header_bar Halaman Depan Beritahu situs ini pada teman Tentang kami
bar_film
btn_home
btn_kritik
btn_whatsnew
btn_acara
btn_email

��Depan ��Terbaru ��Artikel ��Opini
��
Tentang�Kami

Arogansi Stasiun Televisi


Penulis: Penulis: Veven Sp. Wardhana *

detikcom - TAMPAKNYA, ketegangan antara �selera pasar� yang dijadikan argumentasi stasiun televisi � juga umumnya produser budaya massa � dengan kualitas akan terus berlangsung entah hingga kapan; setidaknya untuk kasus Indonesia. Sudah banyak kritik dilontarkan terhadap pelbagai mata tayangan televisi Indonesia yang dianggap membodohi masyarakat, antilogika, dan sejenisnya -- termasuk kemengada-adaannya pelbagai sinetron serial yang diniatkan model-model opera sabun atau telenovela � toh tetap saja para pengelola stasiun televisi senantiasa memiliki kilah: �Itulah yang yang dibutuhkan pemirsa. Buktinya, peringkatnya senantiasa tinggi.�

Dalam sebuah diskusi yang dimaksudkan sebagai peluncuran buku Konstruksi Budaya Bangsa di Layar Kaca (aslinya merupakan disertasi di Ohio University, 2000: Television, Nation, and Culture in Indonesia) karya Philip Kitley terbitan Institut Studi Arus Informasi (ISAI) dan Lembaga Studi Pers & Pembangunan (LSPP) di Teater Utan Kayu, Jakarta, 20 Juni 2001, seorang peserta diskusi � mengaku sebagai ibu dua anak dan bukan orang kantoran � menganggap bahwa para praktisi tayangan televisi selama ini telah bersikap sombong. Alasannya, selama ini sesungguhnya pelbagai tayangan televisi Indonesia itu hanya menawarkan satu sisi semata. Artinya, sama sekali tidak ada alternatif pilihan, kecuali: menonton atau tidak menonton.

�Bagaimana ini dianggap demokratis jika tiadanya pilihan? Omong kosong saja jika praktisi pertelevisian menyatakan bahwa sejak munculnya televisi swasta masyarakat jadi punya banyak pilihan,� tegas ibu tersebut.

Ishadi SK, petinggi PT Televisi Transformasi Indonesia yang menjadi discussant atau salah satu pembahas buku Kitley malah balik menuding bahwa ibu penanya itulah yang sombong. �Bikin satu produksi yang ditayangkan televisi itu butuh banyak tenaga, banyak waktu, dan banyak pikiran; alangkah sombongnya Anda ternyata malah tidak menontonnya,� kata Ishadi, bekas Direktur Jenderal Radio Televisi Film di masa menjelang Soeharto turun takhta, selain sebelumnya Direktur Operasional Televisi Pendidikan Indonesia, juga sebelumnya Direktur TVRI.

Kata Ishadi, ibu peserta diskusi terhitung sebagai seorang yang selektif, yang bisa memilih tayangan yang dianggap berkualitas. �Sangat sedikit tipe pemirsa Indonesia yang seperti ibu,� katanya. Maknanya, dalam bahasa adaptasi saya: masih banyak masyarakat yang bodoh sebagai penonton tayangan televisi.

Bahasa yang dipergunakan Ishadi, sekalipun dengan kalimat dan kata-kata yang berbeda, sesungguhnya sama dan sebangun dengan sejumlah produser dan para pengelola rancangan program tayangan televisi umumnya dan sebelumnya, yakni atas nama selera pasar. Maknanya, tetap saja pemirsa tertempatkan sebagai sekadar angka. Ketika era hanya TVRI yang bersiaran, terutama untuk kepentingan propaganda sebuah rezim, masyarakat tertempatkan sebagai angka-angka warga negara yang hanya menerima petuah dan fatwa dari atas alias pemerintah. Kemudian ketika bermunculan televisi swasta, pemirsa juga tetap tertempatkan sebagai sekadar angka yang bernama konsumen.

Ishadi tidak salah memberikan ilustrasi bahwa ketika dia bekerja di TPI menjalin kerjasama dengan sineas unggul Teguh Karya menggarap serial lakon televisi yang dianggap berkualitas � dan ternyata tak mengatrol peringkat, sehingga dianggap sebagai program yang tak layak diteruskan. Namun, tak berarti kasus ini bisa dijadikan satu-satunya alasan justifikasi bagi rancangan program umumnya serta terutama menyangkut selera pasar.

Atas kasus kerjasama dengan Teguh Karya � juga Slamet Rahardjo dan Garin Nugroho � setidaknya memunculkan dua kemungkinan. Kemungkinan pertama, kualitas yang diharapkan itu tidak harus semodel Teguh Karya, Slamet Rahardjo, dan Garin Nugroho. Kemungkinan kedua, jika misalnya pola garapan Teguh-Slamet-Garin memang terhitung bermutu, itu tak bisa diukur hanya dengan secuil, bahkan belasan, penayangan.

Artinya, ada sesuatu yang harus dikondisikan. Justru karena conditioning pulalah berbagai tayangan yang dianggap tak bermutu yang selama ini bertebaran di layar kaca televisi Indonesia jadi tertelan begitu saja, karena memang tiada lagi alternatif. Padahal, dulu-dulu, opera sabun ala Dynasty tayangan TVRI banyak mendapat tentangan. Juga justru karena pengkondisian pula � untuk mengambil contoh kasus lain yang positif � tayangan talkshow saat-saat mutakhir ini menjadi mode dan banyak bertebaran di semua tayangan televisi Indonesia. Padahal, acara unjuk-wicara ini pernah dianggap sebagai acara yang kering kerontang.

Conditioning, tampaknya itulah yang malas dilakukan para pengelola televisi Indonesia. Kalaulah beragam tayangan itu terkondisikan dan benar-benar menjadi demokratisasi bagi publik pemirsa, tugas produser tinggal memproduksi macam apa pun ragam mata tayangannya. Lain soal kalau para produser itulah yang hingga kini yang justru mengkondisikan cara pikir para broadcaster televisi.

Jadinya, publik hanya bisa manyun dikadali terus menerus. ***


* Pengamat televisi dan sinetron Indonesia

Source : Detik.com 23 Juni 2001


� Kritik Acara TV, Last updated: 14 September 2001
Design, developed and maintained by Kritik�Acara�TV Certification






spacer
Hosted by www.Geocities.ws

1