Kisah kasih Jakarta-Bekasi (jilid 2)
Setelah selesai makan, kami teruskan dengan ngobrol soal
keluarga masing-masing dan soal pekerjaan sambil melihat acara TV, sampai akhirnya kulihat
Tyas menguap dan kulihat jam sudah menunjukkan jam 21.45 malam dan segera saja kukatakan,
"Tyas..., sudah malam nih, kita tidur saja..., biar kita bisa bangun pagi-pagi dan
terus pulang", kataku sambil kuambil 1 bantal diantara 3 bantal yang ada di tempat
tidur dan menarik bed cover serta kutaruh di Sofa.
Melihat kelakuanku itu, segera saja Tyas berkata, "Maas..., lho..., kok tidur di
situ?.
"Nggak apa apa deh..., Tyas..., sudah biasa dan..., lagi pula biar Tyas bisa tidur
nyenyak", sahutku sambil terus tiduran di sofa dan menarik bed cover untuk
menyelimuti badanku.
"Maas..., tidur di sini saja, kan tempat tidurnya cukup lebar", kata Tyas sambil
tiduran dan masuk kedalam selimut serta meletakkan salah satu bantal di tengah-tengah
tempat tidur.
"Sudahlah Tyas..., nggak apa-apa kok..., tidurlah", kataku sambil terus
memejamkan mata.
Tetapi Tyas masih tetap saja memaksa agar aku tidur di tempat tidur, "Maaas...,
ayooo..., dooong..., tidur di sini..., saya kan jadi nggak enak", kata Tyas lagi.
Karena dipaksa terus, lalu aku pindah ke tempat tidur dan kumasukkan badanku ke dalam
selimut sambil kulepas lilitan handuk yang ada di tubuhku dan kudengar suara Tyas agak
mengguman, "Tapi..., jangan nakal yaaa..., Maaas", sambil memiringkan badannya
sehingga tidurnya membelakangiku.
Dengan posisi tidur terlentang dan tangan kananku kutaruh di atas bantal yang diletakkan
oleh Tyas di tengah kasur sebagai pemisah, kupejamkan mataku agar cepat bisa tertidur.
Beberapa lama kemudian ketika aku sudah hampir lelap, tiba-tiba telapak tangan kananku
terasa ditimpa oleh tangannya sehingga tidurku agak terjaga dan setelah kubuka mataku
sedikit, kulihat Tyas telah tidur terlentang juga. Karena sudah ngantuk sekali, kubiarkan
saja telapak tangan kirinya bertumpu di telapak tangan kananku, karena kupikir Tyaspun
sudah tidur lelap. Tetapi beberapa saat kemudian, kurasakan jari-jari tangan Tyas seperti
mengelus telapak tanganku.
Pertama-tama kubiarkan saja dan tidak kuacuhkan karena kuanggap kalau orang tidur,
kadang-kadang tangannya suka bergerak-gerak, tetapi setelah kucermati beberapa saat,
ternyata jari-jari tangan Tyas sekarang sudah memijat jari tanganku walaupun tidak terlalu
keras. Merasakan pijatan-pijatan halus di tanganku itu membuat kantukku mendadak menjadi
hilang, tetapi aku masih tetap pura-pura sudah tertidur dan membiarkan jari-jari Tyas
meremasi jari tanganku. Makin lama remasan jari Tyas semakin agak keras, sehingga aku
menjadi semakin yakin kalau Tyas masih belum tidur.
Sambil tetap kupejamkan mataku dan kutarik nafas sedikit agak panjang, aku menggerakkan
dan memiringkan posisi tidurku menghadap ke arah Tyas dan tangan kiriku kujatuhkan di atas
bantal pemisah tapi telapak tanganku kujatuhkan pelan tepat di atas payudara Tyas yang
tertutup selimut. Kuatur nafasku seolah aku sudah tidur nyenyak, tapi aku tidak bisa
mengontrol penisku yang mulai berdiri. Tyas kelihatannya mendiamkan saja dengan posisi
tanganku ini dan tidak berusaha untuk menggeser telapak tanganku yang berada di atas
payudaranya dan tetap saja melanjutkan remasan-remasan jarinya ke jari-jariku karena
mungkin masih menyangka kalau aku sudah tidur nyenyak. Sesekali kutekankan telapak tangan
kiriku pelan-pelan ke payudaranya, tetapi masih saja Tyas tidak bereaksi sehingga
membuatku bertambah berani dan tekanan jari tanganku kuubah menjadi remasan-remasan yang
halus pada payudaranya.
"Maaas..., tiba-tiba terdengar suara lemah Tyas seraya memelukku setelah membuang
bantal pemisah di lantai dan ini tidak kusia-siakan dan lalu kupeluk juga tubuh Tyas serta
kucium bibirnya. Tyas begitu menggebu-gebu melumat bibirku disertai menjulurkan lidahnya
ke dalam mulutku dan nafasnya terdengar cepat serta tidak beraturan. Setelah beberapa saat
kami berciuman, tiba-tiba Tyas menggerakkan dan menggeser badannya sehingga sekarang sudah
berada di atas badanku.
Tyas semakin ganas saja dalam berciuman dan kadang-kadang diselingi dengan menciumi
seluruh wajahku dan kugunakan kesempatan yang ada untuk melepas selimut dan handuk yang
menutupi tubuhku dan Tyas, sehingga tidak ada lagi bagian badan yang tertutup. Dengan
posisi Tyas masih tetap di atas badanku, kupeluk badan Tyas yang kecil mungil itu
rapat-rapat sambil kuciumi seluruh wajahnya, demikian juga Tyas melakukan ciuman yang sama
sambil sesekali kudengar suaranya, "aaahhh..., aaahhh..., oooh..., Maaasss".
Tyas sekarang menciumi leherku dan terus turun ke arah dadaku dan karena terasa geli dan
enak, tidak terasa aku berdesis, "ssshhh..., ssshh..., Tyaaass..., ssshhh".
Tyas meneruskan ciumannya sambil terus menuruni badanku dan ketika sampai di sekitar
pusarku, dia menciuminya dengan penuh semangat dan disertai menjilatinya sehingga terasa
enak sekali dan penisku kian menegang di bawah badan Tyas.
"ssshhh..., Tyaaas..., adduuuhh..., aaahh", dan Tyas secara perlahan-lahan terus
turun dan ketika sampai di sekitar penisku, Tyas tidak segera memasukkan penisku ke dalam
mulutnya, tetapi menciumi dan menghisap daerah sekelilingnya termasuk biji penisku
sehingga rasa enaknya terasa sampai ke ubun-ubun
"ssshh..., aaahhh..., aaahhh..., Tyaaas..., ooohh", sambil tangan kanannya
memegang batang penisku dan mengocoknya pelan-pelan.
Tiba-tiba, "hhuuubbb", penisku hilang masuk di mulutnya dan karena kaget dan
keenakan tak terasa aku jadi sedikit berteriak, "aaahh". Tyas segera
menaik-turunkan mulutnya pelan-pelan dan sesekali kurasakan penisku seperti terhisap-hisap
karena sedotan kuat mulutnya, "Aaaduuuhh..., Tyaaas..., enaaakkk..., aaahhh".
"Ayooo..., dooong..., Tyaaas..., siniii.., Maaass juga kepingin", kataku sambil
sedikit bangun dari tidurku dan menarik badannya.
Tyas sepertinya mengerti kemauanku dan badannya diputar mengikuti tarikan tanganku tanpa
melepas penisku yang masih menyumpal mulutnya. Posisinya sekarang 69 dan Tyas berada di
atas badanku dan tercium aroma vagina yang khas itu. Vagina Tyas hanya ditumbuhi bulu-bulu
hitam yang sangat tipis, sehingga bentuk vaginanya yang belahannya masih rapat itu
terlihat jelas. Pelan-pelan kujilati bibir vagina Tyas yang sudah sangat basah itu dan
badan Tyas menggelinjang setiap kali bibir vaginanya kuhisap-hisap dan dari mulutnya yang
masih tersumpal penisku itu terdengar suara, "hhhmmm..., hhhmmm..., hhhmmm".
Dengan kedua tanganku, segera kubuka belahan vagina Tyas pelan-pelan dan terlihat bagian
dalamnya yang berwarna merah muda dan segera kujulurkan lidahku serta kujilati dan
kuhisap-hisap seluruh bagian dalam vagina Tyas dan kembali kudengar erangan Tyas yang
sekarang sudah melepas penisku dari mulutnya, "aaahhh..., ooohhh..., ssshhh...,
Maaas..., ooohhh", sambil berusaha menggerak-gerakkan pantatnya naik turun sehingga
sepertinya mulut dan hidungku masuk semuanya ke dalam vaginanya serta wajahku terasa basah
semuanya oleh cairan yang keluar dari vagina Tyas.
"oooh..., Maaas..., aaahhh..., ssshhh..., ooohh..., teruuuss..., Maaas...,
aaah". Apalagi ketika clit-nya kuhisap, gerakan pantat Tyas yang naik turun itu
terasa semakin dipercepat dan kembali terdengar erangannya yang cukup keras, "oooh...
Maaas..., teeruuuss..., aaahhh", dan ketika beberapa kali clit-nya kuhisap-hisap dan
sesekali lidahku kujulurkan masuk ke dalam lubang vaginanya, geraka pantat Tyas semakin
menggila dan cepat, semakin cepat dan, "aaahhh..., Maaas..., aaadduuuhh..., akuuu...,
aaahh..., keluaaarr..", sambil menekan pantatnya kuat sekali ke wajahku sehingga aku
sedikit kelabakan karena sulit bernafas dan terdengar nafas Tyas terengah-engah. Setelah
tekanan pantatnya di mukaku terasa berkurang, perlahan-lahan kuputar badanku ke samping
sehingga Tyas tergeletak di tempat tidur tapi masih dalam posisi 69. Dengan masih
terengah-engah kudengar Tyas memanggil pelan, "Maaass..., ke sini..., Maaas",
dan segera saja aku bangun serta berputar posisi lalu kupeluk badannya serta kucium
bibirnya dengan mulutku yang masih basah oleh cairan vaginanya.
"Maaas", katanya di dekat telingaku dan nafasnya sudah mulai agak teratur.
"Apaa sayaaang...", sahutku sambil kucium pipinya.
"Maaas..., sejak kawin aku belum pernah mencapai orgasme seperti ini..., entah
kenapa..., atau mungkin karena suamiku selalu langsung-langsung saja dan kadang-kadang aku
merasa sakit".
"Terima kasih..., sayaaang..., dan sekarang..., boleh akuuu..", sahutku dan
sebelum aku menyelesaikan kata-kataku, kurasakan Tyas merenggangkan kedua kakinya, jadi
aku tidak meneruskan kata-kataku itu. Aku mengambil ancang-ancang dengan memegang penisku
serta kuarahkan pada belahan vaginanya yang kurasakan sedikit terbuka, lalu kulepaskan
pegangan tanganku setelah kurasakan kepala penisku berada di belahan vagina Tyas.
"Maaas..., jangan kasar kasar..., yaaa..., aku takut sakit", kata Tyas sambil
memelukkan kedua tangannya di punggungku.
"Tidaaak, sayaaang..., aku akan masukkan sepelan mungkin dan kalau Tyas sakit tolong
beritahu aku", sahutku dan segera kukulum bibir Tyas sambil kujulurkan lidahku ke
dalam mulutnya dan Tyas menghisap dan mempermainkan lidahku, sementara itu aku mulai
menekan pantatku pelan-pelan sehinggga kepala penisku mulai memasuki lubang vaginanya dan,
"Bleeesss", penisku sudah masuk setengahnya ke dalam vaginanya dan Tyas
berteriak pelan, "aaahh..., Maaass", sambil kedua tangannya mencengkeram kuat di
punggungku.
Karena teriakan Tyas ini, kutahan tusukan penisku untuk masih lebih dalam dan kutanya,
"Sakit..., Yaaang?", Tyas hanya menggelengkan kepalanya sedikit dan,
"Maaas..., nakaaal..., yaaa", sambil mencubit punggungku dan kedua kakinya
segera diangkat lalu dilingkarkan ke punggungku, sehingga akibat jepitan kakinya ini
menjadikan penisku sekarang masuk seluruhnya ke dalam vagina Tyas.
Aku belum menggerakkan penisku karena Tyas sepertinya sedang mempermainkan otot-otot
vaginanya sehingga penisku terasa seperti terhisap-hisap dengan agak kuat.
"Yaaang..., teruuus..., yaaang..., enaaakkk sekaliii..., yaaang", kukatakan
kenikmatanku di dekat telinganya, dan karena keenakan ini dengan tanpa sadar aku mulai
menggerakkan penisku naik turun secara pelan dan teratur, sedangkan Tyas secara perlahan
mulai memutar-mutar pinggulnya. Setiap kali penisku kutekan masuk ke dalam vaginanya,
kudengar suaranya, "aaahh..., ssshhh..., Maaass..., aaaccrrhh", mungkin karena
penisku menyentuh bagian vaginanya yang paling dalam.
Karena seringnya mendengar suara ini, aku semakin terangsang dan gerakan penisku keluar
masuk vagina Tyas semakin cepat dan suara, "aaahhh..., ssshhh..., aaahh..., ooohh...,
aaahh" dari Tyas semakin sering dan keras terdengar serta gerakan pinggulnya semakin
cepat sehingga penisku terasa semakin enak dan nyaman.
Aku semakin mempercepat gerakan penisku keluar masuk vaginanya dan tiba-tiba Tyas
melepaskan jepitan kakinya di pinggangku dan mengangkatnya lebar-lebar, dan posisi ini
mempermudah gerakan penisku keluar masuk vaginanya dan terasa penisku dapat masuk lebih
dalam lagi. Tidak lama kemudian kurasakan pelukan Tyas semakin kencang di punggungku dan,
"aaahhh..., ooohh..., ayoo Maaass..., aaahh..., akuuu..., mauuu..., keluaaar...,
aaahh..., maaas".
"Tungguuu..., yaaang..., aaahhh..., kitaaa..., samaaa..., samaaa", sahutku
sambil mempercepat lagi gerakan penisku.
"Adduuhh..., Maaas..., akuuu..., nggaaak..., tahaaan..., Maaas..., ayooo...,
se..karaaang..., aaarrcch", sambil kembali kedua kakinya dilingkarkan dan dijepitkan
di punggungku kuat-kuat.
"Yaaang..., akuuu..., jugaaa..", dan terasa, "Creeet..., creeet...,
crrreeett", air maniku keluar dari penisku dan tumpah di dalam vagina Tyas sambil
kutekan kuat-kuat penisku ke vaginanya.
Dengan nafas yang terengah-engah dan badannya penuh dengan keringat, didorongnya aku dari
atas badannya sehingga aku jatuh terkapar di sampingnya tetapi penisku masih tetap ada di
dalam lubang vaginanya.
Setelah nafasku agak teratur, kukatakan di dekat telinganya, "Yaaang..., terima
kasih..., yaaang", sambil kukecup telinganya dan Tyas tidak menjawab atau berkata
apapun dan hanya menciumi wajahku.
Setelah diam beberapa lama lalu kuajak Tyas membersihkan badan di kamar mandi dan terus
tidur sambil berpelukan. Paginya kuantar dia di dekat rumahnya.
Hari-hari selanjutnya Tyas dan ke 3 orang lainnya masih tetap ikut mobilku dan kami tetap
bersikap biasa seolah tidak terjadi apapun.
Yang pasti hubungan gelap ini masih berlanjut dan minimal seminggu sekali di sebuah motel
di bilangan Jl.Gatot Subroto, tetapi tidak sampai menginap.
T A M A T
< Kembali ke halaman sebelumnya >
|
|