Gairah tante Vivi (jilid 1)
Tante Vivi menyuruhku datang malam ini ke rumahnya.
Sebenarnya agak malas juga dan khawatir, bagaimanapun saya lebih senang mengajak Selva,
pacarku untuk menemani, ini membuatku ragu-ragu untuk berangkat.
9.15 malam: Aku masih ragu-ragu..., berangkat..., tidak..., berangkat..., tidak.
9.25 malam: Akhirnya Tante Vivi tanpa kuduga benar-benar menelpon, kebetulan aku
sendiri yang menerima.
"Lho..., Ar..., kok kamu belum berangkat, bisa dateng tidak Ar?...", tanyanya
kendengaran agak kecewa.
"mm..., gimana ya Tante..., agak gerimis nih di sini...", sahutku beralasan.
"Masa iya Ar..., yaah..., kalo gitu Tante jemput aja yaa...", balasnya seolah
tak mau kalah. Aku jadi blingsatan dibuatnya.
"Waah..., tidak usah deh Tante..., okelah saya ke sana sekarang Tante..., mm Selva
saya ajak ya Tante...", sahutku kemudian. Aku pikir ke sana malm-malam mau tidak mau
akhirnya pasti harus nginap. Kalau ada Selva kan aku tidak begitu risih, masa aku bawa
Selva pulang malam-malam. Tapi...
"iih..., jangan Ar..., Selva jangan diajak..., mm pokoknya ke sini aja dulu Ar...,
yaa..., Tante tunggu..., Klik", sekali lagi seolah disengaja Tante Vivi langsung
memutuskan hubungan. Sialan pikirku, dia mengerjaiku, ngapain malam-malam ke sana kaya
tidak ada waktu siang atau pagi kek. Aku jadi kesal, ngapain Selva kemarin cerita kalau
aku banyak ngerti masalah Komputer. Wuueek..., kaya pakar wae..., sekarang baru kena
getahnya.
Akhirnya denag perasaan malas, malam itu benar-benar agak gerimis, badanku sampai
kedinginan terkena rintik air gerimis malam yang dingin
.Sekitar pukul 10.00 malam: Aku sampai juga di tempat Tante Vivi, suasana di
komplek perumahan itu sudah sepi sekali, aku membuka pintu pagar yang sengaja belum
dikunci dan kumasukkan sepeda motor ke dalam.
Belum sempat aku mengetuk pintu, ternyata Tante Vivi rupanya sudah mengetahui
kedatanganku. Mungkin ia mendengar deru suara motorku ketika datang tadi.
"aahh..., akhirnya dateng juga kamu Ar...", katanya ramah dari balik pintu
depan.
"Iya..., Tante...", sahutku berusaha ramah, bagaimanapun aku masih setengah
kesal, sudah datang malam-malam kehujanan lagi.
"Agak gerimis ya Ar...", tanyanya seolah tak mau tau.
"Hsii...", Tanpa sadar aku terbersin.
"Eehh..., kamu Flu Ar...", tanyanya kemudian.
Aku mengusap wajah dan hidungku yang setengah lembab terkena air gerimis. Tante Vivi
menarik tanganku masuk ke dalam dan menutup pintu. "Klik...", sekaligus
menguncinya. Aku tak begitu memperhatikannya karena aku sendiri kuatir dengan kondisiku
yang terasa agak meriang. Kuusap berulang kali wajahku yang dingin. Lalu tiba-tiba
kurasakan sebuah telapak tangan yang hangat dan lembut membantu ikut mengusap pipi
kananku.
"Pipimu dingin sekali Ar..., kamu pasti masuk angin yaa..., Tante bikinin susu jahe
anget yaa...", sahutnya lembut. Aku menoleh dan astaga wajahnya itu begitu dekat
sekali dengan mukaku. "Duh..., cantiknya". Kulitnya yang putih mulus dan halus,
matanya yang hitam bulat sedikit sipit dengan bentuk alisnya yang hitam memanjang tanpa
celak, hidungnya yang kecil bangir, dan bentuk bibirnya yang menawan tanpa lipstik.
Terlihat sedikit tebal dan begitu ranum. Sexy sekali bibirnya. Tante Vivi tersenyum kecil
melihatku setengah melongo.
"Kamu duduk dulu Ar..., Tante ke belakang dulu...", sahutnya pelan.
Tanpa menunggu jawabanku, ia membalikkan tubuh dan bergegas berjalan melintasi ruang
tengah menuju ke belakang. Tubuhnya yang tingginya mungkin sekitar 160 cm kelihatan begitu
sexy ramping dan padat. Sempat kulihat langkah kakinya yang berjalan sangat elok, saat itu
kuingat jelas ia memakai celana Jeans putih ketat serta memakai baju kemeja halus berwarna
merah muda dan dibiarkan berada diluar celana. Baju yang dikenakannya seperti umumnya baju
kemeja sekarang yang relatif panjang, membuat celana jeans yang dikenakannya tertutup
sampai ke atas paha. Namun karena sifatnya yang lemas, membuat bajunya itu seolah menempel
ketat pada bentuk tubuhnya yang memang sangat seksi dan montok. Pinggulnya yang bulat
padat bergoyang indah kekiri dan kanan. Begitu gemulai bagai penari Jaipong.
Kuhempaskan pantatku dengan perasaan lelah di atas sofa empuk ruang tamunya. Aku memandang
ke sekeliling ruangan tamunya yang cukup mewah. Lukisan besar pemandangan alam bergaya
naturalis tergantung di atas tembok persis di belakang tempat dudukku. Selebihnya berupa
lukisan-lukisan naturalis sederhana yang berbingkai kecil dan sedang tentang suasana
kehidupan pulau Bali. Aku tak begitu tertarik dengan lukisan, sehingga aku tak sampai
mengamati lama-lama.
Sepuluh menit kemudian, Tante Vivi muncul dengan segelas besar susu jahe yang masih
kelihatan panas, karena asapnya masih terlihat mengepul. Dengan wajah cerah dan senyum
manis bibirnya yang menggemaskan, mau tak mau aku jadi ikutan senang.
"Waah..., asiik nih kelihatannya..., wangi lagi baunya..., mm..", kataku
spontan.
"Pelan-pelan Ar..., masih panas...", sahutnya pendek, sambil memberikan minuman
jahe itu kepadaku. Lalu tanpa risih ia duduk di sebelahku. Aku jadi deg-degan juga.
"Gimana kuliah Selva Ar..., kapan nih rencana mau majunya...", tanya Tante Vivi
kemudian.
"Entah Tante..., setahu saya sih bulan depan ini dia harus menyelesaikan seluruh
asistensi skripsinya. Soal maju ujian skripsi saya kurang tau Tante..", sahutku
polos.
"iih.., kamu ini gimana sih Ar..., pacarnya sendiri kok tidak tahu, asyiik pacaran
aja yaa rupanya...", ujar Tante Vivi setengah bercanda.
"aah..., Tau aja Tante..., tidak salah...", sahutku sambil ketawa nyaring.
"Kamu menyukai dia Ar...", tanya Tante Vivi kemudian, seolah setengah malas
menanggapi candaku.
" Waah..., Tante ini gimana sih..., ya jelas dong Tante..., lagipula sekarang kami
sudah sangat serius menjalin hubungan ini..., saya mencintainya Tante...", sahutku
sedikit serius.
Tante Vivi tersenyum kepadaku, giginya yang putih bersih terawat kelihatan indah, serasi
dengan bentuk bibirnya yang tak terlalu lebar.
"Tidak Ar..., Tante khan cuman nanya..., soalnya Tante lihat Selva sayang sekali sama
kamu...", ujarnya kemudian.
"Jangan kuatir deh Tante...", sahutku pelan sambil mulutku mulai menyeruput
wedang susu jahe bikinannya itu. Terasa sedikit pedas di bibir namun hangat manis di lidah
dan kerongkonganku.
"Komputernya di taruh mana Tante...", tanyaku tanpa memandangnya sambil terus
seteguk demi seteguk menghabiskan minumanku.
"Tuh..., di kamar kerja Tante...",sahutnya pendek. Sejenak aku meletakkan
minuman dan memandang Tante Vivi yang berada di sebelahku.
"Lalu tunggu apalagi nih...", ujarku setengah bercanda.
"Apanya...?", tanya Tante Vivi seakan tak mengerti. Pandangan matanya kelihatan
sedikit bingung.
"Lhoh..., katanya pengen diker..., eeh diajarin...", lanjutku. Hampir aja aku
kelepasan ngomong ngeres, jantungku sampai kaget sendiri dag-dig-dug tidak karuan. Untung
tidak kebablasan ngomomg.
"ooh..., iya.., aduuh Tante sampai kaget..., Yuk ke kamar Ar...", sahutnya
sambil mencolek lenganku. Kami berdiri dan berjalan beriringan ke tempat yang ia maksud.
Kami melintasi ruangan tengah yang lebih lapang dan mewah. Kulihat sebuah meja pendek
tempat dudukan pesawat Televisi ukuran besar mungkin sekitar 51 inchi lengkap dengan satu
set sound systemnya sekaligus berada di sebelah kiri ruang itu. Sedangkan kami menuju ke
sebuah ruangan di sebelah kanan yang pintunya sudah setengah terbuka. Tante Vivi
menyilahkanku masuk duluan.
"Masuk Ar..., sorry ruangannya agak berantakan...", ujarnya sambil memberi
jalan. Aku masuk dulu kedalam ruangan diikuti Tante Vivi. Ruangan atau kamar itu cukup
besar berukuran 5 x 7 meter dan pada umumnya tampak rapi walau masih ada sedikit
acak-cakan karena di atas lantai persis di depan tempatku berdiri yang terhampar sebuah
karpet berukuran sedang tampak berserakan beberapa majalah wanita yang halamannya masih
terbuka disana-sini. Di depannya ada sebuah meja kerja yang cukup besar, dan di atas meja
terdapat beberapa buah buku kecil dan agenda kerja, selain itu terlihat 2 kardus besar dan
beberapa kardus kecil yang aku sudah hapal bentuk dan cirinya, apalagi pada kardus besar
yang berbentuk kotak itu terdapat tulisan besar GoldStar Monitor. Ketika aku menengok ke
sebelah kiri, waah..., ternyata di situ terdapat sebuah ranjang berukuran sedang. Kasurnya
jelas Spring Bed yang terlihat dari ukurannya yang tebal, tertutup dengan sprei berwarna
merah jambu. Bantalnya bertumpuk rapi di sisi kiri dan kanan tempat tidur. Di sebelah kiri
tempat tidur terdapat sebuah meja kecil dan seperangkat mini stereo.
"Waduuh..., ini tempat kerja apa kamar Tante...?", tanyaku heran dan kagum.
Bagiku ruangan selapang ini terlalu besar untuk kamar tidur. Kamarku sendiri yang
berukuran 3x4 meter aja menurutku sudah gede, apalagi sebesar ini.
"Dua-duanya Ar..., ya kamar kerja ya..., tempat tidur..., mm..., Tante khan cuman
sendirian di rumah ini Ar...", sahut Tante Vivi yang berada di sebelah kananku.
"Sendirian..., maksud Tante?", tanyaku kepadanya tak mengerti.
"Lhoh..., apa Selva tidak pernah bilang sama kamu..., Tante khan..., sudah bercerai
Ar...", sahutnya kemudian. Kedengaran sekali kalimat terakhir yang diucapkannya
sedikit terpatah-patah.
Astaga..., seruku dalam hati. Pantas, seolah baru menyadari. Selama ini aku tak pernah
ingat apalagi menanyakan tentang suami Tante Vivi ini. Jadi selama ini Tante Vivi itu
seorang Janda. Ya Ampuun..., kenapa aku tak menyadari sejak semula. Semenjak pertama kali
aku datang ke sini bersama Selva, memang aku tak melihat orang lain lagi selain Inem
pembantunya. Waktu itu kupikir suaminya sedang bekerja. Pantas ketika aku datang tadi
hanya Tante Vivi sendirian yang menyambutku. Jadii..., hatiku jadi setengah grogi juga.
Aku jadi teringat tentang beberapa kisah nyata di majalah yang pernah kubaca tentang
kehidupan seorang janda muda, terutama sekali mengenai soal sex. Pada umumnya katanya
mereka sangat mudah dirayu dan tak jarang juga pintar merayu. Jangan-jangan..., pikirku
mulai ngeres lagi.
"ooh..., maaf Tante saya baru tahu sekarang...", ujarku lirih sejenak kemudian.
Tante Vivi tersenyum kecil.
" Udahlah Ar..., itu masa lalu..., tidak usah diungkit lagi...", ujarnya
setengah menghindar. Terlihat ada setetes air menggenang di pelupuk kedua matanya yang
indah.
Sedetik kemudian ia sengaja memalingkan mukanya dari tatapanku, mungkin ia tak ingin
terlihat sedih di depanku. Kemudian ia berjalan ke depan dan setengah berjongkok memunguti
semua majalah yang masih berserakan di atas karpet, spontan aku segera menyusul hendak
membantunya.
"Sini Ari bantu Tante...", kataku pendek. Tanpa menoleh ke arahnya aku langsung
nimbrung mengumpulkan majalah yang masih tersisa.
"iih sudah Ar..., tidak usah..., kok kamu ikutan repot...",sahutnya. Kali ini
wajahnya kulihat sudah cerah kembali. Bibirnya yang ranum setengah terbuka menyunggingkan
sebuah senyuman manis. Manis sekali. Aku sempat terpana selama 2 detik.
" Tante tidak menikah lagi...?", tanyaku padanya tanpa sadar. Sedikit kaget juga
aku dengan pertanyaanku, jangan-janga ia marah atau sedih kembali. Namun ternyata tidak,
sambil tetap tersenyum ia balik bertanya.
"Siapa yang mau sama aku Ar...?"
"aah..., Ari kira banyak Tante..."
"Siapaa...?"
"Ari juga mau Tante...", kataku cuek, karena maksudku memang bercanda. Ia
mendelik lalu sambil setengah ketawa tangannya mencubit lenganku sekaligus mendorongku ke
samping.
"Hik..., hik..., kamu ini ada-ada aja Ar..., jangan nyindir gitu dong Ar, memangnya
gampang cari laki-laki jaman sekarang...", ujarnya. Lalu kulihat ia terduduk diam
seribu bahasa. Aku jadi heran sekaligus geli melihatnya melamun sambil memegangi majalah.
"Kenapa Tante... ", tanyaku padanya. Tante Vivi sedikit kaget mendengar
pertanyaanku. Namun sambil tersenyum kecut ia hanya menjawab pendek.
"Sudahlah Ar..., jangan bicara masalah itu...". Akupun tak mengubernya walau
sebenarnya masih penasaran apa yang sebenarnya terjadi dulu dengan perceraiannya.
Singkat cerita, malam itu aku hanya menghabiskan waktu sekitar 20 menit untuk merakit
komputer barunya. Untung saja Tante Vivi membeli komputer jenis Build Up sehingga aku tak
perlu untuk memeriksa 2 kali, cuman periksa tegangan input, tinggal sambung kabel ke
monitor dan CPU, pasang external modem, pasang speaker aktifnya ke output soundcard,
sambung ke stavolt..., sudah beres.
"Sudah beres Tante..., mm..., mau sambung ke internet...?", tanyaku puas. Agak
keringetan juga rasanya mukaku, walau cuman sekedar sambung sana-sini.
"aah masa...?, secepat itu Ar...?", tanya Tante Vivi yang sejak tadi juga tak
pernah beranjak dari sebelah kananku, asyik melihatku bekerja.
"Lha..., iya..., gampang khan...", sahutku pendek. Kupandangi wajah cantiknya
yang setengah melongo seolah tak yakin.
"Makanya dicoba dulu dong Tante..., biar tidak nanya-nanya lagi..., mana nih stop
kontaknya", tanyaku kemudian.
"iih..., hik..., hik..., gitu aja sewot..., jahat kamu Ar..., hik..., hik...,
ehem..., itu ada di belakang meja sebelah bawah Ar...", jawabnya sambil setengah
tertawa kecil.
Aku melongok ke bawah meja..., astaga di bawah situ berarti mestinya aku harus merangkak
di situ..., sejenak aku melongo.
"Kenapa Ar...?"
"Ooh tidak papa Tante..".
Akhirnya mau tak mau akhirnya aku harus merangkak masuk ke bawah meja kerjanya yang cukup
besar itu sambil tangan kananku menarik kabel power CPU-nya ke bawah. Pengap juga di bawah
situ karena memang agak remang, maklum penerangan di kamar ini hanya cuma menggunakan
sebuah lampu bohlam sekitar 100 Watt, sinarnya kurang kuat di bawah sini. Sedang lampu
meja kerja terpaksa dimatikan untuk stroom komputer. Setelah terpasang ke stop kontak,
sambil setengah merangkak mundur aku langsung membalikkan tubuh dan astaga..., aku
terhenyak kaget karena melihat Tante Vivi ikut juga melongok membungkuk ke bawah meja,
tanpa disengaja kedua mataku menyaksikan pemandangan vulgar yang luar biasa indah.
Woow, Tante Vivi dengan posisi tubuh seperti itu membuat baju kemejanya yang sedikit
gombrong dan karena jenis kainnya yang sangat lemas membuatnya jadi melorot ke bawah pas
dibagian dada, apalagi kancing kemejanya yang sedikit rendah, membuat kedua bulatan
payudaranya yang sangat besar dan berwarna putih terlihat menggantung bak buah semangka,
diantara keremangan aku masih dapat melihat dengan sangat jelas betapa indah kedua bongkah
susunya yang kelihatan begitu sangat montok dan kencang. Samar kulihat kedua puting
mungilnya yang berwarna merah kecoklatan. "Yaa aammpuunn..." , bisikku lirih
tanpa sadar, "Ia tidak pake Behaa..."
Tante Vivi semula tak menyadari apa yang terjadi dan apa yang sedang kupelototi, 5 detik
saja..., bagiku itu sudah cukup lama, Tante Vivi seolah baru menyadari ia menjerit lirih.
"iih...", serunya lirih. Masih dalam posisi membungkuk, tangan kanannya reflek
menarik bajunya sampai ke atas leher, setengah pucat ia memandangku lalu berdiri dan
mundur 1 langkah. Sudah terlanjur, percuma kalau malu, akhirnya dengan cuek aku merangkak
ke luar dan berdiri di hadapannya, sambil senyam-senyum seolah tidak salah, akhirnya aku
minta maaf juga kepadanya.
"Maaf Tante..., sa..., Ari tidak sengaja...", ujarku cuek. Tante Vivi masih
dengan sedikit pucat, akhirnya hanya bisa tersenyum kecil. Wajahnya kelihatan memerah.
"Sudahlah..., Ar...", sahutnya pendek. Dalam hati aku berbisik, lumayan dapat
tontonan susu gede gratiss.
BERSAMBUNG KE JILID 2
< Kembali ke halaman sebelumnya >
|
|