Mitra bisnisku (jilid 3)
Ketika kami mulai berhenti berbicara, saya mencoba
mendekatkan badan ke dia, dan rupanya dia menyesuaikan diri juga. Dengan perlahan tangan
kanan saya lepaskan dari tangannya begitu juga tangan kiri saya lepas dari pinggangnya dan
melingkarkan kedua tangan saya ke belakang pinggangnya, dan dia pun mengikutinya, tapi dia
melingkarkan tangannya agak ke atas, sehingga terasa sentuhan tangannya yang hangat itu ke
bagian punggung saya yang terbuka itu. Suasana semangkin romantis, dan kami makin
merapat.Saya merasakan denyut jantungnya yang semakin cepat, saya pun sama, apalagi
payudara saya yang tanpa BH itu menempel dengan rapatnya ke dadanya, puting saya terasa
mengeras yang hanya ditutupi sehelai kain sutra yang tipis, dia pun pasti merasakannya.
Dia pun bereaksi, terutama ketika saya menekankan bagian bawah saya ke dia, penisnya
mengeras dan terasa agak besar miliknya. Kepala saya rebahkan ke dadanya, dan kini
sementara tangan kanannya tetap diam pada posisi semula, di punggung bawah sekitar
pinggang, tangan kirinya mulai naik perlahan-lahan ke atas dan berhenti di pertengahan
punggung, terus bergeser ke kanan hingga ujung salah satu jarinya menyentuh bagian
payudara saya yang sedikit tidak tertutup dari celah samping belakang gaun saya.
Saya sedikit mendesah sambil menutup mata, tapi sepertinya dia tidak dengar. Sampai
beberapa saat terus kami dalam posisi begini, dan tidak ada satu kata pun yang keluar dari
kami. Musik berhenti, rupanya waktu istirahat untuk pemain band, dan kami pun kembali ke
bar tempat semula kami duduk. Waktu telah menunjukkan pukul 23:30.
Saya kembali berbicara mengenai bisinis, "Saya rasa tidak ada yang kurang lagi dengan
kontrak kerja kita yang kedua itu dan percayalah sama saya," dengan nada meyakini
nya.
"Coba kita lihat lagi sama-sama kontraknya, mungkin ada yang saya bisa bantu lebih
jelas," sekali lagi saya meyakinkannya.
"Kalau begitu saya ambil dulu surat kontraknya dan kita ketemu di loby,"
ucapnya.
"Kalau Pak Robert tidak keberatan kita langsung saja ke kamar bapak dan kita bahas
disana."
"Boleh, kalau ibu mau silahkan."
Selama perjalanan kami tidak ada pembicaraan. Kamar dibuka dan kami masuk, di dalam
keadaannya rapih dan luas dan memang ini sweet room.
Dia menuju tempat tidur dan duduk di tepi tempat tidur sambil mengambil tas kerjanya untuk
mengambil dokumen, sementara itu saya mengikutinya dari belakang, dan menyalakan radio
yang ada di dekat tempat tidurnya, alunan musik yang lembut memenuhi ruangan, dan saya
kemudian duduk di sampingnya. Karena tempat tidur agak rendah posisinya, belahan samping
baju saya terbuka lebar, tapi saya biarkan saja. Sambil membuka buka dokumen,
sebentar-sebentar dia mencuri pemandangan paha saya yang kelihatan dari belahan gaun. Saya
berusaha menerangkan satu persatu pasal-pasal yang dia anggap ragu, tapi sepertinya dia
sudah tidak terlalu konsentrasi lagi. Tidak lama setelah saya menjelaskan semuanya
tiba-tiba dia mengambil ballpoint dari tasnya dan,
"Saya tandatangan malam ini saja deh," sambil tersenyum.
"Pokoknya saya percaya deh dengan perusahaan ibu," dan dia pun
menandatanganinya. Saya balas dengan berjabat tangan.
"Ibu mau minum apa? wah hanya ada beer dan wisky saja tapi..." dengan nada
kecewa.
"Kalau begitu saya minta scotch saja deh." Dia mengangguk dan menyiapkan dua
gelas dan mengeluarkan es dari kulkas. Sementara itu saya minta izin mau ke kamar kecil.
Di dalam kamar kecil yang jadi satu dengan kamar mandi dan dengan kaca yang besar saya
merapihkan baju dan merapihkan rambut dan menambah lipstik lagi yang mulai pudar.
Ketika selesai saya merasa tidak enak di celana dalam saya, dan ketika saya mau
membenarkan, bagian depannya saya pegang, ternyata basah. Mungkin tadi waktu kami dansa
dan saya terangsang sampai basah. Saya bingung, bagaimana ya, dipakai terus tidak enak
rasanya. Akhirnya saya putuskan untuk melepaskannya dan saya masukkan ke dalam tas kecil
saya. Begitu saya keluar, Pak Robert baru selesai membuatkan scotch untuk berdua. Saya
ambil gelas yang satu dari tangan dia dan terus berjalan menuju jendela sambil melihat
pemandangan di luar, sudah pukul 0:30, jalanan sudah tidak banyak mobil, sementara itu dia
duduk di ujung tempat tidur sambil memandang saya dari belakang. Saya baru sadar di depan
saya ada lampu dinding yang agak terang, rupanya dia lihat bayangan badan saya yang
samar-samar kelihatan dari balik gaun. Tapi saya diam saja tanpa reaksi terus
memperhatikan jendela.
Tidak lama dia melepas jasnya dan berdiri menghampiri saya, tapi di tengah- tengah dia
berhenti dan dengan suara agak ragu dia bertanya kepada saya,
"Maukah ibu dansa lagi dengan saya di sini?"
"Emm, enak juga ya mungkin, lagunya juga enak dan tenang lagi, ya boleh," saya
membalasnya sambil mendekatinya. Minuman saya letakkan dan langsung kami berdansa. Kali
ini kami langsung merapat dan saling merangkul pinggang pasangan masing-masing. Semakin
lama suasana semankin romantis, kepala saya sudah merebahkan ke dadanya, dan bagian bawah
mulai saya tekan ke dia, reaksi sudah kelihatan, punyanya mengeras.
Puting saya sudah dahulu mengeras dan sangat kencang terasa. Seperti ingin lebih
merasakannya, kedua tangannya mulai turun ke bawah dan memegang bagian pantat saya dan
mendorongkannya ke badannya sehingga lebih terasa bentuk penisnya yang menekan bagian
bawah saya. Tangannya mulai mengelus-ngelus pantat saya dari luar gaun saya sambil
terkadang meremasnya, saya tidak menunjukkan reaksi apa-apa, berarti ada lampu hijau dari
saya, dia terus melakukannya berkali-kali, dan saya tetap diam sambil merasakan
kenikmatan. Tidak lama kemudian kedua tangannya bergeser ke bagian pangkal belahan gaun di
pertengahan kedua paha saya, dan dengan cepatnya kedua tangannya menyelinap ke dalam
belahan gaun dan mencoba memegang pantat saya dari dalam. Dia mulai meraba-raba pantat
saya seakan mencari sesuatu. Sepertinya dia mencari celana dalam saya, padahal saya sudah
tidak pakai lagi. Begitu dia sadar bahwa saya tidak memakai celana dalam, wajahnya sedikit
kaget, tapi hanya sejenak, bahkan dia lebih berani lagi dengan menggerakkan tangan
kanannya ke bagian depan saya, mengelus rambut bawah dan jari telunjuk dan tengahnya turun
lebih bawah lagi tepat di bagian belahan depan. Dengan kedua jarinya dia membuaka bibir
bawah dan menjepit kacang saya.
Dia tahu saya sudah banjir. Ketika dia sekali lagi memainkan bagian puting, mendadak
kepala saya bangkit dari dadanya dan menghadap mukanya dengan jarak yang sangat dekat dan
keluar suara rintihan saya sambil menutupkan mata, "aah..." Belum sempat saya
menutup mulut, bibirnya langsung mendarat di bibir saya dan menciumnya. Saya sengaja
membuka mulut saya agar dia lebih dalam mengecup saya. Lidahnya mulai memasuki bibir dan
terus masuk ke mulut, Saya pun bereaksi dengan mengulurkan lidah saya, lidah saya dan
lidahnya saling menyaut dan menghisap. Sampai beberapa saat kami saling bercumbu. Seakan
sudah diberi lampu hijau dari saya, dia bertambah agresif. Tangan kananya kembali
melingkar ke belakang saya dan bersama tangan kirinya kembali meremas-remas pantat saya
sambil terkadang mendorongnya ke depan sehingga menekan bagian depannya, sementara kami
tetap saling bercumbu. Tangan yang sejak tadi melingkar di pinggang Pak Robert mulai saya
lepas dan tangan kiri saya gerakkan menuju depan celananya, dan meraba-raba seperti
mencari sesuatu.
Sampai juga yang saya cari, resleting celananya saya tarik ke bawah perlahan-lahan,
kemudian tangan saya segera menyelinap ke dalam celananya, dan terus menuju ke dalam
celana dalamnya. Penisnya sudah tegap dari tadi, ukurannya cukup besar, segera saya
genggam dan tangan saya gerakan ke atas dan ke bawah perlahan-lahan secara berirama.
Seperti ada reaksi dari tangan saya, dia sedikit menggigit bibir saya, dia mulai
terangsang rupanya, sementara tangan kiri saya tetap bergerak berirama menggenggam
penisnya. Tidak lama kemudian dari ujung penisnya membasah, terasa dari jari telunjuk saya
yang mengusap ujung penisnya, terasa licin dan lengket. Bibirnya mulai bergeser dari bibir
saya menuju pipi dan terus ke daun kuping saya. Seperti mengemut permen, daun kuping
sekitar anting kanan saya dikulumnya dengan lembut dan suara nafasnya yang memuncak sangat
jelas terdengar di kuping saya. Tidak lama kemudian bibirnya pindah mengecup leher sebelah
samping di dekat kuduk saya dan terkadang mengecup sambil menyedotnya. "Aah..
ah.." saya berdesah lagi. Ketika asyik mengecup leher saya, dia melihat simpul baju
yang persis di kuduk saya, segera kedua tangannya yang berada di pantat saya naik ke atas
menuju simpul itu dan dia mulai membukanya, dengan mudah simpul terlepas dan gaun bagian
depan dengan sendirinya lepas dan jatuh ke bawah. Buah dada yang sebelumnya tertutup gaun,
sekarang terlihat jelas keduanya dan puting yang sudah mengeras dari tadi jelas terlihat.
Sedikit membungkuk, bibirnya menuju buah dada saya yang kanan dan mengecup putingnya.
"Ah... ah..." saya benar-benar terangsang. Tangan kirinya kembali meremas pantat
saya dan yang kanan menuju buah dada yang kiri dan meremas dengan lembutnya. Dia memainkan
puting kiri dengan bibirnya, menghisap, mengecup, mengkulum dan terkadang menggigit dengan
ringan. Saya tidak bisa menjelaskan nikmatnya dengan kata-kata. Lidahnya pun terkadang
keluar untuk menjilat puting dan sekitarnya yang berwarna kemerah-mudaan. Jari telunjuk
dan tengah tangan kanannya memainkan puting kiri saya dengan menjepitnya. Seperti tidak
ingin dihalangi apa-apa, tangan kanannya yang berada di pantat saya segera menarik ke
bawah gaun saya yang sudah setengah terbuka itu, langsung saja seluruhnya jatuh ke lantai.
Tinggal gartar dan stocking yang melekat pada badan saya. Saya berlutut di depannya dan
memberi kesempatan untuk membuka dasi dan kemejanya.
Sementara itu saya mulai membukakan celananya, dengan segeranya jatuh ke bawah, dan terus
menurunkan celana dalamnya. Sekarang saya dapat melihat jelas penisnya. Saya mendekat dan
dengan telapak kanan, kantong di bawah penis saya elus dengan halus, "Oh.. oh.."
dia terangsang rupanya. Ujung penisnya saya kecup beberapa kali dan dengan ujung lidah
saya jilat belahan yang ada pada ujung penisnya. Memang benar, cairannya mulai keluar
sedikit dari ujung penis, terasa asin. Pinggulnya saya pegang dengan kedua tangannya agar
lebih mantap melakukan oral. Kepala penisnya saya masukkan ke mulut dan berkali-kali saya
kulum dan dihisap. Setiap kali saya hisap dia merintih. Sudah dari tadi dia melepaskan
kemejanya, dan sudah tidak ada satu kain pun yang melekat di badannya.
Setelah puas memainkan kepala penisnya di dalam mulut, saya mulai lebih memasukkan
penisnya ke dalam mulut saya perlahan-lahan sampai ke pangkal penis, masuk semua ke dalam
mulut saya. Saya berhenti sejenak untuk menikmatinya dan sementara itu kedua tangannya
membelai-belai rambut saya.Saya mulai menggerakan mulut saya dengan mengeluarkan dan
memasukan penisnya dari mulut saya dan sekali-kali saya hisap ujungnya. Seakan sedang
makan es mambo dengan nikmatnya, terus saya gerakkan berirama. "Aah... ah.. nikmat
sekali, ah..." dia merintih. Sekali-kali saya melirik ke atas melihat wajahnya yang
sudah hanyut kenikmatan, saya pun sudah terangsang dan benar-benar lupa segalanya.
Sepertinya sudah lama dia tidak melakukan sex, tapi saya tahu dia pengalaman. Cukup lama
saya melakukan oral, dan dia bertahan rupanya, tapi tidak lama kemudian kakinya mulai
gemetar, tidak kuat berdiri lagi rupanya. Dia menarik saya untuk berdiri, dan setelah itu
dia mendorong saya sedikit ke belakang dan mendudukkan saya di tepi tempat tidur.
Sekarang dia gantian berlutut, saya sudah tahu apa yang akan dia lakukan, tanpa diminta
saya membuka kaki lebar-lebar sehingga selangkangan saya terlihat jelas. Kepalanya mulai
mendekati selangkangan saya dan terus memendamkan kepalanya tepat di daerah bibir bawah,
lidahnya berusaha membuka belahan saya dan terus menjilat kacang saya berkali-kali,
"ah.. ah.. ah!" saya merintih agak keras. Dengan bibirnya, dia mengecup dan
mengulum kacang saya beberapa saat. Dari situ dia mula menjilat mulut vagina saya dan
mengecupnya. Dia menghisap cairan yang sudah dari tadi membasahi vagina saya dan
menelannya seakan meminum air, cairan dari dalam vagina semakin banyak keluar, tanda sudah
siap untuk tahap selanjutnya. Lidahnya menjulur memasuki mulut vagina dan terus ke dalam,
"Ah.. ah.." saya merintih tidak tahan dan meremas-remas kepalanya. Seakan ada
suatu makhluk hidup yang masuk ke dalam vagina dan bergerak-gerak. Dia memang sedang
memainkan lidahnya di dalam vagina saya. Saya tidak kuat lagi bertahan untuk duduk,
akhirnya saya merebahkan diri, sementara itu dia masih terus memainkan vagina saya dengan
lidahnya, saya merintih berkali-kali.
Akhirnya kepalanya menjauh dari selangkangan, berdiri dan naik ke tempat tidur untuk
bergerak lebih jauh lagi. Kami sudah berada di atas tempat tidur, dia mulai menghampiri
saya yang sudah terlentang dari tadi. Dia mengambil posisi di atas saya dan dengan
halusnya mengecup dan kami saling bercumbu, mengkulum lidah saya di dalam mulutnya, saling
bertukar air liur seakan menikmati suatu masakan. Bibirnya bergerak ke leher dan terus
mengecup, saya merintih tidak henti-hentinya dan dia menikmati rintihan saya. Bibirnya
terus mengecup ke bawah sampai ke pangkal belahan buah dada saya, dan kedua tangannya
terus meremas dan memainkan buah dada saya, sesekali menjilat puting. Sementara sedang
menciumi kedua buah dada saya, salah satu tangannya menyelinap ke bawah bantal dan seperti
mengambil sesuatu. Saya tidak begitu sadar saking nikmatnya suasana. Bibirnya kembali
bergeser ke atas dan menciumi belakang daun kuping saya.
Sementara itu salah satu tangannya yang sedang menggenggam sesuatu dia turunkan ke bawah,
tidak lama kemudian saya ada kesempatan melihat ke bawah badan saya. Dia sedang menyobek
plastik kecil, dia sedang membuka kondom, dan sedang menyiapkan diri untuk dipakai.
Tangannya yang memegang kondom saya tangkap dengan tangan saya. Bibir saya segera menuju
daun kupingnya dan saya kecup beberapa kali dan kemudian sambil sedikit merintih berbisik
kedia, "Tidak usah pakai itu, tidak apa-apa masukkan saja, ah.. ah.." Dia
membatalkan untuk memakai kondom. Penisnya sudah berada di ujung vagina, dan mulai
memasukkan kepala penisnya, dan saya merintih keras. Kepala penisnya digerak-gerakkan,
membuat saya kehilangan kontrol.
"Masukan semua, ah," saya meminta.
"Keluarkan di dalam saja," sekali lagi saya meminta. Saya ingin dia
menyelesaikan klimaksnya di dalam, ingin merasakan cairan panas kental itu masuk ke dalam
tubuh. Seperti sudah mendapat izin, dia terus menekan penisnya mendorong ke dalam vagina.
Saya merasakan penisnya yang besar itu terus masuk lebih dalam. Dia masukkan semua
sepertinya, saya merasa ujung penisnya mencapai bagian paling dalam vagina saya. Tentu
saya merintih-rintih tanpa henti dan memeluk badannya untuk bertahan. Dia mulai
menggerakkan pingulnya dan terasa penisnya bergerak keluar masuk vagina saya. Suara
seperti orang jalan di tempat becek, terdengar bunyi dari gesekan penisnya dengan ujung
vagina yang banjir. Sambil bercumbu, gerakkannya semakin cepat. Pinggul saya pun ikut
menyesuaikan gerakannya. Terus menerus saya merintih. Sesekali dia menjilat dan menghisap
puting saya yang berdiri menantang dan keras itu.
Mendadak dia memeluk badan saya agak kuat, dan kami merubah posisi dengan memutar badan
kami. Dia terlentang dan saya berada di atasnya. Seperti menunggang kuda, saya duduk di
atasnya dan penisnya tetap berada di dalam saya. Sekarang saya yang mulai menggerakkan
pinggul, dia kelihatan menikmatinya, terlihat dari wajahnya. Sementara pinggul saya
bergerak semakin cepat. Saya pun merintih karena nikmatnya. Saya paling senang posisi
begini. Terasa penisnya masuk lebih dalam dan memang saya merasakan ujung penisnya berada
di bagian paling dalam vagina. Sesekali saya jepit penisnya yang sedang berada di dalam.
Beberapa menit kemudian dia merintih agak keras, "Aah.. saya tidak tahan, ah."
Saya pun sudah mendekat klimaks,
"Keluarkan di dalam, ah cepat sekarang!"
Cairan panas terasa keluar di dalam saya, dan saya pun sampai puncaknya.Kami benar-benar
menikmatinya sampai akhir. Saya mulai merebahkan diri ke badannya, detak jantung kami
terasa masih kencang, dan penisnya masih di dalam saya. Dia mencium bibir saya yang masih
bernafas dengan kencang, saya pun menjawabnya dengan mengecup bibirnya.
Pukul empat pagi saya terbangun, saya masih bersama Pak Robert di tempat tidur tanpa
sehelai baju. Dia masih tidur dengan lelapnya, saya berdiri dan menuju kamar mandi dan
mandi. Saya juga membersihkan bagian dalam saya, terasa air maninya sedikit masih tersisa
di dalam.
TAMAT
< Kembali ke halaman sebelumnya >
|
|