1001 Cara Kristenisasi
Berbagai cara ditempuh untuk melancarkan proyek kristenisasi. Ada
yang memalsukan Al-Quran, pendeta mengaku haji, sampai upaya memurtadkan kiai
ternama. Ada pula tokoh Muslim yang "mendukung" kristenisasi
Kawin antar-agama hanyalah salah satu cara kristenisasi. Lainnya, banyak.
Menurut kristolog Abu Deedat Shihab, kaum misionaris dan zending perlu menempuh
berbagai macam cara karena selama ini merasa gagal. Kini, kristenisasi lebih
diprioritaskan untuk menjauhkan ummat Islam dari agama, baru kemudian
memurtadkannya. Abu Deedat merujuk pada Al-Quran Surat Al-Baqarah: 109, "Sebagian
besar Ahli Kitab menginginkan agar mereka dapat mengembalikan kamu kepada
kekafiran setelah kamu beriman..." Juga Al-Baqarah: 120, "Orang-orang Yahudi dan
Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka."
Sinyalemen Al-Quran itu memang benar. Dalam Konferensi Misionaris di kota Quds
(1935), Samuel Zweimer, seorang Yahudi yang menjabat direktur organisasi misi
Kristen, menyatakan, "Misi utama kita bukan menghancurkan kaum Muslimin sebagai
seorang Kristen, namun mengeluarkan seorang Muslim dari Islam agar jadi orang
yang tidak berakhlaq sebagaimana seorang Muslim. Tujuan kalian adalah
mempersiapkan generasi baru yang jauh dari Islam, generasi yang sesuai dengan
kehendak kaum penjajah, generasi malas dan hanya mengejar kepuasan hawa nafsu."
Plesetan Al-Quran
Al-Quran, sebagai tuntunan hidup ummat Islam, kini dimanfaatkan sebagai sarana
kristenisasi. Tentu saja bukan Al-Quran sungguhan, tapi palsu. Salah satunya
adalah The True Furqan, yang sempat beredar di internet dan menggegerkan publik
Jawa Timur, awal Mei lalu. Dalam Al-Quran buatan Evangelis (Ev) Anis Shorrosh
itu, ada surat bernama Al-Iman, At-Tajassud, Al-Muslimun, dan Al-Washaya yang
isinya memuji-muji Yesus.
Selain ada Al-Quran palsu, juga bertebaran buku-buku plesetan ayat-ayat Al-Quran
dan Hadits. "Cara ini yang sekarang paling banyak terjadi. Pemberian Supermie
atau bantuan uang sudah tidak manjur lagi," tutur Abu Deedat.
Kenapa cara itu ditempuh? Dalam wawancara dengan majalah Jemaat Indonesia (edisi
4 Juni 2001), Pdt R Muhamad Nurdin —Muslim murtad— menyebut trik itu sebagai
cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati. "Saya membuat buku agar dibaca
umat Kristen, kemudian disalurkan kepada umat beragama lain. Saya tulis untuk
kalangan sendiri, untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. Demikian bagi
orang Yahudi aku seperti orang Yahudi, supaya aku memenangkan orang Yahudi. Itu
cara yang hati-hati dalam merebut hati kaum Muslimin. Jangan sampai ada vonis
mati seperti untuk Suradi dan Poernama," ujarnya. Dua nama terakhir adalah
pendeta yang divonis mati oleh Forum Ulama Ummat (FUU) Bandung karena menghina
agama Islam.
Buku-buku Nurdin laku keras. Dalam tiga tahun, 5000 eksemplar ludes. Hasilnya,
menurut penuturan Wakil Gembala Gereja Kristen Maranatha Indonesia (GKMI)
Rawamangun Jakarta ini, banyak orang Islam yang akhirnya menerima Yesus alias
murtad. "Bahkan ada yang menjadi penginjil."
Contoh buku karangan Nurdin adalah Ash-Shadiqul Masdhuq (Kebenaran yang Benar),
As-Sirrullahil Akbar (Rahasia Allah yang Paling Besar), dan Ayat-ayat Penting
dalam Al-Quran.
Selain buku, juga bermunculan brosur atau pamflet sejenis lembar Jumat. Judul
yang dipilih pun seolah-olah Islami.
Misalnya "Allahu Akbar Maulid Nabi Isa as", "Kesaksian Al-Quran tentang
Keabsahan Taurat dan Injil", dan "Siapakah yang Bernama Allah itu?" Bertebaran
pula stiker kaligrafi Arab yang isinya pujian kepada Yesus.
Buku dan brosur itu diterbitkan oleh Yayasan Jalan Al-Rachmat, Yayasan Christian
Center Nehemia Jakarta, Yayasan Pusat Penginjilan Alkitabiah (YPPA), Dakwah
Ukhuwah, dan Iman Taat kepada Shiraathal Mustaqiim.
Anak-anak sekolah juga menjadi sasaran empuk. Siti Muflikhah, santri Pesantren
At-Taqwa Bekasi, pernah mendapat surat berisi komik anak-anak dari sebuah
lembaga yang menamakan diri Klab17. Di bagian awal, komik itu berisi cerita
keseharian anak-anak. Namun di bagian akhir ada pernyataan, "Saya percaya akan
Engkau, Yesus sebagai juruselamat saya."
Mengaku Mantan Haji
Bidang kesehatan juga dibidik. Ini antara lain dialami keluarga Hartono, warga
Kupang, Surabaya. Istrinya, Jam'iyah, sakit dan dirawat di RS RKZ Surabaya.
Biaya yang harus dikeluarkan selangit sehingga Hartono yang cuma bekerja sebagai
mandor kontraktor kebingungan. Datang misionaris menawarkan bantuan biaya
pengobatan. Namun ada syaratnya: masuk Kristen. Hartono terpikat. Suami istri
itupun akhirnya menjadi penganut Kristen.
Cara yang cukup sulit diidentifikasi adalah tipu daya dengan meniru adat atau
kebiasaan komunitas Muslim. Di Cirebon, ada kelompok qasidah yang menyanyikan
puji-pujian kepada Yesus.
Hal serupa juga dilakukan jemaat Kanisah (Kristen) Ortodoks Syiria (KOS) yang
menyelenggarakan tilawatul Injil, memakai peci, ibadahnya mengamalkan shalat 7
waktu, memakai sajadah, dan mendendangkan qasidah.
Duta-duta Injil (begitu kalangan Kristen menyebutnya —red) juga berani mengaku
sebagai mantan ustadz, bertitel haji atau hajjah, atau anak kiai terkenal.
Pengakuan-pengakuan seperti itu direkam dalam kaset dan diedarkan di tengah
masyarakat.
Misalnya di Cirebon, murtadin Ev Danu Kholil Dinata alias Theofilus Daniel alias
Amin Al-Barokah, mengaku sebagai sarjana agama Islam, yang pindah menjadi
pemeluk Kristen setelah mempelajari Nabi Isa versi Islam di STAI Cirebon.
Ternyata ijazah sarjana yang dipakai untuk kesaksian itu palsu.
Ada lagi Ev Hj Christina Fatimah alias Tin Rustini alias Sutini alias Bu Nonot,
pemberita Injil dengan memperalat Al-Quran di Gereja Bethel Pasir Koja, Bandung.
Mengaku pernah berkali-kali menunaikan ibadah haji. Menurut penuturan Sumarsono,
mantan suaminya, Sutini tidak pernah belajar di pesantren. Selama berkeluarga
tidak pernah shalat. Memang dia pernah pergi ke Arab Saudi, bukan untuk ibadah
haji tetapi menjadi TKW.
Banyak lagi kaset-kaset yang berisi rekaman kesaksian palsu, misalnya kesaksian
HA Poernama Winangun alias H Amos, Pdt R Muhamad Nurdin, Pdt M Mathius, Pdt
Akmal Sani, Niang Dewi Ratu Epon Irma F Intan Duana, dan Ev Paulus Marsudi.
Sekolah dan Tawaran Kerja
Biaya sekolah yang kian mahal juga dimanfaatkan untuk menjerumuskan kaum
Muslimin. Mereka mendirikan sekolah (yang seolah-olah) Islam, seperti Institut
Teologi Kalimatullah Jakarta yang dikelola Yayasan Misi Global Kalimatullah.
Juga ada Sekolah Tinggi Teologi (STT) Apostolos Jakarta, yang mempunyai
kurikulum Islamologi bermuatan 40 sks.
Lapangan kerja juga menjadi lahan subur. Ini misalnya dilakukan pasangan
misionaris Robert Antony Adam dan Traccy Carffer di Kabupaten Pesisir Selatan,
Sumatera Barat. Warga Amerika Serikat yang terang-terangan mengaku utusan Yesus
itu berhasil memurtadkan 123 orang Minang, dengan bekal jabatan konsultan
kehutanan Global Partners Forestry Unit (GPFU). Robert-Traccy yang masuk Pesisir
Selatan sejak Desember tahun silam, menawarkan rekayasa teknologi tepat guna
pemberdayaan jati emas, pala super, dan kapas transgenik. Robert lantas menjual
bibit jati mas, pala, dan kapas dengan harga 50% lebih murah daripada harga
pasaran. Kalau mau dapat gratisan, bisa saja. "Asal masuk Kristen," ujar
Masrizal, aktivis dakwah di Pesisir Selatan. Banyak warga yang tergiur dan
akhirnya menjual keyakinan karena terobsesi keuntungan jutaan rupiah. Untung
misionaris ini segera dideportasi karena pelanggaran visa, pertengahan bulan
lalu.
Kasus serupa terjadi di Bekasi. Bulan April lalu terbongkar praktik kristenisasi
berbungkus lapangan kerja. Sekitar 50 orang Muslim asal Gorontalo dibawa ke
Bekasi dengan janji akan dipekerjakan dan diberi beasiswa oleh Yayasan Dian Kaki
Emas. "Tapi setelah sampai di sini, mereka dididik dan dipaksa pindah agama
Kristen oleh Pendeta Edi Sapto," ungkap Hamdi, Ketua Divisi Khusus Forum Bersama
Ummat Islam, dalam acara konferensi pers di Masjid Al Azhar, Klender Jakarta
Timur.
Warga Muslim itu disekap, didoktrin ajaran Kristen, disuruh ikut kebaktian, dan
dilarang shalat. Mereka juga diwajibkan memelihara babi-babi yang ada di
kompleks yang berdiri di atas tanah seluas 5 hektar itu. Akhirnya kompleks
kristenisasi terselubung itu digerebeg warga dan aparat.
"Dukungan" Tokoh Muslim Liberal
Proyek kristenisasi ternyata mendapat `dukungan' dari beberapa orang yang sering
disebut cendekiawan Muslim. Tokoh-tokoh ini memperkenalkan paham liberalisme dan
pluralisme yang kerap mengusung slogan `membangun dunia baru', dengan penyatuan
agama dan melepaskan fanatisme agama. Salah satunya adalah Prof DR Said Agil
Siradj, MA. Gagasan pluralnya antara lain tampak dalam pengantar buku Menuju
Dialog Teologis Kristen-Islam. Buku ini dikarang oleh Bambang Noorsena, pendiri
Kanisah Ortodoks Syiria (KOS) di Indonesia. Di situ Said Agil menulis bahwa KOS
tidak berbeda dengan Islam. Secara al-rububiyyah, KOS mengakui bahwa Allah
adalah Tuhan sekalian alam yang harus disembah. Secara al'uluhiyyah, telah
mengikrarkan Laa ilaha ilallah (Tiada Ilah selain Allah) sebagai ungkapan
ketauhidannya. Jadi dari tauhid sifat dan asma Allah secara substansial tidak
jauh berbeda dengan Islam. Perbedaannya, menurut Said Agil, hanya sedikit. Jika
dalam Islam (Sunni) kalam Tuhan yang Qadim itu turun kepada manusia (melalui
Muhammad) dalam bentuk Al-Quran, maka dalam KOS kalam Tuhan turun menjelma
(tajassud) dengan Ruh al-Quddus dan perawan Maryam menjadi Manusia (Yesus).
Perbedaan ini tentu saja sangat wajar dalam dunia teologi, termasuk dalam
teologi Islam. "Pandangan seperti itu merupakan salah satu bentuk penghancuran
aqidah," timpal Abu Deedat.
Tokoh lainnya adalah DR Nurcholis Madjid. Dalam buku Pluralitas Agama, Kerukunan
dalam Keragaman, Cak Nur menjelaskan bahwa pengikut Isa Almasih menyebut kitab
Injil sebagai Perjanjian Baru berdampingan dengan kitab Taurat yang mereka sebut
sebagai Perjanjian Lama. Kaum Yahudi tidak mengakui Isa Almasih dengan kitab
Injil-nya, menolak ide Perjanjian Lama ataupun Perjanjian Baru itu, namun
Al-Quran mengakui keabsahan keduanya sekaligus. Dengan nada agak tinggi, Abu
Deedat menyebut pendapat Cak Nur itu sebagai upaya pendangkalan aqidah. "Para
pengikut Nabi Isa as (kaum Hawariyun) tidak pernah menyebut Injil sebagai kitab
Perjanjian Baru. Nabi Isa sendiri tidak pernah menerima atau mengetahui kitab
Perjanjian Baru karena Injil yang diturunkan Allah kepada Nabi Isa bukanlah
Perjanjian Baru yang isinya kebanyakan surat-surat Paulus yang sangat
bertentangan dengan ajaran Nabi Isa itu sendiri," katanya.
Selain kedua tokoh di atas, Abu Deedat juga memasukkan Alwi Shihab sebagai tokoh
pluralis. Sementara Adian Husaini dalam Islam Liberal menunjuk beberapa nama
seperti dosen-dosen Universitas Paramadina (Komaruddin Hidayat, Budhy Munawar
Rahman, Luthfi As-Syaukanie), dosen UIN Syarif Hidayatullah (Azyumardi Azra,
Muhammad Ali, Nasaruddin Umar), dan beberapa nama lain yang menjadi kontributor
Jaringan Islam Liberal.
Menurut Adian yang juga anggota Komisi Kerukunan antarumat Beragama MUI, melalui
pluralisme, ummat Islam diprovokasi agar melapaskan aqidahnya. Tidak lagi
meyakini agamanya saja yang benar, dan kemudian diajak untuk mengakui bahwa
agama Kristen juga benar. "Teologi pluralis sebenarnya adalah pembuka pintu bagi
misi Kristen dan sejalan dengan imbauan Paus Yohanes Paulus II agar misi Kristen
terus dijalankan," ujarnya.
Kaum Kristen juga tak segan-segan "menyerang" tokoh-tokoh Muslim yang dikenal
sebagai pejuang tegaknya syariat Islam. Misalnya KH Kholil Ridwan (Ketua Badan
Kerjasama Pondok Pesantren Indonesia) dan KH Abdul Rasyid Abdullah Syafii
(Pimpinan As-Syafiiyah, Jakarta).
Sekitar 5 bulan lalu, keduanya mendapat kiriman brosur dari STT Apostolos.
"Isinya tidak secara langsung mengajak kepada agama Kristen, namun mengajak saya
agar masuk ke dalam Apostolos. Itu artinya Apostolos mengajak saya untuk masuk
ke dalam agama Kristen," kata Abdul Rasyid.
Abdul Rasyid segera melaporkan kejadian itu kepada aparat, sebab cara itu sudah
melanggar ketentuan hukum, yakni larangan mengajak ummat suatu agama untuk masuk
ke agama lain. Kemudian ada pemberitahuan dari aparat bahwa pihak Apostolos
melalui Pdt Yusuf Roni membantah telah mengirim surat dan brosur itu.
"Terlepas dari benar tidaknya bantahan itu, yang jelas apa yang saya alami
merupakan indikasi bahwa sasaran kristenisasi tidak hanya kalangan akar rumput,
tapi juga ulama dan tokoh masyarakat," ujar Abdul Rasyid.
Yerikho 2000 dan Doa 2002
Misi Kristen di Indonesia didukung oleh kekuatan dana yang sangat besar, di
antaranya melibatkan konglomerat keturunan Cina, James T Riady (bos Grup Lippo).
Seperti terungkap di majalah Fortune (16 Juli 2001), James berencana membangun
seribu sekolah di desa-desa miskin di Indonesia. James bekerjasama dengan Pat
Robinson (misionaris dunia) juga akan mendirikan organisasi jaringan umat
Kristiani. Hebatnya, ummat Islam secara tidak sadar turut mendukung cita-cita
besar James T Riady. Antara lain dengan menjadi nasabah Bank Lippo, belanja di
Mal Lippo, membeli rumah di Lippo Karawaci dan Cikarang, berobat ke RS Siloam,
pelanggan Lippo Shop, Link Net, Lippo Star, Kabel Vision, dan Asuransi Lippo.
Indonesia memang akan dijadikan pusat perkembangan Kristen di Asia Pasifik.
Demikian kata Pdt George Anatorae dari The Lord Familly Church Singapore dalam
seminar kerjasama Global Mission Singapore dan Galilea Ministry Indonesia, di
Hotel Shangrila Jakarta (9-12 Juni 1998). Sejauh mana keberhasilan program itu,
perlu diteliti lebih lanjut. Yang pasti, data tahun 1999 menunjukkan jumlah umat
Islam di Indonesia anjlok dari 90% menjadi 75% (Siar No 43, 18-24 November
1999).
Keberhasilan itu berkat kerja keras 38 agen kristenisasi, 1573 misionaris
pribumi, 62 misionaris asing, dan 421 misionaris lintas kultural (data dari
Operation World 2001 yang dihimpun India Missions Association, Japan Evangelical
Assocation, dan Korea Research Institute for Missions).
Salah satu lembaga yang gencar melaksanakan kristenisasi adalah Doulos World
Mission (DWM). Saat ini DWM sedang melaksanakan Proyek Yerikho 2000, yaitu
program pengkristenan wilayah Jawa Barat, dengan sentra kegiatan digerakkan di
kawasan pinggiran Jakarta.
Proyek ini bertujuan "mewujudkan Kerajaan Allah di bumi Parahyangan menyongsong
abad XXI". Menurut Hendrik Kraemer, peneliti dan penginjil dari Belanda, Jawa
Barat adalah wilayah "paling gelap" di Indonesia dan sangat tertutup bagi Injil.
Karena itu aktivis DWM bertekad, "Kita harus merebut tanah Pasundan bagi
Kristus."
Yerikho 2000 juga digerakkan di Sumatera Barat, Riau, Jambi, Bengkulu, Lampung,
Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Barat. Pusat kegiatan DWM berada di kawasan
Rawamangun (Jakarta Timur) dan Tangerang (Banten).
Program lainnya adalah Doa 2002, yang dilaksanakan sejak tanggal 19 Oktober 2001
sampai 6 Desember 2002. Secara khusus program ini menyebut beberapa komunitas
Muslim sebagai objek kristenisasi. Di antaranya adalah suku Kaili Ledo (Sulawesi
Tengah), Melayu Riau, Betawi, Aceh, Melayu Kalimantan, Tenggarong Kutai, Bima,
Maluku, Banda, dan Papua. Rencana program Doa 2002 tertuang dalam buku 40 Hari
Doa Bangsa-Bangsa yang telah diterjemahkan ke dalam 35 bahasa di dunia.
Muslim Betawi misalnya, harus didoakan oleh segenap orang Kristen pada tanggal 9
November 2001 lalu. Itu perlu dilakukan agar hati Bapa mengasihi dan merindukan
orang Betawi. Selain itu, agar Bapa mengutus duta-duta kerajaan-Nya untuk
mengembangkan pelayanan kesenian Betawi, literatur, dan radio dalam bahasa
Betawi. Juga, agar Tuhan mencurahkan kuasa-Nya dan mengubah kehidupan
orang-orang yang berpengaruh dalam suku Betawi, baik para penyanyi, penari,
tokoh agama, masyarakat, pemuda, dan wanita.
Secara khusus, orang Kristen mendoakan Presiden Megawati dan beberapa pemimpin
dunia. Harapannya, agar Megawati (dan para pemimpin) mendapat pewahyuan tentang
Ketuhanan Yesus dan keluarganya datang mengenal Kristus.
Duta-duta Injil juga sedang menggencarkan ritual Doa 5 Patok. Yakni meningkatkan
doa 5 kali sehari dengan pelaksanaan minimal 30 menit lebih awal sebelum waktu
shalat (bagi orang Islam). Tujuannya adalah untuk mengadakan penghadangan ruhani
sekaligus pembersihan atmosfir ruhani agar kaum Muslimin dapat menerima Yesus.
Ritualnya dilaksanakan sebelum waktu shalat ummat Islam, yakni subuh (mulai
03.15-selesai), pagi (10.30-selesai), siang (14.00-selesai), sore
(17.00-selesai), dan malam (18.00-selesai). Pada Kamis malam, dilakukan doa
semalaman dan peperangan ruhani sambil berkeliling kota/lokasi tertentu. Awas,
hati-hati!• (ahmad, dodi nurja, amz, pam)
Kristenisasi melalui kesaksian-kesaksian Palsu via mantan muslim (murtadin)
Tahun 1974, GPIB Maranatha Surabaya digegerkan oleh kasus pelecehan agama oleh
Pendeta Kernas Abubakar Masyhur Yusuf Roni. Dalam ceramahnya, sang pendeta itu
mengaku ngaku sebagai mantan kiyai, alumnus Universitas Islarn Badung dan pernah
menjadi juri MTQ Internasional. Dia tafsirkan ayat-ayat Al-Qur'an secara sangat
ngawur. Kaset rekaman ceramah tersebut kemudian diedarkan secara luas kepada
umat Islam.
Setelah diusut tuntas, ternyata pengakuan pendeta itu hanyalah bohong belaka
Yusuf Roni teryata tidak bisa baca Al-Qur'an. Dengan kebohongannya itu, Pendeta
Pembohong Yusuf Roni diganjar penjara 7 tahun di Kalisosok, Surabaya.
Ketika orang sudah banyak melupakan kasus pelecehan Yusuf Roni, di Jakarta
muncul pelecehan plus seribu dusta yang baru. Seseorang yang menamakan dirinya
Pendeta Hagai Ahmad Maulana mengaku sebagai putra kandung kesayangan KH. Kosim
Nurzeha. Ceramahnya di gereja pun beredar luas di kalangan masyarakat. Setelah
diselidiki, terkuaklah kebohongan besar pendeta Hagai Ahmad Maulana. Sebab belum
pernah istri KH. Kosim Nurzeha melahirkan Ahmad Maulana.
Di Padang, trik yang sama dipakai untuk menggoyang akidah umat. Seseorang yang
menamakan dirinya Pendeta Willy Abdul Wadud Karim Amrullah, namanya menjadi naik
daun di dunia pemurtadan Kristenisasi, setelah mangaku adik kandung ulama besar
pakar tafsir, Yang Mulia Almarhum Buya Hamka.
Orang awam banyak yang percaya tanpa cek dan ricek. Langsung yakin begitu saja
dengan pengakuan bahwa adik kandung Buya Hamka itu sudah murtad ke Kristen.
Setelah diselidiki, ternyata pengakuan itu adalah kebohongan yang sangat besar.
Salah seorang putra Buya Hamka menyatakan bahwa sepanjang hayatnya, dia tidak
pernah punya paman yang namanya Willy Abdul Wadud Karim Amarullah.
Di Cirebon, murtadin Danu Kholil Dinata Ev. Danu Kholil Dinata alias Theofilus
Daniel alis Amin Al Barokah, mengaku sebagai sarjana agama Islam, yang pindah
menjadi pemeluk Kristen setelah mempelajari Nabi Isa versi Islam di STAI
Cirebon. Setelah dilacak, ternyata ijazah sarjana yang dipakai untuk kesaksian
adalah PALSU.
Para murtadin pembohong lainnya adalah Drs. H. A. Poernomo Winangun alias Drs.
H. Amos, Ev Hj. Christina Fatimah alias Tin Rustini (nama asli dikampung Sutini
alias Bu Nonot, Pdt. Rudy Muhammad Nurdin, Pdt. M. Mathius, Pdt. Akmal Sani,
Niang Dewi Ratu Epon Irma F. Intan Duana Paken Nata Sastranagara (Ev. Ivone
Felicia IDp.). Mengaku telah mengkristenkan 60 kiyai Banden, dll.
"Kasus Terbanyak, Pemuda Kristen Hamili Gadis Muslimah"
Pertengahan bulan lalu, harian Republika menurunkan laporan tentang
puluhan sekolah agama di Yogyakarta dan Temanggung yang tidak mau
menyelenggarakan Evaluasi Belajar Tahap Akhir (EBTA) untuk pelajaran
agama bagi siswa-siswa beragama lain di sekolah itu. Padahal sudah
ada ketentuan hukum yang mengatur hal itu secara tegas yakni Surat
Keputusan Bersama (SKB) No. 2/U/SKB/2001.
Namun, SKB yang ditandatangani oleh Mendiknas, Mendagri dan Menag itu
sengaja mereka abaikan. Alasan mereka, mengutip pernyataan sejumlah
pejabat Diknas setempat, mereka ingin menjaga kekhasan sebagai
sekolah agama. Bahkan beberapa yayasan pengelola sekolah-sekolah
tersebut secara tegas menolak SKB itu karena ingin mengemban misi
tertentu untuk kepentingan agama mereka (Republika, 12/6).
Menanggapi berita tersebut, da'i dan Kristolog (ahli tentang
Kristen), Abu Deedat Shihabuddin MH berkomentar enteng. Menurutnya,
itu tidak aneh dan belum seberapa gawat, karena sebetulnya masih
banyak bentuk-bentuk pembangkangan mereka lainnya yang lebih parah.
Yang aneh, bagi Sekjen Forum Antisipasi Kegiatan Pemurtadan (FAKTA)
itu, justru sikap harian tersebut yang tidak mau secara tegas
mengatakan bahwa sekolah-sekolah itu tidak lain adalah sekolah-
sekolah Kristen. "Mengapa mesti takut," tanyanya heran.
Sebagai seorang kristolog, ustadz yang biasa dipanggil Abud oleh
rekan-rekan seprofesinya itu, memang bukan hanya menguasai disiplin
ilmu tentang agama Kristen secara mendalam. Tapi ia juga banyak tahu
tentang seluk-beluk dan kiprah licik para misionaris Kristen dalam
memurtadkan kaum Muslimin.
Maklum, pria berkaca mata tebal ini sering menangani berbagai kasus
pemurtadan di berbagai daerah, baik berupa advokasi maupun terapi
langsung. Selain itu Abud juga kerap melakukan investigasi langsung
ke 'garis belakang' untuk memperoleh data. Jadi wajar kalau ia tahu
banyak.
Sudah banyak murtadin yang terselamatkan kembali ke pangkuan Islam
setelah diterapi Abud. Uniknya, para pasien yang ditangani mubaligh
kalem ini bukan hanya dari kalangan Muslim KTP saja. Tapi juga ada
yang justru berasal dari kalangan santri. Misalnya, anak seorang kyai
asal Salatiga yang selain dimurtadkan juga dihamili oleh seorang
aktivis gereja. "Ini bukti bahwa gerakan pemurtadan memang semakin
hebat dan terencana serius," jelasnya prihatin.
Melalui Abud juga, sejumlah pendeta dan aktivis gereja kembali
berdiri di bawah panji Syahadat. Mereka mengakui kekeliruan yang ada
pada ajaran mereka setelah berdebat panjang dengan Abud. "Bahkan, ada
salah satu pendeta setelah berdebat di rumah saya membanting Injilnya
karena kesal," cerita pria yang kutubuku ini.
Di tengah kesibukannya keliling daerah untuk mengisi ceramah, seminar
dan pelatihan tentang antisipasi gerakan pemurtadan (harakatul
irtidad), mantan aktivis PII ini berkenan meluangkan waktunya untuk
diwawancarai Suara Hidayatullah. Di ruang tamu rumahnya yang sempit,
karena dipenuhi ribuan buku serta pakaian, sendal dan sepatu, barang
dagangan istrinya, Abud menerima Deka Kurniawan dan reporter lepas
Hidayaturrahman. Berikut petikannya:
Anda begitu mendalami dunia Kristen. Pernahkah terbersit di hati Anda
untuk masuk Kristen?
Tidak ada keinginan untuk masuk Kristen walaupun saya sudah banyak
sekali membedah Bibel. Justru keyakinan saya terhadap kebenaran Islam
semakin kuat, karena setiap saya membaca Bibel selalu ada perbedaan
redaksi dalam setiap edisi cetakannya. Misalnya dalam edisi lama ada
istilah Tuhan. Tapi di edisi baru pada tempat yang sama ditulis Tuan.
Begitu juga istilah Babi diganti menjadi Babi Hutan.
Abud mengoleksi 49 kitab Injil modern dan klasik, termasuk Injil
dalam sejumlah bahasa daerah yakni Jawa, Minang dan Sunda. Sebagian
besar didapatnya secara cuma-cuma dari diskusi yang dilakukannya
bersama pendeta. Selebihnya didapat dari hasil investigasi dan
membeli di pasar loak.
Setelah sekian lama menggeluti ajaran Kristen, apakah Anda menemukan
sisi positifnya?
Al-Quran sendiri menyatakan, telah terjadi percampuradukan antara
yang benar dan yang batil dalam ajaran ahlul kitab. Ini berarti
menunjukkan ada juga kebenarannya. Hanya saja memang madu dan racun
itu sudah digabung menjadi satu. Seperti ayat-ayat tauhid dalam
Markus pasal 12 ayat 25 Yesus berkata, "Dengarlah wahai Bani Israel
Tuhan kita dalah Tuhan Esa." Ini menunjukkan Tuhan mereka adalah esa
disamping memang ajaran mereka khusus hanya kepada golongan Bani
Israel. Tapi ada juga racunnya, apa yang dikatakan Paulus dalam Roma
pasal 9 ayat 5 misalnya, "Yesus adalah Allah yang harus disembah."
Datanglah ayat Al-quran sebagai korektor bagi mereka, misalnya surah
Al-Maidah ayat 72 menyebutkan, "Telah kafir orang yang mengatakan al-
Masih adalah Tuhan." Makanya, kalau kita berinteraksi dengan para
aktivis Kristen kita jangan hanya mengatakan kitab Injil sudah tidak
asli atau palsu, lebih baik kita tunjukkan yang menyimpang dan salah
pada Injil tersebut.
Apa yang menyebabkan kaum Nasrani tidak menyadarinya?
Di samping kekuatan dana, mereka ada dogma, bahwa apapun yang terjadi
apakah ajaran itu rasional atau tidak, harus diterima karena ia
merupakan firman Tuhan. Dan ditanamkan kepada mereka hanya orang
Kristen saja yang selamat, yang lain tidak selamat dan harus
diselamatkan. Misi inilah yang membuat mereka agresif untuk melakukan
pemurtadan. Apalagi misi itu didukung dengan fasilitas yang cukup.
Mereka tidak lagi memikirkan urusan kebutuhan keluarga, karena sudah
dijamin. Lain dengan dai-dai kita yang dikirim ke pelosok paling
hanya digaji Rp 50.000-150.000 per bulan.
Apa yang membuat mereka menerima dogma tersebut, sehingga mereka
tetap menjadi ummat terbesar?
Secara umum orang ingin mencari yang gampang. Dan di Kristen itu
memang gampang. Kalau melakukan tindakan yang tidak berakhlaq tidak
ada masalah karena nantinya akan diampuni juga, dan cukup hanya
sekali seminggu datang ke gereja. Paulus mengatakan dalam Roma pasal
5 ayat 20, "Semakin banyak dosa semakin melimpah kurnia Tuhan."
Makanya di Barat kita ketahui kehidupan mereka rusak, terutama dalam
kebebasan seks. Dan kerusakan itu mengacu kepada ajaran Bibel yang
memang banyak memuat cerita-cerita porno yang vulgar. Misalnya
diceritakan bagaimana Nabi Daud sebagai orang yang rusak moralnya
menghamili Batseba istri Uria. Begitu pula Nabi Luth diceritakan
menghamili anaknya sendiri. Makanya, Jasmen Alfa, seorang Sosiolog
Kristen, mengatakan Bibel itu jangan sampai dibaca anak-anak, lebih
baik ia dimasukkan ke dalam peti besi, kemudian petinya dikunci dan
kuncinya dibuang ke laut.
Bagaimana reaksi mereka bila mendengar hal itu dari Anda?
Mereka membenarkan dan meyakini kebenaran cerita persundelan itu.
Misalnya sebuah acara di televisi pernah menampilkan dua orang
pelacur yang menjadi germo kemudian bertaubat menjadi hamba Tuhan.
Saya sampaikan bahwa cerita ini mirip dengan apa yang ada dalam
Bibel. Pembawa acara yang Kristen itu kemudian membenarkan. Kemudian
saya balikkan, berarti Yesus anak pezina karena dalam Matius ayat 1
dan seterusnya menceritakan bahwa silsilah keturunan Yesus bertemu
dengan raja Daud yang menzinai Batseba. Tapi telepon saya akhirnya
ditutup.
Kalau sudah mentok biasanya apa yang mereka lakukan?
Ada yang jujur dan mengatakan ini PR buat saya. Ada yang tidak jujur
dengan cara menghindar dan lari ke masalah lain. Maka kalau debat
dengan mereka jangan beri kesempatan buat beralih pembicaraan.
Mereka meyakini semua orang berdosa dari Adam sampai manusia
kemudian, kecuali Yesus yang tidak berdosa. Inilah sebenarnya
skenario Paulus menjalankan misinya, yang membuat citra bahwa Yesus
itu juru selamat.
Apakah Anda hafal Injil sehingga fasih menyebutkan ayat demi ayat?
Tidak hafal. Hanya tahu saja.
Selama beraktivitas di bidang ini Anda sudah terjun kemana?
Seluruh wilayah Jawa Timur sudah, begitu pula Jawa Tengah dan
Sumatera juga serta Kalimantan. Program ke depan adalah Irian dan
Sulawesi. Kalau ini sudah berarti semua pulau besar sudah.
Jadwal terbang Abud memang padat. Ketika kami menemuinya seusai
berkhutbah Jumat di sebuah perkan-toran ia mengaku baru tiba dari
Kalimantan. Sesudah itu ia punya agenda di dua tempat sampai malam.
Karena waktu yang terbatas wawancara itu urung dilangsungkan. Karena
esok siangnya ia berceramah di Universitas Trisakti untuk selanjutnya
terbang ke Palembang, Sahid mewawancarainya pagi hari selama waktu
menunggu jemputan dan dalam perjalanan menuju lokasi seminar. Itu pun
masih sering disela oleh telepon, antara lain dari daerah yang
memintanya datang yakni Pekalongan dan Padang.
Apa yang biasanya Anda lakukan di berbagai tempat itu?
Kita memberikan informasi sekitar cara-cara pemurtadan dan kita
dorong mereka memperdalam pemahaman keislaman. Jangan sampai nanti
kawan dibilang lawan dan lawan dibilang kawan, karena memang gerakan
mereka ibarat musang berbulu ayam, lihai dan licik.
Misalnya sekarang di Meruya Ilir (Jakarta) mereka mendirikan Sekolah
Tinggi Theologia Kalimatullah, yang semua mahasiswanya memakai kopiah
dan mahasiswinya memakai jilbab. SKS Islamologinya yang dulu hanya 20
SKS sekarang menjadi 40 SKS. Semester dua saja mereka sudah dilatih
berdiskusi dengan para ustadz. Sedang mahasiswa IAIN saja tidak
dipersiapkan untuk menghadapi para pendeta. Ada juga yang mengaku-
ngaku anak kiai, mantan ustadz dan lain-lain.
Mereka menggunakan cara-cara itu untuk mencari legitimasi?
Semacam itu. Tidak jarang yang mengaku pernah jadi aktivis
Muhammadiyah. Bahkan di rumah sakit pun mereka beraksi. Pasien yang
tidak berdaya disuruh beriman kepada Yesus agar sembuh. Padahal kalau
mau jujur, saya mempunyai tetangga Katolik yang mengeluh karena habis
biaya untuk berobat strok tapi tidak juga sembuh, terus saya balikkan
saja, katanya Tuhan Anda bisa menyembuhkan. Jadi semua akal-akalan
orang Kristen untuk menjerat orang Islam. Kalau sudah menjadi Kristen
ya akhirnya diterlantarkan.
Seberapa sering Anda menangani kasus-kasus pemurtadan?
Banyak sekali. Yang paling sering biasanya kasus pemuda Kristen
memacari dan menghamili pemudi Muslimah. Ada juga kasus nikah beda
agama yang belakangan menim-bulkan masalah besar.
Apa hikmah terbesar menjadi seorang Kristolog?
Di sini saya bisa menguji kemampuan lewat berdebat dengan mereka,
kalau ada yang kurang saya pelajari terus. Di samping itu memu-dahkan
saya berda'wah kepada mereka, karena Islam ini juga wajib dida'wahkan
kepada mereka. Lihat saja surah Ali-Imron ayat 71. Sementara perintah
bagi mereka untuk berdakwah kepada orang Islam itu batal karena
dalilnya di Matius pasal 28 ayat 16 dibuat setelah Yesus mati.
Karenanya, kalau Anda didatangi misionaris Kristen, jangan diusir.
Da'wahi mereka.
Tapi kan tidak semua orang punya bekal?
Makanya para aktivis da'wah harus menyiapkan bekal itu. Tim FAKTA
insya Allah siap membantu. Dimana saja, sampai ke Irian sekalipun,
kami siap memberikan bekal.
FAKTA didirikan 1998 dengan latar belakang belum banyaknya lembaga
yang secara khusus menangani persoalan Kristenisasi. Dengan fasilitas
yang sangat terbatas 7 dari 20 relawan (diantaranya bekas pendeta)
yang aktif hingga kini masih rutin melakukan berbagai kegiatan
antisipasi pemurtadan antara lain dengan menerbitkan buletin, membuka
ruang konsultasi akidah di sebuah majalah Islam, memberikan seminar,
ceramah dan pelatihan Kristologi di berbagai kota, dan belakangan di
kampus-kampus. Melalui lembaga inilah Abud membangun jaringan anti
pemurtadan secara nasional. Sayangnya, untuk kebutuhan operasional
FAKTA masih mengandalkan kocek para relawannya sendiri.
Apa saja langkah yang harus diambil jika sebuah masyarakat berhadapan
dengan kristenisasi?
Kristenisasi ini bervariasi. Kalau mereka mengadakan santunan sosial,
pembagian sembako atau lainnya, maka umat Islam harus melakukan hal
yang sama sebagai counternya. Kalau mereka menyerang lewat buku kita
juga mempersiapkan buku dan tulisan-tulisan, sekaligus menyerang
balik kepada mereka. Tapi kalau kasusnya hipnotis maka kita harus
laporkan kepada pihak yang berwajib dan melakukan upaya advokasi
bertemu dengan upaya hukum. Aparat juga harus peka. Kalau tak ada
langkah hukum masyarakat bisa kehilangan kesabaran.
Kepada para misionaris, langkah pertama, tolak mereka dengan cara
yang baik, karena Islam tidak mengajarkan cara kekerasan jika kita
tidak diperlakukan keras. Konkritnya kalau menemukan sudah ada bukti-
bukti itu, ambil bukti-bukti itu kemudian serahkan kepada ulama
setempat dan beritahukan kepada aparat, lantas jelaskan kepada mereka
ini melanggar kode etik penyebaran agama. Kalau mereka berbuat zhalim
baru kita lakukan hal yang sama tapi tidak boleh berlebihan. Ummat
Islam jangan menjadi ummat yang bodoh karena Islam bukan agama yang
sempit. Kepada ummat Kristen yang tidak menggangu jangan diganggu
pula mereka.
Tindakan ummat Islam selama ini cenderung reaktif terhadap isu-isu
kristenisasi, misalnya seperti yang terjadi di Doulos. Bagaimana
menurut Anda?
Jangan salah tafsir. Ummat Islam tidak pernah mengadakan aksi. Mereka
hanya bereaksi. Karena aksi-aksi Kristen melanggar kode etik maka
ummat Islam bereaksi.
Mungkin, karena begitu concernnya terhadap bidang Kristologi, dosen
Institut Agama Islam Al-Ghuraba ini, sampai menamakan anak keduanya
dengan seorang tokoh Kristologi terkemuka dari Afrika, Ahmad
Deedat. "Saya memang mengaguminya dan ingin agar dia menjadi ulama
seperti Ahmad Deedat," jelas Kristolog yang mengaku memiliki
kemiripan jalan hidup dengan Ahmad Deedat itu. Itulah sebabnya di
kalangan teman-temannya, serta belakangan di kalangan media dan umat,
anak ketujuh dari 13 bersaudara pasangan Mahfudz dan Hanafiyah itu
lebih sering dikenal sebagai Abu Deedat. Padahal nama aslinya adalah
Shihabuddin.
Mengapa Anda tertarik dan tekun menekuni Kristologi?
Saya terjun di dunia Kristologi tahun 1982, ketika bekerja di sebuah
perusahaan swasta. Di perusahaan itu kebetulan direkturnya seorang
pendeta. Begitu pula para pimpinan lainnya yang memegang posisi
penting rata-rata adalah aktivis gereja. Salah satu dari mereka,
yakni kepala bagian keuangan berusaha menginjili ('mendakwahkan'
injil) para karyawan Muslim melalui berbagai tulisan dan diktat
tentang potongan-potongan ayat Qur'an yang terkesan seperti mendukung
agama mereka.
Saya penasaran. Maka saya datangi orang itu. Ketika saya tanya,
katanya tulisan-tulisan itu disusun oleh orang yang sudah berpuluh-
puluh kali naik haji. Saya pun terlibat diskusi kecil-kecilan dengan
mereka.
Apa bekal Anda waktu itu?
Bekal saya waktu itu Injil pemberian seorang Kristen Manado yang saya
pelajari. Kebetulan juga saya lulusan Fakultas Ushuluddin, jurusan
Penyiaran Islam di IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Di sana ada mata
kuliah khusus tentang Kristologi. Dengan modal itu saya terus
menggeluti dunia Kristologi secara otodidak, selain mengikuti kursus-
kursus Kristologi secara tertulis. Misalnya di Pelita Hidup tahun
1986 dengan menggunakan nama samaran. Alhamdulillah dari situ saya
banyak mendapatkan dokumen penting yang berguna untuk antisipasi
gerakan mereka.
Ia dibesarkan di pesantren NU sampai SMP di Tasikmalaya, Jawa Barat.
Orang tuanya juga berlatar belakang NU. Karena banyak berinteraksi
dengan aktivis Persis, ayahnya lalu banyak mendorong untuk berdakwah.
Berbagai diskusi dan kegiatan PII ditekuninya.
Di rumahnya Abud sering meladeni permintaan debat dari para pendeta
dan aktivis gereja. Hal yang sama juga dilakukan di berbagai tempat.
Dan itu sudah berlangsung ratusan kali. Dari kalangan Budha dan
Aliran Kepercayaan ada juga yang pernah menjadi lawan debat Abud.
Menurut Abud, banyak di antara mereka yang menyerah tapi tidak mau
mengakui kesalahannya. Kalau pun ada yang mengaku salah, mereka
khawatir kalau masuk Islam akan miskin. Tidak sedikit juga yang
mendapat hidayah.
Buku apa saja yang Anda jadikan pegangan untuk mendebat mereka?
Ketika masih SMU di kampung, saya sudah memiliki referensi buku-buku
Islam, kurang lebih 500 judul. Yang pertama saya pelajari adalah
dialog Islam-Kristen berjudul "Bibel lawan Bibel" karangan A Hassan
dan buku-buku Pak Abdullah Wasian tentang Kristologi.
Bagaimana Anda mendidik anak Anda, Deedat, supata kelak jadi seperti
Ahmad Deedat?
Saya sekarang sedang berusaha menyiapkannya menjadi aktivis da'wah.
Ketika saya menangani kasus pemurtadan di rumah, saya sengaja
menyuruhnya untuk melihat.
Bagaimana mengatur kesibukan da'wah dengan keluarga?
Saya mencoba bagaimana kebutuhan rumah tangga bisa terpenuhi,
karenanya saya juga berwiraswasta. Istri saya banyak sekali membantu
dan mendorong saya ketika menangani kasus-kasus pemurtadan terutama
terhadap Muslimah. Jadi antara saya dan istri sejalan. Dia juga tahu
tugas saya, sehingga untuk anak-anak kita beri penjelasan kepada
mereka.
Anda pernah mengalami teror?
Iya, sebatas teror telepon dan surat kaleng biasa. Istri saya juga
pernah diancam melalui telepon. Berjuang harus ada tantangan dan
itulah risiko.
Peristiwa apa yang paling berkesan bagi Anda?
Yang tidak pernah bisa saya lupakan adalah ketika saya mengobati
anaknya kiai, di mana seumur hidup baru kali itu saya menceramahi
kiai secara langsung. Anaknya kuliah di salah satu perguruan tinggi
di Semarang, dibawa kabur oleh anak pendeta kemudian di-Kristenkan,
bahkan sudah dihamili. Akhirnya pak kiai ini mendatangi saya dan
minta tolong kepada saya untuk menangani kasus ini. Alhamdulillah,
saya pun dapat melakukan penyadaran kepada anak tersebut dan kepada
kiai itu sekaligus yang merasa terpukul dengan keadaan anaknya. Kesan
lain, ketika saya menghadapi kasus-kasus Muslimah yang termurtadkan.
Ini sering membuat saya sedih.
Apakah perhatian yang mendalam itu tidak membuat Anda emosional?
Saya sangat prihatin sekali, karena lembaga yang lain masih sangat
minim perhatiannya terhadap masalah seperti ini. Inilah kelemahan di
kalangan kita. Kalau kejadian seperti ini belum menimpa keluarga kita
sendiri, hal itu dianggap biasa saja. Kalau sudah tertimpa musibah
baru merasa. (Deka Kurniawan)
-------------------------------------------------------------------------------
To:
[email protected]
Sepucuk surat tergeletak di meja redaksi kami, Maret lalu. Surat itu
dari seberang pulau, Kalimantan Timur. Nama pengirimnya singkat saja,
Dewi. Tetapi persoalan yang diadukan tak sesingkat namanya. Coba
simak isi surat itu:
"Saya seorang ibu 29 tahun dan suami 31 tahun. Kami telah dikaruniai
dua anak. Yang pertama pria (6), dan kedua putri (2). Kami menikah 7
tahun yang lalu, dia adalah teman sekampus saya. Saat pertama
mengenalnya, saya benar-benar benci. Maklum, saya lahir dari keluarga
Muslim yang taat, sementara dia pemeluk Protestan. Tapi entahlah,
mungkin karena dia tak pernah putus asa, saya kemudian menerimanya
menjadi pacar. Saya benar-benar semakin sayang setelah dia kemudian
menerima menikah dalam Islam. Saya benar-benar bahagia sekali."
"Tetapi setelah datangnya anak pertama lalu disusul anak kedua,
banyak perubahan yang terjadi pada suami saya. Tiba-tiba dia jarang
shalat dan sering keluar tanpa pamit. Belakangan saya tahu ternyata
dia tidak benar-benar meninggalkan agamanya. Bahkan, sejak anak kedua
kami lahir, secara terang-terangan dia pernah mengatakan kepada saya.
`Saya masih seperti dulu, jadi jangan harap ada perubahan.'"
"Mendengar kata-katanya, saya hampir tidak percaya. Suami saya yang
tadinya pendiam itu tiba-tiba seperti itu. Yang membuat saya benar-
benar takut dan sedih, hari-hari ini, dia sering memaksa saya
mengikuti jejaknya untuk datang di kebaktian.'
Kisah memilukan itu tidak cuma dialami Dewi, tapi juga seorang ibu
asal Palu yang datang ke kantor Suara Hidayatullah (Sahid) Surabaya,
Juli lalu. Wanita berperawakan sedang ini datang bersama suaminya
dengan wajah sembab. Kepada Sahid, ia menceritakan musibah yang
menimpa keluarganya. Singkat cerita, sang adik diketahui hamil di
luar nikah sesaat sebelum menyelesaikan gelar sarjananya. Yang
membuat musibah itu terasa amat berat, pacar sang adik itu ternyata
pemuda beragama lain. "Adik saya dihamili oleh pemuda Kristen,"
ucapnya sembari menyeka linangan air matanya. Padahal, sang adik
dikenal sebagai wanita pendiam dan jarang keluar rumah. Selain itu,
selama ini, dia dibesarkan dan dididik dalam lingkungan keluarga
Muslim yang sangat taat. Peristiwa memalukan itu memang kemudian bisa
dicarikan solusinya. Singkatnya, sang adik akhirnya menikah dengan
pacarnya pemuda Kristen dalam upacara Islam. Setelah itu, keduanya
pindah kota yang jauh dari keluarga, di Palu. Hanya saja,
kepergiannya masih tetap menyisakan luka yang mendalam bagi pihak
keluarga. Terutama setelah diketahui bila sang adik telah ikut sang
suami menjadi aktifis gereja bersama semua anaknya.
Kisah cinta seperti Dewi dan adik si ibu tadi bukan hal baru di
negeri ini. Banyak pemuda dan pemudi pernah mengalami hal serupa.
Memiliki teman dekat atau calon suami yang berbeda agama. Ujung-
ujungnya, dalam banyak kasus, hubungan keduanya kemudian terhambat
karena adanya perbedaan agama. Bagi yang taat pada agama, mereka
memutuskan untuk berpisah. Sebagian lagi memilih kompromi, yakni
memilih mengikuti salah satu dari agama yang dianut pasangannya. Pada
pilihan yang terakhir inilah yang perlu diwaspadai, utamanya para
gadis muslimah.
.