Gairah tante Vivi (jilid 5)
Aku membuka mata kembali saat kurasa Tante Vivi
menghentikan gerakan pinggul seksinya yang aduhai. Kini ia merebahkan tubuhnya yang
berkeringat basah di atas tubuhku, kedua buah susunya yang sebesar melon menekan lunak dan
terasa kenyal di dadaku. Batang penisku masih perkasa tegak 100 % walau isinya serasa
sudah terkuras habis..., jepitan daging liang vaginanya masih kurasakan begitu hebat
meremas dan mengenyot alat kejantananku yang masih terbenam kandas di dalam situ.
"mm..., bagaimana Ar..., Nikmat sayangg...", bisiknya sambil memandang genit ke
arahku.
"Ahh..., kau luar biasa sekali Vi..", sahutku lirih. Masih lemas.
"Air manimu banyak sekali Ar..", ujarnya polos. Wajahnya yang cantik kelihatan
tersenyum puas bisa membuatku tak berdaya. Kuelus rambut hitamnya yang terurai panjang
sampai menerpa leherku yang basah berkeringat.
"Kenapa Vi...? kau tidak suka air maniku sebanyak itu.", tanyaku lemas.
"iihh..., hik..., hik..., tidak Ar..., cuman..., Tante khawatir kalo sampai
hamil..", bisiknya padaku tetap dengan senyum manisnya.
"aah..., Vi..., kau jangan nakut-nakuti gitu dong..., Kita khan cum..", Belum
habis omonganku, Tante Vivi menempelkan jari telunjuk tangan kanannya ke bibirku.
"sstt..., Tante tau Ar..., Sudahlah..., ini cuman sex khan sayang..", bisiknya
lagi.
"Cupp...", Mulutku mengecup gemas bibir ranumnya yang nakal itu. Sejenak kami
saling bercumbu beradu bibir, saling mengulum dan mengecup..., begitu nikmat rasa bibir
Tante Vivi itu.
Ketika kecupan mesra itu berakhir, aku berbisik mesra padanya.
"Vi..., aku masih punya kejantanan yang lain..", kataku gemas.
"Apa itu Ar...?", tanyanya mesra. Bibir ranumnya kelihatan basah habis kukecup
dan kukulum tadi.
"Kamu belum puas khan Vi...?", ujarku balas bertanya.
"Iyaa Ar..., mm..., tapi Tante capek sayang...", bisiknya sambil mengerling
genit.
"Aku yang akan memuasimu sekarang Vi..", bisikku gemas.
"mm..", ia tak menjawab, namun matanya dipejamkan seolah membayangkan apa yang
akan aku lakukan.
Aku jadi bernafsu, membuat batang penisku yang masih terbenam nikmat di dalam liang
vaginanya yang sempit jadi semakin berdiri dan tambah perkasa.
Aku memeluk pinggang Tante Vivi yang kecil dan ramping dengan erat, sambil kubisikkan
kalimat mesra di telinganya. Dengan tersenyum senang dan saling berdekapan erat
kugulingkan tubuh Tante Vivi kesamping kiri tempat tidur, lalu dengan posisi batang
penisku masih tetap terbenam terjepit di dalam liang vaginanya, kugulingkan tubuhku ke
samping sekali lagi dan menaiki tubuh Tante Vivi yang kini ganti berada di bawah
tindihanku.
Wooww..., nikmatnya menindih tubuh bugil montoknya yang hangat. Terasa hangat empuk dan
mulus sekali kulit tubuhnya. Apalagi sembari menikmati jepitan daging tubuhnya yang sangat
terlarang itu.
Sejenak kami terdiam saling berpandangan mesra.
"Ar..., jujur saja..., sudah berapa wanita yang pernah kamu tiduri...?",
tanyanya pelan. Aku tersenyum geli mendengar pertanyaannya yang spontan dan sedikit aneh.
"mm..., baru seorang saja..., Vi..", kataku terus terang.
"Selva khan..?", tanyanya lagi.
"Bukan Vi..., orang lain..", bisikku pelan. Pertanyaannya itu benar-benar
membuat rasa bersalah itu hadir kembali dalam batinku.
"mm..., kamu nakal Ar..., awas sayang jangan menghianati Selva yaahh..",
bisiknya sedikit serius. Jemari tangannya mencubit pinggangku gemas.
oohh..., aku tak ingin melepas kenikmatan ini terlalu lama dengan soal Dina atau Selva
karena hanya makin mengingatkanku dan menambah rasa bersalahku pada mereka. Aku
menundukkan muka dan kembali mengulum bibir ranum Tante Vivi dengan gemas. Tante Vivi
membalas cumbuanku tak kalah mesra, kedua mulut kami saling berpagutan mesra beberapa
saat.
"Ar..., puasi Tante sayang..", bisiknya manja di telingaku. Aku tersenyum penuh
gairah mendengar permintaannya. Kukecup sekilas bibir ranumnya sekali lagi, lalu sambil
saling berpandangan mesra, kutarik pinggulku keatas secara perlahan mengeluarkan batang
penisku dari dalam jepitan liang vaginanya sampai keluar kira-kira sekitar 8-10 centi lalu
dengan perlahan pula kembali kuturunkan pinggulku ke bawah memasukkan kembali alat
kejantananku ke dalam liang vagina sempitnya yang seolah menyambut mesra dengan remasan
dan urutan-urutan lembut penuh kenikmatan.
"uuhh..". Tante Vivi merintih pelan keenakan sambil tetap tersenyum manis
kepadaku. Kedua jemari tangannya mengusap-usap mesra pantatku yang lagi asyik secara
teratur mulai bergerak turun naik menyetubuhinya.
"uu hh..., uuhh..., uuhh...", erang Tante Vivi lirih setiap kali batang penisku
kutarik keluar menggesek daging liang vaginanya yang sempit dan licin. Untung saja air
maniku yang tumpah tadi seolah membantu melicinkan pergesekan kedua alat kelamin kami. Aku
merasa betapa liang vaginanya itu seolah berusaha menyedot dan mencengkeram kuat saat
batang penisku berusaha menggesek keluar dan seakan seperti diremas, dilumat dan diurut
begitu hebat tapi nikmat saat kembali kubenamkan batang penisku ke dalam liang vagina
Tante Vivi.
"aahhgghghgh..., aahhgghh.."
Mau tak mau aku kembali berkelojotan merasakan kenikmatan yang tiada tara. Seakan
membangun kekuatan baru ketika kenikmatan menuju puncak enjakulasi itu mulai kurasakan
muncul pada sekujur batang penisku. Aku semakin bersemangat dan dengan ritme teratur yang
semakin lama semakin cepat, kuhunjam-hunjamkan dengan gemas batang penisku keluar masuk
liang vagina Tante Vivi yang makin lama kurasakan juga makin menyempit lagi seperti hendak
mendekati klimaknya.
"uuhh..., uuhh..., uhh..., uuhh..., uuhh..", Tante Vivi mengerang semakin keras,
kedua matanya kini dipejamkan rapat menikmati genjotan alat kejantananku yang bergerak
semakin cepat seperti pompa ekplorasi minyak keluar masuk menggesek liang vaginanya. Aku
tahu Tante Vivi sedang menuju puncak kenikmatan sexualnya. Kedua paha mulusnya yang
mengapit lembut pinggangku sesekali dihentakkan ke bawah sambil mengejan kuat menahan
kenikmatan. Wajahnya yang cantik kelihatan meringis saking tak kuatnya menahan rasa nikmat
pada alat kemaluannya yang sedang kusetubuhi.
Aku benar-benar puas menyaksikan ekspresi wajahnya yang sedang didera pusaran kenikmatan
yang kuciptakan di atas tubuhnya, seandainya saja ia juga tahu batang penisku yang sedang
menggesek hebat liang vaginanya itu juga mulai menunjukkan tanda-tanda aktivitas bak
gunung berapi yang hendak meletup. Namun karena enjakulasi pertamaku tadi, maka rasa
nikmat luar biasa persetubuhan ini masih dapat kuredam dan kutahan lebih lama.
"aahh..., Vi..., ngghh..., vaginamu nikmat sekali sayang..", erangku nakal.
Tante Vivi tak menjawab, mulutnya yang menggemaskan itu hanya terus merintih berulangkali
seiring dengan goyangan naik turun pinggulku yang makin kupercepat.
"uuh..., hh..., uu..., hh..., uuhh..., uuhh..", erang Tante Vivi semakin keras.
Menit demi menit berlalu yang terasa begitu lama dan melelahkan, entah sudah beberapa kali
nyaris saja air maniku kembali muncrat ke dalam liang vagina Tante Vivi, gara-garanya ia
mengejan terlalu kuat membuat jepitan daging liang vaginanya mendadak mengerut dan
mengecil. Membuat batang penisku yang sudah mulai mendekati klimak seolah dilumat-lumat
dan diremas-remas hebat. Batang penisku dibuatnya kelojotan keenakan, dan kedua kakiku
sampai gemetaran meredam sekuatnya badai kenikmatan yang sontak menjalar diselangkanganku.
Sambil menggigit bibir menahan nikmat, kutelusupkan kedua jemari tanganku ke balik
bokongnya yang bulat padat dan kenyal. Sembari kuremas gemas, kuhentak-hentakkan alat
kejantananku keluar masuk menggesek liang vagina Tante Vivi secepat dan sekuat tenagaku.
Kukayuh pinggulku naik turun dengan cepat, karena aku ingin segera menuntaskan
persetubuhan ini.
"uuhh..., uhh..., uuhh..., uuhh..., uuhh..., uuhh", aku merasa Tante Vivi begitu
menyenangi permainan sex-ku yang sedikit kasar, pinggulnya sampai ikut digoyangkan kekiri
dan kanan menikmati hunjaman demi hunjaman batang penisku yang memenuhi seluruh liang
vaginanya yang semakin licin penuh cairan lendir kewanitaannya.
Sekitar 5 menit kemudian akhirnya pendakian puncak kenikmatan itu tergapai sudah, begitu
lega rasanya melihat Tante Vivi sampai menggeliat-geliat hebat sembari
menghentak-hentakkan kedua kakinya ke bawah dan mengejan kuat melepas kenikmatan
orgasmenya yang telah menjadi penantiannya sekian lama. Mulutnya tanpa risih menjerit,
memekik-mekik dan mengerang-erang dengan suara keras seakan tak peduli dengan keadaan
sekeliling. Akupun tak peduli, yang jelas waktu itu tak pernah kulupakan kenikmatan yang
kualami dari seorang wanita yang entah telah sekian lama hidup tanpa pemuasan batin.
Kubenamkan sedalam-dalamnya seluruh batang penisku sepanjang 14 centi kedalam liang
kewanitaannya.
Sejenak kuhentikan gerakan naik turun pinggulku kini hanya sedikit kugerakkan memutar
seolah batang penisku hendak memlintir daging liang vaginanya dan kubiarkan Tante Vivi
merasakan seluruh sensasi kenikmatan puncak orgasmenya yang luar biasa. Begitu hebatnya
kurasakan daging liang vaginanya menjepit batang penisku seakan hendak melumat habis,
seakan dipilin-pilin dan dikenyot-kenyot kuat.
"aagghhfff..., aahh", aku sampai merem melek dan mengerang keenakan menikmati
liang sorga dunianya yang sedang dilanda orgasme itu. Cairan lendir orgasmenya terasa
menyembur lemah menghangati dan membasahi seluruh permukaan batang penisku yang sedang
terjepit didalamnya.
"aaww..., aaww..., sshh..., nngghh..., ngnngghh...",erang Tante Vivi keenakan.
Begitu saking nikmatnya, pantatnya sampai diangkat ke atas mendesak pinggulku yang juga
sedang menekan alat kejantananku sedalam-dalamnya ke dalam liang vaginanya.
Kedua jemari tangan Tante Vivi sampai mencengkeram kuat kedua belah bokongku. Kuku-kuku
jemari kedua tangannya seakan menghunjam masuk ke dalam kulit bokongku. Terasa sakit,
namun aku tak peduli, kubiarkan Tante Vivi menikmati sepuasnya badai puncak orgasmenya
yang panjang, kubiarkan daging liang vaginanya melumat habis batang kejantananku. Baru
kali ini aku melihat seorang wanita yang orgasme saking begitu hebatnya sehingga tanpa
risih lagi sampai berteriak-teriak seolah ingin melepaskan semua beban batin dalam dirinya
akibat kenikmatan tak terkira yang melanda sekujur tubuhnya.
"oouuhh..., uuhh..., ngghh..", erangnya keras berulang kali
Mungkin hanya sekitar 6-8 detik Tante Vivi tenggelam dalam lautan kenikmatan puncak
orgasmenya, terasa singkat mungkin bagiku. Ketika pantatnya kembali dihempaskan ke atas
pembaringan menandakan orgasmenya mulai berakhir, sambil kucumbu mesra mulutnya yang masih
merintihkan sisa-sisa rasa kenikmatannya, kugerakkan pinggulku naik turun lagi secara amat
perlahan menyetubuhinya kembali.
"oouuhh...". Aku mendesah nikmat merasakan jepitan liang vaginanya yang masih
ketat sehabis orgasme, Cairan lendirnya yang keluar membasahi batang penisku terasa begitu
licin dan hangat. Begitu nikmatnya saat alat kejantananku kutarik melungsur keluar dari
dalam liang vagina Tante Vivi, seakan diurut dan dikenyot lembut. uuhh.., kupejamkan kedua
mataku meresapi kenikmatan liang sorga dunia miliknya. Secara perlahan-lahan pula setelah
hampir kira2 6-8 centi-an batang penisku keluar lalu kembali kubenamkan masuk ke dalam
liang vaginanya yang kini seakan meremas dan memijat lembut. Sreengg..., rasanya aliran
kenikmatan yang melanda alat kejantananku membuat air maniku perlahan-lahan mulai mendesak
ingin muncrat keluar.
"oouu...", erangku keenakan saat dengan nikmatnya liang vagina Tante Vivi
kembali menjepit dan mengenyot seluruh batang penisku.
Begitu berulang kali, naik turun secara perlahan dengan ritme yang semakin lama semakin
kupercepat menyetubuhi Tante Vivi yang kini setelah orgasmenya berakhir malah seolah
hendak menggodaku. Entah sengaja atau tidak setiap kali batang penisku yang kutarik keluar
hendak kubenamkam kembali menikmati jepitan daging hangatnya, pinggulnya digoyangkan manja
kesamping kiri atau ke kanan, membuat alat kejantananku sampai keplintir serong kekiri
atau kekanan pula.
"Vivii..., aduuhh..., nikmaatt...", erangku pelan keenakan.
"Hik..., hik..., kamu mau keluar lagi sayang..", bisik Tante Vivi genit di
sebelah telingaku.
Aku tak menjawab dan hanya bisa merem melek menahan kenikmatan sex yang semakin lama
semakin menggelora, air maniku semakin deras mengalir dan mendesak-desak di leher kepala
penisku yang terjepit nikmat dalam liang vaginanya.
"mm..., punyamu tegang keras sekali Ar..., hik..., hik..., sudah mau keluar
yaa..", bisiknya genit.
Astaga..., aku tak mengira, dalam keadaan masyuk seperti ini ternyata Tante Vivi doyan
sekali ngomong ngeres. Sebodo..., ahh..
"nngghh...", erangku semakin tak tahan.
"mm..., keluarin dong Ar..", bisiknya genit semakin menggemaskan hati.
"Ohh..., jepit lebih keras Vii..", erangku tak kalah genit.
"mm..., seperti ini Ar..., mm.."
"aahhghghgghhghhghhghhgg..", Aku mendelik dan menggeram keras saat kurasakan
daging liang vagina Tante Vivi mengerut dan mengecil, seakan meremas-remas, mengurut-urut
dan mengenyot seluruh batang penisku yang sedang meregang menahan kenikmatan.
Dan..., aahhghhghh..., aku tak kuat lagi dan menyerah...
"Craatt..., Craatt..., craatt.."
Air maniku bak tanggul jebol membanjir keluar dengan hebat di dalam liang vaginanya yang
hangat. Kusembur-semburkan dengan nikmat sepenuh perasaan memenuhi liang senggamanya.
"ooww..., mm...", Tante Vivi mendesah lirih saat air maniku menyembur-nyembur
dengan kuat di dalam liang vaginanya yang hangat.
"aahhahh..., ku..., hamili kau Vii..", erangku nakal, sambil terus
kusembur-semburkan air maniku ke dalam rahimnya. Kuhentak-hentakkan dengan penuh nafsu
alat kejantananku menggesek keluar masuk liang vaginanya yang semakin licin penuh cairan
lendir kewanitaannya bercampur air maniku yang kental. Tante Vivi sesekali merintih kecil
entah kesakitan atau nikmat menerima hunjaman batang penisku yang bergerak begitu buas
mengoyak liang vaginanya yang sempit.
"Ooww..., iihh..., Ar..., Nggnnhh..., uu..., tegang sekali penismu sayang...",
rintihnya sambil mencengkeram bokongku yang bergerak turun naik dengan cepat dan kuat.
"aahhgghhg..., Vii..., Sayangghh.."
Aku seakan terbang melayang ke atas awan, jauh membubung tinggi kesorga kenikmatan yang
tiada tara.
"uuhh..., Ar..., nggnghh..., manimu terasa kental sekali sayaang..", rintih
Tante Vivi genit.
Terasa begitu singkat namun begitu melelahkan sesudahnya. Tubuhku seakan lemas tak
bertulang begitu 2 semburan terakhir yang merupakan semburan penghabisan, mengakhiri
kenikmatan enjakulasiku. mm..., tubuhku seakan terhempas kembali jatuh ke bumi dan lemas
tak berdaya.
Aku terbaring letih di atas tubuh Tante Vivi yang baru saja untuk kedua kali kureguk
kenikmatan madu manis tubuhnya. oouuh..., begitu indah rasanya meresapi sisa-sisa
kenikmatan enjakulasi yang masih begitu terasa. Batang penisku yang masih terbenam di
dalam liang senggamanya yang basah penuh cairan maniku yang seakan telah kehilangan
kejantanannya. Loyoo..., Tetapi jepitan hangat daging liang vaginanya itu masih terasa
nikmat, seakan mengurut-urut lembut. Kami saling berpelukan mesra, meresapi keindahan
akhir persetubuhan yang sangat melelahkan namun penuh dengan sejuta kenikmatan yang tiada
bandingnya di dunia ini. Kedua buah dadanya yang besar montok menekan lembut dan terasa
begitu kenyal dan padat di dadaku yang bidang. Jemari kedua tangan Tante Vivi mengusap
pelan dan sesekali memijit-mijit mesra pinggul dan bokongku yang terasa letih dan pegal.
Mulut kami bercumbu hangat saling mengadu bibir seolah saling menukar kenikmatan.
"Mm cuupp..., Cupp..., Ar..., kau benar-benar doyan sex yaa..", bisk Tante Vivi
gemas sambil berulang kali membalas kecupan bibirku yang masih bernafsu.
"Cupp..., entahlah Tante..", bisikku lembut. Pertanyaan sederhananya itu seolah
menyadarkanku kembali. Akal sehatku seakan kembali normal dan aahh..., rasa sesal itu
kembali datang dan selalu saja datang dikala aku telah tuntas mereguk semua keinginan
nafsu birahiku ingin rasanya kedua mata ini menangis mengapa aku begitu lemah dengan nafsu
syahwatku sendiri.
Semenit kemudian.
Aku bergulir turun dari atas tubuh Tante Vivi, alat kejantananku yang mulai lemas mengecil
seakan tercabut dari dalam liang vaginanya yang sempit hangat. Ia merintih kegelian.
Sejenak aku termenung..., memikirkan semua perbuatanku barusan, begitu lemahnya diri ini
dengan yang namanya nafsu birahi. Bagaimana aku harus mempertanggungjawabkan semua ini
kepada Selva..., aku benar-benar gila telah berani meniduri tantenya sendiri. Pikiranku
seperti buntu memikirkan semuanya itu.
Seakan mengerti apa yang sedang kurenungkan, Tante Vivi mencium mulutku dengan hangat dan
mengulum bibir bawahku sejenak. Anehnya aku sendiri tak bisa menolak dan membiarkan semua
itu.
"Sudahlah Ar..., Tante mengerti apa yang kamu pikirkan..., ini cuma sex sayang...,
tidak ada ikatan apapun diantara kita..,. selain..., sex..", bisiknya lembut
menenangkanku.
Mau tak mau aku tersenyum letih.
"Yaah..., Tante..", jawabku pendek. Bingun!.
"mm..., kita akan melakukannya lagi khan sayaang..", bisiknya kembali terus
terang tanpa rasa sungkan lagi, sambil mengelus pipiku mesra.
Aku tak menjawab..., dan hanya bisa mengeluh dalam hati..., aku sudah keranjingan sex...,
bagaimanapun nantinya..., kalau Tante Vivi menginginiku lagi, aku pasti menidurinya demi
sekedar kenikmatan sesaat. aahh..., aku mengeluh pendek.
TAMAT
< Kembali ke halaman sebelumnya >
|
|