|
PROSES TERJADINYA EREKSI
Nur Rasyid Sp.U
Departemen Urologi RSCM- FKUI
Bidang Kontap Pria PKMI
Mekanisme
Ereksi
Sistem
Persarafan Ereksi

Pada dasarnya mekanisme ereksi terjadi melalui proses
neurologis dan hemodinamik yang dikontrol oleh faktor psikologis.
Sehingga penyebab disfungsi ereksi dibagi menjadi faktor psikologis dan
faktor organik yang dapat disebabkan oleh kelainan pada pembuluh darah
(vaskulogenik), persarafan (neurogenik) dan hormon (endokrinologik)
(Carbone, et al 2004). Rangsangan seksual akan diolah pada
susunan saraf pusat di beberapa tempat terutama di jaras supra spinal
yaitu area preoptik medial (MPOA) dan nukleus paraventrikularis (PVN)
dihipotalamus dan hippokampus yang merupakan pusat integrasi fungsi
seksual dan ereksi. Penelitian pada binatang dengan
melakukan elektro stimulasi pada area tersebut akan menimbulkan
terjadinya ereksi, sebaliknya lesi pada daerah itu seperti stroke,
ensefalitis, epilepsi lobus temporal dan Parkinson akan menurunkan
frekuensi kopulasi dan disfungsi ereksi.(Sachs
& Meisel, 1988;
Marson, et al,
1993). Berbagai macam neurotransmiter seperti dopamin dan norepinefrin
ditemukan pada hipotalamus diduga aktivasi reseptor kedua
neurotransmiter akan menyebabkan terjadinya ereksi, sedangkan aktivasi
reseptor serotonin ( 5-hydroxytryptamine) akan menghambat
terjadinya ereksi (Foreman & Wernicke, 1990). Penyuntikan apomorfin
dengan dosis 5ng pada PVN pada tikus jantan akan menyebabkan ereksi
tanpa adanya tikus betina(Melis, et al 1987). Efek pemberian
apomorfin akan meningkatkan produksi Oksida Nitrat (NO) sebagai
neurotranmiter penting terjadinya ereksi terutama pada PVN(Melis, et
al 1996). Sebaliknya lesi pada PVN sangat menurunkan kemampuan
ereksi pada pemberian apomorfin. (Argiolas, et al 1987) Dari
penelitian tersebut diduga kuat bahwa aktivasi reseptor dopaminergik di
PVN berperanan pada terjadinya ereksi yang di induksi dengan apomorfin.
(Allard & Giuliano, 2004).

Rangsangan dari susunan saraf pusat akan
dilanjutkan pada tingkat medula spinalis yang mempunyai dua pusat
persarafan ereksi, sistem persarafan parasimpatis yang merupakan pusat
rangsangan terjadinya ereksi (erektogenik) terletak pada segmen sakrum
(S2 - S4) pada manusia nukleus parasimpatis terutama terdapat di saraf
preganglion parasimpatis pada columna intermedio lateral medula spinalis
sakrum S3. Akson parasimpatis akan melalui nervus pelvikus menuju
pleksus pelvis dan bersinap dengan persarafan post ganglion dimana akson
menujun ke nervus cavernosus.(Nadelhaft, et al 1983; Allard &
Giuliano, 2004) Sistem persarafan simpatis yang terutama menghambat
ereksi (erektolitik) pusatnya terletak pada kolumna intermedio lateral
dan komisura dorsal abu abu pada segmen torakolumbal (T11 – L2) medula
spinalis. (Nadelhaft, et al 1987, Allard & Giuliano, 2004)
Penis di persarafi oleh sistem persarafan
otonom (simpatis dan parasimpatis) pada daerah pelvis kedua saraf
bersatu membentuk nervus kavernosus yang masuk ke dalam korpus
kavernosus, korpus spongiosum dan gland penis untuk pengaturan aliran
darah selama ereksi dan detumesen. Sistem persarafan somatis yaitu
nervus pundendus berperan sebagai sensorik penis dan kontraksi dan
relaksasi otot otot lurik bulbokavernosus dan isciokavernosus (Lue,
2000).
Sistem persarafan tersebut bertanggung jawab
terhadap terjadinya tiga macan tipe ereksi : psikogenik, refleksogenik
dan nokturna. Ereksi psikogenik yang terjadi karena rangsangan
pendengaran, penciuman dan fantasi yang diolah pada susunan saraf pusat
akan dilanjutkan pada pusat ereksi di medula spinalis (T11-L2 dan S2-S4)
sehingga terjadi ereksi. Ereksi refleksogenik yang terjadi karena
rangsangan perabaan pada organ genital dan sekitarnya, akan menuju pusat
ereksi di medula spinalis yang akan menimbulkan persepsi sensoris yang
akan mengaktifkan sistem saraf otonom untuk menyampaikan rangsangan pada
nervus kavernosus sehingga terjadi ereksi. Tipe ereksi ini akan tetap
terjadi pada pasien dengan cedera medula spinalis diatas segmen sakrum
2. Ereksi nokturna umumnya terjadi selama tidur rapid eye movement
(REM). Selama tidur REM akan mengaktifkan sistem saraf kolinergik yang
terletak pada tegmentum pontin lateral, sehingga terjadi peningkatan
ketegangan penis.(Lue, 2002)
Anatomi dan Fisiologi Ereksi pada Penis

Fisiologi
dan anatomi ereksi telah disimpulkan dari berbagai penelitan dengan baik
oleh Krane dkk 1989. Penis mempunyai sepasang korpus kavernosus dan
sebuah korpus spongiosum. Korpus spongiosum, merupakan jaringan yang
mengelilingi uretra dan pada bagian distal membentuk bagian kepala
(gland) penis. Sedangkan korpus kavernosus berbentuk sepasang tabung
yang mengecil dibagian ujung proksimalnya. Tunika albugenia, pembungkus
tabung ini melekat pada jaringan kavernos yang berongga-rongga
(spongelike) sehingga terbentuklah ruang-ruang (lakuna) yang saling
berhubugan dan dibatasi oleh sel-sel endotel pembuluh darah. Dinding
trabekulum ini terdiri dari seberkas otot polos yang tebal dalam bingkai
serat fibroelastik yang mengandung sel-sel fibrolast, jaringan kolagen
dan elastin.(Taher, 1993)
Sumber pendarahan adalah arteri dorsalis penis dan arteri kavernosus
kanan dan kiri yang lebih berperanan pada prorses ereksi merupakan
cabang akhir dari jalinan arteri hipogastrik kavernosus.
Arteri kavernosus bercabang membentuk
arteri helisine, cabang dari setiap arteri helisine langsung berakhir di
ruangan lakuna tersebut. Sedangkan aliran pembuluh balik dari korpus
kavernosus keluar melalui venula subtunika yang terletak diantara bagian
perifer jaringan penegang (erectile) dengan tunika albugenia.
Aliran vena dari ujung penis mengalir terutama melalui vena dorsalis
profunda, sedangkan aliran bagian pangkal krura biasanya melalui vena
kavernosus dan vena kruralis (Lue, 1988).
Ereksi akan terjadi diawali relaksasi otot
polos korpus kavernosus penis (Taher, 1993). Dilatasi dinding kavernosa
dan arteri helisine menyebabkan darah mengalir memasuki ruangan-ruangan
lakuna. Selanjutnya, relaksasi otot polos trabekulum akan memperluas
ruangan lakuna sehingga penis menjadi membesar.
Tekanan darah sistemik yang disalurkan
melewati arteri helisine akan lebih mendorong dinding trabekulum ke arah
tunika albugenia. Sebaliknya mekanan pleksus venula subtunika sehingga
menghambat pengembalian darah dari ruangan lakuna dan meningkatkan
tekanan dalam lakuna sehingga penis menjadi tegang (Taher, 1993). Adanya
tekanan dalam lakuna selama periode ereksi dihasilkan oleh keseimbangan
antara tekanan perfusi arteri kavernosa dengan tahanan terhadap
pengeluaran aliran darah oleh kompresi venula subtunika. Pengurangan
aliran darah balik subtunika oleh penekanan mekanik ini, dikenal sebgai
mekanisme oklusi vena korporal.
 
Flasid (detumesen) Ereksi (tumesen)
 |