|
Kotak itu akan diisi oleh pengirim
berita dengan segala sesuatu yang ingin disampaikannya, bisa
saja berupa informasi, hiburan, pendidikan, dan lain-lainnya.
Setelah terisi, para penerima berita akan dapat melihat kotak
kosong tersebut beserta dengan isinya. Secara sederhana itulah
yang dapat kita gambarkan sebagai media. Akan tetapi yang
menjadi pokok permasalahan, terkadang media menyampaikan apa
saja, tanpa pengontrolan yang ketat. Bisa jadi yang disampaikan
adalah materi yang belum tentu membawa dampak yang baik bagi
penontonnya.
Banyak hal yang dapat digolongkan
sebagai media. Televisi, majalah, koran, buletin, selebaran,
komik, radio, internet, adalah hanya sebagian kecil yang dapat
kita golongkan sebagai media. Hal-hal tersebut bukanlah hal
yang jauh dari kehidupan kita. Bisakah kita bayangkan ibu-ibu
jaman sekarang kalau di rumahnya tidak terdapat televisi.
Apakah mereka dapat saling ngerumpi tentang telenovela atau
sinetron kesayangan mereka, dengan para tetangga pada saat
arisan? Apakah juga bisa kita bayangkan para anak-anak kecil
jaman sekarang kalau tidak ada televisi atau komik di rumah
mereka. Apakah mereka bisa ngobrol dengan kawan dekatnya tentang
Shin Chan, Bart Simpson, atau Power Rangers? Apakah dapat
kita bayangkan mahasiswa jaman sekarang apakah mampu melakukan
reformasi bila tanpa ada internet dan televisi sebagai media
penyampai tuntutan mereka?
Namun sekali lagi yang menjadi
pokok permasalahan media, adalah dampaknya, dampak dari apa
yang telah disampaikan oleh media. Banyak hal yang telah menjadi
pembicaraan publik akhir-akhir ini tentang dampak media. Terkadang
kita melihat acara film kartun anak-anak yang terkesan lucu.
Namun perlu kita waspadai, terkadang di dalamnya terdapat
ajaran-ajaran untuk menentang orang tua, kekerasan, dan tidak
jarang berbau pornografi, yang seharusnya tidak dikonsumsi
anak-anak. Jelas sekali film, sebagai salah satu media mempunya
dampak psikologis yang begitu besar bagi anak-anak. Tidak
jarang kita lihat anak-anak mencoba mengekspresikan sifat
heroiknya (kepahlawanannya) setelah menonton film tertentu.
Bisa jadi dalam mengekspresikannya anak-anak cenderung melakukan
kekerasan. Video klip dari lagu-lagu yang sering diputar akhir-akhir
ini, juga tidak jarang yang menampilkan materi kekerasan,
pornografi atau yang lainnya, yang terselip dalam lirik lagu
yang dinyanyikan. Memang dari luar terkesan baik lagu yang
sedang diputar tersebut, namun coba amati lebih seksama lagi!!!
Game Playstation juga tidak semuanya mengajarkan ketangkasan,
namun juga terselip adegan kekerasan, pembunuhan, yang seharusnya
tidak dikonsumsi oleh anak-anak.
Penataan jam tayang yang baik,
pencantuman kode klasifikasi pengkonsumsinya, dan penanaman
filter dari dalam pribadi sejak dini, merupakan beberapa alternatif
yang dapat menjadi jalan keluar sementara ini. Televisi khususnya
harus lebih cermat menata jam tayang program-programnya agar
program tersebut cocok untuk ditayangkan untuk konsumennya.
Selain itu pencantuman kode klasifikasi untuk pengkonsumsi,
seperti SU (Semua Umur), BO (Bimbingan Orang Tua), 17+ (untuk
17 tahun ke atas) pada sudut layar kaca Anda, sementara ini
juga merupakan cara yang cukup efektif, yang media dapat lakukan.
Namun semua ini perlu disosialisasikan lagi, supaya hal ini
menjadi hal yang lazim, dapan dapat dipatuhi oleh pengkonsumsinya.
Jadi waspadalah, media tidaklah selalu membawa dampak positif!!!
Hati-hati media selalu ada di sekitar Anda!!!
source :http://www.sangkakala.f2s.com/
Sangkakala.net, 20 Februari 2001
|