton; bagaimana
kalau anak-anak? Padahal Neon Genesis Evangelion adalah anime
jenis mecha (robot), yang jelas disukai anak-anak, terutama
anak laki-laki.
Masih banyak lagi contoh lain.
Contoh paling dekat dan baru, Crayon Sinchan. Apakah Sinchan
yang sering merepotkan orang tuanya adalah contoh yang baik
bagi anak-anak? Kita yang dewasa bisa tertawa terbahak-bahak
menyaksikan ulah anak kecil berumur lima tahun itu. Tapi bagaimana
dengan penonton yang berumur, sebutlah, di bawah 10 tahun?
Tidakkah mereka berpikir bahwa Sinchan yang berumur lima tahun
saja seperti itu, lalu mereka akan mengikutinya tanpa disadari
oleh siapa pun?
Memang, kita bisa memberitahukan
kepada anak-anak bahwa itu semua hanyalah tontonan. Tapi amati
dengan baik. Jika dalam setiap anime terdapat adegan yang
tidak layak dipertontonkan kepada anak-anak, apakah anime
itu sendiri adalah tontonan untuk anak-anak? Lihat melalui
segi pembuatannya. Jika dibuat dengan adegan yang tidak layak
untuk diperlihatkan kepada anak-anak, apakah anime itu juga
tontonan anak-anak?
Anime memiliki beragam jenis.
Ada anime drama, berisi cerita mengenai kehidupan sehari-hari,
umumnya cerita mengenai masa muda, seperti sekolah, pacaran,
dan sebagainya; anime mecha, anime tentang mecha (robot).
Anime jenis ini perlu diamati dengan baik dan saksama karena
bobot cerita dan karakterisasi yang cenderung berat. Ada lagi
anime yang diadaptasi dari game. Biasanya, cerita anime ini
tidak jauh dari cerita aslinya. Dan sebagainya.
Bumbu anime sendiri bermacam-macam.
Seperti layaknya cerita, bumbu yang tepat adalah percintaan.
Inilah yang menjadi masalah. Apakah anak-anak di bawah umur
15 tahun sudah layak melihat pasangan muda-mudi berciuman?
Belum lagi bumbu yang aneh-aneh seperti shonen ai, slash,
shoujo ai, dan yuri. Shonen ai adalah kisah percintaan antara
dua pemuda, atau homo (gay) dalam bahasa kita. Slash adalah
kisah shonen ai yang sudah lebih mendalam, menuju pernikahan
atau hubungan serius lain. Berlawanan dengan shonen ai, shoujo
ai dan yuri terjadi pada wanita, atau lebih dikenal sebagai
lesbian. Ini kadang terdapat dalam anime. Apakah hal-hal demikian
pantas diajarkan pada anak-anak?
Kesimpulannya, anime adalah
sebuah karya seni. Sebuah karya yang indah. Tapi karya indah
itu memiliki dua mata pisau yang keduanya bisa melukai kita.
Ada anime yang layak diberikan untuk anak-anak, walaupun tidak
berarti aman dari pengaruh negatif. Beberapa contoh, cobalah
judul-judul seperti Pokemon dan Digimon. Dragon Ball pun (menurut
saya) masih bisa diberikan kepada anak-anak, karena tingkat
kesadisannya belum bloody (berdarah), tidak seperti Saint
Seiya.
Yang lebih penting, dampingi
anak-anak saat menonton anime. Saat itu ajarkan kepada mereka
hal-hal yang benar, apa saja yang harusnya dihindari, dan
apa-apa yang seharusnya dilakukan. Temani mereka saat menonton
Pokemon, tapi katakan juga bahwa itu hanya tontonan. Jangan
pernah menggunakan Pokemon sebagai dalil untuk mengadu binatang
seperti sabung ayam dan sebagainya. Sedangkan Wei� Kreuz
dan Evangelion, lebih baik orang dewasa saja yang menonton.
Tentunya, kita tak ingin anak-anak rusak hanya karena salah
mengartikan hiburan, 'kan? (Andrian W.D.)
source : Intisari
|