|
�Home
| Isi
Buku Tamu | Diskusi
Terhangat "Saudariku Apa yang Menghalangimu untuk
Berhijab" ( 1 ) Oleh : syaikh Abdul Hamid Al Bilaly �
MUQADDIMAH � "Dan demi jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya), maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu
(jalan) kefasikan dan ketakwannnya. " (Asy Syams: 7-8 )Manusia diciptakan oleh Allah dengan sarana untuk meniti jalan kebaikan atau jalan kejahatan. Allah
memerintahkan agar kita saling berwasiat untuk mentaati kebenaran, saling memberi nasihat di antara kita dan menjadikannya di antara sifat-sifat orang yang terhindar dari kerugian.
Sebagaimana disebutkan dalam surat Al 'Ashr, Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam menjelaskan bahwa kewajiban kita terhadap sesama adalah saling menasihati. Beliau bersabda:
"Orang mukmin adalah cermin bagi orang mukmin lainnya " (Diriwayatkan oleh Thabrani dalam "Al Autsah" dan dishahihkan oleh Al Albani dalam Shah Jami'ush Shaghir, hadits no. 6531) Dengan kata lain, seorang mukmin bisa menyaksikan dan mengetahui kekurangannya dari mukmin yang lain. Sehingga ia laksana cermin bagi dirinya. Tetapi cermin ini tidak memantulkan gambar
secara fisik melainkan memantulkan gambar secara akhlak dan perilaku. Islam juga --sebagaimana dalam banyak hadits�menganjurkan dan mengajak pemeluknya agar sebagian mereka mencintai
sebagian yang lain. Di antara pilar utama dari kecintaan ini, hendaknya engkau berharap agar saudaramu masukSurga dan dijauhkan dari Neraka. Tak sebatas berharap, namun engkau harus
berupaya keras dan maksimal urituk menyediakan berbagai sarana yang menjauhkan saudaramu dari hal-hal yang membahayakan dan merugikannya, di dunia maupun di akhirat.
Hal-hal di atas itulah yang melatar belakangi buku sederhana ini kami hadirkan. Selain itu, kecintaan dan rasa kasih sayang kami kepada segenap remaja puteri di seluruh dunia Islam. Tentu,juga
keinginan kami untuk menjauhkan mereka dari bahaya dan kerugian di dunia maupun di akhirat. Lebih khusus, buku ini kami hadirkan untuk segolongan kaum muslimah yang belum mentaati
perintah berhijab ('Hijab: Maksudnya, busana wanita muslimah yang menutupi seluruh bagian tubuhnya dari kepala hingga telapak kaki, hijab tersebut mempunyai syarat-syarat tertentu. (lihat him.66 ) seperti yang diperintahkan syariat. Baik karena belum mengetahui bahwa hijab adalah wajib, karena tidak mampu melawan tipu daya dan pesona dunia, karena takluk di hadapan nafsu yang senantiasa
memerintahkan keburukan atau tunduk oleh bisikan setan, karena pengaruh teman yang tidak suka kepada kebaikan bagi sesama jenisnya atau karena alasan-alasan lain.
Kami memohon kepada Allah semoga uraian dalam buku sederhana ini menjadi pembuka hati yang terkunci, menggetarkan perasaan yang tertidur, sehingga bisa mengembalikan segenap akhawat
yang belum mentaati perintah ber-hijab, kepada fitrah yang telah diperintahkan Allah Subhanahu
Wata'ala.
SYUBHAT DAN SYAHWAT Setan bisa masuk kepada manusia melalui dua pintu utama, yaitu syubhat dan syahwat. Seseorang
tidak melakukan suatu tindak maksiat kecuali dari dua pintu tersebut. Dua perkara itu merupakan penghalang sehingga seorang muslim tidak mendapatkan keridhaan Allah, masuk Surga dan jauh
dari Neraka. Di bawah ini akan kita uraikan sebab-sebab utama dari syubhat dan syahwat.A. SYUBHAT PERTAMA :
MENAHAN GEJOLAK SEKSUAL Sytlbhat ini menyatakan, gejolak nafsu seksual pada setiap manusia adalah sangat besar dan
membahayakan.Ironinya, bahaya itu timbul ketika nafsu tersebut ditahan dan dibelenggu. Jika terus menerus ditekan, ia bisa mengakibatkan ledakan dahsyat.
Hijab wanita akan menyembunyikan kecantikannya, sehingga para pemuda tetap berada dalam gejolak nafsu seksual yang tertahan, dan hampir meledak, bahkan terkadang tak tertahankan
sehingga ia lampiaskan dalam bentuk tindak perkosaan atau pelecehan seksual lainnya. Sebagai pemecahan masalah tersebut, satu-satunya cara adalah membebaskan wanita dari
mengenakan hijab, agar para pemuda mendapatkan sedikit nafas bagi pelampiasan nafsu mereka yang senantiasa bergolak di dalam. Dengan demikian, hasrat mereka sedikit bisa terpenuhi.
Suasana itu lalu akan mengurangi bahaya ledakan gejolak nafsu yang sebelumnya tertahan dan tertekan. 1. Bantahan
Sepintas, syubhat di atas secara lahiriah nampak logis dan argumentatif. Kelihatannya, sejak awal,
pihak yang melemparkan jalan pemecahan tersebut ingin mencari kemaslahatan bagi masyarakat dan menghindarkan mereka dari kehancuran. Padahal kenyataannya, mereka justru menyebabkan
bahaya yang jauh lebih besar bagi masyarakat, yaitu menyebabkan tercerai-berainya masyarakat, kehancurannya, bahkan berputar sampai seratus delapan puluh derajat pada kebinasaan.
Seandainya jalan pemecahan yang mereka ajukan itu benar, tentu Amerika dan Negara-negara Eropa serta Negara-negara yang berkiblat kepada mereka akan menjadi negara yang paling kecil kasus
perkosaan dan kekerasannya terhadap kaum wanita di dunia, juga dalam kasus-kasus kejahatan yang lain. Amerika dan negara-negara Eropa amat memperhatikan masalah ini, dengan alasan kebebasan
individual. Di sana, dengan mudah anda akan mendapatkan berbagai majalah porno dijual di sembarang tempat.
Acara-acara televisi, khususnya setelah pukul dua belas malam, menayangkan berbagai adegan tak senonoh, yang membangkitkan hasrat seksual. Bila musim panas tiba, banyak wanita di sana
membuka pakaiannya dan hanya mengenakan pakaian bikini. Dengan keadaan seperti itu, mereka berjemur di pinggir pantai atau kota-kota pesisir lainnya. Bahkan di sebagian besar pantai dan
pesisir, mereka boleh bertelanjang dada dan hanya memakai penutup ala kadarnya. Terminal-terminal video rental bertebaran di seluruh pelosok Amerika dengan semboyan "Adults
Only" (khusus untuk orang dewasa). Di terminal-terminal ini, anak-anak cepat tumbuh matang dalam hal seksual sebelum waktunya. Siapa saja dengan mudah bisa menyewa kaset-kaset video lalu
memutarnya di rumah atau langsung menontonnya di tempat penyewaan. Rumah-rumah bordil bertaburan di mana-mana. Bahkan di sebagian negara, memajang para wanita
tuna susila (pelacur) di etalase sehingga bisa dilihat oleh peminatnya dari luar. Apa kesudahan dari hidup yang serba boleh (permisif) itu? Apakah kasus perkosaan semakin
berkurang? Apakah kepuasan mereka terpenuhi, sebagaimana yang ramai mereka bicarakan? Apakah para wanita terpelihara dari bahaya besar ini? 2. Data Statistik Amerika
Dalam sebuah buku berjudul "Crime in U.S.A" terbitan Pemerintah Federal di Amerika --yang ini berarti data statistiknya bisa dipertanggungjawabkan karena ia dikeluarkan oleh pihak pemerintah,
tidak oleh paguyuban sensus-- di halaman 6 dari buku ini ditulis: "Setiap kasus perkosaan yang ada selalu dilakukan dengan
cara kekerasan dan
itu terjadi di Amerika setiap enam menit sekali. " Data ini adalah yang tejadi pada tahun 1988 , yang dimaksud dengan kekerasan di sini adalah dengan menggunakan senjata tajam.
Dalam buku yang sama juga disebutkan:
- Pada tahun 1978 di Amerika tejadi sebanyak 147,389� kasus perkosaan.
- Pada tahun 1979 di Amerika tejadi sebanyak 168,134 kasus perkosaan.
- Pada tahun 1981 di Amerika tejadi sebanyak 189.045 kasus perkosaan.
- Pada tahun 1978 di Amerika tejadi sebanyak� 211.691 kasus perkosaan.
- Pada tahun 1978 di Amerika tejadi sebanyak 211.764 kasus perkosaan.
Data statistik ini, juga data-data sejenis lainnya � yang dinukil dari sumber-sumber berita yang dapat dipertanggungjawabkan-- menunjukkan semakin melonjaknya tingkat pelecehan seksual di
negara-negara tersebut. Tidak lain, kenyataan ini merupakan penafsiran empiris (secara nyata dan dalam praktik kehidupan sehari-hari) dari firman Allah:
"Hai Nabi, katakanIah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin, 'Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka'. Yang demikian itu
supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu ....."(Al Ahzab: 59 ) Sebab turunnya ayat ini, --sebagaimana yang disebutkan oleh Imam Qurthubi dalam
tafsirnya�karena para wanita biasa melakukan buang air besar di padang terbuka sebelum dikenalnya kakus (tempat buang air khusus dan tertutup). Di antara mereka itu
dapat dibedakan antara budak dengan wanita merdeka. Perbedaan itu bisa dikenali yakni kalau wanita-wanita merdeka mereka menggunakan hijab. Dengan begitu, para pemuda enggan mengganggunya.
Sebelum turunnya ayat ini, wanita-wanita muslimah juga melakukan buang hajat di padang terbuka tersebut. Sebagian orang-orang dujana mengira kalau dia adalah budak, ketika diganggu, wanita
muslimah itu berteriak sehingga laki-laki itu pun kabur. Kemudian mereka mengadukan peristiwa tersebut kepada Nabi shallallahu 'alaihi wasallam , sehingga turunlah ayat ini.
Hal ini menegaskan, wanita yang memamerkan auratnya, mempertontonkan kecantikan dan kemolekan tubuhnya kepada setiap orang yang lain lalang, lebih berpotensi untuk diganggu. Sebab
dengan begitu, ia telah membangkitkan nafsu seksual yang terpendam. Adapun wanita yang ber-hijab maka dia senantiasa menyembunyikan kecantikan dan perhiasannya.
Tidak ada yang kelihatan daripadanya selain telapak tangan dan wajah menurut suatu pendapat. Dan pendapat lain mengatakan, tidak boleh terlihat dari diri wanita tersebut selain matanya saja.
Syahwat apa saja yang bisa dibangkitkan oleh wanita ber-hijab itu? Instink seksual apa yang bisa digerakkan oleh seorang wanita yang menutup rapat seluruh tubuhnya itu?
Allah mensyari'atkan hijab agar menjadi benteng bagi wanita dari gangguan orang lain. Sebab Allah Subhanahu Wata'ala mengetahui, pamer aurat akan mengakibatkan semakin bertambahnya kasus
pelecehan seksual, karena perbuatan tersebut membangkitkan nafsu seksual yang sebelumnya tenang. Kepada orang yang masih mempertahankan dan meyakini kebenaran syubhat tersebut, kita bisa
menelanjangi kesalahan mereka melalui empat hakikat: Pertama, berbagai data statistik telah mendustakan cara pemecahan yang mereka tawarkan.
Kedua, hasrat seksual terdapat pada masing-masing pria dan wanita. Ini merupakan rahasia Ilahi yang dititipkan Allah pada keduanya untuk hikmah yang amat banyak, diantaranya demi
kelangsungan keturunan. jika boleh berandai-andai, andaikata hasrat seksual itu tidak ada, apakah keturunan manusia masih bisa dipertahankan? Tak seorang pun memungkiri keberadaan hasrat dan
naluri ini. Tetapi, dengan tidak mempertimbangkan adanya naluri seksual tersebut tiba-tiba sebagian laki-laki diminta berlaku wajar di tengah pemandangan yang serba terbuka dan telanjang. Amat ironi memang. Ketiga, yang membangkitkan nafsu seksual laki-laki adalah tatkala ia melihat kecantikan wanita, baik wajah, atau anggota tubuh lain yang mengundang syahwat. Seseorang tidak mungkin melawan
fitrah yang diciptakan Allah (kecuali mereka yang dirahmati Allah), sehingga bisa memadamkan gejolak syahwat-nya tatkala melihat sesuatu yang membangkitkannya.
Keempat, orang yang mengaku bisa mendiagnosa nafsu seksual yang tertekan dengan mengumbar pandangan mata kepada wanita cantik dan telanjang sehingga nafsunya akan terpuaskan (dan
dengan demikian tidak menjurus pada perbuatan yang lebih jauh, misalnya pemerkosaan atau pelecehan seksual lainnya), maka yang ada hanya dua kemungkinan:
Pertama, orang itu adalah laki-laki yang tidak bisa terbangkitkan nafsu seksualnya meski oleh godaan syahwat yang bagaimana pun (bentuk dan jenisnya), ia termasuk kelompok orang yang
dikebiri kelaminnya sehingga dengan cara apa pun mereka tidak akan merasakan keberadaan nafsunya. Kedua, laki-laki yang lemah syahwat atau impoten. Aurat yang dipamerkan itu tak akan
mempengaruhi dirinya. Apakah orang-orang yang membenarkan syubhat tersebut (sehingga dijadikannya jalan pemecahan)
hendak memasukkan kaum laki-laki dari umat kita ke dalam salah satu dari dua golongan manusia lemah di atas? Na'udzubillah min dzalik
- SYUBHAT
KEDUA : BELUM MANTAP
Hal
ini lebih tepat digolongkan kepada syahwat dan menuruti hawa
nafsu daripada disebut syubhat. Jika salah seorang ukhti
yang belum mentaati perintah berhijab ditanya, mengapa ia
tidak mengenakan hijab? Di antaranya ada yang menjawab:
"Demi Allah, saya belum mantap dengan berhijab. Jika
saya telah merasa mantap dengannya saya akan berhijab, insya
Allah."
Ukhti yang berdalih dengan syubhat ini hendaknya bisa
membedakan antara dua hal. Yakni antara perintah Tuhan
dengan perintah manusia. Jika perintah itu datangnya dari
manusia maka manusia bisa salah dan bisa benar. Imam Malik
berkata: "Dan setiap orang bisa diterima ucapannnya dan
juga bisa ditolak, kecuali (perkataan) orang yang ada di
dalam kuburan ini." Yang dimaksudkan adalah Rasulullah
Shallallahu 'Alnihi Wasallam.
Selagi masih dalam bingkai perkataan manusia, maka seseorang
tidak bisa dipaksa untuk menerima. Karenanya, dalam hal ini,
setiap orang bisa berucap "belum mantap", dan ia
tidak bisa dihukum karenanya.
Adapun jika perintah itu salah satu dari perintah-perintah
Allah, dengan kata lain Allah yang memerintahkan di dalam
kitabNya, atau memerintahkan hal tersebut melalui NabiNya
agar disampaikan kepada umatnya, maka tidak ada alasan bagi
manusia untuk mengatakan "saya belum mantap".
Bila ia masih mengatakan hal itu dengan penuh keyakinan,
padahal ia mengetahui perintah tersebut ada di dalam kitab
Allah Tn 'aln, maka hal tersebut bisa menyeretnya pada
bahaya yang sangat besar, yakni keluar dari agama Allah,
sementara dia tidak menyadarinya. Sebab dengan begitu
berarti ia tidak percaya dan meragukan kebenaran perintah
tersebut. Karena itu, ia adalah ungkapan yang sangat
berbahaya.
Seandainya ia berkata: "Aku wanita
kotor","aku tak kuat melawan nafsuku", "jiwaku
rapuh" atau "hasratku untuk itu sangat lemah"
tentu ungkapan-ungkapan ini dan yang sejenisnya tidak bisa
disejajarkan dengan ucapan:
"Aku belum mantap." Sebab ungkapan-ungkapan
tersebut pengakuan atas kelemahan, kesalahan dan kemaksiatan
dirinya. Ia tidak menghukumi dengan salah atau benar
terhadap perintah-perintah Allah secara semaunya. Juga tidak
termasuk yang mengambil sebagian perintah Allah dan
mencampakkan yang lain.
Allah berfirman.Artinya:
"Dan ridaklah patut bagi laki-laki mukmin dan tidak (pula)
bagi perempuan mukminah, apabila Allah dan RasulNya telah
menerapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka piIihan
(yang lain) tentang trrusan mereka. Dan barangsiapa
mendurhakai AIlah dan RasulNya maka sungguhlah dia telah
sesat, sesat yang nyata. " (Al-Ahzab: 36)
- Sikap Yang
Dituntut
Ketika
seorang hamba mengaku beriman kepada Allah, percaya bahwa
Allah lebih bijaksana dan lebih mengetahui dalam penetapan
hukum daripada dirinya -sementara dia sangat miskin dan
sangat lemah-- maka jika telah datang perintah dari Allah,
tidak ada pilihan lain baginya kecuali mentaati perintah
tersebut. Ketika mendengar perintah Allah, sebagai seorang
mukmin atau mukminah, mereka wajib mengatakan sebagaimana
yang dikatakan orang-orang beriman:
Artinya:
"... Kami dengar dan kami taat". (Mereka
berdo'a), 'Ampunilah kami ya Tuhan kami dan kepada
Engkaulah tempat kembali.' (Al Baqarah: 285)
Ketika Allah memerintahkan kita dengan suatu perintah, Dia
Maha Mengetahui bahwa perintah itu untuk kebaikan kita,
dan salah satu sebah bagi tercapainya kebahagiaan kita.
Demikian pula ha!nya dengan ketika memerintah wanita
ber-hijab, Dia Maha Mengetahui bahwa ia adalah salah satu
sebab tercapainya kebahagiaan, kemuliaan dan keagungan
wanita.
Allah Subhanahu Wata 'ala Maha Mengetahui, ilmuNya
meliputi segala sesuatu, mengetahui sejak sebelum manusia
diciptakan, juga mengetahui apa yang akan tejadi di masa
mendatang dengan tanpa batas, mengetahui apa yang tidak
akan tejadi dari berbagai peristiwa, juga Dia mengetahui
andaikata peristiwa tersebut tejadi, apa yang bakal
terjadi selanjutnya.
Dengan kepercayaan seperti ini, yang merupakan keyakinan
umat Islam, apakah patut dan masuk akal kita menolak
perintah Allah Yang Maha Luas ilmuNya, selanjutnya kita
menerima perkataan manusia yang memiliki banyak kekurangan,
dan ilmunya sangat terbatas?
- Contoh dari
Kenyataan Sehari-hari
Sebagai
contoh, dapat kita kemukakan dari kenyataan hidup
sehari-hari. Bila kita membeli satu unit komputer
sementara orang yang merakitnya ada di dekat kita, dia
mengerti betul bagaimana cara mengoperasikannya, memahami
dari A hingga Z seluk beluk alat canggih tersebut, maka
logiskah jika kita memanggil tukang cuci mobil untuk
mengajari kita cara pengoperasian komputer?
Tentu sangat tidak logis. Akal kita akan mengatakan, kita
mesti memanggil ahli komputer untuk mengajari bagaimana
cara penggunaan alat tersebut, berikut cara memperbaikinya
jika tejadi kerusakan. Kita meyakini, yang menciptakan
manusia dan membentuknya adalah Tuhan manusia, yaitu
Allah. Karena itu, sangat wajar jika Allah yang lebih
mengetahui tentang apa yang membahayakan dan memberi
manfaat manusia.
Dan jelaslah, bertahkim, patuh dan menyerah kepada selain
Allah adalah cermin ketidak warasan, kebodohan dan
kedunguan. Kedunguan itu disebabkan karena kita patuh
kepada seseorang yang tidak mengetahui. Barangsiapa yang
mengambil nasihat orang bodoh berarti dia menggelincirkan
dirinya pada kebinasaan.
Ironinya, inilah yang tejadi pada kita kaum muslimin,
betapa banyak kaum muslimin yang menuntut jawaban dari
orang yang tidak mengetahuinya. Sebagaimana betapa banyak
dari kalangan kita yang tidak memahami bahwa yang dimaksud
kata "Islam" adalah menyerah, patuh dan tunduk
secara total kepada perintah-perintah Allah dan
larangan-laranganNya.
- Ukhti, Jangan
Terjerumus Pada Pertentangan.
Tatkala
engkau menasehati sebagian ukhti yang belum berhijab,
sebagian mereka ada yang menjawab: "Saya juga seorang
muslimah, selalu menjaga shalat lima waktu dan sebagian
shalat sunat, saya puasa Ramadhan dan telah melakukan haji,
berkali-kali pula saya umrah, aktif sebagai donatur pada
beberapa yayasan sosial, tetapi saya belum' mantap dengan
ber-hijab".
- Pertanyaan Buat
Ukhti
"Kalau
memang anda sudah dan selalu melakukan amalan-amalan
terpuji, yang berpangkal dari iman, kepatuhan pada
perintah Allah serta takut siksaNya jika meninggalkan
kewajiban-kewajiban itu, mengapa anda beriman kepada
sebagian dan tidak beriman kepada sebagian yang lain,
padahal sumber perintah-perintah itu adalah satu?
Sebagaimana shalat yang selalu anda jaga adalah suatu
kewajiban, demikian pula halnya dengan hijab. Hijab itu
wajib, dan kewajiban itu tidak diragukan adanya dalam
A1Qur'an dan As Sunnah. Atau, apakah anda tidak pernah
mendengar cercaan Allah terhadap Bani Israil, karena
mereka melakukan sebagian perintah dan meninggalkan
sebagian yang lain?
Secara tegas, dalam hal ini Allah berfirman:
Artinya:
...Apakah kamu beriman kepada sebahagian AI-Kitab (Taurat)
dan ingkar terhadap sebahagian yang lain? Tidaklah balasan
bagi orang-orang yang berbuat demikian daripadamu,
melainkan kenistaan dalam kehidupan dunia, dan pada hari
Kiamat mereka dikembalikan kepada siksa yang sangat berat,
Allah tidak lengah dari apa yang kamu perbuat". (Al-Baqarah:
85)
Selanjutnya renungkanlah hadits shahih berikut ini:
"Sesungguhnya penghuni Neraka yang paling ringan
adzabnya pada Ilari Kiamat ialah orang yang diletakkan di
tengah kedua telapak kakinya dua bara api, dari dua bara
api ini otaknya mendidih, sebagaimana periuk yang mendidih
dalam bejana besar yang dipanggang dalam kobaran api
".
Diriwayatkan oleh Al-Bukhari, Kitabur Riqaaq, 11/376.
Jika seperti ini adzab yang paling ringan pada hari Kiamat,
lalu bagaimana adzab bagi orang yang diancam Allah dengan
adzab yang amat pedih, sebagaimana disebutkan dalam ayat
ini. Yakni bagi orang yang beriman kepada sebagian ayat
dan meninggalkan sebagian yang lain?
- Wahai
Ukhti...
Apakah
hanya demi penampilan, kebanggaan dan saling
unggul-mengungguli di dunia, lain anda rela menjual
akhirat dan slap menerima adzab yang pedih?
Sungguh,
kami tidak berharap untuk ukhti, melainkan kebaikan di dunia dan
di akhirat. Kami meminta agar ukhti mau menggunakan akal sehat
dalam menentukan pilihan ini.
- SYUBHAT
KETIGA: IMAN ITU LETAKNYA DI HATI
Jika
salah seorang di antara mereka ditanya, mengapa dia tidak
berhijab? Maka ukhti yang terhormat ini akan menjawab:
"Ah, iman itu letaknya di hati".
Ini adalahjawaban yang paling sering dilontarkan para wanita
muslimah yang belum berhijab. Karena itu, di bawah ini akan
kita bahas syubhat tersebut.
- Sumber Syubhat:
Mereka
berusaha menafsirkan sebagian hadits, tetapi tidak sesuai
dengan yang dimaksudkan. Seperti dalam sabda Nabi
Shallallahu 'Alnihi Wnsallam:
"Sesungguhnya Allah tidak melihat pada bentuk-bentuk
(lahiriah) dan harta kekayaanmu, tetapi Dia melihat pada
hati dan amalmu sekalian ".
Tampaklah, bahwa mereka menggugurkan makna yang semestinya,
yaitu kebenaran yang dibelokkan kepada kebatilan. Memang
benar, iman letaknya dalam hati, tetapi iman itu tidak
sempurna bila dalam hati saja.
Dengan hadits ini Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam
hendak menjelaskan makna keikhlasan bagi diterimanya suatu
amal perbuatan. Allah tidak melihat bentuk-bentuk lahiriah,
seperti pura-pura khusyu' dalam shalat dan sebagainya,
tetapi Allah melihat hati dan keikhlasan niat dari segala
yang selain Allah. Dia tidak menerima suatu amal perbuatan
kecuali yang ikhlas untuknya semata.
Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda:
"Taqwa itu ada di sini", seraya menunjuk ke arah
dadanya ".
Pengarang kitab Nuzhatul Mutraqin berkata: "Hadits
ini menunjukkan, pahala amal tergantung keikhlasan hati,
kelurusan niat, perhatian terhadap situasi hati,
pelempangan tujuan dan kebersihan hati dari segala sifat
tercela yang dimurkai Allah"
- Definisi Iman
Iman
tidak cukup hanya dalam hati. Iman dalam hati semata tidak
cukup menyelamatkan diri dari Neraka dan mendapatkan Surga.
Definisi iman menurut jumhur ulama Ahlus Sunnah wal
Jama'ah adalah : "Keyakinan dalam hati, pengucapan
dengan lisan dan pelaksanaan dengan anggota badan".
Definisi ini terdapat dalam setiap buku akidah (tauhid),
kecuali buku-buku yang menyimpang dan tidak berdasarkan
manhaj (methode) Ahlus Sunnnh wal Jama 'ah.
- Kesempurnaan
Iman
Dalam
tashawwur (gambaran) kita, orang yang mengatakan iman
dengan lidahnya, tetapi tidak disertai keyakinan hatinya,
itu adalah keadaan orang-orang munafik. Demikian pula
orang yang beramal hanya sebatas aktifitas anggota tubuh,
tetapi tidak disertai keyakinan hati, itu merupakan
keadaan orang-orang munafik.
Pada masa Nabi Shallallahu alaihi wasalam , mereka
senantiasa shalat bersama beliau, berperang, mengeluarkan
nafkah, pulang pergi bersama kaum muslimin, tetapi hati
mereka tidak pemah beriman kepada agama Allah. Kepada
mereka, Allah menghukumi sebagai orang-orang munafik, dan
balasan untuk mereka adalah berada di kerak atau dasar
Neraka.
Demikian pula orang yang beriman hanya dengan hatinya tapi
tidak disertai dengan amalan anggota badan.
Ini adalah keadaan iblis. Dia percaya pada kekuasaan
Allah, Dzat yang menghidupkan dan mematikan. Dia meminta
penangguhan kematiannya, dia juga percaya terhadap adanya
hari Kiamat, tetapi dia tidak beramal dengan anggota
tubuhnya. Allah berfirman:
Artinya: "la (iblis) enggan dan takabur dan dia
temzasuk golongan orang-orang kafir". (Al Baqarah:34)
Dalam Al Qur'an setiap kali disebutkan kata iman, selalu
disertai dengan amal, seperti: "Orang yang beriman
dan beramal shaIih ...........
Amal selalu beriringan dan merupakan konsekuensi iman,
keduanya tidak dapat dipisah-pisahkan.
Kepada ukhti yang belum berhijab dengan alasan "iman
itu letaknya di hati", kami hendak bertanya,
andaikata seorang kepala sekolah memintanya membuat
laporan, atau mengawasi murid-murid, atau memberi
pelajaran ekstra kurikuler, atau menjadi petugas piket
untuk menggantikan guru yang berhalangan hadir atau
pekerjaan lain, logiskah jika dia menjawab: "Dalam
hati, saya percaya dan sudah mantap terhadap apa yang
diminta oieh direktur kepadaku, tetapi aku tidak mau
melaksanakan apa yang dikehendakinya dariku". Apakah
jawaban ini bisa diterima? Lalu apa akibat yang bakal
menimpanya?
Ini sekedar contoh dalam kehidupan manusia. Lalu bagaimana
jika urusan ini berhubungan dengan Allah, Tuhan manusia
yang memiliki sifat Yang Maha Tinggi?
D.
SYUBHAT KEEMPAT: ALLAH BELUM MEMBERIKU HIDAYAH
Para akhawat
yang tidak berhijab banyak yang berdalih: "Allah belum
memberiku hidayah. Sebenamya�aku juga ingin berhijab, tetapi
hendak bagaimana jika hingga saat ini Allah belum memberiku
hidayah?, do'akanlah aku agar segera mendapat hidayah!"
Ukhti yang
berdalih seperti ini telah terperosok dalam kekeliruan yang
nyata. Kami ingin bertanya: "Bagaimana engkau mengetahui
bahwa Allah belum memberimu hidayah?"
Jika jawabannya, "Aku tahu", maka ada satu dari dua
kemungkinan:
Pertama, dia
mengetahui ilmu ghaib yang ada di dalam kitab yang tersembunyi (Lauhul
Mahfuzh). Dia pasti mengetahui pula bahwa dirinya termasuk
orang-orang yang celaka dan bakal masuk Neraka.
Kedua, ada
makhluk lain yang mengabarkan padanya tentang nasib dirinya,
bahwa dia tidak termasuk wanita yang mendapatkan hidayah. Bisa
jadi yang memberitahu itu malaikat atau pun manusia.
Tika kedua
jawaban itu tidak mungkin adanya, bagaimana engkau mengetahui
Allah belum memberimu hidayah? Ini salah satu masalah.
Masalah lain
adalah, AUah telah menerangkan dalam kitabNya, bahwa hidayah itu
ada dua macam.Masing-masing adalah hidayah dilaIah dan hidayah
taufiq.
- Hidayah Dilalah
Ini
adalah bimbingan atau petunjuk pada kebenaran. Dalam
hidayah'ini, terdapat campur tangan dan usaha manusia, di
samping hidayah Allah dan bimbingan RasulNya. Allah telah
menunjukkan jalan kebenaran pada manusia yang mukallnf, juga
Dia telah menunjukkan jalan kebatilan yang menyimpang dari
petunjuk para Rasul dan KitabNya. Para rasul pun telah
menerangkan jalan ini kepada kaumnya. Begitu pula para da'i.
Mereka semua menerangkan jalan ini kepada manusia. Jadi
semua ikut ambil bagian dalam hidayah ini.
- Hidayah Taufiq
Hidayah
ini hanya milik Allah semata, tidak ada sekutu bagiNya (dalam
pemberian hidayah taufiq ini). Ia berupa peneguhan kebenaran
dalam hati, penjagaan dari penyimpangan, pertolongan agar
tetap meniti dan teguh di jalan kebenaran, pendorong pada
kecintaan iman. Pendorong pada kebencian terhadap kekufuran,
kefasikan dan kemaksiatan.
Hidayah raufiq diberikan kepada orang yang memenuhi
panggi!an Allah dan mengikuti petunjukl\lya.
Jenis hidayah ini datang sesudah hidayah dilalah. Sejak awal,
dengan tidak pilih kasih, Allah memperlihatkan kebenaran
kepada semua manusia. Allah berfirman:Artinya:
"Dan adapun kaum Tsamua maka mereka telah kami beri
petunjuk tetapi mereka lebih menyukai buta (kesesatan)
daripada petunjuk itu .... " (Fushshilat: 17 )
Dan untuk itu, Allah menciptakan potensi dalam diri setiap
orang mukaIlaf untuk memilih antara jalan kebenaran atau
jalan kebatilan. Jika dia memilih jalan kebenaran menurut
kemauannya sendiri maka hidayah taufiq akan datang kepadanya.
Allah berfirman:
Artinya: ''Dan orang-orang yang meminta petunjuk, Allah (akan)
menambah petunjuk pada mereka dan memberikan kepada
mereka (balasan) ketakwaannya " . (Muhammad: 17)
Jika dia memilih kebatilan menurut kemauannya sendiri, maka
Allah akan menambahkan kesesatan padanya dan Dia
mengharamkannya mendapat hidayah taufiq.Allah
berfirman :
Artinya:"Katakanlah: 'Barangsiapa yang berada dalam
kesesatan, maka biarlah Tuhan Yang Maha Pemurah
memperpanjang tempo baginya .... "(Maryam: 75)
Artinya: ...Maka tatkala mereka berpaling (dari kebenaran),
Allah memalingkan hati mereka ". (Ash Shaf: 5)
- Penumpamaan
Hidayah Taufiq
Syaikh
Asy Sya'rawi memberikan perumpamaan yang amat mengena
tentang hidayah taufiq ini, dan itu menupakan sunnatullah.
Beliau mengumpamakan dengan seseorang yang menanyakan suatu
alamat. Orang itu pergi ke polisi lain lintas untuk
menanyakan alamat tersebut. Lain polisi menyarankan: "Anda
bisa bejalan lurus sepanjang jalan ini, sampai di perempatan
anda belok ke kanan, selanjutnya ada gang, anda belok ke
kiri, di situ anda mendapatkan jalan raya, di seberang jalan
raya tersebut akan terlihat gedung dengan pamplet besar,
itulah alamat yang anda cari".
Orang tersebut dihadapkan pada dua pilihan, percaya kepada
petunjuk polisi atau mendustakannya. Jika percaya kepada
polisi, ia akan segera beranjak mengikuti petunjuk yang
diterimanya. Jika berjalan terus sesuai dengan petunjuk
polisi, ia akan semakin dekat dengan tempat dan alamat yang
ia inginkan.
Jika ia tidak mempercayai saran polisi itu bahkan malah
mengumpatnya sebagai pendusta, sehingga ia bejalan menuju
arah yang berlawanan, rnaka semakin jauh dia berjalan,
semakin jauh pula kesesatannya. Itulah perumpamaan petunjuk
dan kesesatan.
Ini merupakan perumpamaan yang tepat untuk mendekatkan
pengertian sunnatullah ini. Siapa yang memilih kebenaran,
Allah akan menolong dan meneguhkannya. Dan siapa yang
memilih kebatilan, Allah akan menyesatkannya dan
membiarkannya bersama setan yang menyertainya.
- Carilah
Sebab-sebab Hidayah, Niscaya Anda Mendapatkannya
Itulah
sunnatullnh yang berlaku pada semua makhluknya. Allah
berfirman:
...Maka sekali-kali kamu tidak akan mendapat penggantian
bagi sunnah Allah, dan sekali-kaIi tidak (pula) akan menemui
penyimpangan bagi sunnah Allah itu". (Faathir: 43)
Adapun sunnatullah dalam perubahan nasib, hanya akan terjadi
jika manusia memulai dengan mengubah terlebih dahulu dirinya
sendiri, lain mengupayakan sebab-sebab perubahan yang
dimaksudnya. Allah berfirman:
Artinya:"Sesungguhnya AIlah tidak mengubah keadaan
suatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada
diri mereka sendiri. " (Ar Ra'd: 11)
Maka orang yang menginginkan hidayah, serta menghendaki agar
orang lain mendo'akan dirinya agar mendapatkannya, ia harus
berusaha keras dengan seba-sebab yang bisa mengantarkannya
mendapat hidayah tersebut.
Dalam hal ini, terdapat teladan yang baik pada diri Maryam.
Suatu hari, dia amat membutuhkan makanan, Padahal ketika
itu, ia dalam kondisi sangat lemah, seperti yang biasa
tejadi pada wanita yang hendak melahirkan.Lalu Allah
memerintahkannya melakukan suatu usaha yang orang laki-laki
paling kuat sekali pun tidak akan mampu melakukannya. Maryam
diminta menggoyang-goyangkan pangkal pohon korma, meskipun
pangkal pohon korma itu sangat kokoh dan sulit
digoyang-goyangkan. Allah berfirman:
Artinya: "Dan goyanglah pangkal pohon komra itu ke
arahmu .... (Maryam: 25)
Maryam tidak mungkin mampu menggoyang pangkal pohon korma,
sementara dia dalam kondisi yang amat lemah. Itu hanya
dimaksudkan sebagai usaha mencari sebab dengan cara
meletakkan tangannya di pohon korma.
Dengan demikian terpenuhilah hukum kausalitas dan
sunnatullah dalam hal perubahan. Maka hasilnya adalah:
Artinya: "Pohon itu akan menggugurkan buah korma yang
masak kepadamu ". (Maryam: 25)
Inilah sunnatullah dalam perubahan. Tidak mungkin orang
mukmin terus-menerus berada di masjid, bahkan meskipun di
Masjidil Haram dengan hanya duduk dan beribadah kepada
Allah, Seraya mengharap rizki dari Allah.
Tentu Allah tidak akan mengabulkannya tanpa dia sendiri
mencari sebab-sebab rizki tersebut. Langit tak mungkin
sekonyong-konyong menurunkan hujan emas dan perak.
Karena itu, wahai ukhti, berusahalah mendapatkan sebab-sebab
hidayah, niscaya anda mendapatkan hidayah tersebut dengan
izin Allah. Di antara usaha itu ialah berdo'a agar mendapat
hidayah, memilih teman yang shalihah, selalu membaca,
mempelajari dan merenungkan Kitab Allah, mengikuti
majelis-majelis dzikir dan ceramah agama, mendengarkan kaset
pengajian agama, membaca buku-buku tentang keimanan dan
sebagainya.
Tetapi, sebelum melakukan semua itu hendaknya engkau
terlebih dahulu meninggallkan hal-hal yang bisa menjauhkanmu
dari jalan hidayah. Seperti teman yang tidak baik, membaca
majalah-majalah yang tidak mendidik, menyaksikan
tayangan-tayangan televisi yang membangkitkan
perbuatan haram, bepergian tanpa disertai mahram, menjalin
hubungan dengan para pemuda (pacaran), dan hal-hal lain yang
bertentangan dengan jalan hidayah.
E.
SYUBHAT KELIMA: TAKUT TIDAK LAKU NIKAH
Sebagian
akhawat yang tidak ber-hijab berdalih dengan takut tidak laku
nikah Syubhat yang dibisikkan setan dalam jiwa sebagian akhawat
yang tidak berhijab ini, pangkalnya adalah perasaan bahwa para
pemuda tidak akan mau memutuskan menikah kecuali jika dia telah
melihat badan, rambut, kulit, kecantikan dan perhiasan sang
gadis. Jika ia berhijab atau memakai cadar, tentu tak ada yang
bisa dilihat dari padanya, sehingga sang pemuda enggan mengambil
keputusan untuk menikahinya.
Ironinya,
kepercayaan seperti ini, tidak hanya monopoli para akhawat,
tetapi juga merupakan kepercayaan para orang tua, pada akhimya
mereka melarang anak-anak puterinya memakai hijab. Syubhat ini
tidak bisa diterima lewat dua alasan mendasar.
- Penilaian dari
Sisi Teori Dasar
Meskipun
kecantikan merupakan salah satu sebab paling pokok dalam
pernikahan, tetapi ia bukan satu-satunya sebab dinikahinya
wanita.Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda:
"Wanita itu dinikahi karena empat hal. Yaitu karena
harta, keturunan, kecantikan dan agamanya. Dapatkanlah
wanita yang berpegang teguh dengan agama, (jika tidak)
niscaya kedua tanganmu berlumur debu.
Memang demikian yang terjadi. Kaum laki-laki tidak hanya
melihat unsur kecantikan semata, tetapi ada hal-hal lain
yang menyatu dengan kecantikan itu atau terlepas darinya,
yang dijadikan pertimbangan dalam memilih isteri. Namun para
gadis dan orangtua banyak yang menganggap kecantikan adalah
segala-galanya. Atau setidak-tidaknya menjadikan kecantikan
sebagai unsur terpenting, sedangkan hal lainnya bisa
dikesampingkan. Jelas, jalan pikiran seperti ini
bertentangan dengan naluri manusia.
- Penilaian
dari Sisi Empiris
Bisa
jadi sikap gadis-gadis yang biasa memperlihatkan aurat
--yang dimaksudkan untuk menawan hati pria-- menjadi
bumerang bagi dirinya. Betapa banyak tindakan itu malah
membuat para pemuda enggan menikahinya. Sebab bisa saja para
pemuda itu beranggapan, jika wanita tersebut berani
melanggar salah satu perintah Allah, yaitu hijab, tidak
menutup kemungkinan dia akan berani melanggar
perintah-perintah yang lain. Karena setan memiliki banyak
kiat.
Meskipun terkadang kenyataan yang ada tidak selalu sesuai
dengan pendapat ini, tetapi memang begitulah keadaan
mayoritas pemuda kita di zaman sekarang.Pemuda yang
menyunting gadis ber-hijab, namanya akan menjadi harum,
meskipun ia sendiri tidak termasuk orang-orang yang dinilai
ta'at menjalankan perintah agama.
F.
SYUBHAT KEENAM: IA MASIH BELUM DEWASA
Syubhat ini
banyak beredar di kalangan orangtua serta sebagian akhawat yang
tidak ber-hijab. Sebenamya anak-anak tersebut sudah memiliki
niat memakai hijab, tetapi kemudian ditunda karena syubhat ini.
Karena itu dalih ini lebih pantas disebut hawa nafsu daripada
syubhat.
Kebanyakan
mereka berkata: "Jangan sampai melarangnya menikmati
kehidupan. Dia toh masih belum dewasa. Dia masih senang dengan
pakaian yang indah, bersolek dengan berbagai macam make up serta
masih suka menampakkan kecantikannya. Semua ini membuatnya lebih
berbahagia dan menikmati hidup".
Kenapa kita
melarang dan menghalangi kebahagiaan justru pada saat umur
mereka masih relatif sangat muda?
Kalau kita terlanjur ketinggalan kereta, mengapa kita membuatnya
pula ketinggalan kereta dengan begitu tergesa-gesa?
Menurut
pendapat mereka, masa belum dewasa berlangsung hingga anak
berumur dua puluh tahun. Karenanya, meskipun ada gadis yang
sudah datang bulan pada umur 13 tahun, dia masih dianggap
anak-anak.
- Nasihat untuk
Para Wali
Sesungguhnya
para wali, baik bapak atau ibu yang mencegah anak-anak
puterinya ber-hijab, dengan dalih karena masih belum dewasa,
mereka memiliki tanggung jawab yang besar di hadapan Allah
pada hari Kiamat.
Ketika seorang gadis mendapatkan haidh, seketika itu pula ia
wajib ber-hijab, menurut syari'at. Jika wali gadis itu
melarangnya ber-hijab, maka dia mendapat dosa besar, dan
Allah akan, menanyakan hal itu pada hari Kiamat. Allah
berfirman:
Artinya:"Dan tahanlah mereka (di tempat perhentian)
karena sesungguhnya mereka akan ditanya ".
(Ash-Shaaffaat: 24)
Maksudnya jika ia menyuruh anak puterinya memakai hijab
sejak dini.
Nabi ShalIallahu 'Alaihi Wasallam bersabda:
"Masing-masing kamu adalah pemimpin dan masing-masing
kamu akan ditanya tentang yang dipimpinnya.... "'"
Seorang ayah adalah pemimpin pertama dalam rumah tangga.
Fada hari Kiamat dia akan ditanya tentang masing-masing
orang yang ada di bawah kepemimpinannya.
Setiap ayah hendaknya bertanya kepada dirinya sendiri:
"Berapa banyak para pemuda yang tergoda oleh anak
puterinya? Seberapa jauh puterinya menyebabkan penyimpangan
para pemuda?"
- Ungkapan
Cinta untuk Anak-anak Puteri
Allah
sebagai saksi, betapa kami amat mengkhawatirkan dirimu akan
mendapat siksa Allah. Kami begitu ingin menyelamatkanmu dari
segala bahaya yang akan menimpamu, baik di dunia maupun di
akhirat. Ini adalah kewajiban seorang muslim kepada
saudaranya muslim yang lain.
Di antara bahaya yang bakal menimpa ukhti yang tidak
ber-hijab, baik di dunia maupun di akhirat, adalah seperti
disebutkan Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam dalam sabdanya:
"Akan ada di akhir umatku kaum lelaki yang menunggang
pelana seperti layaknya kaum lelaki, mereka turun di depan
pintu-pintu masjid, wanita-wanita merekn berpakaian (tetapi)
telanjang, di atas kepala mereka (terdapat sesuatu) seperti
punuk onta yang lemah gemulai. Laknatlah mereka!,
sesungguhnya mereka adalah wanita-wanita terlaknat.
Wahai ukhti yang tak ber-hijab! Tahukah engkau makna laknat?
Laknat artinya dijauhkan dari rahmat Allah Ta'ala.
Dalam hadits tadi, Rasulullah Shallallahu alaihi wasalam
memerintahkan setiap muslim, agar melaknat tipe wanita
seperti yang telah disebutkan. Yaitu mereka yang
mengenakan pakaian di tubuh mereka, tapi tidak sampai
menutup auratnya, sehingga seakan-akan mereka telanjang.
Dalam hadits lain Nabi shallallahu alaihi wasalam bersabda:
"Dua kelompok termasuk penghuni Neraka, aku (sendiri)
belum pernah melihat mereka, yaitu orang-orang yang membawa
cemeti seperti ekor sapi, dengannya mereka mencambuki
manusia ,~dan para wanita yang berpakaian (tetapi)
teIanjang, bergoyang-goyang dan berlenggak-lenggok, kepala
mereka (ada sesuatu) seperti punuk unta yang
bergoyang-goyang. Mereka tentu tidak akan masuk Surga,
bahkan tidak mendapatkan baunya. Dan sesungguhnya bau Surga
itu tercium dari jarak perjalanan sekian dan sekian
".(HR.Muslim)
Dalam hadits tersebut terdapat sifat-sifat secara rinci
tentang golongan wanita ini, yaitu:
- Mengenakan
sebagian pakaian, tetapi dia menyerupai orang telanjang,
karena sebagian besar tubuhnya terbuka dan itu mudah
membangkitkan birahi laki- laki, seperti paha, lengan,
rambut, dada dan lain-lainnya. Juga pakaian yang tembus
pandang atau yang amat ketat, sehingga membentuk
lekuk-lekuk tubuhnya, maka ia seperti telanjang, meski
berpakaian.
- Jalannya
lenggak-lenggok dan bergoyang, sehingga membangkitkan
nafsu birahi.
- Kepalanya
tampak lebih tinggi, sebab ia membuat seni hiasan dari
bulu atau rambut sintetis, karena tingginya, ia seperti
punuk onta.
Hadits tersebut juga menjelaskan hakikat golongan wanita
yang tidak masuk surga, bahkan sekedar mencium bau
wanginya pun tidak, padahal rahmat Allah meliputi segenap
langit dan bumi. Belum lagi Rasulullah Shallallalhu
'Alaihi Wasallam yang menyuruh kaum muslimin agar melaknat
mereka. "Laknatlah mereka, sesungguhnya mereka adalah
wanita terlaknat".
Kami tidak menginginkan,selain kebaikan bagi anda
Kekhawatiran kami kepada diri anda, mendorong kami
berharap dari lubuk hati kami yang terdalam, untuk
menjauhkan anda dari segala yang tidak disenangi. Semoga
Allah mengisi hati anda dengan cahayaNya yang tidak pernah
padam, lalu anda menang dalam pertarungan melawan setan,
jin dan manusia. Selanjutnya anda berketetapan melepaskan
jeratan dan memerdekakan diri dari tawanan hawa nafsu,
menuju alam kebebasan, kemuliaan, kehormatan, ketenangan
dan alam kesucian.
- Apakah
Engkau Menjamin Umurmu Masih Panjang?
Wahai
ukhti yang tidak ber-hijab! Engkau tidak mau berhijab dengan
dalih masih belum dewasa, apakah engkau dapat menjamin
umurmu panjang beberapa saat lagi? Apakah engkau tahu, atau
seseorang mengabarkan padamu tentang kapan engkau bakal
mati?
Jika tidak, maka boleh jadi kematian akan menjemputmu
setelah setahun, sebulan, seminggu, sehari, sejam atau
sedetik kemudian. Semua itu serba mungkin, selama kita tidak
tahu kapan ajal kita akan datang.
Wahai ukhti, kematian tidak hanya mengetuk pintu orang yang
sakit, tidak pula orang yang lanjut usia saja, tetapi juga
orang-orang yang sehat walafiat, orang dewasa, pemuda bahkan
sampai bayi yang masih menetek di pangkuan ibunya. Banyak
contoh yang bisa dipaparkan
G.
KISAH-KISAH NYATA
- Kematian Yang
Tiba-tiba
Seorang
anggota parlemen dalam kondisi kesehatan yang prima, penuh
energi dan memiliki etos kerja sangat tinggi, orangnya masih
muda. Namun, tiba-tiba virus ganas menyerang otaknya. Tak
berlangsung lama, virus itu berubah menjadi segumpal daging.
Anggota parlemen itu akhimya tak berdaya dan meningal dengan
cara yang amat mengenaskan.
- Kematian Tak
Kenal Orang Sehat atau Sakit
Seorang
komandan tinggi di jajaran Angkatan Bersenjata, ia tak
pernah mengeluhkan suatu penyakit apapun, tubuhnya padat
berisi, otot-ototnya kekar, lincah dan gesit dalam melakukan
tugas di teritorialnya.
Seperti biasa, pada suatu malam, ia pergi tidur. Di pagi
hari, sang ibu membangunkannya. Tak ada jawaban. Apa yang
tejadi? Ternyata tubuhnya sudah dingin dan terbujur kaku.
Tidur itu menghantarnya pada kematian dan tak pemah kembali
lagi.
- Temanku Mati
Terbakar
Abu
Abdillah berkata: "Aku tak tahu, bagaimana harus
menuturkan kisah ini padamu. Kisah yang pemah kualami
sendiri beberapa tahun lain, sehingga mengubah total
perjalanan hidupku. Sebenarnya aku tak ingin
menceritakannya, tapi demi tanggung jawab di hadapan Allah,
demi peringatan bagi para pemuda yang mendurhakai Allah dan
demi pelajaran bagi para gadis yang mengejar bayangan semu,
yang disebut cinta, maka kuungkapkan kisah ini.
Ketika itu kami tiga sekawan. Yang mengumpulkan kami adalah
kesamaan nafsu dan kesia-siaan. Oh tidak, kami berempat.
Satunya lagi adalah setan.
Kami pergi berburu gadis-gadis. Mereka kami rayu dengan
kata-kata manis, hingga mereka takluk, lain kami bawa ke
sebuah taman yang jauh terpencil. Di sana, kami berubah
menjadi serigala-serigala yang tak menaruh belas kasihan
mendengar rintihan permohonan mereka, hati dan perasaan kami
sudah mati.
Begitulah hari-hari kami di taman, di tenda, atau dalam
mobil yang di parkir di pinggir pantai. Sampai suatu hari,
yang tak mungkin pernah saya bisa melupakannya, seperti
biasa kami pergi ke taman. Seperti biqsa pula, masing-masing
kami menyantap satu mangsa gadis, ditemani minuman laknat.
Satu hal kami lupa.saat itu, makanan.
Segera salah Seorang di antara kami bergegas membeli makanan
dengan mengendarai mobilnya. Saat ia berangkat, jam
menunjukkan pukul enam sore. Beberapa jam berlalu, tapi
teman kami itu belum kembali. Pukul sepuluh malam, hatiku
mulai tidak enak dan gusar. Maka aku segera membawa mobil
untuk mencarinya. Di tengah perjalanan, di kejauhariaku
melihat jilatan api. Aku mencoba mendekat. Astaghfirullah,
aku hampir tak percaya dengan yang kulihat.Ternyata api itu
bersumber dari mobil temanku yang terbalik dan terbakar. Aku
panik seperti orang gila.Aku segera mengeluarkan tubuh
temanku dari mobilnya yang masih menyala. Aku ngeri tatkala
melihat separuh tubuhnya masak terpanggang api. Kubopong
tubuhnya lalu kuletakkan di tanah.
Sejenak kemudian, dia berusaha membuka kedua belah matanya,
ia berbisik lirih: "Api..., api...!"
Aku memutuskan untuk segera membawa ke rumah sakit dengan
mobilku. Tetapi dengan suara campur tangis, ia mencegah:
";Tak ada gunanya.. aku tak akan sampai...!l
Air mataku tumpah, aku harus menyaksikan temanku meninggal
dihadapanku. Di tengah kepanikanku, tiba-tiba ia berteriak
lemah: "Apa yang mesti kukatakan padarnya?
Apa yang mesti kukatakan padaNya?"
Aku memandanginya penuh keheranan. "Siapa?"
tanyaku. Dengan suara yang seakan berasal dari dasar Sumur
yang amat dalam, dia menjawab: "Allah!"
Aku merinding ketakutan. Tubuh dan perasaanku terguncang
keras. Tiba-tiba temanku itu menjerit,gemanya menyelusup ke
setiap relung malam yang gulita, lain kudengar tarikan
nafasnya yang terakhir. Innanlillaahi wa innaa ilaihi raaji
'uun.
Setelah itu, hari-hari berlalu seperti sedia kala, tetapi
bayangan temanku yang meninggal, jerit kesakitannya, api
yang membakaryal dan lolongannya "Apa yang harus
kukatakan padaNya? Apa yang harus kukatakan padaNya?",
seakan terus membuntuti setiap gerak dan diamku.
Pada diriku sendiri aku bertanya: "Aku,... apa yang
harus kukatakan padaNya?"
Air mataku menetes, lain sebuah getaran aneh menjalari
jiwaku. Saat puncak perenungan itulah, sayup-sayup aku
mendengar adzan Shubuh menggema:
"Allahu Akbar, Allahu Akbar, Asyhadu Anla Ilaaha Illa
Allah... Asyhadu Anna Muhammadar XasuluNah... Hayya 'Alash
Shalaah..."
Aku merasa bahwa adzan itu hanya ditujukan pada diriku saja,
mengajakku menyingkap fase kehidupanku yang kelam,
mengajakku pada jalan cahaya dan hidayah.
Aku segera bangkit, mandi dan wudhu, menyucikan tubuhku dari
noda-noda kehinaan yang menenggelamkanku selama
bertahun-tahun.
Sejak saat itu, aku tak pernah lagi meninggall<an shalat.
Aku memuji Allah, yang tiada yang layak dipuji selain Dia.
Aku telah menjadi manusia lain. Mahasuci Allah yang telah
mengubah berbagai keadaan. Dengan seizin Allah, aku telah
menunaikan umrah. Insya AIlah aku akan melaksanakan haji
dalam waktu dekat, siapa yang tahu? Umur ada di tangan
Allah.
- Kesudahan
Yang Berlawanan
Tatkala
masih di bangku sekolah, aku hidup bersama kedua orangtuaku
dalam lingkungan yang balk. Aku selalu mendengar do'a ibuku
saat pulang dari keluyuran dan begadang malam. Demikian pula
ayahku, ia selalu dalam Shalatnya yang panjang. Aku heran,
mengapa ayah shalat begitu lama, apalagi jika saat musim
dingin yang menyengat tulang.
Aku sungguh heran. Bahkan hingga aku berkata kepada' diri
sendiri: "Alangkah sabarnya mereka...setiap hari
begitu...benar-benar mengherankan!"
Aku belum tahu bahwa di situlah kebahagiaan orang mukmin,
dan itulah shalat orang-orang pilihan...Mereka bangkit dari
tempat tidumya untuk bermunajat kepada Allah.
Setelah menjalani pendidikan militer, aku tumbuh sebagai
pemuda yang matang. Tetapi diriku semakin jauh dari Allah.
Padahal berbagai nasihat selalu kuterima dan kudengar dari
waktu ke waktu.
Setelah tamat dari pendidikan, aku ditugaskan ke kota yang
jauh dari kotaku. Perkenalanku dengan teman-teman sekerja
membuatku agak ringan menanggung beban sebagai orang
terasing.
Di sana, aku tak mendengar lagi suara bacaan Al-Qur'an. Tak
ada lagi suara ibu yang membangunkan dan menyuruhku shalat.
Aku benar-benar hidup sendirian, jauh dari lingkungan
keluarga yang dulu kami nikmati.
Aku ditugaskan mengatur lalu lintas di sebuah jalan tol. Di
samping menjaga keamanan jalan, tugasku membantu orang-orang
yang membutuhkan bantuan.
Pekejaan baruku sungguh menyenangkan Aku lakukan
tugas-tugasku dengan semangat dan dedikasi tinggi.
Tetapi, hidupku bagai selalu diombang-ambingkan ombak. Aku
bingung dan sering melamun sendirian...banyak waktu
luang...pengetahuanku terbatas.
Aku mulai jenuh...tak ada yang menuntunku di bidang agama.
Aku'sebatang kara. Hampir tiap'�hari yang kusaksikan hanya
kecelakaan dan orang-orang yang mengadu kecopetan atau
bentuk-bentult penganiayaan lain. Aku bosan dengan
rutinitas. Sampai suatu hari terjadilah suatu peristiwa yang
hingga kini tak pernah kulupakan.
Ketika kami dengan seorang kawan sedang bertugas di sebuah
pos jalan.Kami asyik ngobrol�tiba-tiba kami dikagetkan
oleh suara benturan yang amat keras.
Kami mengalihkan pandangan. Teryata, sebuah mobil
bertabrakan dengan mobil lain yang meluncur dari arah
berlawanan. Kami segera berlari menuju tempat kejadian untuk
menolong Korban.
Kejadian yarng sungguh tragis. Kami lihat dua awak salah
satu mobil daIam kondisi sangat kritis kedua nya segera kami
keluarkan dari mobil lalu kami bujurkan di tanah.
Kami cepat-cepat menuju mobil satunya. Ternyata pengemudinya
telah tewas dengan amat mengerikan. Kami kembali lagi kepada
dua orang yang berada dalam kondisi koma. Temanku menuntun
mereka mengucapkan kalimat syahadat. :
Ucapkanlah "Laailaaha Illallaah�Laailaaha
Illallaah�" perintah temanku.
Tetapi sungguh mengherankan, dari mulutnya malah meluncur
lagu-lagu. Keadaan itu membuatku merinding.
Temanku tampaknya sudah biasa menghadapi orang-orang yang
sekarat...Kembali ia menuntun korban itu membaca syahadat.
Aku diam membisu. Aku tak berkutik dengan pandangan nanar.
Seumur hidupku, aku belum pernah menyaksikan orang yang
sedang sekarat, apalagi dengan kondisi seperti ini. Temanku
terus menuntun keduanya mengulang-ulang bacaan syahadat.
Tetapi... keduanya tetap terus saja melantunkan lagu.
Tak ada gunanya...
Suara lagunya semakin melemah...lemah dan lemah sekali.
Orang pertama diam, tak bersuara lagi, disusul orang kedua.
Tak ada gerak... keduanya telah meninggal dunia.
Kami segera membawa mereka ke dalam mobil.
Temanku menunduk, ia tak berbicara sepatah pun. Selama
pejalanan hanya ada kebisuan, hening.
Kesunyian pecah ketika temanku memulai bicara. Ia berbicara
tentang hakikat kematian dan su'ul khatimah (kesudahan yang
buruk). Ia berkata: "Manusia akan mengakhiri hidupnya
dengan baik atau buruk. Kesudahan hidup itu biasanya
pertanda dari apa yang dilakukan olehnya selama di
dunia". Ia bercerita panjang lebar padaku tentang
berbagai kisah yang diriwayatkan dalam buku-buku Islam. Ia
juga berbicara bagaimana seseorang akan mengakhiri hidupnya
sesuai dengan masa lalunya secara lahir batin.
Perjalanan ke rumah sakit terasa singkat oleh pembicaraan
kami tentang kematian. Pembicaraan itu makin sempurna
gambarannya tatkala ingat bahwa kami sedang membawa mayat.
Tiba-tiba aku menjadi takut mati. Peristiwa ini benar-benar
memberi pelajaran berharga bagiku. Hari itu, aku shalat
kusyu' sekali.Tetapi perlahan-lahan aku mulai melupakan
peristiwa itu.
Aku kembali pada kebiasaanku semula...Aku seperti tak pemah
menyaksikan apa yang menimpa dua orang yang tak kukenal
beberapa waktu lalu. Tetapi sejak saat itu, aku memang
benar-benar menjadi benci kepada yang namanya lagu-lagu. Aku
tak mau tenggelam menikmatinya seperti sedia kala. Mungkin
itu ada kaitannya dengan lagu yang pemah kudengar dari dua
orang yang sedang sekarat dahulu.
* Kejadian Yang Menakjubkan...
Selang enam bulan dari peristiwa mengerikan itu...sebuah
kejadian menakjubkan kembali terjadi di depan mataku.
Seseorang mengendarai mobilnya denganpelan, tetapi tiba-tiba
mobilnya mogok di sebuah terowongan menuju kota.
Ia turun dari mobilnya untuk mengganti ban yang kempes.
Ketika ia berdiri di belakang mobil untuk menurunkan ban
serep, tiba-tiba sebuah mobil dengan kecepatan tinggi
menabraknya dari arah belakang. Lelaki itu pun langsung
tersungkur seketika.
Aku dengan seorang kawan, -bukan yang menemani-ku pada
peristiwa yang pertama- cepat-cepat menuju tempat kejadian.
Dia kami bawa dengan mobil dan segera pula kami menghubungi
rumah sakit agar langsung mendapatpenanganan.
Dia masih muda, dari tampangnya, ia kelihatan seorang yang
ta'at menjalankan perintah agama.
Ketika mengangkatnya ke mobil, kami berdua cukup panik,
sehingga tak sempat memperhatikan kalau ia menggumamkan
sesuatu. Ketika kami membujurkannya di dalam mobil, kami
baru bisa membedakan suara yang keluar dari mulutnya.
Ia melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur'an...dengan suara amat
lemah.
"Subhanallah! " dalam kondisi kritis seperti , ia
masih sempat melantunkan ayat-ayat suci Al-quran? Darah
mengguyur seluruh pakaiannya; tulang-tulangnya patah,
bahkan:ia hampir mati.
Dalam kondisi seperti itu, ia terus melantunkan ayat-ayat
Al-Qur'an dengan suaranya yang merdu. Selama hidup aku tak
pernah mendengar suara bacaan' al quran seindah itu. Dalam
batin aku bergumam sendirian: "Aku akan menuntun
membaca syahadat sebagaimana yang dilakukan oleh temanku
terdahulu... apalagi aku Sudah punya pengalaman" aku
Meyakinkan diriku sendiri.
Aku dan kawanku seperti kena hipnotis mendengarkan suara
bacaan Al-Qurlan yang merdu itu. Sekonyong-konyong tubuhku
merinding menjalar dan menyelusup ke setiap rongga.
Tiba-tiba suara itu berhenti. Aku menoleh ke belakang.
Kusaksikan dia mengacungkan jari telunjuknya lalu
bersyahadat. Kepalanya terkulai, aku melompat ke belakang.
Kupegang tangannya, detak jantungnya nafasnya, tidak ada
yang terasa. Dia telah meninggal dunia.
Aku lalu memandanginya lekat-lekat, air mataku menetes,
kusembunyikan tangisku, takut diketahui kawanku. Kukabarkan
kepada kawanku kalau pemuda itu telah wafat. Kawanku
tak kuasa menahan tangisnya. Demikian pula halnya dengan
diriku. Aku terus menangis, air mataku deras mengalir.
Suasana dalam mobil betul-betul sangat mengharukan.
Sampai di rumah sakit...Kepada orang-orang di sanal kami
mengabarkan perihal kematian pemuda itu dan peristiwa
menjelang kematiannya yang menakjubkan. Banyak orang yang
terpengaruh dengan kisah kami, sehingga tak sedikit yang
meneteskan air mata. Salah seorang dari mereka, demi
mendengar kisahnya, segera menghampiri jenazah dan mencium
keningnya.
Semua orang yang hadir memutuskan untuk tidak beranjak
sebelum mengetahui secara pasti kapan jenazah akan
dishalatkan. Mereka ingin memberi penghormatan terakhir
kepada jenazah, semua ingin ikut menyalatinya. i
Salah seorang petugas tumah sakit menghubungi rumah
almarhum. Kami ikut mengantarkan jenazah hingga ke rumah
keluarganya. Salah seorang saudaranya mengisahkanl ketika
kecelakaan sebetulnya almarhum hendak menjenguk neneknya di
desa. Pekejaan itu rutin ia lakukan setiap hari Senin. Di
sana almarhum juga menyantuni para janda, anak yatim dan
orang-orang miskin. Ketika tejadi kecelakaan, mobilnya penuh
dengan beras, gula, buah-buahan dan barang-barang kebutuhan
pokok lainnya. Ia juga tak lupa membawa buku-buku agama dan
kaset-kaset pengajian. Semua itu untuk dibagi-bagikan kepada
orang-orang yang ia santuni. Bahkan ia juga membawa permen
untuk dibagi-bagikan kepada anak-anak kecil.
Bila ada yang mengeluhkan-padanya tentang kejenuhan dalam
pejalanan, ia menjawab dengan halus. "Justru saya
memanfaatkan waktu pejalananku dengan menghafal dan
mengulang-ulang bacaan Al-Qur'an, juga dengan mendengarkan
kaset-kaset pengajian, aku mengharap ridha Allah pada setiap
langkah kaki yang aku ayunkan," kata almarhum.
Aku ikut menyalati jenazah dan mengantamya sampai ke
kuburan.
Dalam liang lahat yang sempit, almarhum dikebumikan.
Wajahnya dihadapkan ke kiblat.
"Dengan nama Allah dan atas ngama Rasulullah".
Pelan-pelan, kami menimbuninya dengan tanah...Mintalah
kepada Allah keteguhan hati saudaramu, sesungguhnya dia akan
ditanya...
Almarhum menghadapi hari pertamanya dari hari-hari
akhirat...
Dan aku... sungguh seakan-akan sedang menghadapi hari
pertamaku di dunia.Aku benar-benar bertaubat dari kebiasaan
burukku. Mudah-mudahan Allah mengampuni dosa-dosaku di masa
lalu dan meneguhkanku untuk tetap mentaatinya, memberiku
kesudahan hidup yang baik (khusnul khatimah) serta
menjadikan kuburanku dan kuburan kaum muslimin sebagai
taman-taman Surga. Amin...
Perjalanan Yang Jauh
Nurah,
saudara perempuanku nampak pucat dan kurus sekali. Tetapi
seperti biasa, ia masih membaca Al-Qur'anul Karim.
Tika ingin menemuinya, pergilah ke mushallanya. Di sana engkau
akan mendapatinya sedang ruku', sujud dan menengadahkan ke
langit. Itulah yang dilakukannya setiap pagi, sore dan di tengah
malam hari. Ia tidak pernah jenuh.
Berbeda dengannya, aku selalu asyik membaca majalah-majalah
seni, tenggelam dengan buku-buku cerita dan hampir tak pernah
beranjak dari video. Bahkan, aku sudah identik dengan benda yang
satu ini. Setiap video diputar pasti di situ ada aku. Karena
'kesibukanku' ini, banyak kewajiban yang tak bisa kuselesaikan
bahkan, aku suka meninggalkan shalat.
Setelah tiga jam berturut-turut menonton video di tengah malam,
aku dikagetkan oleh suara adzan yang berkumandang dari masjid
dekat rumahku.
Sekonyong-konyong malas menggelayuti semua persendianku, maka
aku pun segera menghampiri tempat tidur.
Nurah memanggilku dari mushallanya.
Dengan berat sekali, aku menyeret kaki menghampirinya.
"Ada apa Nurah?," tanyaku.
"Jangan tidur sebelum shalat Shubuh!", ia
mengingatkan. "Ah. Shubuh kan masih satu jam lagi. Yang
baru saja kan adzan pertamal"
Begitulah, ia selalu penuh perhatian padaku. Sering memberiku
nasihat, sampai akhimya ia terbaring sakit. ia tergeletak lemah
di tempat tidur.
"Hanah!," panggilnya lagi suatu ketika.
Aku tak mampu menolaknya. Suara itu begitu jujur dan polos.
"Ada apa saudariku?", tanyaku pelan.
"Duduklah!"
Aku menurut dan duduk di sisinya. Hening...
Sejenak kemudian Nurah melantunkan ayat suci Al-Qur'an dengan
suaranya yang merdu.
"Tiapjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari
Kiamat sajalah disempumnkan pahalamu." (Al Imran: 185)
Diam sebentar, lalu ia bertanya: "Apakah kamu tidak percaya
adanya kematian?"
"Tentu saja percaya!"
"Apakah kamu tidak percaya bahwa amalmu kelak akan dihisab,
baik yang besar maupun yang kecil?"
"Percaya. Tetapi bukankah Allah Maha Pengampun dan Maha
Penyayang, sementara aku masih muda, umurku masih panjang!"
"Ukhti, apakah kamu tidak takut mati yang datangnya
tiba-tiba? Lihatlah Hindun, dia lebih muda darimu, tetapi
meninggal karena sebuah kecelakaan. Lihat pula si
fulanah...Kematian tidak mengenal umur. Umur bukan ukuran bagi
kematian seseorang.
Aku menjawabnya penuh ketakutan. Suasana tengah malam yang gelap
mencekam, semakin menambah rasa takutku.
"Aku takut dengan gelap, bagaimana engkau menakut-nakutiku
lagi dengan kematian ? Di mana aku akan tidur nanti ?" Jiwa
asliku yang amat penakut betul-betul tampak.
Kucoba menenangkan diri aku benusaha tegar dengan mengalihkan
pembicaraan pada tema yang menyenangkan, rekreasi.
"Oh ya, kukira ukhti setuju pada liburan ini kita pergi
rekreasi bersama?", pancingku.
"'Tidak, karena barangkali tahun ini aku akan pergi jauh,
ke tempat yang jauh... mungkin... umur ada di tangan Allah,
Hanah", ia lalu terisak.
Suara itu bergetar, aku ikut hanyut dalam kesedihan.
Sekejap, langsung terlintas dalam benakku tentang sakitnya yang
ganas. Para dokter, secara rahasia telah mengabarkan hal itu
kepada ayah. Menurut analisa medis, para dker sudah tak sanggup,
dan itu berarti dekatnya kematian.
Tetapi, siapa yang mengabarkan ini semua padanya?, atau ia
memang merasa sudah datang waktunya?,
"Mengapa ternenung? Apa yang engkau lamunkan?", Nurah
membuyarkan lamunanku.
"Apa kau mengira, hal ini kukatakan karena aku sedang
sakit? Tidak. Bahkan boleh jadi umurku lebih panjang dari umur
orang-orang sehat.
Dan kamu, sampai kapan akan terus hidup? Mungkin 20 tahun lagi,
40 tahun atau...
Lalu apa setelah itu? Kita tidak berbeda. Kita semua pasti akan
pergi, entah ke Surga atau ke Neraka. Apakah engkau belum
mendengar ayat:
"Barangsiapa dijauhkan dari Neraka dimasukkan ke dalam
Surga maka sungguh ia telah beruntung" ( Ali Imran: 185)
"Sampai besok pagi," ia menutup nasihatnya.
Aku bergegas meninggalkannya menuju kamar.
Nasihatnya masih tergiang-ngiang di gendang telingaku,
"Semoga Allah memberimu petunjuk, jangan lupa shalat!"
Pagi hari...Jam dinding menunjukkan angka delapan pagi.Terdengar
pintu kamarku diketuk dari luar. "Pada jam ini biasanya aku
belum mau bangun" pikirku. Tetapi di luar terdengar suara
gaduh, orang banyak terisak.
"Ya Rabbi, apa yang tejadi?"
"Mungkin Nurah...?, "firasatku berbicara. Dan benar,
Nurah pingsan, ayah segera melarikannya ke rumah sakit.
Tidak ada rekreasi tahun ini. Kami semua harus menunggui Nurah
yang sedang sakit.
Lama sekali menunggu kabar dari rumah sakit dengan harap-harap
cemas.
Tepat pukul satu siang, telepon di rumah kami berdering. Ibu
segera mengangkatnya. Suara ayah di seberang, ia menelpon dari
rumah sakit. "Kalian bisa pergi ke rumah sakit
sekarang!," demikian pesan ayah singkat.
Kata ibu, tampak sekali ayah begitu panik, nada suaranya berbeda
dari biasanya.
"Mana sopir...?" kami semua terburu-buru: Kami
menyuruh sopir menjalankan mobil dengan cepat. Tapi ah, jalan
yang biasanya terasa dekat bila aku menikmatinya dalam pejalanan
liburan, kini terasa amat panj ang, panjang dan lama sekali.
Jalanan macet yang biasanya kunanti-nantikan sehingga aku bisa
menengok ke kanan-kiri, cuci mata, kini terasa menyebalkan. Di
sampingku, ibu berdo'a untuk keselamatan Nurah.
"Dia anak shalihah. Ia tidak pernah menyia-nyia kan
waktunya. Ia begitu rajin beribadah", ibu bergumam
sendirian.
Kami turun di depan pintu rumah sakit. Kami segera masuk
ruangan. Para pasien pada tergeletak lunglai. Di sana sini
terdengar lirih suara rintihan. Ada yang baru saja masuk karena
kecelakaan mobil, ada yang matanya buta, ada yang mengerang
keras. Pemandangan yang membuat bulu kudukku merinding.
Kami naik tangga eskalator menuju lantai atas. Nurah berada di
ruang perawatan intensif. Di depan pintu terpampang papan
peringatan: "Tidak boleh masuk lebih dari satu orang!"
Kami terperangah. Tak lama kemudian, seorang perawat datang
menemui, kami. Perawat memberitahu kalau kini kondisi Nurah
mulai membaik, setelah beberapa saat sebelumnya tak sadarkan
diri.
Di tengah kerumunan para dokter yang merawat, dari sebuah lubang
keciljendela yang ada di pintu, aku melihat kedua bola mata
Nurah sedang memandangiku. Ibu yang berdiri di sampingnya tak
kuat menahan air matanya. Waktu besuknya habis, ibu segera
keluar dari ruang perawatan intensif.
Kini tiba giliranku masuk. Dokter memperingatkan agar aku tidak
banyak mengajaknya bicara. Aku diberi waktu dua menit.
"Assalamu 'alaikum!, bagaimana keadaanmu Nurah?, tadi
malam, engkau baik-baik saja. Apa yang terjadi denganmu?",
aku menghujaninya dengan pertanyaan.
"Alhamdulillah, aku sekarang baik-baik saja, jawabnya
dengan berusaha tersenyum.
"Tapi, mengapa tanganmu dingin sekali, kenapa?" aku
menyelidik.
Aku duduk di pinggir dipan. Lalu kucoba meraba betisnya, tapi ia
segera menjauhkannya dari jangkauanku.
"Ma'af, kalau aku mengganggumu!", aku tertunduk.
"Tidak apa-apa. Aku hanya ingat firman Allah Ta'ala:
"Dan bertaut betis(kiri) dengan betis(kanan), kepada
Tuhanmullah pada hari itu kami dihalau". (Al-Qiyamah:
29-30)
Nurah melantunkan ayat suci Alquran.
Aku menguattkan diri. Sekuat tenaga aku berusaha untuk tidak
menangis dihadapan Nurah, aku membisu.
" Hanah, berdoalah untukku. Mungkin sebentar lagi aku akan
menghadap. Mungkin aku segera mengawali hari pertama kehidupanku
diakhirat�Perjalananku amat jauh tapi bekalku sedikit
sekali".
Pertahananku runtuh. Air mataku tumpah. Aku menangis
sejadi-jadinya. Ayah mengkhawatirkan keadaanku. Sebab mereka tak
pernah melihatku menangis seperti itu.
Bersamaan dengan tenggelamnya matahari pada hari itu. Nurah
meninggal dunia�.
Suasana begitu sepat berubah. Seperti baru beberapa menit aku
bebincang-bincang dengannya. Kini ia telah meninggalkan kami
buat selama-selamanya. Dan, ia tak akan pernah bertemu lagi
dengan kami. Tak akan pernah pulang lagi. Tidak akan
bersama-sama lagi. Oh Nurah�
Suasana dirumah kami digelayuti duka yang amat dalam. Sunyi
mencekam. Lalu pecah oleh tangisan yang mengharu biru. Sanak
kerabat dan tetangga berdatangan melawat. Aku tidak bisa
membedakan lagi, siapa-siapa yang datang, tidak pula apa yang
mereka percakapan.
Aku tenggelam dengan diriku sendiri. Ya Allah, bagaimana dengan
diriku? Apa yang bakal terjadi pada diriku? Aku tak kuasa lagi,
meski sekedar menangis. Aku ingin memberinya penghormatan
terakhir. Aku ingin menghantarkan salam terakhir. Aku ingin
mencium keningnya.
Kini, tak ada sesuatu yang kuingat seai satu hal. Aku ingat
firman Allah yang dibacakannya kepadaku menjelang kematiannya.
"Dan bertaut betis (kiri) dengan betis (kanan)". Aku
kini benar-benar paham bahwa,"Kepada Tuhanmullah pada hari
itu kamu dihalau"
"Aku tidak tahu, ternyata malam itu, adalah malam terakhir
aku menjumpainya di mushallanya.
Malam ini, aku sendirian di mushalla almarhumah. terbayang
kembali saudara kembarku, Nurah yang demikian baik kepadaku.
Dialah yang senantiasa menghibur kesedihanku, ikut memahami dn
merasakan kegalauanku, saudari yang selalu mendo'akanku agar aku
mendapat hidayah Allah, saudari yang senantiasa mengalirkan air
mata pada tiap-tiap pertengahan malam, yang selalu menasihatiku
tentang mati, hari perhitungan�.ya Allah!
Malam ini adalah malam pertama bagi Nurah dikuburnya. Ya Allah,
rahmatilah dia, terangilah kuburnya.
Ya Allah, ini mushaf Nurah, �ini sajadahnya�dan ini..ini
gaun merah muda yang pernah dikatakannya padaku, bakal dijadikan
kenangan manis pernikahannya.
Aku menangisi hari-hariku yang berlalu dengan sia-sia. Aku
menangis terus-menerus, tak bisa berhenti. Aku berdo'a kepada
Allah semoga Dia merahmatiku dan menerima taubatku.
Aku mendo'akan Nurah agar mendapat keteguhan dan kesenangan di
kuburnya, sebagaimana ia begitu sering dan suka mendo'akanku.
Tiba-tiba aku tersentak dengan pikiranku sendiri. "Apa yang
terjadi jika yang meninggal adalah aku? Bagaimana
kesudahanku?"
Aku tak berani mencari jawabannya, ketakutanku memuncak. Aku
menangis, menangis lebih keras lagi. Allahu Akbar, Allnhu
Akbar...Adzan fajar berkumandang. Tetapi, duhai alangkah
merdunya suara panggilan itu kali ini.
Aku merasakan kedamaian dan ketentraman yang mendalam. Aku jawab
ucapan muadzin, lalu segera kuhamparkan lipatan sajadah,
selanjutnya aku shalat Shubuh. Aku shalat seperti keadaan orang
yang hendak berpisah selama-lamanya. Shalat yang pemah
kusaksikan terakhir kali dari saudari kembarku Nurah.
Jika tiba waktu pagi, aku tak menunggu waktu sore dan jika tiba
waktu sore, aku tidak menunggu waktu pagi.
H.
SYUBHAT KETUJUH: MODE DAN BUKAN HIJAB
Sebagian
wanita muslimah yang tidak berhijab, mengulang-ulang syubhat
yang intinya, tidak ada yang disebut hijab secara hakiki, ia
sekedar mode. Maka, jika itu hanya mode, kenapa harus dipaksakan
untuk mengenakannya?
Mereka lalu
menyebutkan beberapa kenyataan serta penyimpangan yang dilakukan
oleh sebagian ukhti ber-hijab yang pernah mereka saksikan.
Sebelum membantah syubhat ini, kami perlu mengetengahkan, ada
enam macam alasan yang karenanya seorang ukhti mengenakan hijab.
Pertama, ia
ber-hijab untuk menutupi sebagian cacat tubuh yang dideritanya.
Kedua, ia
ber-hijab untuk bisa mendapatkan jodoh. Sebab sebagian besar
pemuda, yang taat menjalankan syari'at agama atau tidak, selalu
mengutamakan wanita yang berhijab.
Ketiga, ia
ber-hijab untuk mengelabui orang lain bahwa dirinya orang
baik-baik. Padahal, sebenarnya ia suka melanggar syarilat Allah.
Dengan ber-hijab, maka keluarganya akan percaya terhadap
kesalihannya, orang tidak ragu-ragu tentangnya. Akhirnya, dia
bisa bebas ke luar rumah kapan dan ke mana dia suka, dan tidak
akan ada seorang pun yang menghalanginya.
Keempat, ia
memakai hijab untuk mengikuti mode, hal ini lazim disebut dengan
"hijab ala Prancis". Mode itu biasanya menampakkan
sebagian jalinan rambutnya, memperlihatkan bagian atas dadanya,
memakai rok hingga pertengahan betis, memperlihatkan lekuk
tubuhnya. Terkadang memakai kain yang tipis sekali sehingga
tampak jelas warna kulitnya, kadang-kadang juga memakai celana
panjang. Untuk melengkapi mode tersebut, ia memoles wajahnya
dengan berbagaimacam make up, juga menyemprotkan parfum,
sehingga menebar bau harum pada setiap orang yang dilaluinya.
Dia menolak
syariat Allah, yakni perintah mengenakan hijab. Selanjutnya
lebih mengutamakan mode-mode buatan manusia. Seperti Christian
Dior, Valentine, San Lauren, Canal, Cartier dan merek dari
nama-nama orang-orang kafir lainnya.
Kelima, ia
ber-hijab karena paksaan darikedua orang tuanya yang mendidiknya
secara keras di bidang agama, atau karena melihat keluarganya
semua ber-hijab, sehingga ia terpaksa menggunakannya, padahal
dalam hatinya ia tidak suka. Jika tidak mengenakan, ia takut
akan mendapat teror dan hardikan dari keluarganya.
Golongan
wanita seperti ini, jika tidak melihat ada orang yang
mengawasinya, serta merta ia akan melepas hijabnya, sebab ia
tidak percaya dan belum mantap dengan hijab.
Keenam, ia
mengenakan hijab karena mengikuti aturan-aturan syari'at. Ia
percaya bahwa hijab adalah wajib, sehingga ia takut
melepaskannya.Ia berhijab hanya karena mengharapkan ridha Allah,
tidak karena makhluk. Wanita ber-hijab jenis ini, akan selalu
memperhatikan ketentuan-ketentuan ber-hijab, di antaranya:
- Hijab
itu longgar, sehingga tidak membentuk lekuk-lekuk tubuh.
- Tebal,
hingga tidak kelihatan sedikit pun bagian tubuhnya.
- Tidak
memakai wangi-wangian.
- Tidak
meniru mode pakaian wanita-wanita kafir, sehingga
wanita-wanita muslimah memiliki identitas pakaian yang
dikenal.
- Tidak
memilih wama kain yang kontras (menyala), sehingga menjadi
pusat perhatian orang.
- Hendaknya
menutupi seluruh tubuh, selain wajah dan kedua telapak
tangan, menurut suatu pendapat, atau menutupi seluruh tubuh
dan yang tampak hanya mata, menurut pendapat yang lain.
- Hendaknya
tidak menyerupai pakaian laki-laki, sebab hal tersebut
dilarang oleh syara'.
- Tidak
memakai pakaian yang sedang menjadi mode dengan tujuan pamer
misalnya, sehingga ia terjerumus kepada sifat membanggakan
diri yang dilarang agama.
Selain
ber-hijab yang disebutkan terakhir (nomor enam), maka
alasan-alasan mengenakan hijab adalah keliru dan bukan karena
mengharap ridha Allah. Ini bukan berarti, tidak ada orang yang
menginginkan ridha Allah dalam ber-hijab. Ber-hijablah sesuai
dengan batas-batas yang ditentukan syari'at, sehingga anda
termasuk dalam golongan wanita yang ber-hijab karena mencari
ridha Allah dan takut akan murkaNya.
I.
SYUBHAT KEDELAPAN: MENGHALANGI BERHIAS
Syubhat ini
-sebagaimana yang terdahulu- lebih tepat disebut syahwat
daripada syubhat. Ia adalah nafsu buruk, sehingga menghalangi
para wanita ber-hijab.
Tetapi
wanita yang menurutkan dirinya di belakang nafsu ini. Patut kita
pertanyakan: "Untuk siapa engkau pamer aurat? Untuk siapa
engkau berhias?"
Jika
jawabannya: "Aku memamerkan tubuhku dan bersolek agar semua
orang mengetahui kecantikan dan kelebihan diriku," maka
kembali kita perlu bertanya:
"Apakah
kamu rela, kecantikanmu itu dinikmati oleh orang yang dekat dan
yang jauh darimu?"
"Relakah
kamu menjadi barang dagangan yang murah, bagi semua orang, baik
yang jahat maupun yang terhormat?"
"Bagaimana
engkau bisa menyelamatkan dirimu dari mata para serigala yang
berwujud manusia?". "Maukah kamu, jika dirimu dihargai
serendah itu?"
1. Kisah
Nyata
Seorang
artis terkenal, mengadakan lawatan di salah satu negara teluk,
untuk memeriahkan sebuah pesta malam kolosal di negara tersebut.
Bersama grupnya, ia akan menggelar konser spektakuler.
Salah
seorang wanita shalihah menghubungi artis tersebut via telepon.
Ia akan melaksanakan tugas amar ma'ruf nahi munkar. Segera ia
mencari nomor telepon kamar di hotel tempat artis itu menginap.
Setelah menemukannya, ia segera menghubungi. Selanjutnya
tejadilah dialog seperti di bawah ini:
Ukhti:
"kami ucapkan selamat atas kedatangan anda di negeri kami.
Kami senang sekali atas kehadiran anda disini. Kami ingin
mengajukan beberapa pertanyaan kepada anda, saya harap anda sudi
menjawabnya."
Artis:
" Dengan segala senang hati, silahkan anda bertanya!"
Ukhti: "Jika anda memiliki barang yang berharga, dimana
anada akan meletakkannya?"
Artis:"Di
tempat yang khusus, aku akan menguncinya sehingga tidak
seorangpun bisa mengambil."
Ukhti:"Jika sesuatu itu barang yang amat berharga sekali,
di mana anda akan menyembunyikannya?"
Artis:"Di
tempat yang sangat khusus, sehingga tak ada satu tangan pun bisa
menyentuhnya."
Ukhti: "Apakah sesuatu yang paling berharga yang dimiliki
oleh seorang wanita?"
Artis :
"(Lama tidak ada jawaban)
Ukhti: Bukankah kesucian dirinya sesuatu yang paling berharga
yang ia miliki?"
Artis :
"Benar�.Benar, sesuatu yang paling berharga dari milik
wanita adalah kesuciannya."
Ukhti: 'Apakah sesuatu yang amat berharga itu boleh
dipertontonkan dimuka umum?"
Dari sini
artis itu mengetahui kemana arah pembicaraan selanjutnya. Ia
tercenung beberapa saat, lalu berteriak riang, seakan suara itu
dari lubuk fithrahnya. Ia tersadarkan.
Artis:
"Ini sungguh ucapan yang pertama kali kudengar selama
hidupku. Saya harus bertemu anda, sekarang juga! Saya ingin
lebih banyak mendengarkan petuah-petuah anda".
Wahai ukhti,
jika engkau menampakkan auratmu dan bersolek demi suamimu atau
di depan sesama kaummu maka hal itu tidak mengapal selama tidqk
keluar dari rumah. Jika antar sesama wanita, maka hendaknya
engkau tidak menampakkan aurat yang tidak boleh dilihat sesama
wanita, yakni antara pusar dengan lutut.
2.
Perumpamaan
Saudariku,
engkau amat mahal dan berharga sekali. Pernahkah terlintas dalam
benakmu, bagaimana seorang pembeli membolak-balik barang yang
ingin dibelinya? Jika ia tertarik dan berniat membelinya, ia
akan meminta kepada sang penjual agar ia diambilkan barang baru
sejenis yang masih tersusun di atas rak. Ia ingin agar yang
dibelinya adalah barang yang belum pemah tersentuh oleh tangan
manusia.
Renungkanlah
perumpamaan ini baik-baik. Dari sini, engkau akan tahu betapa
berharganya dirimu, yakni jika engkau menyembunyikan apa yang
harus engkau sembunyikan sesuai dengan perintah Allah kepadamu.
J.
SYUBHAT KESEMBILAN: HIJAB MENCIPTAKAN PENGANGGURAN SEBAGIAN SDM
DI MASYARAKAT
Syubhat ini
tidak begitu populer di kalangan wanita tak ber-hijab, tetapi ia
amat sering dilontarkan oleh orang-orang sekuler dan para
pendukungnya. Menurut mereka, hijab wanita akan menciptakan
pengangguran sebagian dari SDM (Sumber Daya Manusia) yang
dimiliki oleh masyarakat. Padahal Islam menyuruh para wanita
agar tetap tinggal di rumah.
Syubhat yang
sering kita dengar ini, dapat kita sanggah dengan beberapa
argumentasi:
Pertama,
pada dasarnya wanita itu memang harus tetap tinggal di rumahnya.
Allah berfirman:
Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias
dan bertingkah laku seperti orang-orang jahiliah
terdahulu." (Al-Ahzab: 33)
Ini bukan berarti melecehkan keberadaan wanita, atau tidak
mendayagunakan SDM-nya,tetapi hal itu merupakan penempatan yang
ideal sesuai dengan kodrat dan kemampuan wanita.
Kedua, Islam
memandang bahwa pendidikan anak, penanaman nilai-nilai akhlak
dan bimbingan terhadap mereka sebagai suatu kewajiban wanita
yang paling hakiki. Berbagai hasil penelitian, yang dikuatkan
oleh data stastitik, baik yang berskala internasional maupun
nasional menunjukkan berbagai penyimpangan anak-anak muda,
faktor utamanya adalah "broken home" (keruntuhan rumah
tangga) serta kurangnya perhatian orang tua terhadap
anak-anaknya.
Ketiga,
Islam tidak membebani wanita mencari nafkah. Mencari nafkah
adalah tugas laki-laki. Karena itu, secara alamiah, yang paling
patut keluar rumah untuk bekeja adalah laki-laki, sehingga
wanita bisa sepenuhnya mengurus pekerjaan yang justeru lebih
penting daripada jika ia bekerja di luar rumah, yaitu mendidik
generasi muda. Dan sungguh, tugas paling berat dalam masyarakat
adalah mendidik generasi muda.Sebab, daripadanya akan lahir
tatanan masyarakat yang bak.
Keempat,
Islam sangat memperhatikan perlindungan terhadap masyarakat dari
kehancuran. Pergaulan bebas, (bercampumya laki-laki dengan
perempuan tanpa hijab) dan sebagainya menyebabkan lemahnya
tatanan masyarakat serta menjadikan wanita korban pelecehan oleh
orang-orang yang lemah jiwanya. Dan dengan pergaulan yang serba
boleh itu, masing-masing lawan jenis akan disibukkan oleh
pikiran dan perasaan yang sama sekali tak bermanfaat, apalagi
jika ikhtilath itu oleh pihak wanita sengaja dijadikan ajang
pamer kecantikan dan perhiasannya.
Kelima,
Islam tidak melarang wanita bekeja. Bahkan dalam kondisi
tertentu, Islam mewajibkan wanita bekeja.
Yakni jika pekejaan itu memang benar-benar dibutuhkan oleh
masyarakat demi mencegah madharatl Seperti profesi dokter
spesialis wanita, guru di sekolah khusus wanita, bidan serta
profesi lain yang melayani berbagai kebutuhan khusus wanita.
Keenam,
dalam kondisi terpaksa, Islam tidak melarang wanita bekeja,
selama berpegang dengan tuntunan syari'at.
Seperti meminta izin kepada walinya, menjauhi ikhfilath, khalwat
(berduaan dengan selain mahram), profesinya bukan jenis
pekerjaan maksiat, jenis pekerjaan itu dibenarkan syan at, tidak
keluar dari kebiasaan dan tabiat wanita, tidak mengganggu
tanggung jawab pokoknya sebagai ibu rumah tangga serta
syarat-syarat lain yang diatur oleh agama.
K.
SYUBHAT KESEPULUH: HIJAB BUKAN FENOMENA BUDAYA
Banyak orang
berkata: "Hijab merupakan fenomena keterbelakangan bagi
masyarakat, hijab tidak menunjukkan budaya modem dan maju.
Wanita yang berhijab laksana tenda hitam yang bejalan, sangat
aneh dan mengembalikan masyarakat padakehidupan primitif.
1. Kerancuan
Istilah
Syubhat ini
langsung gugur karena kesalahan fatal dari argumentasi itu
sendiri. Kemajuan budaya bukanlah diukur dengan simbol-simbol
fisik dan materi, seperti pakaian, bangunan, kendaraan,
perhiasan dan hal-hal lahiriah lainnya. Orang yang mengukur
kemajuan budaya masyarakat dengan simbol-simbol fisik adalah
orang yang tidak memahami masalah dan tidak bisa berfikir secara
logis.
Kebudayaan
adalah istilah. Ia merupakan kumpulan nilai-nilai, akhlak dan
perilaku dalam suatu masyarakat. Adapun fenomena fisik atau
material -seperti dicontohkan di atas- semua itu tidak masuk
dalam lingkup budaya, tetapi wujud dari peradaban.
2.
Penjelasan dari Sisi Empiris
Sebagai
contoh, jika seseorang melawat ke Amerika, ia akan merasakan dan
menyaksikan kebebasan sangat dijunjung tinggi oleh setiap orang
di sana, balk pejabat pemerintah atau rakyat biasa. Sebagai
simbol kebebasan tersebut, mereka membangun patung Liberty
(kebebasan) di jantung kota terbesar di negara adidaya tersebut.
Karena itu,
Amerika tidak saja menjadi pelopor dunia di bidang teknologi
semata, tetapi juga di bidang nilai-nilai kemanusiaan.
Pemerintah yang sangat berkuasa itu begitu menjaga nilai-nilai
tersebut untuk kepentingan rakyatnya.
Negara-negara
lain, ukuran keberhasilan dan kemundurannya juga dilihat dari
seberapa jauh mereka menghormati nilai-nilai tersebut, berikut
penerapannya.
Contoh lain,
ketika anda pergi ke stasiun kereta api, di negara mana pun di
Eropa, tentu anda akan mendapati jadwal keberangkatan dan
kedatangan kereta api selama sepekan, lengkap dengan jam dan
menitnya.
Misalnya,
dalam jadwal tertulis, hari Senin, kereta api pertama tiba pada
pukul 06.40 pagi. Jika anda menunggu di stasiun, anda akan
mendapati kereta api datang tepat pada waktunya, tidak terlambat
meskipun hanya satu menit. Seandainya tejadi keterlambatan
sedikit saja, maka di mana-mana anda akan melihat pengaduan,
bahkan petugas yang menyebabkan keterlambatan tersebut, dapat
dipecat dari tugasnya. Mungkin juga akan menimbulkan gejolakl
balk lewat media massa atau unjuk rasa.
"Menghormati
waktu" adalah satu di antara nilai-nilai yang dimiliki oleh
Eropa. Maka, ukuran kemajuan Eropa dan peradabannya tidak semata
karena teknologinya, tetapi juga karena mereka memiliki
nilai-nilai yang seialu dijunjung tinggi.'
Sebaliknya,
masyarakat kita tergolong masyarakat terbelakang, bukan karena
tidak memiliki teknologi semata, tetapi karena kita menjauhi
nilai-nilai dan prinsip-prinsip yang kita miliki. Padahal
nilai-nilai kita bersumber dari agama Islam kita yang agung.
Dari sinilah, lain masyarakat kita tergolong masyarakat yang
paling banyak pelanggarannya terhadap hak-hak asasi manusia
(HAM), kezhaliman merajalela di mana-mana, marak berbagai
pelecehan terhadap hukum dan peraturan, jarang mengikutsertakan
aspirasi rakyat, tidak suka mendengarkan
pendapat orang lain serta berbagai tindak pelecehan lainnya.
Berdasarkan
penjelasan di atas, maka mengenakan hijab Islami terhitung satu
langkah maju untuk membangun budaya masyarakat, sebab ia adalah
cerminan akhlak, perilaku dan nilai yang berdasarkan agama kita
yang lurus. Tidak seperti tuduhan mereka, ber-hijab bukan
fenomena budaya.
L.
SYUBHAT KESEBELAS : ORANG TUA DAN SUAMIKU MELARANG BERHIJAB
Dasar
permasalahan ini adalah, bahwa ketaatan kepada Allah harus
didahulukan daripada ketaatan kepada makhluk, siapapun dia.
Setelah ketaatan kepada Allah, kedua orang tua lebih berhak
untuk ditaati dari yang lainnya, selama keduanya tidak
memerintahkan pada kemaksiatan.
Masalah
lain, bahwa menyelisihi wali karena melaksanakan perintah Allah
adalah di antara bentuk taqarrub kepada Allah yang paiing agung,
dan itu sekaligus termasuk bentuk dakwah kepada wali.
Masalah
ketiga, jika wall, balk ayah atau suami melihat orang yang
berada di bawah tanggung jawabnya bersikeras, biasanya wall akan
mengalah dan menghormati pilihan orang yang berada di bawah
tanggung jawabnya.
Kecualijika
wali itu tidak memiliki rasa cinta hakiki kepada orang yang
berada di bawah tanggung jawabnya.
Berikut kami
turunkan beberapa fatwa ulama besar seputar masalah ini.
Soal:
"Bagaimana hukum orang yang menentang ibunya dengan tidak
mentaatinya karena ibu tersebut menganjurkan sesuatu yang
didalamnya terdapat maksiat kepada Allah? Seperti, sang ibu
menganjurkannya bertabarruj, bepergian jauh tanpa mahram. Ia
berdalih bahwa hijab itu hanyalah khurafat dan tidak
diperintahkan oleh agama. Karena itu ibu meminta agar saya
menghadiri berbagai pesta dan mengenakan pakaian yang
menampakkan apa yang diharamkan Allah bagi wanita. Ia amat marah
jika melihat saya mengenakan hijab".
Jawab:
"Tidak ada ketaatan kepada makhluk, Baik ayah, ibu atau
selain keduanya dalam hal-hal yang di dalamnya terdapat maksiat
kepada Allah. Dalam sebuah hadits shahih disebutkan:
"Sesungguhnya ketaatan itu hanyalah dalam kebaikan ".
"Dan tidak boleh ta'at kepada makhluk dnzgan mendurhakai
(bermaksiat) kepada AI-Khaliq "
Hal-hal yang
dianjurkan oleh ibu sang penanya di atas termasuk kemaksiatan
terhadap Allah, karena itu ia tidak dibenarkan mentaatinya.
( syaikh bin Baz )
Soal:
Beberapa lembaga tinggi di negara kami yang termasuk negara
islam mengeluarkan peraturan yang intinya memaksa para wanita
muslimah agar melepas hijab, khususnya tutup kepala (kerudung).
Bolehkah saya mentaati peraturan tersebut? Perlu diketahui, jika
ada yang berani menentangnya maka ia akan mendapat sangsi besar.
Misalnya dikeluarkan dari tempat kerja, dari sekolah atau bahknn
dipenjara?
Jawab:
"Kejadian di negara anda tersebut merupakan ujian bagi
setiap hamba". Allah berfirman :
"Alif laam miim. Apakah manusia itu mengira bahwa mereka
dibiarkan (saja) mengatakan: "Kami telah beriman ",
sedang mereka tidak diuji lagi? Dan, sesungguhnya Kami telah
menguji orang-orang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah
mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia
mengetahui orang-orang yang berdusta ". (al Ankabut: 1-3)
Menurut
hemat kami, semua muslimah di negara itu wajib tidak menta'ati
ulil amri (penguasa) dalam perkara yang mungkar tersebut. Karena
ketaatan kepada ulil amri menjadi gugur kalau ia memerintahkan
perbuatan yang mungkar. Allah berfirman:
"Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah
Rasulnya dan uIil amri di antara kamu". (An-Nisa: 59)
Jika kita
perhatikan ayat di atas, kita tidak mendapati perintah taat
untuk ketiga kalinya. Hal ini menunjukkan bahwa ketaatan kepada
ulil amri harus mengikuti (sesuai) dengan ketaatan kepada Allah
dan RasulllrTya, jika perintah mereka bertentangan dengan
perintah Allah dan Rasulnya, maka perintah itu tidak boleh
dituruti dan ditaati
"Dan tidak boleh ta 'at kepada makhluk dengan mendurhakai
(bermaksiat) kepada AI-Khaliq "
Resiko yang mungkin menimpa para wanita dalam masalah ini,
hendaknya dihadapi dengan sabar dan dengan memohon pertolongan
kepada Allah. Kita semua berdo'a, semoga para penguasa dinegara
tersebut segera mendapat petunjuk dari Allah.
Tapi,
menurut hemat kami, pemaksaan tersebut tidak akan tejadi
manakala wanita tidak keluar dari rumah) .
Jika mereka berada di rumah masing-masing, tentu dengan
sendirinya pemaksaan itu tidak ada artinya sama sekali.
Para wanita muslimah hendaknya tetap tinggal di rumah
masing-masing sehingga selamat dari peraturan tersebut.
Adapun belajar yang di dalamnya terdapat kemaksiat-an, misalnya
ikhtilath, maka hal itu tidak dibenarkan.
Memang, para wanita harus belajar sesuai dengan kebutuhannya,
baik di bidang agama maupun masalah dunia.
Tetapi biasanya, hal ini bisa dilakukan di dalam rumah. Secara
ringkas, dapat saya katakan, kita tidak boleh mentaati ulil amri
dalam perkara yang mungkar." (Syaikh Ibnu Utsaimin)
Soal:
"Sepasang suami isreri telah dikaruniai beberapa anak.
Seorang istri menghendaki mengenakan pakaian sesuai dengan
ketentuan syari'at, tetapi sang suami melarangnya. Apa nasihat
Syaikh terhadap suami seperti ini? "
Jawab:
"Kami nasihatkan kepada suami itu agar ia bertaqwa kepada
Allah dalam urusan keluarganya. Ia juga hendaknya bersyukur
bepada Allah yang memberikan kepadanya isteri yang ingin
menerapkan salah satu perintah Allah. Yakni memakai pakaian
sesuai dengan ketentuan syari 'at, sehingga menjaga keselamatan
dirinya dari fitnah.
Di samping
itu, Allah memerintahkan agar para hambaNya yang beriman menjaga
diri dan keluarganya dari api Neraka. Allah berfirman:
"Hai
orang-orang yang beriman, peIiharalah dirimu dan keluargamu dari
api Neraka yang bahan bakarnya adaIah manusia dan batu,
penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak
mendurhakai AIlah terhadap apa yang diperintahkanNya kepada
mereka, dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan ".
(At-Tahrim: 6)
Nabi
Shallallahu 'Alaihi Wasallam juga menegaskan:
"Seseorang
laki-laki adalah pemimpin dalam keluarganya dan bertanggungjawab
atas yang dipimpinya ". (HR. AI-Bukhari)
Jika
demikian halnya, patutkah seorang suami berusaha memaksa
isterinya menanggalkan pakaian sesuai dengan ketentuan syara'
agar selanjutnya mengenakan pakaian yang diharamkan, yang
menyebabkan fitnah?
Hendaknya
sang suami tersebut bertaqwa kepada Allah dalam dirinya dan
dalam urusan keluarganya. Justru ia harus bersyukur karena
dimudahkan oleh Allah sehingga mendapatkan isteri shalihah
tersebut.
Adapun
terhadap isterinya, kami nasihatkan agar ia tidak mentaati
suaminya dalam kemaksiatan terhadap Allah, sampai kapan pun.
Sebab tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam kemaksiatan
terhadap Al Khaliq (Syaikh Ibnu Utsaimin)
KESIMPULAN
:
Inilah hukum
syari 'at menurut keterangan para ulama kita seputar masalah
syubhat yang sedang kita bahas. Tetapi, untuk menolak wali, jika
ia memerintahkan bertabarruj atau melarang berhijab, hendaknya
ia melakukan secara hikmah.
Hikmah yang
dimaksud di antaranya adalah :
- Memperhatikan
adab dan sopan santun dalam menerangkan apa yang anda yakini
kebenarannya. Misalnya dengan tidak meninggikan suara atau
menggunakan kalimat yang memancing emosi dan kemarahan
waliyyul amri.
- Tabah
dalam menghadapi ejekan, celaan dan hinaan.
Hendaknya lapang dada dan tidak cemas. Juga hal itu tidak
boleh menyebabkan muamalah yang tidak baik kepada waliyyul
amri.
- Setelah
memohon pertolongan kepada Allah, hendaknya anda juga
berusaha dengan memohon pertolongan kepada sanak kerabat dan
kawan-kawan dekat yang telah mkndapatkan hidayah Allah.
- Hendaknya
anda memohon pertolongan kepada Allah, terus menerus berdoa
agar diberikan keteguhan dan dikeluarkan dari berbagai
kesulitan, membaca Al-Qur'an terutama saat mendapatkan
celaan, dan hinaan, agar bisa menahan diri--dari godaan
setan.
- Hendaknya
anda tidak menerangkan apa yang anda yakini dengan nada
menggurui atau merasa lebih tinggi, tetapi sampaikanlah
dengan bahasa murid terhadap gurunya, sebab seorang ayah
atau ibu tidak suka melihat anaknya bersikap merasa tinggi
atau sebagai guru terhadap mereka.
- Membalas
keburukan dengan kebaikan.
- Memilih
saat yang tepat untuk mengadakan dialog.
- Hendaknya
ukhti ini sadar bahwa Surga itu sangat mahal, dan sesuatu
yang mahal tidak akan diberikan kecuali setelah kepayahan,
kerja keras dan tabah menanggung berbagai rintangan dan
gangguan di jalan Allah Ta 'ala.
III
.PENUTUP
Setelah
berabad-abad imperialisme kafir mencengkaramkan kukunya di
berbagai negara, muncullah kesadaran lewat berbagai gerakan
kemerdekaan di negara-negara terjajah untuk memerangi para
imperialis tersebut.
Setelah
timbulnya perlawanan yang menelan korban tidak sedikit di pihak
imperialis, balk secara material maupun non material, para
imperialis-kolonialis tersadarkan bahwa pengerahan unsur militer
sudah tidak sesuai lagi. Sebab ia akan membangkitkan semangat
dan perlawanan, yang tentunya bersebrangan dengan niat para
imperialis yang hendak mengeksploitasi kekayaan negara-negara
jajahannya bagi pembangunan negaranya.
Karena itu,
sebelum mereka keluar dari negara-negara jajahannya, mereka
berfikir untuk mendapatkan metodhe lain, selain kolonialisasi
lewat pengerahan militer. Akhimya mereka berhasil menentukan
alternatif lain, berupa ghazwuts tsaqafi (perang budaya dan
pemikiran). Yaitu dengan menjadikan putra-putra kita agar
mengikuti pengaruh, tradisi, kebiasaan dan nilai-nilai kehidupan
mereka. Dengan demikian, mereka menjadi abdi (tangan kanan bagi
imperialisme baru yang tak perlu lagi membutuhkan kekuatan
militer meski hanya satu orang.
Dan inilah yang gencar dilakukan hingga sekarang.
Adapun di
antara perhatian dan sasaran utama mereka dalam ghazwuts tsaqafi
ini adalah wanita. Mereka menginginkan agar para wanita muslimah
menjadi seperti keadaan wanita-wanita mereka. Bebas berteman dan
bergaul dengan laki-laki, mau membuka aurat, berenang dalam satu
kolam bersama laki-laki, menafikan kodrat wanita, memperiuanakan
emansipasi wanita-pria dalam segala hal, sehingga menganjurkan
wanita berkompetisi dengan laki-laki dalam semua lapangan
kehidupan dan sebagainya.
Untuk
mencapai tujuan itu, mereka menerbitkan ratusan buku, majalah
dan koran, memperalat para bintang film dan seniman, memboyong
pertunjukan teater, pemutaran film, dan sinetron, beasiswa
pendidikan, berbagai klub, organisasi dan sarana-sarana lain
yang semuanya ditumpahkan agar sasaran utama mereka berhasil.
Yakni memperbudak negara kita tanpa menggunakan kekuatan
militer, tapi melalui berbagai macam kerusuhan dan kerusakan,
penghancuran nilai-nilai dan tradisi yang bersumber dari agama
kita yang lurus.
Apa yang
kita saksikan dari berbagai bentuk kemungkaran wanita seperti
tabarruj, bepergian tanpa mahram dan sebagainya adalah
hasilghazwuts tsaqafi, yang dilancarkan sejak runtuhnya khilafah
Islamiyah hingga sekarang.
Oleh sebab
itu, merupakan tanggung jawab para ahli kebaikan untuk
menghentikan penggerogotan nilai-nilai dan tradisi kita. Apa
yang kami lakukan melalui penulisan buku ini, adalah satu bentuk
usaha untuk menghentikan ghazwuts tsaqnfi tersebut, sehingga
kita kembali lagi kepada ashalah (kemurnian ajaran Islam),
meninggalkan kehinaan dan tidak mengekor kepada kehendak
orang-orang kafir.
Website �Yayasan Al-Sofwa & Kpim-Alhikmah�
�
|