Madame (jilid 2)
Kami berdua terdiam untuk beberapa saat, sepertinya memang
kami memikirkan sebuah hal yang sama tapi sama-sama malu dan enggan untuk
mengungkapkannya. Sudut mataku full mentok ke arah buah dadanya yang maju banget, lebih
dari rata-rata. Kuperhatikan lagi wajahnya dengan seksama, kulirik sejenak lalu
membayangkannya, hmmm.. Bu Linda ini adalah perempuan paruh baya yang tercantik yang
pernah kulihat. Tapi.. Bagaimana caranya? Aku bingung sendiri sampai tiba-tiba ia membuka
pembicaraan lagi, "Gus, menurut kamu kabar burung tentang kebiasaan buruk para elite
pemerintah yang dikatakan punya hobi "jajanan" itu betul, nggak?" ia tak
sadar semakin mengarahkan pembicaraan itu. Wah ini dia kesempatanku!
"Tampaknya ibu cukup ketinggalan juga, ibu masih menganggap itu kabar burung tapi
saya sendiri pernah menelitinya secara ilmiah, Bu,"
"Oh ya?" dia tampak bersemangat lagi,
"Ya, dulu saya bersama teman pernah melakukan penelitian dengan sampling dan polling
di antara keluarga para pejabat dan eksekutif di Jakarta,"
"Terus... terus gimana..." ia memotong,
"Hasilnya cukup mengejutkan, sekitar 60 persen dari para bapak-bapak itu mengaku
pernah atau memang sering melakukannya,"
"Hah..!" Bu Linda terperanjat, matanya menatapku tajam, ini kesempatan lagi
untuk membalas tatapan perempuan cantik itu. Sambil lalu aku melanjutkan keterangan yang
sebenarnya hanya khayalanku saja, ini untungnya ilmuwan, biar ngawur juga sedikit tidak
pasti dipercaya.
"Dan yang lebih aneh lagi, Bu. Sebagian besar dari para respondent menganggap hal
tersebut suatu yang sudah lumrah. Malah ada lagi yang berpendapat bahwa aneh kalau seorang
pejabat teras dan eksekutif tak memiliki wanita lain selain istrinya, lebih tepat kalau
saya katakan partner seks lain karena para wanita tadi memang lebih sering berfungsi
sebagai teman kencan. Kalau para pejabat pusat biasanya mengincar para artis dan bintang
film, tentunya dengan konpensasi yang sebanding untuk si wanita, dan pejabat daerah
biasanya memakai kedok perusahaan pribadi mereka, merekrut gadis-gadis cantik untuk
dijadikan simpanan dengan kedok mempekerjakan mereka sebagai sekertaris, staff dan
lain-lain," jelasku panjang lebar, kata-kata itu muncul begitu saja dari mulutku
dengan logika yang sedikit ngawur. Bu Ani tampak sangat serius menanggapinya. Belum lagi
aku melanjutkan kata-kata itu ia sudah memotong dengan pertanyaan yang justru membuat
rencana kecil dan trik itu berjalan semakin lancar saja,
"Kalau menurut kamu, Bapak gitu nggak? Maksudku mmm suami ibu gitu," ini dia
pertanyaan yang kutunggu, jantungku pun berdetak mulai kencang dan dengan susah payah aku
berusaha mengatur intonasi suara agar terdengar stabil.
"Ngg... gimana ya, Bu. Ini yang berat. Tapi..." Aku jadi ragu menjawabnya, Ah
aku harus mendapatkan perempuan itu malam ini juga, ya, harus, harus.
"Tapi apa, Gus?" ia semakin penasaran,
"Tapi saya kan baru di sini, sebulan juga belum, Bu."
"ooo... iya kamu benar juga, tapi nggak ada salahnya lho. Tapi oke lah, kita kembali
ke topik tadi, terus gimana hasil penelitian kamu pada para istri pejabat," suasana
jadi agak kikuk, Bu Linda berusaha santai, kakinya yang sedari tadi dilipat itu kini ia
selonjorkan.
"My God, aku harus bagaimana lagi untuk mencoba melakukannya, ah peduli setan, aku
bukan istri yang setia. Dan lagi apa gunanya sih? Oh.. Agus, sentuh aku malam ini, rasanya
aku ingin sekali merengkuh tubuhmu, memberi jalan padamu untuk memasuki tubuhku," ia
agak segan saat batinnya ingin menyebut nama benda yang ada di antara selangkangan pemuda
itu. Dan... wooow, reaksi apakah itu? Ia seperti melihat perubahan jelas pada permukaan
celana anak ini.
Aku pun mulai kehilangan bahan omongan, otakku sudah dipenuhi bayangan vulgar tubuh wanita
berumur empat puluhan ini bertelanjang bulat di hadapanku. Pantat dan pinggulnya yang
aduhai itu, oh betapa nikmatnya kalau tanganku bisa meremas-remasnya. Suasana mendadak
vakum cukup lama, tak sepatah katapun yang keluar dari mulut kami, Ya ampun, bagaimana
caranya aku... aku ingin sekali menyentuh benda itu tapi kenapa tangan ini rasanya seperti
beku tak bisa kugerakkan. Ini kali pertama aku begitu bergairah pada seorang lelaki sejak
perkawinanku sembilan belas tahun lalu, mungkinkah? Ini bisa kulakukan... ooohhh aku ingin
cepat-cepat meremas batang penismu anak muda! Oohh betapa nikmatnya kalau anak ini sampai
menindihku, memainkan seluruh alat vitalku, memasuki liang rahimku ooohhh, akankah ia jadi
orang yang pertama berselingkuh denganku. Jari tangan Bu Linda saling meremas keras, aku
jadi semakin yakin kalau wanita ini memang menginginkannya, sikat saja, Gus! Dia wanita
kesepian! Lihatlah gerak-geriknya, perlakuan suaminya, kecantikan tubuhnya, bukankah itu
yang kau cari? Entah dari mana datangnya keberanianku, lebih tepat kalau dibilang
kenekatanku. Tanganku tiba-tiba mendarat di atas telapaknya yang saling meremas tadi.
"Ada apa, bu. Ibu sepertinya sedang memikirkan sesuatu?" kupandangi matanya yang
indah, bibir manisnya yang tampak begitu ranum itu seperti kehilangan warna keseharian
yang biasa ia tunjukkan pada para pekerja.
"Gus," panggilnya serak dan berat.
"Ya, bu?"
"Ibu ingin sesuatu dari kamu... dan ibu harap kamu mau meluluskannya," ia
menatap mataku. Teduh sekali pandangan wanita ini, wajahnya berubah seperti seorang
pengantin baru yang sedang menghadapi malam pertama. Aku yakin, saat itu aku tak dapat
lagi mengontrol diri, sebelah tanganku bergerak meraba pundaknya, entah setan dari mana
yang memberiku tenaga tapi aku yakin seyakin-yakinnya... ini malam pasti bakalan kejadian,
"Saya berharap inilah yang ibu inginkan," kataku lalu mengarahkan bibirku pada
bibirnya yang merah... entah berapa lama setelah itu kami berdua sudah turun dari sofa dan
terlibat pertarungan bibir yang sangat hebat. Tak ada lagi kata-kata, yang terdengar hanya
desahan berat mengiringi waktu dan suasana yang semakin panas, aku menindih tubuhnya di
lantai berlapis karpet tebal itu. Sementara tanganku meraba permukaan dadanya yang
menggelembung besar dan montok, kususupkan telapakku melalui celah dasternya lalu dengan
cekatan jari-jariku menarik BH-nya ke atas. Hmmm... kelembutan buah dada wanita paruh baya
itu semakin membuatku bernafsu menggumulinya. Tangan kiriku tak mau ketinggalan, merambat
ke arah bawah menuju daerah pangkal pahanya, dari situ kutarik celana dalam pink-nya ke
bawah dan langsung kulorotkan, Bu Linda menyambutnya dengan meloloskan CD itu lepas dari
kakinya. Sejenak kuhentikan aktivitas itu, kurenggangkan jarak antara tubuh kami, lalu
pelan-pelan kulepaskan dasternya yang begitu tampak seksi dimataku.
"ooohhh akhirnya... mmm... gumuli aku, sayang, gumuli aku, setubuhi wanita kesepian
ini... ooohhh..."
"Ibu yakin akan melakukan ini, bu?"
"Teruskan sayang, puaskan ibu malam ini. Ibu memang sudah lama ingin melakukan ini,
kamu akan jadi lelaki pertama yang menyetubuhi ibu selain suami, lakukanlah, Gus, lakukan,
ibu mau, Gus. Mau.. mau... teruskan sayang..." ia mengangkat-angkat tubuhnya untuk
memudahkan aku meloloskan dasternya dan... tubuh bahenol istri Pak Rudi itu kini telah
tersaji lengkap di hadapanku. Tergesa-gesa kulepaskan pakaian dan celana dalam yang
kukenakan. Mata permpuan itu melotot melihat sesuatu yang berdiri tegak di selangkanganku,
raut mukanya menampakkan rasa khawatir bercampur gembira.
"Besar sekali sayang... ya ampun, gimana rasanya?" serunya genit sambil
mengulurkan tangan kearahku. Aku kembali menindih tubuh telanjang yang begitu
menggairahkan itu. Mulutku langsung menuju ke puncak gunung kembar di dadanya dan
crooop... menyedot puting susunya yang merah kecoklatan. Ternyata bentuk payudara ini jauh
lebih bagus dari payudara wanita-wanita lain yang pernah kugauli, malah Annie mantan
pacarku pun tak ada apa-apanya dibanding Bu Linda.
"ooohhh... nikmatnya mulutmu sayang ooohhh, kau benar-benar lelaki yang pertama kali
memberiku kenikmatan seperti ini, suamikupun tidak pernah..."
"Ng.. aaahhh.. sedooot yang keraaas... uuuhhh.. enak sekali sayang,"
"Kenapa aku tiba-tiba tak sabar ingin di masuki batang penismu? Menelan air manimu
seperti di film itu atau menampungnya dalam rahimku ooohhh... akupun rela kalau mengandung
anak hasil perbuatan haram ini... sayang, ooohhh setubuhilah aku sepuasmu, nak. Kau harus
memberiku kepuasan malam ini."
Pinggulnya bergerak ke samping kiri dan kanan, seperti mengisyaratkan aku untuk segera
mulai menyetubuhinya. No way, terlalu cepat. Kuturunkan wajahku sambil terus menjulurkan
lidah di permukaan perutnya terus turun dan sampai di daerah yang paling aku sukai, hmmm
namanya juga istri pejabat, daerah ini tampaknya terawat baik sekali. Tak perlu ragu.
"Ibu mau diapain sayang ooohhh.. ibu malu," tangannya mencoba menahan sambil
menarik rambutku. Namun rasa geli di permukaan perutnya ternyata sangat ia sukai. Beberapa
saat kemudian tangan itu malah mendorong kepalaku semakin bawah dan... nyam-nyam ini dia!
Hutan lebat yang menyembunyikan oase itu kusingkap, oh... bukit kecil dengan sumur di
antaranya yang berwarna merah merangsang birahi itu. Kusibakkan kedua bibir vaginanya dan
creeep... ujung hidungku kupaksakan masuk ke dalam celah vagina yang sudah sedari tadi
becek itu.
"aaahhh... kamu nakaaall," jeritnya cukup keras,Terus terang vaginanya adalah
terindah yang pernah aku cicipi, bibir kemaluannya yang merah merekah dengan bentuk yang
gemuk dan lebar itu membuatku semakin bernafsu saja. Bergiliran kutarik kecil kedua belah
bibir vagina itu dengan mulutku. Tak kusangka wanita pemiliknya sudah pernah mengeluarkan
tiga anak dari vagina ini. Cairan kelamin mulai deras mengalir dari lubuk rahim Bu Linda.
"uuuhhh... kamu yang pertama memperlakukan aku seperti ini, ooohh aku bahkan tak
pernah membayangkan hal ini sebelumnya, ya ampuuunn ooohhh lidahmu oooh nikmatnya. Tak
pernah sebelumnya suamiku berbuat seperti ini padaku, ah masa bodoh dia hanya seorang
pecundang sekarang."
Sementara aku asyik menikmati bibir kemaluannya, ia terus mendesah merasakan kegelian,
persis seorang gadis perawan yang baru merasakan seks untuk pertama kali, kasihan wanita
ini dan betapa bodohnya Pak Rudy. Lelaki botak itu mungkin sedang asyik dengan perempuan
lain malam ini. Jadi wajar saja kalau istrinya bersetubuh denganku, adil kan?
"aaahhh.. sayang... ibu suka yang itu yaaahh sedooot lagi dong sayang
oooggghhh," ia mulai banyak menggunakan kata sayang untuk memanggilku. Sebuah
panggilan yang sepertinya terlalu mesra untuk tahap awal ini. Tapi kuakui sikapnya yang
dewasa dan keibuan inilah yang menjadi daya tariknya. Lima menit kemudian...
"Sayang.., Ibu ingin cicipi punya kamu juga," katanya seperti memintaku
menghentikan tarian lidah di atas vaginanya.
"Ahhh, baiklah Bu, sekarang giliran ibu," lanjutku kemudian berdiri mengangkang
di atas wajahnya yang masih berbaring. Tangannya langsung meraih batang penis besarku dan
sekejap terkejut menyadari ukurannya yang jauh di atas rata-rata.
"ini barang atau ketimun, Gus?" candanya padaku, lidahnya langsung menjulur
kearah kepala penis yang sudah sedari tadi tegang dan amat keras itu.
"Mungkin ini nggak akan cukup kalau masuk di.. Aaah mmm... ngggmmm," belum lagi
kata-kata isengnya keluar aku sudah menghujamkan penisku kearah mulutnya dan crooop
langsung memenuhi rongganya yang mungil itu. Matanya menatapku dengan pandangan lucu,
sementara aku sedang meringis merasakan kegelian yang justru semakin membuat batang penis
itu tegang dan keras.
"Aduuuh enaaak Bu ooohh enaknya Bu ooohhh..," mulutku mulai mengeluarkan tempat
bersandar sampai aku terduduk lagi di sebuah sofa panjang sementara ia terus menyedot dan
mengocok batang kemaluanku keluar masuk mulutnya yang kini tampak semakin sesak. Tangan
kananku meraih payudara besarnya yang menggelayut bergoyang kesana kemari sembari tangan
sebelah kiriku memberi rabaan di punggungnya yang halus itu. Sesekali ia menggigit kecil
kepala kemaluanku dalam mulutnya,"mmm... mmm...," hanya itu yang keluar dari
mulutnya, seiring telapak tanganku yang meremas keras daging empuk di dadanya. Apakah aku
sanggup menerima penis ini dalam vaginaku, uh... besarnya. Tak kubayangkan ada lelaki muda
dan gagah dengan ukuran kemaluan sebesar dan sepanjang ini, alangkah nikmatnya, aku sudah
tak sabar lagi.
"Crop..." ia mengeluarkan kemaluanku dari mulutnya.. dan berdiri tegak di
hadapanku, aku langsung menyergap pinggulnya dan lagi-lagi, daerah selangkangan dengan
bukit berbulu itu kuserubuti dan menyedot cairan mani yang sepertinya sudah membanjir di
bibir vaginanya.
"Aooouuuhhh... ibu ndak tahan lagi sayang ampuuun... Gusss... hhh masukin ibu
sekarang juga, ayooo..," pintanya sambil lalu beranjak menempatkan dirinya tepat
diatas pangkal pahaku yang terduduk tegak di sofa, selangkangannya yang tersibak di antara
pinggangku menempatkan posisi liang vaginanya yang terbuka lebar itu siap menerima
masuknya penis besar yang kini sudah benar-benar tampak tegak lurus dan keras. Pelan
sekali ia menempelkan bibir kemaluannya di kepala penisku dan mendorong perlahan,
"Nggg... aaa.. aa.. aaa.. iii... ooohhh masuuuk... aduuuh besar sekali sayang,
ooohhh...," ia merintih, wajahnya memucat seperti orang yang terluka iris. Aku tahu
kalau itu adalah reaksi dari bibir vaginanya yang terlalu rapat untuk ukuran penisku. Dan
Bu Linda merupakan wanita yang kesekian kalinya mengatakan hal yang sama. Namun jujur
saja, ia adalah wanita paruh baya tercantik dan terseksi dari semua wanita yang pernah
kutiduri. Buah dadanya yang membusung besar itu langsung kuhujani dengan kecupan-kecupan
pada kedua putingnya secara bergiliran, sesekali aku juga berusaha mengimbangi gerakan
turun naiknya diatas pinggangku dengan cara mengangkat-angkat dan memiringkan pinggul
hingga membuatnya semakin bernafsu.
"Huuuhhh.. aaahhh Bu, enak sekali Bu Linda.. ooohhh, vagina ibu ooohh lezatnya ooohh
goyang terus Bu aaahhh ini yang saya suka Bu ooohhh,"
"Yaaahhh nggg.. ooohhh sayang... sedooot terus susu ibu, Gushhh..."
Tangannya menekan-nekan kepalaku kearah buah dadanya yang tersedot keras sementara penisku
terus keluar masuk semakin lancar dalam liang vaginanya yang sudah terasa banjir dan amat
becek itu. Puting susunya yang ternyata merupakan titik nikmatnya kugigit kecil hingga
wanita itu berteriak kecil merintih menahan rasa nikmat sangat hebat, untung saja kamar
tidur Lisa terletak di lantai dua yang cukup jauh untuk mendengar teriakan-teriakan kami
berdua. Puas memainkan kedua buah dadanya kedua tanganku meraih kepalanya dan menariknya
kearah wajahku, sampai disitu mulut kami beradu, kami saling memainkan lidah dalam rongga
mulut secara bergiliran. Setelah itu lidahku menjalar liar di pipinya naik karah kelopak
matanya melumuri seluruh wajah cantik itu, dan menggigit daun telinganya. Genjotan
pinggulnya semakin keras menghantam pangkal pahaku, penisku semakin terasa membentur dasar
liang vagina itu.
"ooohhh.. aaa... aaahhh... aaahhh... mmmhh geliii ooohhh enaknya, Gus... oooh,"
"Yaaahh enaaak juga Bu ooohhh vagina ibu rasanya nikmat sekali, yaaahh iiiyyaakkhh..
genjot yang keras Bu, enak sekali seperti ini, Bu ooohhh ibu enaaakk... ooohhh Bu ooohhh
vagina ibu nikmat sekali, Bu," kata-kataku yang polos itu keluar begitu saja tanpa
kendali, bahkan tak kuperdulikan lagi estetika bahasa pada istri Pak Rudi ini, aku tak
canggung lagi menyebut kata-kata seronok tentang alat vitalnya yang memang benar-benar
terasa nikmat. Goyang pinggulnya yang sesekali memutar itu membuat seluruh permukaan
penisku terasa membelai dinding bagian dalam kemaluannya. Tanganku yang tadi ada di atas
kini beralih meremas bongkahan pantatnya yang bahenol itu. Setiap ia menekan ke bawah dan
menghempaskan vaginanya tertusuk penisku, secara otomatis tanganku meremas keras bongkahan
pantatnya. Secara reflek pula vaginanya menjepit dan berdenyut seperti menyedot batang
penisku. Hanya sepuluh menit setelah itu goyangan tubuh Bu Linda terasa menegang, aku
mengerti kalau itu adalah gejala orgasme yang akan segera diraihnya, ooouuuhh.. Ini
pertama kalinya dalam hidupku aku merasa seperti ini, anak ini benar-benar perkasa, ooh
dia masih tampak kekar dan tenang. "Aku menyerah anak muda, aku tak kuat lagi menahan
ini oooh penismu terasa seperti peluru kendali nuklir yang meluluh lantakkan rahimku..
oooh nikmatnya."
"Gusss... aaahhh ibuu ngaa... ngak kuaaat aaahhh aahh aaahh ooohhh...,"
"Taahaan Bu... Tunggu saya dulu mmm nggg.. Noooh enaknya Bu.. tahan dulu Bu... jangan
keluarin dulu."
Tapi sia-sia saja, tubuh Bu Linda menegang kaku, tangannya mencengkeram erat di pundakku,
dadanya menjauh dari mukaku hingga kedua telapak tanganku semakin leluasa memberikan
remasan pada buah dadanya. Aku sadar sulitnya menahan orgasme itu, hingga aku meremas
keras susunya untuk memaksimalkan kenikmatan orgasme itu padanya. "ooo... nggg...
aaahhh... sayang sayang sayang sayaaang oooh enaaak ibu kelauaaar keluar keluar haaah
haaah hhooohhh ooohhh...," teriaknya panjang mengakhiri babak permainan itu. Aku
merasakan jepitan vaginanya di sekeliling penisku mengeras dan terasa mencengkeram erat
sekali, desiran zat cair kental terasa menyemprot enam kali di dalam liang vaginanya
sampai sekitar sepuluh detik kemudian ia mulai lemas dalam pelukanku. Dengusan nafasnya
mendominasi suasana yang mendadak sepi itu.
BERSAMBUNG KE JILID 3
< Kembali ke halaman sebelumnya >
|
|