Halaman depan | Berita Alam | Berita Satwa | Taman Nasional Indonesia | Galeri foto | Lampiran


 

KERUSAKAN ALAM INDONESIA

 

 

Bencana alam berupa banjir dan longsor terjadi dimana-mana. Tidak hanya kerugian materiil, bahkan banyak korban meninggal saat itu juga, belum yang meninggal akibat penyakit pasca  banjir. Tidak bisakah semua itu dicegah, karena sebelumnya peringatan dari banyak pihak telah dilontarkan dan telah banyak dimuat di berbagai media.   

  • DAHSYAT, KERUSAKAN HUTAN DI KALBAR (Kompas, Kamis,19 September 2002)

  • Penyebab : tidak tertanganinya secara serius kegiatan penebangan liar yang terus berlangsung di daerah ini. Setiap tahun, sebesar 864.000 meter kubik atau 80 persen dari lebih satu juta meter kubik kayu hasil tebangan liar di Kalbar dipasarkan ke Sarawak (Malaysia).

    Dari volume kayu itu, dapat dihitung setiap tahun kerusakan hutan alam Kalbar mencapai 28.800 hektar. Jika ini tidak ada upaya menanggulanginya, maka dalam 10 tahun mendatang aktivitas tebangan liar dan sawmill tanpa izin bakal terus meningkat. Diperkirakan, pada tahun 2037, hutan Kalbar akan mengalami kepunahan.

    Demikian dikatakan staf pengajar Universitas Tanjungpura Gusti Hardiansyah di Pontianak, Rabu (18/9). Dst.

    BERITA 23 JANUARI 2003, TELAH LEBIH DARI SEPEKAN SEBAGIAN WILAYAH KALBAR DILANDA BANJIR. AKIBATNYA RIBUAN WARGA KEHILANGAN MATA PENCAHARIAN, RUMAH SERTA BANGUNAN INFRASTRUKTUR DAN RIBUAN TANAMAN PADI TERENDAM. PENYEBABNYA ADALAH KERUSAKAN HUTAN YANG PARAH DI KALBAR.

  • 209.679 Ha AREAL HUTAN WILAYAH PRIANGAN RUSAK (Pikiran Rakyat, Sabtu, 21 Desember 2002)

  • Kerusakan hutan di wilayah Priangan hingga sekarang sudah mencapai 209.679 hektar atau 55% dari luas seluruh hutan yang ada sebanyak 375.573,648 ha. Padahal kawasan hutan tersebut merupakan sumber mata air terbesar di Jawa Barat. Pasokan air tersebut disalurkan melalui sungai-sungai seperti Citarum, Cimanuk, Ciwulan, Citanduy, dll. Jika tidak segera ditangani secara serius akan berdampak buruk terhadap kelangsungan hidup umat manusia, khususnya warga Jabar. Hal itu dikatakan Kepala Badan Koordinasi Wilayah (Bakorwil) Priangan H Hasymi Romly, SH, MBA, MM. Dst.

    Menyinggung tentang kerusakan hutan di Garut, Hasymi menjelaskan, kondisinya sangat memprihatinkan. Penjarahan dan perambahan hutan terjadi di mana-mana. Akibatnya, luas lahan kritis di Garut mencapai lebih dari 29.000 ha.

    Padahal sebagian besar kawasan hutan di Garut terletak di daerah aliran sungai (DAS) Cimanuk. Ketinggian rata-rata di atas 800 meter di atas permukaan laut dengan kemiringan 25 hingga 40% serta peka terhadap erosi tanah. "Melihat kondisi demikian, eksploitasi hutan produksi di Garut harus hati-hati," tegasnya.

    BERITA TGL. 28 JANUARI 2003 JAM 22.00 TERJADI TRAGEDI TANAH LONGSOR DARI LERENG DAN PUNCAK GUNUNG MANDALAWANGI DI GARUT YANG MENIMPA 4 KAMPUNG. 18 ORANG TEWAS TERKUBUR, 3 LUKA BERAT, DAN PULUHAN RUMAH LENYAP. DIPASTIKAN PENYEBABNYA KARENA PERUBAHAN FUNGSI HUTAN DARI HUTAN  LINDUNG MENJADI LAHAN PERTANIAN.

     

     

     

 

 

 

 


 

Copyright© 2002 Rini Th.

Hosted by www.Geocities.ws

1