|
Oleh M Jamiluddin Ritonga
HINGGA kini masih banyak pengamat
televisi yang begitu yakin mengenai efek pesan televisi. Pesan
melalui televisi diyakini berpengaruh langsung terhadap pemirsanya,
baik itu kognitif, afektif, maupun behavioral. Bahkan tidak
sedikit di antara mereka yang begitu yakin bahwa televisi
dapat merusak ideologi suatu bangsa.
Keyakinan itu memang ada dasar
rujukannya. Perkembangan teori efek media massa misalnya,
memang seperti cycle. Awalnya, media massa dipandang berpengaruh
kuat. Pengaruhnya langsung terhadap perubahan sikap dan perilaku
masyarakat yang pasif dan tidak selektif. Masyarakat demikian
dianggap menerima begitu saja setiap rangsangan (pesan) dari
media massa.
Pandangan berikutnya, pengaruh
media massa dianggap terbatas. Anggapan ini muncul setelah
banyak studi yang memperlihatkan bahwa pengaruh media massa
ditentukan oleh perilaku selektif masyarakat. Selektivitas
yang dimaksud meliputi seleksi terpaan (selective exposure),
pemahaman (selective perception), dan ingatan (selective retention).
Lalu muncul pandangan yang
berasumsi bahwa masyarakat bukan kelompok pasif (social vacuum)
yang berperan sebagai posisi penerima pesan media semata.
Anggota masyarakat dipandang sebagai komponen aktif dalam
mencari informasi dan hiburan yang dilandasi kebutuhan untuk
memperoleh kepuasan dari media tertentu. Di sini isi media
massa dinilai tidak memberi efek apa-apa terhadap khalayak.
Pandangan mengenai efek media
massa belakangan ini kembali ke anggapan awal bahwa media
massa dapat berpengaruh kuat (powerful effect). Namun pengaruh
tersebut dapat terjadi bila dalam melakukan tindak komunikasi
melalui media massa dipenuhi persyaratan tertentu. Misalnya,
kampanye orangtua asuh atau hemat energi melalui televisi
akan berpengaruh kuat bila program tersebut dikemas secara
baik dengan menggunakan prinsip-prinsip teori komunikasi.
Jadi, kalau kita cermati perkembangan
efek media massa, agaknya anggapan para pengamat mengenai
efek televisi cukup beralasan. Persoalannya, apakah semua
pesan yang ditayangkan televisi nasional berpeluang menghasilkan
efek langsung?
***
MEDIA televisi - sebagaimana kita saksikan - bukan hanya menayangkan
acara hiburan saja, tetapi juga berbagai informasi. Dalam
kaitan ini ada dua hal yang layak diperhatikan.
Pertama, siapa produsen acara
yang ditayangkan TV nasional? Untuk acara hiburan, meskipun
saat ini sudah mulai terlihat sinetron lokal banyak ditayangkan,
namun acara asing (khususnya Barat) tampak masih dominan.
Karena itu, cara-cara orang Barat memproduksi acara hiburan
patut dicermati.
Di negara-negara Barat yang
menganut persaingan bebas, kata Hamelink, produsen hiburan
pada akhirnya terbatas juga pada sejumlah kecil big business.
Dengan begitu, pilihan selera ditentukan oleh mereka, yang
dalam hal ini pertimbangan komersial memainkan peranan penting.
Pola pikir demikian tampaknya konvergen dengan pengelola TV
nasional (kecuali TVRI). Hal itu setidaknya dapat diidentifikasi
dari komentar pengelola TV swasta nasional yang mengutamakan
profit oriented. Dasar berpikir pengelola TV swasta ada benarnya,
karena industri televisi adalah padat modal.
Hal itu membawa konsekuensi
pada persaingan penayangan film unggulan semakin ketat. Seleksi
film di masing-masing stasiun mau tidak mau berorientasi pada
kehendak pasar. Artinya, film unggulan yang layak tayang adalah
yang laku dijual ke pemasang iklan dan yang diminati penonton.
Film-film yang memenuhi syarat seperti itu, sebagaimana yang
dominan ditayangkan tv swasta, kerapkali tidak mencerminkan
realitas. Namun karena film-film itu dibuat dengan memperhatikan
prinsip-prinsip teori komunikasi, khalayak yang memirsa akan
mempersepsi seolah-olah realitas sebenarnya. Hal itu didukung
pula oleh penyajian visual yang benar-benar memperhatikan
psikologis gambar. Semua visual lalu dipadukan dengan memperhatikan
prinsip unity, emphasis, simplicity, dan balance.
Kedua, televisi hanya menampilkan
realitas sosial dengan distorsi. Realitas yang disajikan seolah-olah
langsung dan sesuai dengan kenyataan, tetapi sebetulnya hanya
cermin-cermin yang retak. Realitas tercermin dalam televisi
hampir nyata dan asli, tetapi sebenarnya tidak asli lagi.
Televisi menempatkan diri di tengah-tengah penerima dan realitas
sosial. Redaksi televisi meregistrasikan realitas menurut
pendekatan mereka dan meneruskan gambar-gambar kepada penerima,
sehingga realitas sosial hanya dirasakan secara tidak langsung.
Itu artinya, hanya sebagian
dari realitas sosial yang diseleksi, tetapi itu disajikan
seolah-olah realitas yang menyeluruh. Padahal realitas sosial
ditayangkan sudah dipotong-potong agar sesuai dengan kaidah
siaran televisi yang baik. Serangkaian kaidah teknis dan profesional
mengendapkan realitas sosial dan dijadikan gambar yang apik.
Jadi, informasi atau berita
yang ditayangkan televisi sebetulnya mengacaukan hubungan
dengan dunia kehidupan langsung dan mengajak pemirsa untuk
menyesuaikan diri kepada suatu realitas sosial yang semu.
Informasi demikian kerapkali dapat dilihat pada acara informasi
di tv nasional.
Dalam meliput kampanye pemilu
yang lalu misalnya, tv nasional mengcover ketiga OPP dengan
berusaha menggunakan durasi yang hampir sama. Dari sisi ini
terkesan tv nasional berupaya netral. Namun kalau dicermati
teknik pengambilan gambar, sulit bagi kita untuk mengatakan
TV nasional bersikap netral. Perbedaan sudut pengambilan gambar
untuk masing-masing OPP mengindikasikan TV nasional memihak
pada salah satu OPP. Begitu pula dalam menyajikan lead dan
ending berita masing-masing OPP, TV nasional cenderung menyajikan
nilai lebih salah satu OPP.
Contoh tersebut memberi gambaran,
TV nasional dengan 'bermain-main' pada teknik jurnalistik
dan psikologis gambar membuat konstruksi kampanye pemilu seolah-olah
realitas sebenarnya. Padahal yang ditayangkan hasil seleksi
dari banyaknya peristiwa kampanye yang dilakukan masing-masing
OPP di setiap wilayah. Apa yang ditayangkan TV nasional hanya
penggalan-penggalan kampanye di beberapa tempat yang jauh
dari realitas sebenarnya.
Namun karena pesan-pesan film
(hiburan) dan informasi yang ditayangkan TV nasional dirancang
sesuai teori komunikasi, kaidah teknis jurnalistik, dan profesional,
maka peluang pengaruhnya (efek) bagi masyarakat tidak dapat
diabaikan. Setidaknya bila hal itu dikaitkan dengan perkembangan
teori efek media massa belakangan ini.
***
HAL itu sejalan dengan pendapat Jeffres. Katanya, berpengaruh
tidaknya tayangan TV harus memenuhi beberapa syarat. Pertama,
tv secara konsisten menayangkan hal yang mencerminkan kekerasan
di masyarakat. Kedua, penonton diekspos dan mereka menaruh
perhatian terhadap program tersebut. Ketiga, adegan tersebut
menimbulkan berbagai efek psikologis pada penontonnya.
Ketiga unsur itu tampaknya
sudah terpenuhi. Acara informasi di TV nasional, khususnya
TV swasta, cenderung menayangkan pembunuhan, perampokan, perkelahian,
dan sejenisnya. Karena itu tidak berlebihan bila ada yang
menyebut salah satu acara informasi TV swasta sebagai 'Pos
Kotanya Elektronik'. Hal yang sama juga terlihat pada acara
hiburan. Litbang Kompas (15 September 1993) menghitung secara
kuantitatif berapa kali aksi kekerasan muncul dalam tayangan
TVRI, RCTI, TPI, dan SCTV. Hasilnya, empat stasiun tv itu
menayangkan adegan kekerasan sebanyak 127 kali dari 11 film
yang disajikan (Kompas, 19 September 1993).
Adegan kekerasan itu memang
kurang mencerminkan realitas. Banyak adegan kejahatan kriminal
di TV diselesaikan melalui kekerasan. Di masyarakat juga terdapat
indikasi ke arah itu, seperti banyaknya peristiwa kekerasan
dua tahun terakhir ini, walaupun banyak pula yang menggunakan
jalur hukum. Bahkan temuan Dominik menginformasikan, hampir
9 dari 10 kejahatan dalam tayangan cerita di tv dapat diatasi,
sedangkan menurut data FBI hanya 23 persen kejahatan di masyarakat
yang dapat diatasi.
Dominannya adegan kekerasan
di TV nasional itulah yang terus-menerus dikonsumsi masyarakat
Indonesia. Padahal adegan demikian bila ditayangkan melalui
TV dapat menjadi model-model (role models) agresif yang atraktif
bagi pemirsa yang memiliki temperamen, kepribadian, atau kecenderungan
kasar dan beringas. Itu dimungkinkan karena menurut Fenigstein,
orang berperilaku agresif cenderung menonton atau memilih
adegan penuh kekerasan. Hal yang sama juga diduga akan berlaku
pada pesan TV yang bersifat antisosial lainnya. Kalau demikian,
dalam kaitan dengan acara yang ditayangkan TV nasional, pendapat
Sari Thomas, kritikus TV komersial Amerika Serikat, bisa menjadi
relevan. Ia mengatakan, layanan acara-acara TV yang disajikan
mempunyai dua tujuan. Pertama, memberi hiburan kepada khalayak
yang kurang akal (mindless audience). Kedua, menciptakan pasar
melalui iklan dengan menjual produk dan jasa kepada massa
yang kurang akal (mindless mass). Mereka berasumsi, kombinasi
kedua fungsi itu merupakan mekanisme kunci si penjual -network,
corporation, and agency executives- untuk menjadi kaya. Kalau
hal itu bagi pengelola TV nasional dinilai berlebihan, persoalan
tersebut toh tetap layak dikaji saat insan pertelevisian berulang
tahun pada 24 Agustus lalu.
(* M Jamiluddin Ritonga, dosen
Fakultas Ilmu Komunikasi, Institut Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
(IISIP) Jakarta).
Source : KOMPAS
|