Gairah tante Vivi (jilid 2)
Selama 30 menit kedepan, bak seorang instruktur kawakan aku
mengajari Tante Vivi tentang penggunaan program aplikasi Windows dan Internet. Aku
berusaha menjelaskan sesingkat dan seefisien mungkin agar tidak terlalu membuang banyak
waktu, bagaimanapun aku jadi tidak enak juga karena hari sudah semakin malam. Kulirik
arlojiku sudah hampir setengah 12 malam.
"Sudah malem Tante..., besok-besok khan masih bisa belajar Tante..., mm sekarang saya
pulang dulu ya Tante...", kataku sambil setengah berjalan hendak keluar kamar.
"Iya deh..., waah..., makasih ya Ar..., kamu pinter sekali mm..., Tante gimana harus
ngucapin terima kasih sama kamu Ar..., hik..., hik..", tanyanya sambil tertawa kecil.
"aah..., Tante ini ada-ada aja..., sudah deh..., sudah malem Tante...", jawabku
sambil berjalan keluar, Tante Vivi mengikuti di belakangku. Kami terdiam sejenak. Sambil
berjalan aku tersenyum, "gilaa...", Tante Vivi begitu baik dan sopan, ternyata
tak seperti yang aku duga dasar otak ngeres, bisikku dalam hati.
Dipintu depan, sekali lagi Tante Vivi mengucapkan banyak terima kasih, aku menyalaminya
tangannya yang halus erat-erat. Aku sudah hendak membuka pintu depan, ketika tiba-tiba
seekor laba-laba hitam yang cukup besar dengan kaki-kakinya yang panjang langsung meloncat
ke lantai begitu tanganku memegang handle pintu, reflek tanganku kutarik ke belakang
sambil meloncat mundur, aku tidak tahu dan tidak sengaja ketika diriku menabrak tubuh
Tante Vivi, sontak ia terhuyung dan menjerit hendak jatuh. Namun dengan sigap walaupun
tubuhku masih setengah merinding, aku langsung memegang lengan kanannya dan kutarik
tubuhnya ke arahku. Dalam sedetik tubuhnya telah berada dalam pelukanku. Sweear..., saya
memang tidak sengaja memeluk tubuhnya.
"Aduuh..., Ar..., ada apa sih kamu..", pekiknya.
"Anuu Tante..., laba-laba gedhe...", sahutku sambil memandang ke sekeliling
ruangan, aku bener-benar senewen sekali rasanya. Sialaan, laba-laba sialaan ngagetin orang
aja" bisikku dalam hati. Saat itu aku masih belum sadar kalau kedua tanganku masih
memeluk tubuh Tante Vivi, maklum aku sendiri masih terasa merinding.
"Ar...", bisik Tante Vivi di telingaku. Aku menoleh dan terjengah. Ya Ampuun,
wajah cantiknya itu begitu dekat sekali dengan mukaku. Hembusan nafasnya yang hangat
sampai begitu terasa menerpa daguku. Wajahnya kelihatan sedikit berkeringat, sorotan kedua
matanya yang sedikit sipit kelihatan begitu sejuk dalam pandanganku, hidungnya yang putih
mbangir mendengus pelan, dan bibirnya yang ranum kemerahan terlihat basah setengah
terbuka..., duh cantiknya. Sejenak aku terpana dengan kecantikan wajahnya yang alami. Ada
banyak kesamaan lekuk wajahnya yang cantik dengan wajah kekasihku Selva. Seolah teringat
kemesraan dan kebersamaanku bersama Selva, seolah tanpa sadar dan tanpa dapat aku
mencegahnya..., kudekatkan mukaku kepadanya. Kesemuanya seolah terjadi begitu saja tanpa
aku mengerti sama sekali. Seolah ada magnet yang menuntun dan membimbingku diluar
kesadaran..., dan dalam 2 detik bibirku telah mengecup lembut bibir Tante Vivi yang
setengah terbuka. Begitu terasa hangat dan lunak. Kupejamkan kedua mataku menikmati
kelembutan bibir hangatnya..., terasa manis.
Selama kurang lebih 10 detik aku mengulum bibirnya, meresapi segala kehangatan dan
kelembutannya. Dan ketika aku menyadari bahwa Tante Vivi bukanlah Selva, maka...
" ooh...", bisikku kaget, sesaat setelah kecupan itu berakhir. Dengan perasaan
kaget bercampur malu aku melepaskan pelukanku. Aku memandang Tante Vivi dengan sejuta rasa
bersalah, namun seolah tak yakin aku juga baru menyadari kalau Tante Vivi sama sekali tak
memberontak ketika aku menciumnya. Kini yang aku lihat betapa wajahnya yang cantik
kelihatan semakin cantik. Kedua pipinya yang putih bersih bersemu merah bak boneka barbie,
kedua matanya yang sipit memandang redup kepadaku, sementara kedua belah bibirnya masih
setengah terbuka dan merekah basah menawan hati.
"Tan.., te..., apa yang kulakukan...", bisikku masih setengah tak percaya atas
sikapku barusan kepadanya.
Tante Vivi sama sekali tak menjawab. Tidak ada rona kemarahan di wajahnya yang cantik. Ia
hanya tersenyum setengah malu-malu dan menundukkan muka. Sejenak kami berdua terdiam...,
hening dalam pikiran masing-masing.
Kali ini aku benar-benar malu pada diriku sendiri, terlalu gampang mengumbar perasaan
kepada setiap orang..., aahh tetapi..., kenapa ada sesuatu yang lain pada tubuhku...,
sesuatu yang aku begitu sangat mengenalnya..., astaga..., aku merasa batang penisku telah
berdiri tegak..., Teng..., teng..., gilaa begitu cepatnya batang penisku mengeras dan
mendesak celana dalamku seolah ingin berontak keluar.
"Sudahlah Ar... ", bisik Tante Vivi lirih, memecah keheningan itu. Aku tersadar
pula.
"Maafkan Ari Tante..., sa..., saya..., teringat Selva Tante...", sahutku
setengah gugup.
Tante Vivi tersenyum semakin manis. Bibir ranumnya yang barusan kukecup semakin indah
menawan membentuk senyuman mesra.
"Kamu rindu Ar..., sama dia...", tanyanya seolah melupakan peristiwa yang
barusan. Aku sedikit bernapas lega karena ia kelihatan sama sekali tidak marah. Aku tidak
tahu apa alasannya namun yang penting aku bisa meredam rasa maluku.
"Eehh..., iya Tante...", sahutku beralasan.
"Ya sudahlah..., tidak pa-pa Ar...", sahutnya enteng. Mau tak mau aku jadi
bingung juga melihat sikapnya. Semudah itukah. Mencium seseorang yang bukan apa-apanya
secara disengaja, itu tidak apa-apa?.
"Tante tidak marah...?", tanyaku balik. Entah kenapa aku seolah diatas angin
melihat sikapnya dan seolah timbul keberanianku.
"Tidak Ar...", jawabnya sambil tetap tersenyum manis. Kedua matanya memandangku
dengan sejuta arti. Dalam pandanganku wajahnya kelihatan semakin bertambah cantik dan
cantik. Sebagai seorang laki-laki dan sebagai seorang terpelajar seperti aku yang sudah
kenyang dengan cerita pengalaman orang lain plus pengalamanku sendiri, apalagi soal
perilaku sex. Sikap Tante Vivi seperti itu seolah sebagai tantangan dan ajakan. Otakku
berpikir cepat, menimbang..., dan memutuskan. Sampai disitu jalan pikiranku menjadi
buntu..., yang ada hanyalah..., nafsu.
Seolah ada yang memberiku kekuatan dan keberanian, kuraih tubuh Tante Vivi yang masih
berada di hadapanku dan kubawa kembali ke dalam pelukanku. Benar saja..., ia sama sekali
tak melawan atau memberontak. Seolah lemas saja tubuhnya yang seksi montok itu berada
dalam dekapanku. Wajahnya yang cantik bak bidadari kahyangan memandangku pasrah dan tetap
dengan senyum manis bibirnya yang kian menggoda. Kedua pipinya kelihatan semakin memerah
pula menambah kecantikannya. Aku semakin terpana.
"Apa yang ingin kau lakukan Ar...", bisiknya lirih setengah kelihatan malu.
Kedua tanganku yang memeluk pinggangnya erat terasa sedikit gemetar memendam sejuta rasa.
Dan tanpa terasa jemari kedua tanganku telah berada di atas pantatnya yang bulat. Mekal
dan padat. Lalu perlahan kuusap mesra sambil kuberbisik.
"Tante pasti tahu apa yang akan Ari lakukan...", bisikku pelan. Jiwaku telah
terlanda nafsu. Telah kulupakan bayangan Dina dan juga Selva. Aku lupa diri, setan-setan
burik telah menyapu habis pikiranku tentang mereka.
"Kau yakin Ar...", tanya Tante Vivi lirih. Ooh..., desakan kedua buah
payudaranya yang besar pada dadaku membuat batang penisku semakin tegang tak terkira.
"Yaa..., Tante...", sahutku tanpa mengerti maksud pertanyaannya. Dengan cepat
aku sudah membayangkan keindahan tubuhnya yang telanjang bulat, kemontokan payudaranya
yang besar dan kencang, kemulusan kulit tubuhnya dan..., aahh bukit kemaluannya yang
besar..., wooww...
Tanpa terasa batang penisku kurasakan memuntahkan cairan beningnya, aku merasa seolah
telah memasuki liang vaginanya. Tanpa dapat kucegah, kuremas gemas kedua belah pantatnya
yang terasa kenyal padat dari balik celana jeans ketatnya.
"Oouuhh... ", Tante Vivi mengeluh lirih.
Bagaimanapun juga anehnya aku saat itu masih bisa menahan diri untuk tidak bersikap over
atau kasar terhadapnya, walau nafsu sex-ku saat itu terasa sudah diubun-ubun namun aku
ingin sekali memberikan kelembutan dan kemesraan kepadanya. Hanya setan-setan burik sialan
itu yang menyuruhku agar segera melucuti pakaian Tante Vivi dan memperkosa sepuasnya.
"aah..., ki.. Kita ke kamar Tante...", bisikku semakin bernafsu.
Lalu dengan gemas aku kembali melumat bibirnya. Kusedot dan kukulum bibir hangatnya secara
bergantian dengan mesra atas dan bawah. Kecapan-kecapan kecil terdengar begitu indah,
seindah cumbuanku pada bibir Tante Vivi. Kedua jemari tanganku masih mengusap-usap sembari
sesekali meremas pelan kedua belah pantatnya yang bulat padat dan kenyal. Aku masih
menahan diri untuk tak bergerak terlalu jauh, walau sebenarnya hatiku begitu ingin sekali
meraba selangkangan atau meremas payudaranya. Entah kenapa aku ingin bersikap lembut dan
romantis. Bahkan kecupan bibirku padanya kulakukan selembut dan semesra mungkin, aku kira
Tante Vivi sangat menyukainya. Bibirnya yang terasa hangat dan lunak berulang kali memagut
bibirku sebelah bawah dan aku membalasnya dengan memagut bibirnya yang sebelah atas.
ooh..., terasa begitu nikmatnya. Dengusan pelan nafasnya beradu dengan dengusan nafasku
dan berulang kali pula hidungnya yang kecil mbangir beradu mesra dengan hidungku.
Kurasakan kedua lengan Tante Vivi telah melingkari leherku dan jemari tangannya kurasakan
mengusap mesra rambut kepalaku.
Batang penisku terasa semakin besar dan mendesak liar di dalam CD-ku. Teng..., teng...,
teng..., aku mulai merasakan kesakitan apalagi karena posisi tubuh kami yang saling
berpelukan erat membuat batang penisku yang menonjol dari balik celanaku itu terjepit dan
menempel keras di perut Tante Vivi yang empuk.
Sampai disitu aku tak mampu menahan diri lagi, birahiku telah mengalahkan segala-galanya.
Keyakinan dan akal sehatku seakan telah tertutup oleh lingkaran nafsu. Kenikmatan sex yang
pernah kurasakan bersama Dina telah membuatku semakin lupa diri. Seolah menemukan daging
segar yang baru, sejenak kemudian kulepaskan pagutan bibirku pada bibir Tante Vivi.
aah..., wajah cantiknya itu kelihatan semakin berkeringat, dan bibirnya yang basah oleh
liurku merekah indah. Begitu ranum bak bibir gadis remaja. Kedua bola matanya sedikit
redup dan memandangku pasrah. Aku melihat ada sejuta keinginan terpendam dalam sorot
matanya itu. Aku bisa menduga Tante Vivi pasti tak tahan hidup menjanda, bagaimanapun aku
tahu ia pasti jelas sudah tak perawan lagi,... aku hanya bisa menduga-duga dengan apa
Tante Vivi melampiaskan kebutuhan batinnya selama ini.
"Aku menginginimu Tante...", bisikku padanya terus terang. Pikiranku sudah
tertutup oleh nafsu, namun bagaimanapun aku tak ingin grusa-grusu seenak sendiri. Dengan
sikapku ini otomatis aku melatih diri untuk mengontrol keinginan sex-ku yang cenderung
vulgar.
"oouh..., Ar..., Tante juga ingin..., oouhh..".
Belum habis ucapannya yang sangat merangsang itu, badanku membungkuk dan meraih tubuh
montok Tante vivi dalam pondonganku. Ia agak sedikit kaget melihat tindakanku, namun
sejenak kemudian ia tertawa genit dan manja ketika aku mulai membopong tubuh seksinya itu
masuk kembali melintasi ruang tengah menuju ke dalam kamar. Lengan kanannya merangkul
leherku sementara jemari tangan kirinya mengusap mesra kedua pipi dan wajahku. Tante vivi
kelihatan setengah malu-malu kubopong seperti ini.
"Kamu ganteng Ar...", bisiknya padaku mesra sambil tersenyum manis.
"Kamu juga cantik Tante...", balasku tak kalah mesra. Kami berdua sempat tertawa
kecil karena kekanakan ini.
"Ar..., panggil aku Vivi saja yaa...", ujar Tante Vivi padaku. Aku mengangguk
senang.
Di dalam kamarnya, kuturunkan tubuh Tante Vivi dari boponganku di sisi kiri tempat
tidurnya. Kami berdua saling berpandangan mesra dalam jarak sekitar 1 meter. Aah...,
kunikmati seluruh keindahan bidadari di depanku ini, mulai dari wajahnya yang cantik
menawan, lekak-lekuk tubuhnya yang begitu seksi dan montok, bayangan bundar kedua buah
payudaranya yang besar dan kencang dengan kedua putingnya yang lancip, perutnya yang
ramping dan pantatnya yang bulat padat bak gadis remaja, pahanya yang seksi dan aah...,
kubayangkan betapa indah bukit kemaluannya yang kelihatan begitu menonjol dari balik
celana jeansnya..., mm..., betapa nikmatnya nanti saat batang penisku memasuki liang
vaginanya yang sempit dan hangat..., mm akan kutumpahkan sebanyak mungkin air maniku ke
dalam liang vaginanya sebagai bukti kejantananku..., "Oohh.., Vivi...", bisikku
dalam hati. Akan kulumat dirimu dengan kenikmatan.
"Ar..., kamu duluan sayang...", bisik Tante Vivi, membuyarkan fantasi sex-ku
padanya.
Wajahnya yang cantik tersenyum manis, seolah ia mengetahui apa yang ada dalam pikiranku
kedua jemari tangannya kini berada di atas kedua belah payudaranya sendiri. Tante Vivi
mulai mengusap perlahan kedua bulatan payudaranyanya yang besar dari balik baju kemejanya.
Seolah merangsang dan menggodaku. Aku tak tahan melihat tingkahnya, andai saja Tante Vivi
tahu betapa sakitnya batang penisku yang terjepit di dalam CD-ku seolah memberontak ingin
keluar. aah..., dengan cuek aku mulai membuka kancing kemejaku satu persatu dengan
cepat..., srrt..., kulemparkan bajuku sekenanya ke samping, pandangan kedua mataku seolah
tak lepas dari tubuh Tante Vivi yang semakin menggoda..., srrt..., kutarik kaos singletku
keatas sampai lepas dan kulempar sekenanya pula. Tak puas sampai di situ, dengan jemari
gemetar menahan nafsu aku mulai membuka sabuk celana dan menarik turun ritsleting celana
panjangku dan sruut..., langsung turun ke bawah (kebetulan aku mengenakan celana baggy
dari katun).
" ooh...", Tante Vivi memekik kecil saat melihat tubuhku yang setengah
telanjang. Kulihat kedua jemari tangannya meremas kuat payudaranya sendiri yang besar,
mulutnya yang manis sedikit melongo dan kedua bola matanya yang hitam seakan setengah
melotot pula memandang ke tubuhku bagian bawah. Sekilas aku melirik ke bawah dan tersenyum
geli sendiri. Bagaimana tidak ternyata batang penisku yang sudah tegak itu mendesak hebat
ke atas sampai kepala penisku tanpa terasa melongok keluar dari dalam celana dalamku.
Begitu besar dan tebal mendongak ke atas persis di bawah pusarku. Kepala penisku kelihatan
bengkak memerah karena tegang yang tak terkira. Batang penisku tidak terlalu panjang
memang hanya sekitar 14 centi, namun ukuran diameternya cukup besar dan yang paling
membuatku bangga adalah bentuknya yang mirip sekali dengan milik bintang film porno
"Rocco Siffredi"..., montok dan berurat.
Kuusap pelan batang penisku yang sedang berdiri nakal itu dari balik celana dalam. mm...,
terasa begitu nikmat. Kurasakan ada sedikit cairan bening yang keluar dan menempel pada
jemari tanganku. mm..., bagaimanapun juga batang penisku ini pernah merobek dan merenggut
keperawanan Dina. Tass..., Sekelebat bayangan wajah Dina seolah berada di depan pelupuk
mataku. Aku seolah tersadar kembali.
Astaga..., aah..., apa yang aku lakukan ini?, nuraniku seakan menjerit. Sejenak pikiranku
berkecamuk. Dan ketika bayangan wajah kekasihku Selva muncul, batinku semakin menjerit.
aah..., apa yang aku lakukan Selva..?. Terjadi perang berkecamuk di dalam batinku.
Nuraniku mengatakan agar aku sadar mengingat resiko buruk yang mungkin terjadi dengan
perbuatan bejatku, namun dilain pihak pikiranku mengatakan sangat ingin mencumbu dan
melampiaskan nafsu sex-ku kepada Tante Vivi. Sikap Tante Vivi bagiku merupakan kejutan
besar yang menggairahkan hati. Aku tak ingin melewatkan kesempatan indah yang tak mungkin
dilain waktu akan terulang lagi. Batinku menjerit namun pikiranku yang dipenuhi nafsu
seolah lebih kuat. Entah berapa lama aku memejamkan mata menanti perang di batinku akan
berakhir. Aku merasa imanku terlalu lemah sedangkan darah mudaku yang penuh dengan gejolak
birahi terlalu begitu perkasa.
Ketika aku membuka kedua mataku kembali kulihat Tante Vivi sudah tak berada di hadapanku
lagi. Semula aku sedikit heran, lalu instingku menoleh ke samping kiri dan..., Astagaa...,
mataku terbeliak kaget menyaksikan pemandangan indah yang begitu luar biasa..., begitu
mempesona..., begitu menggairahkan..., begitu aahh...
Kedua mataku melotot sampai ingin keluar menyaksikan tubuh Tante Vivi yang kini ternyata
telah berada di atas pembaringan tanpa tertutup sehelai benang. Betapa begitu putih mulus
tubuh moleknya yang bugil telanjang bulat, jauh lebih putih dari tubuh Dina..., memamerkan
semua keindahan, kemulusan dan kemontokan lekak-lekuk tubuhnya yang bak gadis usia remaja.
BERSAMBUNG KE JILID 3
< Kembali ke halaman sebelumnya >
|
|