Mitra bisnisku (jilid 2)
Di lobby hotel tamu saya sudah menunggu, dia bersama
wakilnya.
"Wah maaf Pak Robert agak telat sedikit, tadi jalanan sedikit macet."
Saya berbohong, padahal jalan tidak macet, tentu saya tidak bisa bilang bahwa saya telat
karena menikmati sex di pagi hari. Bapak Robert ini sepertinya masih muda dan tampan,
badannya tegap dan tinggi. Masih muda sudah menjadi president suatu perusahaan yang
lumayan besar.
Di mobil saya duduk di sebelah kanan, kemudian Pak Robert di tengah dan wakilnya di kanan.
Sambil sedikit memiringkan badan masing-masing kami berbincang-bincang tentang kota
Jakarta. Sambil berbincang-bincang, sesekali-kali dia mencuri pemandangan dengan melirik
ke bagian dada saya yang belahan bajunya sedikit rendah ini. Saya tahu itu, tapi saya
berpura-pura seperti tidak sadar dan juga saya tahu bahwa yang dia lihat adalah bagian
yang menonjol dari balik baju saya di sekitar buah dada saya."Pak Robert sudah umur
berapa putranya?" saya sengaja menanyakanya untuk memastikan sudah berkeluarga atau
belum. Dia tersenyum dan, "Saya belum berkeluarga bu," sambil tersenyum.
"Kalau begitu bisa lebih santai dulu dong di Jakarta setelah kerjaan selesai,"
dengan nada memancing saya bertanya.
Tidak lama kemudian kami sudah sampai di kantor. Mobil berhenti dan supir membukakan pintu
sebelah kiri. Wakil Pak Robert turun dahulu dan kemudian dia, sambil bergeser saya juga
menunggu untuk keluar, dan ketika saya memutarkan badan untuk mengambil tas saya yang ada
di belakang kursi, belahan rok saya terbuka sampai pangkal belahan, tapi saya tidak sempat
membenarkannya dan langsung ke luar. Di depan pintu Pak Robert sudah menunggu saya untuk
turun, dan dia pasti telah melihat pangkal paha saya dan bahkan mungkin telah lihat celana
dalam saya yang hitam dan agak transparant itu. Pintu lift di loby terbuka dan saya
persilahkan Tamu saya masuk dahulu dan kemudian saya. Kantor saya ada di tingkat 30, di
dalam lift tidak terlalu penuh, tapi di tingkat 3 banyak yang masuk sehingga kami mundur
ke belakang. Karena penuhnya, saya terdorong sampai menyentuh pak Robert, "Maaf Pak
Robert," saya minta maaf kepadanya.
Dalam lift saya merasakan tangan Pak Robert yang menempel ke pantat saya, merasa tidak
sopan, dia menggeser tangannya agar tidak menyentuh, tapi rupanya justru membuat posisinya
semakin tidak enak. Bagian depannya langsung menempel ke bagian belakang saya. Saya merasa
ada sesuatu yang keras menyentuh bagian belakang saya, penisnya mengeras rupanya. Belum
sampai lebih jauh merasakannya lift terbuka dan kami harus keluar. Ruang rapat sudah siap
dan saya persilahkan masuk, dan beberapa menit kemudian rapat dimulai. Ada dua hal kontrak
yang kami bicarakan dan pada awal rencana kami akan menanda tangani kedua kontrak kerja,
tapi setelah satu jam rapat berjalan ada satu hal yang harus di konfirmasikan dan Pak
Robert minta ditunda sehari, akhirnya kami menandatangani satu kontrak kerja saja.Untuk
menjamu tamu, saya membuat appoitment untuk dinner malam ini di hotel Pak Robert jam 20
malam. Pak Robert dengan diantar oleh mobil saya kembali ke hotel.
Sore jam 16 saya bersiap-siap untuk pulang ke rumah karena nanti malam ada dinner dengan
Pak Robert. Ketika sampai di rumah ternyata ada pesan dari suami bahwa dia harus keluar
kota dan baru kembali besok pagi. Saya langsung menuju meja rias dan membuka baju untuk
mandi. Setelah buka baju, saya duduk dahulu di kursi meja rias sambil membuka BH saya, dan
sedikit istirahat dulu. Saya merasakan kelembaban di celana dalam saya, dan merabanya dari
atas celana, ternyata basah, naluri sex saya sedang tinggi. Dari selangkangan kaki, celana
dalam saya geser sehingga tangan saya dapat menyentuh bibir bawah yang sudah basah ini,
dengan halus saya mengelus-ngelusnya sambil membayangkan tadi pagi, tapi tiba-tiba
imajinasi saya berubah seakan-akan pak Robert yang muda dan ganteng itu sedang mencium dan
menjilat vagina saya. Cairan yang hangat dan licin semangkin membasahi, dengan tidak sadar
jari telunjuk saya sudah masuk ke dalam vagina dan terus saya gerakkan keluar masuk dari
vagina saya, "Ah.. ah.. ah.." saya mulai merintih dengan nikmatnya. Seperti
kurang puas dengan jari, saya membuka laci meja rias dan mengeluarkan mainan saya.
Mainan ini berbentuk penis ukuran orang Eropa dan bisa bergerak-gerak dengan memakai
baterai. Mula-mula ujungnya saya tempel di ujung mulut vagina saya, "Ah.. ah!"
denyut jantung mulai cepat dan saya mulai memasukkannya perlahan-lahan sambil berimajinasi
yang masuk itu penis Pak Robert. Saya masukkan sampai habis, bukan main rasanya, seperti
benar-benar melakukan sex, mainan ini bergerak terus di dalam badan saya. Saya mulai
menggerakkan mainan perlahan dengan mengeluar-masukan ke vagina dengan berirama, seperti
orang laki-laki sedang memasukan punyanya ke vagina wanita.
"Ah... ah... ah ah ah.." irama gerakkan mulai cepat dan cepat, saya pun mulai
tidak sadarkan diri, sementara tangan kanan menggerakkan mainan, tangan kiri saya mulai
meremas payudara kanan saya dan sambil memainkan puting yang sudah dari tadi mengeras.
Selama lima menit, terus saya mainkan mainan ini dan irama tangan pun semangkin cepat, dan
saya sudah mendekati kelimax. "Ah.. ah... keluar.. ah.. ah," tanpa saya atur
pinggul saya bergerak menyentak dan mainan yang di dalam saya jepit. Cairan kental bening
keluar banyak dari celah vagina yang masih dimasuki oleh mainan ini. Kepala dan tangan,
saya rebahkan di meja rias, sementara mainan penis ini masih bergerak di dalam vagina
saya. Kurang lebih tiga menit kemudian saya mulai menarik mainan yang masih bergerak dalam
vagina saya, mainan sudah jelas basah dan licin oleh cairan saya. Mainan saya bersihkan
dengan tissue dan saya simpan kembali di laci, dan saya baru melepas celana dalam yang
sudah basah ini dan melepas gartar, kedua stocking saya, dan menuju kamar mandi.
Saya pilih gaun biru gelap untuk dinner malam ini. Setelah memakai minyak wangi ke seluruh
badan, saya mulai mengenakan stocking hitam dari kaki kiri dan terus saya tarik sampai
setengah paha dan diteruskan dengan yang kanan. Saya lebih senang stocking model seperti
ini dari pada panty socking, lebih praktis apabila ingin ke kamar kecil. Gartar pun saya
pilih yang hitam, dan saya jepit tali gartar ke ujung stocking yang ada di pertengahan
paha. Saya pilih celana dalam hitam yang berbentuk sangat minim yang hanya pas-pasan
menutupi bagian depannya, sedangkan bagian belakang hampir seperti tidak memakai celana
dalam, hanya berupa garis yang menutupi belahan bagian belakang, sehingga dari luar baju
tidak akan terlihat garis celana dalam. Gaun malam saya bagian bawahnya panjang sampai ke
mata kaki dengan dua belahan di samping sampai dua puluh centimeter dari atas lutut.
Bagian punggung terbuka, dan bagian depan gaun dari dada terus ke atas dan bersimpul di
kuduk kepala, tentu tidak berlengan dan belahan dadanya sampai setinggi bawah payudara,
gaun hanya pas menutupi bagian payudara saja.
Gaun seperti ini tidak bisa memakai BH yang umumnya, biasanya hanya berupa cup saja. Tapi
saya kurang enak memakai BH yang hanya cup saja. Malam ini payudara saya langsung ditutup
oleh gaun saja, tidak memakai BH. Setelah merapihkan gaun dengan melihat dari kaca
setinggi badan kemudian saya memilih sepatu untuk malam ini. Saya pilih warna hitam bludru
dan dengan hak yang tinggi. Supaya tidak kelihatan sepi bagian atasnya, saya pakai anting
berbentuk bulat seperti gelang yang tipis dan bross bentuk daun di dada kiri. Lipstik saya
pilih warna merah rose dan ditambah dengan lips gloss agar lebih kelihatan mengkilat dan
tidak kering.
Jam sudah menunjukkan pukul 19:00, saya harus berangkat sekarang.Malam ini saya bawa mobil
sendiri, supir sudah saya suruh pulang karena besok pagi dia harus jemput suami pulang.
Mobil sudah disiapkan dari dalam garasi, mobil ini hadiah dari suami yang bisa di hitung
oleh jari di Jakarta ini. Mobil sport warna merah buatan Italy, jarang saya pakai kalau
siang karena mencolok. Jalanan tidak terlalu padat, dan sekitar setengah jam sudah sampai
di hotel. Dari lobi hotel saya menelpon ke kamar Pak Robert, "Pak Robert saya tunggu
di lobi ya." Pak Robert minta waktu sebentar untuk turun, kira-kira sepuluh menit
kemudian dia turun dan menemui saya. "Wah maaf bu menunggu agak lama," sambil
memandang saya dengan mata seorang laki-laki muda yang penuh arti. "Maaf Pak Robert,
bapak tidak bisa hadir malam ini karena dia ada urusan penting ke luar kota, salam saja
darinya semoga bisnis kita bisa jalan dengan lancar".
"Oh tidak apa, tapi kasihan juga ya ibu sering di tinggal suami, apa tidak
kesepian?"
Saya balas dengan senyuman. Kami pilih restoran Jepang Teppanyaki. Dengan kursi yang
mengelilingi meja penggorengan yang lebar, kami duduk di bagian tengah, dan memang hanya
kami berdua di situ karena sudah di-reserve. Tidak lama koki yang akan meladeni kita
datang dan kami memilih menunya. Sementara kami menunggu makanan sampai jadi dan melihat
atraksi si koki yang sangat khas ini, kami berbincang-bincang, dari cerita ringan sampai
mulai cerita soal bisnis. Tidak lama kemudian masakan siap dan kita mulai makan sambil
meneruskan perbincangan kami. "Wah saya kurang mahir memakai sumpit," dan memang
Pak Robert kelihatannya kurang mahir untuk mengambil makanannya. "Cara memegangnya
begini pak, jadinya tidak jatuh dan tidak capai tangannya," sambil membetulkan
jarinya memegang sumpit. Sepertinya agak lumayan sekarang tapi dia senang rupanya
sekarang, tapi di bagian akhir dia berusaha mau mengambil udang yang sudah matang itu, dan
berkali-kali jatuh karena licin. Karena kasihan, saya bantu ambilkan dengan sumpit saya
dan suapkan ke mulutnya, mukanya sedikit merah karena malu sepertinya, saya tersenyum.
Setelah selesai makan, Pak Robert saya ajak ke pub yang ada di hotel ini, "Bagaimana
kalau kita pindah tempat ke pub di atas untuk berbincang-bincang."
"Boleh bu," dia menurut saja. Hari ini sepertinya agak ramai, dan banyak tamu
orang barat, sehingga kami tidak dapat meja, terpaksa kami duduk di bar-nya.
"Ibu mau minum apa?" sambil menunjukkan menu ke saya. "Terserah Pak Robert
deh, kan anda lebih tahu yang enak," dan akhirnya dia pesan cocktail dengan campuran
dasar gin. Agak keras, tapi enak rasanya. Sementara kami berbincang-bincang, suasana
semangkin ramai, musik berirama cepat terus mengalir dan yang turun untuk berdansa di
dance floor semakin ramai, begitu asyiknya berbincang-bincang saya tidak ingat sudah
berapa gelas saya tambah minum, yang jelas lumayan banyak, soalnya mulai terasa alkohol
naik ke kepala. Mendadak musik berhenti dan disusul dengan alunan musik yang slow, yang
berdansa pun sedikit berkurang, pembicaraan kami pun terputus sejenak."Pak Robert mau
turun?" sebelum dia sempat menjawab, saya sudah tarik tangannya. Awalnya kami
berdansa dengan sedikit mengambil jarak, tangan kanan saya memegang tangan kirinya, dan
tangan kiri saya melilitkan ke pinggang dia, begitu juga dia. Sambil iringan musik yang
slow terus mengumandang, kami meneruskan pembicaraan.
BERSAMBUNG KE JILID 3
< Kembali ke halaman sebelumnya >
|
|