Elena
Kira-kira sebulan sesudah pesta di kaki gunung Salak,
selesai meeting di kantor, aku menerima message di voice mailku. Yang mengirim message
seorang cewek, dia cuma memintaku supaya menelpon dia di 0816 xxyyzz.
Selesai meeting, aku langsung dial nomer itu..., ternyata cewek itu Elena, dia yang jadi
tuan rumah waktu pesta di kaki Gunung Salak itu, what a surprise!, Dia mengajakku
untuk makan malam dan akhirnya kita janjian ketemu di Gondola Restaurant jam 8 malam.
Malam itu, Elena datang dengan gaun yang aduhai, dia benar-benar membuatku berdebar-debar.
Dengan potongan dada yang rendah, aku bisa melihat belahan dadanya yang putih dan di kanan
kirinya menyembul buah dada yang cukup menantang, dia memakai BH yang tipis sehingga
samar-samar putingnya terlihat menonjol di balik gaunnya. Rambutnya di sanggul, sehingga
lehernya yang putih jenjang terlihat jelas. Gaun mininya yang ketat memperlihatkan
pinggulnya yang padat dan aku tidak melihat garis celana dalamnya. Betisnya putih dan
berbentuk seperti cerutu makin membuat darah laki-lakiku makin bergolak.
Selesai makan, kuantar dia pulang ke apartemennya di Cipete. Di lift, begitu pintu
tertutup, tiba-tiba saja dia memelukku dan berbisik.
"Ndra, aku pingin merasakan kejantanan elo..., Vinda bilang elo hebat". Aku
merasakan buah dadanya yang tertekan di antara tubuhku, dan kontan saja penisku berdiri.
Elena ternyata merasakan juga penisku yang menegang, dia langsung meremas penisku sambil
menyodorkan bibirnya yang merekah, langsung saja kusambar bibirnya dengan ciuman yang
penuh nafsu dan tanganku mulai menjelajah buah dadanya. Aku remas buah dadanya dengan
lembut dan aku merasakan desahan nafas Elena yang makin keras. Tidak lama kemudian pintu
lift terbuka, dan kita berdua dengan terburu-buru langsung menuju kamar apartemen karena
kita merasakan nafsu birahi yang rasanya sudah tidak tertahankan lagi.
Setelah kita berdua masuk dan mengunci pintu, Elena langsung menciumiku dengan
bertubi-tubi, tangannya langsung melepaskan sabuk dan celanaku. Sementara itu, aku juga
berusaha melepaskan gaunnya dengan menurunkan ritsluiting di punggungnya. Setelah gaunnya
lepas, aku melihat tubuh yang putih mulus, Elena ternyata tidak memakai celana dalam
sehingga aku sekarang bisa melihat bibir vagina yang menggembung dan ditutupi oleh
bulu-bulu yang tipis dan buah dadanya yang menonjol indah itu masih ditutupi oleh BH yang
tipis. Tidak lama kemudian, aku merasakan jari-jarinya di penisku dan setelah itu Elena
berjongkok dan memulai babak pemanasan dengan mengecup dan menghisap penisku dengan
bibirnya yang mungil itu. Beberapa saat kemudian, kita berdua sudah telanjang total tanpa
sebuah benangpun menutupi tubuh. Aku merasakan hisapannya di penisku makin menggairahkan.
Pelan-pelan kuangkat dia supaya berdiri dan kurapetin dia ke tembok, kuhujani dia dengan
kecupan di leher dan bibirnya. Sementara itu tanganku mulai bekerja di buah dada dan
vaginanya. Tidak lama kemudian, Elena menggelinjang dan setengah berteriak "Ndra,
setubuhin aku sekarang..., aku udah tidak tahan!". Kusuruh dia mengangkat kakinya,
pada saat itu vaginanya terbuka, aku masukin penisku ke vaginanya yang sudah dipenuhi
dengan lendir. Setelah itu aku suruh dia melingkarkan kedua kakinya di pinggangku dan
kedua tangannya di leherku, kedua tanganku berada di pantatnya untuk mengangkatnya. Posisi
kita persis seperti orang yang menggendong temannya, hanya saja penisku sudah tertancap ke
vaginanya. Dengan tanganku yang ada di pantatnya, aku angkat dia naik turun sehingga
kemaluan kita saling bergesek. Aku merasakan lubang vaginanya mulai basah lembab.
Sambil menggendong Elena, aku jalan ke sofa dan akhirnya aku duduk di sofa yang empuk itu.
Sekarang posisi Elena berjongkok di atasku dengan penisku masih di dalam vaginanya yang
menggairahkan itu. Elena mulai menggerakkan badannya naik turun, seperti orang sedang
berkuda sementara itu kedua tanganku mulai bekerja di payudaranya yang makin menegang itu.
Makin lama gerakan naik turunnya makin cepat, sehingga penisku dan vaginanya bergesek
makin keras, karena vaginanya sudah mengeluarkan cairan "pelumas", gesekan itu
terasa nikmat dan membuat penisku makin keras. Kenikmatan gesekan ini ternyata membuat
Elena menjerit-jerit kecil, "Ough..., ough..., ahh". Beberapa saat kemudian,
gerakan naik turunnya bertambah pelan, seolah-olah dia ingin merasakan gesekan yang
menimbulkan kenikmatan itu, penisku sekarang bergesek lembut dengan vaginanya. Aku tahu
dia sebentar lagi orgasme, langsung saja bibirku bekerja di payudaranya, sambil kuremas
pelan-pelan bibirku mengecup dan menghisap puting payudaranya.
Kegiatanku ini ternyata membuat Elena makin tersenggal-senggal, "Ahh..., aauhhg...,
terus 'Ndra..., ohh".
Tidak lama kemudian, Elena mengejang dan menjerit, "Ndra, aku tidak tahan lagi...,
ohh..., uhff", dan aku merasakan penisku dibasahi cairan dari vaginanya. Elena
merebahkan badannya di atasku, aku terus mengecup dan menjilati kedua putingnya dan
celah-celah payudaranya. Tangan kiriku mengelus dan meremas rambutnya dan tangan kananku
meremas-remas pantatnya yang kencang itu.
Sesudah beberapa menit, aku bilang ke Elena, "Len, aku pingin nyetubuhin elo dari
belakang, coba elo nungging di sofa". Tanpa banyak bicara, dia melakukan perintahku.
Dia berdiri mengangkang dengan satu kaki ada diatas sofa dan badannya membungkuk dengan
kedua tangan berpegangan di sandaran sofa. Kumasukkan penisku ke vaginanya dari belakang,
aku merasakan vaginanya masih cukup lembab buat main satu ronde lagi. Aku pegang
pinggangnya yang ramping dan aku mulai menggerakkan badanku maju mundur. penisku keluar
masuk vaginanya, mula-mula dengan perlahan-lahan, makin lama aku tambah temponya.
Badan Elena terguncang-guncang dan dia mulai mendesah-desah, "Ough..., Oohh...,
Oughh..., lagi Ndra, lagi". Setelah kugoyang dengan cepat dan bertenaga, aku pelankan
ayunan pantatku dan aku raih payudaranya untuk diremas-remas, sesudah itu aku naikkan lagi
tempo keluar-masuknya penisku dari vaginanya dan akibatnya Elena menjerit-jerit lagi,
"Uughh..., ughh..., Oughh...". Jeritannya ternyata makin membangkitkan nafsuku,
sehingga kugoyang makin cepat dan makin bertenaga. Aku merasakan kenikmatan yang makin
besar, tapi akibatnya Elena menjerit, "Ndra..., udah Ndra..., Ohh..., aku tidak
tahan...". Akhirnya kulepaskan penisku dari vaginanya.
Aku Rentangkan dia diatas karpet dan kubisiki, "Sorry Len..., aku belum orgasme juga
nih, kita main sebentar lagi yaa!". Terus kutindih dia dan aku masukkan penisku lagi
di vaginanya dan sekarang kita main dengan posisi konvensional.
Elena cuma berbisik, "Pelan-pelan ya Ndra...". Sekarang aku merasakan kedua
payudaranya yang menegang di dadaku, kedua tangan Elena memeluk punggungku dan aku mulai
beraksi dengan menggerakkan pinggulku naik turun. Sementara itu mulut kita saling
berciuman, dan lidah kita saling beradu mencoba saling membelit. Pantat Elena ikut
bergerak seirama dengan gerakan pinggulku, sehingga aku merasakan kenikmatan yang luar
biasa, kenikmatan yang akan membuatku orgasme. Beberapa saat kemudian, aku mendengar desah
nafasnya yang mulai tidak teratur dan aku menaikkan tempo goyangan pinggulku. Aku juga
merasakan vaginanya yang makin basah, badannya juga menggelinjang-gelinjang di bawah
tekanan badanku dan tangannya mulai meremas rambutku. Makin lama desahannya makin keras,
"Ahh..., emmhh..., Ndra,lagi..., oughh".
Beberapa saat kemudian, Elena menjerit, "Ndra, aku tidak tahan lagi..., oughh",
dan badannya mulai mengejang.
Terus aku berkata, "Tahan dulu Len..., sebentar saja...", dan aku merasakan
cairan maniku mulai mengalir di batang penisku, mendesak keluar dan aku pelanin goyangan
pinggulku. Sesudah itu kutekan penisku dalam-dalam ke vagina Elena, dia mengejang dan
menjerit, "Ouhh...", demikian juga aku. Elena mengejang dan memelukku kuat-kuat,
air maniku menyemprot di dalam vaginanya dan kita berdua merasakan sensasi orgasme yang
luar biasa.
Beberapa detik kemudian, kita berdua terkulai lemas tapi aku masih menciumi bibir dan
lehernya dengan lembut. Tanganku mengelus-elus kedua payudaranya karena aku tahu setelah
orgasme, wanita tidak ingin ditinggal begitu saja.
Akhirnya Elena berbisik, "Pantes si Vinda lengket sama elo Ndra, elo ternyata memang
hebat di ranjang". Sesudah itu kita berdua pergi ke kamar tidur buat beristirahat,
mengumpulkan tenaga karena masih ada beberapa sex session lagi sebelum pagi tiba.
TAMAT
< Kembali ke halaman sebelumnya >
|
|