|
Oleh: Bimo Nugroho
Ada sebuah kesaksian menarik dari seseorang bernama Poetranegara.
Ia menuliskannya di X Pos, sebuah media bawah tanah, sebagai
berikut. Seorang ibu paruh baya menjerit di tengah keriuhan
sebuah terminal Kota Jakarta.
Seorang anak muda melesat berlari kesetanan. "Copeeet...copeeet!"
teriak sang ibu. Dengan segera orang-orang terbeliak, sebagian
memanjangkan leher menengok apa yang terjadi. Namun, sebagian
besar lainnya tak peduli. "Ah, copet. Biasa," gumam
seseorang entah siapa di samping saya. Dalam hitungan detik
sebetulnya peristiwa itu bakal berlalu begitu saja di tengah
ketidakpedulian Jakarta. Tetapi, tidak... Seorang pemuda bertampang
sangar tiba-tiba berteriak, "Kejaaarrr!". Dan serombongan
tukang ojek mempedal koplingnya gesit mengejar. Sekali lagi
dalam hitungan detik, akhirnya anak muda itu tertangkap tangan.
Tak ayal, bogem mentah meninju mukanya. Puluhan lelaki turut
menghajar. Tiba-tiba, entah siapa lagi, mengguyur anak muda
itu dengan bensin. Dan...
Apa yang dikisahkan Poetranegara itu (kita juga kian sering
membacanya di surat kabar-surat kabar), seolah persis dengan
film laga yang ditayangkan televisi, di mana ada pemeran yang
dibakar tubuhnya hingga mati kelojotan. Pertanyaan yang muncul
kemudian, adakah hubungan pengaruh kekerasan yang ditayangkan
di televisi dengan kekerasan yang kemudian benar-benar terjadi?
Jelas ada, Barbara Hattermer (The World and I, July 1994)
yang mengumpulkan hampir semua riset tentang hubungan kekerasan
di layar kaca dan dunia nyata, menyimpulkannya demikian.
Mengapa penyakit sosial ini mewabah? Bagaimana mengatasinya?
Apakah para orangtua harus menyekap anak-anaknya di rumah,
sehingga mereka tidak menggelorakan kerusuhan dan kriminalitas
di jalan-jalan?
Pengaruh awal televisi
Tak bisa disangkal, televisi pasti mempengaruhi kalangan anak-anak.
Mereka mulai tertarik dan mencerna apa yang ditampilkan televisi
sejak umur dua tahun. Umur dua sampai enam tahun, anak belum
bisa mengevaluasi pesan-pesan apa yang disampaikan televisi.
Mereka menganggap apa yang tampil di layar kaca itu adalah
kebenaran yang senyatanya. Bahkan mereka belum bisa membedakan
antara mana kenyataan yang sesungguhnya dan mana tayangan
yang hanya fiksi semata. Umur enam sampai dua belas tahun,
anak mulai meniru adegan-adegan yang mereka saksikan di televisi.
Tidak semua anak-anak ini mendapat bimbingan hingga mereka
berkembang secara utuh dewasa. Lewat televisi, mereka menerima
apa yang ditayangkan sebagai norma sosial dan mereka mengintegrasikannya
dalam pola perilaku ketika berhubungan dengan orang lain.
Dengan maraknya pornografi dan kekerasan di kotak ajaib ini,
kita bisa menduga apa yang menjadi norma sosial bagi anak-anak
kini. Sebuah survei yang menguji hal ini (Cause and Violent
Effect, Media and Our Youth, Barbara Hattemer, 1998) membuktikan
65 persen anak lelaki dan 47 persen anak perempuan percaya,
pada dasarnya perempuan secara diam-diam menginginkan tidur
bersama lelaki yang dipacarinya setelah kencan/pacaran selama
enam bulan.
Anda pembaca, pasti geleng-geleng kepala. Dalam hal kekerasan,
televisi pun merupakan agen jagoan, kekerasan muncul lewat
program-program film yang mereka tayangkan. Film seperti Teenage
Mutant Ninja Turtles menampilkan 133 tindak kekerasan per
jam; Total Recall, 74 orang dibunuh; Robocop II, 81 orang
dibunuh; Rambo III, 106 orang mati; dan Die Hard, 264 orang
tewas dengan mudahnya secara mengenaskan.
Beberapa dekade lewat di Amerika Serikat, para hakim dan polisi
tak pernah menjebloskan pelaku kriminal atau pemerkosa yang
masih ingusan. Namun, berita-berita seperti yang tercantum
di awal tulisan ini, sepertinya kini menjadi berita yang biasa
diterima setiap hari. Makin banyak anak-anak memukuli perempuan,
membunuh orangtuanya bahkan membunuh hanya untuk kesenangan
semata-mata. Serangan seksual terhadap perempuan kini semakin
sering dilakukan oleh anak-anak di bawah usia 18 tahun. Mereka
belajar dari media, koran-koran sampai televisi, dan mencoba
telepon-telepon porno. Park Dietz menunjukkan betapa penayangan
film ke anak-anak lelaki yang mempertunjukkan bagaimana tubuh
wanita dipotong-potong dengan mudah akan merangsang satu generasi
penganut seks sadis.
Sebuah studi tentang Freedy
dalam film Nightmare on The Elm Street dan Jason dalam Friday
the 13th membuktikan, dua tokoh itu ternyata lebih terkenal
ketimbang Abraham Lincoln dan George Washington. Bahkan kritikus
film Roger Ebert menilai, kini makin banyak film yang mengalihkan
simpati pemirsa dari perempuan yang diperkosa jadi simpati
kepada sang pemerkosa.
Bagaimanapun Juga Televisi Adalah
Pemicu Penelitian dalam waktu lama yang dilakukan Leonard Eron
dan Rowell Huesman mengorek akibat media pada penonton anak-anak
yang tumbuh dari usia delapan tahun hingga 22 tahun kemudian.
Hasilnya, mereka temukan bahwa tontonan kekerasan yang dinikmati
pada usia delapan tahunan akan mendorong kriminalitas pada usia
30 tahun. Penelitian lain yang dilakukan Brandon Centerwall
memfokuskan diri pada efek tayangan kekerasan pada kriminalitas
dalam jumlah populasi yang besar. Centerwall menemukan kesimpulan
yang sama, tayangan itu meningkatkan jumlah kriminalitas dan
perkosaan.
Centerwall percaya, efek pengaruh
terbesar menimpa pada usia di bawah 12 tahun. Kini, anak-anak
tak perlu menunggu dirinya dewasa untuk melakukan tindakan-tindakan
kriminal orang dewasa. Selama sepuluh tahun terakhir, Centerwall
mencatat persentase jumlah anak yang ditahan karena pembunuhan
naik 55 persen. Centerwall menjelaskan adanya efek bola salju
di mana tayangan televisi yang mengandung kekerasan pada akhirnya
akan membesar jadi kekerasan yang dilakukan oleh para penikmat
tayangan itu. Jurnalis David Barry melaporkan, dulu tahun
1950-an kekerasan yang muncul dalam film digambarkan dengan
adanya pemeran yang luka tetapi masih hidup.
Kekerasan yang muncul bukan kekerasan
yang mematikan. Namun, sejak itu kekerasan meningkat terus dan
korban yang ditampilkan pasti mati. Kekerasan di layar kaca
itu seiring peningkatannya dengan kriminalitas di dunia nyata.
Pada tahun 1951 di Amerika Serikat, tercatat ada 6.820 kasus
pembunuhan, 16.800 kasus perkosaan, dan 52.090 kasus perampokan.
Tahun 1980, pembunuhan naik jadi 23.000 kasus, perkosaan 78.920
kasus, dan perampokan 548.200 kasus. Ini berlangsung dalam kenaikan
jumlah penduduk dari 150 juta menjadi 220 juta, peningkatan
kekerasan itu melampaui pertambahan penduduk sebesar 47 persen.
Penelitian yang dilakukan terhadap
para pelaku kekerasan itu menyimpulkan bagaimana anak-anak
muda itu menjadi kriminal. Mereka mengobservasi apa yang mereka
lihat di televisi dan menganggap, penyelesaian dengan jalan
kekerasan itu merupakan cara yang ampuh dan cepat guna mereka
laksanakan dalam kehidupan sehari-hari.
Protes keluarga Sebelum kekerasan
di jalanan makin meruyak, ada baiknya mengkonkretkan tindakan-tindakan
yang sederhana tetapi penting. Bagaimanapun solusi terbaik
untuk mengurangi kriminalitas ini, kuncinya adalah perlindungan
keluarga. Ini resep lama, orangtua perlu menemani anak ketika
menonton televisi dan memberitahu mana yang layak dan mana
yang tidak layak bagi mereka dan kehidupan sosial.
Di sisi lain, stasiun stasiun
televisi perlu diwajibkan mencantumkan keterangan semacam Parental
Guide saat mereka menayangkan program yang mengandung kekerasan
dan sensualitas. Namun, seiring kesibukan orangtua dan makin
berkembangnya industri media yang memproduksi tayangan-tayangan
kekerasan, orangtua dan keluarga kiranya perlu sejenak meluangkan
waktu untuk melakukan protes tertulis pada media sampai DPR
dan pemerintah. Memang, pada akhirnya diperlukan regulasi dan
peraturan-peraturan untuk media agar tidak menayangkan kekerasan
yang berlebihan.
(*Bimo Nugroho, mahasiswa
pascasarjana Ilmu Komunikasi Universitas Indonesia. Koordinator
riset di Institut Studi Arus Informasi (ISAI).
Source : Kompas, 15/05/00
|