Maafkan aku, sobat (jilid 2)
Saya hanya tercenung mendengar ucapannya. Kemudian sambil
tetap berpelukan ia mengatakan bahwa jika ia menjadi istri Irvan, mungkin ia tidak akan
pernah merasakan keindahan seperti ini. Seumur hidup ia mencari cowok ideal buatnya dan
baru kali ini menemukannya dalam diri saya. Sheila memang baru sekali pacaran yaitu dengan
Irvan. Sangatlah menyesal jika apa yang menjadi impiannya harus lepas walaupun sudah
berada di depan mata. Mendengar penuturannya, saya hanya berkata bahwa saya juga amat
sayang dengannya, tapi kata-kata saya terhenti oleh sebab yang hingga saat ini saya tidak
tahu apa, dan dengan lembut saya mencium pipinya.
Sheila tertunduk di pundakku sambil tersenyum dan membalas ciuman itu pada pipi kiriku.
Mungkin karena terbawa suasana, Sheila dengan gerak refleksnya langsung mencium bibir saya
dan menahannya lama. Ketika dilepaskannya ciuman itu, ia tertunduk malu atas kelakuannya,
tapi wajahnya terlihat tersenyum.
"Maaf Nard, mudah-mudahan kamu ngga marah", ujarnya singkat. Saya hanya diam dan
baru sadar ketika Sheila menarik tubuh saya dan tubuhnya direbahkan di karpet. Saya
merasakan desiran hangat di sekitar kemaluan saya dan menyadari bahwa milik saya itu sudah
menegang menekan perut bagian bawah Sheila.
Tanpa pikir panjang, saya mencium bibir Sheila dan dibalas dengan sangat panas olehnya.
Sambil terus berciuman, saya melepaskan pelukan dan mulai meraba tubuh Sheila yang putih
mulus itu. Tidak ada dalam pikiran saya untuk berbuat lebih. Jemarinya juga tidak tinggal
diam mulai menjelajahi dan mengusap-usap punggung saya.
Lama kami bergumul dikarpet ruang tamu itu, berciuman, menciumi leher masing-masing dan
menjilatinya. Kurang lebih sekitar 45 menit kami bercumbu sampai akhirnya saya
berinisiatif menghentikannya. Dengan nafas tersengal-sengal, Sheila memandangi saya dengan
wajah sedikit kesal.
"Kenapa Nard?" tanya Sheila.
"Jangan Sel, nanti keterusan", jawab saya.
Saya duduk di sofa dan sesaat kemudian Sheila duduk di sebelah saya dengan merapatkan
tubuh dan menggelendot manja. Kata-kata terima kasih mengalir dari bibir ranum yang baru
saja saya kulum itu. Ia merebahkan kepalanya di dada saya dan memeluk saya erat.
Sejak itu, selama sebulan, kami mengulangi perbuatan yang sama setiap Irvan harus ke
Jakarta. Jadwal kuliah Dina bisa dengan mudah diketahui Sheila karena mereka sekampus dan
setiap hari Sheila dan Dina kebagian jadwal yang berbeda. Sikap kami di depan Irvan juga
tidak berubah. Sehari-hari kami berusaha menjaga kewajaran. Semua ini dengan tujuan agar
tidak diketahui oleh masing-masing pasangan kami. Di depan saya, Sheila tetap manja dengan
Irvan dan saya tetap mesra di depan Dina.
Dan kami mengulang lagi apa yang sudah sering kami lakukan saat Irvan ke Jakarta. Dina
sudah pulang saat Sheila datang. Karena saya ingin mandi dahulu, tidak saya ketahui ketika
Sheila sudah bertukar pakaian. Yang saya ketahui, ia sudah mengenakan bicycle pant pendek
dan kaus oblong putih saat saya selesai mandi. Darah saya mendesir ketika Sheila
menghampiri saya. Ia tampak sangat seksi dengan lekuk tubuh yang terbayang di kaosnya.
Langsung ia memeluk saya dan kami mulai lagi bercumbu. Saat itu saya juga hanya bercelana
pendek. Desiran hangat mengalir deras di sekitar kemaluan saya ketika saya menindih
Sheila. Tangan saya mengusap-usap punggungnya juga tangannya melakukan hal yang sama.
lehernya habis saya ciumi dan saya jilati. Desahnya semakin menderu. Entah setan apa yang
lewat, saya kali memberanikan diri memasukan tangan saya ke dalam kausnya. Saya raba
perutnya yang indah dan perlahan-lahan mulai naik ke arah dada. Tak saya kira sebelumnya,
Sheila bukannya melarang malah membimbing tangan saya menuju dadanya. Seumur hidup, baru
sekali ini saya merasakan gumpalan kenyal di dada cewek, bahkan milik Dina pun saya tak
berani.
Tangan saya terdiam diatas dadanya dan kemudian tangannya diletakan diatas tangan saya dan
mulai meremas. Tangan saya jadi ikut meremas dadanya. Wow, saya sungguh baru sekali ini
merasakan lembutnya gumpalan kenyal milik cewek. Semakin keras saya remas, Sheila semakin
keras mendesah.
Tiba-tiba saya merasakan ada yang meraba kemaluan saya. Saya lihat, jemari Sheila mulai
meraba dan juga meremas-remas milik saya yang sudah mengeras itu. Tangannya kemudian mulai
menyelusup ke dalam celana saya dan juga menyelusup ke dalam celana dalam yang saya pakai.
Seketika aliran darah disekitar kemaluan saya bertambah deras. Tak mau kalah, saya
langsung membuka kaitan bra yang dipakai Sheila dan segera kembali meremas buah dadanya
(Saya gambarkan sedikit, buah dada Sheila mempunyai ukuran yang besar bagi ukuran cewek
indonesia. Mungkin karena perawatan yang baik, buah dadanya masih kencang).
Semakin panas permainan kami ini sampai akhirnya kami membuka seluruh pakaian kami dan
saling memberikan senyuman. Tak habis-habisnya saya memandangi tubuh telanjang Sheila
dengan sebentuk tubuh yang seksi dan indah. Tidak mungkin cowok tidak terangsang jika
melihat tubuh indah seperti yang dimiliki Sheila.
Kali ini giliran Sheila yang menciumi dan menjilati seluruh tubuh saya. Milik saya sudah
mengacung tegang dan jilatan berikut ciuman Sheila makin turun ke bawah. Saya rasa saya
sudah tidak tahan lagi. Saya langsung bangun dan merebahkan Sheila di ranjang. Sheila
malah mendekap saya ketika saya bergerak akan menindihnya. Milik saya yang sudah menegang
itu menempel keras di kemaluannya yang berbulu lembut di sekitarnya. Desahnya makin
terdengar ketika gesekan terjadi. Nafsu sudah menguasai kita berdua dan semakin
mengkungkung kami saat ujung kemaluan saya menyentuh mulut kemaluannya. Kakinya berusaha
menahan badan saya agar tidak mendorong tubuhnya lebih dalam. Rintihan kesakitan terdengar
saat saya mulai kembali menekan tubuhnya. Saya sama sekali tidak ingin memasukan milik
saya ke dalam kemaluannya, bagaimanapun itu adalah hak suaminya kelak.
Tiba-tiba tangannya meraih milik saya dan menggesek-gesekan ujung milik saya itu di mulut
kemaluannya. Badan terlonjak-lonjak, sayapun merasakan sensasi yang luar biasa. Kenikmatan
yang tidak ada bandingannya. Tubuh saya bergetar menahan nafsu yang semakin memuncak.
Tiba-tiba tubuh Sheila menegang dan terlonjak sangat keras ke kasur. Saya dengar desahnya
sempat sangat keras dan perlahan mereda.
"Sayangku, aku udah ngga tahan lagi," ujarnya setengah membisikiku.
Kebimbangan segera hinggap di kepalaku. Wajahnya memancarkan kehangatan yang berbeda dan
saya menjadi tidak berakal. Pelan-pelan saya dorong tubuh saya dan milik saya
perlahan-lahan masuk ke mulut kemaluannya. Wajahnya meringis menahan sakit sambil terus
mendorong tubuh bagian bawah saya agar perlahan terus masuk. Mulut kemaluannya terasa
sangat sempit. Saya lepas kembali dan perlahan-lahan saya masukan lagi. Begitu
berulang-ulang sampai akhirnya saya sudah tidak tahan lagi dan seketika menerobos mulut
kemaluannya dengan ganas. Ia terlonjak kaget dan saya lihat airmatanya meleleh tapi
wajahnya tersenyum.
"Ohh..., Sayangku..", desahnya sambil memelukku erat. Tubuh saya mulai bergerak
naik turun dan saya merasakan desiran hangat di seluruh kemaluan saya. Terasa ada yang
memijit-mijit seluruh permukaan milik saya itu. Walaupun sambil menahan sakit, Sheila
terlihat sangat menikmati permainan kami tersebut. Permainan yang sama-sama baru kita
rasakan sekarang. Tak sampai sepuluh menit, mungkin karena masih sama-sama baru, saya
merasakan nikmatnya muncratan cairan hangat dari kemaluan saya di dalam rongga kemaluan
Sheila. Kemaluannya seketika menjadi hangat dan dipenuhi oleh cairan kental dari kemaluan
saya.
Sheila memeluk saya dengan sangat erat, ia sesegukan menahan tangisnya, bibirnya bergumam
menyebutkan bahwa ini adalah yang pertama baginya. Kami berpandang-pandangan dan saya
kemudian bertanya apakah ia menyesal?
Kaget saya dibuatnya ketika dengan cepat ia menggeleng dan berkata,"Sheila
melakukannya dengan orang yang memang menjadi idaman Sheila dari dulu, Sheila tidak
menyesal...", tuturnya diiringi senyuman di bibirnya. Mungkin karena gemas, ia
mencium bibir saya lagi dan memainkan lidahnya di dalam mulut saya.
Sejak peristiwa "the first time" yang kami alami itu, kami menjadi semakin
terobsesi untuk mengulang kejadian itu dan mereguk kenikmatan yang tidak pernah kami
rasakan sebelumnya. Semua tingkah laku kami memang tetap biasa, tidak ada yang berubah.
Saya tidak ingin hubungan saya dengan Dina berantakan karena kegiatan Sheila dan saya
tercium, terlebih lagi terhadap Irvan, sobat kental saya yang sudah saya anggap sebagai
saudara kembar itu. Tetapi semua itu akan segera berubah menjadi nafsu terpendam ketika
Irvan dan Dina tidak ada. Kami melakukan lagi dan lagi dan lagi, seperti tidak ada lagi
hari esok dengan makin panas dan bernafsu.
Saya dan Sheila tetap melakukan persetubuhan kami ini sampai saat menjelang mereka
menikah. Bisakah anda bayangkan?, Tiga hari sebelum menikah, kami masih sempat melakukan
persetubuhan itu. Ditengah waktu yang sempit kami melakukannya di dalam kamar kakak Sheila
yang memang kosong. Letak kamar tersebut di paviliun rumah Sheila. Itu kami lakukan di
tengah-tengah kesibukan orang-orang mempersiapkan rumah untuk upacara perkawinan Irvan dan
Sheila.
Selama sebulan setelah pernikahan mereka (Saya dan Dina menikah sebulan lebih dulu dari
mereka), saya dan Sheila menghentikan perbuatan biadab tersebut. Sampai suatu hari Irvan
menelepon saya dan memberitahu bahwa ia akan tugas ke Eropa selama seminggu sambil
menanyakan titipan apa yang saya mau. Saya menjawab sekenanya karena bayangan saya segera
lari ke tubuh indah Sheila yang sudah sering saya reguk tersebut. Dan benar saja, sepuluh
menit setelah itu, Sheila gantian menelepon saya dan mengajak saya bertemu di sebuah hotel
di daerah Jakarta Selatan.
Kami akhirnya melakukan perbuatan laknat itu lagi dari siang hingga sore hari seakan
kerinduan selama sebulan terobati dengan tiga kali hubungan badan yang kami lakukan.
Itulah perbuatan kami yang pertama setelah Sheila dan Irvan menikah. Sebulan kemudian,
saya mendengar dua kabar baik bahwa Dina dan Sheila tengah hamil. Saya dan Irvan terlonjak
kegirangan karena Dina dan Sheila sama-sama hamil satu bulan.
Kini, Jason dan Grant (anak Irvan dan Sheila, diberi nama itu karena Irvan sangat
mengidolakan Grant Hill, power forward Detroit Piston) sudah berumur 1,5 tahun. Keduanya
lincah dan cerdas. Hobi mereka sama. Karena saya dan Irvan memang membeli rumah yang
bersebelahan, otomatis Jason dan Grant menjadi dua sahabat kecil selalu rukun.
Grant dan Jason terlihat persis seperti saya dan Irvan. Saya sering mendengar Irvan memuji
Grant dengan bangga sampai saya sempat kaget ketika sambil dengan muka ceria Irvan
berkata, "Mukanya mirip banget sama elo Nard, liat aja tuh, ngga salah gue punya
sobat kayak elo", seketika saya melihat Grant dan memang benar, ciri-ciri fisiknya
sama dengan saya sehingga Grant dan Jason selintas seperti adik kakak. Kemudian dengan
cepat pula mata saya memandang Sheila yang tersenyum dan begitu bertemu muka dengan saya,
ia mengangguk pelan sambil tersenyum ke arah saya.
Hubungan intim saya dengan Sheila memang tidak sesering dulu lagi, tapi bagaimanapun saya
adalah yang pertama untuknya dan ia adalah yang pertama bagi saya. Sulit untuk melupakan
yang pertama, sebisa mungkin kami mencoba untuk mengulanginya dan merasakan keindahannya
lagi.
TAMAT
< Kembali ke halaman sebelumnya >
|
|