Proposal Kongres

Mujahidin I Indonesia

Di Yogyakarta

Latar Belakang Pemikiran:

PERJUANGAN ummat Islam, sepanjang perjalanan sejarahnya, mengalami pasang surut hingga sekarang ini. Pasang surut perjuangan ummat Islam berkait erat dengan kondisi serta tantangan yang dihadapinya dalam setiap kurun waktu. Jatuh bangunnya suatu ummat, berdasarkan informasi Qur�an, disebabkan antara lain oleh kejahatan para pemimpin, sebagaimana dinyatakan di dalam firman Allah Swt.:

 

�Bilamana Kami hendak membinasakan suatu negeri, Kami angkat orang-orang yang suka berbuat kerusakan menjadi pemimpin, lalu mereka berbuat durhaka di dalam negerinya sehingga negeri tersebut berhak mendapat adzab, lalu Kami hancurkan negeri tersebut sehancur-hancurnya�. (Qs. Al-Isra�, 17:16).

Prilaku penguasa atau pejabat suatu negara, merupakan barometer utama bagi kejayaan atau keruntuhan suatu bangsa. Seorang pemimpin negara yang berprilaku jahiliyah, berfikir sesat dan bertindak berdasarkan hawa nafsu, kemudian bersikap dzalim kepada rakyatnya, sehingga keadilan serta kesejahteraan tidak dapat terwujud di negerinya, niscaya akan mengundang kerusakan dan bencana. Apa yang menimpa bangsa Indonesia, sejak awal proklamasi kemerdekaan hingga sekarang, merupakan resultante dari gaya kepemimpinan yang sesat dan dzalim. Sebagai akibatnya, berbagai kejahatan merajalela, baik yang dilakukan oleh warga negara biasa, penguasa maupun pejabat pengelola negara.

Ketika suatu negeri mengalami bencana dan malapetaka, yang terjadi akibat kedurhakaan penguasa dan rakyatnya, lalu mereka mengadakan istighasah, menjerit dan berteriak-teriak meminta pertolongan, untuk diselamatkan dari bencana yang menimpa dirinya. Pada saat itu, Allah tidak akan memperkenankan permohonan orang-orang yang memohon, berdasarkan firman-Nya:

 

 

 

�Bilamana datang waktunya Kami menimpakan adzab kepada orang-orang yang berbuat durhaka, tiba-tiba mereka berteriak meminta pertolongan kepada Allah. Janganlah kamu menjerit meminta tolong pada hari ini. Sesungguhnya engkau tidak akan mendapat pertolongan Kami�. (Qs. Al-Mukminun, 23:64-65).

Kini, bersama seluruh ummat beragama di Indonesia, pemerintah menjerit meminta pertolongan ke negara mana saja yang kiranya bersedia memberi pertolongan. Tetapi bangsa Indonesia belum juga mendapat pertolongan yang dapat membebaskannya dari krisis dimensional yang menimpanya.

Para ulama juga tidak mau ketinggalan, ikut menjerit meminta tolong kepada Allah, dengan harapan negeri ini dapat diselamatkan dari bencana kemanusiaan. Akan tetapi mereka menutup mata terhadap dosa-dosa dan kedurhakaan yang merajalela di tengah masyarakat, seperti pelacuran, perjudian, minuman keras dan membiarkan Syari�at Islam dihinakan, yaitu dengan cara menggantinya dengan ideologi serta pandangan hidup lain yang dimurkai Allah. Maka, bagaimana mungkin do�a para ulama seperti itu diijabahi oleh Allah Malikurrahman.

Ummat manusia yang ingkar kepada Syari�at Allah, ibarat masyarakat yang bermukim di tengah belantara tandus. Mereka akan mengalami kesulitan dalam memenuhi kebutuhan hidup. Pada gilirannya, kehidupan mereka penuh dengan permusuhan dan persaingan, karena memperebutkan sumber kehidupan yang terus menerus dilanda krisis. Sebaliknya, masyarakat yang menjalankan Syari�at Allah, mendapatkan Garansi Ilahiyah, dengan kehidupan yang diliputi suasana penuh kemakmuran, karena di tengah masyarakat berjalan keadilan, kejujuran, kedermawanan, persaudaraan, dan sifat-sifat baik lainnya, sehingga hubungan masyarakat berjalan dalam kedamaian dan kerukunan. Suasana demikian, sudah pasti akan mendatangkan kesejahteraan dan kemakmuran bagi masyarakat yang tinggal di negara semacam itu, yaitu negara yang pemerintahnya memberlakukan hukum Allah.

Sejarah kehidupan manusia membuktikan, bahwa masyarakat bangsa yang menolak berlakunya Syari�at Islam, pasti memposisikan kaum dhu�afa sebagai obyek ketidak adilan, sementara para konglomerat dan kelompok mustakbirin, bebas melakukan kedzaliman. Dan suatu bangsa yang tidak menjalankan hukum Allah dan Rasul-Nya, pasti menjadi bangsa yang bobrok akhlaknya, pemimpin mereka pastilah manusia bejat, tidak bermoral, egois, suka menyebarkan fitnah, rakus dan sesat fikirannya sehingga tidak memiliki rasa belas kasihan para rakyatnya.

Bersabda Rasulullah Saw.:

�Dari Ali ujarnya, Nabi Saw. Bersabda:�Bila Allah Azza wa jalla murka kepada suatu kaum, maka kaum itu akan ditimpa adzab. Harga-harga barang menjadi mahal, kemakmurannya menjadi surut, perdagangannya tidak mendapatkan untung, hujan sangat jarang turun, sungai-sungainya tidak mengalir, dan penguasanya adalah orang-orang yang rusak akhlaknya�. (Hr. Dailami dan Ibnu Najjar).

Setelah bangsa Indonesia berhasil mengenyahkan penjajah asing dari negerinya melalui proses perjuangan yang panjang, diharapkan harkat dan martabat ummat Islam meningkat menjadi ummat yang mulia, terbaik, disegani dan dihormati. Akan tetapi yang terjadi justru sebaliknya, akibat dominasi kaum nasionalis sekuler yang sengaja menggeser peran agama dalam kehidupan berbangsa dan bernegara menjadi urusan pribadi belaka, sehingga akibatnya, selama bertahun-tahun di bawah kekuasaan rezim orde lama dan orde baru, telah terjadi de-Islamisasi secara besar-besaran. Dan ancaman yang tidak kalah bahayanya bagi ummat Islam pada era reformasi sekarang ini adalah fenomena Re-inkarnasi Komunisme, dimana segala bentuk simbol-simbol komunis dan berbagai faham yang senada dengan itu, yang dahulu telah dikubur melalui TAP MPRS No. XXV/1966, sekarang ingin diputihkan. Adanya kenyataan politik adu domba antar sesama ummat Islam, adalah bahaya yang lain lagi yang kini mengancam eksistensi kaum muslimin.

Sebab-sebab kehancuran suatu bangsa, berdasarkan argumentasi Qur�ani dan Sunni, sebagaimana termaktub dalam firman Allah dan Hadits Rasulullah di atas, telah kita maklumi. Dan semua itu benar-benar telah terjadi pada bangsa Indonesia, sejak zaman kemerdekaan hingga era reformasi sekarang ini. Bagaimana bangsa ini dapat ke luar dari kemelut dan ancaman kehancuran yang kini telah berada di depan pelupuk mata? Manakala bangsa ini ingin terbebas dari malapetaka, tidak ada jalan lain kecuali kembali kepada jalan Allah, dengan memenuhi seruan-Nya, seperti telah diperintah di dalam al-Qur�an:

 

 

�Penuhilah seruan Allah dan Rasul-Nya, apabila Ia menyeru kamu kepada apa-apa yang menghidupkan kamu�. (Qs. Al-Anfal, 8:24).

Untuk hal ini Allah Swt. memberi garansi (jaminan) dengan firman-Nya:

 

 

 

 

�Sekiranya penduduk negeri-negeri itu beriman dan bertaqwa kepada Allah, niscaya Kami bukakan kepada mereka segala macam barakah dari langit dan dari bumi. Namun karena mereka mengingkari ayat-ayat Kami, maka Kami siksa mereka akibat perbuatan mereka sendiri�. (Qs. Al-A�raf, 7:96).

Mengapa Syari�at Allah tidak bisa dijalankan dan menjadi hukum posisif di Indonesia, sebuah negara dimana jumlah penduduk muslimnya merupakan komponen mayoritas dengan tingkat kesadaran Islam cukup tinggi, dengan memahami bahwa menjalankan syari�at Islam merupakan kewajiban? Mengapa negara yang, oleh bangsa-bangsa lain di kenal sebagai bangsa Timur yang religius, ditimpa malapetaka yang demikian dahsyat dan belum juga ada tanda-tanda akan berakhir? Mengapa pula, para mujahidin di Indonesia belum mampu bangkit bersatu-padu dalam satu shaf yang kokoh kuat demi berjuang menegakkan syari�at-Nya? Dan siapakah kini, di antara ummat Islam yang bersedia memenuhi seruan Allah dan Rasulullah?

Pertanyaan-pertanyaan inilah, di samping pertanyaan menggugah lainnya, yang membangkitkan kesadaran para Mujahidin kurun Abad 21, bangkit dengan tekad bulat berjuang menegakkan Syari�at Allah (Tathbiqus Syari�ah). Sebagai upaya membangun kembali kesadaran dan komitmen setiap muslim, untuk merekonstruksi tegaknya kehormatan dan kemuliaan Islam, maka diawali dengan diselenggarakannya Kongres Mujahidin ini, guna memadukan Visi dan Misi perjuangan dalam satu shaf Mujahidin Indonesia.

Dasar Pemikiran :

Dasar pemikiran yang menggerakkan serta menjadi motivasi diselenggrakannya Kongres Mujahidin I Indonesia, adalah komitmen Qur�aniyah yang tertera di dalam firman Allah berikut ini:

1. Q.S An-Nisa�, 4: 59:

 

�Hai orang-orang yang beriman ta�atilahAllah dan ta�atilah Rasul-Nya, dan Ulil Amri di antara kamu.�

2. Q.S. Asy Syuro, 42:13

 

 

�Dia telah mensyari�atkan bagi kamu Agama yang telah diwasiatkan kepada Nuh dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa yaitu: �Tegakkanlah ad-Dien dan janganlah kamu berpecah belah tentangnya�

3. Qs. Ali Imran, 3:104:

 

 

�Dan hendaklah ada di antara kamu ummat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma�ruf dan mencegah dari yang mungkar. Merekalah orang-orang yang beruntung�.

4. Qs. Al-Ahzab, 33:36:

 

 

�Tidaklah pantas bagi pria dan wanita mukmin akan ada lagi pilihan lain tentang urusan mereka, apabila Allah telah menetapkan suatu keputusan. Siapa yang mendurhakai Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya telah terang sekali sesatnya�.

5. Qs. An-Nur, 24:51,55

 

 

 

 

 

 

 

�Sesungguhnya jawaban orang-orang mu�min bila mereka dipanggil kepada Alloh dan Rasul-Nya agar Rasul menghukum di antara mereka ialah ucapan �Kami mendengar dan Kami patuh� dan mereka itulah orang-orang yang beruntung�

�Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal shalih bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi..... �

Maksud dan Tujuan :

Maksud dan tujuan diselenggarakannya Kongres Mujahidin ini antara lain:

1. Memadukan visi dan missi perjuangan para Mujahidin dalam rangka Penegakan Syari�ah Islam.

2. Membangun satu kesatuan shaf Mujahidin yang kokoh-kuat, baik dalam negeri, regional maupun internasional.

3. Terbentuknya Institusi Mujahidin, dan terwujudnya Dewan Kepemimpinan Ummat sebagai Khalifatullah fil Ardhi.

Tema Kongres :

Tema sentral : �Gerakan Penegakan Syari�ah Islam.�

Sub-tema :�Pelaksanaan Syariat Islam Solusi Krisis Nasional Dalam Mewujudkan Keadilan dan Kesejahteraan Rakyat.�

M o t t o :

�MEMBANGUN INDONESIA YANG ISLAMI�

Pa n i t i a :

Panitia Kongres terdiri dari tiga badan, yaitu :

1. Dewan Penasehat.

2. Panitia Pengarah (Steering Committee).

3. Panitia Pelaksana (Organizing Committee).

Susunan ketiga badan ini (terlampir)

Waktu dan Tempat :

Kongres Mujahidin I, Insya Allah akan diselenggarakan di Yogyakarta pada :

Hari Sabtu, 5-7 Jumadil Ula 1421 H, bertepatan dengan tanggal 5-7 Agustus 2000 M.

P e s e r t a :

Peserta kongres berjumlah 1500 (seribu) orang, yaitu mereka yang mendapat surat undangan dari panitia, terdiri dari peserta dalam dan luar negeri. Peserta yang diundang berasal dari tokoh-tokoh Islam, intelektual muslim, Ormas, Parpol serta Harakah Islam yang mendukung berlakunya Syari�at Islam dalam kehidupan pribadi, masyarakat dan negara. Selain itu, kaum muslimin yang ikut berpartisipasi menyemarakkan suasana selama berlangsungnya kongres mujahidin, baik di lokasi kongres maupun di tempat lain dalam bentuk sosialisasi penegakan Syari�ah Islam, dan mereka bukan peserta undangan, maka mereka disebut Pendukung Penegakan Syari�ah Islam. Konfirmasi peserta kongres diharap sudah sampai ke panitia setengah bulan sebelum kongres diselenggarakan, dengan mengirim lembar isian yang telah disediakan.

Susunan Acara :

Susunan lengkap acara kongres (terlampir).

Biaya Kongres :

Kongres Mujahidin I memerlukan biaya sebesar Rp. 652.300.000,00 (Enam ratus lima puluh dua juta tiga ratus ribu rupiah) dengan perincian anggarannya (terlampir).

P e n u t u p :

Urgensi serta signifikansi dari kongres ini tidak dapat ditawar-tawar lagi. Kongres ini merupakan keperluan yang mendesak ditinjau dari segala segi, bila kaum muslimin masih bercita-cita untuk tegaknya Syariat Islam di muka bumi ini, khususnya di Indonesia. Oleh karena itu, dapat terlaksananya kongres ini merupakan anugerah Allah, dan karena itu menjadi tanggung jawab seluruh kaum muslimin yang mengaku beriman kepada Allah Rabbul Alamin.

Intanshurullaaha yanshurkum wa yutsabbit aqdamakum.Nahnu ansharullah ! Fakku Raqabah !

Yogyakarta, 17 Rabiul Ula 1421 H / 20 Juni 2000 M

Organizing Committee

 

 

 

Hosted by www.Geocities.ws

1