Gairah tante Vivi (jilid 4)
Tante Vivi menjerit dan mengerang-erang dengan keras,
pinggulnya menggeliat semakin hebat menahan kenikmatan yang kuberikan pada alat
kelaminnya. Aku benar-benar puas bisa membuatnya seperti itu. Kuremas dan kucengkeram kuat
bulatan bokongnya yang kenyal agar jangan bergerak terlalu liar, seolah tak ingin
melepaskan pagutannya, mukaku sedikit kuangkat kembali sembari menghirup udara segar lalu
lidahku kujulurkan sepanjang mungkin sambil menyusuri dan menjilati permukaan bukit
kemaluan lunaknya yang putih merangsang. Mulutku tak henti-hentinya mengecup gemas bukit
terlarang milik Tante Vivi itu.
"oouuhh..., nngghhnngghh..., ngghh..", mulut Tante Vivi merintih dan mengerang
tak karuan menahan geli dan nikmat. Pinggulnya digoyang-goyang kiri kanan, sesekali
kurasakan kedua pahanya yang kini menjepit kepalaku sambil mengejan kuat ke bawah seolah
ingin memuntahkan cairan kenikmatan tubuhnya. Memang kenyataannya demikian, lidahku yang
sesekali menelusup masuk ke dalam liang vaginanya sambil menyentil gemas daging
clitorisnya seolah menemukan sumber air kecil yang mengalir deras. Sementara tangan kiriku
masih mencengkeram bokongnya, dengan gemas lalu kusibakkan dengan jemari tangan kananku
bibir kemaluannya yang tebal, jemariku itu sampai gemetar seolah masih tak percaya dengan
segala keindahan ini, terasa begitu lunak, hangat dan basah ketika jemari tanganku secara
perlahan menyibakkan bibir kemaluannya mengintip keindahan celah dan liang vagina
sempitnya yang ternyata berwarna kemerahan.
oohh..., kulihat..., liang vaginanya yang terletak sedikit di atas lubang duburnya, begitu
kecil dan terlihat sempit sembari mengalirkan keluar cairan lendir kemaluannya yang
berwarna bening. Agak di sebelah atas liang vaginanya itu kulihat bulatan daging kecil
clitorisnya yang besarnya mirip seperti biji kacang ijo. Aku sedikit heran, karena liang
vagina milik Tante Vivi ini kecilnya hampir sama dengan liang vagina milik Dina. Aahh...,
batang penisku yang sudah berdiri tegak menunggu giliran untuk take over jadi makin
cenat-cenut..., teng-teng tidak karuan..., tidak tahan nih kalau sempitnya seperti ini...,
bisa-bisa tidak sampai digenjot 5 menit air maniku sudah muncrat keluar..., seperti yang
aku rasakan bersama Dina akhir-akhir ini. Aku sendiri tidak habis pikir kenapa sewaktu aku
dulu memperawani Dina bisa menahan gesekan dan jepitan liang vaginanya sampai 20 menit,
tapi akhir-akhir ini bisa tahan tidak muncrat sampai 10 menit saja itu sudah lumayan.
Mungkin saja aku terlalu terangsang saat menggagahi Dina. Entahlah.
"A.. Aarr..., Lagi sayangghh...", Tante Vivi berbisik sedikit serak. Aku sejenak
tersadar dari lamunan..., He.. He..., aku jadi geli juga..., disaat lagi asyik masyuk
seperti masih bisa juga aku ngelamun..., ngeres lagi..., he..., he..".
Kudongakkan kepala ke atas sambil kupandang wajah cantik Tante Vivi yang berkeringat agak
kusut sekilas, lalu kutundukkan muka, lidahku dengan liar penuh rasa gemas kembali
menjilati kedua belah permukaan labia mayoranya, kepalaku sedikit kuputar sekitar 40
derajat kekiri lalu dengan nikmat mulut dan lidahku mulai mencumbu, mengulum, memilin dan
menghisap bibir-bibir kemaluan Tante Vivi secara bergantian atas dan bawah, seperti kalau
kami berdua berciuman mulut.
mm..., rasanya yang jelas tidak selezat daging hamburger McDonald atau Wendys tapi yang
pasti ada semacam feel great dan sensasi keindahan bercampur kenikmatan tersendiri
yang tak bisa diungkapkan kata-kata begitu indah rasanya mengulum dan mengecup bibir
kemaluan wanita sambil menikmati aroma khas bau alat kelaminnya dan juga suara erangan
nikmatnya.
mm..., aku benar-benar bangga membuat Tante Vivi sampai berulang kali mengejan ke bawah
menghentakkan kedua belah pahanya yang putih seksi, sambil tak henti-hentinya mulutnya
memekik kecil dan merintih panjang menahan geli bercampur sejuta kenikmatan.
"aahh..., nnggngghghh..., ngghghnhgghh...", rintih Tante Vivi berulang kali.
Kurang lebih 2 menitan aku mengenyot kedua belah bibir labia mayoranya dengan mulutku lalu
dengan nakal kembali kusibakkan sedikit lebih lebar bibir vaginanya dan dengan cepat
kujulurkan lidahku mengusap lembut celah merah diantara bibir kemaluannya..., menyentil
mulut liang vaginanya yang sempit dan mungil beberapa puluh detik lalu kembali menggelitik
daging clitorisnya. Tante Vivi sampai menaik-turunkan pinggulnya menahan rasa nikmat. Saat
bibir dan lidahku secara bersamaan menghisap dan memilin daging kecil clitorisnya sampai
pipiku sedikit kempot, tiba-tiba Tante Vivi memekik keras dan akhirnya mendesah
panjang..., pinggulnya sontak diangkat ke atas seolah tak kuat menahan rasa nikmat dan
mengejan pelan. Kedua pahanya menjepit ketat kepalaku dari samping kiri dan kanan. Jemari
tangan kiriku yang kini terasa bebas, mengusap mesra kedua belah bulatan bokong Tante Vivi
dan meremas-remas lembut.
"aagghh..., aoohh..., sshhghffhhghh..."
Desah Tante Vivi panjang. Aku tahu ia pasti sedang meregang menuju puncak kenikmatan...,
Sedetik..., 2 detik..., 3 detik..., aku merasakan kedua belah pahanya yang begitu halus
dan padat menekan kepalaku mulai bergetar lembut dan mengejan semakin kuat menandakan
cairan lendir kenikmatannya segera tumpah keluar..., Orgasmee.
Tetapi aku berpikir lain, seketika cepat kulepaskan hisapan mulutku pada daging
clitorisnya dan dengan kuat kedua tanganku membuka kedua belah pahanya yang masih menjepit
kepalaku. Begitu lepas, dengan sigap aku merangkak keatas dan rebah di samping tubuh bugil
Tante Vivi. Kulihat Tante Vivi masih memejamkan kedua matanya seolah sedang menikmati
sesuatu, sejenak begitu tersadar kenikmatan yang ia inginkan tak tercapai..., kedua
matanya terbuka dan jelalatan setengah melotot memandang selangkangannya yang kosong...,
dan Tante Vivi mendapati diriku telah berada di sebelahnya sambil kutersenyum penuh
kemenangan.
Wajah cantiknya yang berkeringat kelihatan memerah seolah menahan sesuatu, bibir bawahnya
digigit keras seperti geram, kedua matanya yang sedikit merah memandangku seolah mau
marah. Aku semakin tersenyum lebar, namun tidak demikian dengan Tante Vivi..., rupanya ia
jengkel karena hampir saja aku membuatnya orgasme namun justru aku malah menghentikannya
ditengah jalan.
"K.., kkamu..., benar-benar nakal sekali Arr..., hh..., teganya kamu sayang...",
bisiknya dengan bibir gemetar. Lalu dengan cepat tanpa kuduga sama sekali, Tante Vivi
menggulingkan tubuh montok seksinya yang putih mulus ke atas menaiki tubuhku, Kedua
pahanya dibuka lebar dan kedua belah bokongnya yang bulat padat terasa begitu kenyal dan
tanpa ampun menduduki buah zakarku sementara bukit kemaluannya yang besar terasa begitu
empuk menekan batang penisku yang sudah sangat tegang..., ooh..., nikmatnya.
Sambil menyunggingkan senyuman sadis Tante Vivi memandangku seolah ingin menelanku.
"Tante mau lihat sehebat apa kamu Arr...", bisiknya pelan. Aku yang masih
terkaget menyaksikan ulahnya tadi hanya bisa melongo sambil menikmati sentuhan tubuh
montoknya pada alat kejantananku sambil memandangi kedua buah payudara besarnya yang
mengacung kencang ke depan memamerkan kedua buah puting susunya yang kelihatan sedikit
membesar keras dan berwarna coklat kemerahan.
Aku masih terpana memandang keindahan tubuhnya, ketika dengan cepat Tante Vivi mengangkat
pinggulnya yang ramping ke atas, kedua belah pahanya yang putih mulus kelihatan begitu
seksi dan padat. Begitu gemas saat jemari tangan kanan Tante Vivi menggenggam dan meremas
batang penisku..., lalu di arahkan ke bukit kemaluannya sebelah bawah..., ke depan mulut
liang vaginanya..., oohh..., aku mendesah pelan menyaksikan kesemua itu. Aku tidak
menyangka Tante Vivi melakukan semua itu tanpa perasaan risih sedikitpun, mungkin ia sudah
begitu ngebet dan liang vaginanya sudah gatal kepingin disetubuhi. Sejenak aku mengira ia
pasti sukar sekali memasukkan batang penisku yang sudah berdiri tegak dan besar mirip
punya Rocco Siffredi. Kuluruskan kedua pahaku ke bawah agar Tante Vivi tidak
terlalu kesulitan menyetubuhiku nantinya. Tetapi kali ini aku kecele..., sambil
menundukkan wajah yang membuat rambut panjangnya terurai indah, kulihat Tante Vivi sejenak
berkutat masih mengarahkan batang penisku ke pintu liang vaginanya lalu dengan perlahan
pinggulnya diturunkan.
oogghh..., Aahh..., aku mendelik dan mengerang nikmat saat dengan mata kepalaku sendiri
kulihat bibir kemaluannya yang tebal itu vaginaar lebar menerima tusukan kepala penisku
dan liang vaginanya yang merah dan sempit mulai tersibak dan menjepit ujung kepala penisku
yang secara perlahan-lahan mili demi mili mulut daging liang vaginanya semakin melebar
sesuai ukuran kepala penisku dan mulai menenggelamkannya ke dalam liang vagina Tante Vivi.
"oougghhghh..., nngngnghhaahh...", pekikku keras menahan rasa nikmat yang luar
biasa saat kepala penisku dalam 5 detik telah berhasil memasuki liang vaginanya yang
ketat. aahh..., di dalam situ kurasakan daging vaginanya seolah sudah menjepit sedemikian
kuat seolah diremas-remas membuat kepala penisku berdenyut-denyut keenakan.
Tante Vivi melepaskan jemari tangan kanannya dari batang penisku, kini kedua tangannya
diletakkan di atas dadaku sambil setengah membungkuk untuk menyangga tubuhnya bagian bawah
yang masih melakukan penetrasi. Ia kini memandangku dengan senyuman manisnya kembali,
bibirnya yang ranum merekah indah. Kedua buah dadanya yang besar dan kencang kini setengah
menggantung bak buah pepaya.
"Enaak..., Arr...", bisik Tante Vivi tanpa malu-malu padaku.
"I..., iiyaa tantee...", sahutku gemetar menahan rasa nikmat.
"mm..., Punyamu besar juga sayangg...", bisiknya lagi. Lalu dengan
perlahan-lahan Tante Vivi mulai menurunkan pinggulnya kebawah lagi sambil memejamkan mata.
Namun mulutnya yang indah itu malah tersenyum seolah ikut menikmati apa yang sedang
kurasakan sekarang.
"aahhgghh...", erangku keenakan saat daging liang vaginanya yang luar biasa
sempit itu mili demi mili secara perlahan terus menjepit kuat dan menenggelamkan batang
penisku yang masih tersisa sekitar 11 centi lagi. Dengan sekuat tenaga sambil menahan rasa
nikmat kusaksikan terus proses penetrasi itu, urat-urat di seluruh batang penisku sampai
menonjol keluar membentuk guratan-guratan kasar di sekeliling permukaan penis menahan
jepitan daging liang vagina Tante Vivi yang terus berusaha menenggelamkan seluruh alat
kejantananku itu. Mili demi mili kini berganti centi demi centi..., dengan tanpa hambatan
berarti walau terasa begitu sesak dan sempit batang penisku melungsur masuk dengan ritme
semakin cepat kedalam liang vaginanya.
"mm..., aahh..., mm", Tante Vivi hanya mendesah dan merintih kecil saat batang
penisku yang besar dengan perlahan telah hampir seluruhnya tenggelam ke dalam bagian
tubuhnya yang paling sangat terlarang. Hanya tinggal 2 centi saja kulihat batang penisku
yang masih tersisa di luar liang vaginanya. Kedua mataku sudah merem melek keenakan, kedua
pahaku sampai gemetaran saking hebatnya rasa nikmat itu.
"ooww..."
"aaghghghh..."
Kami berdua mengerang nikmat hampir bersamaan, saat penetrasi yang terakhir berlangsung.
Kulihat sekilas bukit kemaluan milik Tante Vivi itu sedikit menggembung lebih besar karena
seluruh batang penisku yang tebal sepanjangnya 14 centi itu telah terbenam kandas di dalam
liang vaginanya. Betapa indah menyaksikan dua alat kemaluan milik kami berdua yang telah
menyatu padu. Selain jepitannya yang luar biasa ketat, kurasakan daging vagina Tante Vivi
yang terasa hangat dan licin itu seolah memijat-mijat mesra dan menghisap lembut.
Wooww...' ujung jemari kakiku sampai gemetaran keenakkan.
"mm..., Bagaimana sayang..", bisik Tante Vivi pelan sambil memandangku mesra
sekali.
"Aahhghghg..., Nikmat sek.., kali Vii..", sahutku gemetar.
Kedua pahanya yang mulus kini menjepit pinggangku mesra, sementara pinggulnya menempel
selangkanganku dengan ketat. Bokongnya yang kenyal menduduki kedua buah bola zakarku.
"Air maniku..., mau keluar Tante...", bisikku menahan nikmat sambil setengah
menggodanya.
"Iihh..., Awas yaa kamu Ar..", sahutnya sambil tersenyum. Ia seolah mengerti
batang penisku tidak bakalan lama bertahan dijepit liang vagina miliknya seketat itu.
"Ar..., Tante sudah lama sekali tidak melakukan ini..., mm..., tahan ya sayang...,
tunggu Tante yaa..",bisiknya begitu genit sekali.
Lalu dengan perlahan Tante Vivi mulai menggoyangkan pinggulnya naik turun secara perlahan
menggesekkan daging liang vagina sempitnya dengan batang penisku yang sudah tegak tak
terkira. Seolah tidak ada hambatan walaupun terasa begitu sesak saking sempitnya ketika
kedua alat kelamin kami saling beradu dan bergesekan.
"Uuhh..., uhh..., uhh..", Tante Vivi merintih kecil saat setiap kali pinggulnya
bergerak turun memasukkan kembali batang penisku yang besar dan keras ke dalam liang
vaginanya. Wajahnya yang cantik bergoyang lembut seiring dengan goyangan pinggulnya yang
menggemaskan di atas selangkanganku. Kedua matanya dipejamkan rapat seolah sedang meresapi
dan menikmati persenggamaan yang benar-benar luar biasa indah ini. Kedua buah dadanya yang
besar terguncang-guncang begitu indah bak buah kelapa tertiup angin. Kedua jemari
tangannya yang menyangga dan menekan lembut dadaku menghentak-hentak pelan setiap kali
pinggul Tante Vivi bergoyang pelan naik turun secara teratur.
Aku tak sanggup lagi menikmati semua sensasi indah ini sendirian. Aku masih seakan tak
percaya melihat sesosok tubuh cantik bak bidadari yang begitu montok dan seksi, begitu
putih dan mulus dan kini malah sedang asyik menggoyangkan pinggulnya yang aduhai di atas
selangkanganku menikmati alat kejantananku.
"Oohhaahh..., hahahhgghh...", erangku saking enaknya. Batang penisku seakan
dikocok, dibelit, disedot dan dikenyot habis-habisan oleh daging liang vaginanya yang
luarbiasa sempit dan licin. Kedua mataku merem-melek secara bergantian menikmati gesekan
itu, setiap kali pinggul Tante Vivi bergerak ke atas aku merasa batang penisku seakan
disedot kuat daging liang vaginanya namun begitu pinggulnya bergerak turun ke bawah batang
penisku seakan diremas dan dilumat hebat oleh liang vaginanya.
Sukar diungkapkan dengan kata-kata rasa nikmatnya.
"Vivi..., aagghh..., aahahhgghh...", erangku berulangkali keenakan. Kedua
tanganku berusaha menahan laju naik turun pinggulnya yang kurang ajar itu. Namun jemari
kedua tanganku seolah tiada bertenaga mengangkat bokongnya yang berat, dan tanpa ampun
secara terus-menerus liang vagina Tante Vivi dengan jepitannya yang luar biasa meluluh
lantakkan seluruh batang penisku seperti pisang kepok yang tak berdaya diremas dan
dipilin-pilin sampai lumat. Aku tak sanggup bertahan meredam rasa nikmat sex yang luar
biasa itu, air maniku sontak langsung mengalir mendesak-desak hendak muncrat keluar. Tante
Vivi seolah tak mau tahu terus bergerak naik turun menggoyang pinggul mengeluar masukkan
batang penisku ke dalam liang vagina sempitnya.
"uuhh..., uuhh..., uu..., hh..., uuhh..", erangnya berulangkali menikmati alat
kejantananku yang sedang berada di dalam liang vaginanya.
"aahahh...", aku mengerang panjang sambil sejenak menahan napas untuk menghambat
agar air maniku tidak sampai muncrat keluar.
"uuh..., kamu mau keluar sayang...", bisik Tante Vivi genit.
"Iyyaa..., Vi..", sahutku gemas tanpa memanggilnya dengan sebutan Tante lagi
"ooh..., Aku bener-bener tidak tahan lagi."
"Hik..., hik..., oke sayang..., kamu keluar duluan Ar..., Tante jepit lebih keras yaa
sayang...", bisiknya semakin genit tanpa malu-malu. Aku jadi makin gemas dibuatnya.
Tante Vivi memang benar-benar luar biasa sambil menggoyang pinggul semakin cepat naik
turun, kurasakan daging liang vaginanya seolah menjepit 2 kali lebih hebat, batang penisku
seolah diremas dan dikenyot-kenyot hebat sambil digesekkan keluar masuk meski hanya
sekitar 4 centi saja.
oohh..., bak tanggul jebol akhirnya aku menyerah kalah..., aku tak mampu menahan desakan
air maniku yang sudah sampai di leher batang penisku. Kuremas gemas kedua belah payudara
Tante Vivi yang besar terguncang dengan kedua belah jemari tanganku. Aku menggeram keras
dan melepas puncak kenikmatan sex.
"aagghhghghhgaahh...", Teriakku nikmat..., saat dengan hebatnya air maniku
muncrat keluar dengan tembakan-tembakannya yang keras dan kuat.
"Craatt..., craatt..., Crraatt..., craatt.." ke dalam liang vagina Tante Vivi
yang sempit licin dan hangat.
"uu..., mm..., uu..., mm..., ooww.., Banyak sekali manimu sayangghh..., uu...",
desahnya lembut saat air maniku kutembakkan berulang kali dengan sepenuh rasa nikmat ke
dalam liang vaginanya.
Jiwaku seakan terbang melayang jauh keatas awan..., Begitu tinggi..., terasa begitu
nikmatnya, "oohh...". Tubuhku seakan menggelepar dirajam kenikmatan yang tak
terkira, begitu indah dan enaknya saat daging liang vagina Tante Vivi yang menyempit hebat
menggesek semakin cepat pula batang penisku yang sedang collaps..., enjakulasi, seakan
milikku diurut-urut mesra sembari memuntahkan air mani yang sangat banyak dan kental.
Crraat..., Crraatt..., crraatt..., creett...
Kira-kira 8 semburan nikmat yang memabokkan. Aku masih terlena diawan kenikmatan menikmati
sisa-sisa semprotan air maniku yang masih tersembur keluar di dalam liang vaginanya. Tante
Vivi dengan masih bersemangat menggenjot pinggulnya naik turun dengan cepat meluluh
lantakkan alat kejantananku yang benar-benar sudah lumat terkuras. Jiwaku seakan kembali
terhempas keatas tanah..., seolah terlempar dari pusaran awan kenikmatan yang terasa
begitu singkat.
BERSAMBUNG KE JILID 5
< Kembali ke halaman sebelumnya >
|
|