Halaman depan | Berita Alam | Berita Satwa | Taman Nasional Indonesia | Galeri foto | Lampiran


 

ORANGUTAN

 

 

 

I. ORANGUTAN SECARA UMUM

Orangutan (Pongo pygmaues) adalah primata tercerdas setelah simpanse dan gorilla. Orangutan juga tergolong satwa yang agak lambat berkembang biak. Seekor orangutan betina baru mulai reproduksi pada usia 13 tahun. Jarak antarkelahiran delapan tahun dengan masa mengandung 8,5 bulan. Anak yang dilahirkan pun hanya satu ekor. Bayi orangutan diasuh dan menyusu selama lima sampai enam tahun. Sementara tingkat kematian bayi sekitar 10 persen. Kehamilan terjadi ketika makanan berlimpah. Lambatnya proses reproduksi serta tingginya kebutuhan energi untuk bergerak mencari makan, menyebabkan orangutan memiliki risiko yang tinggi mengalami kepunahan.

Sebagai hewan pemakan buah-buahan, orangutan menyukai buah yang berdaging manis. Mereka juga tergolong pemakan serangga, daun-daunan, bunga-bungaan, kulit kayu, madu, biji-bijian, jamur, dan getah tumbuhan. Menguliti kayu adalah indikasi bahwa orangutan sedang kekurangan makanan. Kenyataan ini yang semakin tampak di sejumlah Taman Nasional dan suaka alam, yang menjadi lokasi penyebaran orangutan. Karena di sana pohon-pohon yang menjadi sumber makanan satwa tersebut telah dibakar dan ditebang oleh manusia. 

Setiap hari, orangutan membuat sarang. Setiap sarang jarang dipakai dua kali. Kalau dimanfaatkan lagi, selalu dicirikan dengan semakin tebalnya sarang tersebut. Namun demikian, sarang yang dibuat hanya bertahan tiga sampai empat bulan. Setelah itu, dibuat sarang baru. Akan tetapi, mengingat luas habitat semakin terbatas, sarang baru pun tidak mudah ditemui lagi. Ini sangat memprihatinkan.

 

II. BUKTI SEMAKIN PUNAHNYA ORANGUTAN KALIMANTAN

Di Pulau Kalimantan, Orangutan hampir punah. Dalam 10 tahun terakhir, satwa langka itu berkurang 30-50 persen atau tinggal 5.141 sampai 7.773 ekor. 

Penyebabnya adalah :

  • maraknya aksi perburuan oleh masyarakat

  • penebangan kayu ilegal

  • pembakaran hutan secara besar-besaran yang dampaknya turut menghancurkan habitat orangutan.

  • kemarau, kebakaran, eksploitasi minyak serta berbagai kegiatan pembangunan yang tidak memperhitungkan dampak ekologisnya

Tahun 1993 populasi orangutan di Indonesia diperkirakan ada 20.000-25.000 ekor, di mana sekitar 10.282-15.546 ekor di antaranya hidup di Kalimantan. Namun, sejak kebakaran hutan pada tahun 1994, yang disusul dengan bencana serupa tahun 1997, populasi binatang tersebut semakin menipis. Demikian pula ketika penebangan kayu yang disertai dengan pembakaran marak, banyak sekali orangutan yang mati terjebak dalam kobaran api. Habitat serta sumber makanan pun rusak, hancur, dan musnah. 

Sejumlah bukti mulai punahnya Orangutan Kalimantan :

  • Taman Nasional Gunung Palung di Kalimantan Barat, yang tadinya di setiap satu kilometer persegi bisa didapati empat ekor orangutan, kini sudah tidak demikian.

  • Di daerah Muara Kaman, Kabupaten Kutai, tadinya dilaporkan populasi orangutan berada di hutan rawa yang masuk Cagar Alam Muara Kaman, di dekat bukit kawasan Syiur. Namun,  degradasi  habitat menyebabkan musnahnya populasi orangutan pada kawasan konservasi itu.

  • Di sekitar Sungai Mahakam dan Sungai Santan dengan luas sekitar 30.000 km2 ditemukan populasi orangutan tinggi, namun akibat kebakaran dan pembukaan lahan menyebabkan daerah ini menjadi mosaik petak hutan sekunder. Kondisi itu menyebabkan orangutan hampir tidak memiliki kesempatan hidup di daerah ini, meskipun populasi sebelumnya cukup banyak.

  • Di wilayah pesisir Kutai, pada 50 tahun pertama abad ke-20 kawasan ini masih tertutup hutan basah yang lebat dan dihuni orangutan. Pada 1930-an sampai 1960-an kawasan ini dilaporkan masih ada orangutan.

    Namun, pada 1970-an, di bagian selatan kawasan ini didirikan kompleks kawasan industri dan lebih dari 1.000 km2 kawasan dibatalkan pengukuhannya sebagai kawasan konservasi. Hutan pada kawasan yang juga terdapat badak Sumatera itu ditebang dan lahannya diberikan kepada perusahaan batubara PT Kaltim Prima Coal (KPC). Dengan investasi 60 juta dolar AS, kawasan ini jadi tambang terbuka yang sangat luas dan menarik minat ribuan orang untuk bermukim, sehingga 1.000 km2 yang merupakan habitat orangutan leyap. Bahkan, habitat orangutan di Taman Nasional Kutai mengalami kerusakan parah pada kebakaran hutan/lahan 1997-1998, karena api menghanguskan sekitar 40 persen dari luas total taman nasional 198.000 Ha.

  • Sedangkan di hutan Taman Nasional Kayan Mentarang, pada 1980-an masih ada orangutan dijumpai, namun kini berdasarkan penelitian WWF (Lembaga Perlindungan Alam Dunia) dan organisasi dunia yang lain sudah tidak ditemukan populasi orangutan.

  • KDataran banjir pada pertemuan Sungai Sembakung dan Sungai Sebuku (Kabupaten Bulungan dan Nunukan) pernah merupakan habitat orangutan terbaik. Namun, berdasarkan penilaian potensi fauna oleh WWF Indonesia, pada 2001 dan 2002 tidak ditemukan lagi orangutan pada daerah dataran banjir Sungai Sembakung dan Sebuku.

Yang harus segera dilakukan :

  • Jaga kelestarian kawasan taman nasional, cagar alam dan suaka margasatwa dari ancaman kaum perusak lingkungan

  • Hentikan penebangan kayu dan pembakaran hutan

  • Jangan semena-mena mengeksploitasi lahan hutan dengan alasan pembangunan atau peningkatan PAD. Perhatikan dampaknya bagi alam dan hayatinya.

  • Tingkatkan kepedulian dan legitimasi masyarakat terhadap kawasan konservasi.

  • Hukum seberat-beratnya bagi pelanggar dan perusak Taman Nasional, Cagar Alam, Suaka Margasatwa serta para pemburu satwa liar.

Jika penebangan kayu tak dihentikan serta pembakaran hutan tak dikendalikan, paling lambat tahun 2020 populasi orangutan di Indonesia akan punah. 

 

Sumber : http://www.orangutan.4t.com dan harian Kompas

 

 

 

 


Copyright© 2002 Rini Th.

Hosted by www.Geocities.ws

1