“KEHIDUPAN BANGSA DAN NEGARA DALAM KONSEP ISLAM”

OLEH : ABDURRAHMAN A. BASALAMAH

I. Tatanan Kehidupan Islam

 

Setiap bangsa dan negara mendambakan kehormatan kehidupannya. Sehingga berbagai langkah strategis pada bidang ekonomi, hukum, dan perangkat peralatan sains serta teknologi diterapkan. Hasil yang mereka capai berdasarkan indikator ekonomi pada aspek meteri dapat terlihat adanya kemajuan di balik permasalahan ketimpangan dan kekurangan yang tidak mampu mereka atasi. Demikian pula aspek hukum dengan indikator materinya yang terlihat lengkap di balik permasalahan ketidak adilan dan ketidak pastiannya. Sains dan teknologi dikembangkan dalam memenuhi ambisi ekspansif bangsa dan negara tertentu dalam memenuhi sifat materialis dan individualis mereka dengan gerak keserakahan mengksploitir kekayaan negara lemah atau terkebelakangan pada semua aspek.

Ajaran Islam meletakkan tatanan kehidupan negara dan masyarakat yang berpijak pada kebenaran hakiki (hukum Allah dan Rasul-Nya Muhammad SAW). Dengan pola pijakan keadilan dan ihsan. Pijakan tersebut akan menggerakkan pada semua aspek perjuangan hidupnya baik ekonomi maupun hukum serta sains dan teknologi demikian pula kehidupan pemerintah dan sosial kemasyarakatan, sehingga terbangun tatanan silaturahmi (interaksi islami) dengan pola kehidupan yang memuaskan serta memberi nilai tambah kemanusiaan yang hakiki yakni kehormatan. Tatanan kehidupan inilah yang disebut menyelamatkan, dan tentunya searah dengan arti Islam dalam pendekatan arti. Hal ini dapat digambarkan sebagai berikut :

 Pola dan sistem Islam terbangun untuk kemaslahatan manusia dan alam lingkungannya, sehingga diperoleh kehormatan serta kebahagiaan kehidupannya. Hal ini sejalan dengan perintah Allah SWT :

 (Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran. (An-Nahl : 90).

Perintah Allah tersebut, hendaknya dapat ditegakkan pada semua aspek tatanan kehidupan bernegara, berbangsa dan bermasyarakat. Sehingga sosial ekonomi, hukum dan pemerintahan bergerak secara positif bagi kemaslahatan kehidupan manusia dan lingkungannya yang berajak dari keadilan yang bernuansa kebajikan, untuk kehidupan yang penuh rasa syukur dan keharmonisan pada semua kegiatan, yang pada akhirnya akan membuahkan hasil bagi semua manusia rasa memperoleh kehormatan dan kehidupan yang membahagiakan. Itulah sebabnya dikatakan Islam membawa Rahmat itu akan dirasai pula oleh mereka di luar Islam. Tidakkah kehidupan dewasa ini penuh dengan penyimpangan dan bahkan dapat dikatakan manusia banyak yang hilang kehormatannya karena melakukan perbuatan yang hina (menipu, merampok, dan bahkan membunuh) semua itu jika ditelusuri, karena mereka tidak harmonis dan tidak memperoleh kepuasan dalam kehidupannya, dan penyebab dari ketidak puasan itu adalah ketidak adilan dan tidak diperolehnya kebajikan, bahkan kita hendaknya berani menyatakan karena jauh atau lepas dari sistem Islam yang telah ditetapkan oleh Allah SWT dan Rasul-Nya Muhammad SAW.

Konsepsi Islam sebenarnya untuk menyelamatkan manusia dan alamnya, dan tidak mungkin ada konsep yang dapat menandinginya. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW:

(Ajaran Islam senantiasa utama dan tidak akan ada yang mengunggulinya)

Sabda Rasulullah SAW tersebut dibuktikan oleh Umar bin Khattab, saat mencapai kesuksesan yang demikian mengagumkan ( kesejahteraan ekonomi, keamanan dan keadilan, serta penguasaan Palestina dan berbagai belahan dunia ) saat diberi pujian, beliau menjawab sesungguhnya yang hebat dan seharusnya kalian kagumi adalah konsepsi Islam. Sesungguhnya kalian akan terhormat dan disegani jika benar-benar berpijak pada Islam dan sebaliknya, kalian akan hina karena melepaskan pijakan Islam. Hal ini sebaliknya bagi penganut ajaran agama lain.

Dari aspek Iptek, Islam telah mengantar perubahan peradaban manusia dengan berbagai temuan dan terapan berbagai ilmu pengetahuan dasar, sehingga berbagai permasalahan manusia dapat teratasi. Hal ini sejalan dengan pernyataan Al-Ghazali (1990), perkembangan IPTEK setiap hari mengukuhkan keyakinan kita akan kebenaran Nas Al-Qur’an yang telah meletakkan fikiran manusia pada iklim saintifik serta membentangkan kondisi-kondisi yang diperlukan. Obyek Al-Qur’an adalah untuk membentuk manusia dalam melaksanakan tanggung jawab kekhalifahan, memakmurkan bumi melalui penyingkapan sunnah, penguasaan dan penggunaan serta berurusan dengan baik bersama Al-Qur’an. Orang mu’min dituntut untuk berfikir, melihat perubahan yang terjadi dan melakukan percobaan serta memanfaatkannya untuk kemaslahatan manusia (motivasi amal sholeh) sehingga terdapat perbedaan mendasar dengan motivasi dan perilaku orang-orang kafir.

            Adapun aspek posisi ummat Islam, tentunya akan kembali kepada kesadaran ummat Islam sendiri, sejauh mana mereka sadar akan Al-Qur’an dan As-Sunnah untuk dijadikan pedoman. Sebagaimana Firman Allah SWT,

 

Ayat.....

 

 

 

(Sungguh Allah telah memberi karunia kepada orang-orang beriman ketika Allah mengutus dari mereka sendiri seorang Rasul, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah, membersihkan (jiwa) mereka dengan mengajarkan mereka Al-Kitab dan Al-Hikmah. Dan sesungguhnya mereka sebelumnya dalam kesesatan nyata). (Ali Imran : 164)

 

 

 

(Dia-lah yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang hak agar dimenangkannya terhadap semua agama. Dan cukuplah Allah sebagai saksi). (Al-Fath : 28)

 

 

 

( Pada hari ini telah kusempurnakan bagimu agamamu dan telah kucukupkan kepadamu ni’mat-Ku serta telah Ku-ridhai Islam menjadi agamamu). (Al-Maidah : 3)

 

( Sesungguhnya kutinggalkan kepadamu dua perkara yang engkau tidak akan sesat sedikitpun, yaitu Al-Qur’an dan As-Sunnah).

Ayat dan Hadist tersebut di atas menegaskan kesempurnaan konsepsi Islam dalam menata dan memenuhi kebutuhan hidup dan kehidupan manusia, pada semua aspek kehidupan dunia. Hal ini ternyata merupakan kepastian bagi keselamatan manusia jika mereka mengikuti ketentuan-ketentuan yang telah ditetapkan Allah SWT serta doa yang telah dijabarkan dan dipraktekkan oleh Rasulullah SAW. Kepastian keselamatan inilah yang merupakan identitas dari Ajaran Islam. Yakni keselamatan bagi mereka yang menerima dan mengamalkannya. Hanya saja sejauh mana manusia menyadarinya secara utuh, agar dapat memperoleh manfaat atau ni’mat secara utuh pula. Hal ini telah ditegaskan dalam firman Allah SWT:

 

Ayat.........

 

(Wahai orang-orang beriman masuklah ke dalam Islam secara kaffah dan janganlah engkau mengikuti langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya dia musuh yang nyata bagimu). (Al-Baqarah : 208).

Rasulullah SAW beserta sahabat-sahabatnya, terutama khulafaur rasyidin yang konsisten dengan petunjuk Allah SWT. Sehingga kehormatan hidup mereka didambakan oleh ummat Islam. Allah memberi pujiannya sebagaimana firman Allah pada surat Al-Fath ayat 29

 

Ayat.....

 

 

 

 

(Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka: kamu, lihat mereka ruku’ dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka bekas sujud. Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil, yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya maka tunas itu memberikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah dia dan tegak lurus di atas pokoknya; tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnyakarena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mu’min). Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh di antara mereka pahala dan ampunan yang besar). (Al-Fath : 29).

Firman Allah tersebut diatas, memberi penegasan sikap Rasulullah beserta sahabat-sahabatnya yang tegas (jelas perbedaannya) dengan orang kafir dan Ruhama (berkasih sayang) di antara mereka. Akan terlihat mereka sujud dan ruku’ mencari karunia Allah dan keridhaannya, sehingga mereka mendapatkan kehormatan dan kemuliaan hidup. Hal ini menggambarkan keutamaan silaturahhim dan jamaah dalam kehidupan orang-orang bepada masa Rasulullah SAW, serta tatanan dinamika kehidupan yang senantiasa mengharapkan kelebihan Allah SWT dan keridhaannya. Tentunya keutamaan inilah menjadi perjuangan ummat dewasa ini, karena akan menjadi ukuran keberhasilan. Yakni makin luasnya persatuan dan persaudaraan ummat Islam yang diikat oleh kesadaran ruhama yang mengarah kepada kegiatan untuk mencari kelebihan Allah dan keridhaannya, maka makin kuat pula pertolongan dan rahmat Allah kepada mereka. Hendaknya disadari bahwa pengalaman kehidupan bangsa Indonesia telah bergelut dengan formulasi model-model nasionalis dan sosialis Komunis (Orla/ kiri). Juga telah bergerak secara esensial model Kapitalis (Orba/ kanan) tanpa hasil yang memuaskan , sehingga saatnya kita memilih model Islam (Keselamatan / lurus).

 

 

 

II. Perjuangan di jalan Allah dan Rasul-Nya Muhammad SAW.

 

Dinamika kehidupan manusia senantiasa akan dipertahankan pada beberapa kemungkinan jalan yang akan ditempuhnya. Jika kita rujuk pada Al-Qur’an (surah Al-Fatehah) maka ada tiga kemungkinannya, sebagaimana Firman Allah SWT:

 

Ayat......

(Yaitu) jalan oreang-orang yang telah Engkau anugerahkan ni’mat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat. (Al-Fatehah : 7 )

Manusia yang mendapat ni’mat (hidayat) Allah SWT, yakni mereka yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya Muhammad SAW. Hal ini tergambar dalam Al-Qur’an (An-Nisa’ : 69) Firman-Nya:

 

 

Ayat......

(Dan barangsiapa mentaati Allah dan Rasul (Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi ni’mat oleh Allah, yaitu : Nabi-nabi, para siddiqien (mereka yang teguh kepercayaan kepada Rasulullah Muhammad SAW), orang-orang yang mati syahid dan orang sholeh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya). (An-Nisa’ : 69).

Ayat yang menyinggung tentang ni’mat Allah tidak kurang dari 17 ayat, serta 2 ayat mengingatkan akan kecenderungan manusia berpaling dan membelakangi (perintah Allah dan Rasul-Nya) dengan sikap yang sombong. Peringatan ini terlihat pada surahAl-Isra : 83 dan Fushilat 51 ;

 

 

(Dan jika kami berikan kesenangan kepada manusia niscaya mereka akan membelakangi dengan sikap yang sombong, dan apabila ditimpa kesusahan niscaya dia berputus asa). (Al-Isra’: 83)

           

 

(Dan apabila Kami memberikan ni’mat kepada manusia, ia berpaling dan menjauhkan diri ; tetapi apabila ia di timpa malapetaka maka ia banyak berdo’a). (Fushilat : 51)

Pada aspek lain Allah menegaskan, bahwa ni’mat yang diharapkan ataupun yang akan terlepas dari manusia, akan kembali kepada sejauh mana kesadaran dan keinginan serta usaha manusia itu sendiri. Sebagaimana firman Allah SWT :

 

 

(Yang demikian (siksaan) itu karena sesungguhnya Allah sekali-kali tidak akan merubah sesuatu ni’mat kaum yang telah dianugerahkan-Nya kepada suatu kaum, hingga kaum itu merubah apa yang ada pada diri mereka sendiri). (Al-Anfaal : 53)

            Sejalan dengan pandangan Al-Ghazali yang menyatakan bahwa, keadaan ummat Islam dewasa ini sangat menyesakkan dada dan dapat melahirkan pesimisme. Tapi saya yakin cobaan itu akan lenyap sebagaimana cobaan yang pernah terjadi masa silam. Namun lenyapnya cobaan tidak seperti lenyapnya awan mendung yang ditunggu sambil berpangku tangan. Ummat Islam harus bekerja giat dengan menghayati dan mengamalkan Islam secara utuh dan benar dengan penuh keyakinan serta dengan akhlaq yang luhur disertai usaha sekuat tenaga dengan pikiran yang jernih serta keikhlasan dalam berjuang dan beramal sholeh. Tanpa dasar perjuangan tersebut mustahil ummat Islam akan berhasil. Hal ini tentunya searah dengan peringatan Allah SWT :

 

 

(Adapun mereka yang berjuang untuk kami, sungguh akan kami tunjukkan kepada mereka jalan kami. Dan sesungguhnya Allah akan beserta orang-orang yang menegakkan ihsan).(Al-Ankabut : 69).

Menggerakkan semangat jihad merupakan ruh yang harus dihidupkan pada jiwa setiap pribadi mu’min. karena semangat jihad itulah yang akan mengarahkan kita ke jalan yang diridhai Allah SWT. Hanya saja perlu dijadikan renungan bahwa jihad benar-benar diridhai Allah, adalah jihad yang ditegakkan dengan ihsan. Yakni yang terbaik dan terpuji di sisi Allah SWT, sehingga kita tidak mendapat murka atau menjadi sesat.

Sebagaimana kita ketahui, Rasulullah SAW menyatakan adanya jihad besar dan kecil. Yang besar berhubungan dengan jihad hawa nafsu, karena berkenaan dengan rohaniah dan yang kecil berkenaan dengan fisik. Di sinilah perlunya kita berusaha untuk memadukan antara jihad kecil dan besar, untuk itulah kita harus memformulasikannya dengan baik antara semangat dan tujuan serta langkahnya, sehingga kita memperoleh kedua pahala jihad tersebut. Jihad merupakan ruh Islam yang harus terformulasi dan terakomodasi dalam kehidupan setiap pribadi mu’min sehingga mereka memperoleh jati diri seorang mu’min. Bahkan Allah sangat memuji

 

 

(Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berperang di jalannya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh. (Ash-Shaf 4).

 

 

 

 

 

 

 

(Hai orang-orang yang beriman, sukakah kamu Aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkan kamu dari azab yang pedih. Hendaklah kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya serta berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagi kamu, jika kamu mengetahuinya. Niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosamu dan memasukkan kamu ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, dan dengan tempat tinggal yang baik di dalam surga ‘Adn. Itulah keberuntungan yang besar. (Ash-Shaf :10, 11, 12)

Pernyataan Allah tersebut merupakan motivasi sekaligus prestasi kehidupan yang mulia bagi manusia yang cinta kepada Allah dan Rasul-Nya Muhammad SAW, dalam mengisi kehidupan yang terpuji di sisi Allah melalui jihad. Pada ayat tersebut juga mengingatkan perlunya gerakan yang teratur, terpadu dan kokoh sehingga berhasil memperoleh kemenangan. Perjuangan yang berjalan berdasarkan ketentuan Allah dan Rasul-Nya Muhammad SAW, jika mereka yang berjuang tersebut wafat maka Allah akan memberikan kehormatan dan kegembiraan. Sebagaiman firman Allah SWT dan Hadist Rasulullah SAW;

 

 

 

 

 

 

(Jangan kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati, bahkan mereka itu hidup di sisi Tuhannya dengan mendapat rezki. Mereka dalam keadaan gembira disebabkan karunia Allah yang diberikannya kepada mereka serta ingin menyatakan kegembiraanya kepada mereka yang belum menyusulnya agar mereka tidak takut dan gentar. Mereka bergembira hati dengan ni’mat dan karunia yang besar dari Allah, dan sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang beriman. (Ali ’Imran : 169-171)

(Sesungguhnya dalam syurga terdapat seratus tingkatan dan Allah menjanjikan kepada para mujahidin di jalan Allah di antara dua tingkat dengan jarak antara tingkatan sebagaimana jarak langit dan bumi. Hadits diriwayatkan oleh Abu Hurairah RA).

Setiap mu’min yang bertaqwa akan mendambakan khusnul khotimah dalam akhir kehidupan dunianya, dan tentu khusnul khotimah yang pasti adalah syahid. Itulah sebabnya setiap kelompok mujahid akan menggunakan prinsip ibadah pada semua aspek kegiatannya sehingga aktivitas yang dilakukan senantiasa mendapat hidayah dan inayah Allah SWT serta langkah dan strategi yang terpuji (ihsan sehingga Allah akan beserta mereka, sebagaimana ayat yang telah dikemukakan. Demikian pula jika kita menelaah firman Allah dan Sabda Rasulullah SAW yang demikian mengembirakan perjuangan mujahidin, sehingga dapat kita katakan bahwa menyatukan diri dalam barisan mujahidin merupakan fardu ain atau kifayah;

Ayat...

 

 

 

 

 

(Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mu’min, diri dan harta mereka dengan memberikan syurga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah, lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al-Qur’an . dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang talah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar). (At-Taubah : 111).

Semangat jihad penting dihidupkan karena merupakan bagian Islam, dan hilangnya kehormatan ummat Islam karena hilangnya semangat jihad pada diri mereka. Itulah sebabnya ummat pada masa lalu sangat terhormat dan dihormati kerena pada diri mereka ada ruhul Islam yakni semangat jihad. Tentunya kesadaran tersebut secara totalitas, yakni jihadul asghar (material) dan akbar (moral atau akhlak) dalam mengendalikan hawa nafsu.

 

 

III. Gerakan kekhalifahan Islam

 

Gerakan Kekhalifahan Islam tentunya mendambakan janji Allah SWT, sebagaimana firman-Nya;

Ayat....

 

 

 

 

 

 

(Allah telah memberi janji kepada orang-orang yang beriman diantara kamu dan beramal sholeh, bahwa sungguh Dia (Allah) akan menjadikan mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan (memudahkan) bagi mereka (pengamalan) agama yang telah diridhoinya, dan Dia akan menukar (keadaan) mereka dari dalam ketakutan menjadi aman sentosa (tenteram).Hendaknya mereka menyembah-Ku dan tidak syirik dengan sesuatupun juga selain Aku., Dan barang siapa kufur setelah itu maka mereka itulah orang-orang yang fasik).(An-nur: 55)

Berdasarkan ungkapan ayat Al-Qur’an dan Al-Hadist di atas, maka perjalanan ummat Islam dapat dikatakan mengalami pasang surut seirama dengan gerak pijakan kesadaran mereka kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah. Makin kuat perpanduan pengalaman pola pikir orang beriman (aqidah) dan perilaku terpuji (amal shaleh) makin kuat kemapanan dan kehormatannya. Hal ini tergambar dalam perjalanan sejarah ummat Islam sejak Rasulullah hingga Khulafaur rasyidin yang mampu memposisikan ummat Islam pada posisi kemapanan dan kehormatannya. Hal ini tentunya tidak terlepas dari ketaatannya kepada Allah dan Rasul-Nya Muhammad SAW (keimanan) serta kemampuan mereka menegakkan perbuatan yang terpuji (amal sholeh).

Sejarah telah membuktikan, berbagai sistem yang telah dikembangkan oleh manusia dalam kehidupan bangsa/ negaranya. Tetapi berbagai permasalahan tidak mampu teratasi, misalnya bidang sosial ekonomi dengan masalah ketimpangan dan pengangguran; politik dan pemeritahan dengan masalah ambisi pribadi, persaingan dan keserakahan; hukum dan kebebasan dengan masalah kedzaliman, kekufuran dan kefasikan dalam interaktif aturan dan nilai yang lepas dari akhlak.

Republik Indonesia dengan perilaku masyarakat yang harmonis, damai serta suka tolong menolong, mengalami pergeseran nilai kehidupan dengan perubahan pola dan sistem pemerintahan yang diatur berdasarkan aturan yang dibuat oleh penjajah Belanda masa lalu. Landasan kehidupan masyarakat, hukum dan ekonomi serta pemerintahannya tetap termodifikasi berdasarkan pijakan dasar yang telah diletakkan oleh penjajah. Itulah sebabnya semua aspek berkiblat ke Belanda dan Eropa ataupun Amerika, karena pola dasarnya dirancang dan dibuat oleh mereka dengan pijakan berfikir untuk kepentingan mereka. Bahkan tidak mengherankan perilaku pemerintah di RI atau negera-negara yang pernah di jajah akan bersifat eksploitatif dan terkesan memecah belah bahkan mengadu-domba antara kekuatan masyarakat yang ada, bahkan cenderung melemahkan setiap kekuatan Islam. Karena penjajah telah merancang hal tersebut.

Gerakan taqaddum (kemajuan) ummat Islam tidak terlepas dari pijakan yang telah diletakan Rasulullah SAW, sebagaiman tergambar dalam Al-Qur’an;

Ayat....

 

 

 

(1. Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu kemenangan yang nyata. 2.supaya Allah memberi ampunan kepadamu terhadap dosamu yang telah lalu dan yang akan datang serta menyempurnakan ni’mat-Nya atasmu dan memimpin kamu kepada jalan yang lurus. 3.dan supaya Allah menolongmu dengan pertolongan yang kuat (banyak)). (Al-Fath : 1 - 3).

 

Ayat di atas menegaskan tentang “keberhasilan nyata” atau kemajuan yang tidak semu dan menipu. Karena semua kegiatan berjalan dari kesadaran mencari ridha Allah yang bernuansa pengampunannya, sehingga Allah memberi pertolongan yang mengangkat kehormatan atau kemuliaan pada orang mu’min, karena Allah menyempurnakan ni’matnya dengan memberi petunjuk jalan yang lurus atau benar berdasarkan gerak khasanah yang ditetapkan Allah dan Rasul-Nya Muhammad SAW (Al-Qur’an dan As-Sunnah). Untuk itulah, hendaknya kaum muslimin sadar, bahwa hanyalah dengan Keimanan dan Ketaqwaan (Amal Shaleh) kita akan mendapatkan kehormatan hidup dan kehidupan.

Secara hakiki ketaqwaan dan amal shaleh, jika kita beri makna yang benar adalah “ketaatan melaksanakan perintah Allah dan Rasul-Nya Muhammad SAW serta menjauhi larangan-Nya”. Perintah dan larangan merupakan hukum bagi manusia dalam menggerakan kegiatannya, untuk itulah kita harus menegakkan Syariat Islam. Karena hanyalah dengan tegaknya Syariat Islam barulah berarti kita menegakkan perintah Allah dan Rasul-Nya serta menjauhi larangan-Nya. Sekaligus barulah kita akan mendapatkan janji-janji Allah dan Rasul-Nya sebagaimana ayat dan hadist yang telah dikemukakan. Bahkan itulah yang dimaksud dengan pernyataan janji Allah, kehidupan pada dua surga. Yakni surga dunia dan akhirat;

Ayat....

 

(Dan bagi orang yang takut akan saat menghadap Tuhannya ada dua syurga). (Ar-Rahman 46)

Perkembangan pemikiran yang filosofis dan meremehkan ruh wahyu serta merenggangnya konsep keimanan dan akhlaq dalam pengembangan sains dan teknologi terapan. Hal ini tidak terlepas dari terbuka luasnya pusat-pusat pemerintah Islam yang makin dikembangkan. Sehingga berbagai benturan kelompok antara bangsa terjadi, misalnya masuknya pasukan Mongolia dan menghancurkan Bagdad serta melemahnya pemerintahan Islam di Istambul. Pada sisi lain wilayah garapan yang demikian luasnya minuman keras, wanita dan lain ragam kegemaran.

Apa yang dialami ummat Islam dalam perjalanan sejarah memberi pembuktian akan runtuhnya kemulnyaan dan kehormatan jika pemerintahannya lemah dalam menegakkan perintah Allah dan Rasul-Nya (Hukum Allah tidak ditegakkan). Sehingga kehidupan mereka akan senantiasa diperhadapkan dengan permasalahan meresapnya perbuatan-perbuatan kufur. Demikian pula perilaku dzalim-mendzalimi serta perbuatan fasik (penyimpangan dan pengrusakan). Hal ini searah dengan tuntutan Allah dan Rasul-Nya, bagi Umat Islam harus menegakkan hukum Allah dan Rasul-Nya sehingga terlepas dari permasalahan di atas. Sebagaimana Firman-Nya;

Ayat....

 

 

(Tidaklah patut bagi orang mu’min dan mu’minah, jika Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu perintah, akan ada bagi mereka pilihan lain dari urusan mereka. Dan barang siapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya, maka sungguh mereka telah sesat dalam kesesatan yang nyata). (Al-Ahzab : 36).

 

 

(..., maka hendaklah mereka yang menyalahi perintah Rasul takut akan ditimpa cobaan atau azab yang pedih). (An-Nur : 63)

 

 

 

( Sesungguhnya jawaban orang- orang mu’min jika mereka dipanggil kepada hukum Allah dan Rasul-Nya untuk ditegakkan, mereka akan sama berkata “ Kami mendengar dan patuh”. Dan mereka itulah orang yang beruntung).- (Dan barang siapa yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya serta takut kepada Allah dan bertaqwa, maka mereka itulah orang- yang berhasil menang).       (An-Nur : 51 - 52).

 

 

 

 

 

44. Barang siapa yang tidak menegakkan hukum Allah, maka mereka itu orang kafir.     45. Barang siapa yang tidak menegakkan hukum Allah, maka mereka itu orang dzalim.  47. Barang siapa yang tidak menegakkan hukum Allah, maka mereka itu orang fasik).

(Al-Maidah : 44, 45, 47).

Berdasarkan ayat tersebut di atas, tergambar ketetapan Allah dan Rasul-Nya merupakan pilihan satu- satunya semua aspek kehidupan orang beriman. Sehingga penyimpangan adalah kesesatan hidup dan perjuangan yang sia-sia. Di samping itu mereka akan dihadapkan dengan cobaan atau azab. Itulah sebabnya orang mu’min jika diajak kepada pola dan sistem Islam, mereka akan sama berkata kami patuh sehingga mereka akan memperoleh kehormatan hidup serta keberuntungan.

Jika kita mengamati secara jujur bagaimana perilaku kedhaliman dalam bidang ekonomi atas kelas menengah ke bawah dengan tingkat kemampuan efisiensi dan produktivitas produksi yang rendah diberikan beban biaya modal (bunga) yang sama dengan mereka para konglomerat pada posisi monopoli.

Untuk tegaknya Islam secara kaffah maka ummat Islam hendaknya menetapkan langkah strategis, sebagai berikut :

1).        Ummat Islam hendaknya memapankan sikap dan perilaku (akhlak) Islam, khususnya membangun jama’ah (persatuan) dan silaturrahim.

2).        Organisasi Islam secara nyata menyatakan dukungan tegaknya pola dan sistem Islam pada semua aspek kehidupan dan ummat. Hal ini tidak menutup kemungkinan terbangunnya organisasi Mujahidin Indonesia ataupun Partai Mujahidin Indonesia.

3).        Pemerintah diharapkan mampu mengakomodasi pola dan sistem Islam secara menyeluruh (bukan hanya Haji dan Nikah), dalam memenuhi tuntutan kebutuhan ummat Islam secara benar untuk membuktikan kebenaran Islam.

 

 

 

 

 

Hosted by www.Geocities.ws

1