header_bar Halaman Depan Beritahu situs ini pada teman Tentang kami
bar_film
btn_home
btn_kritik
btn_whatsnew
btn_acara
btn_email

��Depan ��Terbaru ��Artikel ��Opini
��
Tentang�Kami

Dampak media (tidak) selalu positif


Kotak itu akan diisi oleh pengirim berita dengan segala sesuatu yang ingin disampaikannya, bisa saja berupa informasi, hiburan, pendidikan, dan lain-lainnya. Setelah terisi, para penerima berita akan dapat melihat kotak kosong tersebut beserta dengan isinya. Secara sederhana itulah yang dapat kita gambarkan sebagai media. Akan tetapi yang menjadi pokok permasalahan, terkadang media menyampaikan apa saja, tanpa pengontrolan yang ketat. Bisa jadi yang disampaikan adalah materi yang belum tentu membawa dampak yang baik bagi penontonnya.

Banyak hal yang dapat digolongkan sebagai media. Televisi, majalah, koran, buletin, selebaran, komik, radio, internet, adalah hanya sebagian kecil yang dapat kita golongkan sebagai media. Hal-hal tersebut bukanlah hal yang jauh dari kehidupan kita. Bisakah kita bayangkan ibu-ibu jaman sekarang kalau di rumahnya tidak terdapat televisi. Apakah mereka dapat saling ngerumpi tentang telenovela atau sinetron kesayangan mereka, dengan para tetangga pada saat arisan? Apakah juga bisa kita bayangkan para anak-anak kecil jaman sekarang kalau tidak ada televisi atau komik di rumah mereka. Apakah mereka bisa ngobrol dengan kawan dekatnya tentang Shin Chan, Bart Simpson, atau Power Rangers? Apakah dapat kita bayangkan mahasiswa jaman sekarang apakah mampu melakukan reformasi bila tanpa ada internet dan televisi sebagai media penyampai tuntutan mereka?

Namun sekali lagi yang menjadi pokok permasalahan media, adalah dampaknya, dampak dari apa yang telah disampaikan oleh media. Banyak hal yang telah menjadi pembicaraan publik akhir-akhir ini tentang dampak media. Terkadang kita melihat acara film kartun anak-anak yang terkesan lucu. Namun perlu kita waspadai, terkadang di dalamnya terdapat ajaran-ajaran untuk menentang orang tua, kekerasan, dan tidak jarang berbau pornografi, yang seharusnya tidak dikonsumsi anak-anak. Jelas sekali film, sebagai salah satu media mempunya dampak psikologis yang begitu besar bagi anak-anak. Tidak jarang kita lihat anak-anak mencoba mengekspresikan sifat heroiknya (kepahlawanannya) setelah menonton film tertentu. Bisa jadi dalam mengekspresikannya anak-anak cenderung melakukan kekerasan. Video klip dari lagu-lagu yang sering diputar akhir-akhir ini, juga tidak jarang yang menampilkan materi kekerasan, pornografi atau yang lainnya, yang terselip dalam lirik lagu yang dinyanyikan. Memang dari luar terkesan baik lagu yang sedang diputar tersebut, namun coba amati lebih seksama lagi!!! Game Playstation juga tidak semuanya mengajarkan ketangkasan, namun juga terselip adegan kekerasan, pembunuhan, yang seharusnya tidak dikonsumsi oleh anak-anak.

Penataan jam tayang yang baik, pencantuman kode klasifikasi pengkonsumsinya, dan penanaman filter dari dalam pribadi sejak dini, merupakan beberapa alternatif yang dapat menjadi jalan keluar sementara ini. Televisi khususnya harus lebih cermat menata jam tayang program-programnya agar program tersebut cocok untuk ditayangkan untuk konsumennya. Selain itu pencantuman kode klasifikasi untuk pengkonsumsi, seperti SU (Semua Umur), BO (Bimbingan Orang Tua), 17+ (untuk 17 tahun ke atas) pada sudut layar kaca Anda, sementara ini juga merupakan cara yang cukup efektif, yang media dapat lakukan. Namun semua ini perlu disosialisasikan lagi, supaya hal ini menjadi hal yang lazim, dapan dapat dipatuhi oleh pengkonsumsinya. Jadi waspadalah, media tidaklah selalu membawa dampak positif!!! Hati-hati media selalu ada di sekitar Anda!!!



source :http://www.sangkakala.f2s.com/
Sangkakala.net, 20 Februari 2001


� Kritik Acara TV, Last updated: 14 September 2001
Design, developed and maintained by Kritik�Acara�TV Certification






spacer
Hosted by www.Geocities.ws

1