Madame (jilid 4)
Aku menutup pintu kamar, sejenak aku terpaku. Ah, benar
juga Bu Linda, dasar aku saja yang sudah kesetanan berpikir untuk memaksanya menuntaskan
permainanku. Dadaku bergetar saat menyadari betapa bahayanya kalau kejadian itu sampai
diketahui pak Rudi. Pasti aku mati... ya... mati! Dengan perasaan was-was aku menuju
kedekat pintu, menempelkan telingaku di daun pintu itu, berharap kalau mendengar apa yang
terjadi di bawah. Kamarku memang dekat tangga keruang bawah sehingga suara-suara di lantai
dasar terdengar dari situ. Aku mendengar suara pintu di buka,
"Maaf Mi, Papi pulang selarut ini uuuh capeknya," suara Pak Rudi terdengar khas,
bariton. Tak ada jawaban setelah itu. Lalu terdengar langkah dua orang memasuki kamar dan
menutup pintu. Aku masih tegang, pikiranku mulai tenang dan mencoba menerka apa yang
terjadi, mungkinkah Pak Rudi menanyai istrinya kenapa begitu berkeringat? lalu apakah
jawaban Bu Linda? Apakah itu akan menimbulkan kecurigaan? Ah mungkin saja Bu Linda
membasuh mukanya sebelum ia keluar menyambut suaminya itu. Tapi apakah itu tak menampakkan
bahwa Bu Linda tak tidur semalaman?
Oooh Fuck off!! Teriakku dalam hati that's not my business, what a heck! Aku kembali
ketempat tidur. Mencoba memejamkan mata tapi ah, lagi-lagi wajah Bu Linda dengan tubuh
tanpa busana datang, coba kuhapus, tak bisa. oooh tubuh mulus perempuan paruhbaya
seleraku, putih bersih dan halus, wajah dewasa, keibuan. Dan wow buah dada itu.. payudara
terindah yang pernah kulihat, besar, padat meski sedikit turun karena usia dan mungkin Pak
Rudi yang terlalu sering meremasnya, itu justru yang kusuka, menambah pesonanya sebagai
wanita dewasa. Terbayang bibirnya yang mmmhhh mengulum penisku penuh sesak, dan ah vagina
terindah dan ternikmat yang pernah aku rasakan. Kenapa aku begitu tergila-gila pada wanita
ini? Huh, goyang tubuhnya saat aku menggaulinya tadi, sungguh sebuah sensasi yang tak
tertandingi oleh yang lain, yang pernah aku nikmati sebelumnya. Tapi, mungkin juga
sekarang Pak Rudi sedang menikmati tubuhnya yang mmm, ada rasa cemburu merayapi benakku
yang membayangkan betapa lahapnya suami Bu Linda menerkam tubuh istrinya yang baru saja
aku nikmati itu.
Tapi bukankah malam ini aku tidak tuntas? Sudah dua kali ia meraih kepuasan dariku namun
belum sedetikpun aku menikmati puncak birahiku sendiri. Ini tidak adil! Akhirnya obsesi
dan bayangan seksual Bu Linda itu pula yang menyebabkan aku nekat, aku bangun. Jarum jam
menunjukkan angka 1.30 am. "Aku harus memuaskan diriku, sekarang juga! Yah sekarang
juga, harus, aku harus menumpahkan spermaku dalam rahimnya, yah dalam vagina Bu
Linda," benakku bergumam keras dalam hati. Dengan hati-hati aku melangkah keluar
kamar, menuruni tangga menuju lantai dasar dan akhirnya sampai di depan kamar Pak Rudi.
Ternyata akalku main juga, setelah kutempelkan telingaku pada daun pintu aku mendengar
jelas dengkuran laki-laki, pasti itu Pak Rudi. Pria itu jelas terlalu lelah sehabis kerja
sehari-semalam, untung juga ia tidak meniduri istrinya yang cantik itu, kalau ya wah
gawat, dia bakalan dapat sisa cairanku di situ, hehehe, aku jahil juga.
Kebetulan di situ ada sebuah piano besar dengan kursinya. Aku mengangkat kursi itu dengan
hati-hati dan meletakkannya di samping pintu. Lalu kunaiki dan mengintip lewat celah di
atas. Kulihat Pak Rudi yang mendengkur keras dengan muka menghadap samping dan bantal
menutupi telinganya, bagus berarti lelaki botak itu tak akan mendengar kalau aku harus
nekat membuka pintu kamar ini. Dan kulihat Bu Linda masih terjaga, matanya tampak seperti
menerawang jauh memandang ke langit-langit kamar, tampaknya wanita itupun tak bisa tidur.
Aku yakin ia takkan sanggup memejamkan mata malam ini, wanita itu takkan sanggup melupakan
peristiwa yang baru saja dialaminya, eh kami alami. Ia takkan begitu saja menghilangkan
nyeri dan sisa kenikmatan di selangkangannya.
Sekarang aku benar-benar nekat, pokoknya "nekat of the year". Mengetuk pintu
dari kayu jati itu mungkin akan membuat suaminya terbangun, tapi membukanya dengan
hati-hati mungkin tidak akan menimbulkan suara. Dan.. krek! ah tidak terkunci. Langsung
terbuka dan langsung juga membuat Bu Linda terhenyak, tapi dengan cepat aku meletakkan
jari telunjuk di bibir. "Wow nekat..! Kau anak muda mmm... untung saja aku telah
memberinya obat tidur. Tapi ah, sungguh asyik bermain-main dengan bahaya seperti ini. Aku
mau tahu apa yang akan ia perbuat padaku sekarang. Oh penis besarnya serasa masih
mengganjal di celah dinding vaginaku, aku ingin lagi!"
Ia mengulapkan tangan memberi tanda padaku untuk keluar dan menunggu. Aku pun mengangguk,
dan berlalu. Dadaku berdetak keras, kalau saja ini terjadi setiap hari berturut selama
tiga hari saja, aku pasti jantungan. Lalu Bu Linda muncul dari balik pintu kamarnya dan
berjalan kearahku,
"Kita di dapur saja.. dari situ kita bisa lihat ke arah pintu kamar ibu,"
bisiknya.
"Baik Bu,"
Dapur itu memang terletak berhadapan dengan ruang keluarga dan pintu kamar tidur mereka
bisa dilihat jelas. Mungkin Bu Linda berpikir kalau suaminya sampai bangun dan keluar dari
kamar tidur maka akan tampak jelas dari jendela dapur ini, sementara jendela itu sendiri
hanya tampak remang kalau dilihat dari arah sebaliknya. Cerdik juga! Aku yang sudah tak
sabar lagi langsung menuntunnya untuk berdiri dan bersandar di dinding ruangan itu,
kulepas ikatan gaun tidurnya, meraih buah dada montoknya dan langsung menyedot puting susu
itu bergiliran, huh nikmatnya kelembutan payudara perempuan paruhbaya itu. Dengan posisi
berdiri seperti ini, bush dadanya memang terlihat lebih menantang, walau agak turun tapi
ukurannya yang diatas rata-rata itulah yang membuatnya jadi tampak begitu menantang
birahi.
"Heeehhhggg... mmm ayooolah sayang jangan berlama-lama disitu, ingat situasi
dong," keluhnya,
"Baik Bu," jawabku tak membantah, lalu berjongkok sejenak di depan pahanya yang
mengangkang dan mencicipi permukaan vaginanya, lidahku terjulur membasahi dinding tebalnya
di bagian luar. Kemudian aku tergesa gesa berdiri segera kutusukkan penisku yang memang
tegang non-stop sedari tadi. Masuk dan langsung menggoyangnya maju mundur. Tak seperti
suasana sebelum Pak Rudi datang, desahan Bu Linda terdengar seperti berbisik.
"Huuuhhh yaaahhh.. ini sayang yaaah pijit yang agak keras yaaah..," bisiknya
ditelingaku sambil membawa telunjukk kananku menyentuh puting susunya, aku menjepit puncak
buah payudara itu dengan jari tengah dan ibu jari, telunjukku membelainya. Kucoba meresapi
gerakan pinggulnya yang kini ikut bergoyang seperti berdansa, mengimbangi gerakan
pinggulku yang sesekali memutar-mutar, membuat penisku mengaduk-aduk lubang kenikmatan di
antara pangkal pahanya.
"Kali ini kamu harus bisa keluar sayang, ooohhh ibu mau cairan kamu masuk ke dalam
rahim ibu. Harus sayang, kamu harus keluarin sekarang. Kalau tidak ibu nggak akan sanggup
lagi, hhheeehhh ooohhh yaaahhh ooohhh yyyaaahhh iiyaaahhh aaahhh aauuuh enaknya ooohhh
besar sekali penis kamu aaahhh uuuh enak sayang?"
"Yah hhhmmm aaahhh enak sekali Bu ooohhh saya hampir keluar sekarang oohhh jepit bu
oooh vagina ibu enaaakkkhhh mmm," balasku mendesah sambil menundukkan kepala dan
menyedot puting susunya. Kedua tanganku mengangkat buah dada itu sambil meremas-remas dan
mengarahkannya ke mulutku yang terus menyedotnya.
"ooohhh.. yyyyaaahhh.. ooohhh yyyaaahhh, ibu juga mau kelu.. Aarrr aaakkkhhh
yyyaahhh, sekarang Gus sekarang ooohhh genjot ibu sayang ooohh remas susu ibu sayang
remeeess yaaahhh yang keraaas lagi ooohhh... sekarang yaaakkkhhh yaaakkkhh aaahhh,"
perempuan itu melepaskan cairannya untuk yang kesekian kali di malam itu dan...
"Saya juga bu ooohhh vagina ibuu.. ooohhh bu ooohhh bu saya keluar, keluar keluaaarrr
enaaak Bu ooohhh enaaak sekali aaahhh ahhh ahhh ahhh ahhh yaaahhh..," akhirnya aku
juga melepaskan beban birahi itu dengan ejakulasi yang sangat kuat, wajahku mendongak ke
atas, penisku memuntahkan seluruh isinya ke dalam liang vagina Bu Linda yang juga
mengalami hal sama. Kami sama-sama merasakan puncak hubungan seks itu dengan dahsyat.
Tubuh kami sama-sama menegang keras saling berpelukan erat sekali.
Beberapa detik kemudian kami terduduk lemas di lantai dapur itu, lega sudah sekarang
rasanya. Tubuhku terasa ringan dan enteng. Bu Linda menyandarkan kepalanya di pundakku, ia
juga tampak lemas setelah mengalami tiga kali orgasme, nafasnya masih terdengar tak
teratur, ia lalu memperbaiki ikatan pinggang gaun tidurnya yang terlepas. "Kamu sudah
puas sayang?", bisik Bu Linda. "Sudah, Bu. Terimakasih, ibu nikmat sekali. Sudah
setahun lebih saya tidak melakukannya dan ibu adalah wanita tercantik yang pernah saya
kenal,".
"Bisa saja kamu, Gus tapi benar deh kamu hebat" bisiknya sambil membelai dadaku
yang bidang.
"Baru kali lho ibu mencapai puncak, Gus."
"Ah saya juga sama deh bu puas banget" balasku mesra. Kamipun saling berpelukan
mesra.
Sejak kejadian tersebut kami berdua selalu mengulanginya setiap ada kesempatan, terutama
bila suaminya tugas ke luar kota.
TAMAT
< Kembali ke halaman sebelumnya >
|
|