Madame (jilid 3)
Uhhh, perkasanya anak muda ini, suamiku pun bahkan tak
pernah dapat memberikan kepuasan seperti ini. Pengalaman pertamaku... ya. Terimakasih
sayang, kamu telah memberikan sebuah pelajaran nikmat dan tak terlupakan ini. Aku jadi
tahu betapa nikmatnya kepuasan seks yang kamu berikan. Tapi bagaimana dengan kamu sendiri?
Hei dia masih tegar, yah aku masih bisa merasakan getar nafsu yang hebat di batang
penisnya yang masih terjepit dalam vaginaku.
Pinggulnya sedikit bergerak.
"Maafkan ibu, sayang.. Ibu belum bisa memuaskanmu...," katanya dengan nafas yang
masih mendengus naik turun. Aku memberinya belaian lembut dan beberapa kecupan di pipinya.
Ia tersenyum mesra mendongakkan kepalanya yang bersandar di dadaku.
"Tak apa, Bu..," jawabku menghiburnya,
"Yang penting ibu bisa memuaskan diri ibu, saya juga menikmatinya, kok,"
"Meskipun kamu belum keluar?" ia memandangku seksama.
"Jangan pikirkan saya Bu...," padahal aku cukup kecewa juga. Dasar sok aksi,
padahal kalau bukan Bu Linda sih sekarang juga kau pasti memperkosanya, benakku mengejek
diri sendiri.
Teng! Teng! Teng!... jam dinding antik di ruangan itu berdentang duabelas kali, seakan
mengingatkan kami berdua akan bahaya yang bisa tak kami sadari. Raut wajah ratu rumah
tangga itu mendadak pucat, penisku masih menancap di liang vaginanya, posisi kami memang
belum berubah dari sejak ia mengalami orgasme. Penisku pun masih tegang terselip dalam
kemaluannya yang mulai mengering. Tapi bunyi dentang jam itu seperti sebuah komando bagiku
untuk waspada, penisku seperti mengerti akan hal itu. Ia mendadak menciutkan diri. Bu
Linda memandangku seksama, mungkin merasakan perubahan cepat pada barang yang terjepit
dalam vaginanya.
"Ibu cabut yah, sayang? Nggak apa-apa kan?"
"Nggak apa-apa, Bu. mmm jam berapa bapak pulang Bu," tanyaku setengah berbisik.
"Biasanya sekarang ini sudah pulang... tapi kenapa yah..?"
"Atau mungkin bapak mmm bapak..,"
"Bapak apaan sih...,"
"Apa mungkin bapak tahu, Bu?"
"Eh kamu yang nggak-nggak saja, nggak mungkin sayang. Rumah ini terlalu besar untuk
bisa diintip dari luar,"
"Gimana kalau dia sudah masuk dan mengetahui kita sedang berbuat ini?"
"Yang jelas kamu bukan polisi yang serba tahu dan suka menebak-nebak," ia
berdiri, penisku tercabut dari liangnya, ada sedikit rasa geli saat batangku tergesek
dindingnya.
"Aouw.. ah geli, Gus... kamu mau lanjutin sampai kamu puas? Ibu siap, siap layani
kamu sampai ini bisa dikatakan seimbang dan adil," Katanya sembari memberi senyuman
kearahku, wajah pucatnya tak tampak lagi. Sepertinya akan ada permainan lagi, ooo tentu
dong!! Aku belum puas menikmati tubuh ini, aku belum sempat menindihnya, menggumulinya dan
aaahh.. menidurinya sepuas hati sampai wanita ini berteriak minta ampun. Tapi ah selalu
ada tapinya.. tapi bukankan ini jam rawan Pak Rudi pulang?
"Tapi Bu? Kalau Bapak datang?"
"Tenang... sayang, serahkan itu pada ibu," katanya, ia lalu meraih baju tidur,
BH dan celana dalamnya yang tercecer di karpet. BH dan celana dalamnya ia pegang sementara
gaun tidur itu ia kenakan lagi. Aku mengikutinya mengenakan juga celana pendek dan baju
kaos tanpa celana dalam.
Bu Linda melangkah ke meja kecil di pojok ruangan lalu beberapa saat kemudian ia sudah
menunggu jawaban dari gagang telepon yang menempel di telinganya. Aku mulai bisa menebak
akal-akalan ini.
"Halo Pak, bapak di mana nih? Tapi kok sampai seginian larut belum selesai juga? Jam
dua belas.. hah? ooo begitu, iya deh kalau gitu Mami tunggu yah, daaah," ia
meletakkan gagang telepon dan langsung meraih tanganku dan menarikku kearah tangga.
"Gus kita masih punya satu jam lagi... cukup, kan?"
"Ya cukup Bu, tapi saya kuatir kalau...,"
"Kalau bapak datang? Tenang saja... lokasinya akan memungkinkan kita melihat
kedatangan mobilnya dari jarak yang cukup jauh," Ia terus menaiki tangga, melewati
lantai dua tempat kamar Lisa terus menuju ke lantai tiga di mana terdapat sebuah hall
khusus untuk santai dengan sebuah tempat duduk empuk yang panjang dan sebuah payung besar
mirip beach umbrella.
"Bukan itu maksud saya, Bu..,"
"Lalu maksud kamu apa," ia menatapku,
"Maksud saya,... saya kuatir kalau ibu minta lagi dan kita main lagi dan...
aaauuuwww," belum lagi kata-kataku habis Bu Linda menjamah batang penisku lalu
meremasnya dengan keras.
"iiihhh.. nakal kamu, awas lho kalau kamu keluar duluan, janji yah, keluar
samaan," katanya genit. Aneh sikap Bu Linda yang sehari-harinya judes itu malam ini
hilang tak berbekas, ia mendadak berubah seperti perawan yang baru saja beranjak remaja,
kubalas mencubit pantatnya yang sintal itu dengan gemas. Kami berdua benar-benar menikmati
moment itu mirip pengantin baru yang sedang berbulan madu.
Sampai di pojok lantai atas yang terbuka itu, aku memandang sekeliling. Rumah ini memang
yang tertinggi di antara rumah lain di lingkungan kompleks pejabat teras dareh itu,
berlantai tiga sehingga pemandangan sekitar kompleks tampak jelas terlihat dari sini.
"Sekarang lakukan apa maumu sayang, ibu mau puasin kamu sepuas-puasnya," ia
merebahkan diri di kursi panjang yang bisanya menjadi tempat membaca koran minggu pagi
suami wanita itu, ia masih memegang tanganku dari tadi.
"Tidak, Bu. Bukan ini yang saya inginkan," kataku menggeleng,
"Lalu ibu mau kamu apain?"
"Coba sekarang ibu berdiri membelakangi saya," aku menunjuk ke arah pinggiran
lantai yang menghadap pintu gerbang di bawah.
"Terus?"
"Naikkan sebelah kaki ibu di bangku ini," aku mengambilkan sebuah bangku kaki
tiga setinggi lutut,
"Kamu mau ibu buka pakaian?"
"Tidak, Bu. Saya lebih senang melihat ibu dengan gaun itu, ibu tampak jauh lebih
menggairahkan,"
Dasar anak muda! Serunya dalam hati, tapi ia senang juga pada fantasi seks anak ini.
Baginya apapun yang dimintanya adalah pelajaran berharga. Ia yakin benar bahwa anak ini
jauh lebih mengenal variasi seks dari pada ia sendiri yang selama perkawinannya hanya
mengenal teknik seks dari suaminya, dan terus terang suaminya takkan pernah memberinya
fantasi sehebat ini. Tanpa variasi dan sangat menjemukan.
Hamparan pemandangan vulgar itu tersaji sudah, Bu Linda, wanita paruh baya empat puluhan
itu kini membelakangiku dengan pantatnya yang semok sejajar dengan penisku yang mulai
tegang. Aku menyingkap ujung bawah gaunnya keatas dan menyelipkannya di ikatan pinggang
gaun itu. Pantat itu terbuka dan samar-samar terlihat belahan vaginanya yang terjepit
kedua belahan pantat itu. Kukocok sejenak penisku yang sudah tegang untuk menambah
kerasnya, lalu perlahan kusisipkan kecelah yang mulai basah itu dari belakang.
"Ooohhh... nggg," desahan khasnya saat menerima masuknya penis besar dan panjang
itu.
"Ini salah satu posisi favorit saya, Bu, ibu suka?" aku meraih buah dadanya dari
celah gaun tidur itu.
"Hooohhh... i. I.. Iya.. ibu suka sekaliii.. hhheeehhh.. aaahhh," Pompaanku
dimulai, sambil meremas payudara besarnya sebelah lagi tanganku memijit clitoris di bagian
atas vaginanya. Bu Linda mendesah semakin cepat, nafasnya pun semakin memburu,
tusukan-tusukan penisku dari arah belakang pantatnya kini ia balas dengan
menggoyang-goyang pantatnya maju mundur berlawanan denganku. Hempasan pangkal pahaku
menimbulkan decakan suara yang semakin keras saat ia juga menghempaskan pantatnya saat aku
menusuk ke arah vaginanya.
"Iyaaakkkhhh iiihhh uuhhh aaauuuwww... hhheehhh.. enak genjot aaah,"
"Oohhh Bu, enak sekali ini, oohhh ini aaahhh iniii Bu aaahhh... enaaakkhhh...
ssshhh,"
"Ayooo sayaaang ibu su.. sudaaah hampir laagiii aahhhmmm ssshhh..."
"Tahan Bu sentar laaagiii aaahhh ssshhh sssttt... eeehhh... oooh enaknya vagina
ibu,"
"Aduuuhhh.. Gus cepetaan sayaaang... aduuuh enaknya kooon ooohhh penis kamu,
sayang,"
Sebenarnya aku sudah berusaha semaksimal mungkin untuk mempercepat ejakulasiku namun oooh,
sulit sekali membuatnya cepat kalau dengan pasangan main secantik dan semolek Bu Linda
ini. Dan kejadian itupun terulang, Bu Linda mendesah panjang dengan tubuh yang kembali
menegang. Tangannya meremas tiang tempat ia berpegang sambil menggigit bibirnya.
"aaauuuwww ibu nggak tahaaan sayang ooohhh..., enaaakhhh ibu keluar lagiii,"
"oooh Bu mmm," aku sedikit kecewa saat ia menghentikan gerakan. Kakinya ia
turunkan dari bangku yang membuat penisku tercabut.
"Ibu capeeek, sayang.. selangkangan ibu rasanya pegal sekali," ia menatapku
lemas, aku diam sejenak. Ah peduli amat..! aku harus memuaskan dirku sekarang! Kalaupun ia
menolak akan kuperkosa wanita ini. Aku menariknya dengan sedikit kasar lalu kudorong ia
perlahan untuk menungging dan bertumpu di kedua kaki dan tangannya. Pahanya kulebarkan
dengan sedikit memaksa,
"Ampun sayang, ibu nggak kuat lagi, oooh ibu nyerah deeeh" ia meminta.
"ooohhh anak muda ini, gila!!! Benar-benar gila kau Agus.. kau mampu membuatku
orgasme sampai dua kali dan kau sendiri masih belum apa-apa. Dan sekarang.. oh tuhan aku
mau diapakan. Aku memang suka permainanmu yang hebat ini tapi ooouuuh... ampuuun
gelii..."
Aku menghujamkan penisku dari belakang, kupikir doggy style ini biasanya membuatku cepat
keluar,
"Maafkan saya bu, tapi tubuh ibu sangat menggairahkan, ini kesempatan yang sudah saya
tunggu sejak pertama melihat ibu," aku mulai memaju mundurkan pantatku menggenjotnya.
Permintaannya untuk berhenti justru semakin membangkitkan birahiku. Bagaimana rasanya
orang yang sehari-hari tampak judes dan kejam ini merasakan keperkasaanku yang telah dua
kali membuatnya tumbang. Aku semakin menikmatinya. Genjotanku semakin lancar, tak
kuperdulikan lagi desahan dan rontaannya yang timbul dari rasa geli itu. Sepuluh menit
kemudian aku baru merasakan gejala ejakulasi, sengaja kupercepat dan perkeras genjotanku.
Tanganku meraih buah dadanya yang menggantung dan bergoyang keras akibat benturan pangkal
pahaku yang bertubi-tubi.
Tapi tiba-tiba sekali, sekelebat sinar terang dari sebuah kendaraan tampak di kejauhan.
Dan wajah Bu Linda yang memang menghadap ke arah itu melihatnya jelas, tubuhnya reflek
berhenti dari reaksi kenikmatan yang sebenarnya baru saja mulai ia rasakan lagi. Akupun
demikian, kami bagai tersambar listrik, langsung terdiam dan tak bergerak, hanya beberapa
detik sebelum Bu Linda reflek mencabut gigitan vaginanya dan berdiri menghadapku.
"Itu bapak! Kita harus kembali ke kamar masing-masing, kunci kamarmu," katanya
cekatan, wajahnya mulai tegang, pesona seksual dan libidonya seperti hilang tak berbekas.
"Ayooo!!! Kamu tunggu apa..," ia seperti membentakku karena melongo seperti
patung goblok.
"I... iya Bu, tapi..," aku meraih buah dadanya dan menyorongkan mulutku, tapi
baru sedetik mulutku mendarat ia sudah menepisnya sambil melotot.
"Jangan keterlaluan, Gus. Ayo cepat kamu tunggu apa lagi," ia merapikan pakaian
tidur itu dan berlalu. Aku mengikuti dari belakang. Bajuku sudah terpasang tapi celanaku
hanya kutenteng.
"Besok kita lanjutkan, itu kalau kita selamat malam ini...," ia memberiku
kecupan dan langsung berlalu dari hadapanku. Untung saja kamarku ada di lantai dua, di
samping kamar Lisa, coba kalau di lantai dasar pasti sudah ketahuan Pak Rudi, karena untuk
mencapai kamar khusus tamu harus melewati kamar tamu dan ruang keluarga dulu.
BERSAMBUNG KE JILID 4
< Kembali ke halaman sebelumnya >
|
|