1001 Cara Kristenisasi



Berbagai cara ditempuh untuk melancarkan proyek kristenisasi. Ada yang memalsukan Al-Quran, pendeta mengaku haji, sampai upaya memurtadkan kiai ternama. Ada pula tokoh Muslim yang "mendukung" kristenisasi

Kawin antar-agama hanyalah salah satu cara kristenisasi. Lainnya, banyak. Menurut kristolog Abu Deedat Shihab, kaum misionaris dan zending perlu menempuh berbagai macam cara karena selama ini merasa gagal. Kini, kristenisasi lebih diprioritaskan untuk menjauhkan ummat Islam dari agama, baru kemudian memurtadkannya. Abu Deedat merujuk pada Al-Quran Surat Al-Baqarah: 109, "Sebagian besar Ahli Kitab menginginkan agar mereka dapat mengembalikan kamu kepada kekafiran setelah kamu beriman..." Juga Al-Baqarah: 120, "Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka."

Sinyalemen Al-Quran itu memang benar. Dalam Konferensi Misionaris di kota Quds (1935), Samuel Zweimer, seorang Yahudi yang menjabat direktur organisasi misi Kristen, menyatakan, "Misi utama kita bukan menghancurkan kaum Muslimin sebagai seorang Kristen, namun mengeluarkan seorang Muslim dari Islam agar jadi orang yang tidak berakhlaq sebagaimana seorang Muslim. Tujuan kalian adalah mempersiapkan generasi baru yang jauh dari Islam, generasi yang sesuai dengan kehendak kaum penjajah, generasi malas dan hanya mengejar kepuasan hawa nafsu."

Plesetan Al-Quran

Al-Quran, sebagai tuntunan hidup ummat Islam, kini dimanfaatkan sebagai sarana kristenisasi. Tentu saja bukan Al-Quran sungguhan, tapi palsu. Salah satunya adalah The True Furqan, yang sempat beredar di internet dan menggegerkan publik Jawa Timur, awal Mei lalu. Dalam Al-Quran buatan Evangelis (Ev) Anis Shorrosh itu, ada surat bernama Al-Iman, At-Tajassud, Al-Muslimun, dan Al-Washaya yang isinya memuji-muji Yesus.

Selain ada Al-Quran palsu, juga bertebaran buku-buku plesetan ayat-ayat Al-Quran dan Hadits. "Cara ini yang sekarang paling banyak terjadi. Pemberian Supermie atau bantuan uang sudah tidak manjur lagi," tutur Abu Deedat.

Kenapa cara itu ditempuh? Dalam wawancara dengan majalah Jemaat Indonesia (edisi 4 Juni 2001), Pdt R Muhamad Nurdin —Muslim murtad— menyebut trik itu sebagai cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati. "Saya membuat buku agar dibaca umat Kristen, kemudian disalurkan kepada umat beragama lain. Saya tulis untuk kalangan sendiri, untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. Demikian bagi orang Yahudi aku seperti orang Yahudi, supaya aku memenangkan orang Yahudi. Itu cara yang hati-hati dalam merebut hati kaum Muslimin. Jangan sampai ada vonis mati seperti untuk Suradi dan Poernama," ujarnya. Dua nama terakhir adalah pendeta yang divonis mati oleh Forum Ulama Ummat (FUU) Bandung karena menghina agama Islam.

Buku-buku Nurdin laku keras. Dalam tiga tahun, 5000 eksemplar ludes. Hasilnya, menurut penuturan Wakil Gembala Gereja Kristen Maranatha Indonesia (GKMI) Rawamangun Jakarta ini, banyak orang Islam yang akhirnya menerima Yesus alias murtad. "Bahkan ada yang menjadi penginjil."

Contoh buku karangan Nurdin adalah Ash-Shadiqul Masdhuq (Kebenaran yang Benar), As-Sirrullahil Akbar (Rahasia Allah yang Paling Besar), dan Ayat-ayat Penting dalam Al-Quran.

Selain buku, juga bermunculan brosur atau pamflet sejenis lembar Jumat. Judul yang dipilih pun seolah-olah Islami.

Misalnya "Allahu Akbar Maulid Nabi Isa as", "Kesaksian Al-Quran tentang Keabsahan Taurat dan Injil", dan "Siapakah yang Bernama Allah itu?" Bertebaran pula stiker kaligrafi Arab yang isinya pujian kepada Yesus.

Buku dan brosur itu diterbitkan oleh Yayasan Jalan Al-Rachmat, Yayasan Christian Center Nehemia Jakarta, Yayasan Pusat Penginjilan Alkitabiah (YPPA), Dakwah Ukhuwah, dan Iman Taat kepada Shiraathal Mustaqiim.

Anak-anak sekolah juga menjadi sasaran empuk. Siti Muflikhah, santri Pesantren At-Taqwa Bekasi, pernah mendapat surat berisi komik anak-anak dari sebuah lembaga yang menamakan diri Klab17. Di bagian awal, komik itu berisi cerita keseharian anak-anak. Namun di bagian akhir ada pernyataan, "Saya percaya akan Engkau, Yesus sebagai juruselamat saya."

Mengaku Mantan Haji

Bidang kesehatan juga dibidik. Ini antara lain dialami keluarga Hartono, warga Kupang, Surabaya. Istrinya, Jam'iyah, sakit dan dirawat di RS RKZ Surabaya. Biaya yang harus dikeluarkan selangit sehingga Hartono yang cuma bekerja sebagai mandor kontraktor kebingungan. Datang misionaris menawarkan bantuan biaya pengobatan. Namun ada syaratnya: masuk Kristen. Hartono terpikat. Suami istri itupun akhirnya menjadi penganut Kristen.

Cara yang cukup sulit diidentifikasi adalah tipu daya dengan meniru adat atau kebiasaan komunitas Muslim. Di Cirebon, ada kelompok qasidah yang menyanyikan puji-pujian kepada Yesus.

Hal serupa juga dilakukan jemaat Kanisah (Kristen) Ortodoks Syiria (KOS) yang menyelenggarakan tilawatul Injil, memakai peci, ibadahnya mengamalkan shalat 7 waktu, memakai sajadah, dan mendendangkan qasidah.

Duta-duta Injil (begitu kalangan Kristen menyebutnya —red) juga berani mengaku sebagai mantan ustadz, bertitel haji atau hajjah, atau anak kiai terkenal. Pengakuan-pengakuan seperti itu direkam dalam kaset dan diedarkan di tengah masyarakat.

Misalnya di Cirebon, murtadin Ev Danu Kholil Dinata alias Theofilus Daniel alias Amin Al-Barokah, mengaku sebagai sarjana agama Islam, yang pindah menjadi pemeluk Kristen setelah mempelajari Nabi Isa versi Islam di STAI Cirebon. Ternyata ijazah sarjana yang dipakai untuk kesaksian itu palsu.

Ada lagi Ev Hj Christina Fatimah alias Tin Rustini alias Sutini alias Bu Nonot, pemberita Injil dengan memperalat Al-Quran di Gereja Bethel Pasir Koja, Bandung. Mengaku pernah berkali-kali menunaikan ibadah haji. Menurut penuturan Sumarsono, mantan suaminya, Sutini tidak pernah belajar di pesantren. Selama berkeluarga tidak pernah shalat. Memang dia pernah pergi ke Arab Saudi, bukan untuk ibadah haji tetapi menjadi TKW.

Banyak lagi kaset-kaset yang berisi rekaman kesaksian palsu, misalnya kesaksian HA Poernama Winangun alias H Amos, Pdt R Muhamad Nurdin, Pdt M Mathius, Pdt Akmal Sani, Niang Dewi Ratu Epon Irma F Intan Duana, dan Ev Paulus Marsudi.

Sekolah dan Tawaran Kerja

Biaya sekolah yang kian mahal juga dimanfaatkan untuk menjerumuskan kaum Muslimin. Mereka mendirikan sekolah (yang seolah-olah) Islam, seperti Institut Teologi Kalimatullah Jakarta yang dikelola Yayasan Misi Global Kalimatullah. Juga ada Sekolah Tinggi Teologi (STT) Apostolos Jakarta, yang mempunyai kurikulum Islamologi bermuatan 40 sks.

Lapangan kerja juga menjadi lahan subur. Ini misalnya dilakukan pasangan misionaris Robert Antony Adam dan Traccy Carffer di Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatera Barat. Warga Amerika Serikat yang terang-terangan mengaku utusan Yesus itu berhasil memurtadkan 123 orang Minang, dengan bekal jabatan konsultan kehutanan Global Partners Forestry Unit (GPFU). Robert-Traccy yang masuk Pesisir Selatan sejak Desember tahun silam, menawarkan rekayasa teknologi tepat guna pemberdayaan jati emas, pala super, dan kapas transgenik. Robert lantas menjual bibit jati mas, pala, dan kapas dengan harga 50% lebih murah daripada harga pasaran. Kalau mau dapat gratisan, bisa saja. "Asal masuk Kristen," ujar Masrizal, aktivis dakwah di Pesisir Selatan. Banyak warga yang tergiur dan akhirnya menjual keyakinan karena terobsesi keuntungan jutaan rupiah. Untung misionaris ini segera dideportasi karena pelanggaran visa, pertengahan bulan lalu.

Kasus serupa terjadi di Bekasi. Bulan April lalu terbongkar praktik kristenisasi berbungkus lapangan kerja. Sekitar 50 orang Muslim asal Gorontalo dibawa ke Bekasi dengan janji akan dipekerjakan dan diberi beasiswa oleh Yayasan Dian Kaki Emas. "Tapi setelah sampai di sini, mereka dididik dan dipaksa pindah agama Kristen oleh Pendeta Edi Sapto," ungkap Hamdi, Ketua Divisi Khusus Forum Bersama Ummat Islam, dalam acara konferensi pers di Masjid Al Azhar, Klender Jakarta Timur.

Warga Muslim itu disekap, didoktrin ajaran Kristen, disuruh ikut kebaktian, dan dilarang shalat. Mereka juga diwajibkan memelihara babi-babi yang ada di kompleks yang berdiri di atas tanah seluas 5 hektar itu. Akhirnya kompleks kristenisasi terselubung itu digerebeg warga dan aparat.

"Dukungan" Tokoh Muslim Liberal

Proyek kristenisasi ternyata mendapat `dukungan' dari beberapa orang yang sering disebut cendekiawan Muslim. Tokoh-tokoh ini memperkenalkan paham liberalisme dan pluralisme yang kerap mengusung slogan `membangun dunia baru', dengan penyatuan agama dan melepaskan fanatisme agama. Salah satunya adalah Prof DR Said Agil Siradj, MA. Gagasan pluralnya antara lain tampak dalam pengantar buku Menuju Dialog Teologis Kristen-Islam. Buku ini dikarang oleh Bambang Noorsena, pendiri Kanisah Ortodoks Syiria (KOS) di Indonesia. Di situ Said Agil menulis bahwa KOS tidak berbeda dengan Islam. Secara al-rububiyyah, KOS mengakui bahwa Allah adalah Tuhan sekalian alam yang harus disembah. Secara al'uluhiyyah, telah mengikrarkan Laa ilaha ilallah (Tiada Ilah selain Allah) sebagai ungkapan ketauhidannya. Jadi dari tauhid sifat dan asma Allah secara substansial tidak jauh berbeda dengan Islam. Perbedaannya, menurut Said Agil, hanya sedikit. Jika dalam Islam (Sunni) kalam Tuhan yang Qadim itu turun kepada manusia (melalui Muhammad) dalam bentuk Al-Quran, maka dalam KOS kalam Tuhan turun menjelma (tajassud) dengan Ruh al-Quddus dan perawan Maryam menjadi Manusia (Yesus). Perbedaan ini tentu saja sangat wajar dalam dunia teologi, termasuk dalam teologi Islam. "Pandangan seperti itu merupakan salah satu bentuk penghancuran aqidah," timpal Abu Deedat.

Tokoh lainnya adalah DR Nurcholis Madjid. Dalam buku Pluralitas Agama, Kerukunan dalam Keragaman, Cak Nur menjelaskan bahwa pengikut Isa Almasih menyebut kitab Injil sebagai Perjanjian Baru berdampingan dengan kitab Taurat yang mereka sebut sebagai Perjanjian Lama. Kaum Yahudi tidak mengakui Isa Almasih dengan kitab Injil-nya, menolak ide Perjanjian Lama ataupun Perjanjian Baru itu, namun Al-Quran mengakui keabsahan keduanya sekaligus. Dengan nada agak tinggi, Abu Deedat menyebut pendapat Cak Nur itu sebagai upaya pendangkalan aqidah. "Para pengikut Nabi Isa as (kaum Hawariyun) tidak pernah menyebut Injil sebagai kitab Perjanjian Baru. Nabi Isa sendiri tidak pernah menerima atau mengetahui kitab Perjanjian Baru karena Injil yang diturunkan Allah kepada Nabi Isa bukanlah Perjanjian Baru yang isinya kebanyakan surat-surat Paulus yang sangat bertentangan dengan ajaran Nabi Isa itu sendiri," katanya.

Selain kedua tokoh di atas, Abu Deedat juga memasukkan Alwi Shihab sebagai tokoh pluralis. Sementara Adian Husaini dalam Islam Liberal menunjuk beberapa nama seperti dosen-dosen Universitas Paramadina (Komaruddin Hidayat, Budhy Munawar Rahman, Luthfi As-Syaukanie), dosen UIN Syarif Hidayatullah (Azyumardi Azra, Muhammad Ali, Nasaruddin Umar), dan beberapa nama lain yang menjadi kontributor Jaringan Islam Liberal.

Menurut Adian yang juga anggota Komisi Kerukunan antarumat Beragama MUI, melalui pluralisme, ummat Islam diprovokasi agar melapaskan aqidahnya. Tidak lagi meyakini agamanya saja yang benar, dan kemudian diajak untuk mengakui bahwa agama Kristen juga benar. "Teologi pluralis sebenarnya adalah pembuka pintu bagi misi Kristen dan sejalan dengan imbauan Paus Yohanes Paulus II agar misi Kristen terus dijalankan," ujarnya.

Kaum Kristen juga tak segan-segan "menyerang" tokoh-tokoh Muslim yang dikenal sebagai pejuang tegaknya syariat Islam. Misalnya KH Kholil Ridwan (Ketua Badan Kerjasama Pondok Pesantren Indonesia) dan KH Abdul Rasyid Abdullah Syafii (Pimpinan As-Syafiiyah, Jakarta).

Sekitar 5 bulan lalu, keduanya mendapat kiriman brosur dari STT Apostolos. "Isinya tidak secara langsung mengajak kepada agama Kristen, namun mengajak saya agar masuk ke dalam Apostolos. Itu artinya Apostolos mengajak saya untuk masuk ke dalam agama Kristen," kata Abdul Rasyid.

Abdul Rasyid segera melaporkan kejadian itu kepada aparat, sebab cara itu sudah melanggar ketentuan hukum, yakni larangan mengajak ummat suatu agama untuk masuk ke agama lain. Kemudian ada pemberitahuan dari aparat bahwa pihak Apostolos melalui Pdt Yusuf Roni membantah telah mengirim surat dan brosur itu.

"Terlepas dari benar tidaknya bantahan itu, yang jelas apa yang saya alami merupakan indikasi bahwa sasaran kristenisasi tidak hanya kalangan akar rumput, tapi juga ulama dan tokoh masyarakat," ujar Abdul Rasyid.

Yerikho 2000 dan Doa 2002

Misi Kristen di Indonesia didukung oleh kekuatan dana yang sangat besar, di antaranya melibatkan konglomerat keturunan Cina, James T Riady (bos Grup Lippo). Seperti terungkap di majalah Fortune (16 Juli 2001), James berencana membangun seribu sekolah di desa-desa miskin di Indonesia. James bekerjasama dengan Pat Robinson (misionaris dunia) juga akan mendirikan organisasi jaringan umat Kristiani. Hebatnya, ummat Islam secara tidak sadar turut mendukung cita-cita besar James T Riady. Antara lain dengan menjadi nasabah Bank Lippo, belanja di Mal Lippo, membeli rumah di Lippo Karawaci dan Cikarang, berobat ke RS Siloam, pelanggan Lippo Shop, Link Net, Lippo Star, Kabel Vision, dan Asuransi Lippo.

Indonesia memang akan dijadikan pusat perkembangan Kristen di Asia Pasifik. Demikian kata Pdt George Anatorae dari The Lord Familly Church Singapore dalam seminar kerjasama Global Mission Singapore dan Galilea Ministry Indonesia, di Hotel Shangrila Jakarta (9-12 Juni 1998). Sejauh mana keberhasilan program itu, perlu diteliti lebih lanjut. Yang pasti, data tahun 1999 menunjukkan jumlah umat Islam di Indonesia anjlok dari 90% menjadi 75% (Siar No 43, 18-24 November 1999).

Keberhasilan itu berkat kerja keras 38 agen kristenisasi, 1573 misionaris pribumi, 62 misionaris asing, dan 421 misionaris lintas kultural (data dari Operation World 2001 yang dihimpun India Missions Association, Japan Evangelical Assocation, dan Korea Research Institute for Missions).

Salah satu lembaga yang gencar melaksanakan kristenisasi adalah Doulos World Mission (DWM). Saat ini DWM sedang melaksanakan Proyek Yerikho 2000, yaitu program pengkristenan wilayah Jawa Barat, dengan sentra kegiatan digerakkan di kawasan pinggiran Jakarta.

Proyek ini bertujuan "mewujudkan Kerajaan Allah di bumi Parahyangan menyongsong abad XXI". Menurut Hendrik Kraemer, peneliti dan penginjil dari Belanda, Jawa Barat adalah wilayah "paling gelap" di Indonesia dan sangat tertutup bagi Injil. Karena itu aktivis DWM bertekad, "Kita harus merebut tanah Pasundan bagi Kristus."

Yerikho 2000 juga digerakkan di Sumatera Barat, Riau, Jambi, Bengkulu, Lampung, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Barat. Pusat kegiatan DWM berada di kawasan Rawamangun (Jakarta Timur) dan Tangerang (Banten).

Program lainnya adalah Doa 2002, yang dilaksanakan sejak tanggal 19 Oktober 2001 sampai 6 Desember 2002. Secara khusus program ini menyebut beberapa komunitas Muslim sebagai objek kristenisasi. Di antaranya adalah suku Kaili Ledo (Sulawesi Tengah), Melayu Riau, Betawi, Aceh, Melayu Kalimantan, Tenggarong Kutai, Bima, Maluku, Banda, dan Papua. Rencana program Doa 2002 tertuang dalam buku 40 Hari Doa Bangsa-Bangsa yang telah diterjemahkan ke dalam 35 bahasa di dunia.

Muslim Betawi misalnya, harus didoakan oleh segenap orang Kristen pada tanggal 9 November 2001 lalu. Itu perlu dilakukan agar hati Bapa mengasihi dan merindukan orang Betawi. Selain itu, agar Bapa mengutus duta-duta kerajaan-Nya untuk mengembangkan pelayanan kesenian Betawi, literatur, dan radio dalam bahasa Betawi. Juga, agar Tuhan mencurahkan kuasa-Nya dan mengubah kehidupan orang-orang yang berpengaruh dalam suku Betawi, baik para penyanyi, penari, tokoh agama, masyarakat, pemuda, dan wanita.

Secara khusus, orang Kristen mendoakan Presiden Megawati dan beberapa pemimpin dunia. Harapannya, agar Megawati (dan para pemimpin) mendapat pewahyuan tentang Ketuhanan Yesus dan keluarganya datang mengenal Kristus.

Duta-duta Injil juga sedang menggencarkan ritual Doa 5 Patok. Yakni meningkatkan doa 5 kali sehari dengan pelaksanaan minimal 30 menit lebih awal sebelum waktu shalat (bagi orang Islam). Tujuannya adalah untuk mengadakan penghadangan ruhani sekaligus pembersihan atmosfir ruhani agar kaum Muslimin dapat menerima Yesus.

Ritualnya dilaksanakan sebelum waktu shalat ummat Islam, yakni subuh (mulai 03.15-selesai), pagi (10.30-selesai), siang (14.00-selesai), sore (17.00-selesai), dan malam (18.00-selesai). Pada Kamis malam, dilakukan doa semalaman dan peperangan ruhani sambil berkeliling kota/lokasi tertentu. Awas, hati-hati!• (ahmad, dodi nurja, amz, pam)



Kristenisasi melalui kesaksian-kesaksian Palsu via mantan muslim (murtadin)


Tahun 1974, GPIB Maranatha Surabaya digegerkan oleh kasus pelecehan agama oleh Pendeta Kernas Abubakar Masyhur Yusuf Roni. Dalam ceramahnya, sang pendeta itu mengaku ngaku sebagai mantan kiyai, alumnus Universitas Islarn Badung dan pernah menjadi juri MTQ Internasional. Dia tafsirkan ayat-ayat Al-Qur'an secara sangat ngawur. Kaset rekaman ceramah tersebut kemudian diedarkan secara luas kepada umat Islam.

Setelah diusut tuntas, ternyata pengakuan pendeta itu hanyalah bohong belaka Yusuf Roni teryata tidak bisa baca Al-Qur'an. Dengan kebohongannya itu, Pendeta Pembohong Yusuf Roni diganjar penjara 7 tahun di Kalisosok, Surabaya.

Ketika orang sudah banyak melupakan kasus pelecehan Yusuf Roni, di Jakarta muncul pelecehan plus seribu dusta yang baru. Seseorang yang menamakan dirinya Pendeta Hagai Ahmad Maulana mengaku sebagai putra kandung kesayangan KH. Kosim Nurzeha. Ceramahnya di gereja pun beredar luas di kalangan masyarakat. Setelah diselidiki, terkuaklah kebohongan besar pendeta Hagai Ahmad Maulana. Sebab belum pernah istri KH. Kosim Nurzeha melahirkan Ahmad Maulana.


Di Padang, trik yang sama dipakai untuk menggoyang akidah umat. Seseorang yang menamakan dirinya Pendeta Willy Abdul Wadud Karim Amrullah, namanya menjadi naik daun di dunia pemurtadan Kristenisasi, setelah mangaku adik kandung ulama besar pakar tafsir, Yang Mulia Almarhum Buya Hamka.

Orang awam banyak yang percaya tanpa cek dan ricek. Langsung yakin begitu saja dengan pengakuan bahwa adik kandung Buya Hamka itu sudah murtad ke Kristen.

Setelah diselidiki, ternyata pengakuan itu adalah kebohongan yang sangat besar. Salah seorang putra Buya Hamka menyatakan bahwa sepanjang hayatnya, dia tidak pernah punya paman yang namanya Willy Abdul Wadud Karim Amarullah.

Di Cirebon, murtadin Danu Kholil Dinata Ev. Danu Kholil Dinata alias Theofilus Daniel alis Amin Al Barokah, mengaku sebagai sarjana agama Islam, yang pindah menjadi pemeluk Kristen setelah mempelajari Nabi Isa versi Islam di STAI Cirebon. Setelah dilacak, ternyata ijazah sarjana yang dipakai untuk kesaksian adalah PALSU.

Para murtadin pembohong lainnya adalah Drs. H. A. Poernomo Winangun alias Drs. H. Amos, Ev Hj. Christina Fatimah alias Tin Rustini (nama asli dikampung Sutini alias Bu Nonot, Pdt. Rudy Muhammad Nurdin, Pdt. M. Mathius, Pdt. Akmal Sani, Niang Dewi Ratu Epon Irma F. Intan Duana Paken Nata Sastranagara (Ev. Ivone Felicia IDp.). Mengaku telah mengkristenkan 60 kiyai Banden, dll.
 

 
"Kasus Terbanyak, Pemuda Kristen Hamili Gadis Muslimah"

Pertengahan bulan lalu, harian Republika menurunkan laporan tentang

puluhan sekolah agama di Yogyakarta dan Temanggung yang tidak mau

menyelenggarakan Evaluasi Belajar Tahap Akhir (EBTA) untuk pelajaran

agama bagi siswa-siswa beragama lain di sekolah itu. Padahal sudah

ada ketentuan hukum yang mengatur hal itu secara tegas yakni Surat

Keputusan Bersama (SKB) No. 2/U/SKB/2001.

Namun, SKB yang ditandatangani oleh Mendiknas, Mendagri dan Menag itu

sengaja mereka abaikan. Alasan mereka, mengutip pernyataan sejumlah

pejabat Diknas setempat, mereka ingin menjaga kekhasan sebagai

sekolah agama. Bahkan beberapa yayasan pengelola sekolah-sekolah

tersebut secara tegas menolak SKB itu karena ingin mengemban misi

tertentu untuk kepentingan agama mereka (Republika, 12/6).


Menanggapi berita tersebut, da'i dan Kristolog (ahli tentang

Kristen), Abu Deedat Shihabuddin MH berkomentar enteng. Menurutnya,

itu tidak aneh dan belum seberapa gawat, karena sebetulnya masih

banyak bentuk-bentuk pembangkangan mereka lainnya yang lebih parah.

Yang aneh, bagi Sekjen Forum Antisipasi Kegiatan Pemurtadan (FAKTA)

itu, justru sikap harian tersebut yang tidak mau secara tegas

mengatakan bahwa sekolah-sekolah itu tidak lain adalah sekolah-

sekolah Kristen. "Mengapa mesti takut," tanyanya heran.


Sebagai seorang kristolog, ustadz yang biasa dipanggil Abud oleh

rekan-rekan seprofesinya itu, memang bukan hanya menguasai disiplin

ilmu tentang agama Kristen secara mendalam. Tapi ia juga banyak tahu

tentang seluk-beluk dan kiprah licik para misionaris Kristen dalam

memurtadkan kaum Muslimin.


Maklum, pria berkaca mata tebal ini sering menangani berbagai kasus

pemurtadan di berbagai daerah, baik berupa advokasi maupun terapi

langsung. Selain itu Abud juga kerap melakukan investigasi langsung

ke 'garis belakang' untuk memperoleh data. Jadi wajar kalau ia tahu

banyak.


Sudah banyak murtadin yang terselamatkan kembali ke pangkuan Islam

setelah diterapi Abud. Uniknya, para pasien yang ditangani mubaligh

kalem ini bukan hanya dari kalangan Muslim KTP saja. Tapi juga ada

yang justru berasal dari kalangan santri. Misalnya, anak seorang kyai

asal Salatiga yang selain dimurtadkan juga dihamili oleh seorang

aktivis gereja. "Ini bukti bahwa gerakan pemurtadan memang semakin

hebat dan terencana serius," jelasnya prihatin.


Melalui Abud juga, sejumlah pendeta dan aktivis gereja kembali

berdiri di bawah panji Syahadat. Mereka mengakui kekeliruan yang ada

pada ajaran mereka setelah berdebat panjang dengan Abud. "Bahkan, ada

salah satu pendeta setelah berdebat di rumah saya membanting Injilnya

karena kesal," cerita pria yang kutubuku ini.


Di tengah kesibukannya keliling daerah untuk mengisi ceramah, seminar

dan pelatihan tentang antisipasi gerakan pemurtadan (harakatul

irtidad), mantan aktivis PII ini berkenan meluangkan waktunya untuk

diwawancarai Suara Hidayatullah. Di ruang tamu rumahnya yang sempit,

karena dipenuhi ribuan buku serta pakaian, sendal dan sepatu, barang

dagangan istrinya, Abud menerima Deka Kurniawan dan reporter lepas

Hidayaturrahman. Berikut petikannya:


Anda begitu mendalami dunia Kristen. Pernahkah terbersit di hati Anda

untuk masuk Kristen?


Tidak ada keinginan untuk masuk Kristen walaupun saya sudah banyak

sekali membedah Bibel. Justru keyakinan saya terhadap kebenaran Islam

semakin kuat, karena setiap saya membaca Bibel selalu ada perbedaan

redaksi dalam setiap edisi cetakannya. Misalnya dalam edisi lama ada

istilah Tuhan. Tapi di edisi baru pada tempat yang sama ditulis Tuan.

Begitu juga istilah Babi diganti menjadi Babi Hutan.


Abud mengoleksi 49 kitab Injil modern dan klasik, termasuk Injil

dalam sejumlah bahasa daerah yakni Jawa, Minang dan Sunda. Sebagian

besar didapatnya secara cuma-cuma dari diskusi yang dilakukannya

bersama pendeta. Selebihnya didapat dari hasil investigasi dan

membeli di pasar loak.


Setelah sekian lama menggeluti ajaran Kristen, apakah Anda menemukan

sisi positifnya?


Al-Quran sendiri menyatakan, telah terjadi percampuradukan antara

yang benar dan yang batil dalam ajaran ahlul kitab. Ini berarti

menunjukkan ada juga kebenarannya. Hanya saja memang madu dan racun

itu sudah digabung menjadi satu. Seperti ayat-ayat tauhid dalam

Markus pasal 12 ayat 25 Yesus berkata, "Dengarlah wahai Bani Israel

Tuhan kita dalah Tuhan Esa." Ini menunjukkan Tuhan mereka adalah esa

disamping memang ajaran mereka khusus hanya kepada golongan Bani

Israel. Tapi ada juga racunnya, apa yang dikatakan Paulus dalam Roma

pasal 9 ayat 5 misalnya, "Yesus adalah Allah yang harus disembah."

Datanglah ayat Al-quran sebagai korektor bagi mereka, misalnya surah

Al-Maidah ayat 72 menyebutkan, "Telah kafir orang yang mengatakan al-

Masih adalah Tuhan." Makanya, kalau kita berinteraksi dengan para

aktivis Kristen kita jangan hanya mengatakan kitab Injil sudah tidak

asli atau palsu, lebih baik kita tunjukkan yang menyimpang dan salah

pada Injil tersebut.


Apa yang menyebabkan kaum Nasrani tidak menyadarinya?


Di samping kekuatan dana, mereka ada dogma, bahwa apapun yang terjadi

apakah ajaran itu rasional atau tidak, harus diterima karena ia

merupakan firman Tuhan. Dan ditanamkan kepada mereka hanya orang

Kristen saja yang selamat, yang lain tidak selamat dan harus

diselamatkan. Misi inilah yang membuat mereka agresif untuk melakukan

pemurtadan. Apalagi misi itu didukung dengan fasilitas yang cukup.

Mereka tidak lagi memikirkan urusan kebutuhan keluarga, karena sudah

dijamin. Lain dengan dai-dai kita yang dikirim ke pelosok paling

hanya digaji Rp 50.000-150.000 per bulan.


Apa yang membuat mereka menerima dogma tersebut, sehingga mereka

tetap menjadi ummat terbesar?


Secara umum orang ingin mencari yang gampang. Dan di Kristen itu

memang gampang. Kalau melakukan tindakan yang tidak berakhlaq tidak

ada masalah karena nantinya akan diampuni juga, dan cukup hanya

sekali seminggu datang ke gereja. Paulus mengatakan dalam Roma pasal

5 ayat 20, "Semakin banyak dosa semakin melimpah kurnia Tuhan."


Makanya di Barat kita ketahui kehidupan mereka rusak, terutama dalam

kebebasan seks. Dan kerusakan itu mengacu kepada ajaran Bibel yang

memang banyak memuat cerita-cerita porno yang vulgar. Misalnya

diceritakan bagaimana Nabi Daud sebagai orang yang rusak moralnya

menghamili Batseba istri Uria. Begitu pula Nabi Luth diceritakan

menghamili anaknya sendiri. Makanya, Jasmen Alfa, seorang Sosiolog

Kristen, mengatakan Bibel itu jangan sampai dibaca anak-anak, lebih

baik ia dimasukkan ke dalam peti besi, kemudian petinya dikunci dan

kuncinya dibuang ke laut.


Bagaimana reaksi mereka bila mendengar hal itu dari Anda?


Mereka membenarkan dan meyakini kebenaran cerita persundelan itu.

Misalnya sebuah acara di televisi pernah menampilkan dua orang

pelacur yang menjadi germo kemudian bertaubat menjadi hamba Tuhan.

Saya sampaikan bahwa cerita ini mirip dengan apa yang ada dalam

Bibel. Pembawa acara yang Kristen itu kemudian membenarkan. Kemudian

saya balikkan, berarti Yesus anak pezina karena dalam Matius ayat 1

dan seterusnya menceritakan bahwa silsilah keturunan Yesus bertemu

dengan raja Daud yang menzinai Batseba. Tapi telepon saya akhirnya

ditutup.


Kalau sudah mentok biasanya apa yang mereka lakukan?


Ada yang jujur dan mengatakan ini PR buat saya. Ada yang tidak jujur

dengan cara menghindar dan lari ke masalah lain. Maka kalau debat

dengan mereka jangan beri kesempatan buat beralih pembicaraan.


Mereka meyakini semua orang berdosa dari Adam sampai manusia

kemudian, kecuali Yesus yang tidak berdosa. Inilah sebenarnya

skenario Paulus menjalankan misinya, yang membuat citra bahwa Yesus

itu juru selamat.


Apakah Anda hafal Injil sehingga fasih menyebutkan ayat demi ayat?


Tidak hafal. Hanya tahu saja.


Selama beraktivitas di bidang ini Anda sudah terjun kemana?


Seluruh wilayah Jawa Timur sudah, begitu pula Jawa Tengah dan

Sumatera juga serta Kalimantan. Program ke depan adalah Irian dan

Sulawesi. Kalau ini sudah berarti semua pulau besar sudah.


Jadwal terbang Abud memang padat. Ketika kami menemuinya seusai

berkhutbah Jumat di sebuah perkan-toran ia mengaku baru tiba dari

Kalimantan. Sesudah itu ia punya agenda di dua tempat sampai malam.

Karena waktu yang terbatas wawancara itu urung dilangsungkan. Karena

esok siangnya ia berceramah di Universitas Trisakti untuk selanjutnya

terbang ke Palembang, Sahid mewawancarainya pagi hari selama waktu

menunggu jemputan dan dalam perjalanan menuju lokasi seminar. Itu pun

masih sering disela oleh telepon, antara lain dari daerah yang

memintanya datang yakni Pekalongan dan Padang.


Apa yang biasanya Anda lakukan di berbagai tempat itu?


Kita memberikan informasi sekitar cara-cara pemurtadan dan kita

dorong mereka memperdalam pemahaman keislaman. Jangan sampai nanti

kawan dibilang lawan dan lawan dibilang kawan, karena memang gerakan

mereka ibarat musang berbulu ayam, lihai dan licik.


Misalnya sekarang di Meruya Ilir (Jakarta) mereka mendirikan Sekolah

Tinggi Theologia Kalimatullah, yang semua mahasiswanya memakai kopiah

dan mahasiswinya memakai jilbab. SKS Islamologinya yang dulu hanya 20

SKS sekarang menjadi 40 SKS. Semester dua saja mereka sudah dilatih

berdiskusi dengan para ustadz. Sedang mahasiswa IAIN saja tidak

dipersiapkan untuk menghadapi para pendeta. Ada juga yang mengaku-

ngaku anak kiai, mantan ustadz dan lain-lain.


Mereka menggunakan cara-cara itu untuk mencari legitimasi?


Semacam itu. Tidak jarang yang mengaku pernah jadi aktivis

Muhammadiyah. Bahkan di rumah sakit pun mereka beraksi. Pasien yang

tidak berdaya disuruh beriman kepada Yesus agar sembuh. Padahal kalau

mau jujur, saya mempunyai tetangga Katolik yang mengeluh karena habis

biaya untuk berobat strok tapi tidak juga sembuh, terus saya balikkan

saja, katanya Tuhan Anda bisa menyembuhkan. Jadi semua akal-akalan

orang Kristen untuk menjerat orang Islam. Kalau sudah menjadi Kristen

ya akhirnya diterlantarkan.


Seberapa sering Anda menangani kasus-kasus pemurtadan?


Banyak sekali. Yang paling sering biasanya kasus pemuda Kristen

memacari dan menghamili pemudi Muslimah. Ada juga kasus nikah beda

agama yang belakangan menim-bulkan masalah besar.


Apa hikmah terbesar menjadi seorang Kristolog?


Di sini saya bisa menguji kemampuan lewat berdebat dengan mereka,

kalau ada yang kurang saya pelajari terus. Di samping itu memu-dahkan

saya berda'wah kepada mereka, karena Islam ini juga wajib dida'wahkan

kepada mereka. Lihat saja surah Ali-Imron ayat 71. Sementara perintah

bagi mereka untuk berdakwah kepada orang Islam itu batal karena

dalilnya di Matius pasal 28 ayat 16 dibuat setelah Yesus mati.

Karenanya, kalau Anda didatangi misionaris Kristen, jangan diusir.

Da'wahi mereka.


Tapi kan tidak semua orang punya bekal?


Makanya para aktivis da'wah harus menyiapkan bekal itu. Tim FAKTA

insya Allah siap membantu. Dimana saja, sampai ke Irian sekalipun,

kami siap memberikan bekal.



FAKTA didirikan 1998 dengan latar belakang belum banyaknya lembaga

yang secara khusus menangani persoalan Kristenisasi. Dengan fasilitas

yang sangat terbatas 7 dari 20 relawan (diantaranya bekas pendeta)

yang aktif hingga kini masih rutin melakukan berbagai kegiatan

antisipasi pemurtadan antara lain dengan menerbitkan buletin, membuka

ruang konsultasi akidah di sebuah majalah Islam, memberikan seminar,

ceramah dan pelatihan Kristologi di berbagai kota, dan belakangan di

kampus-kampus. Melalui lembaga inilah Abud membangun jaringan anti

pemurtadan secara nasional. Sayangnya, untuk kebutuhan operasional

FAKTA masih mengandalkan kocek para relawannya sendiri.


Apa saja langkah yang harus diambil jika sebuah masyarakat berhadapan

dengan kristenisasi?


Kristenisasi ini bervariasi. Kalau mereka mengadakan santunan sosial,

pembagian sembako atau lainnya, maka umat Islam harus melakukan hal

yang sama sebagai counternya. Kalau mereka menyerang lewat buku kita

juga mempersiapkan buku dan tulisan-tulisan, sekaligus menyerang

balik kepada mereka. Tapi kalau kasusnya hipnotis maka kita harus

laporkan kepada pihak yang berwajib dan melakukan upaya advokasi

bertemu dengan upaya hukum. Aparat juga harus peka. Kalau tak ada

langkah hukum masyarakat bisa kehilangan kesabaran.


Kepada para misionaris, langkah pertama, tolak mereka dengan cara

yang baik, karena Islam tidak mengajarkan cara kekerasan jika kita

tidak diperlakukan keras. Konkritnya kalau menemukan sudah ada bukti-

bukti itu, ambil bukti-bukti itu kemudian serahkan kepada ulama

setempat dan beritahukan kepada aparat, lantas jelaskan kepada mereka

ini melanggar kode etik penyebaran agama. Kalau mereka berbuat zhalim

baru kita lakukan hal yang sama tapi tidak boleh berlebihan. Ummat

Islam jangan menjadi ummat yang bodoh karena Islam bukan agama yang

sempit. Kepada ummat Kristen yang tidak menggangu jangan diganggu

pula mereka.




Tindakan ummat Islam selama ini cenderung reaktif terhadap isu-isu

kristenisasi, misalnya seperti yang terjadi di Doulos. Bagaimana

menurut Anda?


Jangan salah tafsir. Ummat Islam tidak pernah mengadakan aksi. Mereka

hanya bereaksi. Karena aksi-aksi Kristen melanggar kode etik maka

ummat Islam bereaksi.



Mungkin, karena begitu concernnya terhadap bidang Kristologi, dosen

Institut Agama Islam Al-Ghuraba ini, sampai menamakan anak keduanya

dengan seorang tokoh Kristologi terkemuka dari Afrika, Ahmad

Deedat. "Saya memang mengaguminya dan ingin agar dia menjadi ulama

seperti Ahmad Deedat," jelas Kristolog yang mengaku memiliki

kemiripan jalan hidup dengan Ahmad Deedat itu. Itulah sebabnya di

kalangan teman-temannya, serta belakangan di kalangan media dan umat,

anak ketujuh dari 13 bersaudara pasangan Mahfudz dan Hanafiyah itu

lebih sering dikenal sebagai Abu Deedat. Padahal nama aslinya adalah

Shihabuddin.


Mengapa Anda tertarik dan tekun menekuni Kristologi?


Saya terjun di dunia Kristologi tahun 1982, ketika bekerja di sebuah

perusahaan swasta. Di perusahaan itu kebetulan direkturnya seorang

pendeta. Begitu pula para pimpinan lainnya yang memegang posisi

penting rata-rata adalah aktivis gereja. Salah satu dari mereka,

yakni kepala bagian keuangan berusaha menginjili ('mendakwahkan'

injil) para karyawan Muslim melalui berbagai tulisan dan diktat

tentang potongan-potongan ayat Qur'an yang terkesan seperti mendukung

agama mereka.


Saya penasaran. Maka saya datangi orang itu. Ketika saya tanya,

katanya tulisan-tulisan itu disusun oleh orang yang sudah berpuluh-

puluh kali naik haji. Saya pun terlibat diskusi kecil-kecilan dengan

mereka.


Apa bekal Anda waktu itu?


Bekal saya waktu itu Injil pemberian seorang Kristen Manado yang saya

pelajari. Kebetulan juga saya lulusan Fakultas Ushuluddin, jurusan

Penyiaran Islam di IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Di sana ada mata

kuliah khusus tentang Kristologi. Dengan modal itu saya terus

menggeluti dunia Kristologi secara otodidak, selain mengikuti kursus-

kursus Kristologi secara tertulis. Misalnya di Pelita Hidup tahun

1986 dengan menggunakan nama samaran. Alhamdulillah dari situ saya

banyak mendapatkan dokumen penting yang berguna untuk antisipasi

gerakan mereka.


Ia dibesarkan di pesantren NU sampai SMP di Tasikmalaya, Jawa Barat.

Orang tuanya juga berlatar belakang NU. Karena banyak berinteraksi

dengan aktivis Persis, ayahnya lalu banyak mendorong untuk berdakwah.

Berbagai diskusi dan kegiatan PII ditekuninya.


Di rumahnya Abud sering meladeni permintaan debat dari para pendeta

dan aktivis gereja. Hal yang sama juga dilakukan di berbagai tempat.

Dan itu sudah berlangsung ratusan kali. Dari kalangan Budha dan

Aliran Kepercayaan ada juga yang pernah menjadi lawan debat Abud.

Menurut Abud, banyak di antara mereka yang menyerah tapi tidak mau

mengakui kesalahannya. Kalau pun ada yang mengaku salah, mereka

khawatir kalau masuk Islam akan miskin. Tidak sedikit juga yang

mendapat hidayah.


Buku apa saja yang Anda jadikan pegangan untuk mendebat mereka?


Ketika masih SMU di kampung, saya sudah memiliki referensi buku-buku

Islam, kurang lebih 500 judul. Yang pertama saya pelajari adalah

dialog Islam-Kristen berjudul "Bibel lawan Bibel" karangan A Hassan

dan buku-buku Pak Abdullah Wasian tentang Kristologi.


Bagaimana Anda mendidik anak Anda, Deedat, supata kelak jadi seperti

Ahmad Deedat?


Saya sekarang sedang berusaha menyiapkannya menjadi aktivis da'wah.

Ketika saya menangani kasus pemurtadan di rumah, saya sengaja

menyuruhnya untuk melihat.


Bagaimana mengatur kesibukan da'wah dengan keluarga?


Saya mencoba bagaimana kebutuhan rumah tangga bisa terpenuhi,

karenanya saya juga berwiraswasta. Istri saya banyak sekali membantu

dan mendorong saya ketika menangani kasus-kasus pemurtadan terutama

terhadap Muslimah. Jadi antara saya dan istri sejalan. Dia juga tahu

tugas saya, sehingga untuk anak-anak kita beri penjelasan kepada

mereka.


Anda pernah mengalami teror?


Iya, sebatas teror telepon dan surat kaleng biasa. Istri saya juga

pernah diancam melalui telepon. Berjuang harus ada tantangan dan

itulah risiko.


Peristiwa apa yang paling berkesan bagi Anda?


Yang tidak pernah bisa saya lupakan adalah ketika saya mengobati

anaknya kiai, di mana seumur hidup baru kali itu saya menceramahi

kiai secara langsung. Anaknya kuliah di salah satu perguruan tinggi

di Semarang, dibawa kabur oleh anak pendeta kemudian di-Kristenkan,

bahkan sudah dihamili. Akhirnya pak kiai ini mendatangi saya dan

minta tolong kepada saya untuk menangani kasus ini. Alhamdulillah,

saya pun dapat melakukan penyadaran kepada anak tersebut dan kepada

kiai itu sekaligus yang merasa terpukul dengan keadaan anaknya. Kesan

lain, ketika saya menghadapi kasus-kasus Muslimah yang termurtadkan.

Ini sering membuat saya sedih.


Apakah perhatian yang mendalam itu tidak membuat Anda emosional?


Saya sangat prihatin sekali, karena lembaga yang lain masih sangat

minim perhatiannya terhadap masalah seperti ini. Inilah kelemahan di

kalangan kita. Kalau kejadian seperti ini belum menimpa keluarga kita

sendiri, hal itu dianggap biasa saja. Kalau sudah tertimpa musibah

baru merasa. (Deka Kurniawan)

-------------------------------------------------------------------------------

  To:

[email protected]








Sepucuk surat tergeletak di meja redaksi kami, Maret lalu. Surat itu

dari seberang pulau, Kalimantan Timur. Nama pengirimnya singkat saja,

Dewi. Tetapi persoalan yang diadukan tak sesingkat namanya. Coba

simak isi surat itu:

"Saya seorang ibu 29 tahun dan suami 31 tahun. Kami telah dikaruniai

dua anak. Yang pertama pria (6), dan kedua putri (2). Kami menikah 7

tahun yang lalu, dia adalah teman sekampus saya. Saat pertama

mengenalnya, saya benar-benar benci. Maklum, saya lahir dari keluarga

Muslim yang taat, sementara dia pemeluk Protestan. Tapi entahlah,

mungkin karena dia tak pernah putus asa, saya kemudian menerimanya

menjadi pacar. Saya benar-benar semakin sayang setelah dia kemudian

menerima menikah dalam Islam. Saya benar-benar bahagia sekali."

"Tetapi setelah datangnya anak pertama lalu disusul anak kedua,

banyak perubahan yang terjadi pada suami saya. Tiba-tiba dia jarang

shalat dan sering keluar tanpa pamit. Belakangan saya tahu ternyata

dia tidak benar-benar meninggalkan agamanya. Bahkan, sejak anak kedua

kami lahir, secara terang-terangan dia pernah mengatakan kepada saya.

`Saya masih seperti dulu, jadi jangan harap ada perubahan.'"

"Mendengar kata-katanya, saya hampir tidak percaya. Suami saya yang

tadinya pendiam itu tiba-tiba seperti itu. Yang membuat saya benar-

benar takut dan sedih, hari-hari ini, dia sering memaksa saya

mengikuti jejaknya untuk datang di kebaktian.'


Kisah memilukan itu tidak cuma dialami Dewi, tapi juga seorang ibu

asal Palu yang datang ke kantor Suara Hidayatullah (Sahid) Surabaya,

Juli lalu. Wanita berperawakan sedang ini datang bersama suaminya

dengan wajah sembab. Kepada Sahid, ia menceritakan musibah yang

menimpa keluarganya. Singkat cerita, sang adik diketahui hamil di

luar nikah sesaat sebelum menyelesaikan gelar sarjananya. Yang

membuat musibah itu terasa amat berat, pacar sang adik itu ternyata

pemuda beragama lain. "Adik saya dihamili oleh pemuda Kristen,"

ucapnya sembari menyeka linangan air matanya. Padahal, sang adik

dikenal sebagai wanita pendiam dan jarang keluar rumah. Selain itu,

selama ini, dia dibesarkan dan dididik dalam lingkungan keluarga

Muslim yang sangat taat. Peristiwa memalukan itu memang kemudian bisa

dicarikan solusinya. Singkatnya, sang adik akhirnya menikah dengan

pacarnya pemuda Kristen dalam upacara Islam. Setelah itu, keduanya

pindah kota yang jauh dari keluarga, di Palu. Hanya saja,

kepergiannya masih tetap menyisakan luka yang mendalam bagi pihak

keluarga. Terutama setelah diketahui bila sang adik telah ikut sang

suami menjadi aktifis gereja bersama semua anaknya.

Kisah cinta seperti Dewi dan adik si ibu tadi bukan hal baru di

negeri ini. Banyak pemuda dan pemudi pernah mengalami hal serupa.

Memiliki teman dekat atau calon suami yang berbeda agama. Ujung-

ujungnya, dalam banyak kasus, hubungan keduanya kemudian terhambat

karena adanya perbedaan agama. Bagi yang taat pada agama, mereka

memutuskan untuk berpisah. Sebagian lagi memilih kompromi, yakni

memilih mengikuti salah satu dari agama yang dianut pasangannya. Pada

pilihan yang terakhir inilah yang perlu diwaspadai, utamanya para

gadis muslimah.

.

Hosted by www.Geocities.ws

1